• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyu Biologi Habitat dan Ancaman

N/A
N/A
vika maharani

Academic year: 2024

Membagikan " Penyu Biologi Habitat dan Ancaman"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/373105470

Penyu: Biologi, Habitat & Ancaman

Book · March 2022

CITATIONS

0

READS

1,453

8 authors, including:

Andik Isdianto Brawijaya University 87PUBLICATIONS   139CITATIONS   

SEE PROFILE

Oktiyas Muzaky Luthfi Brawijaya University 166PUBLICATIONS   306CITATIONS   

SEE PROFILE

Muhammad Arif Asadi Brawijaya University 59PUBLICATIONS   199CITATIONS   

SEE PROFILE

Dian Aliviyanti Brawijaya University 19PUBLICATIONS   31CITATIONS   

SEE PROFILE

(2)
(3)

Penyu: Biologi, Habitat

& Ancaman

(4)

Sanksi Pelanggaran Pasal 113

Undang-Undang No. 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta 1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran

hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 100.000.000 (seratus juta rupiah).

2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

3. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

4. Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp 4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).

(5)

Penyu: Biologi, Habitat

& Ancaman

Penulis:

Andik Isdianto Oktiyas Muzaky Luthfi Muhammad Arif Asadi

Dian Aliviyanti Bambang Semedi

Guntur Ghita Arfiani Berlania Mahardika Putri Muchamad Fairuz Haykal

(6)

Penyu: Biologi, Habitat & Ancaman

Penulis / Editor:

Andik Isdianto, Oktiyas Muzaky Luthfi, Muhammad Arif Asadi, Dian Aliviyanti, Bambang Semedi, Guntur, Ghita Afriani, Berlania Mahardika Putri, Muchamad Fairuz Haykal

Perancang Sampul:

Tim UB Media Penata Letak:

Tim UB Media

Pracetak dan Produksi:

Tim UB Media ISBN:

i-xiii+85 hlm, 15.5 cm x 23cm

Di cetak oleh : UB Media

Universitas Brawijaya, Malang

Jl. MT. Haryono No. 169 Malang, Jawa Timur 65145 Telp/Fax: 0341-554357

Hak Cipta dilindungi Undang-undang All Rights Reserved

Hak cipta dilindungi oleh undang undang Dilarang memfotocopy atau memperbanyak sebagian atau seluruh buku ini, tanpa izin tertulis dari

penerbi.

(7)

PENGANTAR PENULIS

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah Yang Maha Penyayang, atas berkat rahmat dan ridho-Nya, Buku Referensi Penyu: Biologi, Habitat dan Ancamannya ini akhirnya dapat hadir di tangan kita. Buku referensi ini diharapkan dapat dijadikan pedoman maupun acuan untuk mempelajari hal yang berkaitan dengan penyu.

Pada buku referensi ini berisi sebanyak empat bab yang membahas tentang jenis penyu, pola kehidupan penyu, habitat dan ancaman terhadap penyu.

Terselesaikannya buku ini tidak lepas dari bantuan dari beberapa pihak, khususnya rekan-rekan dosen program studi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, serta berbagai pihak yang membantu hingga buku ini dapat tersusun dengan baik. Semua bentuk bantuan dan kemudahan serta masukan yang diberikan untuk kelengkapan buku ajar ini sangat berarti bagi penulis.

Tidak ada gading yang tak retak. Penulis menyadari buku ini masih memiliki kekurangan, maka dari itu penulis berharap agar pembaca berkenan memberikan kritik maupun saran. Kritik dan saran yang membangun dapat menyempurnakan buku seperti ini di masa-masa yang akan datang.

Akhir kata, penulis berharap agar buku ini dapat membawa manfaat dan wawasan terhadap pembaca khususnya para pembaca yang tertarik dan ingin memahami segala hal yang berkaitan dengan kehidupan penyu.

Penulis

(8)
(9)

DAFTAR ISI

PENGANTAR PENULIS ………. v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ...xiii

BAB 1 PENYU (SEA TURTLE) ... 1

1.1 Definisi Penyu ... 3

1.1.1 Penyu hijau ... 3

1.1.2 Penyu sisik ... 4

1.1.3 Penyu lekang/abu-abu ... 5

1.1.4 Penyu belimbing ... 6

1.1.5 Penyu pipih ... 7

1.1.6 Penyu tempayan ... 8

1.1.7 Penyu kempi ...10

1.2 Definisi Anakan Penyu (Tukik) ...11

1.3 Klasifikasi dan Bagian Tubuh Penyu ...12

1.4 Morfologi Penyu ...14

1.4.1 Morfologi penyu hijau...14

1.4.2 Morfologi penyu sisik...15

1.4.3 Morfologi penyu lekang/abu-abu ...16

1.4.4 Morfologi penyu belimbing ...17

1.4.5 Morfologi penyu pipih ...18

1.4.6 Morfologi penyu tempayan ...19

1.4.7 Morfologi penyu Kempi ...20

BAB 2 POLA KEHIDUPAN PENYU ...23

2.1 Migrasi...24

(10)

2.2 Makanan Penyu ... 26

2.3 Reproduksi dan Siklus Hidup ... 28

2.3.1 Perkawinan ... 28

2.3.2 Perilaku peneluran ... 29

2.3.3 Inkubasi ... 31

BAB 3 HABITAT PENYU ... 33

3.1 Persebaran penyu ... 34

3.1.1 Penyu hijau ... 35

3.1.2 Penyu sisik ... 35

3.1.3 Penyu lekang/abu-abu ... 36

3.1.4 Penyu belimbing ... 36

3.1.5 Penyu pipih ... 36

3.1.6 Penyu tempayan ... 37

3.1.7 Penyu kempi ... 37

3.2 Geomorfologi pantai ... 37

3.2.1 Suhu ... 38

3.2.2 Kelembaban Pasir ... 39

3.2.2 Pasang Surut ... 40

3.2.3 Panjang dan lebar pantai ... 40

3.2.4 Kemiringan pantai ... 40

3.2.5 Struktur pasir ... 41

3.2.6 Vegetasi pantai ... 42

BAB 4 ANCAMAN... 45

4.1 Perubahan temperatur ... 46

4.2 Perubahan Garis Pantai Terhadap Habitat penyu... 47

4.3 Gangguan kesehatan ... 47

4.3.1 Virus ... 47

(11)

4.3.2 Bakteri ...49

4.3.3 Jamur...49

4.3.4 Parasit...50

4.4 Predasi oleh kondisi sekitar ...52

4.5 Faktor perburuan oleh manusia ...53

4.6 Faktor pencemaran lingkungan dan sampah ...55

DAFTAR PUSTAKA ...59

GLOSARIUM ...67

INDEKS ...75

BIOGRAFI PENULIS ...77

(12)
(13)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Penyu Hijau/ Green sea turtle ... 4

Gambar 2. Penyu Sisik/ Hawksbill ... 5

Gambar 3. Penyu Lekang/abu-abu/ Olive ridley sea turtle ... 6

Gambar 4. Penyu Belimbing/Leatherback sea turtle ... 7

Gambar 5. Penyu pipih/ flatback sea turtle ... 8

Gambar 6. Penyu tempayan /loggerhead sea turtle ... 9

Gambar 7. Penyu Kempi/ Kemp’s ridley ...10

Gambar 8. Tukik yang telah menetas ...11

Gambar 9. Bentuk tukik pada ketujuh jenis penyu yang berbeda 12 Gambar 10. Bagian Tubuh Penyu Sisi Dorsal dan Sisi Ventral ...13

Gambar 11. Dua macam plastron penyu ...13

Gambar 12. Dua macam bentuk bukaan mulut ...14

Gambar 13. Morfologi penyu hijau ...15

Gambar 14. Morfologi penyu sisik ...16

Gambar 15. Morfologi penyu lekang ...17

Gambar 16. Morfologi penyu belimbing ...18

Gambar 17. Morfologi penyu pipih ...19

Gambar 18. Morfologi penyu tempayan ...20

Gambar 19. Morfologi penyu kempi ...21

Gambar 20. Sea Turtle Conservancy ...24

Gambar 21. Lintasan satelit telemetri 6 penyu belimbing...25

Gambar 22. Lintasan satelit telemetri 3 penyu belimbing ...26

Gambar 23. Perkawinan penyu ...29

Gambar 24. Dua posisi penyu bertelur. ...30

Gambar 25. Proses penetasan tukik ...31

Gambar 26. Tukik bergerak menuju laut ...32

Gambar 27. Peta persebaran pantai tempat penyu bertelur ...34

Gambar 28. Pantai Bajulmati...38

Gambar 29. Mengukur kemiringan pantai ...40

Gambar 30. Telur penyu ditemukan dalam pasir pantai ...42

Gambar 31. Fibropapillomatosis ...48

Gambar 32. Gangguan kesehatan. ...50

Gambar 33. Ozobranchus margoi melekat pada tubuh penyu. ...51

(14)

Gambar 34. Sebanyak 38 ekor penyu gagal diselundupkan... 54

Gambar 35. Perdagangan telur penyu ilegal di Kalimantan ... 55

Gambar 36. Gumpalan serat plastik ... 56

Gambar 37. Penyu Hijau yang mengeluarkan sampah plastik ... 57

Gambar 38. Tungkai belakang Caretta caretta ... 58

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Ukuran telur ketujuh jenis penyu. ...31

(16)
(17)

BAB 1

PENYU (SEA TURTLE)

(18)

Keberadaan populasi penyu yang mengalami penurunan, dan termasuk dalam “red list” di IUCN dan APENDIX I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species), yang berarti keberadaannya di alam telah terancam punah. Penurunan populasi ini disebabkan oleh adanya kegiatan perburuan oleh manusia, sehingga keberadaannya mengalami penurunan yang drastis.

