BAB I PENDAHULUAN
A. Tinjauan Pustaka
8. Nilai Sosial
pembelajaran yang lebih baik sehingga hasil belajar peserta didik pun akan lebih baik.
3) Faktor infrastruktur
Tidak boleh dipungkiri bahwa infrastruktur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. Aspek infrastruktur yang berkaitan dengan tercapainya tujuan pen didikan tidak hanya jumlah dan kondisi fisik, tetapi juga mengenai akses menuju kampus atau sekolah yang memberikan kemudahan kepada peserta didik.
4) Keterbatasan refrensi
Buku atau bahan bacaan sebagai refrensi merupakan unsur yang mampu peserta didik dan pendidik untuk memudahkan proses pembelajaran. Ketersediaan dan kualitas buku menjadi penting untuk keberlangsungan pendidikan.
bagi orang yang memilikinya. Sementara sosial dapat diartikan sebagai masyarakat atau yang berkenaan dengan masyarakat. Ilmu sosial sebagai suatu bidang ilmu yang menelaah masalah-masalah sosial dengan beraneka ragam tingkah laku masyarakatnya yang masing-masing mempunyai kepentingan kebutuhan serta pola-pola pemikiran. Pada dasarnya ilmu sosial inilah menjadi titik perhatian untuk menelaah fenomena sosial kemasyarakatan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa nilai sosial adalah ukuran atau tata nilai (norma) yang mempunyai konsepsi-konsepsi hidup dalam alam pikiran masyarakat, mengenai hal-hal yang harus dianggap amat bernilai dalam hidup.
Alwi (1994: 885) mengemukakan bahwa sosial atau berkenaan dengan masyarakat serta adanya komunukasi dalam menunjang pembangunan ini, suka memperhatikan kepentingan umum, suka menolong, menerima dan sebagainya. Menurut Al Ghazali ( dalam Zainuddin, 1991: 122) menguraikan bahwa manusia itu diciptakan Allah Swt dalam bentuk yang tidak sendirian, karena tidak dapat mengusahakan sendiri seluruh keperluan hidupnya baik untuk memperoleh dengan bertani, berladang, memperoleh roti, nasi, dan memperoleh pakaian. Dengan demikian, manusia memerlukan pergaulan dan saling membantu.
b. Kepedulian Sosial
Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial, artinya hidup menyendiri, tetapi sebagian besar hidupnya saling ketergantungan, yang pada
gilirannya tercapainya kondisi keseimbangan relative. Kondisi nyata dalam kehidupan manusia yaitu ada yang kaya – miskin, kuat – lemah, besar – kecil, dan lain-lain. Norma-norma dan tata nilai kepedulian ini semakin berkurang apabila masyarakat itu telah menerima pengaruh budaya barat yang bersifat immaterial dan cenderung berseberangan dengan budaya timur.
Masyarakat yang kehilangan rasa kepedulian horizontalnya, akan kehilangan sebagian kemampuannya untuk dapat bersyukur, dan ini berakibat pada penyempitan psikologi dan dapat berubah kearah ketidakpekaan (insentifitas) manusianya yang akhirnya dapat menghasilkan sistem sosial yang apatis.
Peduli berarti mengindahkan, menghiraukan, memperhatikan, mencampuri perkara orang lain (KBBI ofline versi1,1 freeware (C)2010 by Ebta Setiawan). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan sebuah pengertian bahwa kepedulian sosial merupakan suatu rangkaian ibadah, ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Tabroni dari Anas bin Malik yang Artinya: Budi pekerti yang luhur adalah termasuk amalan ahli surga.
Manusia sebagai individu sosial memainkan peran penting sebagai ikon berkembangnya dinamika budaya dan identitas dalam struktur masyarakat. Dalam struktur kemasyarakatan manusia hidup berinteraksi antara satu dengan yang lain, hal ini merupakan ikatan humanis (manusiawi) yang terjalin untuk kepentingan praktis manusia. Pada tititk kemanusiaan inilah kepedulian sosial antara sesama tercipta sebagai unsur pembentuk dinamika interaksi sesama manusia.
Dalam sastra, setiap karya sastra merupakan bagian penting perkembangan capaian artistik kelompok individu masyarakat yang memainkan peran sebagai kreator sastra. Dalam banyak pendapat yang diberikan banyak pengarang maupun kritikus sastra, sastra atau sebuah karya sastra selalu disangkutpautkan dengan dinamika sosial yang menggejala. Dari asumsi ini sastra diposisikan sebagai sebuah dunia yang tidak lahir begitu saja tanpa embrio yang memicu kelahirannya. Mengacu pada uraian ini, sastra memang lahir dari dari dinamika sejarah, budaya, politik, dan metamorfosa sosialitas kemasyarakatan yang berkembang. Hal ini dapat kita lihat dari perkembangan kajian sastra dan berbagai karya sastra (puisi, cerpen, novel, naskah drama) yang lahir dari tangan-tangan pengarang kreatif yang coba mengangkat berbagai fakta dunia ril dalam karya-karya yang mereka tuliskan.
