BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Paparan Dimensi Penelitian
1. Gaya Belajar Murid kelas IV di SDN Bette Kabupaten Barru
Gaya belajar merupakan sebuah cara yang menjelaskan mengenai bagaimana individu belajar atau cara yang ditempuh oleh masing-masing murid untuk membantu murid dalam menerima informasi dalam proses belajar mengajar.
Dalam menggali informasi untuk memperoleh hasil analisis gaya belajar murid kelas IV di SDN Bette Kabupaten Barru, peneliti melakukan observasi dan wawancara terhadap wali kelas IV mengenai gaya belajar murid kelas IV SDN Bette saat proses belajar mengajar berlangsung.
Hasil wawancara yang dilakukan kepada wali kelas IV SDN Bette ibu MR (30 tahun) menyatakan bahwa:
“Tidak semua murid kelas IV memperhatikan saya saat mengajar.
Masih ada murid yang tidak fokus saat proses belajar berlangsung ketertarikan mereka untuk belajar masih rendah. Ada yang suka jalan dan mengganggu temannya yang fokus belajar, ada yang sibuk cerita dengan teman sebangkunya sementara saya menjelaskan di depan, ada yang sibuk menggambbar dan mencoret coret sembarangan padahal bukan waktu pelajaran kesenian, ada yang main-main tidak jelas. Intinya murid kelas IV sekarang jauh berbeda dengan murid kelas IV sebelumnya. Murid kelas IV yang sekarang memng lambat dalam menerima pelajaran yang saya sampaikan. Hanya ada ada beberapa orang yang betul- betul memperhatikan kalau saya menerangkan” (Hasil wawancara, 2 Oktober 2019).
Berdasarkan pernyataan ibu MR selaku wali kelas IV SDN Bette yang menyatakan bahwa, murid kelas IV SDN bette banyak yang main- main saat proses pembelajaran berlangsung memang sama apa yang peneliti lihat saat melakukan pengamatan dikelas IV. Murid yang memiliki
banyak tingkah/tidak bisa tenang merupakan ciri-ciri gaya belajar kinestetik. Untuk mengetahui lebih dalam soal gaya belajar murid kelas IV peniliti kembali melanjutkan wawancara kepada ibu MR (30 tahun) selaku wali kelas IV mengenai gaya belajar murid kelas IV yang menyatakan bahwa:
“saya tidak tahu gaya belajar mereka seperti apa, karena cuman yang mau belajar saja yang akan memperhatikan apa yang saya sampaikan yang lain “nabele-beleangmi” (tidak ada perhatian), hampir setiap hari dari enam belas murid hanya tujuh sampai sepuluh orang yang tertarik belajar. Setiap hari jika saya menjelaskan mereka memang tidak tertarik belajar dan saya pun sudah mulai capek menegur terus-menerus, bahkan ada murid yang sudah hampir satu semester di kelas IV tetapi tidak ada perkembangan dalam belajar. Seperti yang saya katakan sebelumnya murid ini salah satu murid saat proses belajar mengajar berlangsung lebih suka mencoret-coret dan menggambar” (Hasilwawancara, 2 Oktober 2019).
Dari pernyataan ibu MR yang menyatakan bahwa ada sebagian murid kelas IV yang tidak tertarik dalam belajar dan lebih suka meggambar itu sudah termasuk dalam ciri-ciri gaya belajar visual, yang ebih senang belajar jika disertai dengan gambara-gambar dalam hal ini dengan menggunakan media gambar. Sedangkan untuk membuat murid tertarik pada pelajaran maka seorang guru harus mengetahui keunikan gaya belajar atau cara belajar murid setiap individu, karena tidak semua murid memiliki gaya belajar yang sama untuk menerima pembelajaran bahkan ada murid yang cepat, ada yang sedang dan ada yang lambat dalam menerima pembelajaran.
Pernyataan ibu MR juga menyatakan bahwa “setiap hari saat menjelaskan pelajaran” yang berarti setiap hari ibu MR hanya
menggunakan satu metode pembelajaran saja dalam proses belajar mengajar yaitu mejelaskan atau lebih dikenal dengan metode ceramah.
