BAB 4 ANCAMAN
4.3 Gangguan kesehatan
4.3.4 Parasit
Fauna parasit penyu sangat beragam dan beragam.
Beberapa diantaranya termasuk cacing, protozoa, dan arthropoda.
4.3.4.1 Protozoa
Dua spesies coccidian telah dinamai dari penyu 50lagell dengan satu spesies siliata. Amuba dan 50lagellate juga telah dilaporkan. Beberapa protozoa berkembang di dalam sel, ada pula yang berada di lumen usus (Greiner, 2013). Parasitisme penyu hijau (Chelonia mydas) oleh coccidia dan kematian terkait pertama kali dilaporkan pada penyu budidaya laut di Karibia selama tahun 1970-an (Stacy et al., 2019).
4.3.4.2 Arthropoda
Sebagian besar arthropoda adalah ektoparasit, tetapi satu jenis yang hidup di dalam tubuh penyu dan itu adalah spesies Chelonacarus elongatus, yang hidup di dinding kloaka penyu hijau (Greiner, 2013). Tak hanya pada penyu dewasa, filum arthropoda diketahui menyerang pada telur dan tukik. Telur adalah salah satu tahap yang paling rentan
dalam siklus hidup penyu. Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai pengaruh adanya larva serangga terhadap telur penyu dan diketahui dua famili diptera (Phoriodae dan Sarcophagidae) paling sering ditemukan menyerang sarang penyu. Diduga bahwa larva ini memakan tukik yang lemah atau sudah mati, namun diketahui larva juga menyerang tukik yang sehat dan mengurangi keberhasilan penetasan setidaknya sebesar 30% (Alfaro et al., 2008).
4.3.4.3 Annelida
Annelida merupakan cacing yang tubuhnya terbagi menjadi segmen. Terdapat empat spesies Annelida yang tercatat terjadi pada penyu, dua di antaranya jenis polychaetes dan dua lintah (kelas hirudinea) yang merupakan penghisap darah dan dapat ditemukan sebagai ektoparasit dari beberapa vertebrata darat atau air.
Annelida telah dilaporkan berasosiasi atau disebutkan sebagai epibion sederhana yang hidup pada penyu dan bukan sebagai parasit nyata. Ozobranchus branchiatus merupakan ektoparasit yang dilaporkan ditemukan pada kulit penyu lekang (Lepidochelys olivacea) di Meksiko (Alfaro et al., 2008).
Gambar 33. Ozobranchus margoi melekat pada tubuh penyu lekang yang sudah mati ditemukan
di Rio Grande do Sul, Brazil.
Sumber:(Rodenbusch et al., 2012).
Seekor penyu dapat membawa lebih dari seratus lintah.
Parasitisme oleh Ozobranchus spp. dapat menyebabkan lesi kulit yang parah, erosi kulit yang dalam, cedera mata dan bahkan kematian inang. Potensi bahaya lain yang terkait dengan Ozobranchus spp. risiko penularan chelonid herpesvirus 5 (ChHV- 5) yang berkaitan dengan penyakit fibropapilomatosis.
(Rodenbusch et al., 2012).
4.3 Predasi oleh kondisi sekitar
Perjalanan hidupnya untuk melakukan nesting atau bertelur penyu mengalami pemasalahan yaitu adanya predasi oleh kondisi diskitarnya, baik dari hewan atau serangga (semut) yang mengerumbuni telur penyu. Hal ini mempengaruhi tingkat keberhasilan penetasan telur penyu yang berada pada sarangnya.
Tukik menghadapi ancaman alami yaitu predator. Rakun, kepiting dan semut menyerang telur dan tukik yang masih berada di dalam sarangnya. Begitu tukik muncul ke permukaan, predator burung, kepiting, babiliarmenjadi ancaman bagi tukik. Pada Pantai Pandan, biawak dan anjing seringkali dijumpai sebagai predator tukik (Turnip et al., 2020).
