• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya Makassar

Dalam kehidupannya, manusian selalu mengadakan interaksi baik antara-individu maupun antara individu dengan kelompok atau kelompok dan kelompok dalam rangka mencapai tujuan kehidupan bermasyarakat itu sendiri. Di antara semua tindakannya yang berpola (menurut tata aturan nilai dan norma sosial) ini perlu diadakan pembeda antara tindakan yang dilakukan menurut pola resmi dan pola yang tidak resmi. Sistem-sistem ini yang menjadi wahana yang memungkinkan warga masyarakat melakukan interaksi menurut pola-pola yang sudah terstruktur di dalam masyarakat. Yang didalam istilah sosiologi dinamakan pranata sosial atau dalam bahasa Inggris disebut institution.

Dalam bahasa sehari-hari konsep “pranata” atau institution, sering kali disamakan dengan istilah institute. Dalam bahasa Indonesia pertukaran arti itu

terjadi. Istilah Indonesia untuk institute adalah “lembaga”., maka sesuai dengan itu dalam bahasa surat kabar dan bahasa populer di Indonesia sering dibaca istilah “dilembagakan”. Padahal antara pranata dan lembaga harus diadakan perbedaan secara tajam. Pranata adalah sistem norma atau aturan- aturan yang mengenai aktivitas masyarakat khusus yang berupa perilaku yang diwujudkan dalam bentuk tingkah laku, sedangkan lembaga atau istitut adalan badan atau organisasi yang melaksanakan aktifitas itu. Jika istilah lembaga ddiperhatikan lebih mendalam dan dihubungkan dengan istilah kelompok atau perkumpulan, maka lembaga adalah perkumpulan yang khusus (Elly dan Usman, 2011:285).

Lembaga kemasyarakatan merupakan terjemahan langsung dari istilah asing sosial-institusi. Lembaga kemasyarakatan terdapat di dalam setiap masyarakat tanpa memedulikan apakah masyarakat memiliki taraf kebudayaan bersahaja atau modern karena setiap masyarakat mempunyai kebutuhan pokok yang apabila dikelompok-kelompokkan, terhimpun menjadi lembaga kemasyarakatan (Soerjono Soekanto, 2012:172). Sebagai contoh, dari suatu lembaga yakni Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya Makassar.

Lembaga ini lebih mengkhususkan pada suatu penanganan masalah sosial yakni rehabilitasi sosial penyandang disabilitas tubuh.

Dapat kita katakan bahwa sejak dilahirkan manusia sudah mempunyai dua hasrat atau kepentingan pokok bagi kehidupannya, yaitu:

1. Keinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain disekelilingnya, dan 2. Keinginan untuk menjadi satu dengan lingkungan alamnya.

Keterkaitan dan ketergantungan antara manusia satu dengan yang lain mendorong manusia untuk membentuk kelompok masyarakat yang disebut kelompok sosial atau social group (Kun Maryati dan Juju Suryawati, 2014:4)

1. Latar Belakang Panti Sosial Bina Daksa Wiraya Makassar

Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya Makassar yang dikenal dengan nama “PSBDW” Makassar terletak di Jl. A.P petterani Kelurahan Sinrijala Panakkukang kota km. 4 luas bangunan sekitar 4,7 Ha. Panti ini dulunya dikenal oleh masyarakat sekitarnya dengan nama perkampungan cacat lalu berkembang menjadi asrama cacat kemudian lebih dikenal dengan nama panti cacat yang beralamat di Jl. Urip Sumiharjo Kelurahan Karuwisi Kec. Pannakukang Kotamadya Ujung Pandang.

