A. Gambaran Objek Penelitian
3. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi anak Tunanetra di SMPLB-A TPA Bintoro Jember Tahun Pelajaran
dalam pengorganisasian pembelajaran alat atau media yang digunakan oleh anak tunanetra dalam pembelajaran berupa Al- Qur’an Braille contohnya dalam membaca Al-Qur’an yang digunakan sebagai media dalam materi Pendidikan Agama Islam dan buku-buku bicara yang direkam dalam bentuk CD sehingga anak tunanetra bisa mendengarkan dari rekaman buku dalam bentuk CD, buku dan rigletn sebagai alat yang digunakan untuk menulis bagi anak tunanetra dalam bentuk Braille” (Wahyono, wawancara, Jember, 29 Juli 2015).
3. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi anak
terhadap anak tunanetra yang membutuhkan kesabaran dan pelayanan secara khusus dalam proses belajar disekolah.
Langkah-langkah dalam pelaksanaan proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Menengah Pertama luar biasa diuraikan sebagai berikut.
a. Memulai pembelajaran
Dalam memulai pembelajaran Pendidikan Agama Islam peran pendidik atau guru sangatlah menentukan keberhasilan belajar anak tunanetra, sebagai mana yang telah disampaikan di dalam kutipan dibawah ini:
guru dalam memulai pembelajaran bukan hanya semata-mata menyampaikan materi pembelajaran saja, akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana seorang anak tunanetra bisa memahami materi pembelajaran yang akan diterima, mudah dipahami oleh anak tunanetra,serta meningkatkan minat belajar anak tunanetra” (Yuli, wawancara, Jember, 03 Agustus 2015).
Proses pembelajaran di Sekolah Menengah Pertama luar biasa, sesuai dengan apa yang peneliti peroleh pada saat wawancara dengan Bapak Rahman salah satu guru Pendidikan Agama Islam pada saat wawancara sebagai berikut:
saya dalam memulai pembelajaran Pendidikan Agama Islam mesti saya membuka dengan salam dan berdo’a bersama, kemudian saya memberikan apersepsi berupa motifasi,untuk anak tunanetra supaya mereka semangat dalam melakukan aktifitas belajar disekolah, biasanya saya menanyakan sudah sarapan apa belom, dan diselingi cerita dan bercanda bersama anak tunanetra (Rahman, wawancara, Jember, 04 Agustus 2015).
Dari deskripsi di atas menyatakan bahwa dalam memulai pembelajaran materi Pendidikan Agama Islam beliau mengatakan dengan membuka pembelajaran dengan salam serta berdo’a bersama anak tunanetra, serta dalam memulai pembelajaran dengan memberikan apersepsi berupa motifasi agar mereka semangat dalam melakukan aktifitas dan mengikuti pembelajaran dikelas, beliau juga mengatakan dalam memulai pembelajaran juga divariasikan canda tawa bersama anak tunanetra.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Mahmudah selaku anak tunanetra sebagai berikut:
bahwa dalam memulai pembelajaran dengan cara berdo’a bersama, materi PAI kan ada di jam terakhir pastinya anak-anak merasa jenuh akan tetapi dalam memulai pembelajaran cara yang dilakukan dengan variasi bercanda bersama dan saya merasa senang terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam karena beliau termasuk guru yang sabar dan terbuka serta humoris (Mahmudah, wawancara, Jember, 05 Agustus 2015).
Berdasarkan deskripsi diatas dapat disimpulkan bahwa dalam memulai pembelajaran bukan hanya semata-mata menyampaikan materi pembelajaran, tetapi anak tunanetra dengan mudah menyerap materi yang disampaikan dengan cara berdo’a bersama disertai salam dan memberikan apersepsi berupa motivasi divariasikan canda tawa agar mereka terdorong untuk mengikuti pembelajaran yang sedang berlangsung.
Sebagaimana pernyataan diatas diperkuat oleh observasi yang dilakukan oleh peneliti, bahwa dalam memulai pembelajaran Pendidikan
Agama Islam dengan membuka ucapan salam dan memulai pembelajaran dengan melakukan berdo’a bersama anak tunanetra.
