• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANGKAT

Dalam dokumen NOMOR i 24 TAHUN 2017 (Halaman 38-49)

BUPATI/WALIKOTA* TENTANG PENDELEGASIAN WEWENANG PEMBERIAN CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

1. PANGKAT

ANAK LAMPIRAN lJ

PERATURAN BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 24TAHUN 2017 TENTANG

TATA CARA PEMBERI.AN CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL CONTOH PERMOHONAN PERSETUJUAN PENGAKTIFAN KEMBALI

SETELAH SELESAI MENJALANKAN CUTI DI LUAR TANGGUNGAN NEGARA PERSETUJUAN

KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA UNTUK

MENGAKTIFKAN KEMBALI PEGAWAI NEGERI SIPIL YANG TELAH SELESAI MENJALANKAN CUTI DI LUAR TANGGUNGAN NEGARA*

M ENTERI / PI M PI NAN LEM BAGA / GUB ERNUR / BUPATI / WALI KOTA

DITETAPKAN TANGGAL

...

...tangsal .

A.n KEPALA

BADAN

MENTERI/PIMPINAN LEMBAGAI BADAN KEPEGAWAIAN

NEGARA

GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA

NIP.

Catatan:

*

Dibuat ASLI rangkap 3 (tiga)

**

Coret yang tidak perlu.

NAMA

TEMPAT, TANGGAL LAHIR NIP

L A M A

KEPUTUSAN NOMOR

M ENTERI / PI M PINAN LEMBA G A I GUBERNUR / BU PATI / WALI KOTA Menimbang

: a.

bahwa berdasarkan surat

CONTOH KEPUTUSAN PENGAKTIFAN KEMBALI

Mengingat

:

1.

Menetapkan KESATU

ANAK LAMPIRAN l.K

PERATURAN BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 24 TAHUN 2017 TENTANG

TATA CARA PEMBERIAN CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

tanggal

Sdr. .

NIP

dan

persetujuan Kepala Badan

Kepegawaian Negara/Kepala

Kantor Regional

Badan

Kepegawaian Negara nomor .... tanggal ... yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan untuk diaktifkan kembali sebagai Pegawai Negeri Sipil sesuai dengan peraturan perundang- undangan;

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud

dalam

huruf a,

perlu menetapkan keputusan pengaktifan kembali sebagai Pegawai Negeri Sipil;

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2OI4 Nomor

6,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5a9al;

Peraturan Pemerintah Nomor 1

1 Talrun 2OI7

tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2O17 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6037);

Peraturan Badan Kepegawaian Negara

Nomor

.. Tahun

.. tentang Tata Cara Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2OI7 Nomor ...);

MEMUTUSI(AN:

Mengaktifkan kembali Pegawai Negeri Sipil:

b.

2.

3.

Nama NIP

Pangkat/ golongan ruang

Jabatan

Masa kerja golongan pada tanggal

Gaji pokok Rp.

tatrun

.. bulan.

diaktifkan kembali sebagai Pegawai Terhitung mulai tanggal

Negeri Sipil.

KEDUA :

Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

KETIGA :

Apabila dikemudian

hari

ternyata terdapat kekeliruan dalam keputusan ini, akan diadakan perbaikan dan perhitungan kembali sebagaimana mestinya

ASLI Keputusan

ini

diberikan kepada PNS yang bersangkutan untuk diketahui dan dipergunakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di pada tanggal

MENTERI / PIM PINAN LEMBAGA/

GUBERNUR / BUPATI / WALIKOTA

Catatan:

*

Coret yang tidak perlu.

Tembusan Keputusan ini disampaikan kepada:

1.

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan.

2.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan

3.

Direktur Jenderal Perbendaharaa,n Negara Kementerian Keuangan

4.

Deputi Bidang Mutasi Kepegawaian Badan Kepegawaian Negara

5.

Deputi Bidang Sistem Informasi Kepegawaian Badan Kepegawaian Negara

6.

Kepala

Kantor

Pelayanan Perbendaharaan Negara/Kepala BadanlDinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah di ..

