• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAKSANAAN PROGRAM GERAKAN NASIONAL REHABILITASI

E. Keadaan Perekonomian

V. PELAKSANAAN PROGRAM GERAKAN NASIONAL REHABILITASI

PRACIMANTORO

Pelaksanaan Program Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) di Kabupaten Wonogiri merupakan tanggung jawab Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Hutbun). Program ini telah dilaksanakan mulai tahun 2003 hingga tahun 2007 meliputi 18 kecamatan dengan luas keseluruhan 19.491 ha.

Pelaksananaan di Kecamatan Pracimantoro telah dilaksanakan sejak tahun 2003 hingga tahun 2007 meliputi 13 desa dengan luas 1.675 ha.

Program GERHAN yang dilaksanakan di Kecamatan Pracimantoro termasuk luar kawasan hutan negara. Meliputi pola intensif, dan pola model.

1. Rehabiliasi Lahan Pola Intensif

Pola intensif meliputi pembuatan hutan rakyat, pengkayaan hutan rakyat, rehabilitasi mangrove dan hutan pantai, penghijauan lingkungan. Tetapi yang dilaksanakan di Kecamatan Pracimantoro hanya pembuatan hutan rakyat.

Pelaksanaannya telah dimulai tahun 2003 hingga tahun 2007 dengan luas keseluruhan 1.600 Ha.

2. Rehabilitasi Lahan Pola Model

Pembuatan hutan rakyat sistem pot dilaksanakan pada tahun 2005 di Desa Pracimantoro, Desa Sedayu dan Desa Watangrejo yang masing-masing luasnya 25 ha.

Tabel 11. Data Pembuatan Hutan Rakyat Sistem Pot Tahun 2005

No Desa Kelompok Tani Luas (ha)

1. Watangrejo Ngudi Rejo 25

2. Pracimantoro Sumber Mulyo 25

3. Sedayu Gunung Sari 25

Total 75

Sumber Data : Data Kelompok Tani Hutan Rakyat Tahun 2005

Program GERHAN merupakan program yang bersifat topdown dari pemerintah pusat, dalam hal ini adalah Departemen Kehutanan Republik

63

64

Indonesia. Departemen Kehutanan melalui Surat Keputusan Mentri Kehutanan menetapkan petunjuk pelaksanaan yang menjadi pedoman pelaksanaan GERHAN di seluruh Indonesia.1 Pelaksanaan GERHAN di Kecamatan Pracimaroro merupakan bagian pelaksanaan GERHAN Kabupaten Wonogiri. Sehingga pelaksanaan di tingkat kecamatan hanya merupakan pelaksanaan teknis atau pelaksanaan kebijakan yang telah dibuat pemerintah kabupaten.

Pemerintah Kabupaten melalui Bupati Wonogiri mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tentang pembentukan Tim Pembina Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kabupaten Wonogiri pada setiap tahun pelaksanaan. SK tersebut berisi tentang :

1. Membentuk Tim Pembina Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kabupaten Wonogiri Tahun Anggaran pelaksanaan.

2. Menetapkan tugas Tim Pembina, yang isinya antara lain : a. Melaksanakan Sosialisasi dan Penyebarluasan informasi

b. Melakukan bimbingan teknis terhadap pelaksanaan kegiatan fisik lapang.

c. Melaksanakan pengawasan dan pengendalian.

d. Membuat laporan hasil penyelenggaraan GERHAN.

3. Menetapkan Tim Pembina bertanggungjawab dalam penyelenggaraan GERHAN di Kabupaten Wonogiri pada tahun tersebut. Dalam operasional sehari-hari Tim Pembina dapat dibantu oleh Sekretariat yang dibentuk oleh ketua Tim Pembina.

4. Biaya yang timbul akibat keputusan ini dibebankan pada sumber Dana PNBP DIPA BA 69 Lingkup Departemen Kehutanan di Kabupaten Wonogiri Tahun anggaran pelaksanaan.

