• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Pengamatan Utama

4.2.2 Panjang akar

pada tanaman padi berfungsi untuk memperkokoh batang tanaman dan perakaran.

Selain itu kandungan unsur hara K berfungsi sebagai komponen pendukung berlangsungnya reaksi enzim dalam tanaman. Didukung oleh Sari et.,al (2017) proses pembelahan sel akan berjalan cepat dengan adanya ketersediaan unsur N yang cukup, unsur N mempunyai peran utama untuk merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khsusnya pertumbuhan batang yang dapat memacu pertumbuhan tinggi tanaman. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pemberian NPK dan pupuk hayati memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman.

Kombiinasi pupuk organik, pupuk hayati dan pupuk NPK tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada 14, 28 dan 42 hst, hal tersebut dapat disebabkan karena kurang optimalnya penyerapan unsur hara dari kombinasi pupuk organik cair, hayati dan NPK yang disebabkan pencucian oleh air hujan. Menurut Azizah et al.(2018), bahwa fase pertumbuhan pada tanaman dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Pada saat pemupukan dilapangan, beberapa kali turun hujan setelah pelaksanaan pemupukan, sehingga menyebabkan tidak optimalnya penyerapan kandungan unsur hara pada tanaman.

4 1

Tabel 6 Rata-rata pengamatan Panjang Akar tanaman padi akibat kombinasi Pupuk organik, hayati dan NPK

Kod

e Perlakuan Rata-rata Panjang Akar

P1 Pupuk Hayati 41.44a

P2 Pupuk Hayati + NPK 40.18a

P3 Pupuk Organik Cair 40.84a

P4 Pupuk Organik Cair + NPK 34.18a

P5 Pupuk Organik Cair + Pupuk Hayati 36.14a P6 Pupuk Hayati + Pupuk Organik Cair

+NPK 40.41a

P7 NPK 35.41a

Koefisien Keragaman (%) 10.32%

keterarangan : nilai rata-rata yang dikutip dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada analisis ragam taraf 5%

Beberapa spesies mikroba mampu menghasilkan pemacu zat tumbuh pada tanaman. Berdasarkan Simanungkalit et.al (2006) menyatakan bahwa Pada akar tanaman, terdapat sejumlah bakteri sebagai penyedia unsur hara disebut dengan rhizobakteri pemacu tanaman (Plant growth promoting rhizobacteria = PGPR), kelompok rhizobacteria mempunyai peranan ganda yaitu sebagai penambat N2 , melarutkan unsur hara P, menghasilkan hormon tumbuh seperti IAA, giberelin, sitokinin, etilen dan lain. Didukung dengan pernyataan Surono et al. (2012) bahwa mikroba dapat menghasilkan zat pemacu tumbuh seperti auksin dan giberelin.

Kedua ZPT ini dapat mempengaruhi fisiologi sperti pemanjangan sel, inisiasi

akar, produksi etilen, pembentukan kalus, dan perkembangan buah. Astiningsih et.al (2016) perlakuan pupuk hayati Rizobakteri dapat merangsang pertumbuhan rambut akar padi yang berperan dalam penyerapan air dan unsur hara.

Kombinasi pupuk organik, hayati dan NPK tidak memberikan pengaruh nyata terhadap panjang akar diduga karena faktor media tanam menggunakan polybag. Penggunaan polybag menyebabkan pertumbuhan akar tidak berkembang seperti di lahan, perakaran hanya akan tumbuh pada media polybag. Sejalan dengan pernyataan Ongo et al. (2017), bahwa sistem perkembangan akar dipengaruhi oleh volume media tanam, semakin besar volume yang digunakan maka semakin besar pula sistem perkembangan akar.

4.2.3 Bobot Akar

Data hasil analisis ragam menunjukan bahwa kombinasi pupuk organik cair, pupuk hayati dan NPK tidak berpengaruh yata terhadap bobot akar (Lampiran 19). Berdasarkan tabel 12 perlakuan P7 yaitu pemberian pupuk NPK memberikan rata-rata bobot akar lebih tinggi dari perlakuan lain yaitu sebesar 81,92 g jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya.

Tabel 7 Rata-rata Bobot Akar tanaman padi akibat kombinasi Pupuk organik, hayati dan NPK

Kode Perlakuan Rata-rata Bobot Akar

P1 Pupuk Hayati 79.07a

P2 Pupuk Hayati + NPK 69.08a

P3 Pupuk Organik Cair 74.24a

4 3

P4 Pupuk Organik Cair + NPK 71.99a

P5 Pupuk Organik Cair + Pupuk Hayati 70.48a

P6 Pupuk Hayati + Pupuk Organik Cair +NPK 69.68a

P7 NPK 81.92a

Koefisien Keragaman (%) 10.42%

Keterarangan :nilai rata-rata yang dikutip dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada analisis ragam taraf 5%

Perlakuan P7 yaitu pemberian pupuk NPK memberikan nilai rata-rata lebih tinggi pada pengamatan bobot akar, dikarenakan pupuk NPK sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan akar. masing-masing unsur hara dalam kandungan pupuk NPK mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan akar.