ANAK LAMPIRAN 1.I

PERATURAN BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 24 TAHUN 2017 TENTANG

TATA CARA PEMBERIAN CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

CONTOH PERMINTAAN PENYALURAN PEGAWAI PENEMPATAN PADA INSTANSI LAIN

Kepada

Yth. Kepala Badan Kepegawaian Negara di

JAKARTA

Nomor

:

Perihal

: Permintaan Penyaluran Pegawai

1.

Bersama ini diberitahukan bahwa : a. Nama

b. NIP

c. Pangkat Igolongan ruang terakhir d. Unit Kerja terakhir

Telah selesai menjalankan

cuti di luar

tanggungan Negara selama berdasarkan Keputusa.n

.

.. Nomor ... tanggal

2.

Berdasarkan surat Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan

tanggal

telah melaporkan diri dan meminta untuk dapat diaktifkan kembali.

3.

Permintaan pengaktifan kembali Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan tidak dapat dipenuhi karena tidak tersedia lowongan jabatan pada instansi kami.

4.

Sehubungan dengan hal tersebut di atas maka dimohon bantuan saudara untuk dapat menyalurkan Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan kepada instansi lain.

Sebagai bahan pertimbangan

kami

sampaikan

data

kepegawaian yang bersangkutan secara lengkap.

5.

Demikian atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.

MENTERI / PIMPINAN LEMBAGA

I

GUBERNUR/ BUPATI / WALIKOTA

Catatan:

*

Coret yang tidak perlu.

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

PERUBAHAN ATAS

PERATURAN BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR 24 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR : 7 TAHUN 2021

DIUNDANGKAN : 26 JULI 2021

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

PERATURAN BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2021

TENTANG PERUBAHAN ATAS

PERATURAN BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR 24 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, untuk memberikan perlindungan dan kelancaran dalam menjalankan cuti Pegawai Negeri Sipil, beberapa ketentuan dalam Peraturan Badan Kepegawaian Negara Nomor 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil yang berupa guru dan dosen yang mendapat liburan, cuti sakit, cuti tahunan tambahan, cuti yang akan dijalankan di luar negeri, sudah tidak sesuai dengan perkembangan kebutuhan dalam pemberian cuti Pegawai Negeri Sipil, sehingga perlu disesuaikan;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Badan Kepegawaian Negara tentang Perubahan atas Peraturan Badan Kepegawaian Negara

Nomor 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 6, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5494);

2. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 63, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6037), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6477);

3. Peraturan Presiden Nomor 58 tahun 2013 tentang Badan Kepegawaian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 128);

4. Peraturan Badan Kepegawaian Negara Nomor 29 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Kepegawaian Negara (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2020 Nomor 1728);

MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR 24 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL.

Pasal I

Lampiran Peraturan Badan Kepegawaian Negara Nomor 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 1861)

diubah sebagai berikut:

1. Ketentuan angka III huruf A angka 15 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

15. PNS yang menduduki jabatan guru pada sekolah dan jabatan dosen pada perguruan tinggi yang mendapat liburan menurut peraturan perundang- undangan, berhak mendapatkan cuti tahunan.

2. Ketentuan angka III huruf C diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut:

1. Setiap PNS yang menderita sakit berhak atas cuti sakit.

2. PNS yang sakit 1 (satu) hari menyampaikan surat keterangan sakit secara tertulis kepada atasan langsung dengan melampirkan surat keterangan dokter baik di dalam maupun di luar negeri yang memiliki izin praktek yang dikeluarkan oleh pejabat/instansi yang berwenang.

3. PNS yang sakit lebih dari 1 (satu) hari, harus mengajukan permintaan secara tertulis kepada PPK atau pejabat yang menerima delegasi wewenang untuk memberikan cuti sakit dengan melampirkan surat keterangan dokter baik di dalam maupun di luar negeri yang memiliki izin praktek yang dikeluarkan oleh pejabat/instansi yang berwenang.

4. Surat keterangan dokter sebagaimana dimaksud pada angka 2 dan 3 paling sedikit memuat pernyataan tentang perlunya diberikan cuti, lamanya cuti, dan keterangan lain yang diperlukan.

