Sebelum membuat pelaporan hasil penilaian, pendidik melakukan kegiatan yang meliputi (1) menghitung/menetapkan nilai mata pelajaran dari berbagai macam penilaian (hasil ulangan harian, tugas-tugas, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester atau ulangan kenaikan kelas); (2) melaporkan hasil penilaian mata pelajaran dari setiap peserta didik pada setiap akhir semester kepada pimpinan satuan pendidikan melalui wali kelas atau wakil bidang akademis dalam bentuk nilai prestasi belajar (meliputi aspek pengetahuan, praktik, dan sikap) disertai deskripsi singkat sebagai cerminan kompetensi yang utuh; (3) memberi masukan hasil penilaian akhlak kepada guru pendidikan agama dan hasil penilaian kepribadian kepada guru pendidikan kewarganegaraan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhir semester akhlak dan kepribadian peserta didik; serta (4) pendidik yang menilai ujian praktik melaporkan hasil penilaiannya kepada pimpinan satuan pendidikan melalui wakil pimpinan bidang akademik (kurikulum).
Aspek yang dilaporkan pendidik mencakup penilaian hasil dan penilaian proses. Penilaian hasil mencakup semua kompetensi dasar yang terdapat pada standar isi. Hasil belajar adalah kompetensi yang dicapai peserta didik setelah melalui proses pembelajaran. Kompetensi adalah kemampuan dan keterampilan yang terefleksi pada cara berpikir, bertindak, dan berperilaku.
Kompetensi memiliki tiga domain kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Ketiganya menjadi objek penilaian hasil belajar. PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 64 ayat (1) menjelaskan bahwa penilai hasil belajar dilakukan melalui ulangan harian (UH), ulangan tengah semester, ulangan semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sekolah bisa menentukan berapa kali ulangan harian (UH), misalnya dilakukan minimal dua kali dalam satu semester di samping ulangan tengah semester dan ulangan semester. Pada masing-masing tahapan tersebut, penilaian dilakukan lengkap untuk ketiga aspeknya.
Penilaian ranah kognitif mengacu pada kompetensi dasar dan indikator yang dirumuskan guru berdasarkan pesan/amanat yang terkandung pada setiap KD. Kompetensi dasar yang sudah tuntas pada ujian tahap pertama (UH 1) tidak diujikan lagi pada ujian tahap kedua (med smt atau UH 2). Itu artinya setiap guru telah merencanakan KD apa-apa saja yang diujikan pada UH 1, di med semester, dan di UH 2, kemudian di ujian semester dapat diuji kembali semua kompetensi pada semester tersebut.
Dalam PP Nomor 19 Tahun 2005, peran penilaian proses dengan penilai hasil belajar berposisi setara hanya dibatasi oleh tanda koma. Dalam dunia pendidikan, tidak ada yang namanya hasil belajar apabila tidak melalui proses belajar. Setiap guru harus melaksanakan penilaian proses setiap kali ia melaksanakan kegiatan tatap muka. Aspek yang dinilai dalam penilaian proses antara lain adalah keterlibatan siswa dalam proses yang artinya sejauh mana siswa tersebut melibatkan diri, pikiran, perasaan, dan fisiknya dalam mengikuti proses belajar. Kemudian juga dinilai aspek afektif (keaktifan dan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang ditemukan dalam proses belajar). Hasil penilaian proses ini perlu dilaporkan kepada keluarga.
Pelaksanaan penilaian proses belajar dapat dilakukan melalui pengamatan dan penilaian bukti autentik proses belajar. Jika melakukan penilaian melalui pengamatan, fokus penilaian dilakukan terhadap keterlibatan anak dalam proses belajar. Misalnya, jika ia tidak hadir, pasti nilainya tidak ada. Akan tetapi, jika ia minta izin keluar sewaktu proses berlangsung atau mengerjakan tugas lain sewaktu dalam proses pembelajaran, tentu keterlibatannya akan sangat kurang. Mungkin juga fisiknya hadir, sementara pikirannya tidak atau ia hadir, tetapi tidak mau terlibat dalam kegiatan proses. Kondisi-kondisi seperti inilah yang dimaksud dengan keterlibatan dalam proses. Pada penilaian proses, juga diamati aspek afektif siswa yang berupa keaktifan dan kreativitas dalam proses, keberanian berpendapat, kritis, kerja sama, dan tanggung jawab. Penilaian proses mengamati apakah siswa mau bertanya,
kemudia jika ditanya, ia mau menjawab atau memiliki ide-ide yang brilian dalam memecahkan masalah yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung.
Penilaian proses dapat juga dilakukan melalui penilaian bukti autentik proses pembelajaran. Banyak hal yang merupakan bukti autentik keterlibatan aktif seorang peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran, di antaranya konstruk-konstruk pengetahuan yang dihasilkan peserta didik selama ia mengikuti proses pembelajaran. Konstruk pengetahuan ini dapat dilihat pada catatan, kesimpulan, bagan-bagan, simbol-simbol, dan konstruk lainnya sebagai bukti keterlibatannya dalam proses. Dapat juga dijadikan bukti autentik proses latihan-latihan selama proses, seperti kuis, game, pelaksanaan tugas-tugas terstruktur, tugas-tugas tidak terstruktur, dan lain- lainnya.
Aspek-aspek sikap yang dinilai disepakati dalam rapat dewan guru pada setiap semesternya dapat berbeda berdasarkan kesepakatan. Demikian juga dengan standar ketuntasannya ditetapkan berdasarkan kesepakatan dalam rapat dewan guru. Penilaian afektif dilakukan melalui pengamatan oleh guru setiap kali proses pembelajaran berlangsung, siapa yang harus melaporkan dan kepada siapa hasil dilaporkan. Jenis laporan ditinjau dari segi pelaku yang membuat laporan dicontohkan berikut. Amati paparan berikut.
Pelaporan hasil penilaian disajikan dalam bentuk profil hasil belajar peserta didik. Pada tahap pelaporan hasil penilaian, pendidik melaporkan hasil penilaian mata pelajaran dari setiap peserta didik pada setiap akhir semester kepada pimpinan satuan pendidikan melalui wali kelas atau wakil bidang akademik dalam bentuk satu nilai prestasi belajar sebagai cerminan kompetensi utuh mata pelajaran dan dilengkapi dengan deskripsi singkat serta memberi masukan hasil penilaian akhlak peserta didik kepada guru pendidikan agama dan hasil penilaian kepribadian kepada guru pendidikan kewarganegaraan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhir semester akhlak dan kepribadian peserta didik.
Pelaporan hasil penilaian oleh satuan pendidikan dilakukan dengan kegiatan melaporkan hasil penilaian untuk semua mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk laporan hasil belajar (rapor). Bagi orang tua, laporan ini dapat dimanfaatkan untuk membantu dan memotivasi anaknya untuk belajar. Satuan pendidikan juga melaporkan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan lengkap dengan nilai yang dicapai kepada orang tua/walinya. Satuan pendidikan juga
melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan setiap tahun kepada dinas pendidikan kabupaten/kota.
Pelaporan hasil penilaian oleh pemerintah dilakukan untuk memetakan pendidikan di Indonesia. Pemerintah menyampaikan laporan hasil analisis UN kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Kegiatan pelaporan hasil penilaian diawali dengan melakukan interpretasi hasil penilaian meliputi ulangan harian, tugas, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester, selanjutnya menyusun laporan hasil penilaian. Laporan hasil penilaian dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas publik.