Kemudian memberikan apersepsi dengan memotivasi anak tunanetra agar mereka terdorong dalam melakukan aktivitas belajar dikelas dengan bercerita bersama anak tunanetra sehingga membangun motivasi anak tunanetra dengan kegiatan pembelajaran berlangsung agar anak tunanetra mudah dalam memahami materi disampaikan serta beliau juga dalam memulai pembelajaran bercanda bersama anak tunanetra, karena keterbukaan dan sifat humoris beliau anak tunanetra merasa senang terdapat awal pembelajaran yang dilakukan dalam tahap memulai pembelajaran dikelas (Observasi, Jember, 05 Agustus 2015).
b. Penyampaian materi
Setelah memulai pembelajaran dilaksanakan selanjutnnya guru sebagai fasilitator dalam proses penyampaian materi yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran berlangsung. Guru juga yang memberitahukan materi yang dibahas dalam proses pembelajaran berlangsung.
Model penyampaian materi pembelajaran yang dilakukan oleh Bapak Rahman selaku guru Pendidikan Agama Islam menurut informasi beliau pada saat wawancara adalah sebagai berikut:
saya dalam penyampaian materi pembelajaran terhadap anak tunanetra dilakukan secara serius, dalam penyampaian materi tidak terlalu tegang, karena begini kalau menurut saya pribadi ketika mereka belajar dalam keadaan tegang, anak tunanetra sulit untuk menyerap materi yang akan disampaikan. Dan untuk penyampaian materi selalu ada keterkaitan dengan materi yang sebelumnya, dan
ada ulasan-ulasan terkait materi yang lalu (Rahman, wawancara, Jember, 04 Agustus 2015).
Berdasarkan deskripsi diatas dapat disimpulkan bahwasanya saat menyampaikan materi Pendidikan Agama Islam dilakukan secara serius akan tetapi dalam penyampaian materi tidak terlalu tegang karena dalam situasi yang menegangkan dalam arti suasana kelas yang kurang menyenangkan anak tunanetra sulit untuk menyerap materi ketika proses pembelajaran berlangsung. Pada saat penyampaian materi pembelajaran beliau juga melakukan keterkaitan dengan materi yang telah diajarkan serta mengulas kembali terkait materi yang telah disampaikan sebelumnya. Sebagaimana deskripsi diatas dibenarkan oleh Ibu Yuli salah satu guru Pendidikan Agama Islam sebagai berikut:
bahwasanya dalam penyampaian materi bagi anak tunanetra disesuaikan dengan kondisi dikelas, dengan menggunakan variasi bercanda tawa agar proses pembelajaran menjadi menyenangkan dan anak tunanetra mudah dalam menyerap materi yang disampaikan serta dalam penyampaian materi terdapat ulasan terkait materi yang sudah disampaikan (Yuli, wawancara, Jember, 04 Agustus 2015).
Berdasarkan apa yang disampaikan guru tersebut diperkuat oleh salah satu siswa tunanetra yang bernama Widya sebagai berikut:
bahwasanya dalam penyampaian materi PAI merasa senang terhadap penyampaian materi yang dilaksanakan, hal yang menarik dalam penyampaian materi disaat penyampaian materi dan ketika menerangkan tidak bulet langsung pada inti pembelajaran, beliau juga humoris dan terbuka terhadap anak-anak, anak tunanetra juga mengatakan dalam penyampaian materi yang terlalu tegang anak tunanetra merasa sulit dalam menyerap materi pembelajaran yang disampaikan (Widya, wawancara, Jember, 05 Agustus 2015).
Dari deskripsi data diatas dapat diketahui bahwa saat guru dalam penyampaian materi Pendidikan Agama Islam terdapat ulasan terkait materi yang telah disampaikan sebelumnya, serta dalam penyampaiannya tidak terlalu tegang dalam kondisi kelas yang menyenangkan akan tetapi dalam penyampaian materi dilakukan secara serius karena kondisi kelas yang menegangkan anak tunanetra sulit untuk menyerap materi yang disampaikan.