Setelah mencapai usia dewasa, penyu kerapkali mendapat ancaman ketika di darat maupun di laut. Saat berada di pantai tempat bertelur, penyu betina rentan terhadap beberapa predator seperti, jaguar (Panthera onca) di Amerika dimana telah tercatat membunuh penyu termasuk penyu hijau (Chelonia mydas), lekang (Lepidochelys olivacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Di Suriname, jaguar membunuh setidaknya 82 penyu hijau selama periode sebelas tahun.
Ketika berada di laut, penyu masih mendapat ancaman predasi diantaranya paling banyak hiu macan, biasanya menyerang bagian kaki dayung penyu maupun bagian cangkang. Selain hiu, paus pembunuh diketahui memangsa penyu belimbing (Camp, 2016;
Heithaus et al., 2008).
Kondisi kedalaman sarang berpengaruh terhadap kemunculan tukik yang menetas, sehingga tukik yang baru menetas susah untuk
menjangkau ke permukaan sarang. Tingkat keberhasilan kemunculan cenderung menurun pada setiap tingkatan sarang yang bertambah alam. Diduga, tingkat kemunculan tukik yang rendah disebabkan oleh jarak antara dasar sarang menuju permukaan yang terlalu dalam sehingga energi tukik tidak cukup untuk mencapai permukaan. Hal ini dibuktikan dengan tingginya angka kematian tukik di dalam sarang terutama pada kedalaman 80 cm sebesar 45,55%, yang lebih besar dibandingkan kedalaman lainnya.
4.4 Faktor perburuan oleh manusia
Salah satu faktor permasalahan penyu dari manusia adalah adanya perburuan telur dan daging penyu untuk dikonsumsi dan diperjualbelikan. Seperti pada contoh kasus illegal trade, yang ditemukan penyu di dalam kapal pada perairan Bali dalam kondisi terikat dan mengalami luka pada bagian tubuhnya, bahkan ada yang organ tubuhnya membusuk. Alasan perburuan telur dan daging adalah untuk dikonsumsi manusia pada masanya. Dengan adanya undang-undang, peraturan pemerintah, ataupun hukum internasional mengenai perlindungan satwa dan status penyu oseanik, turut menekan penurunan kasus terhadap jual beli dan pola pengkonsumsian telur dan daging penyu.
Penyu hijau banyak dikonsumsi karena dikenal dengan dagingnya yang tebal. Selain itu, penyu diburu untuk dijadikan cenderamata atau souvenir dari karapas penyu. Hal ini tentu saja bertentangan dengan peraturan yang ada di dunia internasional dan Indonesia pada status keberadaan populasi penyu dan perlindungan terhadap satwa tersebut. Penyu Hijau daging dan telurnya merupakan sumber protein yang digemari sehingga banyak diperjual-belikan di seluruh dunia salah satunya di Bali. Maka dari itu penyu hijau bisa disebut sebagai penyu daging, dan memiliki berat mencapai 400 kg (Pradana et al., 2014).
Perdagangan illegal masih terjadi di Indonesia timur, salah satu kasus perdagangan penyu secara illegal di kabupaten Aru, khususnya dari Aru Bagian Tenggara. Hal ini masih sering terjadi karena lemahnya pengawasan dan proses penegakan hukum
terhadap pelaku penampungan di Dobo, ibu kota Kabupaten Aru (Ambari, 2017).
Gambar 34. Sebanyak 38 ekor penyu gagal diselundupkan oleh nelayan yang dibawa dari Pulau Enu di Bagian Tenggara, Maluku.
Sumber: Ditjen PRL KKP
Perdagangan penyu bahkan merambah secara online melalui pengamatan tiga macam kanal jual-beli. Kebanyakan penyu yang dijual sebagai souvenir. Diketahui pada 2018, dalam satu tahun hampir 16 ribu produk diperdagangkan, lalu pada 2019 jumlah meningkat hampir 9x lipat. Pada 2020, jumlahnya menurun jadi 56 ribu produk akibat dampak pandemi, lalu pada 2021 bertambah lagi menjadi 117 ribu lebih produk. Perdagangan penyu secara online bernilai hampir Rp 47 milyar dan tersebar paling banyak di Sumatera Utara sebanyak 814 postingan, Bali 423 postingan, dan Jawa Tengah 397 postingan (Suriyani, 2021).