Unrsur hara N dapat membantu dalam pembentukan protein dan asam amino, yang berfungsi bagi perkembangan akar yang kuat dan sehat. Fosfor (p) berperan dalam pembentukan akar lateral atau cabang akar yang berfungsi untuk menyarap nutrisi dan air dalam jangkauan yang luas. Unsur hara kalium (K) membantu proses metabolisme dalam tanaman dan mengatur pembukaan stomata dan transportasi gula sehingga membantu pertumbuhan dan perkembangan akar yang optimal. Sejalan dengan pernyataan Hadisuwito (2007) unsur hara N, P dan K dapat membantu dalam pembentukan bulu-bulu akar serta menguatkan batang pada pertumbuhan fase vegetatif. Hal tersebut mengindikasikan bahwa perlakuan NPK berpengaruh nyata secara mandiri pada pengamatan bobot akar.

Unsur hara yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan akar yaitu unsur hara P. Berdasarkan Darmaji et al. (2023) unsur hara P berperan dalam meningkatkan, mempercepat, memperkuat pertumbuhan akar serta pematangan buah dan biji. Namun, kandungan unsur AI yang tinggi pada tanah menyebabkan unsur P dalam tanah tidak tersedia. Hal tersebut diduga menjadi faktor tidak adanya pengaruh nyata kombinasi pupuk organik, hayati dan NPK terhadap bobot akar tanaman padi. Sejalan dengan pernyataan FahmF et al (2009) Bahwa unsur AI merupakan unsur yang bersifat toksik bagi tanaman dan mampu memfiksasi P, sehingga unsur P menjadi tidak tersedia untuk tanaman.

4.2.4 Jumlah anakan perumpun

Data hasil analisis ragam menunjukan bahwa kombinasi pupuk organik cair, pupuk hayati dan NPK memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah anakan pada umur 42 hst (lampiran 20), namun tidak berpengaruh nyata terhadap pengamatan jumlah anakan pada umur 14 hst, dan 28 hst.

Tabel 8 Rata-rata jumlah anakan tanaman padi akibat kombinasi pupuk organik, hayati dan NPK pada umur 14, 28, 42 hst

Kode Perlakuan Rata-rata Jumlah anakan

14 hst 28 hst 42 hst

P1 Pupuk Hayati 3,00a 14.67a 26.50b

c

P2 Pupuk Hayati + NPK 3.67a 18.25a 33.50a

P3 Pupuk Organik Cair 3.83a 16.41a 24.00c

P4 Pupuk Organik Cair + NPK 3.75a 18.92a 31.42a

b

4 5

P5 Pupuk Organik Cair + Pupuk Hayati 2.92a 17.08a 31.16a b P6 Pupuk Hayati + Pupuk Organik Cair

+NPK 3.33a 15.29a 26.08b

c

P7 NPK 3.83a 19.17a 34.33a

Koefisien Keragaman (%) 11.07

%

10.08

% 13.39%

Keterarangan : nilai rata-rata yang dikutip dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada analisis ragam taraf 5%

Perlakuan P7 yaitu pemberian Pupuk NPK memberikan hasil rata-rata jumlah anakan tertinggi sebesar 34,33 pada umur 42 hst tidak berbeda nyata dengan perlakuan P2 (Pupuk Hayati + NPK), P4 (Pupuk Organik Cair + NPK) dan P5 (Pupuk Organik Cair + Pupuk Hayati) serta berbeda nyata dengan perlakuan lainnya

Gambar 8 Jumlah anakan 24 Hst

Penggunaan pupuk NPK yang memberikan hasil tertinggi pada jumlah anakan perumpun dikarenakan pupuk NPK memiliki kandungan unsur hara yang cukup dan dalam bentuk tersedia bagi tanaman. Pemberian unsur hara NPK dengan dosis yang tepat dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman sehingga mampu menghasilkan jumlah anakan yang lebih tinggi. Sejalan dengan hasil penelitian Sasminto dan sularno (2017) bahwa pemberian pupuk 100% dosis NPK menghasilkan jumlah anakan paling banyak.