PSBD Wirajaya Makassar menangani proses rehabilitasi para penyandang disabilitas tubuh dikawasan timur Indonesia, yang sebelumya bernama Lembaga Rehabilitasi Penderita Cacat Tubuh (LRPCT) kemudian berubah menjadi Panti Rehabilitasi Penderita Cacat Tubuh (PRPCT)

Pada perkembangan selanjutnya menjadi Panti Sosial Bina Daksa (PSBD) Wirajaya Makassar sehingga saat ini, yang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bertanggung jawab langsung kepada Direktorat Jendral Rehabilitasi Sosial Kementrian Sosial Republik Indonesia. PSBD Wirajaya Makassar didirikan antara lain karena didorong oleh tanggung jawab kemanusiaan utamanya setelah selesainya revolusi di Indonesia.

Dalam hal ini tidak dapat dipisahkan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia melawan penjajah. Dalam dekade tahun 1945 dan tahun-tahun berikutnya merupakan periode revolusi fisik, banyak korban yang jatuh berguguran dalam medan perang kemerdekaan, banyak pejuang yang gugur banyak pula korban-korban yang diselamatkan jiwanya namun fisiknya mengalami kecacatan.

2. Sejarah Berdirinya Panti Sosial Bina Daksa Wiraya Makassar

Dilatarbelakangi oleh banyaknya cacat tubuh korban perang Dunia ke II dan korban keganasan Westerling yang dikenal dengan “Korban 40.000 jiwa” di Sulawesi Selatan. Yang kesemuannya telah menimbulkan penderitaan rakyat yang demikian besarnya dan disamping itu pula telah menimbulkan suatu pandanan kengerian atas sejumlah tubuh-tubuh manusia yang masi berjalan tetapi tanpa tangan atau kaki, atau mungkin masih bisa bernafas tetapi telah tidak memiliki kaki atau tangan lagi. Kesemuanya ini mempunyai jumlah yang cukup besar diwilayah ini.

a. Tahun 1954

Sejumlah tokoh masyarakat baik sipil maupun militer antara lain Andi Pangeran Pettarani, Kolonel Gatot Subroto dan Mr. Tjiang Kok merintis pembanguna perkampungan penderita cacat. Tanggal 26 juli 1954, berdirilah suatu yayasan pembangunan perkampungan penderita cacat terutama bagi korban peran, yang dirintis oleh Andi

Pangeran Pettarani dan Mr. Tijia kok Tjiang kemudian dipimping oleh Mr. Tijia kok Tjiang.

b. Tahun 1957

Mulai peletakan batu pertama pembangunan perkampungan penderita cacat tubuh korban perang oleh Bapak KASAD Gatot Subroto dan dipimpin oleh DR. England dan sekretarisnya John Ekel sebagai Komisariat Ikatan Cacat Veteran.

c. Tahun 1959

Usaha pembangunan Rehabilitasi cacat di Ujung Pandang semakin mendapatkan dukungan dan restu dari pemerintah pusat dengan keluarnya SK Menso RI dengan Nomor. Kep. 10-24-11/298 tanggal 15 Agustus 1959. Rehabilitasi penderita cacat Sulawesi-Selatan dan Tenggara menjadi pusatnya di Solo. Pada waktu itu sejumlah gedung sebagai tempat penyantunan para penderita cacat telah disiapkan.

d. Tahun 1960

Tanggal 11 Desmber 1960, diresmikan sebagai Rehabilitasi Centrum Ujung Pandang oleh Pangdam XIV Hasanuddin Kolonel M. Yusuf bersama Gubenur Sulawesi Selatan Andi Rifai (Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Sosial RI tanggal 25 Agustus 1959) yang merupakan cabang Rehabilitasi Centrum Prof. DR.

