BAB I PENDAHULUAN
B. Saran
III. Langkah Pengembangan Kelembagaan
2) Norma / Aturan
Hasil wawancara dengan salah satu ketua kelompok Zn yang ada didesa kapita yang mengatakan bahwa :
“ Kelompok kami adalah kelompok barang campuran, kelompok kami terdiri dari 10 orang, pembentukan ini sesuai dengan aturan pembentukan KUBE di Dinas terkait. Saya ketua kelompok disini mengawal kelompok ini dengan baik dan di dalam kelompok kami berbeda-beda karakter dan tujuan. Saya memilih orang-orang masuk dalam kelompok. Saya membaginya ada ketua, sekretaris, bendahara dan anggota. Namun terkadang hubungan komunikasi diantara kami tidak baik sebab ada anggota yang susah untuk diatur, sehingga sulit untuk kami melakukan kerja sama yang baik. (Senin, 19 Oktober 2015)
Berdasarkan hasil wawancara diatas diketahui bahwa kelompok yang diketuai oleh Zn yang berjenis usaha barang campuran sangat sulit melakukan interaksi yang baik kepada anggota-anggotanya sebab ada beberapa anggota yang sangat sulit di atur.
Ditambahkan oleh SL bahwa :
“Di kelompok kami saya sebagai anggota tidak pernah diberitahu setiap ada pertemuan dan kegiatan yang dilakukan oleh dinas-dinas, yang selalu pergi menghadiri cuma ketua dan sekretaris. Jadi seakan-akan saya hanya sebatas nama saja di struktur kelompok tapi tidak pernah dipedulikan disetiap ada kegiatan desa, dinas ataupun saat keluarnya dana bantuan kelompok, padahal kami disni punya pendamping desa tapi kerja-kerjanya belum baik sebab nanti sudah dari temani ketua terima dana bantuan baru ada dan suruh kami berkumpul”. (Senin, 19 Oktober 2015)
Bedasarkan hasil wawancara diatas bahwa pembentukan kelompok SL yang hanya bersifat struktural saja tidak menunjukan kelompok yang kultural, sebab tidak ada pembagian tugas dan fungsi yang jelas oleh ketua kelompok. Bahkan tidak pernah dilibatkan anggotanya dalam setiap kegiatan karena kurangnya komunikasi dan informasi yang diperoleh.
Ditambahkan lagi JH bahwa :
“ Kami disini dari dulu sudah memiliki kambing jadi tidak heran kalau banyak kambing. Terkait KUBE tentang permintaan ternak kambing sebagian
saja yang dapat, itupun orang sudah memang ada kambingnya masuk jadi ketua kelompok KUBE. Saya tidak pernah diikutkan pelatihan dan kursus padahal saya ahli dalam hal tata rias. Dari dulu saya ingin dapat modal untuk buka usaha cukur di Desa Kapita ini, cuma pemerintah setempat kurang peka terhadap masyarakat disini. Jadi saya ditunjuk jadi bendahara kelompok ternak kambing, tetapi bukan saya yang menyimpan dan memegang buku rekening kelompok tani. Semuanya serba pak ketua, mulai proses ambil uang dan saya Cuma disuruh tanda tangan saja. Selebihnya pembagiannya diatur oleh pak ketua. Soal anggota-anggota kami, kebanyakan diambil dari tetangga-tetangga saja itupun orang yang sudah ada usahanya. Jadi kesempatan untuk orang tidak mampu tidak bias ikut berkelompok/berkomunitas (Selasa, 27 Oktober 2015 WITA)
Berdasarkan hasil wawancara di atas diketahui bahwa di kapita ini dari dulu sudah banyak yang punya kambing jadi penulis menganggap bahwa kehadiran kelompok itu hanya untuk dimanfaatkan oleh para pengusaha yang ada. Dan itupun kelompok JH tidak diikat oleh nilai yang ada sehingga tidak ada saling menghargai dan saling membantu antar anggota kelompok.