Metode ceramah bisa digunakan untuk murid yang tergolong dalam gaya belajar auditori namun, tidak semua murid tertarik belajar dengan metode belajara ceramah. ybSeperti yang diketahui bahwa dalam membahas gaya belajar murid erat kaitanyya dengan metode pembelajaran yang guru gunakan untuk membuat murid tertarik dalam pelajaran.
Untuk lebih menguatkan lagi peneliti dalam menganalisis gaya belajar murid kelas IV peneliti mengambil enam subjek peneltian dari enam belas murid kelas IV yang berdasar pada hasil pengamatan peneliti dalam proses belajar mengajar dikelas. Pertama peneliti melakukan wawancara kepada MR (10 tahun) murid kelas empat tentang gaya belajar Visual yang menyatakan bahwa:
“ saya lebih suka membaca sendiri daripada dibacakan karena saya lebih paham jika membaca sendiri dan mengulangi bacaan, saat belajar lebih mudah mengingat saat melihat gambar-gambar atau vidio-vidio daripada hanya sekedar mendengarkan penjelasan ibu guru, jika diminta menghafal saya bisa menghafal hanya dengan melihat sekali atau dua kali materi yang diperintahkan untuk dihapal. Saat belajar saya sering ingin bertanya saat proses belajar mengajar tetapi saya sering sulit menuangkan dalam bentuk kalimat. Saat saya berada di sekolah maupun di rumah saya paling tidak suka jika barang-barang saya berantakan, lebih suka melakukan demontrasi daripada berpidato, sulit mengingat perintah lisan kecuali dengan dituliskan dan sering meminta orang lain meminta ulangi ucapannya serta saya tidak suka mencoret-coret saat proses belajar mengajar berlangsung buku atau apa pun itu karena itu kotor sedangkan saya tidak suka melihat jika barang- barang saya kotor” (hasil wawancara, 3 Oktober 2019)”.
Sesuai pernyataan MR bahwa dalam proses belajar mengajar lebih cepat mengerti jika melihat gambar-gambar atau diputarkan vidio-vidio
dapat kita ciri-ciri gaya belajar visual yaitu menggunakan modalitas belajar dengan kekuatan indera mata. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperhatikan terlebih dahulu agar murid paham. Ciri-ciri murid yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan juga menangkap informasi secara visual sebelum mereka memahaminya. Murid dengan gaya belajar visual lebih mudah mengingat apa yang mereka lihat, seperti bahasa tubuh/ekspresi muka gurunya, diagram, buku pelajaran bergambar dan video, sehingga mereka bisa mengerti dengan baik mengenai posisi/ lokal, bentuk, angka, dan warna siswa visual cenderung rapi dan teratur dan tidak terganggu dengan keributan ada, tetapi mereka sulit menerima instruksi verbal.
Gaya belajar MR murid kelas IV dari hasil wawancara mengenai gaya belajar MR saat proses belajar mengajar termasuk dalam tiga gaya belajar yaitu gaya belajar visual, gaya belajar auditori, dan gaya belajar kinestetik atau bisa disebut termasuk dalam gaya belajar kombinasi.
Berdasarkan ciri-ciri gaya belajar visual yang dipaparkan gaya belajar MR lebih dominan ke gaya belajar visual.
Wawancara kedua yaitu wawancara mengenai gaya belajar auditorial, setelah melakukan wawancara mengenai gaya Visual selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan subjek yang sama mengenai gaya belajar auditorial kepada MR murid kelas IV yang menyatakan bahwa:
“saat membaca saya menggerakan bibir, saat berbicara saya bisa berbicara dengan jelas, saya suka belajar kelompok dan suka jika
berdiskusi sesama teman , saya tidak suka membaca keras-keras, serta saya lebih mudah mengerti jika belajar dengan melihat gambar daripaa mendengarkan” (Hasil wawancara, 3 Oktober 2019).
Orang bergaya belajar auditorial lebih dekat dangan ciri seperti lebih suka berbicara daripada menulis, kata-kata khas yang digunakan oleh orang auditorial dalam pembicararaan tidak jauh dari ungkapan “aku mendengar apa yang kau katakan” dan kecepatan bicaranya sedang.
