154- 22. Pasal 68 dihapus
9. Pasal lll dihapus
Pasal 32
Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun
2Ol3 tentang
Perlindungandan
Pemberdayaan Petani (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2Ol3 Nomor 131, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5433) diubah sebagai berikut:1. Ketentuan .
PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-t67
-1 Ketentuan Pasal berikut:
15
diubah sehingga berbunyi sebagaiPasal 15
(1)
Pemerintah Pusatdan
Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya wajib meningkatkan produksi Pertanian.(2)
Kewajiban peningkatan produksi Pertanian dalamnegeri
sebagaimanadimaksud pada ayat
(1)dilakukan melalui strategi perlindungan
Petani sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2).2 Ketentuan Pasal
30
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 30
(1)
Kecukupan kebutuhan konsumsi danlatau cadanganpangan Pemerintah berasal
dari produksi
dalamnegeri dan impor dengan tetap
melindungi kepentingan Petani.(21
Impor komoditas Pertanian sebagaimana dimaksud padaayat
(1) dilakukan sesuai dengan instrumen perdaganganberdasarkan ketentuan
peraturanperundang-undangan.
(3)
Kecukupan kebutuhan konsumsi danlatau cadangan pangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.3.
Pasal 1O1 dihapus.Pasal 33
Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun
20lO tentang Hortikultura
(LembaranNegara
Republik IndonesiaTahun 2OlO Nomor 132,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 517O)diubah
sebagai berikut:1. Ketentuan .
PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-168-
1 Ketentuan Pasal
15
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 15
(1)
Pelakuusaha wajib
mengutamakan pemanfaatan sumber daya manusia dalam negeri.(2)
Pemanfaatan Sumber daya manusia sebagaimanadimaksud
pada
ayat (1) dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.2 Ketentuan Pasal
33
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 33
(1) Usaha hortikultura dilaksanakan
denganmengutamakan penggunaan
sarana
hortikultura dalam negeri.(21 Dalam
hal
sarana hortikultura dalam negeri tidak mencukupiatau tidak
tersedia,dapat
digunakan sarana hortikultura yang berasaldari luar
negeridengan memenuhi Perizinan Berusaha
dari Pemerintah Pusat.(3)
Sarana hortikultura yang berasaldari luar
negerisebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus:
a.
lebih efisien;b.
ramah lingkungan; danc.
diutamakan yang mengandung komponen hasil produksi dalam negeri.(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai Perizinan Berusahaterkait sarana hortikultura
diatur
dalam Peraturan Pemerintah.3 Ketentuan Pasal
35
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 35
4
PRESIDEN
REPUEUK INDONESIA
-t69-
Pasal 35
(1)
Sarana hortikultura yang diedarkan wajib memenuhi standar mutu dan Perizinan Berusaha.(21 Dalam hal
saranahortikultura
merupakan atau mengandung hasil rekayasa genetik, selain memenuhiketentuan sebagaimana dimaksud
pada ayat
(1),peredarannya wajib mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang keamanan hayati.
(3)
Apabila standarmutu
sebagaimana dimaksud padaayat (1) belum ditetapkan,
Pemerintah Pusat menetapkan persyaratan teknis minimal.(41
Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) danayat (3)
dikecualikanuntuk
sarana hortikultura produksi lokal yang diedarkan secara terbatas dalam satu kelompok.(5)
Ketentuan lebih lanjut mengenai tata carauji
mutudan
Perizinan Berusahadiatur dalam
Peraturan Pemerintah.Di antara Pasal 35 dan Pasal 36 disisipkan 1 (satu) pasal, yakni Pasal 35A sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 35A
(1)
Setiap orang yang mengedarkan sarana hortikultura yang tidak memenuhi standar mutu, tidak memenuhi persyaratan teknis minimal, dan/atau tidak terdaftar sebagaimana dimaksuddalam Pasal 35
dikenaisanksi administratif.