Penyu bermigrasi dan mendarat untuk melakukan nesting atau bertelur di habitat alam dan kembali ke perairan laut. Pada dasarnya penyu termasuk dalam reptil laut yang hidupnya berada di laut dan di darat (hanya melakukan pendaratan untuk bertelur).

Perlu diketahui bahwa perjalanan penyu dalam siklus hidupnya memiliki penuh rintangan, baik dari gangguan alam, ataupun ganngguan predator dan ulah manusia untuk dimanfaatkan bagian tubuhnya seperti pemanfaatan bagian tubuh karapas sebagai cinderamata dan dagingnya untuk dikonsumsi pada masanya.

Saat itu penyu rawan tertangkap oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, khususnya penyu hijau yang dikenal dengan penyu daging. Perdagangan ilegal terhadap penyu kerap dilakukan, dan saat tertangkapnya penyu hijau. Sejatinya, penyu bukanlah reptil yang boleh dimanfaatkan untuk dikonsumsi, karena telah ada undang-undang yang mengatur perlindungan terhadap satwa dan perdangan gelap.

Illegal trade sendiri sering terjadi, khususnya rawannya perburuan penyu di perairan Bali pada masanya, penyu yang tertangkap medapatkan perlakuan yang memprihatinkan kerap ditemui saat penyu ditemukan Direktorat Polda Air Bali, serta saat dicek kesadaran oleh tim rescue. Adanya perlakuan yang buruk pada penyu perdagangan illegal ini memperparah kondisi penyu hijau, dari kondisi inilah yang kemudian dilakukan pemulihan yang dititipkan ke balai konservasi dan pendidikan penyu (TCEC), Bali, untuk mendapatkan penanganan yang tepat dalam proses rehabilitasi atau pemulihan. Berdasarkan hal itulah membuat para penulis menyusun buku yang berjudul “Penyu: Biologi, Habitat &

Ancaman’’.

(19)

1.1 Definisi Penyu

Penyu termasuk dalam kelompok vertebrata dalam kelas reptilia yang hidupnya di laut. Penyu sendiri memiliki 6 jenis khusus di perairan tropis indonesia, diantaranya yaitu penyu belimbing, penyu sisik, penyu lekang, penyu tempayan, dan penyu pipih, yang setiap penyu memiliki klasifikasi dan ciri tersendiri. Penyu laut sebagai ikon Indonesia sudah seharusnya menjadi kebanggaan, karena dari 7 penyu di dunia, ditemukan 6 jenis penyu oseanik di Indonesia, 4 diantara 6 penyu tersebut dapat ditemukan di sepanjang pantai indonesia.

Penyu merupakan reptil yang hidup di laut, yang keberadaannya telah lama terancam, baik dari habitat alamnya maupun dari kegiatan manusia. Secara international, penyu termasuk dalam “red list” di IUCN dan apendix I CITES (Convention on International Trade in Endangeres Species), yang berarti bahwa keberadaannya di alam telah terancam punah. Terdapat enam jenis penyu di Indonesia, yaitu penyu belimbing (Dermochelys coriecea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu tempayan (Caretta caretta), dan penyu pipih (Natator depressus) (Harahap et al., 2015).

1.1.1 Penyu hijau

Klasifikasi (Linnaeus, 1758) Kingdom : Animal Filum : Chordata Kelas : Reptilia Ordo : Testudines Sub-ordo : Cryptodir Famili : Cheloniidae Genus : Chelonia Species : Chelonia mydas

Nama latin atau nama ilmiah penyu hijau: (Chelonia mydas) Nama penyu hijau dalam bahasa Inggris: Green sea turtle

(20)

Ukuran: Baik betina maupun jantan ketika sudah dewasa memiliki panjang sekitar 100 hingga 120 cm dengan berat sekitar 150 hingga 200 kg.

Ciri ciri penyu hijau:

Memiliki lemak pada bawah cangkang penyu yang berwarna hijau. Bentuk tengkorak penyu hijau ini bulat dan halus.

Kepalanya memiliki sepasang sisik. Moncongnya pendek dan memiliki paruh kuat yang menutupi tulang rahang. Rahangnya pendek dan bergigi yang digunakan untuk merobek tanaman.

Tubuhnya penyu hijau biasanya berwarna kehitaman, abu-abu maupun kecoklatan (Pradana et al., 2014).

Status konservasi: Terancam (menurun)

Gambar 1. Penyu Hijau/ Green sea turtle (Chelonia mydas) Sumber:(Musick, 2003)

1.1.2 Penyu sisik

Klasifikasi (Eschscholtz, 1829) Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Kelas : Reptilia Subkelas : Anapsida Family : Cheloniidae Genus : Eretmochelys

Spesies : Eretmochelys imbricata

Nama latin atau nama ilmiah Penyu sisik: (Eretmochelys imbricata)

(21)

Nama penyu sisik dalam bahasa Inggris: Hawksbill sea turtle Ukuran: Panjang rata rata penyu sisik ini adalah 87 cm dengan berat rata rata 80 kg.

Ciri ciri penyu sisik:

Kepala penyu sisik memanjang dan meruncing, paruhnya tajam dibanding penyu lainnya. Tungkai terdapat dua cakar yang terlihat pada setiap sirip. Karapas berwarna kuning sawo dengan bercak coklat dan kuning tua. Pada bagian perut (plastron) umumnya berwarna kuning muda (Suwelo et al., 1992).

Status konservasi: Critically Endangered (Terancam punah)

Gambar 2. Penyu Sisik/ Hawksbill (Eretmochelys imbricata) Sumber: (Musick, 2003)

1.1.3 Penyu lekang/abu-abu Klasifikasi (Eschscholtz, 1829)

Kingdom : Animalia Phyllum : Chordata Class : Reptilia Sub class : Anapsida Ordo : Testudinata Family : Cheloniidae Genus : Lepidochelys

Spesies : Lepidochelys olivacea

(22)

Nama latin atau nama ilmiah penyu lekang: (Lepidochelys olivacea)

Nama penyu lekang dalam bahasa inggris: Olive ridley sea turtle dan Pacific ridley sea turtle

Ukuran penyu lekang: panjang rata-rata 60 sampai 70 cm dan termasuk penyu terkecil dari semua jenis jenis penyu yang ada.

Ciri ciri penyu lekang karapasnya berwarna abu abu kehijauan, kadang-kadang muncul kemerahan karena ganggang yang tumbuh di karapasnya. Bentuk kepalanya segitiga dan sangat jelas paruhnya pendek dan melengkung atau cekung.

Status konservasi: Vulnerable (rentan)

Gambar 3. Penyu Lekang/abu-abu/ Olive ridley sea turtle (Lepidochelys olivacea)

Sumber: (Musick, 2003)

1.1.4 Penyu belimbing

Klasifikasi (Vandelli, 1761) Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Kelas : Reptilia Subkelas : Anapsida Ordo : Testudinata

(23)

Famili : Dermochelidae Genus : Dermochelys

Spesies : Dermochelys coriacea

Nama latin atau nama ilmiah penyu belimbing: (Dermochelys coriacea)

Nama penyu belimbing dalam bahasa inggris: Leatherback sea turtle dan lute turtle atau leathery turtle

Ukuran penyu belimbing: penyu belimbing merupakan jenis penyu yang ukurannya paling besar. Berat maksimal hingga 700 kg dengan panjang keseluruhan 305 cm.

Ciri ciri penyu belimbing karapasnya terdapat guratan menonjol seperti buah belimbing, karapasnya tidak ditutupi oleh tulang namun ditutupi oleh kulit dan daging yang berminyak.

Bentuk kepala cenderung kecil, bulat dan tidak terdapat sisik.

Status konservasi: Vulnerable (rentan)

Gambar 4. Penyu Belimbing/Leatherback sea turtle (Dermochelys coriacea) Sumber: (Musick, 2003)

1.1.5 Penyu pipih

Klasifikasi (Garman, 1880) Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Reptilia

(24)

Subkelas : Anapsida Ordo : Testudinata Famili : Cheloniidae Genus : Natator

Spesies : Natator depressus

Nama latin atau nama ilmiah penyu pipih: (Natator depressus) Nama penyu pipih dalam bahasa inggris: Flatback sea turtle Ukuran penyu pipih: Panjang rata rata antara 76 cm hingga 96 cm sedangkan beratnya 70 kg hingga 90 kg.

