• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengolahan dan Pelaporan Hasil Penilaian

N/A
N/A
اريني اريني

Academic year: 2024

Membagikan "Pengolahan dan Pelaporan Hasil Penilaian"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

Pengolahan dan Pelaporan Hasil Penilaian

Dra. Ida Lestari, M.Pd.

A. MANFAAT DAN RELEVANSI

Pada modul terdahulu, Anda telah belajar pengertian, prinsip, serta perencanaan alat pengumpulan data dalam rangka mengevaluasi hasil dan proses pembelajaran. Pengolahan hasil ujian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perencanaan dan proses pembelajaran pada umumnya sebab efektivitas kegiatan pembelajaran salah satunya diwarnai oleh efektivitas pengolahan hasil ujian itu sendiri. Kegiatan pembelajaran akan dipandang efektif jika didukung oleh kegiatan pengolahan hasil belajar yang efektif pula. Sayangnya, masih ada guru yang melakukan pengolahan hasil ujian secara asal-asalan, sekadar untuk bukti bahwa mereka mampu memberi nilai kepada murid-muridnya.

Sehubungan dengan kegiatan pengolahan hasil ujian itu, ada tiga pekerjaan pokok yang seharusnya dilakukan guru, yaitu tahap koreksi, tahap pemberian nilai, dan tahap penentuan kedudukan siswa dalam kelompoknya.

Ketiga pekerjaan ini sangat menuntut ketekunan dan kesadaran yang tinggi dari setiap guru selaku evaluator.

Pada bagian modul ini, Anda akan belajar menganalisis data yang telah dikumpulkan dan menafsirkannya sesuai dengan tujuan penilaian. Salah satu tugas guru dalam evaluasi adalah melakukan analisis dan penafsiran terhadap hasil pengukuran ataupun penilaian. Pada Kegiatan Belajar 1, Anda akan belajar (a) pengertian pengolahan, (b) tujuan pengolahan, (c) prinsip pengolahan, (d) pendekatan pengolahan dan prosedur pengolahan nilai, (e) contoh penganalisisan dan penafsiran hasil penilaian yang berupa tes (esai ataupun objektif), serta (f) praktik penganalisisan dan penafsiran hasil penilaian berdasarkan ketuntasan.

PEN DA HUL UA N

(2)

Pada Kegiatan Belajar 2, Anda akan belajar (a) tujuan dan prinsip pelaporan, (b) pengolahan, serta (c) tujuan pengolahan.

Setelah mempelajari modul ini, secara umum Anda diharapkan dapat berlatih mempraktikkan penyekoran dan penafsiran hasil penilaian. Secara khusus, setelah mempelajari modul ini, diharapkan Anda mampu menguasai hal-hal berikut.

1. Mahasiswa mampu menjelaskan tujuan, prinsip, dan pendekatan pengolahan hasil (penentuan kualitas).

2. Mahasiswa mampu menjelaskan langkah penganalisisan dan penafsiran hasil penilaian yang berupa tes (esai ataupun objektif), penilaian unjuk kerja, portofolio, serta penilaian proses yang berupa deskripsi munculnya perilaku.

3. Mahasiswa mampu menjelaskan tujuan dan prinsip pelaporan hasil penilaian.

4. Mahasiswa mampu menjelaskan bentuk-bentuk pelaporan hasil penilaian.

B. DESKRIPSI/CAKUPAN MATERI MODUL

Modul ini penting dipelajari sebagai bekal untuk merencanakan penyusunan alat penilaian menyimak. Modul ini penting dipelajari karena dengan memahami prinsip penilaian menyimak, seorang guru dapat menyusun alat penilaian menyimak secara tepat.

Materi yang akan Anda pelajari mencakup (1) konstruk kemampuan menyimak dan sasaran penilaian menyimak serta (2) ragam kemampuan menyimak dan alat penilaiannya.

C. SUSUNAN KEGIATAN PEMBELAJARAN

Kegiatan pembelajaran terdiri atas lima tahap. Tahapan pembelajaran dalam modul ini dilakukan dengan urutan berikut.