(2)
Sanksi administratif sebagaimana dimaksud padaayat (1) dapat berupa:
a.
penghentian kegiatan usaha;b.
penarikan produk yang dipasarkan;c.
denda administratif;d.
paksaan pemerintah; dan/ataue.
pencabutan Perizinan Berusaha.(3) Ketentuan
PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-t70-
(3)
Ketentuanlebih lanjut
mengenaikriteria,
jenis, besaran denda,dan tata
cara pengenaan sanksi administrtatif sebagaimana dimaksud pada ayat (21diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Pasal 48 dihapus.
5
6 Ketentuan Pasal
49
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 49
(1) Unit
usaha budi daya hortikultura mikro dan kecil wajib didata oleh Pemerintah.(2) Unit
usahabudi
daya hortikultura menengah danunit usaha budi daya hortikultura besar
harus memenuh i Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.7
.
Pasal 51 dihapus8 Ketentuan Pasal
52
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 52
(1)
Usahahortikultura
sebagaimana dimaksud dalam Pasal50
wajib memenuhi Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.(2)
Ketentuan lebih lanjut mengenai Perrzinan Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diatur
dalam Peraturan Pemerintah.9 Ketentuan Pasal
54
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 54
PRESIDEN
REPUELIK INDONESIA
-
t7r
-Pasal 54
(1) Pelaku usaha dalam melaksanakan
usahahortikultura
wajib
memenuhi standar proses atau persyaratan teknis minimal.(2) Pelaku usaha dalam memproduksi
produkhortikultura wajib
memenuhistandar mutu
dankeamanan pangan produk hortikultura.
(3)
PemerintahPusat dan/atau
Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan olehPemerintah Pusat membina dan
memfasilitasi pengembangan usaha hortikulturauntuk
memenuhistandar mutu dan keamanan pangan produk.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai standarmutu
dan keamanan pangan produk hortikultura sebagaimanadimaksud
pada ayat (2) diatur dalam
PeraturanPemerintah.
10.
Ketentuan Pasal56
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 56
(1)
Usahahortikultura dapat dilakukan
dengan pola kemitraan.(21
Pola kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)melibatkan pelaku usaha hortikultura mikro, kecil, menengah, dan besar.
(3)
Kemitraan sebagaimana dimaksudpada ayat
(2)dilaksanakan dengan pola:
a.
inti-plasma;b.
subkontrak;c.
waralaba;d.
perdagangan umum;e.
distribusi dan keagenan; danf.
bentuk kemitraan lainnya.(4) Ketentuan . .
PRESIDEN
REPUELIK INDONESIA
-r72-
(4)
Ketentuanlebih lanjut
mengenaipola
kemitraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diatur
dalam Peraturan Pemerintah.1
1.
Ketentuan Pasal57
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 57
(1) Usaha
perbenihanmeliputi
pemuliaan, produksi benih, sertifikasi, peredaran benih, serta pengeluaran benih dari dan pemasukan benih ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia.(2)
Dalamhal
pemuliaan sebagaimana dimaksud padaayat (1) dapat dilakukan introduksi dalam bentuk benih atau materi induk yang belum ada
di
wilayahNegara Republik Indonesia.
(3)
Usaha perbenihan hanya dapat dilakukan oleh pelaku usaha yang memiliki sertifikat kompetensi atau badanusaha yang bersertifikat dalam bidang perbenihan
dengan
wajib
menerapkanjaminan mutu
benih melalui penerapan sertifikasi.(4)
Ketentuan sertifikat kompetensiatau
badan usahayang bersertifikat dan kewajiban
menerapkanjaminan
mutu
benih sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikecualikan bagi pelaku usaha perseoranganatau
kelompok yang melakukan usaha perbenihan untuk dipergunakan sendiri danf atau terbatas dalam1 (satu) kelompok.
(5)
Ketentuanlebih lanjut
mengenai produksi benih, sertifikasi, peredaran benih, serta pengeluaran dan pemasukan benih sebagaimana dimaksud pada ayat (1), introduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2),sertifikasi kompetensi, sertifikasi badan usaha dan
jaminan mutu sebagaimana dimaksud pada ayat (3),
serta pengecualian kewajiban
penerapansebagaimana dimaksud pada ayat (41
diatur
dalam Peraturan Pemerintah.12. Pasal
FRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-r73-
12.