JM menambahkan :
“ Di dusun kami belum ada kelompok yang terbentuk seperti dusun-dusun lainnya, karena pada saat adanya KUBE tidak mendapat kesempatan di dusun kami untuk membentuk kelompok seperti perbengkelan, kelompok tani dan ternak sebab kami juga tidak tahu mengapa yang paling banyak kelompoknya ada di Dusun Balang Makkai, mungkin pemerintah berpihak kepada orang- orang tertentu saja, sedangkan kami tetap miskin. Sebab kita tidak memiliki wadah untuk berkembang, padahal kami ingin sekali difasilitasi untuk ikut dalam kelompok dan bisa menyampaikan aspirasi dan keinginan saya kepada pemerintah. Saya juga dulu pernah mau membuat sebuah kelompok disini namun tidak direspon, baik oleh pemerintah desa setempat, jadi saya tidak pernah mau mencoba-coba membuat kelompok-kelompok masyarakat Karena interaksi saya pun kurang dengan kepala desa disini, kantor desa pun sangat jarang difungsikan”. (Selasa, 27 Oktober 2015)
SH menambahkan :
“ Kalau kelompok yang saya bentuk ini pada tahun 2013 yang lalu, saya cukup membantu perempuan-perempuan atau ibu-ibu yang ingin pinjaman saya berfikir merintis kelompok seperti ini, karena waktu periode pertama kepala desa yang sekarang ini saya diusulkan menjadi sekretaris PKK.
Namun sudah periode berjalanya kepemimpinan kepala desa tidak pernah ada Nampak kegiatan PKK dan Ketua PKK saja tidak pernah tanggap
terhadap kondisi ibu-ibu di kapita ini. Bahkan yang namanya kegiatan Arisan pun tidak ada yang terbentuk. KSPKP ini memberikan pinjaman dan dibero jangka waktu pengembalian jika lewat maka dendanya hanya sedikit saja. Modal awal kami dapatkan dari usaha saya dan kelompok kami untuk membuat peroposal dan permintaan dinas sosial tenaga kerja, dan badan pemberdayaan desa Alhamdulillah kelompok kami dapat bantuan dana sebesar 10 juta dan itupun penerimaanya bertahap. Sampai sekrang masih berjalan. Hanya saja kami ingin mengembangkan kelompok kami menjadi komunitas besar dan bisa diterima oleh sepuluh lapisan masyarakat desa kapitan khusus perempuan. Kami hanya meminjamkan kepada perempuan tomboloe saja. Kami tidak berani meminjamkan kepada dusun lain. Karena banyak angota yang tidak setuju meminjamkan kepada orang untuk mejnguk anggota kami jika ada yang sakit atau tidak ada biaya berobat. Maka kami akan berikan secara ikhlas saja satu yang kami sayangkan disini kepala desa kami kurang memperhatikan kelompok kami sehingga kami lah yang turun langsung berusaha mencari sumber daya ini jadi iuran tiap anggota tiap bulan menyimpan 50 ribu/orang.
(selasa, 27 Oktober 2015, Pukul 13.00 WITA)
Berdasarkan hasil wawancara diatas diketahui bahwa keberadaan KSPKP ini cukup membantu ibu-ibu karena bias pinjam uang lewat KSPKP (Kelompok simpan pinjam khusus perempuan) dan iyuran simpanan perbulan 50ribu/orang ini dana yang diputar sebab tidak ada lagi yang bias didapatkan sumber dana oleh ketua KSPKP dusun tombololoe ini. Penulisan melihat ini mempunyai kekurangan sebab mereka juga tidak membantu dusun lain untuk diberikan motivasi membentuk kelompok seperti itu, seakan akan mereka yang ingin sukses orang lain tetap menderita.
