BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data dalam Novel Rantau Satu Muara
1. Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Rantau Satu Muara
Nilai pendidikan karakter yang pertama dalam novel Rantau Satu Muara adalah nilai pendidikan yang berhubungan dengan religius.Nilai religius merupakan nilai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan sudut pandang yang mengikat manusia dengan Tuhan pencipta alam dan seisinya.Berbicara tentang hubungan manusia dan Tuhan tidak terlepas dari agama.Agama merupakan serangkaian perintah Allah tentang perbuatan dan akhlak yang dibawa oleh para rasul untuk menjadi pedoman bagi umat manusia.Ada beberapa indikator nilai religius yang di temukan dalam teks novel Rantau Satu Muara.
a) Ikhlas
Salah satu indikator nilai-nilai pendidikan karakter yang berhubungan dengan religius adalah ikhlas.Karakter ikhlas berkaitan dengan tindakan dan perilaku seseorang yang dilakukan tanpa pamrih, hanya semata-mata mengharapkan keridhoan Allah.Seorang yang ikhlas sangat jauh dari motivasi-motivasi yang bersifat duniawi.Sifat ikhlas ini adalah salah satu sifat yang sangat langka dijumpai di zaman serba matrealistis dan hedonis seperti saat sekarang ini.Seseorang yang dapat membangun jiwa keikhlasan dalam dirinya dan menularkannya kepada orang lain adalah perilaku yang sangat mulia. Dengan keikhlasan seseorang akan lebih tenang dalam hidupnya karena
ia selalu dekat kepada Tuhannya. Seseorang yang dekat dengan Tuhan, maka akan diberi kebaikan dan kemudahan dalam urusannya. Masalah keikhlasan ini sangat menjadi perhatian dalam kisah novel Rantau Satu Muara.Konsep ikhlas ini terlihat dalam dalam kutipan berikut.
1) Aku ingat pesan kiai Rais “Berusahalah untuk mencapai sesuatu yang luar biasa dalam hidup kalian setiap tiga sampai lima tahun, konsistenlah selama itu, maka Insya Allah akan ada terobosan prestasi yang tercapai.”
(R1M: 29)
Di dalam kutipan di atas terlihat bahwa nilai pendidikan religius dengan indikator ikhlas adalah berusaha untuk mencapai suatu prestasi atau pekerjaan dengan cara konsisten dalam melakukannya, kata Insya Allah bermaksud segala sesuatu yang ingin diraih atas izin dari Allah yang disertai dengan usaha dan berdoa.
2) Hidup itu seni menjadi. Menjadi hamba Tuhan, sekaligus menjadi penguasa alam. Kita awal mulanya makhluk rohani, yang kemudian diberi jasad fisik oleh Tuhan dengan tugas menghamba kepada Dia dan menjadi khalifah untuk kebaikan alam semesta. Kalau kedua peran itu bisa kita jalankan, aku yakin manusia dalam puncak bahagia. Berbakti dan bermanfaat. Hamba tapi khalifah. (RIM: 139)
Kandungan nilai pendidikan karakter religius di dalam kutipan di atas dengan indikator ikhlas adalah sebagai seorang umat muslim tugas kita adalah menjadi hamba Allah sekaligus menjadi khalifah di dunia ini, dengan mengerjakan kewajiban dengan ikhlas sebagai seorang muslim maka insya Allah akan mendapat kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
3) Aku duduk bersimpuh di depanAmak dan tidak berani beringsur sampai mendengar jawabannya. Setelah beberapa saat diam, Amak mengulang nasihatnya lagi, “ke manapun dan apapun yang waang lakukan, selalu perbaharui niat, bahwa hidup singkat kita ini hanya karena Allah dan untuk membawa manfaat. Jangan berorientasi materi. Kalau memang sekolah jauh itu membawa manfaat dan waang niatkan sebagai ibadah, pergilah.” (R1M: 174)
Di dalam kutipan di atas terlihat bahwa nilai pendidikan religius dengan indikator ikhlas adalah nasihat dari Amak yang menyatakan bahwa hidup singkat ini hanya karena Allah.Oleh karena itu, hidup singkat ini pergunakanlah dengan jalan yang diridhoi-Nya dan mengamalkan segala perbuatan baik yang bernilai ibadah.
b) Rajin Beribadah/ Rajin Shalat
Indikator nilai pendidikan karakter religius yang kedua adalah rajin beribadah/rajin shalat.Shalat adalah bentuk peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui shalat kita akan membangun kedekatan dengan sang pencipta. Shalat merupakan bentuk ibadah yang paling utama dan merupakan esensi dari pengabdian manusia kepada penciptanya.Dengan mengerjakan shalat secara tertib dan tepat waktu menandakan kepatuhan sekaligus kebaktian seorang hamba terhadap Tuhannya. Menjalankan shalat dengan rajin dan khusyuk akan menjadikan kepribadian pelakunya selalu ingat kepada Allah sehingga akan terhindar dari perbuatan negatif atau tercela. Orang yang sedang shalat dianggap sedang berkomunikasi dengan Tuhannya sehingga ia harus suci lahir dan batin, agar tercapai maksud dan tujuan shalat tersebut.