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh unsur hara yang ada di dalam tanah, apabila ketersediaan unsur hara yang cukup, maka proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman akan normal, sedangkan ketersediaan unsur hara yang di serap sedikit menyebabkan pertumbuhan tanaman terlambat. Unsur hara N berfungsi membentuk protein dan klorofil, fungsi unsur P sebagai sumber energi yang membantu tanaman dalam perkembangan fase vegetatif dan unsur K berfungsi dalam pembentukan protein dan karbohidrat (Hadisuwito.,2007).

Perlakuan P2 (Pupuk Hayati + NPK), P4 (Pupuk Organik Cair + NPK) dan P5 (Pupuk Organik Cair + Pupuk Hayati) memberikan hasil yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan P7 (NPK). Hal tersebut di duga karena pupuk yang dikombinasikan dengan NPK seperti pupuk hayati dan POC tidak memberikan serapan secara optimal oleh tanaman diakibatkan oleh beberapa faktor lingkungan dan usur hara yang berkurang. Dalam proses metabolisme mikroorganisme memerlukan energi untuk kelangsungan hidupnya. Sejalan dengan pernyataan

4 7

Respati (2017) ketersediaan unsur P pada tanah mengalami penurunan disebabkan oleh aktivitas bakteri yang memanfaatkan unsur P sebagai sumber energi dalam proses metabolismenya, akibatnya unsur hara menjadi berkurang. Penyerapan unsur hara juga terganggu akibat kondisi lingkungan yang kurang mendukung, seperti sering terjadinya hujan setelah pemupukan mengakibatkan pengaplikasian POC tidak optimal karena terlarut oleh air hujan.

Optimalisai serapan hara oleh tanaman diduga dapat menyebabkan tidak terjadinya pengaruh nyata jumlah anakan pada 14 dan 28 hst sehingga terdapat beberapa anakan mati yang menyebabkan jumlahnya berkurang. Menurut Utomo (2009) seiring bertambahnya umur tanaman memasuki periode generatif jumlah anakan akan menurun diakibatkan kompetisi yang terjadi sehingga menyebabkan kebutuhan nutrisi, cahaya dan ruang tumbuh tidak tercukupi akibatnya pertumbuhan jumlah anakan terganggu dan akhirnya mati

4.2.5 Jumlah malai (anakan produktif)

Data hasil analisis menunjukan bahwa kombinasi pupuk organik cair, pupuk hayati dan NPK memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah malai/anakan produktif (Lampiran 23). Perlakuan P2 yaitu pemberian pupuk hayati dan pupuk NPK memberikan hasil rata-rata jumlah malai tertinggi sebesar 24,28 namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan P4, P7 dan P6.

Perlakuan P2 yaitu pemberian pupuk hayati dan pupuk NPK memberikan nilai rata-rata tertinggi. Sejalan dengan penelitian Setiawati (2014) menyatakan bahwa pupuk hayati berkontribusi dalam perkembangan anakan padi menjadi

anakan produktif yang tentu akan mempengaruhi hasil padi. Hakim dan Djakasutami (2012) bahwa pemberian pupuk NPK akan merangsang pembentukan anakan produktif yang optimal. Hal tersebut mengindikasikan kombinasi pupuk hayati dan NPK memberikan pengaruh nyata terhadap jumlah malai/anakan produktif.

Tabel 9 Rata-rata pengamatan jumlah malai perumpun tanaman padi akibat kombinasi Pupuk organik, hayati dan NPK.

Kode Perlakuan Rata-rata Jumlai malai

perumpun

P1 Pupuk Hayati 16.37c

P2 Pupuk Hayati + NPK 24.29a

P3 Pupuk Organik Cair 15.54c

P4 Pupuk Organik Cair + NPK 24.04a

P5 Pupuk Organik Cair + Pupuk Hayati 18,00bc

P6 Pupuk Hayati + Pupuk Organik Cair +NPK 22.62ab

P7 NPK 24,00a

Koefisien Keragaman (%) 15.90%

Keterarangan : nilai rata-rata yang dikutip dengan huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukan tidak berbeda nyata pada analisis ragam taraf 5%

Pupuk hayati mengandung kelompok mikroba fungsional penambat N dan penghasil fito hormon (Azotobacter sp., Azospirillum sp.), pelarut P (Bacillus sp., Aspergillus sp.), dan biokontrol (Trichoderma sp., Streptomyces sp.) Adanya kelompok mikroorganisme tersebut dan terpenuhinya unsur hara yang cukup dari

4 9

pupuk NPK dapat meningkatkan hasil tanaman padi yang optimal. Hal ini sejalan dengan penelitian Sri Nuryani et.al. (2010) dan Syam’u et al. (2012) menyatakan bahwa pemberian pupuk anorganik dan pupuk hayati secara nyata meningkatkan serapan unsur hara pada tanaman padi.

Dokumen terkait