BAB IV TINJAUAN KHUSUS
4.1 Pekerjaan Abutment
4.1.1 Pekerjaan Lantai Kerja
Setelah pondasi sumuran selesai dilakukan dengn kedalaman 3 m pekerjaan selanjutnya adalah pembuatan lantai kerja. Pada konstruksi beton bertulang yang langsung terletak di atas tanah, maka dibawahnya harus dibuat lantai keja yang rata. Untuk peletakan pondasi yang lebih rata harus diperhitungkan dengan baik dan benar. Lantai kerja ini di cor menggunakan campuran beton yang diproduksi langsung di lokasi proyek. Pembuatan lantai kerja, dan pengecoran lantai kerja langsung diawasi oleh mandor dan pelaksana jembatan tersebut.
Sehinggga dalam pengerjaan lantai kerja dapat dikerjakan ssuai dengan gambar kerja dan tidak ada pengurangan dalam tebal lantai kerja. Dalam pengecoran lantai kerja digunakan campuran nominal semen, pasir, dan kerikil (atau batu pecah).
41
Gambar 4. 1 Pengecoran Lantai Kerja
4.1.2 Pekerjaan Penulangan, Pemasangan Bekisting, dan Pengecoran
Pekerjaan penulangan pada pekerjaan abutmen ini meliputi pekerjaan penulangan untuk :
a. Pemasangan Tulangan Tapak Abutmen
Pada pekerjaan pemasangan tulangan tapak abutmen menggunakan tulangan yang berukuran D13, D16 dan D22. Semua tulangan pada tapak abutmen menggunakan tulangan baja beton ulir/diprofilkan. Tulangan dipasang membentuk bangunan persegi panjang karena kondisi tanah yang mendukung untuk bentuk pondasi tersebut. Tapak abutmen dikerjakan dengan ketinggian 0,80 m dan lebar tapak 5 m dengan panjang pondasi 9 m.
Gambar 4. 2 Penulangan Tapak
42
Gambar 4. 3 Detail Penulangan Tapak Abutment
Dalam penulangan pondasi memerlukan tulangan kait miring.
Agar saat terjadi gempa tulangan tidak mengalami pergeseran yang cukup jauh dan juga bengkokan tulangan ini dapat menerima beban optimum. Serta agar tulangan tarik pada pondasi abutmen tidak bergeser kearah yang dapat merusak beton tersebut.
b. Pemasangan Bekisting Tapak Abutment
Pemasangan bekisting dilakukan setelah penulangan pada tapak telah selesai dilaksanakan. Pemasangan bekisting dilakukan dengan tujuan untuk mempertahankan bentuk dari tapak itu senditi, juga membantu proses pada saat pengecoran atau agar beton ready mix tidak bertebaran kemana-mana.
Gambar 4. 4 Pemasangan Bekisting Tapak Abutment
c. Pengecoran Tapak Abutment
Pengecoran tapak abutment dilaksanakan ketika pemasangan bekisting telah selesai dilakukan. Pengecoran dilakukan menggunakan beton ready
43 mix yang didatangkan langsung dari batching plant. Proses pengecoran di awasi langsung oleh pelaksana proyek dan konsultan pengawas.
Pengecoran dibantu dengan menggunakan alat bantu talang yang berfungsi untuk meneruskan campuran beton dari concrete mixer ke tapak abutment. Hal yang perlu diperhatikan selama proses pelaksanaan pengecoran, beton harus dipadatkan dengan cara digetarkan menggunakan alat penggetar mekanis/vibrator. Alat penggetar dimasukkan dalam adukan beton dan alat penggetar tidak diperbolehkan berada pada satu titik selama lebih dari 30 detik, kemudian alat penggetar ditarik perlahan dan dimasukkan lagi, jarak paling sedikit 45 cm dari titik sebelumnya. Ini penting dilaksanakan agar beton tidak keropos dan didapatkan beton yang padat dan rapat
Gambar 4. 5 Pengecoran Tapak Abutment
d. Penulangan Dinding Abutmen
Penulangan pada dinding abutmen dilakukan setelah pengecoran pada tapak abutmen selesai. Dinding abutmen menggunakan tulangan dengan diameter D13, D16, dan D25. Dengan tinggi dinding abutmen 9,5 m, lebar 1,2 m, dan panjang abutmen 9 m. Pekerjaan penulangan pada dinding abutmen sangat sulit karena pada pekerjaan penulangan abutmen ini memiliki ruang kerja yang sempit. Sehingga pekerja melakukannya dengan sangat hati-hati dan harus teliti dalam memasang tulangan.