Pasal 63 dihapus.13.
Ketentuan Pasal68
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 68
Ketentuan
lebih lanjut
mengenaiusaha budi
dayasebagaimana
dimaksud dalam Pasal 65, tata
carapendataan dan pelaporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66, serta izin khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 67 ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
14.
Ketentuan Pasal73
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 73
(1)
Usaha perdagangan produkhortikultura
mengatur proses jual beli antarpedagang serta antara pedagang dan konsumen.(21
Pelaku usaha perdagangan produk hortikultura harus menerapkansistem kelas produk
berdasarkan standar mutu dan standar harga secara transparan.(3)
Ketentuan lebihlanjut
mengenai kewajiban sistem kelas produk berdasarkan standar mutu dan standar harga secara transparan sebagaimana dimaksud padaayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
15.
Ketentuan Pasal88
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:(1)
Impor aspek:Pasal 88
produk hortikultura wajib
memperhatikana.
keamanan pangan produk hortikultura;b.
persyaratan kemasan dan pelabelan;c.
standar mutu; dand. ketentuan .
PRESIDEN
REPUEUK INDONESIA
-t74-
d.
ketentuan keamanan dan pelindungan terhadapkesehatan
manusia, hewan, tumbuhan,
dan lingkungan.(2)
Impor produk hortikultura dapat dilakukan setelah memenuhi Perrzinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.(3)
Impor produkhortikultura
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melaluipintu
masuk yang ditetapkan.(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.16.
Ketentuan Pasal90
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 90
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan
kewenangannya dalam meningkatkan
pemasaranhortikultura memberikan informasi pasar.
17.
Ketentuan Pasal92
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 92
(1)
Penyelenggarapasar dan tempat lain
untukperdagangan produk hortikultura
dapat menyelenggarakan penjualanproduk
hortikultura lokal dan asal impor.(2)
Penyelenggarapasar dan tempat lain
untuk perdaganganproduk hortikultura
sebagaimanadimaksud pada ayat (1) wajib menyediakan fasilitas pemasaran yang memadai.
18.
Ketentuan Pasal 100 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 100
PRESIDEN
REPUEUK INDONESIA
-775-
Pasal 100
(1)
PemerintahPusat
mendorong penanaman modal dalam usaha hortikultura.(2) Pelaksanaan penanaman modal
sebagaimanadimaksud pada
ayat
(1) dilakukan sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan
di
bidangpenanaman modal.
19.
Ketentuan Pasal 101 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 101
Pelaku usaha
hortikultura
menengahdan
besar wajib memberikan kesempatan pemagangan dan alih teknologi.20.
Ketentuan Pasal 122 diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 122
(1)
Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (1), Pasal 33, Pasal 36ayat (1)
atau
ayat (2), Pasal 37, Pasal 38, Pasal 54ayat (1)
atau
ayat (21, Pasal60
ayat (2), Pasal 71, Pasal 73 ayat (2), Pasal 81 ayat (4), Pasal 84 ayat (1), Pasal 88 ayat (1), Pasal92
ayat (2), Pasal 101, Pasal 108 ayat (2), atau Pasal 109 ayat (2) dikenai sanksi administratif.(2)
Sanksi administratif sebagaimana dimaksud padaayat (1) berupa:
a.
peringatan secara tertulis;b.
denda administratif;c.
penghentiansementarakegiatan;d.
penarikan produkdari
peredaran oleh pelakuusaha;
e.
pencabutan izin; dan/atauf. penutupan
PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-176-
f.
penutupan usaha.(3)
Ketentuanlebih lanjut
mengenaikriteria,
jenis,besaran denda,
dan tata cara
pengenaan sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (2)diatur dalam Peraturan Pemerintah.
21.
Pasal 126 dihapus22.