Selain itu, shalat adalah bentuk ibadah kepada Sang Pencipta yang memberikan ketenangan batin sehingga bagi yang sedang menuntut ilmu, maka akan dimudahkan dalam menguasai ilmu-ilmu tersebut.
Dalam novel Rantau Satu Muara (R1M) sang tokoh Alif tetap berusaha untuk melakukan shalat tengah malam atau shalat tahajud di samping
shalat wajib, dan iamerasakan kebesaran Tuhan dalam shalatnya. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.
1) Malam-malam aku bangun dan bersimpuh di sajadah minta kemudahan dalam hidup dan karierku. (R1M: 71)
2) Barulah setelah tahajud, hatiku berangsur tenang dan sejenak kemudian aku akhirnya tertidur juga dengan pulas. (R1M: 171)
Pada kutipan pertama dan kedua, menandakan Alif melaksanakan perintah Allahdengan mengerjakan shalat dan mengamalkan perbuatan baik yang bernilai ibadah agar mendapat ridho dari Allah Swt yang kemudian memberikan ketenangan batin dalam diri kita.
c) Berdoa
Salah satu bentuk ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah berdoa.Berdoa adalah memohon atau meminta sesuatu yang bersifat baik kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan atau kelancaran dalam hidup.Berdoa memberikan gambaran bahwa seseorang sangat butuh bantuan dan pertolongan dari Sang Pencipta.Berdoa dengan merendahkan diri kepada- Nya mengajar seseorang untuk tidak berlaku sombong.Ibadah ini sangat dianjurkan bagi orang-orang yang menuntut ilmu, mencari pekerjaan agar dimudahkan oleh Allah SWT.Kebiasaan berdoa ini diperlihatkan oleh tokoh Alif dalam kutipan berikut.
1) Dengan memejamkan mata dan menyebut basmalah, aku lepas surat- surat lamaran itu terbang ke lusinan organisasi Nasional dan korporasi.
(R1M: 18)
2) Setiap sesuatu ada waktu. Doain aja sebentar lagi,” kataku datar. (R1M:
28)
Pada kutipan kedua, Alif percaya bahwa setiap sesuatu hal ada waktunya, Alif meminta doa kepada temannya agar diberikan kemudahan dalam mencapai cita-citanya dan Alif percaya kepada keputusan Allah adalah yang terbaik.
3) “Insya Allah lif, rezeki kita tahun ini bisa lebih baik.” (RIM: 44)
Pada kutipan yang ketiga, kalimat insya Allah yang diucapkan oleh tokohmenandakan keyakinan dalam meminta kepada Allah agar di beri rezeki yang lebih baik lagi.
4) Selesai mengatupkan kedua tanganku di wajah sebagai penutup doa, aku ambil alquran kecilku di rak mushala. Hari Kamis malam Jumat biasanya jadwalku membaca Yasin. Aku niatkan mengirimi kebaikan bacaan mulia ini untuk almarhum Ayah dan keluargaku yang telah mendahului kami. (R1M: 149)
Pada kutipan yang keempat ini kebiasaan berdoa ditunjukkan oleh Alif setelah melakukan shalat dan membaca Alquran sehabis shalat kemudian mengirim doa kepada almarhum Ayah dan keluarga yang telah dahulu berpulang ke rahmatullah.
5) “Dengan pelupuk mata yang berat, aku bubungkan doaku terakhir sebelum tidur. Semoga doaku ditiup oleh baling-baling sampai ke langit.
Ya Tuhan, mudahkanlah jalankku menuntut ilmu ke negeri orang. Lalu aku telungkupkan buku TOEFL ke mukaku, siapa tahu malam ini isi buku ini mencair dan mengalir pindah ke otakku.” (R1M: 156)
Pada kutipan yang kelima, kebiasaan Alif berdoa dilakukan sebelum tidur agar usaha dan kerja kerasnya di dengar oleh Allah Swt untuk menuntut ilmu ke negeri orang dapat terwujud.