Selain indukan dan anakan, telur penyu tidak terlepas dari perdagangan. Diperkirakan dalam satu bulan ada sekitar 100.000 butir telur penyu yang diperdagangkan di seluruh pulau Kalimantan dan berpusat pada tiga kota besar yakni Pontianak, Banjarmasin dan
Samarinda. Telur penyu yang diperdagangkan di kota-kota Kalimantan juga banyak dipasok dari luar Pulau Kalimantan, misalnya: Midai, Serasan, Natuna, Sulawesi Selatan dan Pulau Sembilan. Ironisnya beberapa kawasan yang menjadi pusat pengambilan telur penyu tersebut justru merupakan kawasan perlindungan alam, seperti Kepulauan Sembilan yang statusnya adalah cagar alam (PROFAUNA, n.d.)
Gambar 35. Perdagangan telur penyu ilegal di Kalimantan Sumber: PROFAUNA
4.5 Faktor pencemaran lingkungan dan sampah
Ribuan penyu mati karena makan atau terjerat dalam puing- puing yang tidak dapat terurai setiap tahun, termasuk pita pengepakan, balon, pelet, botol, film vinil, bola tar, dan styrofoam.
Sampah, terutama kantong plastik yang dibuang ke laut dari kapal atau dibuang di dekat pantai dan hanyut ke laut, dimakan oleh penyu dan menjadi makanan yang mematikan. Penyu belimbing khususnya, tidak dapat membedakan antara ubur-ubur terapung – komponen utama makanan mereka – dan kantong plastik terapung (Evans et al., 2010) tersebut.
Banyak sekali kita ketahui berita matinya hewan-hewan laut akibat menelan sampah plastik di lautan. Kasus terakhir terjadi di pulau Bali bahwa terdapat seekor penyu hijau (Chelonia mydas) mati dan ditemukan terdampar di sekitar perairan Serangan, Denpasar.
Hasil pembedahan atau nekropsi menunjukkan pada usus penyu ditemukan benang pancing, plastik, keong kecil, serta sisa makanan (Suriyani, 2020b).
Gambar 36. Gumpalan serat plastik yang ditemukan di dalam pencernaan penyu
Sumber: BPSPL Bali
Beberapa hewan laut termasuk penyu biasanya ditemukan terdampar dan sudah mati, bagi yang beruntung masih hidup akan diselamatkan oleh tim konservasi untuk memulihkan kesehatannya.
Tim Bali Sea Turtle Society menyelamatkan seekor penyu hijau yang terdampar di Pantai Kuta dalam keadaan dehidrasi dan lemas akibat terlalu banyak menelan sampah plastik. Perlu waktu selama 2 minggu bagi penyu hijau dewasa ini untuk mengeluarkan potongan bahkan satu kantong plastik utuh dalam tubuhnya (Suriyani, 2020a).
Selain di Indonesia, telah dilaporkan bahwa penyu hijau yang menghuni pantai Queensland, dan umumnya di Australia, adalah terkena polusi makro dan mikroplastik dan akibat menelan sampah
plastik (Mashkour et al., 2020).
Gambar 37. Penyu Hijau yang mengeluarkan sampah plastik lewat kloakanya
Sumber: Dwi Suprapti
Disamping sampah plastik, sampah alat tangkap nelayan seringkali melukai penyu bahkan membuat penyu terperangkap atau biasanya disebut peristiwa ghost fishing. Penyu kerapkali menjadi bycatch ketika nelayan melakukan pengambilan ikan.
Bycatch merupakan bagian dari hasil tangkapan yang terdiri dari organisme laut yang bukan merupakan target penangkapan utama.