44
Gambar 4. 6 Penulangan pada Dinding Abutment
Semua pekerjaan tulangan pada abutmen menggunakan tulangan baja beton puntir. Ini dikarenakan tulangan baja beton puntir sangat kuat untuk menahan beban yang besar dan juga memiliki gaya tarik yang besar. Pada pekerjaan penulangan dinding abutmen telah sesuai dengan gambar kerja. Hanya saja ada beberapa yang tidak sesuai dengan rencana seperti pembengkokkan tulangan dinding abutment yang direncanakan/dalam gambar bengkoknya.
Gambar 4. 7 Detail Penulangan Dinding Abutment
e. Pemasangan Bekisting Dinding Abutment
Pemasangan bekisting dinding ini dipasang sesuai dengan ukuran abutment dan paling penting kokoh. Pastikan bekisting sudah di beri pelumas, pemasangan bekisting dilakukan oleh pekerja dengan perkuatan
45 bekisting menggunakan kawat yang di pasang setelah bekisting terpasang rata.
Gambar 4. 8 Pemasangan Bekisting Dinding Abutment
f. Pengecoran Dinding Abutment
Pengecoran dinding abutment dilakukan ketika pemasangan bekisting telah selesai dilakukan. Pengecoran dilaksanakan dengan mendatangkan campuran beton dari batching plant yang telah di pesan. Pada saat proses pengecoran dilakukan, para pekerja memastikan beton menyebar
keseluruh sisi badan abutment.
Gambar 4. 9 Pengecoran Dinding Abutment
g. Penulangan Wing Wall
Dalam pekerjaan abutment ini, pekerjaan penulangan pada wing wall dilakukan bersamaan dengan pekerjaan penulangan dinding abutment. Ini dikarenakan kemudahan dalam pengerjaan penulangan dinding abutment dengan penulangan wing wall dibandingkan dengan penulangan satu-satu.
46 Dalam pengerjaan penulangan wing wall tulangan menggunakan tulangan berukuran D16. Dengan tinggi wing wall 10,3 m dan lebar wing wall 5 m.
Gambar 4. 10 Penulangan Pada Wing Wall Abutment
Gambar 4. 11 Detail Penulangan Wing Wall
Pengerjaan penulangan wing wall ini telah dilakukan sesuai dengan gambar kerja, hanya saja pada pembengkokan tulangan ada yang tidak sesuai dengan gambar kerja. Ini disebabkan karena ukuran diameter yang digunakan pada penulangan Wingwall berdiameter cukup besar yaitu D16. Pada Wing wall hanya sedikit yang menggunakan tulangan ulir yang dibengkokan. Kebanyakan menggunakan tulangan yang lurus.
Sehingga dalam pengerjaannya tidak terlalu sulit. Jadi dalam pengerjaan penulangan Wingwall sudah sesuai dengan yang
47 direncanakan dalam gambar kerja. Walaupun penulangan tidak terlalu sulit kenyataan di lapangan telah menunjukkan bahwa pekerjaan penulangan sesuai dengan gambar yang direncanakan.
Pada tulangan tersebut dilakukan penyambungan menggunakan kawat yang mana fungsi dari kawat tersebut adalah untuk memperkuat antar sambungan besi tersebut. Pengerjaan ini dilakukan dengan manual yaitu diikat langsung oleh pekerja.
h. Pemasangan Bekisting Wing Wall
Pemasangan beksiting pada wing wall dilakukan sejalan dengan pemasangan bekisting pada badan abutment, dikarenakan posisi pemasangan yang berada pada bagian bawah. Bekisting ini di pasang bertahap, mengingat bahan yang digunakan untuk pemasangan bekisting ini terbatas.