Berdasarkan SK tersebut maka dibentuklah Tim Pelaksana Kegiatan GERHAN. Tim Pelaksana Kegiatan GERHAN bertugas membantu pelaksanaan tugas harian, dengan kata lain melaksanakan kegiatan teknis GERHAN.

1 Menurut Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan Bapak Agus Tri Harimulyanto Wawancara tanggal 8 November 2008

65

Kegiatan GERHAN di Kabupaten Wonogiri secara keseluruhan meliputi:

1. Kegiatan Non Fisik,yang terdiri dari a. Penyusunan Rencana Kegiatan

Kegiatan penyusunan rencana kegiatan merupakan langkah awal yang dilakukan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Wonogiri untuk menyusun proposal yang akan diajukan kepada pemerintah pusat.

Penyusunan rencana ini meliputi lahan-lahan yang akan digunakan, luasan lahan, kondisi lahan, jenis tanaman yang akan ditanam, dan sosial ekonomi petani. Pelaksanaannya dilakukan oleh personal dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan yang memiliki kemampuan di bidang perencanaan. Oleh karena itu dinas membentuk tim perencana yang beranggotakan petugas dari bagian perencanaan ditambah personal PKL yang memiliki kemampuan atau sertifikat dibidang perencanaan.2 Dari proposal yang diajukan tidak seratus persen dapat direalisasikan pemerintah pusat.

Pertimbangan anggaran menjadi dasar atas perencanaan yang yang diajukan. Sehingga setelah terdapat persetujuan dari pemerintah pusat maka pemerintah kabupaten dalam hal ini Dinas Kehutanan dan Perkebunan membuat prioritas di lahan mana saja yang akan dilaksanakan kegiatan GERHAN.3

b. Pembinaan Pengembangan Kelembagaan

Pembinaan pengembangan kelembagaan adalah bagian dari kegiatan GERHAN yang bertujuan untuk menguatkan organisasi kelompok tani yang merupakan salah satu sasaran GERHAN. Terkait pengelolaan bantuan serta menguatkan kemandirian. Keterlibatan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam kegiatan GERHAN adalah mendampingi kelompok tani, serta memberikan pelatihan-pelatihan dalam

2 Menurut PKL Kecamatan Pracimantoro Bp Sutarso,SP Wawancara tanggal 8 November 2008

3Menurut Kepala Seksi RH Bp Agus Tri Harimulyanto Wawancara tanggal 9 November 2008

66

menjalankan roda organisasi. Kegiatan pendampingan dilakukan secara berkala dengan mengadakan pertemuan-peremuan dengan kelompok tani yang terlibat. Selain dari LSM, PKL juga bertanggungjwab atas pembinaan dan pengembangan kelembagaan kelompok tani. Untuk itu PKL dalam pertemuan dengan kelompok tani selalu memeriksa perlengkapan administrasi yang dimiliki kelompok.4

c. Penyebarluasan Informasi GERHAN

Pemerintah bertanggung jawab dalam penyebarluasan informasi GERHAN. Pemerintah pusat melakukan penyebarluasan informasi melalui media cetak maupun elektronik. Departemen Kehutanan memanfaatkan jaringan internet sebagai media untuk penyebaran informasi yang utama, dengan demikian sumber informasi ini dapat digunakan sebagai rujukan bagi lembaga lain dalam menentukan kebijakan terkait pelaksanaan GERHAN. Sedangkan penyebaran informasi di tingkat kabupaten, Dinas Kehutanan dan Perkebunan melakukan penyebaran informasi dengan membuat brosur, buku dokumentasi GERHAN serta melakukan siaran pers ke media massa. Namun untuk brosur dan buku dokumentasi pendistribusiannya terbatas kepada stakeholder yang terkait.5

d. Bimbingan Teknis dan Monitoring Evaluasi

Mengingat pentingnya pengetahuan petani mengenai GERHAN maka perlu dilakukan bimbingan teknis. Bimbingan teknis dilakukan setelah terdapat sosialisasi terlebih dahulu. Bimbingan teknis meliputi pelatihan-pelatihan mengenai teknis administrasi yang perlu dilaksanakan oleh kelompok tani. Kelengkapan administrasi petani meliputi buku tamu, buku kas, buku organisasi (anggaran dasar rumah tangga organisasi) buku catatan operasional kegiatan GERHAN, buku notulen dan buku inventarisasi kelompok.6 Selain pelatihan pengelolaan administrasi petani mendapatkan pelatihan teknis GERHAN seperti teknik pembuatan