Hewan yang termasuk didalamnya adalah yang mati akibat interaksi dengan alat tangkap, meskipun tidak terangkat dari dalam laut (Fajar et al., 2018). Kerapkali jaring nelayan melilit tubuh penyu dan meninggalkan luka pada tubuh penyu. Luka ini diakibatkan oleh mikroba yang muncul akibat gesekan jaring dan tubuh penyu. Orós et al. (2005) mengungkapkan dalam penelitiannya sebanyak 65 (69.89%) penyu mati karena luka yang terkait dengan aktivitas manusia seperti cedera akibat baling-baling perahu (23.66%), terjerat dalam jaring ikan yang terbengkalai (24.73%), menelan kail dan tali monofilamen (19.35%) dan menelan minyak mentah (2.15%).
Gambar 38. Tungkai belakang Caretta caretta. Mengalami penyakit Dermatitis ulseratif linier dan myositis yang disebabkan
oleh belitan jaring ikan Sumber:(Orós et al., 2005)
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, M. R., Luthfi, O. M., & Barmawi, M. (2020). Kesesuaian Lahan Peneluran Penyu Lekang Lepidochelys olivacea , Eschscholtz , 1829 ( Reptilia : Cheloniidae ) di Pantai Mapak Indah , Nusa
Tenggara Barat. 1829(May).
https://doi.org/10.14710/jmr.v9i2.26125
Alfaro, A., Køie, M., & Buchmann, K. (2008). Synopsis of infections in sea turtles caused by virus , bacteria and parasites : an ecological review. In 27th Annual Symposium on Sea Turtle Biology and Conservation.
Ali, M., & Maslim. (2019). Daya Tetas Telur Penyu Belimbing (Dermochelis Coriacea) Hasil Pemasaran Masyarakat Di Kawasan Pantai Lampuuk Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar. Jurnal Biotik, 1(1), 1–5.
Ambari, M. (2017). Kenapa Perdagangan Penyu Ilegal Masih Terjadi
di Indonesia Timur? Mongabay.
https://www.mongabay.co.id/2017/03/01/kenapa-
perdagangan-penyu-ilegal-masih-terjadi-di-indonesia-timur/
Arthur, K. E., Boyle, M. C., & Limpus, C. J. (2008). Ontogenetic changes in diet and habitat use in green sea turtle ( Chelonia mydas ) life history. MARINE ECOLOGY PROGRESS SERIES, 362(Ccl), 303–
311. https://doi.org/10.3354/meps07440
Ayuningtyas, I., Kushartono, E. W., & Redjeki, S. (2019). Identifikasi Jamur Pada Tukik Lepidochelys olivacea , Eschscholtz , 1829 ( Reptilia : Cheloniidae ) Di Turtle Conservation And Education Center Bali. 8(2), 157–167.
Behera, S. K., Sivakumar, K., Choudhury, B. C., & John, S. (2014). Diet Preference and Prey of Olive Ridley Turtles ( Lepidocheyls olivacea ) along East Coast of India , Odisha. 1(1), 73–82.
Blackburn, N. B., Leandro, A. C., Nahvi, N., Devlin, M. A., Leandro, M., Escobedo, I. M., Peralta, J. M., George, J., Stacy, B. A., Thomas, W., Blangero, J., Keniry, M., & Curran, J. E. (2021). Transcriptomic Profiling of Fibropapillomatosis in Green Sea Turtles ( Chelonia mydas ) From South Texas. 12(February), 1–16.
https://doi.org/10.3389/fimmu.2021.630988
Brandis, R. G. V., Mortimer, J. A., Reilly, B. K., & Branch, G. M. (2014).
Diet Composition of Hawksbill Turtles ( Eretmochelys imbricata ) in the Diet Composition of Hawksbill Turtles ( Eretmochelys imbricata ) in the Republic of Seychelles. Western Indian Ocean J. Mar. Sci, 13(1), 81–91.
Camp, S. T. (2016). Sea Turtle Predators.
https://www.seaturtlecamp.com/sea-turtle-predators/
Dyah, R., Akbarinissa, A., Taufiq-spj, N., & Hartati, R. (2018).