Selanjutnya hasil wawancara MR (10 tahun) murid kelas IV mengenai gaya belajar kinestetik yang menyatakan bahwa:
“saat berbicara dengan orang lain saya suka berdiri dekat-dekat, saat belajar suka menunjuk dengan meggunakan jari, tapi saya lebih suka belajar dengan melihat gambar-gambar atau vidio. Saya tidak suka menyentuh orang hanya untuk mendapatkan perhatiaanya , saya tidak terlalu suka belajar dengan praktek serta saya bisa duduk tenang dengan waktu yang lama untuk belajar”
(Hasil wawancara, 3 Oktober 2019).
Gaya belajar kinestetik yang memiliki ciri-ciri orang yang bergaya belajar kinestetik lebih dekat dengan ciri seperti saat berfikir lebih baik ketika bergerak atau berjalan, lebih menggerakkan anggota tubuh ketika bicara dan merasa sulit untuk duduk diam.
Gaya belajar MR murid kelas IV dari hasil wawancara mengenai gaya belajar MR saat proses belajar mengajar dan melihat ciri-ciri gaya belajar visual, gaya belajar auditori, dan gaya belajar kinestetik. MR termasuk dalam krtiga gaya belajar tersebut atau bisa disebut termasuk dalam gaya belajar kombinasi. Berdasarkan ciri-ciri gaya belajar visual, gaya belajar audioteri dan gaya belajar kinestetik MR lebih dominan ke gaya belajar visual.
Subjek kedua yang diwawancarai oleh peneliti mengenai gaya belajar Visual adalah ML (10 tahun) murid kelas IV SDN Bette yang menyatakan bahwa:
“Saya tidak terlalu cepat jika bicara, jika belajar saya lebih suka membaca sendiri daripada dibacakan dan saya lebih semangat belajar jika melihat gambar-gambar akan tetapi selama belajar di kelas IV baru satu kali ibu guru memperlihatkan gambar melalui laptop. Jika disekolah saya paling tidak suka jika peralatan tulis saya diberantakin oleh teman-teman saya apalagi kalau dipinjam dan dirusakin, serta saya tidak suka mencoret-coret buku pelajaran saya karena terlihat kotor dan tidak rapi” (Hasil wawancara, 3 Oktober 2019)
Hasil wawancara ML yang menyatakan bahwa ML adalah murid yang rapi dan teratur terbukti dari cara ia berpakaian dan cara dia menulis.
ML adalah anak yang pembawaanya tenang paling suka menggambar sehingga ML lebih senang jika menggunakan gambar-gambar.
Setelah peneliti melakukan wawancara mengenai gaya belajar visual, selanjutnya peneliti melakukan wawancara kepada ML (10 tahun) murid kelas IVmengenai gaya belajar auditori yang menyatakan bahwa:
“jika saya membaca saya menggerakan bibir dan tidak suka membaca keras-keras lebih suka membaca pelan karena saya lebih mengerti, saya orangnya lebih suka jika belajar sendiri dan mudah terganggu belajar jika ada keributan serta lebih mudah mengerti jika melihat gambar daripada hanya sekedar medengarkan ceramah” (Hasil wawancara, 3 Oktober 2019).
Hasil wawancara ML yang menyatakan bahwa saya lebih suka belajar jika dalam keadaan tenang dan kembali menyatakan bahwa saya lebih suka belajar jika menggunakan Gambar. Untuk gaya belajar kinestetik peneliti kembali melakukan wawancara kepada ML (10 tahun) murid kelas IV yang menyatakan bahwa:
“saya tidak terlalu suka melakukan kegiatan fisik, jika belajar dan praktek saya suka tetapi lebih suka lagi jika belajar praktek disertai gambar-gambar jadi bisa menarik dan semangat untuk belajar.
Dalam proses pembelajaran berlangsung saya bisa duduk tenang”
(Hasil wawancara, 3 Oktober 2019).
Hasil wawancara ML dengan tiga gaya belajar yaitu gaya belajar visual, gaya belajar, auditori dan gaya belajar kinestetik, ML memiliki ketiga gaya belajar tersebut dan juga dikatakan gaya belajar ML kombinasi. Namun, Berdasarkan ciri-ciri ketiga gaya belajar tersebut ML dominan dengan gaya belajar Visual.