Kegiatan Belajar 1: pendekatan dalam penilaian kemampuan menyimak, konstruk kemampuan menyimak, serta contoh penilaian menyimak yang sesuai dengan konstruk dan yang tidak sesuai dengan konstruk.

(3)

Kegiatan Belajar 2: ragam tingkatan kemampuan menyimak contohnya alat penilaian hasil dalam pembelajaran menyimak, alat penilaian proses dalam penilaian menyimak penilaiannya, serta perencanaan penilaian hasil dan proses dalam pembelajaran menyimak.

(4)

KEGIATAN BELAJAR 1

Pengolahan Hasil Penilaian

engolahan hasil ujian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perencanaan dan proses pembelajaran pada umumnya. Bacalah dengan saksama paparan berikut!

A. PENGERTIAN DAN TUJUAN PENGOLAHAN HASIL PENILAIAN

Pengertian pengolahan adalah pemberian nilai dengan cara menerjemahkan informasi deskriptif ke dalam angka atau simbol lain yang menunjukkan kualitas kinerja siswa. Setelah diperoleh skor, kemudian diolah dengan cara dibandingkan kriteria tertentu. Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 menyebutkan bahwa penilaian pendidikan adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Dengan demikian, ada dua substansi penting yang harus dicermati pendidik dalam konteks penilaian, yaitu proses pengumpulan dan proses pengolahan. Pengumpulan hasil belajar siswa dilakukan melalui ulangan, baik ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, maupun ulangan kenaikan kelas.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian pendidik belum melaksanakan proses pengumpulan dan pengolahan hasil belajar dengan baik dan benar. Terdapat sinyalemen bahwa dalam proses pengumpulan dan pengolahan hasil belajar siswa, pendidik tidak mencermati kompetensi dasar dan indikator. Akibatnya, pendidik kesulitan dalam menyimpulkan keberhasilan pencapaian kompetensi dasar. Oleh karena itu, diperlukan desiminasi yang berkelanjutan berkaitan dengan penilaian hasil belajar sehingga ada persamaan persepsi dan kesatuan langkah dalam implementasinya. Oleh sebab itu, penilaian hasil belajar lebih merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh pendidik untuk memberikan keputusan tentang hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan belajarnya. Dari proses ini, diperoleh potret/profil kemampuan peserta didik dalam mencapai sejumlah standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam standar isi.

P

(5)

Penilaian hasil belajar merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, penyusunan alat penilaian, pengumpulan informasi, pengolahan, dan penggunaan informasi, baik untuk tindak lanjut bagi perbaikan kualitas pembelajaran maupun untuk menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Penilaian hasil belajar dilaksanakan melalui berbagai teknik, seperti tes tertulis yang digunakan untuk mengukur aspek kognitif, tes praktik untuk mengukur aspek keterampilan, dan observasi atau pengamatan untuk menilai aspek afektif.

Tujuan pengolahan adalah mengomunikasikan makna informasi tentang pembelajaran dan prestasi murid. Secara khusus, pengolahan nilai mengandung empat tujuan dasar berikut (Airasian, 2001).

1. Administratif

Hasil pengolahan yang berupa nilai atau grade membantu menentukan ranking kelas murid, kelulusan, dan apakah murid bisa naik ke kelas selanjutnya atau tidak.

2. Informasional

Nilai dapat dipakai untuk menginformasikan kepada murid, orang tua, dan pihak lain (seperti pengawas sekolah) tentang hasil kerja murid. Sebuah grade atau nilai merepresentasikan penilaian guru terhadap seberapa baik murid dalam memenuhi tujuan instruksional dan target pembelajaran.

3. Motivasional

Strategi yang baik adalah membantu murid agar termotivasi secara intrinsik. Walaupun demikian, dalam dunia pendidikan tempat nilai diberikan, banyak murid belajar keras karena mereka termotivasi secara ekstrinsik, yakni ingin mendapat nilai tinggi dan takut nilai rendah.

