• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Hukum Pidana Islam Terhadap Perilaku

BAB IV PEMBAHASAN

C. Pandangan Hukum Pidana Islam Terhadap Perilaku

Majelis Hakim menjatuhkan hukuman kepada terdakwa yaitu Wawan Hermawan alias Wawan Otel dengan penjara selama 1 (satu) tahun.

Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara dalam menjatuhkan hukuman kepada terdakwa hanya hukuman penjara saja tidak dengan hukuman denda, sedangkan dalam undang-undang ditandai dengan kata “dan” oleh karena itu menurut peneliti hakim dalam memberikan hukuman tidak sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Dengan demikian, penjatuhan hukuman kepada terdakwa tidak sesuai dengan tujuan dari undang-undang yang berlaku pada saat hukuman dijatuhkan. Han hal tersebut dikhawatirkan pelaku mengulangi perbuatannya dan menyebabkan kerugian bagi negara dan bagi rakyat disekitar pertambangan.

C. Pandangan Hukum Pidana Islam Terhadap Perilaku Pertambangan

Hal tersebut sesuai dengan yang dikatan oleh Ibnu Arafah pencurian menurut orang Arab adalah orang yang datang dengan sembunyi-sembunyi ketempat penyimpanan orang lain untuk mengambil isinya. Dengan demikian mencuri mengandung tiga unsur yaitu:

1. Mengambil milik orang lain

2. Mengambil secara sembunyi-sembunyi

3. Milik orang lain ada yang di tempat penyimpanannya.81

Selian itu, para ulama telah sepat bahwa pelaku pencurian termasuk dalam salah satu tuju jenis jarimah hudud karena secara tegas dinyatakan oleh Allah SWT sebagaimana firman sebagai berikut:





























Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah SWT dan Allah maha perkasa lagi maha bijaksana”82 (Q.S. Al-Ma’idah: 38)

Dalam melakukan pertambangan tanpa izin, yang dilakukan oleh perorangan bukan hanya dapat merugikan orang lain, akan tetapi juga merugikan negara dan berdampak besar bagi kesejahteraan masyarakat yang berada di daerah pertamabangan tanpa izin tersebut.

81 Fitri Wahyuni, Hukum Pidana Islam Aktualisasi Nilai-nilai Hukum Pidana Islam dalam Pembaruan Hukum Pidana Islam di Indonesia (Tangerang: PT Nusantara Persada Utama, 2018), 26-27

82 Departemen Agama, Mushaf Al-Azhar Al-Qur’an dan Terjemah (Bandung: Jabal, 2011), 103.

Apabila pertambangan tanpa izin terus dilakukan, maka akan menyebabkan bencana alam yang akan hancurnya lingkungan masyarakat dan hancurnya tempat tinggal masyarakat.

Dalam hukum pidana Islam menitik beratkan pada rasa keadilan dan kesejahteraan umat Islam, sehingga para terdakwa dalam putusan tersebut, penambang emas tanpa izin termasuk dalam hal pencurian dan dapat dijatuhi hukuman yang setimpal terhadap apa yang diperbuatnya. Hal itu agar dapat menimbulkan efek jera kepada pelaku penambang emas tanpa izin.

Pemberian hukuman terhadap pelaku tindak pidana dalam Islam telah difirmankan dalam Al-qur’an Q.S Sad Ayat 26:































Artinya: “Hai dawud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi ini, maka berikanlah keputusan (hukuman) diantara manusia dengan adil dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang- orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapatkan siksa yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.83

Hal tersebut juga dikatakan oleh Abdul Qadir Audah, dengan makna Hukum menurutnya yaitu:

“Hukuman adalah pembalasan atas pelanggaran perintah syara’

yang ditetapkan untuk kemaslahatan masyarakat”.84

83 Departemen Agama Republik Indonesia, Mushaf Al-Azhar Al-Qur’an dan Terjemah (Bandung: Jabal, 2011), 455.

84 Rifda Seera Sakinah, “ Tinjauaan Hukum Pidana Islam Terhadap Sanksi Tindak Pidana Usaha Pertambangan Secara Ilegal (Studi Putusan Pengadilan Negeri Bale Bandung Nomor:

597/Pid.Sus/2018/PN.Blb) (Surabaya: Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2020), 63.

Dapat dipahami bahwa hukuman merupakan suatu tindakan nyata dan sepadan yang diberikan oleh syara' terhadap perbuatan kejahatan pidana yang telah dibuatnya. Dari hukum pidana Islam hukuman yang tepat dan setimpal terhadap pelaku pertambangan emas tanpa izin menurut peneliti ialah hukuman ta’zir.

Hukuman ta’zir ialah hukuman yang diberikan kepada pelaku tindak pidanan yang melakukan pelanggaran baik yang berkaitan dengan hak-hak Allah ataupun hak-hak manusia yang tidak di tentukan dari hadits.

