• Tidak ada hasil yang ditemukan

kelembagaan komunitas dalam pemberdayaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "kelembagaan komunitas dalam pemberdayaan"

Copied!
186
0
0

Teks penuh

Tesis berjudul “Kelembagaan Masyarakat dalam Pemberdayaan Masyarakat (Keluarga) Petani Miskin di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto”. Kepada sekretaris desa dan seluruh perangkat desa Kapita, tokoh masyarakat dan ketua kelompok di desa Kapita. Pertanian Untuk Pengembangan Kelembagaan Masyarakat (Keluarga) Petani Miskin di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto.

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Bagaimana Kelembagaan Masyarakat Terbentuk pada Rumah Tangga Petani Miskin di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto. Bagaimana upaya pemberdayaan masyarakat terhadap kelembagaan masyarakat terbentuk pada komunitas petani miskin (rumah tangga) di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto. Bagaimana langkah-langkah yang dilakukan untuk mendukung pengembangan kelembagaan terkait pemberdayaan masyarakat petani miskin (rumah tangga) di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto.

Tujuan Penelitian

Menganalisis dan mengartikulasikan langkah-langkah yang dilakukan untuk mendukung pengembangan kelembagaan komunitas petani miskin (rumah tangga) di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto.

Manfaat Penelitian

  • Konsep Kemiskinan
  • Rumah Tangga Petani Miskin
  • Konsep Kelembagaan Komunitas a. Pengertian Kelembagaan dan Komunitas

Hal ini sangat penting agar hasil pembangunan dapat dinikmati dan dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya rumah tangga miskin. Kemiskinan terjadi karena kondisi lingkungan, kondisi dalam rumah tangga, baik dari segi pendidikan, kesehatan dan pekerjaan. Profil rumah tangga miskin setidaknya harus mengungkapkan dua hal utama, yaitu (1) kualitas umum dan (2) kegiatan produktif yang dilakukan oleh kepala keluarga (bila memungkinkan juga oleh anggota keluarga lainnya).

Kriteria atau indikator penduduk atau rumah tangga miskin menurut Badan Pusat Statistik (BPS, 2011) ada 8 variabel, antara lain: (1) Luas lantai per kapita <= 8 m2, (2) Jenis lantai rumah terbuat dari tanah, ( 3) Air minum/ . Hadi Prayitno da Lincolin Arsyad (1987), masyarakat yang masuk dalam kategori rumah tangga miskin mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: umumnya tidak mempunyai faktor-faktor produksi sendiri seperti lahan, modal atau keterampilan yang memadai.

Kerangka Pikir

Berdasarkan hasil penelitian, pada awal observasi lapangan, penulis menemukan bahwa masyarakat di Desa Kapita bermatapencaharian dari pertanian. Aspek pemenuhan kebutuhan dan penguatan regulasi sangat penting bagi pemerintah dan kelompok di Desa Capita. Jadi tugas pemerintah untuk memberikan bantuan dan pembinaan yang baik kepada kelompok yang ada di desa Kapita.

Interaksi antar manusia : Hubungan antara satu orang dengan orang lain di Desa Kapita pada saat kegiatan dilaksanakan dalam komponen-komponennya. Minat/tujuan : Sesuatu yang ingin dicapai oleh individu dalam kelompok yang terbentuk pada komunitas rumah tangga petani miskin di Desa Capita dengan harapan yang sama. Pemberdayaan : Upaya untuk memberdayakan masyarakat petani (rumah tangga) miskin di Desa Capita agar dapat menggalang potensinya.

Pemberdayaan Masyarakat : Segala upaya yang dilakukan pemerintah baik pemangku kepentingan dalam hal ini LSM maupun swasta untuk mengembangkan, memperkuat dan melindungi potensi masyarakat rumah tangga petani miskin di desa Capita. Penguatan Pemberdayaan: Penguatan potensi atau kekuatan masyarakat di Desa Kapita. Desentralisasi: Seluruh aspek program pemberdayaan harus menjangkau langsung komunitas petani miskin di desa Kapita.

Penguatan Aturan : Memperkuat aturan atau ketentuan yang mengikat anggota kelompok masyarakat/masyarakat di Desa Kapita dan.