4. Pedoman

Nilai membantu murid, orang tua, dan konselor untuk memilih kursus dan level tugas yang tepat bagi murid. Nilai memberi informasi tentang murid mana yang butuh bantuan khusus dan level pendidikan apa yang akan tepat bagi murid.

(6)

B. PRINSIP PENGOLAHAN HASIL PENILAIAN

Terdapat beberapa prinsip pengolahan hasil pengolahan. Bacalah prinsip penilaian berikut dengan saksama.

1. Pengolahan Bersumber dari Beragam Bukti Belajar

Pengolahan hasil belajar perlu mempertimbangkan bukti belajar yang berbeda-beda. Bukti belajar yang berbeda-beda diberi bobot yang sesuai.

Pemberian grade kategori tidak hanya untuk penilaian hasil, tetapi juga penilaian proses (aspek afektif). Guru tidak boleh hanya mengolah kualitas siswa berdasarkan ujian semata. Pertimbangan berbagai bukti belajar dan pembobotannya dicontohkan berikut. Misalnya, digunakan sumber pengolahan dari berbagai bukti belajar berikut dengan pembobotan tertentu.

Tes utama 20%

Ujian akhir 25%

Ulangan 20%

PR 5%

Laporan oral 10%

Proyek 20%

Banyak guru tidak menggunakan pekerjaan rumah sebagai komponen untuk penilaian. Salah satu alasannya adalah ketika nilai murid tergantung pada PR atau tugas lain yang dikerjakan di luar kelas, orang tuanya mungkin ikut membantu atau bahkan mengerjakan sendiri tugas itu agar anaknya dapat nilai yang bagus. Alasan lain adalah murid dengan lingkungan rumah yang lebih baik akan lebih diuntungkan. Sebagaimana dengan aspek penilaian kelas lainnya, penilaian Anda harus menyintesiskan informasi-informasi untuk mendapatkan nilai murid. Jika seorang murid tidak mengerjakan beberapa tugas, beberapa guru menurunkan nilai murid.

2. Keterbukaan Sistem Cara Pengolahan

Prinsip lain dalam pengolahan hasil adalah adanya keterbukaan sistem yang digunakan pada pengolahan. Dengan keterbukaan cara pengolahan, semua orang bisa mengontrol jika terdapat kesalahan.

(7)

C. PENDEKATAN PADA PENETAPAN NILAI DAN KELULUSAN HASIL BELAJAR

PAP (criterion referenced evaluation) mencoba menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan membandingkannya dengan patokan yang telah ditetapkan. Patokan ini biasanya ditetapkan sebelum pembelajaran dimulai dan digunakan sebagai “standar kelulusan”. Standar kelulusan ini di dalam PAP bersifat ajek dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu, PAP ini dikenal pula dengan nama “standar mutlak”.

Berhubung standar penilaian ditentukan secara mutlak, banyaknya siswa yang lulus dan memperoleh nilai tinggi akan mencerminkan prestasi siswa sekaligus juga mencerminkan penguasaannya terhadap bahan pelajaran.

Sebagai konsekuensi logis penggunaan standar mutlak ini, sangat mungkin terjadi bahwa sebagian besar siswa dalam satu kelompok lulus dengan nilai tinggi, sebagian besar siswa tidak lulus karena nilainya di bawah standar minimal, atau jumlah siswa yang mendapat nilai tinggi dan rendah mungkin pula berimbang. Hasil pengolahan yang demikian jika digambarkan dalam bentuk kurva akan berwujud kurva juling positif, kurva juling negatif, dan kurva normal.

Penafsiran hasil tes yang mempergunakan PAP dilakukan dengan membandingkan nilai hasil tes yang diperoleh siswa dengan patokan yang telah ditetapkan sebelumnya. Akan tetapi, kriteria yang dipergunakan untuk menetapkan besarnya patokan itu sendiri hingga kini belum ada kesepakatan.

Oleh karena itu, selama ini setiap lembaga/sekolah biasanya bersepakat untuk membuat patokan yang akan diberlakukan di tempat masing-masing.

