• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Non Performing Financing

1. Pengertian Non Performing Financing

Non Performing Financing (NPF) atau pembiayaan bermasalah merupakan salah satu indikator kunci untuk menilai kinerja bank.

Pembiayaan bermasalah adalah kredit yang pembayaran angsuran pokok atau bagi hasilnya melewati 90 hari setelah jatuh tempo, atau pembiayaan yang pembayarannya secara tepat waktu sangat diragukan. NPF secara luas didefinisikan sebagai suatu pembiayaan dimana pembayaran yang dilakukan tersendat-sendat dan tidak mencukupi kewajiban minimal yang ditetapkan sampai dengan pembiayaan yang sulit untuk dilunasi atau bahkan tidak dapat ditagih.6

Jadi dapat dijelaskan bahwa Non Performing Financing (NPF) ialah pembiayan yang sudah diragukan dalam pembayaran angsuran tersebut. Non

5 Veithzal Rivai dan Riffki Ismail, Islamic Risk Management For Islamic Bank, (Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 2013), 244.

6 Sri Mulyaningsih dan Iwan Fakhruddin, ”Pengaruh Non Performing Financing Pembiayaan Mudharabah dan Non Performing Financing Pembiayaan Musyarakah Terhadap Profitabilitas Pada Bank Umum Syariah”, Jurnal Manajemen dan Bisnis Media Ekonomi Volume XVI, No. 1 Januari 2016, 200.

Performing Financing (NPF) merupakan indikator utama dalam penilaian suatu bank.

Non Performing Financing (NPF) sama halnya dengan Non Performing Loan (NPL) yang merupakan salah satu indikator kunci untuk menilai kinerja fungsi bank, karena NPF yang tinggi adalah indikator gagalnya bank dalam dalam mengelola bisnis perbankan yang akan memberikan efek bagi kinerja bank, antara lain masalah yang ditimbulkan dari NPF yang tinggi adalah masalah likuiditas (ketidakmampuan membayar pihak ketiga), rentabilitas (pembiayaan tidak bisa ditagih), solvabilitas (modal berkurang).

Karena sangat pentingnya rasio NPF bagi bank, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku Badan yang mengatur dan mengawasi jasa keuangan termasuk perbankan di Indonesia akan memanggil bank syariah yang memiliki rasio pembiayaan bermasalah atau NPF tinggi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga rasio agar tidak menyentuh angka diatas 5%.7

Dalam perbankan rasio NPF tidak diperbolehkan melebihi angka 5%

hal ini akan mengakibatkan penurunan performa dan kinerja bank. Sehingga kepercayaan bank tersebut di mata nasabah menurun. Karena NPF berkaitan langsung dengan masalah likuiditas, rentabilitas dan solvabilitas suatu bank.

Non Performing Financing pada mulanya diawali dengan terjadinya wanprestasi yaitu suatu keadaan di mana debitur tidak mau dan tidak mampu memenuhi janji-janji yang telah dibuatnya sebagaimana tertera

7 Solihatun, “Analisis Non Performing Financing (NPF) Bank Umum Syariah di Indonesia Tahun 2007-2012”, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol 12 No.1 Juni 2014, 58.

dalam perjanjian pembiayaan. Penyebab debitur wanprestasi dapat bersifat alamiah, maupun akibat iktikad tidak baik debitur. Wanprestasi juga bisa disebabkan oleh pihak bank karena membuat syarat perjanjian kredit yang sangat memberatkan pihak debitur.8

Wanprestasi yang terjadi dalam masalah pembiayaan macet tidak hanya diakibatkan oleh faktor debitur yang tidak dapat membayarkan angsuran tepat waktu. Akan tetapi, dapat disebabkan oleh pihak bank yang terkadang memberikan syarat yang dapat memberatkan nasabah dan kurangnya pemahaman dalam keputusan pembiayaan.

NPF dapat dirumuskan sebagai berikut:

Dengan adanya pembiayaan bermasalah maka bank harus menyediakan pencadangan, yaitu Penyisishan Penghapusan Aktiva (PPA). Pembentukan cadangan umum PPA untuk Aktiva Produktif ditetapkan paling rendah sebesar 1% dari seluruh Aktiva Produktif lancar.9

Peneliti berpendapat bahwa Non Performing Financing atau dikenal dengan pembiayaan bermasalah merupakan suatu keadaan yang terjadi akibat keterlambatan kreditur dalam memenuhi angsuran yang sudah ditetapkan.