Dari hukuman ta’zir ini diserahkan kepada ulil amri dalam hal-hal penentuan maupun pelaksanaan. Ulil amri dapat menetapkan hukuman mulai yang rendang sampai yang tinggi.

Seperti memberikan hukuman pidana penjara dengan ketentuan yang dapat memberatkan atau meringankan, serta di tambahkan hukuman denda yang dapat memberatkan dan meringankan.

Dalam pemberian hukuman kepada pelaku penambang emas tanpa izin sebenarnya untuk mencapai tujuan dalam hukum pidana Islam yaitu:

1. Pencegahan (ar-raddu az-zajru)

2. Pelajaran dan pendidikan (al-islah} wat-tahdzib) Dalam aplikasinya ialah tujuan hukuman yaitu:

1. Untuk mendidik masyarakat.

2. Sebagai upaya pencegahan bagi pelaku tindak pidana.

3. Sebagai upaya pendidikan dan pengajaran.

4. Sebagai sanksi atas apa perbuatan yang dilakukannya, yakni sanksi bagi pelaku sepadan dengan perbuatan yang dilakukan.85

85 Rahmat Hakim, Hukum Pidana Islam (Fiqih Jinayah) (Bandung: CV Pustaka Setia, 2000), 64-65.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan di atas mengenai penegakan hukum terhadap pertambangan tanpa izin.

1. Penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana pertambangan tanpa izin dalam putusan hakim kurang sesuai dengan prinsip perlindungan hukum hak asasi manusia, serta putusan majelis hakim menurut peneliti tidak sesuai dengan pasal 158 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor. 3 Tahun 2020 Tentang Perubahan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor. 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan dan Batubara.

Dalam putusan majelis hanya menjatuhkan pidana penjara kepada terdakwa sedangkan dalam pasal 158 terdapat kata “dan” yang merupakan penambahan hukuman denda sebagai logika hukuman komulatif, serta dalam putusan majelis hakim menjatuhkan hukuman denda yang tidak sesuai dengan penambahan ganti dari hukuman kurungannya.

2. Menurut hukum pidana Islam tindak pidana pertambangan tanpa izin termasuk dalam pencurian, karena dalam pertambangan tanpa izin mengambil yang bukan haknya, pengambilan secara diam-diam, serta mengambil dari tempat asalnya. Sehingga hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku penambang tanpa izin ialah hukuman ta’zir, dimana dalam

83

penjatuhan hukumannya diserahkan sepenuhnya kepada ulil amri dari yang terberat sampai kepada yang paling ringan.

B. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan oleh peneliti dalam penegakan hukum terhadap pertambangan tanpa izin ialah.

1. Hendaknya hakim dalam memutuskan suatu tindak pidana pertamabangan tanpa izin benar-benar memperhatikan pasal-pasal dalam Undang-undang pertambangan agar memberikan perhatian dan efek jera kepada para pelaku pertambangan tanpa izin.

2. Hendaknya majelis hakim dalam menjatuhkan hukuman kepada pelaku pertambangan tanpa izin juga memperhatikan hukum pidana Islam, karena dengan begitu majelis hakim dapat mempertimbangkan putusan yang sesuai dengan perbuatan para pelaku pertambangan tanpa izin. Karena dampak pertambangan tanpa izin dapat menyebabkan bencana alam, kerusakan lingkungan, bahkan kehancuran bagi masyarakat. Dan hal tersebut sudah dilarang dalam Al-qur’an.

DAFTAR PUSTAKA Buku

Aminudin Dan Zainal Hakim, Pengantar Metode Penelitian Hukum Jakarta:

Rajawali Pers, 2013.

Ariman Rasyid dan Fahmi Ragib, Hukum Pidana Malang: Setara Press, 2016 Assiddiqi Jimly, Penegak Hukum, Bandung: Pustaka Pustaka Satia, 2009.

Faisal, dkk, Penegakan Pertambangan Yogyakarta: Istana Agency, 2021.

Hakim Rahmat. Hukum Pidana Islam (Fiqih Jinayah), Bandung: CV Pustaka Setia, 2000.

Hayati. Tri, Era Baru Hukum Pertambangan di Bawah Rezim UU No. 4 Tahun 2009, Jakarta: Yayasan Pustaka Obar Indonesia. 2015.

Herdiansyah Haris, Metode Penelitian Kualitatif Jakarta: Salemba Humanika, 2010.

Indranata Iskandar, Pendekatan Kualitatif Untuk Pengendalian Kualitas. Jakarta:

UI-Press, 2008.

Lexy J Moelong, Metode Penelitian Kualitatif Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.

Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana Jakarta: Rineka Cipta, 2015.

Peter Mamud Marzuki, Penelitian Hukum Jakarta: Kencana Penada Media Group, 2005.

Planning Grub, Buku Ajar Hukum Pidana Denpasar: Universitas Hukum Udayana, 2016.