Adapun keterangan tersebut diperkuat oleh observasi peneliti bahwa dalam penyampaian materi terhadap anak tunanetra dilakukan dengan memberikan ulasan kembali materi yang telah disampaikan dan penyampaian materi dikelas tidak terlalu tegang karena kondisi dikelas mempengaruhi terhadap proses belajar anak tunanetra (Observasi, Jember, 05 Agustus 2015).
c. Metode pembelajaran
Metode pembelajaran merupakan suatu hal yang sangat penting dalam pelaksanaan pembelajaran agar hasil yang diharapkan dapat terlaksana. Berdasarkan hasil yang dilakukan oleh peneliti terkait metode yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran pada materi Pendidikan Agama Islam metode yang digunakan bervariasi dan penggunaan metode pembelajaran tidak dilakukan secara berulang- ulang, karena metode yang digunakan secara berulang-ulang akan mengakibatkan kejenuhan pada anak tunanetra saat proses pembelajaran
berlangsung. Lebih jelasnya, sebagaimana yang telah disampaikan di dalam data kutipan di bawah ini:
untuk metode pembelajaran PAI saya gunakan bervariasi, saya menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab dalam materi pembelajaran Pendidikan Agama Islam, serta penggunaan metode tersebut tidak dilakukan secara berulang-ulang karena akan menyebabkan kejenuhan dan kebosanaan saat pembelajaran dikelas. Biasanya saya menggunakan metode ceramah untuk menjelaskan pada anak tunanetra beberapa materi yang telah dipersiapkan sebelumnya, metode diskusi biasanya saya memberikan permasalahan untuk didiskusikan secara bersama, untuk metode tanya jawab saya gunakan setelah selesai menjelaskan materi kemudian saya melontarkan pertanyaan- pertanyaan terkait materi yang sudah dijelaskan (Rahman, wawancara, Jember, 04 Agustus 2015).
Seperti yang dijelaskan dalam pernyataan diatas, beliau menjelaskan bahwa dalam metode pembelajaran yang digunakan bervariasi, serta metode-metode yang dilakukan saat mengajar tidak dilakukan secara berulang ulang karena akan mengakibatkan proses pembelajaran yang membosankan dalam penyampaian materi dikelas.
Dan metode yang digunakan diantaranya metode ceramah, metode ini digunakan sebagai kegiatan awal untuk menyampaikan beberapa materi yang telah disiapkan sebelumnya, metode diskusi ini digunakan saat guru akan memberikan permasalahan terkait materi yang telah disampaikan,untuk metode tanya jawab digunakan setelah guru menyelesaikan materi yang sudah disampaikan dengan melontarkan beberapa pertanyaan terkait materi yang sudah di sampaikan sebelumnya.
Beberapa kutipan data wawancara sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, diperkuat oleh Ibu Yuli salah satu guru PAI bahwasanya “untuk metode pembelajaran yang digunakan bagi anak tunanetra sama halnya dengan anak awas, anak awas atau anak normal dalam metode pembelajaran menggunakan layanan secara klasikal tetapi kalau anak tunanetra tidak menggunakan secara klasikal” artinya seorang anak tunanetra membutuhkan layanan secara khusus untuk membimbingnya, untuk mengetahui tingkat pemahan materi yang sudah disampaikan serta membutuhkan kesabaran dalam mendidik anak tunanetra dalam proses pembelajaran dikelas dengan layanan secara individual (Yuli, Jember, 03 Agustus, 2015).
Apa yang disampaikan guru tersebut diperkuat oleh salah satu siswa tunanetra yang bernama Widya. Lebih jelasnya, sebagaimana yang telah disampaikan di dalam data kutipan dibawah ini:
dalam metode pembelajaran yang digunakan oleh guru Pendidikan Agama Islam, siswa mengatakan tidak membosankan sama sekali, bahkan merasa senang karena selain metode pembelajaran yang disampaikan dan metode penyampaiannya jelas serta ada keterbukaan antara pendidik dan siswanya dan juga ada sifat humoris dari guru PAI terkait proses pembelajaran yang berlangsung (Widya, wawancara, Jember, 05 Agustus 2015).
Berdasarkan paparan data diatas diperkuat oleh observasi peneliti bahwa saat guru Pendidikan Agama Islam dalam menyampaikan materi Pendidikan Agama Islam di kelas dengan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru PAI saat mengajar bervariasi, diantara metode- metode yang digunakan adalah metode ceramah, metode diskusi dan
metode tanya jawab. Dari penggunaan metode tersebut terlihat suasana kelas dalam proses pembelajaran tidak menjenuhkan bagi anak tunanetra dalam proses belajar dikelas serta tidak membosanakan selama pembelajaran berlangsung (Observasi, Jember, 05 Agustus, 2015).
d. Strategi pembelajaran
Dalam menerapkan strategi pembelajaran bagi anak tunanetra, guru harus terlebih dahulu menguasai karakteristik invidual pada anak tunanetra baik dari kemampuan berpikir dan tingkat pemahamannya.
