BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Skema 2.1 Patogenesis
Patogenesis TB (Depkes-IDAI, 2008) Inhalasi Mycobacterium TB paru
Fagositosis oleh makrofag alveolus paru
Kuman mati
Kuman tetap hidup
Berkembang biak 1. Pembentukan fokus primer 2. Penyebaran limfogen 3. Penyebaran hematogen *1)
Kompleks primer ghon *2) Terbentuk imunitas seluler
spesifik
Sakit TB Infeksi
1. Komplikasi kompleks primer 2. Komplikasi penyebaran 3. Komplikasi penyebaran
limfogen Uji
tuberkulin (+)
Meninggal
Sembuh
Imunitas
Sakit TB *4) Imunitas turun,
reaktivasi
TB Primer *3)
Masa inkubasi (2-12 minggu)
Keterangan :
1. Penyebaran hematogen umumnya terjadi secara sporadik (occult hematogenic spread) dapat juga secara akut dan menyeluruh. Kuman TB kemudian membuat focus koloni di berbagai organ dengan vaskularisasi yang baik. Focus ini berpotensi mengalami reaktivasi di kemudian hari.
2. Kompleks primer terdiri dari focus, limfangitis, dan limfadenitis regional.
3. TB primer adalah kompleks primer dan komplikasinya.
4. Sakit TB pada keadaan ini disebut TB pasca primer karena mekanismenya bisa melalui proses reaktivasi focus lama. TB (endogen) biasanya pada orang dewasa, TB dewasa juga dapat karena infeksi baru.
8. Diagnosis
Semua suspek TB diperiksa tiga specimen dahak dalam waktu dua hari, yaitu sewaktu-pagi-sewaktu (SPS). Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB. Pada program TB Nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti fhoto thoraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB Paru hanya berdasarkan pemeriksan fhoto thoraks saja. Foto thoraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB Paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis (Kemenkes RI, 2011)
9. Komplikasi
Menurut Ardiansyah (2012), komplikasi penyakit TB terbagi dalam 2 kategori yaitu komplikasi dini yang terdiri dari pleuritis, efusi pleura, empyema, laryngitis, serta TB usus dan komplikasi lanjut terdiri dari
obstruksi jalan napas, kor pulmonal, amyloidosis, karsinoma paru, serta sindrom gagal napas.
10. Pengobatan
Pengobatan TB paru harus selalu meliputi pengobatan tahap awal dimana pengobatan diberikan setiap hari. Paduan pengobatan pada tahap ini adalah dimaksudkan untuk secara efektif menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien dan meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman yang mungkin sudah resisten sejak sebelum pasien mendapatkan pengobatan. Pengobatan tahap awal pada semua pasien baru, harus diberikan selama dua bulan. Ketika tahap awal selesai, masuk pada tahap lanjutan dimana pengobatan tahap lanjutan merupakan tahap yang penting untuk membunuh sisa-sisa kuman yang masih ada dalam tubuh khususnya kuman persister sehingga pasien dapat sembuh dan mencegah terjadinya kekambuhan. Kemenkes RI (2014) telah menetapkan panduan OAT yang digunakan di Indonesia (sesuai rekomendasi WHO dan ISTC) yaitu :
a. Panduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia pada kategori 1 yaitu 2(HRZE)/4(HR)3, kategori 2 yaitu 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3, disamping dua kategori ini disediakan paduan obat sisipan yaitu (HRZE), dan kategori anak yaitu 2HRZ/4HR.
b. Panduan OAT kategori 1 dan kategori 2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat kombinasi dosis tetap (OAT-KDT). Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi dua atau empat jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu pasien
c. Paket Kombipak adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniazid, Rifamfisin, Pirazinamid dan Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister. Paduan OAT ini disediakan program untuk digunakan dalam pengobatan penderita yang mengalami efek samping OAT KDT.
11. Pencegahan
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit TB paru (Sholeh, 2012) yaitu bagi penderita, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan menutup mulut saat batuk dan membuang dahak tidak di sembarangan tempat. Bagi masyarakat, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan meningkatkan ketahanan terhadap bayi, yaitu dengan memberikan vaksinasi BCG. Bagi petugas kesehatan, pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan penyuluhan tentang penyakit TB, yang meliputi gejala, bahaya dan akibat yang ditimbulkannya terhadap kehidupan masyarakat pada umumnya. Petugas kesehatan juga harus segera melakukan pengisolasian dan pemeriksaan terhadap orang-orang yang terinfeksi, atau dengan memberikan pengobatan khusus kepada penderita TB. Pengobatan dengan cara dirawat di rumah sakit hanya
dilakukan bagi penderita dengan kategori berat dan memerlukan pengembangan program pengobatannya, sehingga tidak dikehendaki pengobatan jalan.