Salim HS, Hukum Pertambangan di Indonesia Mataram: PT Raja Grafindo Persada, 2004.

Soehartono Irwan, Metode Penelitian Social Bandung: PT remaja rosdakarya, 1995.

Soekanto Soerjono, Faktor-Faktor yang mempengaruhi penegakan hukum Jakarta:

Rajawali, 1983.

Sofyan Andi dan Nurazisa, Hukum Pidana Makasar: Pustaka Pena, 2016.

Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana Bandung: Alumni, 1996.

Wahyuni Fitri, Hukum Pidana Islam Aktualisasi Nilai-nilai Hukum Pidana Islam dalam Pembaruan Hukum Pidana Islam di Indonesia Tangerang: PT Nusantara Persada Utama, 2018.

Undang-undang

Republik Indonesia, Undang-undang Dasar 1945, Bab XIV, pasal 33.

Sekretariat Negara Republik Indonesia. Undang-Undang No. 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Sekretariat Negara Republik Indonesia. Undang-undang Dasar 1945.

Redaksi Sinar Grafika, KUHAP dan KUHP Jakarta: Sinar Grafika Offset, 2018 Republik Indonesia, undang-undang nomor 3 tahun 2020 tentang pertambangan

dan batu bara.

AL-Qur’an

Departemen Agama Indonesia. Mushaf Al-Azhar Al-qur’an dan Terjemah.

Bandung: Jabal, 2011.

Putusan

Putusan Pengadilan Negeri Sarolangun Nomor 62/ Pid.B/2014/PN Srl.

Putusan Pengadilan Negeri Bale Bandung nomor: 597/Pid.Sus/2018/PN.Blb.

Putusan Pengadilan Negeri Sanggau Nomor 341/Pid.B/LH/2021/PN Sag.

Skripsi

Candra Jerico Lavian. “Tindak Pidana Illegal Mining Bagi Perusahaan Yang Melakukan Pertmbang Tanpa Izin.” Tesis, Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara, 2020.

Lauselang Raudhatul Jannah Budiman, “Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Pertambangan Ilegal Di Kabupaten Seram Bagian Barat Studi Pada Polres Seram Bagian Barat.” Skripsi, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, 2019.

Maulana, Muhammad “Peran Pemerintah Dalam Upaya Penanggulangan Tambang Emas Ilegal Di Lamunga Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat.” Skripsi, Universitas Muhammadiyah Mataram, 2019.

Rifda seera Sakinah, “Tinjauan Hukum Pidana Islam Terhadap Sanksi Tindak Pidana Usaha Pertambangan Secara Ilegal (Studi Putusan Pengadilan Negeri Bale Bandung Nomor: 597/Pid.Sus/2018/PN.Blb)” Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2020.

Riswandi, “Penyelesaian Kasus Penambangan Pasir Ilegal (Studi Kasus Penambangan Pasir di Kabupaten Gowa” Skripsi, UIN Alaudin Makassar, 2016.

Rizqoh. Alfiana, “Dampak aktivitas pertambangan emas tanpa Izin (Peti) terhadap kesejah teraan Gurandil Di Desa Cieuksa, Kab. Bongkar Jakarta.”

Skripsi. UIN Syarif Hidayatullah, 2019.

Santo Budi, “Penegakan Hukum Terhadap penambang Emas Tanpa Izin Berdasarkan Perda No. 3 Tahun 2012 Di Kabupaten Dharmsraya, Provinsi Sumatara Barat.” Skripsi, Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, 2018.

Srilmawati, “Konflik Tambang Manga’an di Desa Pace Kecamatan Silo Kabupaten Jember” Jember, Universitas Jember, 2015.

Sudarmin, Optimalisasi penanggulangan kegiatan penabangan emas illegal secara penal dan non penal guna meminimalisir konflik sosial di kabpaten bengkayang Kalimantan Barat Kalimantan barat, 2008.

Syahrir, “Pengawasan Pemerintah Daerah Terhadap Pengelolaan Sumber Daya Alam Di Desa Tamalatea (Studi Kasus Tambang Pasir Ilegal Di Desa Tamalatea Kecamatan Manuju Kabupaten Gowa.” Skripsi,Universitas Muhammadiyah Makasar, 2020.

Sakinah, Rifda Seera, “Tinjauan Hukum Pidana Islam Terhadap Sanksi Tindak Pidana Usaha Pertambangan Secara Ilegal (Studi Putusan Pengadilan Negeri Bale Bandung Nomor: 597/Pid.Sus/2018/PN.Blb)” Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, 2020.

Weven Jonathan Hendry Stevanus, “Penegak Hukum Terhadap Kegiatan Pertambangan Emas Ilegal Sebagai Upaya Pengendalian Persoalan Lingkungan di Kabupaten Kotawringin Timur” Skripsi, Universitas Atmajaya Yogyakarta, 2018.

Dokumen terkait