8 Khotibul Umam, Perbankan Syariah: Dasar-dasar dan Dinamika Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), 206.

9 Ani Nurmuliyani, “Analisis Faktor-faktor yang Mepengaruhi Non Performing Financing Pada BPRS Di Indonesia Periode Tahun 2010-2015”, Skripsi Program Studi S1 Ekonomi Syariah Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016, 24.

2. Dampak Non Performing Financing

Sebagian besar pembiayaan bermasalah tidak muncul secara tiba-tiba, bank mengandalkan pembiayaan sebagai sumber pemasukan dalam membiayai operasionalnya. Dana yang digunakan untuk pembiayaan merupakan dana yang berasal dari nasabah (surflus dana). Sehingga terdapat tanggung jawab bagi bank untuk mengembalikan dana tersebut kembali.

Apabila Non Performing Financing pada bank tinggi maka akan berdampak pada tingkat kesehatan bank dan pada akhirnya menyebabkan hilangnya kepercayaan nasabah pada bank tersebut.

Adapun dampak lain bagi bank sebagai akibat dari timbulnya pembiayaan bermasalah adalah:

a. Hilangnya kesempatan untuk memperoleh income dari pembiayaan sehingga mengurangi perolehan laba dan berpengaruh buruk bagi profitabilitas bank.

b. Rasio kualitas produktif atau yang lebih dikenal dengan BDR (Bad Debt Ratio) menjadi semakin besar yang menggambarkan terjadinya situasi yang memburuk.

c. Bank harus memperbesar penyisihan untuk cadangan aktiva produktif.

d. Return On Asset (ROA) mengalami penurunan.10

Jadi dampak Non Performing Financing yang akan terjadi pada bank tersebut apabila tingkat NPF tinggi maka hilang kepercayaan nasabah, berkurangnya income, semakin besar rasio kualitas produktif, semakin besarnya penyisihan untuk cadangan aktifa produksi dan penurunan pada ROA.

10 Siti Maryam, “Pengaruh To Deposite Ratio (FDR) dan Tingkat Inflasi terhadap Non Performing Financing (NPF) Bank Syariah di Indonesia”, Skripsi S1 Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009, 25.

3. Upaya Penanganan Non Performing Financing

Dalam rangka untuk mengurangi terjadinya Non Performing Financing bank bisa melakukan penyelamatan pembiayaan bermasalah. Hal ini terdapat dalam PBI No. 13/09/PBI/2011 tentang perubahan atas PBI No.

10/18/PBI/2008 tentang Restrukturisasi Pembiayaan bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah memberikann pedoman bahwa pelaksanaan restrukturisasi di Bank Syariah dan Unit Usaha Syariah harus berpedoman pada prinsip kehati-hatian yang bersifat universal yang berlaku di perbankan, serta sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan perbankan syariah di Indonesia dengan tetap berpedoman pada prinsip syariah.11

Kegiatan dalam perbankan syariah selalu berpedoman pada prinsip syariah dan kehati-hatian yang telah diatur dalam Peraturan Bank Indonesia.

Hal ini berlaku pada penyelamatan pembiayaan bermasalah atau biasa dikenal dengan restrukturisasi pembiayaan.

Restrukturisasi pembiayaan adalah upaya yang dilalukan bank dalam rangka membantu nasabah agar dapat menyelesaikan kewajibannya, yaitu:

a. Penjadwalan kembali (rescheduling) yaitu perubahan jadwal pembayaran kewajiban nasabah atau jangka waktunya;

b. Persyaratan kembali (reconditioning) yaitu perubahan sebagian atau seluruh persyaratan pembiayaan tanpa menambah sisa pokok kewajiban nasabah yang harus dibayarkan kepada bank, antara lain meliputiperubahan jadwal pembayaran, jumlah angsuran, jangka waktu

11 Khotibul Umam, Perbankan Syariah: Dasar-dasar dan Dinamika Perkembangannya di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Pers, 2016), 221.

atau pemberian potongan sepanjang tidak menambah sisa kewajiban nasabah yang harus dibayarkan kepada bank;

c. Penataan kembali (restructuring), yaitu perubahan persyaratan pembiayaan tidak terbatas pada rescheduling atau reconditioning, antara lain meliputi:

1) penambahan dana fasilitas Pembiayaan Bank;

2) konversi akad Pembiayaan;

3) konversi pembiayaan menjadi surat berharga syariah berjangka waktu menengah;

4) konversi pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara pada perusahaan nasabah.12

Restrukturisasi pembiayaan yang dilakukan bank dalam membantu nasabah bermasalah dapat dimulai dengan penjadwalan kembali waktu pembayarannya, persyaratan dan penataan kembali.

C. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Non Performing Financing

Dokumen terkait