• Tidak ada hasil yang ditemukan

PASAL DEMI PASAL Pasal 1

BAB XIV PENYIDIKAN

II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1

berfungsi sebagai wadah untuk memperjuangkan kepentingan dan bertindak sebagai pembawa aspirasi Koperasi, berupa dewan koperasi.

Ketentuan mengenai pembubaran Koperasi menyatakan bahwa pembubaran Koperasi dapat dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Anggota, jangka waktu berdirinya telah berakhir, atau keputusan Menteri.

Ketentuan tentang ketiga alternatif tersebut beserta penyelesaiannya diatur di dalam Undang-Undang ini.

Sehubungan dengan itu Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian sebagai dasar pengembangan koperasi di Indonesia perlu diperbaharui. Pembaharuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, tidak hanya yang terkait dengan jati-diri koperasi, tetapi juga mengenai orientasi pengembangan kegiatan usaha dan pengelolaannya, peran pemerintah, serta berbagai hal yang secara substansial layak dijadikan sebagai payung hukum dalam pengembangan koperasi di Indonesia.

II. PASAL DEMI PASAL

nasional. Untuk mewujudkan koperasi sebagai sokoguru maka koperasi harus diperankan dalam berbagai sektor usaha.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

Pasal 6

Cukup jelas.

Pasal 7

Cukup jelas.

Pasal 8

Cukup jelas.

Pasal 9

Cukup jelas.

Pasal 10

Yang dimaksud fungsi subsidiaritas adalah kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dilakukan oleh anggota-anggota koperasi primer secara sendiri-sendiri wajib dilakukan oleh koperasi sekundernya dan kegiatan yang sudah dilakukan oleh primer anggotanya tidak boleh dilakukan oleh koperasi sekundernya. Kekuatan fungsi subsidiaritas untuk memperkuat jaringan integrasi vertikal.

Pasal 11 Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Ketentuan ini berlaku dalam hal calon anggota pada saat pendirian koperasi primer kurang dari 25 (dua puluh lima) orang disuatu tempat secara alami, terdapat kelangkaan profesi ataupun penduduk, misalnya disuatu pulau kecil terdapat nelayan atau di daerah terpencil penduduknya kurang dari persyaratan jumlah tersebut. Disamping itu ada Koperasi karena sifatnya tidak mencapai jumlah keanggotaan sampai 25 (dua puluh lima) orang untuk berfungsi seperti Koperasi Pekerja.

Persetujuan Menteri bagi berdirinya Koperasi yang bersangkutan harus dianggap sebagai kekhususan yang tidak dapat dihindari.

Keputusan Menteri tersebut diberikan berdasarkan pertimbangan yang seksama dan dalam kerangka pemahaman bahwa Koperasi seharusnya memiliki basis keanggotaan yang kuat untuk dapat hidup berkelanjutan dan memiliki cukup daya saing.

Pasal 12

Cukup jelas.

Pasal 13

Cukup jelas.

Pasal 14

Cukup jelas.

Pasal 15

Cukup jelas.

Pasal 16

Cukup jelas.

Pasal 17

Cukup jelas.

Pasal 18

Cukup jelas.

Pasal 19

Cukup jelas.

Pasal 20

Cukup jelas.

Pasal 21

Cukup jelas.

Pasal 22

Cukup jelas.

Pasal 23

Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Sebelum menjadi anggota, seseorang wajib mengajukan permohonan yang menyatakan kesediaan untuk menerima

segala hak dan kewajiban sebagai anggota sesuai anggaran dasar.

Ayat (4)

Cukup jelas.

Ayat (5)

Anggota dicatat dalam buku daftar anggota setelah menandatangani permohonan sebagai anggota dan membayar Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib serta disetujui oleh Pengurus.

Pencatatan anggota dapat dilakukan dengan menggunakan media elektronik.

Pasal 24

Cukup jelas.

Pasal 25

Cukup jelas.

Pasal 26

Cukup jelas.

Pasal 27

Cukup jelas.

Pasal 28

Cukup jelas.