Ciri ciri penyu pipih: Yang membedakan penyu pipih ini dengan jenis jenis penyu lainya adalah adanya sepasang sisik tunggal yang ada di bagian depan kepala. Tempurung atau cangkang penyu ini lebih pipih bila dibanding dengan jenis penyu lainnya.

Status konservasi: Data Deficient (Data Kurang)

Gambar 5. Penyu pipih/ flatback sea turtle (Natator depressus)

Sumber: WWF Indonesia

1.1.6 Penyu tempayan

Klasifikasi (Linnaeus, 1758) Kingdom : Animalia Filum : Chordata

(25)

Kelas : Reptilia Subkelas : Anapsida Ordo : Testudinata Family : Cheloniidae Genus : Caretta

Spesies : Caretta caretta

Nama latin atau nama ilmiah penyu tempayan: (Caretta caretta) Nama penyu tempayan dalam bahasa inggris: loggerhead sea turtle

Ukuran penyu tempayan memiliki panjang rata rata 90 cm (35 in), sedangkan berat rata ratanya 135 kg (298lb). Meskipun kadang juga ada ukurannya yang lebih besar dengan panjang 280 cm dengan berat 450 kg.

Ciri ciri penyu tempayan: Warna penyu tempayan dewasa coklat kemerahan di bagian dorsal dengan kuning pucat di bagian ventral.

Status konservasi: Vulnerable (rentan)

Gambar 6. Penyu tempayan /loggerhead sea turtle (Caretta caretta)

Sumber: (Musick, 2003)

(26)

1.1.7 Penyukempi

Klasifikasi (Garman, 1880) Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Reptilia Ordo : Testudines Family : Cheloniidae Genus : Lepidochelys

Spesies : Lepidochelys kempii

Nama latin atau nama ilmiah penyu kempi: (Lepidochelys kempii) Nama penyu kempi dalam bahasa inggris: kemp’s ridley

Ukuran penyu kempi ini memiliki panjang rata rata 63,5 cm- 71cm, sedangkan berat rata ratanya 27-40 kg.

Ciri ciri penyu kempi: Merupakan jenis penyu yang paling kecil di dunia apabila dibandingkan jenis penyu yang lainnya. Bentuk kepala berbentuk segitiga dengan paruh yang sedikit bengkok.

Tukik berwarna gelap di sisi atas dan bawah. Penyu kempi dewasa hijau keabu-abuan di atas dengan cangkang bawah pucat kekuningan.

Status konservasi: Critically Endangered (terancam punah)

Gambar 7. Penyu Kempi/ Kemp’s ridley (Lepidochelys kempii) Sumber: (Musick, 2003)

(27)

1.2 Definisi Anakan Penyu (Tukik)

Sebutan penyu sendiri memiliki arti hewan laut yang bertelur di pantai, dan merupakan sebutan untuk kura-kura laut, sedangkan sebutan untuk telur penyu yang telah menetas menjadi anakan penyu disebut dengan tukik. Berikut ini merupakan gambar dari anakan penyu (tukik):

Gambar 8. Tukik yang telah menetas Sumber: Dokumentasi Lapang

Menurut KSDAE (2017), istilah tukik merupakan bayi penyu. Tukik merupakan hasil dari telur indukan yang telah menetas di dalam sarang yang menjadi anakan penyu.

(28)

Gambar 9. Bentuk tukik pada ketujuh jenis penyu yang berbeda Sumber: (Pritchard & Mortimer, 1999)

1.3 Klasifikasi dan Bagian Tubuh Penyu

Adapun bagian dari tubuh penyu dan fungsinya antara lain:

1. Karapas, merupakan cangkang yang ada pada bagian atas punggung penyu. Fungsi dari karapas ini sebagai pelindung penyu.

a. sisik tengah depan/precentral scute b. sisik lateral /lateral scute

c. sisik tengah/ central scute d. sisik pinggir/ marginal scute

e. sisik belakang tengah/ postcentral scute

2. Plastron, merupakan penutup bagian dada dan perut penyu.

3. Infra marginal, merupakan keping penghubung antara bagian pinggir karapaks dengan plastron yang digunakan untuk identifikasi.

(29)

4. Tungkai depan atau kaki renang, yang memiliki fungsi sebagai alat gerak dalam mendayung.

5. Tungkai belakang (pore fliffer), berfungsi sebagai alat penggali.

Berikut ini merupakan gambar dari morfologi penyu:

Gambar 10. Bagian Tubuh Penyu Sisi Dorsal dan Sisi Ventral Sumber: (Musick, 2003)

Gambar 11. Dua macam plastron penyu

(30)

Gambar 12. Dua macam bentuk bukaan mulut pada kedua jenis famili penyu yang berbeda

Sumber:(Márquez, 1990b)

1.4 Morfologi Penyu

Secara umum morfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk luar dari organisme ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan diingat dalam mempelajari organisme. Adapun yang dimaksud dengan bentuk luar organisme ini adalah bentuk tubuh, termasuk di dalamnya warna tubuh yang kelihatan dari luar.

1.4.1 Morfologi penyu hijau

Ciri-ciri tubuh umumnya pipih pada saat dewasa; karapas berbentuk oval. Bentuk kepala kecil dan membulat dengan lebar kira-kira 15 cm; terdapat 1 pasang sisik prefrontal yang memanjang; memiliki empat pasang skala postorbital. Rahang bawah bergerigi. Sisik karapas tipis, halus, dan lentur saat dilepas; terdapat 4 pasang sisik lateral, 5 sisik di tengah, dan biasanya terdapat 12 pasang sisik marginal. Masing-masing tungkai memiliki satu cakar.

Warna sisi atas pucat hingga coklat sangat gelap, bervariasi hingga terkadang ada kombinasi dari warna kuning, coklat, dan kehijauan, membentuk garis-garis, bahkan ada yang

(31)

memiliki bercak-bercak gelap. Bagian bawah atau plastron berwarna putih pada saat menetas, kekuningan pada saat dewasa.

Gambar 13. Morfologi penyu hijau Sumber: (Márquez, 1990c; Musick, 2003)

1.4.2 Morfologi penyu sisik

Panjang karapas dewasa berbentuk cardiform atau elips.

Kepala berukuran sedang, sempit, dengan paruh runcing, terdapat 2 pasang sisik prefrontal dan 3 atau 4 sisik postorbital;

rahang tidak bergerigi, tetapi ujungnya meruncing seperti kail.

Sisik berlapis kuat pada saat dewasa, tetapi ciri khas sisik yang tumpang tindih biasanya tidak dijumpai pada penyu sisik dewasa.

Karapas dengan 5 kosta, 4 pasang lateral (yang pertama tidak menyentuh sisik precentral). Sirip belakang dan depan masing- masing dengan 2 cakar di perbatasan anterior (Musick, 2003).

Warna: polanya bervariasi, sisik kepala dengan tepi berwarna krem atau kuning; punggung karapas dengan warna dasar kuning, dan bintik-bintik atau garis-garis coklat, merah,

(32)

hitam, dan kuning, biasanya diatur dalam pola seperti kipas; di bagian perut, sisik agak tipis dan berwarna kuning (pada penyu sisik muda dengan bintik-bintik coklat di bagian belakang setiap sisik); sisi punggung kepala dan sirip lebih gelap dan kurang bervariasi.

Gambar 14. Morfologi penyu sisik

Sumber: (Márquez, 1990a; Musick, 2003; Pritchard & Mortimer, 1999)

1.4.3 Morfologi penyu lekang/abu-abu

Bentuk karapas penyu lekang dewasa hampir bulat.

Kepala subtriangular, berukuran sedang, dengan 2 pasang sisik prefrontal. Karapas dengan 5 sisik tengah, sisik lateral berjumlah 5 hingga 9 (biasanya 6 hingga 8 pasang sisik). Pasangan sisik pertama selalu berhubungan dengan sisik tengah/precentral.

Serta memiliki 12 pasang sisik tepi. Sirip depan dengan 1 atau 2 cakar terlihat di perbatasan anterior, sirip belakang juga dilengkapi dengan 2 cakar. Pada penyu lekang dewasa sisi atas berwarna abu-abu zaitun dan plastron berwarna kekuningan.

(33)

Pada masa tukik, badan berwarna hitam, punggung abu-abu, dan putih di bagian bawahnya (Evans et al., 2010; Musick, 2003).

Gambar 15. Morfologi penyu lekang

Sumber: (Márquez, 1990b; Musick, 2003; Pritchard & Mortimer, 1999)

1.4.4 Morfologi penyu belimbing

Bentuk kepala penyu belimbing dewasa kecil, bulat, dan tidak bersisik. Paruh lemah tetapi bermata tajam; rahang atas dengan 2 puncak runcing di depan. Tubuh ditutupi dengan sisik pada juvenil kecil, tetapi tidak ada pada juvenil yang lebih besar.

Pada penyu belimbing dewasa, tubuh ditutupi oleh kulit kasar dengan sifat seperti karet. Sirip besar dan berbentuk dayung;

pada penyu dewasa, sirip depan biasanya sama dengan atau melebihi 1/2 panjang karapas; pada tukik, sirip depan sepanjang karapas; sirip belakang dihubungkan oleh membran ke ekor;

cakar mungkin ditemukan hanya ada pada saat fase tukik (Musick, 2003).