4 Menurut PKL Kecamatan Pracimantoro Bp Sutarso,SP Wawancara tanggal 8 November 2008

5 Menurut Kepala Seksi RH Bp Agus Tri Harimulyanto Wawancara tanggal 9 Nov 2008

6 Menurut PKL Kecamatan Pracimantoro Bp Mulyono,SP Wawancara tanggal 6 November 2008

67

tanaman, penyiapan lahan, pemeliharaan (pendangiran, pemupukan, pemberantasan hama) serta kegiatan-kegiatan pertanian kehutanan yang mendukung pelaksanaan GERHAN.7 Bimbingan teknis dilakukan dinas Kehutanan dan Perkebunan dibantu PKL, dalam pelaksanaannya selain dari personal dari dinas sendiri, dinas juga mengundang narasumber yang berkompetan untuk memberikan materi kepada para petani. Khusus LSM pendamping hanya memberikan dampingan kepada kelompok tani terkait pengelolaan administrasi dalam kelompok tani serta pengembangan kelompok tani. Sedangkan evaluasi dan monitoring dilaksanakan selama kegiatan berlangsung. Hal ini dimaksudkan agar setiap kegiatan yang berjalan dapat dioptimalkan dan mencapai sasaran. Evaluasi dilaksanakan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan dengan melakukan kunjungan langsung ke lapang. Dinas Kehutanan dan Perkebunan juga membuat laporan kepada Departemen Kehutanan sebagai laporan perkembangan GERHAN. Petani tidak dibebankan membuat laporan pembuatan tanaman GERHAN, maupun dalam pelaksanaan pemeliharaan namun hanya bertanggung jawab pada penggunaan bantuan yang telah diberikan kepada kelompok tani baik uang maupun barang dalam bentuk surat pertanggungjawaban (SPJ) kepada Dinas Kehutanan dan Perkebunan sekaligus SPJ ini sebagai syarat untuk pencairan bantuan selanjutnya.

Dalam GERHAN terdapat Lembaga Penilai Independen (LPI) yang ditunjuk untuk melakukan penilaian terhadap hasil pelaksanaan GERHAN, baik kelembagaan hasil penanaman maupun pemeliharaan hasil kegiatan GERHAN.8

2. Kegiatan Fisik

a. Pemeliharaan Tanaman Hutan Rakyat b. Pembuatan Tanaman Hutan Rakyat

7 Menurut PKL Kecamatan Pracimantoro Bp Sutarso,SP Wawancara tanggal 8 November 2008

8 Menurut Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan Bapak Agus Tri Harimulyanto Wawancara tanggal 9 November 2008

68

GERHAN di Kecamatan Pracimantoro meliputi lahan seluas 1750 Ha yang telah dilaksanakan mulai tahun 2003 hingga tahun 2007.

Adapun pelaksanaan tiap tahun adalah sebagai berikut:

Pembuatan hutan rakyat pada tahun 2003 meliputi 9 desa dengan luas keseluruhan 475 ha. Pada tahun 2003 tidak dilakukan evaluasi LPI (Lembaga Penilai Independen), namun Dinas Kehutanan dan Perkebunan tetap melakukan evaluasi dan monitoring perkembangan tanaman. Hasil evauasi pelaksanaan pemeliharaan tanaman tahun 2003 menunjukkan bahwa pelaksanaan pemeliharaan belum optimal. Menurut Kepala Bidang Rehabilitasi Hutan, Drs Agus Tri Harimulyo bahwa pelaksanaan pemeliharaan yang belum optimal dikarenakan tingkat pengetahuan serta pengalaman yang masih kurang dari kelompok tani. tahun 2003 merupakan tahun pertama pelaksanaan GERHAN.