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian                 Upaya pemberdayaan
Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian Upaya pemberdayaan

Lokasi dan Waktu Penelitiapn

Penarikan kesimpulan dimulai dari kesimpulan yang bersifat umum pada tahap reduksi data, kemudian menjadi lebih khusus pada tahap penyajian data, dan lebih khusus lagi pada tahap penarikan kesimpulan sebenarnya. Rangkaian proses tersebut menunjukkan bahwa analisis data kualitatif dalam penelitian ini dilakukan secara berulang dan siklis yang memadukan tahapan reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Fokus dan Informan

Dinas Transmigrasi dan Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa, Koordinator Tenaga Kesejahteraan Kecamatan dan Sekretaris Daerah dengan melakukan pengumpulan data dari informan dengan menggunakan teknik wawancara langsung di lokasi penelitian (SKPD terkait), (3) terakhir pada tanggal 25 November 2015 untuk menyelesaikan pengurangan , mengatur dan menafsirkan data. Pertanian: 1) Kelompok Mebel, 2) Kelompok Barang Campuran, 3) Kelompok Bengkel, 4) Kelompok Simpan Pinjam Khusus Perempuan, serta 2 orang tokoh masyarakat di Desa Kapita. 5 Zakaria Syam Bangge, Koordinator Pekerjaan Sosial S.Pd Kecamatan 6 Pendamping Desa Bahtiar KUBE dan sekarang.

Tabel I. Penentuan Informan
Tabel I. Penentuan Informan

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Analisis Data

Jumlah penduduk terbagi dalam 80.209 rumah tangga, rata-rata jumlah anggota rumah tangga sebanyak 4 orang. Letak Kecamatan Bangkala berada di tengah kota sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat dan kantor kecamatan terletak di pinggir jalan sehingga jalur angkutan melewati sekitar kantor desa dan kecamatan ini juga merupakan kecamatan yang memiliki jumlah desa yang memiliki rumah tangga miskin terbanyak, hal ini dapat dilihat pada Tabel 4. Setelah Malassoro dan Bontomarannu dalam penelitian ini melakukan penelitian lebih lanjut untuk memahami secara mendalam tentang rumah tangga miskin Pengamatan difokuskan pada Desa Kapita dengan penekanan pada petani miskin dan sangat miskin.

Di Desa Kapita, sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan antara lain jagung, bawang merah, padi dan kambing. Selain itu, sumber air minum di desa Capita menggunakan sumur, khususnya bagi keluarga miskin dimana masih belum adanya Pengelolaan Sumber Daya Alam (NRM) dan belum terlihat di masyarakat warga karena Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada masih terbatas. lemah. . Sumber daya manusia di Desa Kapita sebagian besar merupakan lulusan sekolah dasar dan menengah sehingga banyak dari mereka yang bekerja di bidang pertanian dan hortikultura karena hanya sekitar 5% yang berstatus PNS.

Jumlah rumah tangga miskin di kecamatan tersebut sebanyak 8.289 rumah tangga atau 71,60% dari total rumah tangga pada tahun 2012 yaitu 11.576 rumah tangga miskin dengan rata-rata jumlah anggota rumah tangga sebanyak 4 orang per rumah tangga miskin.Jumlah rumah tangga miskin tertinggi terdapat di Desa Kapita yaitu 919 RTM atau 11,09%, disusul Desa Malassoro dengan 56 RTM atau 10,33% dari total rumah tangga miskin. Desa Kapita terdiri dari 10 dusun dalam lingkup Pemerintahan Desa Kapita yang terdiri dari Kantor Desa, Sanggar PKK dan Kantor Karang Taruna. Sarana pendidikan di Desa Kapita meliputi tiga SD, tidak ada SMP, tidak ada SMA, dan ada satu MTS.

Kelembagaan Masyarakat dan Pemberdayaan Masyarakat di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto.

Tabel  2. Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Jeneponto
Tabel 2. Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Jeneponto

Kelembagaan Komunitas dan pemberdayaan Masyarakat Di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto

  • Kelompok Ternak Kambing (KUBE)
  • Kelompok Arisan Pasar Tradisional
  • Kelompok Barang Campuran (KUBE)
  • Kelompok Perbengkelan KUBE
  • Kelompok Simpan Pinjam Khusus Perempuan (KUBE)
  • Kelembagaan Komunitas Rumah Tanga Miskin
  • Aktivitas Pemberdayaan Masyarakat di Desa Kapita

Kapita tidak pernah aktif melakukan kegiatan atau bersosialisasi dengan perempuan di Desa Kapita. Setelah menyajikan data di lapangan, penulis kemudian menganalisis data kelembagaan masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat (rumah tangga) petani miskin di desa Kapita kecamatan Bangkala kabupaten Jeneponto yang meliputi: A. Sebab, pelaksanaan pemberdayaan adalah bagaimana melembagakan kelompok dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Capita.