Penyu belimbing adalah satu-satunya penyu yang tidak memiliki cangkang keras. Karapasnya memiliki tujuh guratan atau tonjolan yang membentang di sepanjang karapas, yang

(34)

berwarna keputihan hingga hitam dan ditandai dengan 5 guratan.

Tubuh penyu belimbing meruncing di bagian belakang hingga tumpul (Evans et al., 2010).

Gambar 16. Morfologi penyu belimbing Sumber: (Musick, 2003; Pritchard & Mortimer, 1999)

1.4.5 Morfologi penyu pipih

Karapas sangat lebar dan bulat, dengan tepi lateral terbalik; empat pasang sisik kosta; sisik sangat tipis dan dengan tekstur yang lebih lembut daripada kura-kura cheloniid lainnya, dengan jahitan yang sering hilang pada penyu dewasa tua;

panjang karapas melengkung (CCL) sampai sekitar 100 cm.

Bentuk kepala: lebar, datar dan berbentuk segitiga; lebar hingga 13 cm pada penyu dewasa; tiga pasang sisik postorbital; satu pasang sisik prefrontal. Pada tungkainya sisik besar hanya ada di tepi sirip depan, dengan sebagian besar sirip ditutupi oleh kulit keriput atau sisik yang sangat halus; terdapat cakar tunggal pada setiap sirip. Warna penyu pipih hijau zaitun pada bagian dorsal pada tukik dan penyu dewasa sedangkan plastron berwarna kekuning-kuningan (Evans et al., 2010; Pritchard & Mortimer, 1999).

(35)

Gambar 17. Morfologi penyu pipih Sumber:(Márquez, 1990c)

1.4.6 Morfologi penyu tempayan

Karapas pada penyu tempayan dewasa berbentuk hati dalam tampilan punggung. Kepala besar, lebar, dan berbentuk subtriangular, dengan 2 pasang sisik prefrontal, dan umumnya 1 interprefrontal. Paruh tanduknya sangat kuat, lebih tebal dari pada penyu lainnya. Sisik karapas tipis, tetapi keras dan sangat kasar, biasanya ditutupi teritip; terdapat 5 pasang sisik lateral (bagian depan menyentuh sisi sisik precentral), 5 buah tengah (neural), dan umumnya 12 atau 13 pasang sisik marginal. Sirip depan pendek dan tebal, masing-masing dengan 2 cakar yang terlihat di tepi anterior; sirip belakang dilengkapi dengan 2 atau 3 cakar. Warna penyu tempayan dewasa coklat kemerahan di bagian dorsal dengan kuning di bagian ventral; pada tukik tukik coklat tua bagian punggung, dengan sirip coklat pucat sedikit dan di bawahnya, plastron biasanya jauh lebih pucat (Evans et al., 2010; Musick, 2003).

(36)

Gambar 18. Morfologi penyu tempayan Sumber: (Márquez, 1990c; Musick, 2003)

1.4.7 Morfologi penyu Kempi

Karapas pada penyu kempi dewasa hampir bulat. Kepala dengan 2 pasang sisik prefrontal. Karapas dengan 5 bagian tengah, 5 pasang sisi samping, dan 12 pasang sisik tepi. Biasanya hanya 1 cakar yang terlihat di sirip depan, sedangkan pada saat tukik menunjukkan 1 atau 2 cakar di sirip belakang. Warna tubuh penyu kempi dewasa polos abu-abu zaitun di bagian karapas, sedangkan plastron berwarna putih atau kekuningan. Pada saat fase tukik, badan sepenuhnya hitam legam saat basah, tetapi hal ini berubah secara signifikan seiring bertambahnya usia, dan setelah 10 bulan plastron hampir berwarna putih. Ukuran penyu kempi dewasa mencapai 62 cm pada panjang karapasnya dan memiliki berat antara 35 hingga 45 kg (Conservancy, 2010;

Musick, 2003).

(37)

Gambar 19. Morfologi penyu kempi Sumber:(Márquez, 1990c; Musick, 2003)

(38)
(39)

BAB 2

POLA KEHIDUPAN PENYU

(40)

2.1 Migrasi

Bergerak merupakan salah satu karakteristik kehidupan yang paling mendasar bagi makhluk hidup. Salah satu dari beberapa gerakan yang paling mengesankan di dunia hewan adalah yang dilakukan oleh para migran jarak jauh seperti penyu. Penyu dikenal secara rutin berenang dengan jarak lebih dari 10.000 km yang mana kurang lebih setara dengan jarak antara pantai timur dan barat Samudra Pasifik, ketika bermigrasi dari tempat bersarang ke daerah mencari makan (Robinson, 2014). Hal menakjubkan lainnya yaitu penyu betina dewasa mampu kembali untuk bersarang di pantai tempat mereka dilahirkan, atau istilahnya natal homing.

Gambar 20. Sea Turtle Conservancy telah menandai penyu hijau yang bersarang di Tortuguero, Kosta Rika, selama lebih dari tiga dekade.

Tag pemulihan dari berbagai bagian Karibia menunjukkan beberapa tempat di mana penyu ini bermigrasi setelah bersarang

Sumber: (Evans et al., 2010)

Sea Turtle Conservancy telah menandai penyu hijau yang bersarang di Tortuguero, Kosta Rika, selama lebih dari tiga dekade.

Tag dari berbagai bagian Karibia menunjukkan beberapa tempat dimana kura-kura ini bermigrasi setelah bersarang, bahwa mereka bermigrasi ke tempat makan baru. Di area makan utama inilah penyu

(41)

dewasa mungkin tinggal sepanjang hidup mereka, kecuali selama musim kawin. Ketika tiba waktunya untuk kawin dan bersarang, baik jantan maupun betina meninggalkan tempat makan mereka dan bermigrasi ke pantai bersarang. Migrasi berkala ini akan terus berlanjut sepanjang hidup mereka (Evans et al., 2010).

Di Indonesia, dilakukan studi pada 9 ekor penyu belimbing di pantai peneluran Jamursba Medi, Papua dan diketahui penyu tersebut bergerak menuju perairan tropis di Philiphina, Malaysia, Jepang hingga ke perairan hangat Amerika Utara (Sadili et al., 2015).

Gambar 21. Lintasan satelit telemetri 6 penyu belimbing bergerak kearah Utara atau Timur Laut dari Jamursba Medi (tanda bintang).

Lingkaran kecil hitam menunjukkan lokasi bulanan penyu dan lingkaran kosong menunjukkan lokasi transmisi berakhir.

Sumber: (Sadili et al., 2015)

(42)

Gambar 22. Lintasan satelit telemetri 3 penyu belimbing bergerak kearah Barat dari Jamursba Medi (tanda bintang). Lingkaran kecil hitam menunjukkan lokasi bulanan penyu dan lingkaran kosong

menunjukkan lokasi transmisi berakhir.

Sumber: (Sadili et al., 2015)

2.2 Makanan Penyu

Tingkat pertumbuhan somatik penyu sangat bervariasi di diantara spesies dan tahap kehidupan. Berbagai faktor lingkungan dianggap berkontribusi salah satunya jenis dan kualitas makanan (Ramirez et al., 2020). Jenis makanan penyu bervariasi. Penyu bisa jadi karnivora (pemakan daging), herbivora (pemakan tumbuhan), atau omnivora (pemakan daging dan tumbuhan). Struktur rahang banyak spesies menunjukkan jenis makanan mereka. Beberapa jenis penyu seperti penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu kempi (Lepidochelys kempi), tempayan (Caretta caretta) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) utamanya dikenal sebagai karnivora (Behera et al., 2014).

Makanan penyu hijau berubah seiring dengan perkembangannya. Penyu hijau yang masih muda biasanya omnivora, memakan berbagai bahan planktonik termasuk krustasea, ubur-ubur dan ctenophora. Perubahan habitat yang terjadi antara penyu hijau muda dan tahap kehidupan selanjutnya adalah disertai dengan perubahan perilaku makan yang memerlukan pergantian dari makanan omnivora menjadi herbivora dominan, yang terdiri dari makroalga, lamun dan/atau material mangrove (Arthur et al.,

(43)

2008). Di Teluk Meksiko, penyu hijau diketahui banyak memakan lamun jenis Sargassum sp. Namun beberapa dari mereka mengganti alternatif makan mereka dengan lamun jenis Cymodocea sp. dan alga jetty Gelidium spp. (Howell et al., 2021).

Kebiasaan makan dari penyu tempayan yaitu bersifat omnivora meliputi invertebrata terutama jenis astropoda, bivalvia, krustasea jenis dekapoda. Bahkan diketahui penyu ini memakan spons, hidroid, anemon laut, karang dan sea pens, serta cacing polychaeta. Penyu tempayan juga memakan cephalopoda.

Kebanyakan yang dimakan oleh penyu tempayan adalah mangsa yang menetap di dasar laut, namun terkadang ubur-ubur juga menjadi salah satu tangkapannya. Tempat favorit untuk mencari makan dari penyu tempayan dewasa dan muda adalah terumbu karang, pecahan kapal karam dan padang lamun (Ernst & Lovich, 2009).

