• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paradigma Baru Pendidikan Islam

Dalam dokumen Paradigma Pendidikan Islam. (Halaman 44-49)

BAB II PENGEMBANGAN ILMU DAN

D. Paradigma Baru Pendidikan Islam

beragama dan beragama berarti berilmu. Maka tidak ada dikotomi antara ilmu dan agama. Ilmu tidak bebas nilai tetapi bebas dinilai atau dikritik. Menilai dan menggugat kembali keabsahan dan kebenaran suatu pendapat adalah diharuskan tanpa menilai yang berpendapat. Bahkan ilmuwan dengan senang hati melemparkan pendapatnya untuk dinilai dan bahkan untuk dipertahankan karena yang dicari adalah kebenaran dan bukan pembenaran.

Tetapi justru begitu kuatnya nilai-nilai kebenaran ilmiah yang dilontarkan oleh para ilmuwan muslim pada jaman keemasan itu, sampai-sampai pendapat ilmiah tersebut berubah menjadi “mitos baru” yang hanya perlu dipahami dan dihafalkan serta diamalkan. Para pengikut cenderung membiarkan perbedaan-perbedaan aliran yang ada. Mereka hanya mengambil pendapat yang disetujui saja, dengan tetap menghargai pendapat yang berbeda tanpa mengkritik dan menganalisisnya.

Sesudah abad XIII, sejarah peradaban Islam memasuki periode kejumudan di mana ijtihad telah tertutup atau menurut istilah Harun Nasution, bulan ijtihat telah tertutup, tetapi karena tidak ada yang berani berijtihad.15 Nalar Islam dalam jaman kebekuan ini ternyata lebih banyak bersifat apologetik dan mencari pembenaran. Sebaliknya orang Barat mempelajari ilmu-ilmu yang dikembangkan sarjana- sarjana muslim dari zaman keemasan dan dikombinasikan dengan ilmu-ilmu Yunani Kuno, kemudian dilengkapi dengan pertanyaan yang elaberiaus, provitif dan antisipatif serta merasa bebas. Akibatnya pemegang estafet dinamika ilmu berpindah ke Barat.

15Harun Nasution, 1988. Ijtihad Sumber Ketiga Ajaran Islam dalam Jalaludin Rahmat (ed), Ijdtihad Dalam Sorotan. Bandung: Mizanal. Hal. 24.

Mereka semula mengalami benturan dengan gereja, dalam perkembangan selanjutnya terjadi pemberontakan tentang perlunya dipisahkan antara negara dan agama. Sejak keluar dari agama, ilmu berkembang pesat, ilmu berkembang pesat tanpa kendali dan bebas nilai. Perkembangan iptek yang sekularistis inilah yang kemudian melanda seluruh pelosok dunia, termasuk Indonesia dan negara-negara muslim lain terutama dalam menghadapi persoalan pembangunan.

Pemanfaatan iptek yang sehulu ini, selain membawa dampak positif dalam memodernkan masyarakat menimbulkan dampak negatif antara lain berupa kerusakan lingkungan dan dekadensi moral. Seluruh dunia “menjerit” dan berupaya dengan keras untuk mencari integritas iptek dan agama.

Menurut Syed Naquib Alatas, barat tidak akan mampu menjembatani dikotomi tersebut karena barat telah berkembang terlalu jauh diatas perpaduan berbagai nilai kebudayaan Yunani, Romawi Kuno, Yudaisme, Agama Kristen, Keltik dan Nordik yang masing-masing mewakili nilai dan norma yang berbeda secara esensial, sehingga tidak mungkin dapat ditemukan satu landasan yang sama.16

Meskipun telah berusaha bangkit kembali menemukan

“barang yang lepas” dan hal ini amat terasa sejak abad ke- 19 dan awal abad ke-20, umat Islam harus tetap kerja keras untuk mengajar ketinggalan, apalagi era yang dihadapinya saat ini telah memasuki jaman posmodern. Rasanya mereka akan tetap ketinggalan jika terus berpikir relatif dan bukan pro-aktif atau responsif untuk menguasai kembali iptek berdasarkan nilai-nilai islam.