Pasal 131 dihapus.Pasal 34
Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2OO9 tentang Peternakan
dan
Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2OO9 Nomor 84, TambahanLembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5015) sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun2Ol4
tentang PerubahanAtas
Undang-Undang Nomor 18Tahun
2OO9tentang
Peternakandan
Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2Ol4 Nomor 338, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5619) diubah sebagai berikut:1 Ketentuan Pasal berikut:
6 diubah
sehingga berbunyi sebagaiPasal 6
(1) Lahan yang telah ditetapkan
sebagai kawasan penggembalaanumum harus
dipertahankankeberadaan dan kemanfaatannya
secaraberkelanjutan.
(2) Kawasan
penggembalaanumum
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai:a.
penghasil tumbuhan pakan;b.
tempat perkawinan alami, seleksi, kastrasi, dan pelayanan inseminasi buatan;c.
tempat pelayanan kesehatan hewan; dan/atau d. tempatPRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-r77
-d.
tempat atau objek penelitian dan pengembangan teknologi peternakan dan kesehatan hewan.(3) Pemerintah daerah kabupatenlkota yang
didaerahnya mempunyai
persediaanlahan
yangmemungkinkan
dan
memprioritaskanbudi
dayaTernak skala kecil wajib menetapkan lahan sebagai kawasan penggembalaan umum.
(41
Pemerintah daerah kabupaten/kota membina bentukkerja
samaantara
pengusahaan peternakan danpengusahaan tanaman pangan,
hortikultura, perikanan, perkebunan, dan kehutanan serta bidanglainnya dalam
memanfaatkanlahan di
kawasantersebut sebagai sumber pakan Ternak murah.
(5)
Dalam hal pemerintah daerah kabupatenlkota tidak menetapkan lahan sebagai kawasan penggembalaanumum
sebagaimanadimaksud pada ayat
(3),Pemerintah Pusat dapat menetapkan lahan sebagai kawasan penggembalaan umum.
(6)
Ketentuanlebih lanjut
mengenai penyediaan danpengelolaan kawasan
penggembalaan umum sebagaimana dimaksudpada ayat (3)
ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.2 Ketentuan Pasal
13
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 13
(1)
Penyediaan dan pengembangan Benih dan/atau Bibitdilakukan dengan
memperhatikan keberlanjutan pengembanganusaha
Peternakmikro, kecil,
dan menengah.(2)
Pemerintah Pusatdan
Pemerintah Daerah sesuaidengan kewenangannya
wajib untuk
melakukan pengembanganusaha pembenihan
dan/ataupembibitan dengan melibatkan peran
sertamasyarakat
untuk
menjamin ketersediaan Benih, Bibit, danlatau bakalan.(3) Dalam
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-t78-
(3)
Dalam hal usaha pembenihan dan/atau pembibitanoleh
masyarakatbelum
berkembang, PemerintahPusat dan
Pemerintah Daerah membentuk unitpembenihan danf atau pembibitan.
(4)
Setiap Benih atau Bibit yang beredar wajib memilikisertifikat layak Benih atau Bibit yang
memuat keterangan mengenai silsilah dan ciri-ciri keunggulan tertentu.(5) Sertifikat layak Benih atau Bibit
sebagaimanadimaksud pada ayat (4) dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi Benih atau Bibit yang terakreditasi.
(6)
Setiap orang dilarang mengedarkan Benih atau Bibityang tidak
memenuhi kewajibansertifikat
LayakBenih atau
Bibit
sebagaimana dimaksud pada ayat (s).3 Ketentuan Pasal berikut:
15
diubah sehingga berbunyi sebagai Pasal 15(1)
Pemasukan Benih dan/atau Bibit dari luar negeri kedalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat dilakukan untuk:
a.
meningkatkan mutu dan keragaman genetik;b.
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi;c.
mengatasi kekurangan Benih dan/atauBibit
di dalam negeri; dan/ataud. memenuhi keperluan penelitian
danpengembangan.
(2)
Setiap Orangyang
melakukan pemasukan Benih dan/atau Bibit sebagaimana dimaksud pada ayat (1)wajib memenuhi Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.