Ditambahkan lagi BL :
“Kelompok kami ini berjenis usaha meubel kayu pembuatan kursi,kami berjumlah 10 orang dan kami mendapat modal dari pemerintah 20 juta, itu kami pakai belikan alat alat pertukangan dan bahan pembuatan kursi. Namun dikelompokan kami ada angota yang tidak setuju dibelanjakan uang itu, maunya mereka dibagi atas uangnya 2juta/orang. Tapi saya selaku sekrataris itu juga dengan keinginan untuk mengeluarkan 2 orang tersebut dalam kelompok kami, interkasi kami jarang sekali bertemu paling kalo ada kegiatan baru kami ketemu ketemu. Ditambahkn lagi dengan dikeluarkanya yang 2 orang dari kelompok kami, sebab mereka tidak mau bekerja sama sama lewat usaha meubel ini. Adapun hasil dari pembuatan kursi kami tidak menentu juga, paling paling kalo lagi banyak orederan tentunya kami sisipkan untuk bagi rata kepada anggota anggtota lainya. Sayangnya saya cuma bertiga
yang pintar buat kursi lainnya belum ada keahlian. Inilah yang sudah lama kami harapkan agar pendamping kami dan kepada desa usulkan kelompok kami ikut kursus dan pelatihan. Tapi permintaan kami tidak pernah digubris.
padahal biasa banyak orederan namun terpaksa kami menolaknya sebab terbatas pekerja. Sehingga kami tidak pernah merasa lebih mandiri, malah hari hari kami. Bahkan kalau ada salah satu anggota kami yang sakit maka digunakan untuk menggunakan pembayaran puskesmas dan obat obatan. Jadi mau dikata kita cukup cukup” (Selas, 27 oktober2015, Pukul 13.20 WITA) Bt menambahkan bahwa :
“ Jangankan kepeduliannya kepada kelompok kelompok petani yang ada, lembaga saya saja tidak pernah diperdulikan. Padahal ini bukan kelompok biasa tapi sebuah lembaga komunitas besar yang perlu mendapatkan perhatian, namun kepala desa kami tidak pernah nampak hasil kerjanya di desa kapita ini, sangat menjaga jarak dengan masyarakat terutama organisasi karang taruna yang sekarang saya pimpin ini dia sangat acuh tak acuh dan ia tidak pernah tau kondisi lembaga kami selama 2 periode ini tidak ada sumbangan kepada desa terhadap lembaga kami” (Jum’at, 30 oktober 2015) Berdasarkan hasil wawancara diatas penulis berkesimpulan bahwa di kapita belum bisa membentuk sebuah komunitas yang kuat dan baik kelompok kelompok saja yang sudah terbentuk belum berjalan. Secara optimal sesuai yang diharapkan namun di kapita jelasnya banyak terdapat kelompok-kelompok masyarakat namun rumah tangga miskin tetap miskin dan kaya makin kaya sebab kurangnya kepedulian dan pemantauan dari pemerintah desa khususnya juga pendamping kelompok yang tidak peka terhadap kelompok yang ada di kapita ini. Lagi pula penulis melihat bahwa kelompok kelompok itu juga berbentuk tempat memperhatikan aspek nilai yang harus ada dalam sebuah kelompok sehingga interaksi hanya biasa biasa saja.
Karena tidak ada aturan yang tegas yang bias membuat kelompok mereka melembaga dan menjadi komunitas yang terberdayakan. Karena taruna saja yang bukanlah sebuah kelompok tapi lembaga namnun kondisinya begitu begitu saja tidak bisa berkembang menjadi kelembagaan komunitas yang kuat dan kokoh sebab didukungnya dan perhatian yang kurang.
Interaksi dan aturan anggota dan masyarakat dalam kelompok adalaha hal yang sangat penting dan berpengaruh pada keberhasilan atau keberlangsungan dari masyarakat. Karna dengan adanya intraksi dalam kelompok akan menemukan kerja sama yang baik, dan kerja sama yang baik sangat dibutuhkan dalam menunjang kecapaian tujuan pada suatu kelompok. Begitu juga dengan aturan atau norma norma yang berpengaruh terhadap anggota masyarakat. Dengan adanya aturan yang menjadi landasan dalam kelompok maka akan membuat masyarakat dan anggota kelompok semakin bekerja sesuai dengan aturan yang ada. Dengan interaksi dan aturan yang baik maka kelompok akan bergerak secara sinergi dalam mencapai tujuan.