Tahun 2004 dilaksanakan dengan luas lahan sebesar 400 ha yang terdiri dari 11 desa. Hasil Evaluasi Pelaksanaan GERHAN Kabupaten Wonogiri (2004) menunjukkan prosentase tumbuh sebesar 74,56% dengan sebanyak 77,65% tanaman sehat. Sedangkan rata-rata tinggi tanaman adalah 101,35 cm. Terjadi peningkatan prosentase tumbuh dan penurunan prosentase kematian seiring dengan meningkatnya pengetahuan serta pengalaman petani.

Tahun 2005 dilaksanakan dengan melibatkan 4 desa dengan luas total 100 ha. Hasil Evaluasi Pelaksanaan GERHAN Kabupaten Wonogiri (2005) menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan pada peningkatan prosentase jumlah tanaman hidup antara 85% hingga 88%. Sedangkat tingat prosentase tanaman sehat mencapai 90%.

Masalah-masalah yang sering muncul saat pemeliharaan tanaman sudah dapat diatasi oleh petani. Antara lain masalah-masalah tersebut adalah kekeringan, gangguan hama. Petani menggunakan batang bambu untuk menyimpan air, setiap tanaman mendapatkan satu bambu yang sudah dilubangi pada bagian bawahnya yang

69

memungkinkan air mengalir sedikit-demi sedikit sehingga air tidak akan langsung habis.9

Tahun 2006 dilaksanakan dengan melibatkan 1 desa dengan luas lahan 25 ha. Hasil Evaluasi Pelaksanaan GERHAN Kabupaten Wonogiri (2006) menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya.

Prosentase tanaman yang hidup mencapai 93,13% dengan tingkat kesehatan sebesar 93,51%. Tingkat pengetahuan petani mengenai teknik pemeliharaan berdampak pada tingkat pertumbuhan maupun prosentase tanaman hidup.10

Tahun 2007 dilaksanakan dengan melibatkan 8 desa dengan luas lahan sebanyak 700 ha. Hasil Evaluasi Pelaksanaan GERHAN Tahun 2007 menunjukkan hasil yang tidak jauh berbed dengan tahun sebelumnya. Prosentase tanaman tumbuh berkisar antara 80% hingga 89%. Sedangkan prosentase jumlah tanaman sehat berkisar antara 89,9% hingga 96,3%. Dari angka tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan penanaman serta pemeliharaan yang dilakukan oleh petani berhasil.

Secara umum pelaksanaan GERHAN di Kecamatan Pracimantoro mendapatkan predikat berhasil. Hasil evaluasi yang dilaksanakan setiap tahun menunjukkan peningkatan. Menurut PKL (Petugas Kehutanan Lapang) Kecamatan Pracimantoro Bapak Sutarso bahwa petani sangat bersungguh-sungguh dalam melakukan pemeliharaan tanaman, serta dukungan dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan yang maksimal membuahkan hasil yang optimal.

9 Menurut PKL Kecamatan Pracimantoro Bp Sutarso,Sp Wawancara tanggal 7 November 2008

10 Menurut Kepala Seksi Rehabilitasi Hutan Bapak Agus Tri Harimulyanto Wawancara tanggal 9 November 2008

70 No Desa Kelompok

Tani

Tahun dan Luas Lahan Total 2003

(ha)

2004 (ha)

2005 (ha)

2006 (ha)

2007 (ha)

