BAB XIV PENYIDIKAN
I. UMUM
Pengembangan koperasi di Indonesia merupakan bagian dari cita-cita pembentukan Pemerintahan Negara Indonesia. Dalam Lampiran 12 Naskah perumusan Undang Undang dasar 1945 ditegaskan bahwa “Perekonomian Indonesia Merdeka akan berdasar kepada cita-cita tolong menolong dan usaha bersama yang akan diselenggarakan berangsur-angsur dengan mengembangkan koperasi”... “Ini tentang ideologi perekonomian yang hanya dapat diselenggarakan berangsur-angsur dengan didikan pengetahuan, organisasi, idealisme dan rohani kepada orang banyak”.
Kemudian dalam Pasal 33 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945) ditegaskan bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Ketentuan ini menegaskan bahwa perekonomian Indonesia dibangun sebagai usaha bersama, secara gotong royong untuk mewujudkan kemakmuran yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Usaha bersama dan gotong royong merupakan akar budaya bangsa yang menjadi dasar demokrasi ekonomi untuk memberikan jaminan setiap warga negara mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Usaha bersama secara gotong royong merupakan dasar demokrasi ekonomi, produksi barang dan jasa dikerjakan oleh semua untuk semua di bawah penilikan atau pengawasan anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Dalam demokrasi ekonomi yang dilandasi cita-cita tolong menolong dan usaha bersama, seluruh angkatan kerja Indonesia dilibatkan dalam kegiatan produksi barang dan jasa sehingga menjadi bangsa produsen dan menjadi sumber kemakmuran yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian pengangguran angkatan kerja, kemiskinan, dan ketimpangan sosial dapat diminimalkan.
Koperasi Indonesia telah menjadi bagian dari organisasi koperasi internasional (International Cooperative Alliance atau ICA). Dalam peringatan 100 tahun ICA di Manchaster tahun 1995, telah disepakati rumusan baru tentang jati-diri koperasi yang mencakup definisi, nilai-nilai dan prinsip- prinsip koperasi. Substansi jatidiri koperasi tersebut sesuai dengan asas kekeluargaan dan domokrasi ekonomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 33 UUD 1945. Koperasi merupakan kumpulan orang yang mandiri, tidak ada paksaan ataupun diskriminasi. Mereka mengembangkan kegiatan usaha bersama untuk menghasilkan nilai tambah dan manfaat ekonomi, sosial dan budaya yang menjadi sumber kemakmuran bersama. Setiap orang yang menjadi Anggota, mempunyai kewajiban dan hak yang setara. Setiap Anggota, memperoleh nilai tambah dan manfaat berkoperasi sesuai dengan kontribusinya. Disamping itu melalui resolusi Pengakuan Perserikatan Bangsa-Bangsa nomor A/Res/64/163, peran koperasi dalam penyediaan pangan, lapangan kerja, penanggulangan kemiskinan, dan pembangunan yang berkelanjutan telah mendapat pengakuan masyarakat internasional.
Untuk meningkatkan produktivitas dalam menghasilkan nilai tambah maupun manfaat bagi anggota, setiap koperasi diwajibkan meyelenggarakan pendidikan dan kerjasama serta peduli terhadap masyarakat dan lingkungannya agar dapat berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
Oleh karena itu pengembangan koperasi harus disesuaikan dengan kondisi anggota dan masyarakat serta tuntutan perubahan lingkungan yang berkembang semakin pesat dan dinamis.
Banyak faktor yang menghambat kemajuan Koperasi. Salah satu faktor penghambat tersebut adalah peraturan perundang-undangan. Undang- Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian dinilai sudah tidak memadai untuk digunakan sebagai instrumen pembangunan Koperasi, terlebih tatkala dihadapkan kepada perkembangan tata ekonomi nasional dan global yang semakin dinamis dan penuh tantangan. Hal tersebut dapat dilihat dalam ketentuan yang mengatur nilai dan prinsip Koperasi, pemberian status badan hukum, permodalan, pengawasan dan pemeriksaan, kegiatan usaha simpan pinjam Koperasi dan peranan Pemerintah. Oleh karena itu, untuk mengatasi berbagai faktor penghambat kemajuan Koperasi, perlu diadakan pembaharuan hukum di bidang Perkoperasian melalui penetapan landasan hukum baru berupa Undang-Undang.