Pengaruh Kedalaman Dan Lokasi Sarang Semi Alami Terhadap Masa Inkubasi Dan Daya Tetas Telur Penyu Hijau ( Chelonia mydas ) Di Pantai Paloh , Kabupaten Sambas , Provinsi Kalimantan Barat. 7(1), 59–68.
Ernst, C. H., & Lovich, J. E. (2009). Turtles of the United States and
Canada. JHU Press.
https://books.google.co.id/books?id=nNOQghYEXZMC&pg=P A50&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false
Estrades, A., Lopez-Mendilaharsu, M., & Fallabrino, A. (2007).
Dermochelys coriácea ( leatherback seaturtle ) diet.
Herpetological Review, 38(3).
Evans, D., Johnson, R., & Godfrey, D. (Eds.). (2010). Sea Turtle Migration-Tracking & Coastal Habitat Education Program An Educator’s Guide (5th ed.). Carribbean Conservation Corporation.
Fadhilah, N., & Sunarto, S. (2018). Perbandingan Karakteristik Lingkungan Peneluran Penyu Dikaji Dari Aspek Geomorfologi Pesisir (Studi Kasus pada Pantai Pelang dan Pantai Kili-kili di Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek). Jurnal Bumi Indonesia, 7(3).
Fajar, S., Kushartono, E. W., & Redjeki, S. (2018). Morfometri Penyu Yang Tertangkap Secara Bycatch Di Perairan Sambas , Kalimantan Barat. 7(2), 125–132.
Greiner, E. C. (2013). 16 Parasites of Marine Turtles (Vol. 14, pp. 447–
466).
Heithaus, M. R., Wirsing, A. J., Thomson, J. A., & Burkholder, D. A.
(2008). A review of lethal and non-lethal effects of predators on
adult marine turtles. 356, 43–51.
https://doi.org/10.1016/j.jembe.2007.12.013
Herrera, C., Tech, Y., Espinoza, B., & Song, B. (2020). The Impact of Temperature-Dependent Sex Determination on the Population Dynamics of Green Sea Turtles ( Chelonia mydas ). February.
https://doi.org/10.21931/RB/2020.05.01.4
Howell, L. N., Shaver, D. J., & Seminoff, J. A. (2021). Foraging Habits of Green Sea Turtles ( Chelonia mydas ) in the Northwestern Gulf of
Mexico. 8(April), 2013–2014.
https://doi.org/10.3389/fmars.2021.658368
Kobayashi, S., Aokura, N., Fujimoto, R., & Mori, K. (2018). Incubation and water temperatures influence the performances of loggerhead sea turtle hatchlings during the dispersal phase.
March, 1–9. https://doi.org/10.1038/s41598-018-30347-3 Krismono, A. S. N., Fitriyanto, A., & Wiadnyana, N. N. (2017). ASPEK
MORFOLOGI, REPRODUKSI, DAN PERILAKU PENYU HIJAU (Chelonia mydas) Di PANTAI PANGUMBAHAN, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT. BAWAL Widya Riset Perikanan
Tangkap, 3(2), 93.
https://doi.org/10.15578/bawal.3.2.2010.93-101
Lohmann, K. J., Lohmann, M. F. C., Brothers, R., & Putman, N. F.
(2013). Imprinting in Sea Turtles. January.
https://doi.org/10.1201/b13895
Mansula, J. G., & Romadhon, A. (2020). ANALISIS KESESUAIAN HABITAT PENELURAN PENYU DI PANTAI SABA ,. 1(1), 8–18.
Márquez, R. M. (1990a). 2 . SYSTEMATIC CATALOGUE 2 . 1 Illustrated key to Families and Genera ( adult stages ). FAO.
Márquez, R. M. (1990b). Sea turtles of the world:An annotated and illustrated catalogue of sea turtle species known to date (Vol. 11, Issue 125). FAO.