1. Lebak Sari Mulyo 50 50

Jati Murni 25 25

2. Wonodadi Ngudi Subur 50 50 100

Ngudi Mulyo 50 50

Ngudi Makmur

25 25

3. Glinggang Sumber Rejeki

50 50

Amrih Subur 50 50

Amrih Mulyo 50 50

Maju Utomo 50 50

4. Gebang harjo Siti Mulyani 50 50

Tuwuh Sejati 25 25

5. Pracimantoro Sumber Mulyo

50 25 75

6. Joho Margo

Mulyo

50 50 100

Marsudi Mulyo

50 50 Murih

Raharjo

50 50

7. Petirsari Tani Mulyo 50 50

Sari Tani 50 50

Ngudi Rejeki 50 50

Ngudi Mulyo 50 50

8. Watangrejo Manggolo Sari

50 50

Ngudi Subur 25 25

Ngudi Rejo 25 50 75

Ngudi Mulyo 50 50

Bumi Lestari 25 25

9. Gambirmanis Ngudi Raharjo

75 25 125

Ngudi Makmur

25 25

Tani Makmur 50

10. Tubokarto Langgeng Jati

25 25

Sedyo Mulyo 50 50

11. Sumberagung Ngudi Lestari 50 50

Sari Bumi 50 50

12. Gedhong Ngudi 50 50

71

Tabel 12. Data Pelaksanaan GERHAN Tahun 2003 Hingga Tahun 2007

Sumber: Buku Dokumentasi GERHAN 2003-2007 Dinas lingkungan Hidup Pertambangan dan Kehutanan

VI. POLA KOMUNIKASI DALAM GERAKAN NASIONAL REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DI KECAMATAN

PRACIMANTORO

Komunikasi yang ada dalam pelaksanaan program GERHAN terjadi pada seluruh tahapan pelaksanaan program, yaitu sosialisasi, pembuatan tanaman dan pemeliharaan, serta bimbingan teknis. Berdasarkan pengamatan peneliti pola komunikasi yang ada meliputi bentuk-bentuk komunikasi sebagai berikut:

1. Komunikasi Massa

Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonym melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat (Rahmat, 2005). Kegiatan GERHAN di Kecamatan Pracimantoro meliputi kegiatan teknis pembuatan tanaman serta pemeliharaan.

Tidak terdapat perumusan kebijakan di tingkat kecamatan. Pelaksananya adalah Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Wonogiri, Petugas Kehutanan Lapang Kecamatan Pracimantoro, serta kelompok tani yang dilibatkan dalam Gerhan 2003-2007.

Sesuai dengan definisi komunikasi massa, maka komunikasi massa yang ditemukan dalam pelaksanaan GERHAN di Kecamatan Pracimantoro terjadi pada peristiwa komunikasi pengaksesan situs GERHAN, Departemen Kehutanan, situs BPDAS Solo oleh petugas Dinas Kehutanan dan Perkebunan

Rindang

Ngudi Subur 50 50

13. Sedayu Gunung Sari 25 25

Total 475 400 100 25 700 1.700

72

, serta siaran pers Dinas Kehutanan dan Perkebunan melalui pemerintah Kabupaten Wonogiri.

Berdasarkan tabel 13 terdapat tiga peristiwa komunikasi massa. Ketiga peristiwa tersebut melibatkan Departemen Kehutanan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Wonogiri dan BPDAS Solo. Peristiwa komunikasi tersebut merupakan peristiwa utama dalam kegiatan GERHAN di Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri.

Peristiwa komunikasi pertama melibatkan sumber Deparemen Kehutanan. Isi pesannya mengenai perkembangan kegiatan GERHAN yang meliputi luasan lahan penanaman, lokasi-lokasi kegiatan GERHAN, dan kebijakan pemerintah mengenai GERHAN. Saluran yang digunakan ialah internet, media cetak nasional Kompas. Pesan tersebut ditujukan kepada masyarakat luas, termasuk Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Wonogiri.

Peristiwa komunikasi ke dua melibatkan sumber Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Solo. Isi pesan berupa perkembangan kegiatan GERHAN di wilayah DAS Solo termasuk di dalamnya Kecamatan Pracimantoro Kabupaten Wonogiri, penyampaian informasi pelaksanaan GERHAN di Kecamatan Pracimantoro sudah termasuk dalam laporan yang dihimpun oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Wonogiri. Dari laporan tersebut, oleh Balai Pengamatan Daerah Aliran Sungai Bengawan Solo dipublikasikan melalui situs resminya www.bpdas- bengawansolo.net.