5. Cuti sakit sebagaimana dimaksud pada angka 3 diberikan untuk waktu paling lama 1 (satu) tahun.

6. Jangka waktu cuti sakit, sebagaimana dimaksud pada angka 5 dapat ditambah untuk paling lama 6 (enam)

bulan apabila diperlukan, berdasarkan surat keterangan tim penguji kesehatan yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

7. PNS yang tidak sembuh dari penyakitnya dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada angka 6, harus diuji kembali kesehatannya oleh tim penguji kesehatan yang ditetapkan oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

8. Apabila berdasarkan hasil pengujian kesehatan sebagaimana dimaksud pada angka 7 PNS belum sembuh dari penyakitnya, PNS yang bersangkutan diberhentikan dengan hormat dari jabatannya karena sakit dengan mendapat uang tunggu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

9. PNS yang mengalami gugur kandungan berhak atas cuti sakit untuk paling lama 1 1/2 (satu setengah) bulan.

10. Untuk menggunakan cuti sakit sebagaimana dimaksud pada angka 2 dan angka 3, PNS mengajukan permintaan secara tertulis.

11. Berdasarkan permintaan secara tertulis sebagaimana dimaksud pada angka 10, atasan langsung atau Pejabat Yang Berwenang Memberikan Cuti memberikan cuti sakit.

12. Permintaan dan pemberian cuti sakit sebagaimana dimaksud pada angka 10 dan angka 11 dibuat menurut contoh dengan menggunakan formulir sebagaimana tercantum dalam Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Badan ini.

13. PNS yang mengalami kecelakaan dalam dan oleh karena menjalankan tugas kewajibannya sehingga yang bersangkutan perlu mendapat perawatan berhak atas cuti sakit sampai yang bersangkutan sembuh dari penyakitnya.

14. Selama menjalankan cuti sakit, PNS menerima penghasilan PNS.

15. Penghasilan sebagaimana dimaksud pada angka 14, terdiri atas gaji pokok, tunjangan keluarga, tunjangan pangan, tunjangan jabatan, dan tunjangan lainnya sampai dengan ditetapkannya peraturan pemerintah yang mengatur gaji, tunjangan, dan fasilitas PNS.

3. Ketentuan angka III huruf F ditambahkan 2 (dua) angka baru yakni angka 6 dan angka 7 yang berbunyi sebagai berikut:

6. Ketentuan penggunaan hak atas cuti tahunan tambahan sebagaimana dimaksud pada angka 5 dapat dikecualikan dalam hal tanggal cuti bersama merupakan beberapa hari terakhir dalam tahun berjalan.

7. Penambahan hak atas cuti tahunan sebagaimana dimaksud pada angka 6 dapat digunakan pada tahun berikutnya.

4. Di antara angka 3 dan angka 4 pada angka IV disisipkan 1 (satu) angka yakni angka 3A dan angka 4 sampai dengan angka 6 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:

3. Hak atas cuti tahunan, cuti besar, cuti sakit, cuti melahirkan, dan cuti karena alasan penting yang akan dijalankan di luar negeri, hanya dapat diberikan oleh PPK.

3A. Dalam hal diperlukan PPK sebagaimana dimaksud pada angka 3, dapat memberikan kuasa kepada pejabat lain di lingkungannya.

4. Dalam hal yang mendesak, sehingga PNS yang bersangkutan tidak dapat menunggu keputusan dari PPK atau pejabat lain yang mendapat kuasa sebagaimana dimaksud pada angka 3 dan angka 3A,

pejabat yang tertinggi di tempat PNS bekerja dapat memberikan izin sementara secara tertulis untuk menggunakan Cuti.

5. Pemberian izin sementara harus segera diberitahukan kepada PPK atau pejabat lain yang mendapat kuasa.

6. PPK atau pejabat lain yang mendapat kuasa setelah menerima pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada angka 5 memberikan hak atas cuti kepada PNS yang bersangkutan.

Pasal II

Peraturan Badan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Dalam dokumen NOMOR i 24 TAHUN 2017 (Halaman 38-49)

Dokumen terkait