Márquez, R. M. (1990c). Sea turtles of the world:An annotated and illustrated catalogue of sea turtle species known to date. FAO.
https://doi.org/10.7591/9781501739545-009
Mashkour, N., Jones, K., Kophamel, S., Hipolito, T., Ahasan, S., Walker, G., Jakob-hoff, R., Whittaker, M., Hamann, M., Bell, I., Elliman, J., Owens, L., Saladin, C., Crespo-picazo, L., Gardner, B., Loganathan, A. L., Bowater, R., Young, E., Id, D. R., … Ariel, E.
(2020). PLOS ONE Disease risk analysis in sea turtles : A baseline study to inform conservation efforts.
https://doi.org/10.1371/journal.pone.0230760
Minarti Harahap, I., Fahrudin, A., & Wardiatno, Y. (2015).
Pengelolaan Kolaboratif Kawasan Konservasi Penyu Pangumbahan Kabupaten Sukabumi (Collaborative Management of Sea Turtle Pangumbahan Marine Protected Area, Sukabumi District). Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), 20(1), 39–46. journal.ipb.ac.id/index.php/JIPI
Mursalin, Budhi, S., & Manurung, T. F. (2017). Karakteristik lokasi peneluran penyu hubungannya dengan struktur dan komposisi vegetasi di pantai sebubus kecamatan paloh kabupaten sambas.
Hutan Lestari, 5, 338–347.
Musick, J. A. (2003). SEA TURTLES (p. 1). FAO.
papers2://publication/uuid/76DEF3E0-9813-4CD2-BDC7- 299BF8852B11
NOAA. (n.d.). Kemp’s Ridley Turtle. Retrieved October 4, 2021, from https://www.fisheries.noaa.gov/species/kemps-ridley-
turtle#:~:text=Kemp’s ridleys are distributed throughout,from Florida to New England.&text=Adult Kemp’s ridleys primarily occupy,their preferred prey are found.
Nuitja, I. W. (1992). Biologi dan Ekologi Pelestarian Penyu Laut. IPB Press.
Nursyam, H., Fajar, M., Qurrota, A., & Arifin, N. B. (2016). Survey of fungus and Parasites content found in ridley Turtles ( Lepidochelys olivacea ) at serang Beach , Blitar regency , East Java. 22(4).
Orós, J., Torrent, A., Calabuig, P., & Déniz, S. (2005). Diseases and causes of mortality among sea turtles stranded in the Canary Islands , Spain ( 1998 – 2001 ). 63, 13–24.
Panjaitan, R. A., Iskandar, & Alisyahbana, S. (2012). HUBUNGAN PERUBAHAN GARIS PANTAI TERHADAP HABITAT BERTELUR PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DI PANTAI PANGUMBAHAN UJUNG GENTENG, KABUPATEN SUKABUMI. Jurnal, 3(3), 311–
320.
Pradana, F. A., Said, S., & Siahaan, S. (2014). HABITAT TEMPAT BERTELUR PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DI KAWASAN TAMAN WISATA ALAM SUNGAI LIKU KABUPATEN SAMBAS KALIMANTAN BARAT. Paper Knowledge . Toward a Media History of Documents, 156–163.
Pritchard, P. C. H., & Mortimer, J. A. (1999). Taxonomy , External Morphology , and Species Identification uctur and T axonomic Char acter F igur. Oceans, 4, 1–18.
PROFAUNA. (n.d.). Perdagangan Ilegal Telur Penyu di Kalimantan.
Retrieved September 30, 2021, from
https://www.profauna.net/id/kampanye- penyu/perdagangan-ilegal-telur-penyu-di- kalimantan#.YVXkcVVBzIU
Ramirez, M. D., Avens, L., Goshe, L. R., Snover, M. L., Cook, M., Heppell, S. S., Shaver, D. J., & Abreu-grobois, F. A. (2020). Regional Variation in Kemp ’ s Ridley Sea Turtle Diet Composition and Its Potential Relationship With Somatic Growth. 7(April), 1–18.
https://doi.org/10.3389/fmars.2020.00253
Rampengan, R. M. (2009). PENGARUH PASANG SURUT PADA PERGERAKAN ARUS PERMUKAAN DI TELUK MANADO Royke M.