Selain untuk pengaksesan maupun pempublikasian pelaksanaan GERHAN di Kecamatan Pracimantoro. Penggunaan media massa bertujuan untuk mendapatkan informasi-informasi yang terkait dengan materi-materi penunjang pelaksanaan penanaman maupun pemeliharaan. Lebih spesifik, materi mengenai teknik budidaya tanaman keras, teknik konservasi lahan, dan teknik pembenihan serta materi lain yang relevan dengan GERHAN. Tidak ditemukan petani yang khusus mengakses media massa terkait pencarian infomasi pelaksanaan GERHAN. Diakui bahwa petani hanya mengandalkan

71

73

informasi yang diberikan PKL maupun petugas dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan.11

Tidak terdapat umpan balik (feedback) pada peristiwa komunikasi massa. Pola komunikasi massa digunakan untuk mempublikasikan informasi sebagai usaha sosialisasi kegiatan GERHAN kepada masyarakat.

Di Kecamatan Pracimantoro telah terdapat jaringan yang memungkinkan untuk mengakses media massa elektronik maupun cetak.

Dengan demikian setiap petani di Pracimantoro memiliki kesempatan untuk mengakses informasi melalui media massa. Namun petani masih jarang menjadikan media massa sebagai sumber informasi12. Masyarakat petani mengandalkan informasi yang berasal dari PKL, petugas Dinas Kehutanan dan Perkebunan maupun dari sesama petani lain.

Petani yang memiliki kesadaran untuk mengakses media massa masih rendah jumlahnya. Hanya petani yang banyak melakukan kunjungan ke kantor kecamatan atau ke kantor dinas kabupaten saja yang lebih sering mengakses media massa.

11 Menurut PKL Kecamatan Pracimantoro Bp Sutarso,SP (Wawancara 7 November 2008 ) “Petani biasanya mengandalkan informasi dari petugas mas, maupun dari petani lain...”

Menurut PKL Kecamatan Pracimantoro Bp Mulyono,SP (Wawancara 7 November 2008)

“Masyarakat sini masih kecil minatnya sama koran mas, lebih suka komunikasi langsung dengan PKL atau teman petani yang lain..kalo ada ya paling hanyaa beberapa saja”

12 Menurut PKL Kecamatan Pracimantoro Bapak Mulyono,SP (Wawancara tanggal 7 November 2008)

Departemen

Kehutanan RI BPDAS SOLO

Dishutbun Wonogiri Masyarakat

Petani

Kecamatan MEDIA MASSA

Masyarakat Luas

74 Keterangan :

: Aliran informasi : Akses informasi

Gambar 4. Bagan Model Komunikasi Massa dalam GERHAN di Kecamatan Pracimantoro

75

76

Informasi yang dicari beragam, petani lebih tertarik mengenai informasi dunia pertanian, baik kebijakan maupun teknologi pertanian. Petani tidak mengakses secara langsung mengenai perkembangan kebijakan maupun perkembangan pelaksanaan GERHAN di media massa13.

Dari paparan tersebut diketahui penggunaan pola komunikasi massa dilakukan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan untuk menyebarluasan informasi GERHAN, maupun untuk memperoleh informasi GERHAN dari Departemen Kehutanan melalui media cetak maupun intenet. Penggunaan media massa oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan dapat menyebarkan informasi secara serentak, lebih cepat dan dapat meliputi khalayak luas.