6) “Aku menadahkan tangan. Amin, semoga rencana kita dua-duanya tercapai.” (R1M: 158)
Pada kutipan keenam, kebiasaan berdoa kembali diperlihatkan Alif dengan menadahkan kedua tangannya dan mengucapkan kata amin sebagai akhir penutup doa semoga rencana mereka tercapai.
7) “Aku diajarkan untuk tidak meremehkan impian setinggi apapun, karena sungguh Tuhan Maha Mendengar. Cita-cita yang baru berupa bisikan di dalam hati terdalam, telah terdengar oleh-Nya dan bisa jadi nyata.”
(R1M: 170)
Pada kutipan yang ketujuh, Alif berdoa agar cita-citanya dapat terwujud, dan Alif percayadoa yang berasal dari dalam hati di dengar oleh Allah Swt karena Allah sungguh Maha Mendengar apa yang dibisikan dari hati terdalam.
8) Pagi besoknya aku raih tangan Amak lalu aku cium dan letakkan di kening. “mohon doa Amak selalu agar sukses di rantau urang”. Tangan amak mengusap tanganku seperti dulu, dan belaian tangan itu telah cukup membuat aku tenang. Doa Amak aku bayangkan sedang terbang melesat melintas langit dan diikuti doa Safya dan Laily. Aku yakin, doa mereka adalah kombinasi doa terbaik dan termujarab. (R1M: 175)
Pada kutipan kedelapan, terlihat Alif mencium tangan Ibunya dan meminta didoakan agar sukses di rantau orang.Doa orangtua kepada anaknya adalah doa mujarab dan doa terbaik yang diberikan oleh orang tua agar anaknya mendapatkan ridho Allah.
9) “Mas Garuda bercerita, dia langsung menggelar sajadah di sudut rumah, duduk dan berdoa sejadi-jadinya, begitulah terus setiap hari. Setelah setahun rajin berdoa di sudut rumah, dia melihat perut Ibunya terus membesar. Akhirnya hadirlah seorang bayi laki-laki tepat seperti doanya.
Seumur hidup inilah hadiah terbesar yang dia terima.” (R1M: 306)
Pada kutipan kesembilan ini, terlihat bahwa tokoh Mas Garuda selalu berdoa setiap hari agar diberikan seorang adik, kebiasaan Mas Garuda dalam berdoa ini menandakan Mas Garuda percaya kepada Allah Swt.
10) “Mas Garuda! Masya Allah, kenapa aku baru sadar. Dia juga di New York! Tuts telepon aku tekan keras-keras untuk menghubungi dia. Tapi sudah berkali-kali aku menelepon, dia tetap tidak menjawab. Semoga Mas Garuda memang baik-baik saja. Amin, ya Allah.” (R1M: 336-337)
Pada kutipan kesepuluh, perasaan cemas yang menyelimuti Alif karena teringat akan Mas Garuda dan ia berusaha menghubunginya dan berdoa untuk keselamatan Mas Garuda agar di lindungi oleh Allah Swt.
11) “Ya Allah, tunjukilah kami jalan untuk menemukan mereka, pintaku dengan lemas sambil menggenggam erat syal itu.” (R1M: 347)
Pada kutipan yang kesebelas ini juga dilakukan oleh tokoh Alif yang meminta petunjuk kepada Allah dengan berdoa agar dimudahkan jalan untuk menemui Mas Garuda.
d) Bersyukur
Bersyukur atau berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah sikap yang menghargai nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada umatnya.Syukur berarti memfungsikan seluruh kenikmatan Allah pada tujuan yang sebenarnya.Bersyukur merupakan rasa nikmat atas segala karunia Allah SWT dengan mengucapkan Alhamdulillah sebagai rasa ungkapan syukur dan terima kasih kepada-Nya.Hal ini ditunjukkan oleh tokoh Alif dalam kutipan berikut.
1) Alhamdulillah, man jadda wajadda kembali mujarab. (R1M: 3)
Pada kutipan yang pertama ini terlihat ucapan syukur kepada Allah Swt yang diucapkan dengan menyebut Alhamdulillah yang berarti mengucapkan terima kasih kepada Allah, kebiasaan Alif bersyukur ini patut untuk dicontoh karena segala sesuatu kebaikan wajib disyukuri, dan arti dari kalimat man jadda wajadda yang berasal dari bahasa Arab yang diucapkan oleh tokoh adalah siapa yang bersungguh-sungguh pasti bisa.
2) Alhamdulillah, doa dan usaha itu memang selalu didengar-Nya. (R1M:
31)
Pada kutipan kedua, juga terlihat dalam ucapan Alhamdulillah yang berarti ucapan terima kasih kepada Allah karena doadan usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan didengar Allah dan selalu mengucapkan puji syukur kepada Allah Swt.