(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2)diatur
dalam Peraturan Pemerintah.4. Ketentuan
PRES IDEN REPUEUK INDONESIA
-r79-
4 Ketentuan Pasal berikut:
16
diubah sehingga berbunyi sebagai Pasal 16(1)
PengeluaranBenih dan/atau Bibit dari
wilayahNegara Kesatuan Republik Indonesia ke
luar
negeridapat dilakukan apabila kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi dan kelestarian Ternak lokal terjamin.
(2)
Pengeluaran sebagaimana dimaksud padaayat
(1) dilarang dilakukan terhadap Benih dan/atau Bibit yang terbaik di dalam negeri.(3)
Setiap Orang yang melakukan kegiatan sebagaimanadimaksud pada ayat (1) wajib memenuht Pertzinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenat Perzinan Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (3)diatur
dalam Peraturan Pemerintah.5 Ketentuan Pasal
22
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal22
(1)
Setiap orang yang memproduksipakan
dan/atau bahan pakan untuk diedarkan secara komersial wajib memenuhi Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.(2)
Pakan yang dibuat untuk diedarkan secara komersialharus
memenuhi standaratau
persyaratan teknisminimal dan
keamananpakan serta
memenuhi ketentuan cara pembuatan pakan yangbaik
yangditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
(3)
Pakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harusberlabel sesuai dengan ketentuan
peraturanperundang-undangan.
(4)
Setiap orang dilarang:a. mengedarkan pakan yang tidak
layakdikonsumsi;
b. menggunakan
PRESIDEN
REPUELIK INDONESIA
-180-
b.
menggunakandan/atau
mengedarkan pakan Ruminansiayang
mengandungbahan
pakanyang berupa darah, daging,
dan/atau
tulang;dan/atau
c.
menggunakanpakan yang
dicampur hormon tertentu dan/atau antibiotik imbuhan pakan.(5)
Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan pakan yang dicampur hormon tertentu dan/atau antibiotik imbuhan pakan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)huruf c diatur dalam Peraturan Pemerintah.
6 Ketentuan Pasal
29
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 29
(1) Budi Daya Ternak hanya dapat dilakukan
olehpeternak,
perusahaanpeternakan, serta
pihak tertentu untuk kepentingan khusus.(2)
Peternak yang melakukan budi daya Ternak denganjenis dan jumlah
Ternakdi
bawahskala
usahatertentu diberikan Perizinan Berusaha
olehPemerintah Pusat dan Pemerintah
Daerahkabupaten/kota sesuai dengan
kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur, dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.(3)
Perusahaan peternakan yang melakukan budi dayaternak dengan jenis dan jumlah Ternak di atas skala usaha tertentu wajib memenuhi Perizinan Berusaha oleh Pemerintah Pusat.
(4)
Peternak, perusahaan peternakan, dan pihak tertentuyang
mengusahakan Ternak denganskala
usaha tertentu wajib mengikuti tata cara budi daya Ternakyang baik
dengantidak
mengganggu ketertiban umum sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat.(5)
Pemerintah Pusatdan
PemerintahDaerah
sesuaidengan kewenangannya
wajib untuk
melindungi usaha peternakan dalam negeri dari persaingan tidak sehat diantara pelaku usaha.7. Ketentuan
7
PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-181 -
Ketentuan Pasal
30
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 30
(1)
Pemerintah Pusatdan
Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar,prosedur, dan kriteria yang ditetapkan
oleh Pemerintah Pusat mengembangkan Usaha Budi Dayamelalui penanaman modal oleh perseorangan warga
negara Indonesia
atau
korporasiyang
berbadan hukum.(21 Pelaksanaan penanaman modal
sebagaimanadimaksud
pada
ayat (1) dilakukan sesuai denganketentuan peraturan perundang-undangan
di
bidang penanaman modal.8 Ketentuan Pasal
368
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 368
(1)
Pemasukan Ternakdan
Produk Hewandari
luar negeri ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dilakukanuntuk
memenuhi kebutuhan dengan memperhatikan kepentingan peternak.(2)
Setiap Orang yang melakukan pemasukan Ternak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memenuhi Pertzinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.(3)
Pemasukan Ternak dari luar negeri harus:a.
memenuhi persyaratan teknis Kesehatan Hewan;b. bebas dari Penyakit Hewan Menular
yangdipersyaratkan oleh Otoritas Veteriner; dan
c. memenuhi ketentuan peraturan
perundang- undangan di bidang karantina hewan.(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pemasukan Ternak dan Produk Hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.9. Ketentuan . .