Rampengan. V(Pariwono 1989), 15–19.
Robinson, N. J. (2014). Migratory Ecology of Sea Turtles. 167.
Rodenbusch, C. R., Marks, F. S., Canal, C. W., & Reck, J. (2012). Marine leech Ozobranchus margoi parasitizing loggerhead turtle ( Caretta caretta ) in Rio Grande do Sul , Brazil. Rev. Bras.
Parasitol. Vet., Jaboticabal, 21(3), 301–303.
Rupilu, K., Fendjalang, S. N. M., Payer, D., & Sohe, Y. (2019).
PENGARUH STRUKTUR PASIR DAN RONA LINGKUNGAN TERHADAP PENENTUAN LOKASI PENELURAN PENYU DI PULAU METI DAN PULAU PASIR TIMBUL KABUPATEN HALMAHERA UTARA. Seri Ilmu-Ilmu Alam Dan Kesehatan, 3(2), 20–25.
Sadili, D., Adnyana, I. . W., Suprapti, D., Sarmintohadi, Ramli, I., Harfiandri, Rasdiana, H., Sari, R. P., Miasto, Y., Annisa, S., Terry, N., & Monintja, M. P. (2015). Rencana Aksi Nasional Konservasi Penyu Periode 1 (2016-2020). Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Jendeal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Sadili, D., W., A. I. B., Suprapti, D., Sarmintohadi, Harfiandri, Rasdiana, H., Sari, R. P., Miasto, Y., Annisa, S., Terry, M., & Monintja, M. P.
(2015). RAN Konservasi Penyu. Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Direktorat Jendeal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Saleh, S. M., Nishizawa, H., Ishihara, T., Sah, S. A. M., & Chowdhury, A.
J. K. (2018). Importance of Sand Particle Size and Temperature for Nesting Success of Green Importance of Sand Particle Size and Temperature for Nesting Success of Green Turtles in Penang Island , Malaysia. Chelonian Conservation and Biology, 17(1), 116–122. https://doi.org/10.2744/CCB-1266.1
Santoso, H., Hestirianoto, T., & Jaya, I. (2021). Sistem pemantauan suhu dan kelembapan pasir sarang penyu menggunakan Arduino Uno Sand temperature and moisture monitoring system for turtle nests using Arduino. 9(November 2020), 8–14.
https://doi.org/10.14710/jtsiskom.2020.13725
Sari, E., & Diansyah, G. (2018). KARAKTERISASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI PATOGEN PADA LUKA TUKIK PENYU LEKANG ( Lepidochelys olivacea ) di PENANGKARAN PENYU KOTA
PARIAMAN PROVINSI SUMATERA BARAT
CHARACTERIZATION AND IDENTIFICATION OF PATHOGENIC BACTERIA ON HATCHLING HURT OF OLIVE RIDLEY T.
MASPARI, 10(December 2014), 63–72.
Septiana, N. O., & Budiharjo, A. (2019). Karakteristik Habitat Bertelur Penyu Di Pantai Taman Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan , Jawa Timur. 371–378.
Siahaan, V. O., & Tanjung, A. (2020). Habitat Characteristics Nesting Environment of Green Turtle ( Chelonia mydas ) Pandan Island of West Sumatera. 1(1), 1–6.
Stacy, B. A., Chapman, P. A., Stockdale-walden, H., Work, T. M., Dagenais, J., Foley, A. M., Wideroff, M., Jr, J. F. X. W., Childress, A.
L., Manire, C. A., Rodriguez, M., & Zachariah, T. T. (2019).
Caryospora -Like Coccidia Infecting Green Turtles ( Chelonia mydas ): An Emerging Disease With Evidence of Interoceanic
Dissemination. 6(October), 1–12.
https://doi.org/10.3389/fvets.2019.00372
Suastika, P., Adnyana, I. . W., & Suprapti, D. (2012). Profil Seks Rasio Tukik Penyu Hijau (Chelonia mydas L) Pada Penetasan Alami Dan Non-alami Di Pantai Sukamade Kabupaten Banyuwangi.