Wawancara selanjutnya yaitu peneliti melakukan wawancara yang sama kepada subjek ketiga tentang gaya belajar visual, NN (10 tahun) murid kelas IV menyatakan bahwa:
“saat bisa mengingat pelajaran jika melihat gambar, sering ingin bertanya namun biasa sulit saya ungkapkan, lebih suka melakukan demonstrasi, sulit megingat perintah lisan serta saya suka mencoret-coret saat belajar, namun saya bukan pembicara yang cepat, bukan pengeja yang baik, saya lebih suka dibacakan saat belajar daripada membaca sendiri, sulit menghafal, serta saya tidak rapi apalagi teratur” (Hasil wawancara , 3 Oktober 2019)
ciri-ciri gaya belajar visual yaitu menggunakan modalitas belajar dengan kekuatan indera mata. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperthatikan terlebih dahulu agar siswa paham. Ciri-ciri murid yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan juga menangkap informasi secara visual sebelum mereka memahaminya. Murid dengan gaya belajar visual lebih mudah mengingat apa yang mereka lihat, seperti bahasa tubuh/ekspresi muka gurunya, diagram, buku pelajaran bergambar dan video, sehingga mereka bisa
mengerti dengan baik mengenai posisi/ lokal, bentuk, angka, dan warna siswa visual cenderung rapi dan teratur dan tidak terganggu dengan keributan ada, tetapi mereka sulit menerima instruksi verbal.
Berdasarkan ciri-ciri gaya belajar visual NN memiliki gaya belajar visual, selanjutnya kita melihat pernyataan NN mengenai gaya belajar Auditori yang menyatakan bahwa:
“saya menggerakan bibir saat membaca dengan suara keras- keras untuk mendengarkannya kembali, saya sulit menulis tetapi pandai berbicara, saat belajar saya lebih suka belajar kelompok dan berdskusi karena saat diskusi saya bisa bertanya kepada teman saya yang duluan mengerti pelajaran daripada saya, serta tidak suka belajar jika ada keributan. Namun, saya tidak berbicara sendiri saat belajar” (Hasil wawancara, 3 Oktober 2019).
orang yang termasuk gaya belajar auditori lebih dekat dangan ciri seperti lebih suka berbicara daripada menulis. Dapat dilihat dari jawaban dan ciri-ciri gaya belajar audiotori NN lebih dominan ke gaya belajar auditori. Dapat dibandingkan lagi dengan hasil wawancara NN (10 tahun) mengenai gaya belajar kinestetik yang menyatakan bahwa:
“saat bicara dengan orang lain saya biasanya mendekat, suka belajar dengan paraktek, saya menggunakan tangan untuk menunjuk saat membaca serta saya lebih suka belajar dengan teman saya atau belajar kelompok dan tidak banyak meggunakan fisik atau bergerak saat belajar”(Hasil wawancara, 3 Oktober 2019).
Dari pernyataan irwan mengenai ke tiga wawancara gaya belajar dapat terlihat bahwa NN lebih dominan ke gaya belajar audiotori meskipun NN juga memiliki gaya belajar visual, dan gaya belajar kinestetik.
Subjek selanjutnya di hari yang sama peneliti melakukan wawancara masih mengenai gaya belajar yang pertama yaitu gaya belajar
visual, peneliti melakukan wawancara ke MJ (10 tahun) murid kelas IV SDN Bette yang menyatakan bahwa:
“saya pembicara yang cepat, suka belajar jika melihat gambar, saya sering ingin bertanya tapi kadang sulit saya ungkapkan, serta saya suka mencoret-coret saat belajar. Tetapi saya bukan pengeja yang baik danlebih suka jika dbacakan daripada membaca sendiri”
(Hasil wawancara, 3 Oktober 2019).
Dari pernyataan MJ dapat dilihat bahwa MJ memilki gaya belajar visual yang bisa mendukung cara belajarnya. Selanjutnya kita melihat pernyataan MJ murid kelas IV mengenai gaya belajar Auditori yang menyatakan bahwa:
“saya suka bicara senidiri saat belajar, suka bicara apalagi membaca keras-keras untuk mendengarkan kembali apa yang saya baca. Saya suka belajar kelompok karena bisa berdiskusi dengan teman saya karena saya lebih mudah memahami jika belajar dengan mendengarkan daripada melihat gambar-gambar dan melakukan gerakan fisik untuk belajar” (Hasil wawancara, 3 Oktober 2019).