PRESIDEN
REPUEUK INDONESIA
-t82-
9 Ketentuan Pasal 36C diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:
Pasal 36C
(1)
Pemasukan Ternak Ruminansia Indukanke
dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat berasaldari suatu
negarayang telah
memenuhi persyaratan dan tata cara pemasukannya.(21
Persyaratandan tata cara
pemasukan Ternak RuminansiaIndukan dari luar
negerike
dalamwilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesiaditetapkan berdasarkan
analisis risiko di
bidangKesehatan Hewan oleh Otoritas Veteriner.
(3)
Pemasukan Ternak Ruminansia Indukan yang berasaldari suatu negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), selain harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (21juga harus terlebih dahulu:
a.
dinyatakan bebas Penyakit Hewan Menular di negara asal oleh Otoritas Veteriner negara asal sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan badan kesehatan hewan dunia dan diakui oleh Otoritas Veteriner Indonesia;b.
dilakukan penguatan sistemdan
pelaksanaan surveilan di dalam negeri; danc.
ditetapkan tempat pemasukan tertentu.(41
Setiap Orang yang melakukan pemasukan Ternak Ruminansia Indukan sebagaimana dimaksud padaayat
(1)wajib
memenuhi Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.(5)
Ketentuan lebih lanjut mengenai pemasukan TernakRuminansia
Indukan ke dalam wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Perizinan Berusaha diatur dalam Peraturan Pemerintah.1O.Ketentuan...
FRES IDEN REPUBUK INDONESIA
-183-
10.
Ketentuan Pasal37
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 37
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berdasarkan norma, standar, prosedur,
dan kriteria yang
ditetapkanoleh
Pemerintah Pusatmembina
dan
memfasilitasi berkembangnya industri pengolahan Produk Hewan.1
1.
Ketentuan Pasal52
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 52
(1)
Setiap orang yang berusahadi
bidang pembuatan,penyediaan, dan/atau peredaran obat hewan wajib memenuhr Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat
atau Pemerintah Daerah sesuai
dengankewenangannya
berdasarkan norma,
standar,prosedur, dan kriteria yang ditetapkan
olehPemerintah Pusat.
(2) Setiap orang dilarang membuat,
menyediakan, dan/atau mengedarkan obat hewan yang:a.
berupa sediaan biologi yang penyakitnya tidak ada di Indonesia;b.
tidak memiliki nomor pendaftaran;c.
tidak diberi label dan tanda; dand.
tidak memenuhi standar mutu.(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diatur
dalam Peraturan Pemerintah.12.
Ketentuan Pasal54
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 54
(1)
Penyediaan obat hewan dapat berasal dari produksi dalam negeri atau dari luar negeri.(2) Ketentuan
PRESIDEN
REPUBUK INDONESIA
-t84-
(2)
Ketentuanlebih lanjut
mengenai penyediaan obat hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.13.
Ketentuan Pasal59
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 59
(1)
Setiap Orang yang akan memasukkan Produk Hewanke dalam wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia wajib memenuhi Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.(2)
Persyaratan dan tata cara pemasukan Produk Hewandari
luar
negeri ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengacu pada ketentuan yang berbasis analisisrisiko di
bidang Kesehatan Hewandan
KesehatanMasyarakat Veteriner.
(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diatur
dalam Peraturan Pemerintah.14.
Ketentuan Pasal60
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 6O
(1)
Setiap Orang yang mempunyaiunit
usaha ProdukHewan wajib memenuhi Perizinan Berusaha berupa
nomor kontrol
veterinerdari
Pemerintah Daerahprovinsi sesuai dengan kewenanganya berdasarkan
norma, standar, prosedur, dan kriteria
yangditetapkan oleh Pemerintah Pusat.