Semua tempat pelayanan kesehatan perlu menerapkan upaya Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) TB Paru untuk memastikan berlangsungnya deteksi segera, tindakan pencegahan dan pengobatan seseorang yang dicurigai atau dipastikan menderita TB Paru. Upaya tersebut berupa pengendalian infeksi dengan empat pilar (Kemenkes RI, 2014), yang pertama adalah pengendalian manajerial yang merupakan komitmen, kepemimpinan dan dukungan manajemen yang efektif dari pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten atau Kota atau institusi terkait yang meliputi membuat kebijakan, perencanaan, monitoring dan evaluasi program PPI TB paru.
Kedua, pengendalian administrative adalah upaya mencegah/mengurangi pajanan kuman pada petugas kesehatan, pasien, pengunjung dan lingkungan yang mencakup Strategi TEMPO (temukan pasien secepatnya, pisahkan secara aman, obati secara tepat), penyuluhan pasien mengenai etika batuk, penyediaan tisu dan masker, tempat pembuangan tisu serta pembuangan dahak yang benar, pemasangan poster, spanduk dan bahan untuk KIE, serta skrining bagi petugas yang merawat pasien TB Paru.
Ketiga, pengendalian lingkungan adalah upaya peningkatan dan pengaturan aliran udara/ventilasi. Keempat, pengendalian dengan alat pelindung diri yang sangat penting untuk menurunkan risiko terpajan.
Pasien atau tersangka TB Paru tidak perlu menggunakan respirator tetapi cukup menggunakan masker bedah untuk melindungi lingkungan sekitarnya dari droplet.
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI, 2010) menjelaskan tentang pencegahan penularan penyakit TB, yaitu pada masyarakat, makan-makanan yang berigizi seimbang sehingga daya tahan tubuh meningkat, tidur dan istirahat yang cukup, tidak merokok, minum alkohol dan menggunakan narkoba, lingkungan yang bersih baik tempat tinggal dan sekitarnya, membuka jendela agar sinar matahari masuk di semua ruangan rumah karena kuman TB akan mati bila terkena sinar matahari, imunisasi BCG bagi balita dan menyarankan apabila ada yang dicurigai sakit TB agar segera memeriksakan diri dan berobat sesuai aturan sampai sembuh. Untuk penderita, tidak meludah di sembarang tempat, menutup mulut saat batuk atau bersin, berperilaku hidup bersih dan sehat, berobat sesuai autran sampai sembuh dan memeriksakan balita yang tinggal serumah agar segera diberikan pengobatan pencegahan.
B. Konsep Keluarga 1. Definisi Keluarga
Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan di
dalam perannya masing-masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan (Friedman, 2010).
2. Bentuk Keluarga
Pembagian tipe atau bentuk keluarga menurut Friedman (2010) dapat di kelompokkan menjadi dua. Pertama, pengelompokkan secara tradisional yang terdiri dari keluarga inti (ayah, ibu dan anak) dan keluarga besar (keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah seperti kakek, nenek, paman dan bibi).
Kedua, pengelompokkan secara modern yang terdiri dari tradisional nuclear (keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah, dimana salah satu atau keduanya dapat bekerja di luar rumah), niddle age (suami/istri sebagai pencari uang atau di rumah atau kedua-duanya bekerja, anak meninggalkan rumah karena sekolah/menikah/meniti karir), dyadic nuclear (suami dan istri sudah berumur dan tidak memiliki anak), single parent (keluarga yang hanya memiliki satu orang tua sebagai akibat perceraian), dual carrier (suami dan istri orang karir dan tidak memiliki anak), three genereation (keluarga yang terdiri atas tiga generasi atau lebih yang tinggal dalam satu rumah), cominal (dua pasangan suami istri tinggal dalam satu rumah) serta cohibing couple (keluarga dengan perkawinan poligami dan tinggal dalam satu rumah).
3. Peran Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat dan kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi tertentu. Peran ayah sebagai suami dari istri, ayah bagi anak- anak, pencari nafkah, pendidik, pelindung, pemberi rasa aman, kepala keluarga serta anggota masyarakat dari lingkungannya. Peran ibu sebagai istri dari suami, ibu bagi anak-anak, mengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik bagi anak-anaknya, pelindung serta pencari nafkah tambahan dalam keluarganya. Peran anak-anak adalah melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental, sosial dan spiritual (Friedman, 2010).
C. Fungsi dan Tugas Kesehatan Keluarga
Pendekatan keluarga adalah salah satu cara Puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya dengan mendatangi keluarga. Puskesmas tidak hanya menyelenggarakan pelayanan kesehatan di dalam gedung, melainkan juga keluar gedung dengan mengunjungi keluarga di wilayah kerjanya (Kemenkes RI, 2016).