Dalam penelitian ini Desa Kapita menjadi fokus penelitian dengan subjek penelitian adalah lembaga atau kelompok yang ada. Selanjutnya interaksi dan norma/aturan yang dilakukan dan diterapkan oleh kelompok dalam kegiatan pertanian di Desa Kapita akan dijelaskan lebih detail seperti tergambar pada Tabel 5. Selanjutnya aspek hubungan dan pencapaian tujuan dalam kelompok di Desa Kapita akan dijelaskan lebih lanjut. detail. detailnya seperti tergambar pada Tabel 5. Tabel 7.

Aspek Manajemen Hubungan dan Tujuan/Kepentingan Kelompok Terhadap Kegiatan Pertanian di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto. Dalam penelitian ini kelompok-kelompok di Desa Kapita menggambarkan hubungan yang belum berjalan sesuai teori struktural-fungsional, karena masih ada fungsi-fungsi dalam kelompok yang belum terlaksana sehingga mengganggu tujuan yang ingin dicapai. Dalam hal ini pemerintah berperan penting dalam meningkatkan pelayanan prima terkait pelaksanaan program pemberdayaan di desa Kapita.

Upaya pemberdayaan yang dilakukan kelompok di luar kegiatan pertanian di Desa Kapita dijelaskan lebih rinci pada Tabel 10. Kepala Desa dan lembaga di Desa Kapita harus bekerja sama untuk mengawal program pemberdayaan di desanya. Setiap kelompok di Desa Kapita harus berani dan rajin mengikuti kegiatan desa. Melindungi (Melindungi) 1.

Tabel 5 : Pola Interaksi dan Bentuk/Norma Aturan Kelompok dalam Kegiatan  Pertanian  yang  Terlibat  Dalam  Pemberdayaan  di  Desa  Kapita  Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto
Tabel 5 : Pola Interaksi dan Bentuk/Norma Aturan Kelompok dalam Kegiatan Pertanian yang Terlibat Dalam Pemberdayaan di Desa Kapita Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto

Pembahasan

Hal ini menyebabkan masyarakat kurang bisa berkembang karena kurangnya aktivitas di kantor Kapita Desa sehingga kurang bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat. Hasil survei menunjukkan bahwa kelembagaan masyarakat yang didirikan di Desa Kapita antara lain adalah Kelompok Tani, Kelompok Campuran, Kelompok Bengkel dan Kelompok Simpan Pinjam Khusus Perempuan. Pemberdayaan yang diberikan pemerintah dapat dikatakan belum sepenuhnya baik karena masih terdapat dampak positif dan negatif yang dirasakan masyarakat.

Salah satu manfaat positif yang dirasakan masyarakat terkait pemberdayaan kelompok tani miskin adalah penyaluran dana bantuan yang dilakukan oleh SKPD terkait untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Desa Kapita. Selain itu, dampak negatif juga terlihat dari berbagai program pemberdayaan yang dilaksanakan pemerintah Kabupaten Jeneponto. Program bantuan traktor tangan Kementerian Pertanian belum cukup membantu karena masih ada anggota yang menilai penggunaan traktor tangan tidak adil, seperti yang diyakini oleh kelompok tani di Desa Kapita.

Selain itu, belum adanya pusat layanan kegiatan pembinaan dan pelatihan serta kursus yang dapat memberikan motivasi dan inovasi pengembangan keterampilan bagi kelompok rumah tangga miskin di Desa Kapita. Langkah-langkah pengembangan kelembagaan kelompok atau lembaga pemberdayaan di Desa Kapita belum dapat dikatakan optimal karena masih terdapat fungsi-fungsi dalam struktur kelompok yang belum berjalan sesuai dengan tujuan. Upaya kelompok masyarakat Desa Kapita khususnya SKPD masih lemah, partisipasi kelompok dalam mengawasi program kegiatan dan evaluasi program yang telah dilaksanakan pemerintah, sehingga tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat belum merata.

Pemerintah belum berhasil menjalankan fungsi desentralisasi karena belum menjangkau rumah tangga miskin, terutama program pelatihan dan kursus yang belum terlaksana.