Pendekatan acuan patokan (PAP) pada umumnya digunakan untuk menguji tingkat penguasaan bahan pelajaran. Pengujian tingkat penguasaan bahan biasanya dilaksanakan pada pengajaran yang berorientasi pada tujuan dan strategi belajar tuntas. Oleh karena itu, nilai seorang siswa yang ditafsirkan dengan standar mutlak menunjukkan tingkat penguasaan riilnya terhadap bahan pelajaran dan juga merupakan standar pencapaian indikator sesuai dengan standar ketuntasan belajar.

Agar nilai yang diperoleh siswa dapat berfungsi seperti yang diharapkan, yaitu mencerminkan tingkat penguasaan siswa, alat tes yang dipergunakan harus dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi kelayakan, kesahihan, maupun ketepercayaannya. Butir-butir tes yang disusun harus sesuai dengan tujuan dan deskripsi bahan pelajaran yang diberikan. Pendekatan PAP

(8)

memiliki beberapa kelebihan yang meliputi (1) hasil PAP merupakan umpan balik yang dapat digunakan guru sebagai introspeksi tentang program pembelajaran yang telah dilaksanakan, (2) hasil PAP dapat membantu guru dalam pengambilan keputusan tentang perlu atau tidaknya penyajian ulang topik/materi tertentu, serta (3) hasil PAP dapat pula membantu guru merancang pelaksanaan program remedi.

PAN (norm referenced evaluation) dikenal pula dengan sebutan “standar relatif” atau norma kelompok. Pendekatan ini menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan membandingkannya dengan hasil tes siswa lain dalam kelompoknya. Alat pembanding itu ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh siswa dalam satu kelompok. Ini berarti standar kelulusan baru dapat ditentukan setelah diperoleh skor siswa. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa standar yang dibuat untuk kelompok tertentu tidak dapat digunakan untuk kelompok lainnya. Begitu pula dengan standar yang digunakan untuk hasil tes sebelumnya tidak dapat digunakan untuk hasil tes sekarang atau yang akan datang. Jadi, setiap kali kita memperoleh data hasil tes, kita dituntut untuk membuat norma baru. Jika dibandingkan antara norma yang satu dan yang lainnya, mungkin saja akan ditemukan standar yang sangat berbeda. Jika kelompok tertentu kebetulan siswanya pintar-pintar, norma/standar kelulusannya akan tinggi. Sebaliknya, jika siswanya kurang pintar, standar kelulusannya pun akan rendah. Itulah sebabnya pendekatan ini disebut standar relatif.

Pendekatan PAN ini mendasarkan diri pada asumsi distribusi normal walaupun kadar kenormalannya tidak selalu sama untuk tiap kelompok.

Dengan demikian, walau tiap-tiap kelompok sama-sama menghasilkan kurva normal, mean kurva yang satu dengan kurva lainnya mungkin saja berbeda.

Sebagai konsekuensinya, seorang siswa yang memperoleh nilai tinggi dalam suatu kelompok mungkin akan memperoleh nilai rendah jika ia dimasukkan dalam kelompok lainnya. Demikian pula sebaliknya.

Konversi didasarkan pada mean dan standar deviasi (SD) yang dihitung dari hasil tes yang diperoleh. Oleh karena itu, untuk membuat standar penilaian atau pedoman konversi, terlebih dahulu kita harus menghitung mean dan SD-nya. Jika dihubungkan dengan skala penilaian, pedoman konversi untuk PAN dapat mempergunakan berbagai skala, misalnya skala lima, sembilan, sepuluh, dan seratus.

Berbeda dengan PAP, PAN tidak dapat digunakan untuk mengukur kadar pencapaian tujuan dan tingkat penguasaan bahan. PAN sering

(9)

digunakan untuk fungsi prediktif serta meramalkan keberhasilan pendidikan siswa di masa mendatang atau untuk menentukan peringkat/kedudukan siswa dalam kelompok. Ada beberapa keunggulan yang dimiliki PAN yang mencakup (1) hasil PAN dapat membuat guru bersikap positif dalam memperlakukan siswa sebagai individu yang unik, (2) hasil PAN merupakan informasi yang baik tentang kedudukan siswa dalam kelompoknya, serta (3) PAN dapat digunakan untuk menyeleksi calon siswa yang dites secara ketat.

Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian yang mengacu pada kriteria atau patokan. Dalam hal ini, prestasi peserta didik ditentukan oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan suatu kompetensi. Meskipun demikian, kadang-kadang dapat digunakan penilaian acuan norma untuk maksud khusus tertentu sesuai dengan kegunaannya, seperti untuk memilih peserta didik masuk rombongan belajar yang mana, untuk mengelompokkan peserta didik dalam kegiatan belajar, serta untuk menyeleksi peserta didik yang mewakili sekolah dalam lomba antarsekolah.

D. LANGKAH PENGOLAHAN HASIL PENILAIAN

Pada konteks pembelajaran berbasis kompetensi, kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada tahap pengolahan adalah menganalisis hasil penilaian menggunakan acuan kriteria, yaitu membandingkan hasil penilaian masing-masing peserta didik dengan standar yang telah ditetapkan. Untuk penilaian yang dilakukan oleh pendidik, hasil penilaian masing-masing peserta didik dibandingkan dengan KKM. Analisis ini bermanfaat untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik serta untuk memperbaiki pembelajaran.

Nilai merefleksikan penilaian guru. Ada tiga hal utama yang perlu dipertanyakan guru dalam melakukan pengolahan. Tiga hal tersebut adalah (1) apa standar perbandingan yang akan digunakan untuk grading, (2) apa aspek kinerja murid yang akan digunakan untuk menetapkan nilai, serta (3) bagaimana guru memberi bobot pada jenis bukti yang berbeda dalam menentukan nilai.

Kinerja murid bisa diberi nilai melalui perbandingan dengan kinerja murid lain atau dengan standar kinerja yang telah ditentukan sebelumnya.

Grading berdasarkan pada norma (norm-referenced) adalah sistem grading berdasarkan perbandingan kinerja murid dengan murid lainnya dalam kelas

(10)

atau kelas lainnya. Dalam sistem semacam ini, murid mendapatkan nilai tinggi jika kinerjanya lebih baik ketimbang kinerja dari sebagian besar teman sekelasnya dan murid mendapat nilai rendah jika kinerjanya lebih buruk.

Grading jenis ini biasanya disebut sebagai grading on the curve. Dalam grading yang mengacu pada norma, skala grading menentukan persentase murid yang mendapat nilai tertentu. Dalam kebanyakan kasus, skala dibuat sehingga persentase murid terbesar akan mendapat nilai C.

Berikut ini pembagian nilai yang lazim dipakai: 15 persen A, 25 persen B, 40 persen C, 15 persen D, dan 5 persen F. Dalam menentukan nilai, instruktur atau pengajar sering melihat gap dalam range nilai. Jika enam murid mendapat nilai 92 sampai 100 dan 10 murid mendapat 81 sampai 88 serta tidak ada nilai antara 88 dan 92; guru akan memberi nilai A untuk 92 sampai 100 dan B untuk 81—88. Grading berdasar norma ini telah dikritik karena mengurangi motivasi murid, meningkatkan kecemasan mereka, meningkatkan interaksi negatif di antara murid, dan menghambat pembelajaran.

Ada pula membandingkan kinerja dengan standar yang telah ditentukan.

Grading berdasarkan kriteria berarti murid mendapat nilai tertentu untuk level kinerja tertentu, terlepas dari perbandingan dengan hasil murid lainnya.

Sehubungan dengan kegiatan pengolahan hasil ujian itu, ada tiga pekerjaan pokok yang seharusnya dilakukan guru, yaitu tahap koreksi, tahap pemberian nilai, dan tahap penentuan kedudukan siswa dalam kelompoknya.

Ketiga pekerjaan ini sangat menuntut ketekunan dan kesadaran yang tinggi dari setiap guru selaku evaluator.