Keluarga sebagai fokus dalam pendekatan pelaksanaan Program Indonesia Sehat menurut Friedman (2010) yang dikutip oleh Kemenkes RI (2016) terdapat lima fungsi keluarga. Pertama fungsi afektif adalah fungsi keluarga utama yang mengajarkan segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota
keluarga berhubungan dengan orang lain. Kedua, fungsi sosialisasi adalah fungsi mengembangkan dan sebagai tempat melatih anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah. Ketiga, fungsi reproduksi adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga kelangsungan keluarga. Keempat, fungsi ekonomi adalah fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan penghasilan dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga dan kelima fungsi perawatan atau pemeliharaan kesehatan adalah fungsi untuk mempertahankan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki produktivitas yang tinggi.
Fungsi kelima ini dikembangkan menjadi tugas kesehatan keluarga dibidang kesehatan yang terdiri dari tugas kesehatan keluarga yang pertama adalah mengenal gangguan perkembangan setiap anggota keluarga. Tugas keluarga dalam hal ini adalah mengenal penyakit TB paru ini terdiri dari keluarga mengetahui penyebab, tanda dan gejala, pengobatan dan pencegahan penyakit TB paru.
Tugas yang kedua adalah mengambil keputusan untuk tindakan kesehatan yang tepat. Tugas keluarga dalam hal memutuskan tindakan dalam upaya merawat penderita TB paru terdiri dari apakah keluarga menjalankan semua saran dari petugas kesehatan, apakah keluarga menghentikan pengobatan jika pasien membaik dan apakah keluarga merasa stress saat merawat keluarga yang sakit.
1. Pengertian Pendidikan Kesehatan
Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok, individu agar memperoleh pengtahuan kesehatan yang lebih baik (Hidayati, 2014). Pendidikan kesehatan adalah kegiatan yang dilakukan dengan menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga masyarakat tidak saja sadar, tahu dan
mengerti, tetapi mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan (Susilo, 2011).
2. Tujuan Pendidikan Kesehatan
Tujuan utama pendidikan kesehatan (Wahit, 2009) yaitu menetapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri, memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap masalah, serta memutuskan kegiatan yang paling tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat.
Tujuan utama pendidikan kesehatan menurut Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan baik secara fisik, mental dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial (BKKBN, 2012).
3. Metode Pendidikan Kesehatan
Menurut Notoadmodjo (2007) agar mencapai suatu hasil yang optimal, materi serta alat bantu pendidikan harus disesuaikan dengan sasaran. Untuk sasaran kelompok maka metodenya harus berbeda dengan sasaran massa dan sasaran individual. Ada 2 macam metode pendidikan kesehatan yaitu :
a. Metode Pendidikan Individual (perorangan)
Metode ini digunakan untuk membina perubahan perilaku baru atau membina seseorang yang mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku. Dasar digunakannya pendekatan individual ini karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda-beda
sehubungan dengan perilaku tersebut. Bentuk pendekatan ini antara lain adalah bimbingan dan penyuluhan yang dengan cara ini kontak antara klien dan petugas jadi lebih efektif serta wawancara yang merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan. Wawancara antara petugas kesehatan dengan klien untuk menggali informasi mengapa ia tidak atau belum menerima kebutuhan.
b. Metode Pendidikan Kelompok
Dalam memilih metode pendidikan kelompok, harus diingat besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal dari sasaran. Ada beberapa macam metode kelompok tersebut, yaitu kelompok besar dan kelompok kecil. Dikatakan kelompok besar apabila peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang, maka metode yang digunakan antara lain adalah ceramah dan seminar. Dikatakan kelompok kecil apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang, maka metode yang cocok antara lain diskusi kelompok, curah pendapat, bola salju, memainkan peran dan permainan simulasi yang merupakan gabungan antara role play dengan diskusi kelompok.
4. Media Pendidikan Kesehatan
Media pendidikan kesehatan adalah alat bantu yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan bahan pendidikan atau pengajaran, semakin banyak pancaindera yang digunakan maka akan semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian atau pengetahuan yang diperoleh (Heri, 2009; Fitriani, 2011).