Soeharso Solo. Dan untuk penanggung jawab kegiatan ini diserahkan

kepada bapak Soedibyo Soediharjo selaku pimpinan pertama Panti ini.

e. Tahun 1979

Dari Lembaga Rehabilitasi Penderita Cacat Tubuh (LRPCT) menjadi Panti Rehabilitasi Penderita Cacat Tubuh (PRPCT) dengan SK Menteri Sosial RI Nomor : 41/HUK/KEP/XI/1979 yang beralamat di Jl. Urip Somoeharjo Makassar.

f. Tahun 1994

PRPCT berubah namanya menjadi panti sosial Bina Daksa Wirajaya (PSBDW) Makassar berdasarkan SK Mentri sosial Nomor : 41/HUK/1994 tanggal 23 April 1994 Tentang pembukaan nama UPT di lingkungan Depertemen sosial dan surat keputusan Direktorat Jenderal Bina Rehabilitas Sosial RI No.06/KEP/BRS/IV/1994 tanggal 26 April 1994 Tentang nama- nama pusat/Balai dan panti sosial di Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Sosial RI Dengan alamat Jl.Jend. Urip Sumoharjo Ujung Pandang.

g. Tahun 2001

Berada di lingkungan BKSN kemudian Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Dengan alamat Jl.A.P Pettarani Makassar.

h. Tahun 2002

Menjadi Panti UPT dibawah naungan Departemen Sosial RI berdasarkan Kepmensos RI. Nomor: 06/HUK/2002 tentang Struktur Organisasi Departemen Sosial RI. Diperkuat Kepmensos RI. Nomor:

59/HUK/2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Panti Sosial di lingkungan Departemen Sosial Rl.

3. Visi dan Misi Panti Sosial Bina Daksa Wiraya Makassar a. Visi

Menjadikan PSBD Wirajaya Makassar sebagai Model Pelayanan Profesional Disabilitas Tubuh di Kawasan Timur Indonesia.

b. Misi

1) Meningkatkan profesionalisme SDM dan 2) Administrasi yang akuntabel dan transparan.

3) Peningkatan program dan apokasi sosial berbasis hak penyandang Disabilitas.

4) Peningkatan pelayanan dan Rehabilitasi sosial dengan pendekatan metode dan tehnikpekerja sosial.

4. Tugas, Fungsi dan Tujuan Panti Sosial Bina Daksa Wiraya Makassar

a. Tugas pokok Panti Sosial Bina Daksa Wiraya Makassar

Melaksanakan pelayanan dan rehabilitasi sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial khususnya penyandang disabilitas

tubuh agar mampu berperan aktif, berkehidupan dalam masyarakat,rujukan regional,pengkajian dan penyiapan standar pelayanan,pemberian informasi serta koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait sesuai dengan peraturan perundang- undangan.

b. Fungsi Panti Sosial Bina Daksa Wiraya Makassar

1) Penyusunan rencana dan program, evaluasi dan pelaporan

2) Pelaksanaan registrasi,observasi, identifikasi,diagnosa sosial dan perawatan

3) Pelaksanaan pelayanan dan rehabilitasi sosial yang meliputi bimbingan mental,fisik dan keterampilan

4) Pelaksanaan resosialisasi, penyaluran dan bimbingan lanjut

5) Pelaksanaan pemberian perlindungan sosial, advokasi sosial,informasi sosial, informasi dan rujukan

6) Pelaksanaan pusat model pelayanan dan rehabilitasi dan perlindungan sosial

7) Pelaksanaan urusan tata usaha

c. Tujuan Panti Sosial Bina Daksa Wiraya Makassar

Pelayanan profesionalisme PSBD Wiraya Makassar yang hendak dicapai:

1) Terkelolahnya administrasi yang baik, transparan dan akuntabel 2) Meningkatnya profesionalisme SDM

3) Terkelolahnya sarana dan prasarana dengan baik

4) Terselengyang efektif dan efisien

5) Terkelolahnya data dan informasi penanganan penyandang disabilitas

6) Meningkatnya jalinan kemitraan dengan pihak terkait

7) Meningkatnya pendampingan dan adokasi sosial bagi penyandang disabilitas tubuh

8) Terselenggaranya pengkajian model dan usaha kesejateraan sosial penyandang disabilitas

9) Meningkatnya jumlah penyandang disabilitas yang tertangani 10) Tersalurkannya penyandang disabilitas kesektor usaha mandiri,

kube dan perusahaan.

Dokumen terkait