Pada tahap koreksi, yang seharusnya dilakukan guru adalah membaca lembar jawaban siswa dengan teliti untuk melihat apakah jawaban mereka sudah sesuai dengan tuntutan kunci jawaban atau belum, kemudian memberi skor pada setiap lembar jawaban yang sudah dibaca. Dalam kacamata Arikunto (2005: 275), “Hampir semua guru tidak menyenangi pekerjaan koreksi dan membuat catatan tentang hasil prestasi siswa. Pekerjaan itu membutuhkan ketekunan dan ketelitian yang luar biasa dan menuntut banyak energi.” Benarkah demikian? Jika ya, wajar kalau mutu pendidikan di negara kita terpuruk. Apalagi kalau yang malas mengoreksi itu adalah guru bahasa Indonesia sebab guru bahasa, terutama dalam pembelajaran mengarang, betul-betul dituntut mampu memberikan balikan terhadap karangan siswa sampai pada hal-hal yang sekecil-kecilnya, seperti masalah titik dan koma.

Cara paling sederhana dalam menetapkan skor mentah (row score) adalah menjumlahkan semua skor jawaban betul dari setiap butir soal. Bagi

(11)

siswa, skor ini belum dapat dianggap sebagai cerminan prestasi akademis mereka. Oleh karena itu, menurut Arikunto (2005: 22), setiap guru diwajibkan untuk mengubah skor itu menjadi skor berstandar 100.

Sesudah mengoreksi semua lembar jawaban siswa, pekerjaan selanjutnya adalah melakukan pemberian nilai kepada siswa sesuai skor yang terdapat pada setiap lembar jawaban yang sudah diperiksa. Pada tahap ini, skor mentah dikonversikan menjadi nilai berstandar 100. Untuk mengonversikan skor ke dalam nilai berstandar ini, guru terlebih dahulu perlu menetapkan skor maksimum dari suatu ujian. Setelah itu menghitung nilai setiap siswa dengan cara membagi skor perolehan dengan skor maksimum, kemudian dikalikan 100%. Hasil perhitungan inilah yang kemudian ditetapkan sebagai nilai masing-masing siswa.

Contoh A

Skor maksimum yang diharapkan dari suatu ujian adalah 40. Aya mendapat skor 24. Ini berarti Aya sebenarnya hanya menguasai 60% 24

40 100%

  

 

  dari

tuntutan ketuntasan belajar.

Contoh B

Skor yang diperoleh Azam adalah 36. Sesuai proses pengubahan skor yang dilakukan terhadap Aya, itu berarti Azam layak mendapat nilai 90

36 100%

40

  

 

 karena dia menguasai 90% dari tuntutan.

Dengan mencermati kedua contoh sebelumnya, kiranya Anda dapat membedakan antara skor dan nilai. Bagi Aya, 24 adalah skor perolehan, sedangkan nilai yang layak diterimanya adalah 60. Begitu pula dengan Azam, dia berhak mendapat nilai 90 walaupun skor perolehannya hanya 36.

Tahapan terakhir dari proses pengolahan hasil ujian, yaitu tahap penentuan kedudukan siswa dalam kelompok. Pada tahap ini, pekerjaan guru adalah membandingkan prestasi seorang siswa dengan prestasi siswa lain dalam kelompok/kelasnya. Ada beberapa cara yang biasa digunakan orang dalam menentukan kedudukan siswa dalam kelompok, di antaranya dengan (1) ranking sederhana/simple rank, (2) rangking persentase/percentile rank, serta (3) standar deviasi dan dengan z-score. Sajian berikut hanya akan menyajikan cara penentuan kedudukan siswa dengan standar deviasi. Untuk

(12)

ini, biasanya para pakar evaluasi menggunakan PAP, PAN, dan gabungan PAP dengan PAN.