Komunikasi massa dilakukan oleh pemerintah kabupaten melalui siaran pers pada situs resmi pemerintah Kabupaten Wonogiri terkait dengan pelaksanaan GERHAN. Siaran pers tersebut berisi informasi perkembangan terakhir pelaksanaan GERHAN di Wonogiri. Sekaligus himbauan kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam program GERHAN. Media massa digunakan sebagai alat untuk menyampaikan informasi juga sekaligus digunakan untuk mendapatkan informasi. Personal dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan memanfaatkan jaringan internet sebagai sarana mendapatkan informasi yang berhubungan dengan pelaksanaan GERHAN. Penyusunan materi sosialisasi, materi pelatihan pun beberapa didapatkan dari mengakses internet. Antara lain mengenai bududaya tanaman jati, sistem tanam, mengatasi bahaya kekeringan serta bahan-bahan lain yang menunjang kegiatan sosialisasi. Sebagai penunjang telah disediakan sarana untuk mengakses internet. Tiga set komputer berada di dalam kantor Dinas

13 Menurut PKL Kecamatan Pracimantoro Bapak Sutarso,SP (Wawancara 8 November 2008) “yang Saya tahu,petani kalo baca Koran kalo ketemu Koran saja, dan yang dibaca ya yang umum-umum saja itu,sekedar hiburan, kalo ada ya tentang dunia pertanian,perkembangan teknologi,kebijakan pupuk,biasanya itu”

Menurut Bapak Sutino Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur Gambir Manis wawancara tanggal 5 November 2008 “saya tidak pernah beli Koran mas, paling kalo ada teman yang punya saja, saya lebih tertarik tentang pertanian”

Menurut Bapak Katiran Ketua Kelompok Tani Gunungsari Sedayu “kalo lagi pingin baca saja mas,tidak setiap hari, yang dibaca ya hanya itu-itu saja,lebih seneng brita dunia pertanian mas.”

77

Kehutanan dan Perkebunan, ruang kehutanan. Ketiganya telah tersambung dengan jaringan internet, dengan fasilitas tersebut petugas dapat bergantian untuk menggunakan fasilitas tersebut.

Komunikasi massa pada dasarnya memiliki fungsi sebagai penyampai informasi masyarakat luas. Komunikasi massa mengandalkan media massa yang memiliki cakupan masyarakat luas. Komunikasi massa memungkinkan informasi dari institusi publik tersampaikan kepada masyarakat secara luas dalam waktu cepat sehingga fungsi informatif tercapai dalam waktu cepat dan singkat (Bungin, 2006).

Media massa yang digunakan adalah website permerintah Kabupaten Wonogiri, media cetak Solo Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat. Media ini dapat menjangkau masyarakat di seluruh eks-karisidenan Surakarta dan Provinsi Jogjakarta. Termasuk wilayah Kecamatan Pracimantoro di mana Kecamatan Pracimantoro merupakan salah satu wilayah yang mendapatkan bantuan GERHAN.

Penggunaan media massa oleh pemerintah Kabupaten Wonogiri sudah tepat dan efektif, mengingat sasaran dari komunikasi tersebut adalah masyarakat luas. Pemerintah bermaksud menyampaikan pesan bahwa telah dilaksanakan kegiatan GERHAN di Kabupaten Wonogiri, serta mengajak masyarakat luas untuk dapat menyadari arti pentingnya usaha menjaga kehijauan lingkungan. Hasil pola komunikasi massa yang dilakukan Departemen Kehutanan maupun Dinas Kehutanan dan Perkebunan menunjukkan bahwa masyarakat khususnya petani di kecamatan Pracimantoro telah memiliki kesadaran untuk memanfaatkan lahan yang dimilikinya dengan menanam tanaman kayu-kayuan sebagai bentuk kesadaran masyarakat dalam menghijaukan lahan, dan meningkatkan kesejahteraan melalui kegiatan GERHAN.

2. Komunikasi Organisasi

Program GERHAN merupakan program yang terstruktur sehingga dalam melaksanakannya diperlukan sebuah pengorganisasian. Untuk

78

mengorganisasi mutlak memelukan komunikasi diantara anggota organisasi untuk dapat menjalankan tugas maupun fungsi masing-masing. Dengan demikian tujuan organisasi dapat dicapai.