Undang-Undang tentang Perkoperasian ini merupakan pengganti Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian yang memuat
pembaharuan hukum, Undang-Undang ini menegaskan bahwa pemberian status dan pengesahan perubahan Anggaran Dasar dan mengenai hal tertentu merupakan wewenang dan tanggung jawab Menteri. Selain itu, Pemerintah dan Pemerintah Daerah memiliki peran dalam menetapkan kebijakan pemberdayaan, pendidikan dan pelatihan, pengawasan dan pemeriksaan serta perlindungan kepada Koperasi sehingga dapat tumbuh dan berkembang secara mandiri dan berkelanjutan. Dalam menempuh langkah tersebut, Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib menghormati jati diri, keswadayaan, otonomi, dan independensi Koperasi tanpa melakukan campur tangan terhadap urusan internal Koperasi.
Di bidang keanggotaan, Undang-Undang ini memuat ketentuan yang secara jelas mengenai pendidikan anggota dalam menerapkan nilai dan prinsip Koperasi serta penegasan bahwa keanggotaan Koperasi bersifat sukarela dan terbuka, pengawasan Koperasi oleh Anggota, dan berpartisipasi aktif anggota dalam kegiatan Koperasi. Ketentuan mengenai perangkat organisasi Koperasi memuat adanya Rapat Anggota, Pengurus dan Pengawas yang merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Pengawas bertugas memberi nasihat kepada Pengurus dan melakukan pengawasan terhadap kinerja Pengurus, sedangkan Pengurus bertugas mengelola Koperasi.
Ketentuan mengenai tugas dan wewenang Pengurus dan Pengawas agar keduanya bekerja secara profesional.
Untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat serta mencegah terjadinya penyalah-gunaan koperasi yang dapat merugikan kepentingan anggota dan masyarakat, dalam undang-undang ini ditegaskan peran Pemerintah dalam pengawasan dan pemeriksaan terhadap Koperasi. Untuk melaksanakan pengawasan dan pemeriksanaan terhadap Koperasi, Menteri dapat membentuk lembaga pengawas Koperasi dan mengembangkan jabatan fungsional pengawas dan pemeriksa koperasi.
Undang-Undang ini mendorong perwujudan prinsip partisipasi ekonomi Anggota, khususnya kontribusi Anggota dalam memperkuat modal Koperasi.
Salah satu unsur penting dari instrumen modal sendiri yang dapat mendorong perkuatan modal adalah Simpanan Khusus yang disetorkan sesuai kemampuan Anggota, namun Koperasi tetap merupakan perkumpulan orang dan bukan perkumpulan modal. Undang-Undang ini juga memuat ketentuan mengenai lembaga yang didirikan oleh Gerakan Koperasi.
Ditegaskan bahwa Gerakan Koperasi mendirikan suatu lembaga yang
berfungsi sebagai wadah untuk memperjuangkan kepentingan dan bertindak sebagai pembawa aspirasi Koperasi, berupa dewan koperasi.
Ketentuan mengenai pembubaran Koperasi menyatakan bahwa pembubaran Koperasi dapat dilakukan berdasarkan keputusan Rapat Anggota, jangka waktu berdirinya telah berakhir, atau keputusan Menteri.
Ketentuan tentang ketiga alternatif tersebut beserta penyelesaiannya diatur di dalam Undang-Undang ini.
Sehubungan dengan itu Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian sebagai dasar pengembangan koperasi di Indonesia perlu diperbaharui. Pembaharuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, tidak hanya yang terkait dengan jati-diri koperasi, tetapi juga mengenai orientasi pengembangan kegiatan usaha dan pengelolaannya, peran pemerintah, serta berbagai hal yang secara substansial layak dijadikan sebagai payung hukum dalam pengembangan koperasi di Indonesia.
II. PASAL DEMI PASAL