Penyu belimbing suka memakan invertebrata berukuran planktonik, alga dan vertebrata. Makanan kesukaannya yaitu ubur- ubur (Scyphozoa dan Siphonopora)(Behera et al., 2014). Mangsa dideteksi dengan berbagai cara yaitu melalui bau kimia, serta penglihatan penyu itu sendiri (Ernst & Lovich, 2009). Pada tahun 2005, penyu belimbing betina dewasa ditemukan terdampar dan mati di Pantai San Luis, Uruguay, dan diperiksa isi saluran pencernaannya. Ditemukan sisa-sisa ubur-ubur Lychorhiza lucerna dan tujuh juvenil kepiting laba-laba Libinia spinosa di dalam pencernaan serta ikan lemah/ weakfish Cynoscion guatucupa ditemukan di kerongkongan (Estrades et al., 2007).

Penyu kempi adalah secara umum bersifat karnivora, makanan utamanya yaitu jenis invertebrata (krustasea, gastropoda, bivalvia, dan tunicates) tetapi juga berbagai macam ikan, makroalga, dan lamun (Ramirez et al., 2020). Sebanyak 101 Lepidochelys kempi yang ditemukan mati terdampar di Pantai Texas selatan tahun 1983- 1989 diketahui bahwa makanan utama dari penyu Kempi tidak hanya jenis krustasea, ikan, kerang namun juga ubur-ubur (Behera et al., 2014).

(44)

Penyu sisik mencari makan di berbagai habitat dasar lunak dan keras di seluruh daerah tropis. Demosponges mendominasi makanan mereka di Pasifik dan Atlantik. Penelitian Brandis mengamati pencernaan penyu dan 28amily28us sisik yang sudah mati di Republik Seychelles. Penyu sisik diketahui memakan jenis spons, karang keras, karang lunak, zoanthid, telur dari moluska diduga milik triton. Tumbuhan yang ditemukan yaitu rumput laut (Filum Rhodophyta dan Phaeophyta) genus Eucheuma, Turbinaria dan Hypnea serta lamun filum Magnoliphyta spesies Thallasia hemprichii (Brandis et al., 2014).

Dalam penelitian Behera et al., (2014) terhadap penyu lekang di pantai timur Odisha, sebesar 88,15% persentase makanannya adalah berupa hewan dan 6,09% adalah vegetasi. Mollusca fam.

Muricidae mendominasi, diikuti ikan, arthropoda 28amily Pandalidae, cacing Annelida dimana komposisi ini merupakan makanan penting yang ada pada penyu lekang. Vegetasi yang dijumpai pada pencernaan antara lain jenis algae dan daun mangrove.

2.3 Reproduksi dan Siklus Hidup 2.3.1 Perkawinan

Selama musim kawin, pejantan dapat mendekati betina dengan menyenggol kepalanya atau dengan lembut menggigit bagian belakang leher dan sirip belakangnya. Jika betina tidak melarikan diri, jantan menempelkan dirinya ke bagian belakang cangkang betina dengan mencengkeram cangkang atasnya dengan cakar di sirip depannya. Penyu jantan kemudian melipat ekornya yang panjang di bawah cangkangnya untuk kopulasi.

Perkawinan dapat terjadi baik di permukaan maupun di bawah air. Proses perkawinan ini bisa memakan waktu selama 6 jam (Conservancy, 2010; Sadili et al., 2015).

(45)

Gambar 23. Perkawinan penyu Sumber: (Sadili et al., 2015)

Perilaku peneluran

Hanya penyu betina yang datang ke darat untuk bersarang; jantan jarang kembali ke darat. Sebagian besar betina kembali ke sarang di pantai tempat mereka dilahirkan (natal homing). Musim bersarang terjadi pada waktu yang berbeda di seluruh dunia. Sebagai contoh di Amerika, penyu bersarang terjadi dari bulan April sampai Oktober. Kebanyakan betina bersarang setidaknya dua kali selama setiap musim kawin;

beberapa mungkin bersarang hingga sepuluh kali dalam satu musim. Seekor betina tidak akan bersarang dalam beberapa tahun secara berturut-turut, biasanya ada jeda satu atau dua tahun sebelum kembali (Conservancy, 2010)

Sadili et al., (2015) mengungkapkan bahwa tahapan penyu bertelur yaitu:

(46)

a. Penyu merayap ke pantai dan melakukan observasi untuk memulai peneluran;

b. Menggali lubang untuk tumpuan tubuh atau body pit dilanjutkan menggali lubang untuk tempat bertelur, biasanya memakan waktu hingga 45 menit. Penyu yang bertelur mengubur telurnya pada kedalaman antara 30 dan 80 cm, tergantung pada spesies (Robinson, 2014);

c. Setelah penyu selesai menggali ruang telur, ia mulai bertelur. Dua atau tiga telur keluar sekaligus, dengan lendir yang disekresikan selama bertelur. Biasanya memakan waktu 10-20 menit. Telur penyu berbentuk elips atau bulat berwarna putih dengan tekstur kulit yang kenyal (Krismono et al., 2017).

d. Sarang ditimbun dengan pasir dan membuat penyamaran jejak lokasi peneluran;

e. Penyu kembali ke lautan.

Gambar 24. Dua posisi penyu bertelur yang khas, menunjukkan perbedaan kedalaman lubang tubuh.

Sumber: (Pritchard & Mortimer, 1999)

(47)

Inkubasi

Inkubasi memakan waktu sekitar 60 hari, tetapi karena suhu pasir menentukan kecepatan perkembangan embrio, periode penetasan dapat mencakup rentang yang luas. Pada dasarnya, semakin panas pasir di sekitar sarang, semakin cepat embrio berkembang. Pasir yang lebih dingin cenderung menghasilkan lebih banyak jantan, dengan pasir yang lebih hangat menghasilkan rasio betina yang lebih tinggi (Conservancy, 2010).

Tabel 1. Ukuran telur ketujuh jenis penyu.

Spesies Diameter ukuran telur (mm)

Dermochelys coriacea 51-55

Chelonia mydas 40-46

Natator depressus 50-52 Eretmochelys imbricata 32-36

Caretta caretta 39-43

Lepidochelys kempii 37-41 Lepidochelys olivacea 37-42

Sumber: (Pritchard & Mortimer, 1999)

Pertumbuhan dan perkembangan tukik tergantung pada nutrisi dalam kuning telur yang tersisa dan pencarian makan selanjutnya. Tukik yang tumbuh lebih cepat mengalami periode waktu yang lebih pendek ketika mereka rentan terhadap pemangsaan oleh predator terbatas, dan oleh karena itu tingkat pertumbuhan kemungkinan akan mempengaruhi kelangsungan hidup tukik (Kobayashi et al., 2018).

Gambar 25. Proses penetasan tukik

(48)

Untuk membuka cangkangnya, tukik menggunakan gigi telur sementara yang tajam, yang disebut "caruncle"(Sadili et al., 2015). Penggalian sarang memakan waktu beberapa hari. Tukik biasanya muncul dari sarangnya pada malam hari atau saat hujan badai ketika suhu lebih dingin. Biasanya tukik keluar dari sarang secara berkelompok. Setelah menetas dan keluar dari sarang, tukik mengidentifikasi pantai atau wilayah kelahirannya dengan mengamati topografi pantai, arus, gelombang dan, medan magnet yang disebut sebagai imprinting process. Fungsi dari perilaku ini yaitu sebagai perkenalan karakteristik pantai yang nantinya berguna sebagai petunjuk bagi penyu untuk kembali lagi ke pantai dimana dia dilahirkan (Lohmann et al., 2013). Tukik memanfaatkan cahaya untuk menuntunnya ke laut. Jika mereka tidak segera sampai ke laut, banyak tukik akan mati karena dehidrasi di bawah sinar matahari atau ditangkap oleh pemangsa seperti burung dan kepiting (Evans et al., 2010).

Gambar 26. Tukik bergerak menuju laut Sumber: Dokumentasi Pribadi

(49)

BAB 3

HABITAT PENYU

(50)

3.1 Persebaran penyu

Penyu dapat ditemukan hampir disemua perairan dunia, mereka tersebar di samudera-samudera Atlantik dan Pasifik, Laut Mediterania, Afrika Selatan, Perairan Asia, Tenggara termasuk Indonesia. Terdapat tujuh jenis penyu yang ada di dunia, enam diantaranya berada di Indonesia.

Gambar 27. Peta persebaran pantai tempat penyu bertelur Sumber:(Sadili et al., 2015)

(51)

3.1.1 Penyu hijau

Penyu hijau memanfaatkan lebar pantai yang sempit untuk lokasi penelurannya sebagai cara untuk memudahkan penyu dan mengurangi energi untuk mencapai bagian pantai yang sesuai untuk membuat sarang. Nuitja (1992) menyatakan bahwa penyu cenderung lebih menyukai pantai peneluran yang memiliki lebar pantai yang sempit. Pantai dengan lebar yang sempit biasanya memiliki kemiringan yang tinggi dibanding dengan lebar pantai yang luas sehingga sarang tidak mendapat intrusi air laut. Selain itu, pantai dengan lebar yang sempit memudahkan penyu untuk kembali ke perairan setelah bertelur.