3) Alhamdulillah ya Tuhan. Disaat aku terdesak, tangan-Mu selalu datang menjangkauku. Entah sudah keberapa kali Engkau menyelamatkanku.
(R1M: 38)
Pada kutipan yang ketiga, kalimat bersyukur kembali diucapkan oleh tokoh Alif dimana ia merasakan kebesaran Allah Swt di saat kondisi yang terdesak.
4) “Bersyukurdong. Kita orang yang terpilih dan beruntung bisa kerja di derap. Jurnalistik yang berpihak kepada keadilan, kepada yang dikalahkan jumawa. Ini perjuangan, kawan. Itu kalau niat kau jadi wartawan.” (R1M: 108)
Pada kutipan keempat juga diperlihatkan kalimat bersyukur yang diucapkan oleh tokoh kepada temannya karena sudah mendapatkan pekerjaan dan ia merasa sangat beruntung mendapatkan pekerjaan tersebut.
5) Ingin aku melompat setinggi-tingginya dan berteriak lega sekeras- kerasnya. Impian besar itu tercapai jua akhirnya. Alhamdulillah, ya Tuhan janji-Mu memang tidak meleset, apa yang diperjuangkan dengan sepenuh hati dan raga, lambat laun akan sampai. (R1M: 186)
Pada kutipan yang kelima, ucapan bersyukur kembali diucapkan oleh tokoh dengan mengucapkan Alhamdulillah sebagai ucapan terima kasih kepada Allah karena ia merasakan kebesaran Allah yang telah melihat kesungguhannya dan kerja kerasnya dalam meraih impian di sertai dengan pendekatan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
6) “Alhamdulillah yes! hari ini adalah awal baru bagi hidupnya di rantau.
Dengan kartu yang dikirim bersama surat itu, dia bisa bekerja dengan legal di mana saja di Amerika.” (R1M: 299)
Pada kutipan keenam, kalimat bersyukur kembali terlihat dalam ucapan tokoh yang mengungkapkan terima kasihnya kepada Allah Swt yang telah memberi kemudahan agar bisa memulai hidup baru di rantau dengan bekerja secara legal di Amerika.
7) “Bang, waktu kuliah di UI dulu, Dinara pernah punya impian untuk bekerja di ABN Washington DC. Apa ini doa yang didengar-Nya.”
(R1M: 309)
Pada kutipan ketujuh, tokoh Dinara juga merasakan kebesaran Allah Swt yang telah mendengarkan doanya selama ini agar impiannya tercapai untuk bekerja di ABN Washington DC.Dalam meminta kemurahan kepada Allah tidak hanya berdoa saja tetapi kita harus berusaha dan menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya terakhir kita pasrahkan kepada Allah untuk jalan yang terbaik.
8) Hari itu sampai juga. Commencement day. Hari resmi aku boleh memakai titel Master of Art di belakang namaku. Hari itu juga aku mengirim surat lamaran kerja ke beberapa media Internasional, di antaranya ke European Broadcasting Corporation di London. Aku juga mengirimkan e-mail ke Tom Watson, Chief of Service ABN, dengan harapan lowongan itu masih terbuka. Selang sehari, datang e-mail Tom yang menyambut baik lamaranku. “congratulations on your graduation.
We are delightied to have you in our team.” Hanya dalam tempo seminggu, aku mulai bekerja di ABN. Alhamdulillah. (R1M: 311)
Pada kutipan kedelapan, tokoh Alif kembali mengucapkan rasa bersyukur kepada Allah karena ia merasakan kebesaran Allah dalam hidupnya dimana ia dapat menyelesaikan kuliah S-2 dan mendapatkan pekerjaan yang ia harapkan.
9) “Kami temukan Mas Nanda terbaring dengan kondisi lemah, bahu dan mukanya di bebat perban. Walau lengannya patah menurut perawat kondisinya stabil dan mungkin bisa segera pulang. Kalaulah dia sedang tidak sakit, aku ingin peluk seerat-eratnya. Alhamdulillah, rasanya sebagian beban yang menyesakkan dada kami hilang.” (R1M: 350)
Pada kutipan yang terakhir ini ucapan syukur kembali diucapkan oleh Alif karena ia merasa beban yang menyesakkan di dada hilang karena ia telah menemukan Mas Nanda yang susah payah ia temukan.