Chester Barnard dalam Hardjana (2000) menyimpulkan bahwa dalam setiap teori organisasi yang tuntas dan menyeluruh. Komunikasi menempati tempat sentral, karena struktur, keluasan jangkauan, dan ruang lingkupnya hampir seluruhnya ditentukan oleh teknik-teknik komunikasi. Bahkan spesialisasi dalam organisasi muncul dan dipelihara karena tuntutan komunikasi. Demikian juga organisasi pelaksana program GERHAN, komunikasi menjadi sentral dan roda organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Seluruh organisasi kelompok tani tidak terlepas dari komunikasi antara anggota-anggota di dalamnya. Komunikasi ini merupakan komunikasi organisasi. Komunikasi yang mutlak diperlukan untuk menjalankan roda organisasi. Komunikasi organisasi bersifat formal dan informal (Deddy Mulyana, 2007). Komunikasi organisasi yang bersifat formal meliputi komunikasi yang mengikuti struktur organisasi. Sedangkan komunikasi yang bersifat informal meliputi komunikasi di luar struktur organisasi, bersifat lebih bebas dan tidak terpancang pada hierarki organisasi.

Salah satu sasaran GERHAN adalah menciptakan kelembagaan petani yang mandiri dan mampu berswadaya dalam mengelola hasil kegiatan GERHAN maupun dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Pengembangan kelembagaan merupakan salah satu kegiatan yang dilaksanakan dengan sasaran kelompok tani. kegiatan pengembangan kelembagaan meliputi pelatihan maupun pendampingan kelompok tani. Dalam penelitian ini akan dibahas komunikasi yang terdapat di Dinas Kehutanan dan Perkebunan dan Kelompok Tani.

a. Dinas Kehutanan dan Perkebunan

Organisasi yang terlibat dalam pelaksanaan GERHAN terdapat di setiap tingkat. Di tingkat kabupaten terdapat Dinas Kehutanan dan Perkebunan yang merupakan penanggung jawab tingkat kabupaten.

79

Sedangkat di tingkat kecamatan terdapat organisasi penyuluh kehutanan yang membantu melaksanakan kegiatan GERHAN. Petugas Kehutanan Lapang (PKL) bertugas mendampingi petani selama kegiatan berlangsung sesuai dengan intruksi yang diberikan. Di Kecamatan Pracimantoro terdapat 2 PKL. Setiap PKL memiliki wilayah berbeda untuk mencakup seluruh kawasan Kecamatan Pracimantoro.

Organisasi Dinas Kehutanan dan Perkebunan dipimpin oleh seorang kepala dinas. Kepala dinas bertanggung jawab atas kinerja dinas langsung kepada Bupati Wonogiri. Dibawah strukturnya terdapat sekretariat yang bertugas sebagai penanggung jawab mengenai tugas kesekretariatan. Sekretariat dibagi menjadi tiga sub bagian, yaitu sub bagian perencanaan dan pelaporan, sub bagian keuangan, dan sub bagian umum dan kepegawaian. Selain sekretariat juga terdapat dua bidang dibawah kepala dinas. Bidang Kehutanan bertanggung jawab mengenai kehutanan, terdiri dari tiga seksi, yaitu seksi rehabilitasi hutan dan lahan, seksi pemanfaatan dan peredaran hasil, dan seksi penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat. Bidang yang terakhir adalah bidang perkebunan. Seperti halnya bidang yang lain, bidang perkebunan dibagi menjadi tiga seksi. Seksi produksi, seksi pengembangan dan teknologi budaya, serta seksi pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Kelompok Jabatan Fungsional (KJF) yang merupakan wadah bagi Penyuluh Kehutanan Lapang (PKL) juga masuk dalam struktur Dinas Kehutanan dan Perkebunan. Tidak seperti bidang maupun kesekretariatan yang memiliki kepala bidang maupun kepala sekretariatan. KJF dipimpin oleh koordinator. PKL setiap kecamatan langsung bertanggung jawab kepada kepala dinas. Hubungan dengan bagian lain dari struktur adalah koordinasi.

Penyuluh Kehutanan Lapang berkedudukan di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Wonogiri. Jumlah PKL di setiap kecamatan antara 2-5 orang. Sedangkan di wilayah Kecamatan Pracimantoro terdapat 2

Dokumen terkait