Kepedulian sosial merupakan unsur penting dalam setiap karya sastra.
Hal ini merupakan alasan mendasar lahirnya sebuah karya ke meja pembaca sastra. Puisi sebagai sebuah genre karya sastra yang khas, padat, dan memikat merupakan manifestasi kepedulian seorang penyair untuk menanggapi realitas yang mulai kabur dari prinsip moral sosial yang ideal.
Tanggapan terhadap realitas tersebut merupakan respon yang secara manusiawi diarahkan untuk mencoba memengaruhi pola fikir individu masyarakat melalui puisi. Respon ini lahir dari sikap penolakan serta kekecewaan individu pengarang. Bentuk kekecewaan dan pesimistik pengarang ini yang mendorong seorang pengarang menuangkan harapan atau
cita-cita idealnya dalam bentuk puisi yang berbicara kepada pembaca sebagai kritik sosial.
Supena (2008) menegemukakan bahwa kritik karya sastra terhadap realita merupakan format lain dari sebuah kepedulian sosial, bisa dikatakan bahwa sastra yang berusaha menyajikan kegetiran sosial yang dimunculkan di dalamnya merupakan sebuah tindak sosial (social act) yang menjadi muara kecil dari komitmen sosial (social commitment) seorang sastrawan. Hanya memang terdapat perbedaan pada persoalan komitmen sosial serta tindak sosial. Sekadar cacatan kecil, bahwa komitmen sosial sifatnya lebih subtil- ruhiyah, sehingga tak tampak atau tak terdeteksi secara indrawi pada diri manusia. Sementara tindak sosial terkadang hanya bisa berupa lip service, sesuatu yang manipulatif, atau menipu karena sifatnya yang terdeteksi indra manusia dengan mudah sehingga tindak sosial yang dilakukan terkadang disertai sifat riya.
Lebih lanjut Supena (2008) menjelaskan bahwa karya sastra (baca:
puisi) bukan sekadar permainan logika yang simulatif, bukan pula area manuver stilistika dari seorang penyair, tapi lebih dari itu, sastra adalah pesawahan subur yang dijadikan tempat tumbuhnya realitas ideal yang kadang tidak diperlakukan adil di dunia realitas faktual empiris. Karena itu konsep social act yang merupakan konkretisasi dari social commitment seorang penyair, dipertaruhkan dalam kondisi yang sebenarnya.
Peduli berarti mengindahkan, menghiraukan, memperhatikan, mencampuri perkara orang lain (Poerwadarminta, 2006:855). Dari penjelasan
di atas dapat disimpulkan sebuah pengertian bahwa kepedulian sosial merupakan tindakan untuk memberikan perhatian besar terhadap segala sesuatu yang terjadi disekitar kehidupan kita.
Selanjutnya, kepedulian sosial yang menjadi ibadah itu tidak lepas dari budi pekerti yang luhur/baik sesuai dengan norma-norma agama, adat istiadat serta norma-norma yang diatur oleh UUD/Peraturan Pemerintah.
Dalam konteks ini kita harus peka dan proaktif untuk mewujudkan rasa solidaritas kita dengan membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, misalnya bencana alam di Nangro Aceh Darussalam dan Sumatera Utara atau kepedulian kita terhadap masyarakat dalam bidang pendidikan dengan memberikan pengajaran-pengajaran yang bisa bermanfaat bagi masyarakat luas secara umum dan bagi anak turun kita pada khususnya.
c. Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah sesuatu yang harus kita lakukan agar kita menerima sesuatu yang di namakan hak. Tanggung jawab merupakan perbuatan yang sangat penting dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, karena tanpa tanggung jawab, maka semuanya akan menjadi kacau. Contohnya saja adalah jika seorang ayah tidak melakukan tanggung jawabnya mencari nafkah, maka keluarganya akan sengsara. Bagaimanapun juga tanggung jawab menjadi nomor satu di dalam kehidupan seseorang. Dengan kita bertanggung jawab, kita akan dipercaya orang lain, selalu tepat melaksanakan sesuatu, mendapatkan hak dengan wajarnya. Menurut Poerwadarminta( 2006:
1209) Tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala
sesuatunya(kalau ada sesuatu hal, boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya).
Seringkali orang tidak melakukan tanggung jawabnya, mungkin di sebabkan oleh hal hal yang membuat orang itu lebih memilih melakukan hal di luar tanggung jawabnya. Sebagai contohnya, seorang pelajar mempunyai tanggung jawab belajar, sekolah,tapi karena ada game/ajakan teman yang tidak baik untuk bolos sekolah, maka seorang anak itu bisa saja melalaikan tanggung jawabnya untuk bermain/bolos sekolah. Jika kita melalaikan tanggung jawab, maka kualitas dari diri kita mungkin akan rendah. Maka itu, tanggung jawab adalah suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan,karena tanggung jawab menyangkut orang lain dan terlebih diri kita.