Berdasarkan ciri-ciri gaya belajar auditori yaitu orang bergaya belajar auditori lebih dekat dangan ciri seperti lebih suka berbicara daripada menulis. Dapat dilihat dari jawaban MJ maka, MJ termasuk dalam anak yang gaya belajar dominan dalam gaya belajar auditori.
Dua hari selanjutnya setelah melakukan wawancara kepada wali kelas IV SDN Bette dan empat murid kelas IV peneliti kembali melakukan wawancara mengenai gaya belajar visual pada seorang murid kelas IV yaitu MS (9 tahun) yang mengatakan bahwa:
“saya lebih suka belajar sendiri daripada dibacakan, saat proses belajar berlangsung Saya sering igin bertanya tapi tidak terpikir kata yang tepat, saya suka mencoret-coret saat belajar serta saya bukan anak yang rapi dan teratur” (Hasil wawancara, 5 Oktober 2019).
Berdasarkan pernyataan MS dapat kita lihat ciri-ciri gaya belajar visual yaitu menggunakan modalitas belajar dengan kekuatan indera mata. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperhatikan terlebih dahulu agar murid paham. Ciri-ciri murid yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan juga menangkap informasi secara visual sebelum mereka memahaminya. Murid dengan gaya belajar visual lebih mudah mengingat apa yang mereka lihat, seperti bahasa tubuh/ekspresi muka gurunya, diagram, buku pelajaran bergambar dan video, sehingga mereka bisa mengerti dengan baik mengenai posisi/ lokal, bentuk, angka, dan warna siswa visual cenderung rapi dan teratur dan tidak terganggu dengan. Dari pernyataan MS dan melihat ciri-ciri gaya belajar visual, MS memiliki gaya belajar visual namun hanya sebagian kecil.
Untuk mengetahui lebih lanjut gaya belajar MS peneliti kembali melakukan wawancara mengenai gaya belajar auditori kepada MS (9 tahun) murid kels IV yang menyatakan bahwa:
Saat diminta untuk membaca saya suka menggerakan bibir dan membaca secara keras-keras supaya saya bisa mendengarkan kembali apa yang sya baca. Saya bisa tetap belajar meski dalam keadaan ribut, dan saya lebih suka jika belajar dengan melakukan kegiatan fisik” (Hasil wawancara, 5 Oktober 2019).
Berdasarkan ciri-ciri gaya belajar auditori yaitu orang bergaya belajar auditori lebih dekat dangan ciri seperti lebih suka berbicara daripada menulis. Pernyataan MS dan ciri-ciri gaya belajar auditori. Gaya belajar MS juga termasuk dalam gaya auditori tetapi hanya sebagian
kecil.peneiliti kembali melakukan wawancara MS murid kelas IV mengenai gaya belajar kinestetik yang menyatakan bahwa:
“saya suka jika belajar dengan praktek karena saya merasa semangat belajar dan lebih mudah serta lebih lama bisa mengingat jika saya sudah mempraktekkan langsung. Saya bukan pembicara yang cepat cara bicara saya biasa-biasa dan saya orangnya tidak bisa duduk dalam jangka yang lama karena saya merasa gelisah jika duduk dalam waktu yang lama saya lebih suka belajar dan berpikir jika banyak bergerak ” (Hasil wawancara 5 Oktober 2019).
Gaya belajar kinestetik yang memiliki ciri-ciri orang yang bergaya belajar kinestetik lebih dekat dengan ciri seperti saat berfikir lebih baik ketika bergerak atau berjalan, lebih menggerakkan anggota tubuh ketika bicara dan merasa sulit untuk duduk diam.
Berdasarkan pernyataan MS (9 tahun) murid kelas IV SDN Bette mengenai gaya belajar visual, gaya belajar audiotori dan gaya belajar kinestetik MS memiliki ketiga gaya belajar tersebut dan bisa dikatakan gaya belajar MS kombinasi. kembali melihat ciri-ciri gaya belajar visual, gaya belajar audiotori dan gaya belajar kinestetik gaya belajar MS lebih dominan ke gaya belajar Kinestetik.