Nuitja (1992) menyatakan bahwa penyu hijau cenderung memilih lokasi sarang dengan susunan tekstur berupa pasir tidak kurang dari 90 % dengan diameter butiran berbentuk halus dan sedang dan sisanya adalah debu dan liat. Berdasarkan penelitian Turnip et al., (2020) yang dilakukan di Pulau Pandan, Sumatera Barat, diketahui bahwa sarang dari penyu hijau memiliki tipe substrat pasir.

3.1.2 Penyu sisik

Penyu sisik biasanya hidup di daerah terumbu karang dan di laut dengan kedalaman tidak terlalu dalam (Suwelo et al., 1992). Persebaran penyu sisik paling banyak dijumpai di perairan tropis. Mereka biasanya ditemukan sekitar terumbu karang pantai, daerah berbatu, muara dan laguna Atlantik tropis dan subtropis, Samudera Pasifik dan Hindia (Evans et al., 2010).

Penyu sisik tersebar di seluruh perairan Indonesia, terutama pantai dengan daerah terumbu karang di pulau-pulau kecil seperti Laut Jawa, Kepulauan Riau, Laut Flores, Selat Makassar, Selat Karimata, Bali (Sadili, et al., 2015). Berdasarkan penelitian Turnip et al., (2020) yang dilakukan di Pulau Pandan, Sumatera Barat, sarang dari penyu sisik memiliki tipe substrat yang beragam yaitu kerikil, pasir berkerikil, dan pasir.

(52)

3.1.3 Penyu lekang/abu-abu

Penyu lekang hidup di daerah tropis Samudera Pasifik, Hindia dan Atlantik. Mereka biasanya mencari makan di lepas pantai di perairan permukaan atau menyelam hingga kedalaman 500 kaki (150m) untuk mencari makan di bagian dasar substrat, yaitu krustasea. Penyu lekang ditemukan di perairan Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Papua. Pantai yang disukai penyu lekang yaitu pantai daratan tropis dan pulau penghalang, sering kali di dekat muara sungai (Pritchard & Mortimer, 1999).

3.1.4 Penyu belimbing

Persebaran penyu belimbing di Indonesia meliputi Sumatera bagian barat, selatan jawa, perairan Laut Cina Selatan, perairan kawasan kepala burung Papua dan perairan Maluku (Sadili et al., 2015). Penyu belimbing menyukai daratan supra litoral dan pantai dengan kawasan yang berpasir dan tidak terlalu landai untuk bertelur. Hal ini dikarenakan untuk mempermudah gerak penyu belimbing yang memiliki tubuh berat dan besar, sehingga tidak perlu berjalan terlalu jauh untuk bertelur (Ali &

Maslim, 2019). Tipe pantai yang disukai penyu belimbing adalah pantai tropis yang luas dan panjang dengan kemiringan yang curam, pasir yang dalam dan tidak terdapat batu (Pritchard &

Mortimer, 1999).

3.1.5 Penyu pipih

Penyu pipih memiliki jangkauan paling terbatas dari semua spesies penyu. Jangkauan mereka terbatas ke perairan pesisir barat laut, utara dan wilayah timur laut Australia. Mereka lebih menyukai perairan pantai dan teluk yang keruh (Conservancy). Persebaran penyu pipih di Indonesia meliputi Perairan Nusa Tenggara Timur atau Maluku yang berbatasan dengan perairan Australia bagian utara (Sadili et al., 2015). Penyu pipih menyukai tipe pantai terbuka yang cukup besar, di daratan atau pulau-pulau besar; dan terhindar dari area terumbu karang (Pritchard & Mortimer, 1999).

(53)

3.1.6 Penyu tempayan

Penyu tempayan dapat ditemukan di daerah beriklim sedang dan subtropis perairan di sebagian besar dunia. Penyu dewasa biasanya tetap berada di dekat ke daratan pantai. Mereka lebih suka mencari makan di teluk pesisir dan muara, serta di perairan dangkal di sepanjang landas kontinen Samudra Atlantik, Pasifik, dan Hindia. Penyu tempayan menghuni rentang yang sangat besar dari utara ke Selatan (Conservancy, 2010)

Persebaran penyu tempayan di Indonesia meliputi perairan Taman Nasional Komodo, perairan Taka Bonerate, Kepulauan Banggal dan perairan Nusa Tenggara Barat (Sadili et al., 2015). Tipe pantai yang disukai penyu tempayan umumnya pantai daratan yang luas dan terdapat pulau-pulau penghalang;

serta profil pantai yang agak curam (Pritchard & Mortimer, 1999).

3.1.7 Penyu kempi

Penyu kempi tidak dapat dijumpai di Indonesia. Penyu kempi tersebar di seluruh Teluk Meksiko dan pesisir Atlantik AS, dari Florida ke New England. Beberapa catatan penyu kempi dijumpai di perairan Maroko, dan di dalam Laut Mediterania serta kadang-kadang ditemukan di daerah lain di sekitar Cekungan Atlantik. Penyu kempi dewasa utamanya menempati habitat pesisir dekat pantai (neritik) di Teluk Meksiko yang mencakup dasar berlumpur atau berpasir di mana mangsa pilihan mereka ditemukan (NOAA, n.d.). Tipe pantai yang disukai oleh penyu kempi yaitu pantai yang luas, dengan vegetasi gundukan semak belukar di daratan pantai dan terdapat pulau penghalang (Pritchard & Mortimer, 1999).

3.2 Geomorfologi pantai

Penyu bersifat hidup di dua alam, yaitu di laut dan di darat untuk penyu betina yang mendarat ke pantai terdekat dengan tujuan bertelur. Sedangkan untuk penyu jantan mereka melakukan pendaratan untuk sekedar berjemur. Semua jenis penyu, termasuk yang hidup di perairan Indonesia, memiliki daerah peneluran yang

(54)

kemiringan pantai, pasang surut, suhu, dan vegetasi disekitarnya.

Gambar 28. Pantai Bajulmati, salah satu habitat pendaratan penyu lekang/abu-abu

Sumber: Dokumentasi Pribadi

Penyu sendiri memiliki sifat amfibi, yakni hidup di dua alam/habitat (air dan darat). Penyu biasanya hidup di perairan laut dangkal, tetapi mereka juga muncul ke pesisir pantai untuk penjemuran diri atau penyu betina naik ke daratan untuk menggali sarang dan bertelur. Laut yang dihuni oleh penyu memiliki karakteristik tertentu, yaitu di perairan-perairan karang, pantai yang landai dan luas, atau perairan yang bersuhu sedang dan dingin (Nuitja, 1992).

3.2.1 Suhu

Suhu dapat mempengaruhi masa inkubasi penyu yang didefinisikan sebagai periode perkembangan embrio tukik sejak telur dikeluarkan di pasir sampai tukik menetas dan keluar dari dalam sarang. Suhu pasir selama inkubasi harus berkisar 26-31ºC (Dyah et al., 2018). Suhu juga berperan dalam penentuan jenis kelamin tukik, terutama pada pertengahan trimester. Herrera et al., (2020) mengemukakan jika suhu sarang dalam periode termosensitif yaitu 29,4oC, yang dikenal sebagai suhu pivotal (suhu penting), maka dapat terjadi pemerataan tukik jantan dan betina. Sedangkan apabila suhu rata-rata berada di atas suhu penting, maka populasi jenis kelamin tukik sebagian besar betina,

(55)

dan kurang dari itu sebagian besar akan menghasilkan populasi jantan.

Tidak hanya menentukan jenis kelamin, suhu juga diketahui mempengaruhi biologis dan tingkah laku penyu.

Penelitian Kobayashi et al., (2018) melakukan perbandingan tukik penyu tempayan berada pada inkubasi suhu yang berbeda yaitu suhu hangat dan dingin. Tukik yang berasal dari suhu inkubasi hangat (31°C) memiliki masa inkubasi yang jauh lebih pendek, performa renang awal yang lebih tinggi namun performa renang berkelanjutan yang lebih rendah, dan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah selama tiga minggu pertama pasca penetasan, serta konsentrasi glukosa darah yang lebih tinggi, dibandingkan dari tukik hasil dari suhu inkubasi dingin (27,5 °C). Dapat disimpulkan bahwa tukik dalam suhu air hangat (30 °C) menunjukkan performa renang yang jauh lebih baik daripada tukik yang berada di suhu air dingin (27 °C). Perubahan suhu inkubasi secara tidak langsung memengaruhi kelangsungan hidup tukik tempayan dengan memodifikasi gerakan renang dan tingkat pertumbuhan, yang dapat mempengaruhi kemampuan menghindari predator.