Terdapat beberapa langkah dalam melakukan proses pengumpulan dan pengolahan penilaian. Langkah tersebut meliputi (1) menginformasikan silabus mata pelajaran yang di dalamnya memuat rancangan dan kriteria penilaian pada awal semester; (2) mengembangkan indikator pencapaian KD dan pemilihan teknik penilaian yang sesuai pada saat menyusun silabus mata pelajaran; (3) mengembangkan instrumen dan pedoman penilaian sesuai dengan bentuk dan teknik penilaian yang dipilih; (4) melaksanakan tes, pengamatan, penugasan, dan bentuk lain yang diperlukan; (5) mengolah hasil penilaian untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik; (6) mengembalikan hasil pemeriksaan pekerjaan peserta didik disertai balikan/komentar yang mendidik; (7) memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran; (8) melaporkan hasil penilaian mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada pimpinan satuan pendidikan dalam bentuk satu nilai prestasi belajar peserta didik disertai deskripsi singkat sebagai cerminan kompetensi utuh; serta (9) melaporkan hasil penilaian akhlak kepada guru pendidikan agama dan hasil penilaian kepribadian kepada guru pendidikan kewarganegaraan yang digunakan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhir semester akhlak dan kepribadian peserta didik dengan kategori sangat baik, baik, atau kurang baik.

Menetapkan nilai hasil belajar dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan acuan patokan dan menggunakan acuan norma. Masing- masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Oleh karena itu, sebaiknya dipakai keduanya dengan cara bergantian. Perhitungan skor di atas masih dalam bentuk skor mentah. Oleh karena itu, hasil perhitungannya perlu diolah lagi guna menentukan nilai akhir. Setidaknya ada dua fungsi, yaitu menentukan posisi dan prestasi atau nilai siswa dibandingkan dengan kelompoknya. Untuk menentukan batas kelulusan setidaknya dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu batas lulus aktual, batas lulus ideal, dan batas lulus purposif.

1. Batas Lulus Aktual

Batas lulus aktual didasarkan pada nilai rata-rata aktual yang dicapai oleh kelompok siswa. Yang perlu dihitung adalah nilai rata-rata dan standar deviasinya. Skor yang dinyatakan lulus adalah skor di atas X + 0,25SD.

(13)

2. Batas Lulus Ideal

Batas lulus ideal hampir sama dengan batas lulus aktual karena batas lulus ideal juga menggunakan rata-rata dan simpangan baku. Bedanya, batas lulus ideal rata-ratanya ditentukan setengah dari skor maksimum. Sementara itu, simpangan baku sepertiga dari nilai rata-rata ideal.

3. Batas Lulus Purposif

Batas lulus purposif mengacu pada penilaian acuan patokan sehingga tidak perlu menghitung nilai rata-rata dan simpangan bakunya. Nilai dibuat berdasarkan kriteria tertentu yang sudah ditetapkan. Misalnya, batas kelulusan adalah skor di atas 75% dari skor maksimum. Misalnya, nilai maksimum mahasiswa di kelas 80 maka batas kelulusannya adalah 75% × 80

= 60. Jadi, mahasiswa yang dinyatakan lulus adalah yang nilainya lebih dari 60, sedangkan mahasiswa yang nilainya kurang dari 60 dinyatakan tidak lulus.

Bacalah dengan saksama contoh pengolahan yang terdiri atas pengoreksian dan pengolahan nilai.

a. Penyekoran lembar hasil pekerjaan siswa

Penyekoran tes objektif dilakukan dengan cara mencocokkan tiap butir dengan kunci jawaban. Ada dua cara yang bisa dilakukan dalam memeriksa lembar jawaban tes objektif. Lembar jawaban diperiksa per orang.

Maksudnya, setelah selesai memeriksa hasil si A dan diberi skor, lalu memeriksa punya si B, lalu si C, dan seterusnya. Lembar jawaban diperiksa nomor demi nomor. Misalnya, satu lokal terdiri atas 30 orang maka pemeriksaan lembar jawaban dilakukan mulai nomor satu pada seluruh lembar jawaban esai. Setelah selesai, dilanjutkan dengan nomor dua untuk seluruh lembar jawaban mahasiswa, demikian seterusnya. Apabila dibandingkan cara pertama dengan cara kedua, cara kedua lebih objektif.