Hasil wawancara subjek selanjutnya yaitu IR (10 tahun) murid kelas IV SDN Bette mengenai gaya belajar menyatakan bahwa:
“saya biasa belajar di rumah dengan memmbaca buku berulang ulang, saya suka belajar jika disertai gambar karena bagi saya itu menarik dan tidak membuat saya bosan. Saya suka belajar kelompok karena bisa berdiskusi dengan teman saya, tetapi saya lebih senang belajar jika praktek langsung karena saya lebih bisa mengingat lama pelajaran jika mempraktekkan langsung. Saya suka belajar jika bergerak dari pada duduk tenang namun, ketika saya bosan mendengar guru menerangkan dengan metode ceramah maka saya sering mengayung-ayungkan kaki untuk menghilangkan rasa bosan ” (Hasil wawancara, 7 Oktober 2019).
Subjek yang satu ini adalah murid yang aktif, dia suka melakukan kegiatan fisik yang bergerak contohnya menari atau praktek-praktek lainnya. IR anaknya paling tidak bisa diam, saat proses pembelajaran berlangsung ia paling sering jalan ke bangku temannya. Dari ciri-ciri gaya belajar IR juga memiliki kombinasi gaya belajar yaitu gaya belajar visual, gaya belajar audiotori, dan gaya belajar kinestetik namun, lebih dominan di gaya belajar Kinestetik.
2. Faktor Yang Mendukung Gaya Belajar Murid Kelas IV di SDN Bette Kabupaten Barru
Dalam belajar murid memiliki cara yang berbeda untuk menerima pelajaran dan dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk faktor lingkungan yang di dalamnya mencakup fasilitas di sekolah atau sarana prasarana sekolah. Sarana prasarana sekolah yang dimaksud dalam hal ini yaitu alat yang digunakan dalam proses belajar mengajar. seperti modul pembelajaran dan fasilitas untuk mendukung penggunaan media pembelajaran. Hasil wawancara dengan ibu MR (30 tahun) wali kelas IV mengenai modul yang digunakan saat proses pembelajaran menyatakan bahwa:
“saya tidak memiliki modul pembelajaran tertentu dan memang di sekolah ini tidak ada modul pembelajaran tertentu. Saya hanya mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ” (Hasil wawancara, 9 Oktober 2019)
Pernyataan ibu MR yang menyatakan bahwa di SDN Bette tidak ada modul tertentu yang digunakan saat proses belajar megajar memang benar, karena semua guru di SDN Bette hanya mengacu pada Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang didalamnya tertera metode dan kegiatan pembelajaran.
Selanjutnya peneliti kembali mengajukan pertanyaan kepada wali kelas IV tentang sarana prasarana yang ada di sekolah. Wali kelas IV ibu MR (30 tahun) menyatakan bahwa:
“Sarana prasarana yang ada di sekolah ini cukup lengkap, di sekolah ini ada dua LCD beserta layarnya, ada empat laptop yang dibagikan kepada wali kelas dua, operator sekolah, bendahara, dan saya sendiri selaku wali kelas IV serta ada printer. Fasilitas yang ada di sekolah ini cukup lengkap, pekarangan yang luas, ada gedung perpustakaan, meja dan kursi murid lengkap serta buku guru dan buku siswa lengkap”(Hasil wawancara, 9 Oktober 2019).
Pernyataan ibu MR yang menyatakan bahwa fasilitas di SDN Bette cukup lengkap memang benar. Fasilitas ini sangat mendukung proses belajar mengajar jika digunakan secara maksimal LCD dan laptop bisa digunakan untuk memutar vidio-vidio pembelajaran, laptop bisa digunakan untuk mencari gambar-gambar yang berhubungan dengan pembelajaran, lingkungan sekolah bisa dimanfaatkan untuk belajar di luar kelas, serta perpustakaan juga bisa dimanfaatkan.
Sarana prasarana sangat erat kaitannya dengan model dan media pembelajaran saat proses belajar mengajar, untuk mengetahui pemanfaatan sarana prasarana yang cukup memadai di SDN Bette peneliti kembali bertanya tentang model dan media yang digunakan wali kelas IV dalam proses belajar mengajar. Ibu MR (30 tahun) wali kelas IV menyatakan bahwa:
“saat proses belajar mengajar saya lebih banyak menjelaskan.
Pernah sekali memutarkan Vidio pembelajaran kepada murid kelas IV selama semester 1 (satu) ini berjalan. Saat mengajar saya lebih banyak menggunakan buku tidak pernah menampilkan gambar- gambar di depan kelas yang berhubungan dengan pembelajaran