Buletin Veteriner Udayana, 4(2), 47–53.
Suriyani, L. De. (2020a). Begini Penderitaan Penyu yang Berusaha Mengeluarkan Plastik dari Perutnya. Mongabay.
https://www.mongabay.co.id/2020/03/21/begini- penderitaan-penyu-yang-berusaha-mengeluarkan-plastik- dari-perutnya/
Suriyani, L. De. (2020b). Makin Banyak Penyu Ditemukan Mati di
Sekitar Bali. Mongabay.
https://www.mongabay.co.id/2020/05/24/makin-banyak- penyu-ditemukan-mati-di-sekitar-bali/
Suriyani, L. De. (2021). Ratusan Ribu Produk Perdagangan Penyu dan Turunannya Dijual Di Kanal Jual Beli Online. Mongabay.
https://www.mongabay.co.id/2021/06/04/ratusan-ribu- produk-perdagangan-penyu-dan-turunannya-dijual-di-kanal- jual-beli-online/
Suwelo, I. S., Ramono, W. S., & Somantri, A. (1992). The hawksbill turtle in Indonesia. Oseana, 17(3), 97–109.
http://oseanografi.lipi.go.id/dokumen/oseana_xvii(3)97- 109.pdf
Syaputra, L. I., Mardhia, D., & Syafikri, D. (2020). KARAKTERISTIK HABITAT PENELURAN PENYU DI CALON KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN TAMAN PESISIR LUNYUK DAN TATAR SEPANG. Indonesian Journal of Applied Science and Technology, 1(2), 55–63.
Turnip, M., Nasution, S., & Galib, M. (2020). Analisis Habitat Pantai Peneluran Penyu di Pulau Pandan Sumatera Barat Analysis of Sea Turtle Nesting Area in Pandan Island West Sumatra. 25(3), 172–178.
Vallianos, N. (2014). Sea turtles test the sand before digging. Wildlife Sense. https://wildlifesense.com/en/sea-turtles-test-sand- before-digging/
GLOSARIUM
No Istilah Pengertian
1 Annelida Cacing yang tubuhnya terbagi menjadi segmen
2 Anthozoa Kelas kelas dari anggota hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Cnidaria, meliputi hewan karang dan anemon laut.
3 Antropogenik Pengaruh aktifitas manusia.
4 Arthropoda Filum klasifikasi hewan yang memilik tubuh yang beruas-ruas
5 Bakteri Organisme mikroskopis
uniseluler
6 Bivalvia Kelas dalam filum Moluska yang terdiri dari jenis kerang-kerangan (memiliki dua cangkang)
7 Body pit Merupakan kubangan dari induk penyu ketika hendak bertelur 8 Caruncle Moncong paruh pada tukik
9 Dorsal Punggung/ sisi atas (pada penyu disebut sebagai karapas)
10 Ektoparasit Parasit yang hidup di luar tubuh inangnya.
11 Endangered Terancam
12 Esofagus Saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung
13 Fibropapillomatosis Penyakit yang menyerang penyu, terlihat seperti tumor yang menempel pada beberapa bagian tubuh penyu
14 Flipper Bagian depan berfungsi sebagai alat dayung dan flipper pada bagian belakang befungsi sebagai alat kemudi.
15 Ghost fishing Tertangkapnya beberapa hewan di laut akibat alat tangkap yang hilang maupun terbuang diluar kendali nelayan
16 Habitat Tempat suatu makhluk hidup tinggal dan berkembang biak 17 Illegal Trade Perdagangan bebas, yaitu
perdagangan illegal tanpa adanya surat ijjin berdagang dari pemerintah
18 Imprinting process Proses tukik melakukan pengenalan lingkungan sekitar pantai tempat ia dilahirkan, proses ini dilakukan ketika akan kembali ke laut
19 Infeksi Peradangan