Bersyukur merupakan kewajiban seorang muslim. Dengan mensyukuri nikmat Allah Swt juga merupakan bagian dari keimanan dan mengerjakan apa yang diperintahkan Tuhan kepada umatnya. Seorang muslim sudah sepatutnya untuk senantiasa mematuhi segala perintah-Nya dan meninggalkan larangan- Nya, karena dengan demikian seorang muslimakan menjadi manusia yang akan mendapat kebaikan baik di dunia maupun di akhirat. Seorang muslim yang tidak melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim maka ia
dipertanyakan kemuslimannya karena seorang muslim yang sesungguhnya ia akan taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
e) Bertawakal
Bertawakal adalah berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi, menanti atau menunggu hasil pekerjaan.Bertawakal juga penyerahan sesuatu kepada Allah atau menggantungkan urusan diri pada Allah.Tawakal adalah satu bentuk hubungan makhluk dengan Sang Khalik tawakal juga diartikan sebagai pemasrahan diri secara total. Sesudah beragam usaha dilakukan, dan berbagai doa dipanjatkan, maka yang terakhir adalah tawakal. Sikap tawakal menghindarkan seseorang dari sifat cemas, stress, dan sebagainya.Hal ini ditunjukkan oleh tokoh Alif dalam kutipan berikut.
1) Tuhan ini maha melihat siapa yang paling bekerja keras. Dan Dia adalah sebaik-baiknya penilai. Tidak akan pernah Dia menyia-yiakan usaha manusia. Aku percaya setiap usaha akan dibalas-Nya dengan balasan sebaik-baiknya. (R1M: 154)
Pada kutipan pertama,Alif percaya setiap usaha dan doa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan mendapatkan balasan sebaik- baiknya dan Alif mempasrahkan semuanya kepada Allah.
2) “Masya Allah.., hatiku menciut. Aku beristigfar. Seketika aku merasa aliran dingin merayap ke seluruh urat sarafku. Aku tahu lokasi kantor Mas Garuda yang di Manhattan itu tidak seberapa jauh dari WTC.”
(R1M: 338)
Pada kutipan kedua ini, terlihat Alif beristifgar kepada Allah agar kecemasannya akankeberadaan Mas Garuda dapat terobati dan menyerahkan semuanya kepada Allah Swt.
3) “Tuhan mendengar doa kami. Di rumah sakit yang ketiga, kami mendapatkan keajaiban. Kami bahkan tidak perlu memelototi daftar nama yang panjang. Di beberapa baris teratas daftar korban kami menemukan nama itu: Nanda. Jantungku berpacu cepat. Semoga ada Mas Garuda.” (R1M: 350)
Pada kutipan yang ketiga ini, mereka merasakan kebesaran Allah Swt atas doanya dan merasa mendapatkan keajaiban dari doanya dan menyerahkan semuanya kepada Allah dalam menghadapi kecemasan yang ia rasakan.
4) “Aku bersimpuh lama-lama di sajadah. Doa utamaku tetap berharap akan keselamatan Mas Garuda. Tapi mungkin aku harus mulai berdamai dengan keadaan dan mendoakan akhir terbaik buatnya, hidup maupun mati. Bukankah semua yang hidup pasti berakhir dengan kematian.
Hanya soal waktu saja. Kalaupun dia telah mati tidak dengan sia-sia. Mas Garuda yang selalu ringan tangan membantu orang lain. Semoga dia mendapatkan husnul khatimah, akhir yang baik.” (R1M: 356-357)
Pada kutipan keempat, Alif mendoakan Mas Garuda dan tetap berharap atas keselamatannya, dan Alif telah bisa mengikhlaskannya denganbertawakal atau berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi kesedihannya atas kehilangan Mas Garuda. Sesudah beragam usaha yang dilakukannya dengan pencarian, dengan selalu berdoa, maka Alif menggantungkan semuanya kepada Allah agar ia bisa merelakan dengan perasaan yang ikhlas.
5) Pada hakikatnya, tidak ada satu pun yang kita miliki. Segalanya di dunia ini hanya pinjaman. Bahkan kita meminjam waktu dan nyawa kepada Yang Maha Kuasa. Hidup, raga, roh, suami, istri, orangtua, anak, keluarga, uang, materi, jabatan, kekuasaan. Semua adalah titipan sementara. Pemilik sebenarnya Cuma Dia.” (R1M: 357, Paragraf Ketiga)
Pada kutipan yang terakhir, paparan cerita di dalam novel Rantau Satu Muara ini mengisahkan tentang semua yang ada di dunia ini hanya milik
Allah semata, dan segala yang ada hanya titipan sementara, jadi kita sebagai umat muslim bertawakal kepada Allah Swt.
2. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Rantau Satu Muara