Untuk strategi pembelajaran yang biasanya diberikan kepada anak normal berbeda dengan anak tunanetra baik dari segi materi dan alat yang digunakan serta aspek-aspek lainnya.
Para guru dalam hal menangani anak tunanetra memerlukan kemampuan untuk mengambil keputusan berkaitan dengan strategi pembelajaran yang dianggap cocok bagi anak tunanetra. Oleh sebab itu sangat diperlukan sekali pemahaman yang jelas yang berkaitan dengan strategi pembelajaran untuk mengajar anak tunanetra dengan memberikan latihan-latihan yang menyangkut banyak hal seperti posisi tubuh, tata letak dan lain sebagainya. Latihan-latihan tersebut dikenal sebagai latihan dengan pendekatan orientasi mobilitas.
Lebih jelasnya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Ibu Yuli salah satu guru PAI di dalam data kutipan di bawah ini:
strategi pembelajaran bagi anak tunanetra selain menggunakan pendekatan invidual, pendekatan baru untuk mengajar anak tunanetra dengan melalui pemberian latihan-latihan dengan pemberian latihan secara orientasi mobilitas, orientasi mobilitas
ini digunakan untuk melatih kemampuan mendengar, kemampuan bergerak, dan kemampuan tata letak” (Yuli, wawancara, Jember, 29 Juli 2015).
Berdasarkan keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa dalam strategi pembelajaran yang digunakan dengan melalui strategi pendekatan individual dengan memberikan latihan-latihan terhadap anak tunanetra karena anak tunanetra membutuhkan kemampuan untuk bisa mengetahui posisi dirinya yang berkaitan dengan objek yang terdapat di dalam ruangan, untuk meningkatkan kemampuan dalam memaksimalkan kemampuan mendengar anak tunanetra, orientasi mobilitas juga digunakan untuk melatih atau memaksimalkan kemampuan bergerak dengan kemampuan taktil atau perabanya. Dalam strategi pembelajaran bagi anak tunanetra dengan menggunkaan pendekatan individual dengan menggunakan latihan-latihan orientasi mobilitas yang bisa melatih dalam kemampuan bergerak, kemampuan mendengar, serta kemampuan memahami kondisi objek-objek yang terdapat dalam satu ruangan tertentu.
Adapun salah satu guru SMPLB-A TPA Bintoro Jember menambahkan mengenai strategi pembelajaran yang digunakan beliau mengatakan bahwa dalam strategi pembelajaran dalam materi Pendidikan Agama Islam dengan “menggunakan strategi pendekatan individual karena dilihat dari kemampuan siswa yang berbeda serta dilihat dari kemampuan setiap individu”. Artinya anak tunanetra dalam materi pembelajaran yang tidak dialami satu sama lainnya, seperti
contoh kemampuan anak yang belum lancar dalam membaca Al-Qur’an, jadi strategi pembelajaran dengan menggunakan pendekatan individual karena disesuaikan dengan kondisi siswanya (Rahman, wawancara, Jember, 04 Agustus 2015).
Berdasarkan deskripsi diatas dapat disimpulkan bahwa dalam srategi pembelajaran bagi anak tunanetra menggunkan strategi dengan pendekatan individual karena melihat kondisi kemampuan anak yang berbeda serta memberikan latihan-latihan berupa melatih dari kemampuan bergerak dan melatih kemampuan mendengarnya.
Dari observasi yang dilakukan oleh peneliti strategi yang digunakan berupa strategi pembelajaran dengan menggunakan strategi pendekatan individual dengan melihat setiap kemampuan terhadap individu anak tunanetra dengan memberikan latihan-latihan orientasi mobilitas yang digunakan untuk melatih kemampuan bergerak seperti taktil atau peraba yang dilakukan oleh tunanetra saat pembelajaran berlangsung, kemampuan memahami tata letak dan kemampuan mendengar (Observasi, wawancara, Jember, 05 Agustus 2014).
4. Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi anak Tunanetra