Sejauh ini respon Islam dalam menjawab tantangan jaman dilakukan melalui cara pertama, tradisional yang

16Syed Naqiub Al Attas, 1986. Islam dan Sekularisme, Bandung: Pustaka. hal 18-20

selalu mengulang-ulang pendapat dan tradisi lama yang keberlaluannya tidak relevan lagi dengan tantangan dan kebutuhan jaman; kedua eksteren yang seringkali menunjukkan sikap revolusioner dengan membabi buta dan tidak kritis;

ketiga, moderasi yang amat mudah tergelincir dalam apologetik dan senkretisme. Tentu saja, ketiga cara tersebut dalam banyak hal tidak menguntungkan. Maka diusulkan jalan keempat yaitu cara akademik atau ilmiah melalui pemikiran-pemikiran yang kritis dan terbuka, dengan tetap dibawah kepemimpinan semangat Islam. Dalam hal ini ada kemungkinan bahwa bobot pemikiran akademik bisa berada pada sarjana-sarjana non- muslim karena kebenaran ilmiah bersifat relatif.

Di sinilah pentingnya umat Islam mencari paradigma baru pendidikan dengan berusaha menggali kembali ajaran Islam, baik al-Qur’an, Hadist, sejarah Islam maupun tulisan para ulama dan sarjana muslim dari berbagai disiplin ilmu.

Bagaimanapun pencarian paradigma baru itu telah berjalan sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Tahun 70-an adalah masa kebangkitan yang nyata untuk pencarian itu.

Paradigma baru pendidikan Islam yang dimaksud disini adalah pemikiran yang terus menerus harus dikembangkan melalui pendidikan untuk merebut kembali kepemimpinan iptek, sebagaimana jaman keemasan dulu. Pencarian paradigma baru dalam pendidikan Islam dimulai dari konsep manusia menurut Islam, pandangan Islam terhadap iptek, dan setelah itu baru dirumuskan konsep atau sistem pendidikan Islam secara utuh.

Paradigma baru pendidikan Islam ini berdasarkan pada filsafat teocentris dan antroposentrif sekalius. Prinsip- prinsip lain dalam aradigma baru pendidikan Islam yang

ingin dikembangkan adalah tidak ada dikotomi antara ilmu dan agama; ilmu tidak bebas dinilai; mengajarkan agama dengan bahasa ilmu pengetahuan dan tidak hanya mengajarkan sisi tradisional, melainkan juga sisi rasional.

Dalam pengembangan ilmu agama di suatu lembaga pendidikan memerlukan 3 tahapan proses pendidikan agama yang harus dimiliki dan dialami oleh anak didik bersama-sama dengan guru dan dosen (pendidik). Tiga tahapan itu adalah: kognitif, afektif dan psikomotorik.

Metodologi penyampaian materi pendidikan agama Islam jauh lebih penting daripada materinya itu sendiri.

Pengembangan filsafat dan iptek di tangan orang Islam mencapai puncak keemasan pada abad 8–13 M. Pada masa itu pendidikan Islam atau tepatnya kebudayaan Islam mampu memimpin kehidupan. Persoalan yang menyebabkan umat Islam kurang mampu menjawab tantangan masa depan/tantangan jaman disebabkan:

– Berfikirnya secara tradisional – Ekstrim

– Moderasi yang amat mudah tergelincir dalam apologetik dan sinkritisme

Paradigma baru pendidikan Islam yang dimaksud di sini adalah pemikiran yang terus menerus harus dikembangkan melalui pendidikan yang dimulai dari konsep manusia menurut Islam, pandangan Islam terhadap iptek setelah itu dirumuskan konsep atau sistem pendidikan Islam secara utuh. Terutama ketika kita berhadapan dengan era globalisasi saat ini, umat Islam harus memiliki paradigma pendidikan yang mampu menghasilkan out put berkualitas tinggi dan kopetitif.

Dalam dokumen Paradigma Pendidikan Islam. (Halaman 44-49)

Dokumen terkait