3.2.2 Kelembaban Pasir

Kelembaban berperan penting dalam masa inkubasi penyu. Penyu umumnya menyukai pasir dengan kelembaban rendah dan cenderung kering. Kelembapan pasir yang optimal untuk penetasan adalah 25%, yang artinya 25% ruang antara butiran pasir diisi oleh air dan sisanya diisi oleh udara. Tingkat kelembapan ini cukup untuk menjaga suhu sarang agar tidak terlalu panas di siang hari atau terlalu dingin di malam hari tanpa menghalangi pertukaran gas, sehingga telur dan embrio bisa bernafas saat masa inkubasi (Santoso et al., 2021; Vallianos, 2014). Syaputra et al., (2020) menyatakan semakin tinggi kelembaban (>40%) telur akan membusuk akibat jamur dan bakteri yang mengganggu perkembangan, dan jika kurang (<20

%) maka telur mengalami kekeriputan. Kelembaban terlalu tinggi dapat menyebabkan pembusukan pada telur penyu akibat

(56)

pertumbuhan jamur dan bakteri sehingga mengganggu proses perkembangan. Selain itu kelembaban juga berkaitan dengan perubahan suhu di dalam sarang penyu (Dyah et al., 2018).

3.2.3 Pasang Surut

Pola pasang surut setiap bulan berada pada kisaran yang sama sehingga pasang surut tidak menyebabkan kecenderungan penyu untuk memilih bulan tertentu untuk bertelur namun memengaruhi pemilihan waktu memijah dalam sebulan.

Rampengan (2009), menyatakan bahwa pasang surut memengaruhi arus, hal ini yang menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap proses naiknya penyu untuk bertelur atau nesting.

3.2.4 Panjang dan lebar pantai

Masing-masing jenis penyu umumnya memiliki memiliki kekhasan dalam pemilihan habitatnya. Umumnya tempat pilihan penyu merupakan pantai yang luas, fungsinya sebagai observasi predator (Mansula & Romadhon, 2020).Nuitja (1992) memaparkan bahwa lebar pantai yang sesuai untuk habitat penyu memiliki jarak 30-80 meter dari pasang terjauh. Semakin lebar pantai, akan memberikan rasa aman bagi penyu untuk bertelur (Fadhilah & Sunarto, 2018).

3.2.5 Kemiringan pantai

Kemiringan pantai yang disukai penyu yaitu pantai yang landai karena dapat mempermudah penyu mencapai akses untuk bertelur. Kemiringan pantai harus di bawah 30o (Panjaitan et al., 2012).

Gambar 29. Mengukur kemiringan pantai Sumber:(Mursalin et al., 2017)

(57)

Mursalin et al (2017) menyatakan bahwa kemiringan pantai dapat diukur menggunakan rumus:

𝑇𝑎𝑛 (α) =𝑎

𝑏...Rumus (1) atau

𝐾𝑒𝑚𝑖𝑟𝑖𝑛𝑔𝑎𝑛 (%) =𝑎

𝑏× 100%...Rumus (2) Keterangan:

α / (%) = Sudut yang dibentuk (°) / (%)

a/y = Jarak antara garis tegak lurus yang dibentuk oleh kayu horizontal dengan permukaan pasir di bawahnya.

b/x = Panjang kayu.

Tempat inkubasi dengan kemiringan yang ideal menentukan beberapa hal seperti dapat meningkatkan peluang keberhasilan kemunculan tukik serta mencegah adanya intrusi air laut. Pantai dengan kemiringan yang landai memiliki intrusi air laut yang cukup jauh, hal ini untuk menghindari masuknya air laut dalam sarang sehingga dapat menambah kelembaban sarang.

Apabila kelembaban tinggi, jamur dan bakteri dapat tumbuh dalam sarang dan memicu pembusukan telur (Siahaan & Tanjung, 2020).

3.2.6 Struktur pasir

Struktur dan komposisi pasir dapat membantu tukik mengenali kondisi lingkungan dimana dia menetas. Zona supratidal berpasir halus atau kasar umumnya menjadi tempat pilihan penyu untuk bertelur (Sadili et al., 2015). Meskipun demikian, pasir yang sangat halus akan mempersulit penyu dalam menggali telur karena mudah longsor sedangkan pasir yang sangat kasar dapat melukai tubuh penyu, sehingga pada umumnya penyu menyukai substrat pasir sedang (Mansula &

Romadhon, 2020). Kondisi pasir yang sesuai untuk sarang penyu termasuk dalam kategori pasir sedang dengan diameter butiran 0,21-0,50 mm (Fadhilah & Sunarto, 2018).

(58)

Gambar 30.

Telur penyu ditemukan dalam pasir pantai Sumber: (Vallianos, 2014)

Perbedaan pengaruh ukuran partikel pasir pada keberhasilan bersarang penyu dapat disebabkan oleh perbedaan regional asal pantai maupun iklim. Perbedaan asal pantai dapat mengakibatkan perbedaan bentuk dan tekstur partikel pasir yang mempengaruhi pengeringan pasir, kepadatan pasir, dan pertukaran air dan gas dalam telur penyu. Tekstur pasir dan kandungan organik diketahui menjadi faktor yang menentukan keberhasilan bersarang pada penyu, salah satunya pada penyu tempayan (Saleh et al., 2018).

3.2.7 Vegetasi pantai

Mansula & Romadhon (2020), menyatakan bahwa vegetasi merupakan tumbuhan yang seringkali ditemukan didaerah intertidal atau pasang surut. Jenis vegetasi pantai berupa tumbuhan pioner atau tumbuhan perintis yang mengisi lahan kosong, umumnya ditemukan di sepanjang lokasi peneluran penyu. Vegetasi pantai merupakan salah satu faktor penting untuk penyu dalam melakukan peneluran. Beberapa fungsi dari vegetasi adalah untuk melindungi penyu bersembunyi dari predator, mengatur suhu sekitar pantai agar tetap stabil, serta menjaga kestabilan substrat (Akbar et al., 2020; Mansula &

Romadhon, 2020). Namun ternyata tidak semua penyu memilih pantai dengan vetegasi, salah satunya penyu lekang cenderung

(59)

memilih bertelur pada lahan yang terbuka (Fadhilah & Sunarto, 2018).

Ketika penyu melakukan peneluran, biasanya berada pada hutan pantai yang didukung oleh naungan vegetasi yang didominasi oleh pandan (Pandanus tectorius). Meskipun demikian, setiap pantai memiliki dominasi vegetasi yang berbeda-beda. Penelitian yang dilakukan oleh Turnip et al. (2020) di Pulau Pandan, Sumatera Barat menyatakan didominasi oleh vegetasi ketapang (Terminalia catappa). Kawasan Pantai Sebubus, Kabupaten Sambas, vegetasi yang mendominasi adalah jenis ubah (Eugenia sp.) (Mursalin et al., 2017). Kawasan Pantai Taman Kabupaten Pacitan, Jawa Timur banyak ditumbuhi oleh 3 jenis vegetasi yaitu tapak kuda (Ipomoea pes-caprae), pandan laut (Pandanus tectorius), dan cemara laut (Casuarina equisetifolia)(Septiana & Budiharjo, 2019).

(60)
(61)

BAB 4

ANCAMAN

(62)

Dalam perjalanan hidupnya, penyu mengalami berbagai rintangan yang terjadi baik dari faktor alam, predasi, ataupun faktor antropogenik (manusia). Faktor alam yang menjadi permasalahan dapat berupa kenaikan temperatur, dan perubahan garis pantai, kemudian dari faktor predasi adalah predator (pemangsa) hewan sekitar pemangsa telur penyu, dan dari faktor manusia yaitu perburuan telur, pengkonsumsian daging penyu melalui illegal trade. Hal tersebut merupakan faktor alasan penurunan populasi penyu bahkan terancam punah. Berikut ini akan dibahas dari beberapa faktor diatas mengenai permasalahan penyu:

4.1 Perubahan temperatur

Faktor alam yang pertama adalah temperatur, perubahaan temperatur yang dapat mempengaruhi determinasi sex rasio dari tukik penyu hijau saat inkubasi di dalam pasir. Jika temperatur pada sarang penetasan tinggi, maka sex rasionya akan mengalami kecenderungan tukik menjadi betina. Berbeda halnya jika temperatur cukup rendah maka tukik yang dihasilkan adalah jantan, sehingga temperatur memiliki peranan penting dalam penentuan sex rasio dari tukik.

Menurut sebuah jurnal penelitian Suastika et al., (2012), menyatakan bahwa rasio jenis kelamin pada penetasan alami:

penetasan non-alami untuk tukik jantan ( 0 : 13 ) dan untuk tukik betina ( 8 : 0 ). Rata-rata suhu yang ditujukkan pada data logger sarang alami adalah 31,79 oC dan non-alami adalah 27,30 oC.

Adapun penelitian yang dilakukan Turnip et al., (2020) menyatakan bahwa suhu yang diperlukan agar pertumbuhan embrio penyu berjalan dengan baik antara 24 – 33°C. Sedangkan suhu penetasan dibawah 29°C mempengaruhi sebagian besar jenis kelamin tukik menjadi jantan, sebaliknya bila suhu diatas 29°C, maka sebagian besar tukik yang menetas adalah betina. Peristiwa ini menjadi catatan bagi lembaga konservasi untuk lebih memperhatikan suhu yang digunakan dalam penangkaran buatan untuk penyu.