Gambar 4. 12 Pemasangan Bekisting Wing Wall
i. Pengecoran Wing Wall
Pengecoran sayap abutment dilakukan dengan menggunakan bantuan alat yaitu talang. Talang ini digunakan untuk mengantarkan campuran beton dari mobil molen, agar campuran beton tersebut langsung turun ke posisi sayap abutment. Kondisi cuaca dan tinggi jatuh campuran merupakan hal yang harus diperhatikan dalam pekerjaan pengecoran ini.
48
Gambar 4. 13 Pengecoran Wing Wall
j. Penulangan Kepala Abutment
Setelah semua bagian dinding abutment dicor, pekerjaan selanjutnya adalah penulangan kepala abutment. Karena pekerjaan penulangan kepala abutment paling atas maka pada bawah kepala abutment seperti pondasi, dinding abutment harus terlebih dahulu dilakukan pengecoran. Dalam pengerjaan penulangan kepala abutment menggunakan tulangan yang berukuran D13 dan D16.
Gambar 4. 14 Penulangan Kepala Abutment
Pekerjaan penulangan kepala abutment merupakan pekerjaan yang tingkat kesulitannya agak sulit karena pada pekerjaan ini jarak antar tulangan terlalu dekat sehingga dalam pekerjaan penulangan ini membutuhkan waktu yang lumayan lama
49
Gambar 4. 15 Detail Penulangan Kepala Abutment
k. Pemasangan Bekisting Kepala Abutment
Pemasangan bekisting dilakukan ketika pekerjaan penulangan selesai dilakukan. Bekisting dipasang secara bertahap, dengan mempertimbangkan keamanan pekerja yang memasang bekisting tersebut.
Untuk pemasangan pertama dilakukan pada bagian bawah kepala abutment tersebut , dilanjutkan bagian atas dan samping sampai selesai.
Gambar 4. 16 Pemasangan Bekisting Kepala Abutment
50
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kerja praktek yang dilaksanakan pada Rehabilitasi Jembatan Lubuk Napa memberikan dan menambah ilmu pengetahuan yang tidak didapatkan di kampus.
Juga mahasiswa mampu membandingkan ilmu teori pada perkuliahan dengan ilmu yang ada dilapangan. Pengalaman yang didapat pada kerja praktek tersebut merupakan pengalaman yang akan dibawa ketika bekerja nantinya.
Beberapa alat yang digunakan pada saat pekerjaan pengecoran sayap abutment seperti: Molen dan Talangan dengan kondisi alat tersebut yang cukup baik.
5.2 Saran
Adapun saran untuk mengembangkan tugas yang dilaksanakan yaitu :
a. Ketika berada dilokasi proyek sebaiknya menggunakan perlengkapan safety yang lengkap
b. Utamakan kerja sama tim
c. Pahami prosedur atau langkah kerja yang akan dilaksanakan d. Mahasiswa/i dapat menyesuaikan diri di lokasi proyek
51
DAFTAR PUSTAKA
(https://www.google.com/search?q=petugas+k3+konstruksi+adalah&sxsrf=ALiC zsYdwOMeYwpKZ2HwO1Di798pPBzNjw%3A1662721830512&ei=Jh8 bY4n3Htyd4-
EP8OGQoAM&oq=pengertian+petugas+k3proyek&gs_lcp=Cgdnd3Mtd2l 6EAEYATIECAAQRzIECAAQRzIECAAQRzIECAAQRzIECAAQRzIE CAAQRzIECAAQ)
(https://www.tekniksipilamatir.eu.org/2017/04/pengertian-dan-tugas-pelaksana- proyek.html)
(https://www.rumah.com/panduan-properti/bekisting-48176) (https://indokontraktor.com/business/cv-seipila-agung)
(https://www.google.com/search?q=pondasi+sumuran&oq=pondasi+sumuran&aq s=chrome..69i57.2819j0j7&sourceid=chrome&ie=UTF-8)