(2)
PemerintahDaerah kabupatenlkota
melakukan pembinaanunit
usaha yang memproduksi dan f atau mengedarkan produk hewan yang dihasilkan olehunit usaha skala rumah tangga yang
belum memenuhi persyaratan nomor kontrol veteriner.(3) Ketentuan...
FRESIDEN
REPUEUK INDONESIA
-185-
(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diatur
dalamPeraturan Pemerintah.
15.
Ketentuan Pasal62
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 62
(1)
Pemerintah Daerah kabupaten/kota wajib memiliki rumah potong hewan yang memenuhi persyaratan teknis.(2)
Rumah potong hewan sebagaimana dimaksud padaayat (1) dapat diusahakan oleh setiap orang setelah memenuhi Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.
(3)
Usaha rumah potong hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) harus dilakukan di bawah pengawasandokter
hewan berwenangdi bidang
pengawasanKesehatan Masyarakat Veteriner.
(4)
Ketentuan lebih lanjut mengenat Perizinan Berusaha rumah potong sebagaimana dimaksud pada ayat (2)diatur dalam Peraturan Pemerintah.
L6.
Ketentuan Pasal69
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 69
(1)
Pelayanan kesehatan hewan meliputi pelayanan jasa laboratorium veteriner, pelayanan jasa laboratorium pemeriksaan dan pengujian veteriner, pelayanan jasa medik veteriner, danf atau pelayanan jasadi
pusatkesehatan hewan atau pos kesehatan hewan.
(2)
Setiap orang yang berusahadi
bidang pelayanan kesehatan hewan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) wajib memenuhi Perizinan Berusaha
dari Pemerintah Pusat.(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai Perizinan Berusaha pelayanan kesehatan hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (21diatur dalam Peraturan Pemerintah.17. Ketentuan
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA
-186-
17.
Ketentuan Pasal72
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal72
(1)
Tenaga kesehatan hewan yang melakukan pelayanankesehatan hewan wajib memenuhi
Perizinan Berusaha dari Pemerintah Pusat.(21
Tenaga asing kesehatan hewandapat
melakukanpraktik
pelayanan kesehatanhewan di
wilayahNegara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan perjanjian bilateral
atau
multilateral antara pihak Indonesiadan
negaraatau
lembaga asing sesuai dengan ketentuan peraturan perLlndang-undangan.(3)
Ketentuan lebih lanjut mengenai Perizinan Berusaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1)diatur
dalam Peraturan Pemerintah.18.
Ketentuan Pasal85
diubah sehingga berbunyi sebagai berikut:Pasal 85
(1)
Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimanadimaksud dalam Pasal
9
ayat (1), Pasal 11 ayat (1),Pasal 13 ayat (4), Pasal 15 ayat (2), Pasal 18 ayat (4), Pasal 19 ayat (1), Pasal 22 ayat (1) atau ayat(2), Pasal
23, Pasal 24 ayat (3), Pasal 25 ayat (1), Pasal 29 ayat (3), Pasal 42 ayat (5), Pasal 45 ayat (1), Pasal 47 ayat (2) atau ayat (3), Pasal 50 ayat (3), Pasal 51 ayat (2),
Pasal 52 ayat (1), Pasal 53 ayat (2), Pasal 58 ayat (5), Pasal 59 ayat (1), Pasal
6l
ayat (1) atau ayat (2), Pasal62 ayat (2) atau ayat (3), Pasal 69 ayat (2), Pasal 72
ayat (1), atau
Pasal80 ayat (1) dikenai
sanksi administratif.(2)
Sanksi admistratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:a.
peringatan secara tertulis;b.
penghentian sementara dari kegiatan, produksi, dan/atau peredaran;c.
pencabutan Pertzinan Berusaha dan penarikan obat hewan, pakan, alat dan mesin, atau produk hewan dari peredaran;d.pencabutan...