Saran

  • DIMENSI KELOMPOK
  • DIMENSI UPAYA PEMBERDAYAAN
  • Langkah Pengembangan Kelembagaan
    • Norma / Aturan
    • Tata hubungan dalam kelompok
    • Tujuan dalam kelompok
    • Upaya Pemberdayaan Masyarakat a. Enabling Potential (Pengembangan Potensi)
    • Langkah Langkah Dalam Pengembangan Kelembagaan Komunitas Berdasarkan hasil wawancara dengan ABS bahwa dari

Hasil penelitian interaksi dalam kelompok di Desa Kapita menyimpulkan bahwa beberapa kelompok menerapkan interaksi yang kurang intens dimana kerjasama dan komunikasi antara ketua dan anggota kurang tanggap dan tanggap dalam menangani permasalahan kelompok. Hasil penelitian terhadap norma/aturan dalam kelompok di Desa Kapita menyimpulkan bahwa sebagian besar mempunyai aturan yang tidak/kurang formal, seperti Kelompok Tani, Kelompok Peternakan Kambing, Kelompok Simpan Pinjam Khusus Perempuan, Kelompok Furnitur yang sanksinya tidak jelas. Kelompok-kelompok yang membentuk komunitas dalam satu desa kapita diharapkan lebih sadar akan kebutuhan masyarakat.

Sangat sulit bagi masyarakat Desa Kapita untuk mengubah pola hidup mereka yang sepenuhnya bergantung pada penyelenggaraan negara. Kedudukan kelompok di Desa Kapita bermacam-macam, ada kelompok yang hampir bisa dilembagakan seperti kelompok bengkel dan kelompok sosial pasar tradisional. Apa yang Anda lakukan untuk melindungi kelompok (rumah tangga) miskin di Desa Kapita?

Sejauh mana keterlibatan kelompok Kapita Desa dalam setiap kegiatan desa atau dinas terkait. Apa yang Anda lakukan untuk memenuhi kebutuhan kelompok (rumah tangga) miskin di Desa Capita? Melalui pemberdayaan kelompok akan semakin meningkatkan rasa keterhubungan dan solidaritas masyarakat, misalnya pada suatu lembaga di suatu desa tempat tinggal warga.

Dari hasil wawancara lapangan dapat diambil kesimpulan bahwa kerjasama masyarakat di desa Kapita dapat dikatakan cukup baik. Lembaga ini milik masyarakat dan dijadikan wadah generasi muda khususnya masyarakat desa. SYamsiah, warga Desa Pokanga, tentunya sangat berharap agar pemerintah daerah khususnya pemerintah desa memberikan perhatian agar bisa bergabung dalam kelompok di Desa Kapita.

Gambar

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian                 Upaya pemberdayaan
Tabel I. Penentuan Informan
Tabel  2. Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Jeneponto
Tabel 3. Jumlah Rumah Tangga (KK) Berdasarkan Klasifikasi Kemiskinan per    Kecamatan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dalam Pemberdayaan masyarakat fakir miskin melalui kelompok usaha bersama (KUBE) di Kecamatan Bintan Timur oleh Dinas Sosial Kabupaten Bintan sudah melakukan motivasi dengan

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas program KUBE, mengetahui Efektivitas Program KUBE dalam Pemberdayaan masyarakat miskin dan untuk

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul ; “Dinamika Pemberdayaan Kelembagaan Komunitas Petani Pesisir dan Pegunungan dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Masyarakat

Hadirnya peran dinas sosial dalam pemberdayaan masyarakat melalui program keluarga harapan (PKH) untuk penanggulngan kemiskinan di Kabuapten Humbang Hasundutan peran

Pemberdayaan difabel dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial melalui program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten

Strategi lain yang harus di buat oleh Dinas Sosial selaku penanggung jawab Program KUBE ini sangat diperlukan adanya hubungan kerja yang sinergi antara Dinas Sosial, Tenaga Kerja

Oleh karena itu dinas/instansi terkait supra-desa yang terkait dengan Program Desa Mapan (DKP Kabupaten, kantor ketahanan pangan, dinas pertanian, dinas perindustrian

Kemudian hal tersebut sesuai dengan strategi yang dilakukan oleh Dinas Sosial Kota Mataram dalam pemberdayaan PRSE yaitu untuk memenuhi kesejahteraan sosial yang dimana menurut James