Pasal 29

Cukup jelas.

Pasal 30 Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas.

Ayat (4)

Yang dimaksud dengan secara proporsional adalah pengaturan hak suara berdasarkan perkalian jumlah anggota.

Pasal 31 Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas.

Ayat (4)

Yang dimaksud keputusan strategis adalah keputusan yang tidak bisa diambil oleh Pengurus yang belum menyelenggarakan Rapat Anggota contohnya keputusan yang terkait dengan masalah keuangan.

Ayat (5)

Cukup jelas.

Pasal 32

Cukup jelas.

Pasal 33

Cukup jelas.

Pasal 34

Cukup jelas.

Pasal 35

Cukup jelas.

Pasal 36

Cukup jelas.

Pasal 37

Cukup jelas.

Pasal 38

Cukup jelas.

Pasal 39

Cukup jelas.

Pasal 40

Cukup jelas.

Pasal 41

Cukup jelas.

Pasal 42

Cukup jelas.

Pasal 43

Cukup jelas.

Pasal 44

Cukup jelas.

Pasal 45

Cukup jelas.

Pasal 46

Cukup jelas.

Pasal 47

Cukup jelas.

Pasal 48

Cukup jelas.

Pasal 49 Ayat (1)

Yang dimaksud dengan bidang usaha lainnya antara lain usaha budidaya, pertanian, perkebunan, peternakan, serta industri kreatif.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Yang dimaksud dengan tunggal usaha adalah Koperasi hanya melaksanakan satu jenis kegiatan usaha. Sedangkan yang dimaksud dengan serba usaha adalah Koperasi melaksanakan beberapa jenis kegiatan usaha.

Ayat (4)

Cukup jelas.

Pasal 50

Cukup jelas.

Pasal 51

Cukup jelas.

Pasal 52

Cukup jelas.

Pasal 53

Cukup jelas.

Pasal 54

Cukup jelas.

Pasal 55

Cukup jelas.

Pasal 56

Cukup jelas.

Pasal 57

Cukup jelas.

Pasal 58

Cukup jelas.

Pasal 59

Cukup jelas.

Pasal 60

Cukup jelas.

Pasal 61 Ayat (1)

Cukup jelas.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas.

Ayat (4)

Ketentuan ini menegaskan bahwa hak dan kewajiban Koperasi yang berstatus ”Koperasi dalam Penyelesaian”, masih tetap ada untuk menyelesaikan seluruh urusannya. Agar masyarakat mengetahuinya, di depan kantor Koperasi dipasang pengumuman yang memuat frasa ”Koperasi dalam Penyelesaian”.

Ayat (5)

Cukup jelas.

Pasal 62

Cukup jelas.

Pasal 63 Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Yang dimaksud dengan ”pihak lain yang diperlukan” antara lain adalah bekas Anggota, pejabat Pemerintah, pejabat Lembaga Gerakan Koperasi.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas.

Huruf g

Cukup jelas.

Pasal 64

Cukup jelas.

Pasal 65

Cukup jelas.

Pasal 66

Cukup jelas.

Pasal 67

Cukup jelas.

Pasal 68

Cukup jelas.

Pasal 69

Cukup jelas.

Pasal 70 Ayat (1)

Pada saat diundangkan Undang-Undang ini, organisasi gerakan koperasi yang telah ada dan berkembang adalah Dewan Koperasi Indonesia yang selanjutnya disingkat Dekopin dan merupakan kelanjutan dari Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia disingkat SOKRI, yang didirikan pada tanggal 12 Juli 1947 oleh Kongres Koperasi Seluruh Indonesia yang Pertama, yang diselenggarakan di Tasikmalaya. Dalam rangka memperjuangkan aspirasi dan cita Gerakan Koperasi Dekopin bukanlah satu-satunya organisasi gerakan koperasi, masyarakat koperasi dapat mendirikan organisasi gerakan koperasi selain Dekopin dengan ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang- Undang ini.

Ayat (2)

Cukup jelas.

Ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 71

Cukup jelas.

Pasal 72

Dokumen terkait