Berdasarkan fungsinya sebagai media penyalur pesan kesehatan, berikut penjelasan kelebihan dan kekurangan dari media penyuluhan :
Tabel 2.1
Kelebihan dan Kekurangan masing-masing media penyuluhan No Media Jenis Kelebihan Kekurangan
1 Media Cetak
Booklet, leafleat, flyer (selebaran), flip chart (lembar balik), rubric atau tulisan pada surat
kabar /
majalah, poster, fhoto
1. Tahan lama 2. Mencakup
banyak orang 3. Biaya rendah 4. Dapat dibawa
kemana-mana 5. Tidak perlu
listrik
6. Mempermudah pemahaman 7. Meningkatkan
gairah belajar
1. Tidak dapat menstimulir efek gerak dan efek suara 2. Mudah
terlipat / rusak
2 Media Elektro -nik
Televisi, radio, video, CD, VCD, DVD
1. Lebih mudah dipahami
2. Lebih menarik 3. Lebih dikenal
masyarakat 4. Bertatap muka 5. Mengikut
sertakan
seluruh panca indera
6. Penyajian dapat dikendalikan dan diulang- ulang
7. Jangkauan relatif besar
1. Biaya lebih tinggi
2. Sedikit rumit 3. Perlu listrik
dan alat canggih untuk produksinya 4. Perlu pesiapan
matang 5. Peralatan
selalu berkembang dan berubah 6. Perlu
keterampilan penyimpanan dan
keterampilan untuk
mengoperasi- kannya
No Media Jenis Kelebihan Kekurangan 3 Media
Luar Ruang
Bisa melalui media cetak maupun elektronik misalnya papan reklame, spanduk, pameran, banner dan televise layar lebar
1. Lebih mudah dipahami
2. Lebih menarik 3. Sebagai
informasi dan hiburan
4. Bertatap muka 5. Mengikut
sertakan
seluruh panca indera
6. Penyajian dapat dikendalikan 7. Jangkauan
relatif besar
1. Biaya lebih tinggi
2. Sedikit rumit 3. Perlu alat
canggih untuk produksinya 4. Persiapan
matang 5. Peralatan
selalu berkembang dan berubah 6. Memerlukan
keterampilan penyimpanan dan
keterampilan untuk
mengoperasi- kannya
Dalam arti seseorang terlebih dahulu diberi stimulus yang berupa informasi tentang upaya pencegahan penyakit sehingga menimbulkan pengetahuan yang baru dan selanjutnya menimbulkan respon batin dalam bentuk sikap pada orang tersebut terhadap informasi upaya pencegahan penyakit yang diketahuinya (Notoatmodjo, 2007).
Pengetahuan yang tercakup dalam Taksonomi Bloom domain kognitif yang telah di revisi Anderson dan Krathwohl (2001) mempunyai 6 tingkatan (Taher, 2013), yaitu :
1. Mengingat (remember), yang merupakan usaha mendapatkan kembali pengetahuan atau ingatan yang telah lampau, baik yang baru saja didapatkan maupun yang sudah lama di dapatkan.
2. Memahami/mengerti (understand), yang berkaitan dengan membangun sebuah pengertian dari berbagai sumber seperti pesan, bacaan dan komunikasi.
3. Menerapkan (apply), yang dimanfatkan suatu prosedur untuk melaksanakan percobaan atau penyelesaian masalah.
4. Menganalisis (analysis), yang merupakan memecahkan suatu permasalahan dengan memisahkan tiap-tiap bagian dari permasalahan dan mencari keterkaitan dari tiap-tiap bagian tersebut dan mencari tahu bagaimana keterkaitan tersebut dapat menimbulkan masalah.
5. Mengevaluasi (evaluation), yang berkaitan dengan proses kognitif memberikan penilaian berdasarkan kriteria dan standar yang sudah ada.
6. Menciptakan (create), yang mengarahkan seseorang untuk menghasilkan suatu produk baru dengan mengorganisasikan beberapa unsur menjadi bentuk atau pola yang berbeda dari sebelumnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan (Budiman, 2013) adalah pendidikan, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin mudah menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Selain pendidikan, ada faktor lingkungan yang mencakup sosial, budaya dan ekonomi seseorang. Usia dan pengalaman pun menjadi faktor yang mempengaruhi pengetahuan karena semakin bertambahnya usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya dalam memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi pada masa lalu.
F. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah penjelasan tentang teori yang dijadikan landasan dalam suatu penelitian serta asumsi-asumsi teoritis yang mana dari teori tersebut yang akan digunakan untuk menjelaskan fenomena yang diteliti (Dharma, 2011), sehingga kerangka teori berisi seluruh teori yang dipaparkan oleh peneliti. Berdasarkan paparan teori diatas, bahwa pencegahan TB Paru tidak berfokus pada penderita TB Paru saja, akan tetapi keluarga sebagai fokus intervensi memiliki lima tugas kesehatan keluarga. Secara ringkas, kerangka teori pada penelitian ini digambarkan pada skema 2.2.