(63)

4.2 Perubahan Garis Pantai Terhadap Habitat penyu

Perubahan garis pantai disebabkan oleh hempasan gelombang yang terjadi secara terus-menerus sehingga daratan terkena abrasi.

Perubahan yang terjadi di setiap wilayah pun berbeda-beda. Profil kondisi disesuaikan dengan faktor hidrooseanografi. Selain itu hal yang mempengaruhi pendaratan penyu adalah lebar dan kemiringan pantai yang harus sesuai. Hal ini menjadi salah satu ancaman bagi habitat penyu bertelur.

Penelitian yang dilakukan oleh Panjaitan et al. (2012), menyatakan bahwa Pantai Pangumbahan yang merupakan tempat bertelur penyu hijau, mengalami abrasi sebesar 80,91% dari panjang total. Adapun kriteria habitat bertelur penyu selama 21 tahun (1989-2010) mengalami penurunan sebesar 28% sehingga tidak cocok digunakan sebagai habitat bertelur penyu hijau.

Penelitian yang dilakukan oleh (Rupilu et al., 2019), menyatakan bahwa perubahan garis pantai dapat memengaruhi kemiringan pantai. Perubahan sudut kemiringan pantai yang besar diakibatkan hantaman gelombang pada bagian pulau yang berhadapan langsung dengan laut lepas. Besarnya kemiringan pantai yang terbentuk secara alami menjadi penghambat penyu untuk mencapai zona pasang tertinggi atas untuk bertelur.

4.3 Gangguan kesehatan 4.3.1 Virus

Virus dapat menyebabkan seluler kerusakan yang memungkinkan patogen lain (terutama bakteri dan jamur) untuk menyerang jaringan yang tidak sehat pada penyu. Salah satu penyakit yang diakibatkan oleh virus yaitu fibropapillomatosis.

Fibropapillomatosis penyu (FP) adalah penyakit tumor yang merupakan salah satu dari beberapa ancaman global terhadap populasi penyu yang terancam punah. Fibropapillomatosis merupakan prevalensi penyakit tertinggi pada populasi penyu hijau (Chelonia mydas), dan secara historis telah menunjukkan pertumbuhan temporal yang cukup besar. Saat ini,

(64)

fibropapillomatosis penyu hijau mungkin merupakan penyakit menular yang paling banyak dipelajari pada reptil ini.

Tumor dapat secara signifikan mempengaruhi kemampuan penyu untuk mencari makan dan menghindari predasi dan dapat tumbuh hingga ukuran yang dapat melemahkan biologis penyu yang terinfeksi penyakit ini (Blackburn et al., 2021). Tumor fibropapilloma paling sering terlihat pada sirip depan dan leher, jaringan periokular, plastron, karapas, dan kornea (kadang-kadang) dan di paru-paru, hati, ginjal, dan saluran pencernaan (Alfaro et al., 2008).

Fibropapillomatosis mempengaruhi beberapa populasi dalam skala epidemi di seluruh dunia. Hasil observasi melaporkan bahwa penyakit ini ditemukan di Florida, Hawaii, Puerto Rico, Barbados, Virgin Islands, Panama, Colombia, Venezuela, Belize, Australia, dan Indonesia (Orós et al., 2005).

Gambar 31. Fibropapillomatosis menginfeksi penyu hijau muda (Chelonia mydas) yang menjalani rehabilitasi di Sea Turtle Inc., South

Padre Island, Texas, USA Sumber: (Blackburn et al., 2021)

(65)

4.3.2 Bakteri

Sebagian besar spesies bakteri pada penyu merupakan patogen oportunistik (berpotensi pathogen). Bakteri yang paling umum yang menginfeksi penyu adalah Escherichia coli, Aeromonas, Enterobacter sp., Proteus morganii, Salmonella, Citrobacter, Serratia sp., Pseudomonas, Plavobacterium, Horaxella, Micrococcus, dan Vibrio alginolyticus. Bakteri tersebut ditemukan di tanah, air, udara, dan saluran pencernaan manusia dan hewan (Nursyam et al., 2016). Mashkour et al., (2020) menambahkan bakteri Vibrio spp. Pseudomonas spp., Enterococcus spp., Aeromonas, Cytophaga freundii, Escherichia. coli, Edwarsiella spp., Proteus spp., Lactococcus garviae, dan Providencia telah tercatat pada penyu yang sakit sebagai patogen primer potensial atau bakteri oportunistik.

Bakteri bisa muncul akibat dari luka di tubuh penyu.

Penelitian Sari & Diansyah (2018) menemukan bakteri bersifat patogen yaitu Pseudomonas sp.; Bacillus sp.; dan Proteus sp.; pada luka tukik penyu lekang berusia satu sampai tiga bulan.

Karakteristik dari bakteri yang diamati umumnya berbentuk basil.

4.3.3 Jamur

Jamur diketahui menjadi salah satu akibat menurunnya populasi penyu di dunia. Jamur biasanya muncul dalam keadaan lembab, salah satunya terjadi didalam sarang dengan kelembaban yang tinggi akibat intrusi air laut. Jamur yang bersifat pathogen dan antagonis menyebabkan penyakit dan mengganggu fungsi sel di dalam telur, sehingga menghambat perkembangan telur bahkan hingga mengalami pembusukan (Ayuningtyas et al., 2019).

Penyu dewasa maupun tukik tak terkecuali terinfeksi oleh jamur. Gejala infeksi bermacam-macam tergantung jenis jamur dan bagian tubuh yang terinfeksi, namun biasanya tanda-tanda yang ditunjukkan adalah: a). luka putih pada mata biasanya karena infeksi Fusarium sp; B). selaput mata kemerahan dan

(66)

kehilangan nafsu makan; e). gerakan terbatas dan f). lemas (Nursyam et al., 2016).

Gambar 32. Gangguan kesehatan pada telur dan penyu.

(A)Sampel cangkang telur melunak dan mengempis; (B)Penyu yang diselimuti oleh teritip.

Sumber:(Ayuningtyas et al., 2019; Sadili et al., 2015)

4.3.4 Parasit

Fauna parasit penyu sangat beragam dan beragam.

Beberapa diantaranya termasuk cacing, protozoa, dan arthropoda.

4.3.4.1 Protozoa

Dua spesies coccidian telah dinamai dari penyu 50lagell dengan satu spesies siliata. Amuba dan 50lagellate juga telah dilaporkan. Beberapa protozoa berkembang di dalam sel, ada pula yang berada di lumen usus (Greiner, 2013). Parasitisme penyu hijau (Chelonia mydas) oleh coccidia dan kematian terkait pertama kali dilaporkan pada penyu budidaya laut di Karibia selama tahun 1970-an (Stacy et al., 2019).

4.3.4.2 Arthropoda

Sebagian besar arthropoda adalah ektoparasit, tetapi satu jenis yang hidup di dalam tubuh penyu dan itu adalah spesies Chelonacarus elongatus, yang hidup di dinding kloaka penyu hijau (Greiner, 2013). Tak hanya pada penyu dewasa, filum arthropoda diketahui menyerang pada telur dan tukik. Telur adalah salah satu tahap yang paling rentan

Gambar

Gambar 3. Penyu Lekang/abu-abu/ Olive ridley sea turtle  (Lepidochelys olivacea)
Gambar 4. Penyu Belimbing/Leatherback sea turtle  (Dermochelys coriacea)  Sumber: (Musick, 2003)
Gambar 7.  Penyu Kempi/ Kemp’s ridley (Lepidochelys kempii) Sumber: (Musick, 2003)
Gambar 8. Tukik yang telah menetas Sumber:  Dokumentasi Lapang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah mengkaji perubahan ukuran populasi penyu hijau, produksi telur penyu hijau, jumlah tukik yang dilepas, dan parameter yang dapat menjadi

Penyu laut umumnya memilih daerah untuk bertelur pada dataran yang luas dan landai yang terletak di atas bagian pantai dengan rata-rata kemiringan 30 derajat serta di atas pasang

4 Penyu lekang (Lepidochelys olivacea) - Ciri fisik : ukuran tubuh 55-80cm, berat 40-60kg, warna kehijauan- Habitat : Laut Tropik dalam dan akan kembali

“ Karakteristik Habitat Bertelur Penyu di Pantai Taman Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan Jawa Timur ” dengan lancar sebagai salah satu syarat memperoleh

Adapun teknik pengelolaan konservasi penyu yang disampaikan pada buku ini meliputi teknis pemantauan penyu bertelur dan penetasan telur secara alami, teknis

Gambar Peneluran dan Penetasan Telur Penyu Abu-abu Gambar Keterangan Sumuran sarang semi alami Ukuran telur penyu abu-abu (L. olivacea).. Tukik penyu

Dari penelitian Rambe (2011) mendapati bahwa penyu yang naik untuk bertelur di pulau penyu sebanyak 5 ekor terutama jenis Penyu Hijau namun hasil penelitian

Tujuan penelitian ini memetakan kawasan habitat penyu meliputi ; lokasi tempat bertelur dan daerah pakan penyu serta menyusun peta arahan zonasi perlindungan,