Sementara itu, cara pertama lebih subjektif. Oleh karena itu, sebaiknya untuk memperoleh hasil yang lebih objektif, gunakan cara kedua. Contoh penyekoran tes objektif dan esai dipaparkan berikut.

(14)

FORMAT 5.2 FORMAT LEMBAR KUNCI JAWABAN Nama : ...

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

A B C D A B C D A B C D

1  21  41

2  22  42

3  23  43

4  24  44

5  25  45

6  26  46

7  27  47

8  28  48

9  29  49

10  30  50

11  31  51

12  32  52

13  33  53

14  34  54

15  35  55

16  36  56

17  37  57

18  38  58

19  39  59

20  40  60

(15)

FORMAT 5.2 LEMBAR JAWABAN DAN KUNCI JAWABAN Nama : ...

Mata Kuliah : Pendidikan Pancasila

Penyekoran tes objektif lebih mudah. Penyekoran tes objektif dilakukan dengan menyekor tiap butir tes objektif dibandingkan kunci jawaban yang ditentukan. Memeriksa tes bentuk esai lebih sulit dibandingkan dengan bentuk tes objektif. Siapa pun yang menilai lembar jawaban tes objektif hasilnya pasti sama. Sementara itu, memeriksa tes esai hasilnya bisa berbeda kalau yang memeriksa orangnya berbeda sekalipun kriteria jawaban yang tepat sudah ditetapkan. Itu sebabnya bentuk tes ini disebut dengan tes subjektif. Untuk menghindari faktor subjektivitas, sebaiknya sebelum memeriksa lembar jawaban dipersiapkan dulu kriteria/pedoman jawaban yang benar.

A B C D A B C D A B C D

1  X 21  41 2  X 22  42

3  23  43

4 X  24  44

5  25  45

6  X 26  46

7  X 27  X 47 8 X  28  48

9 X  29  49

10  30 X  50

11 X  31  51

12  32  52

13  X 33  53

14 X  34  54

15  35  55

16 X  36  56

17 X  37  57

18  38  58

19 X  39  59

20  X 40  60

(16)

Pemberian skor dapat dipilih dari beberapa skala pengukuran, misalnya skala 1—4, 1—10, dan 1—100. Sebaiknya, jangan memberikan skor nol.

Mulailah skoring dari angka 1. Semakin tinggi skala pengukuran yang digunakan, hasilnya semakin halus dan akurat. Pemberian skor ini berlaku sama untuk semua nomor soal. Setelah menetapkan skoring, langkah selanjutnya adalah menetapkan pembobotan sesuai dengan tingkat kesukaran soal. Sebaiknya, gunakan skala 1—10, misalnya soal yang mudah diberi bobot 2, sedang bobotnya 3, dan soal yang sulit bobotnya 5.

Ada juga yang melakukan penilaian lembar jawaban tidak mengikuti cara di atas, setiap soal langsung diberi bobot nilai tanpa mempertimbangkan skala pengukuran sehingga skala pengukuran tiap item tidak sama. Proses penetapan skornya adalah skor setiap item diperoleh dengan cara nilai setiap item dikali bobot dan jumlahkan total nilai (skor kerja) setiap item, lalu dibagi dengan skor ideal. Untuk lebih jelasnya, berikut akan diberikan contoh perhitungan. Pemberian bobot dalam pengolahan lembar jawaban soal esai sangat penting karena skor diberikan benar-benar atas dasar kemampuan.

Kenyataan juga menunjukkan bahwa setiap item tes tingkat kesukarannya berbeda. Amati pedoman penyekoran tes esai berikut.

Balada Terbunuhnya Atmo Karpo

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para

mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu

surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang Segenap warga desa mengepung hutan itu dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka - Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!

Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa Majulah Joko Pandan! Di mana ia?

(17)

Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa Anak panah empat arah dan musuh tiga silang Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang - Joko Pandan! Di mana ia?

Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Bedah perutnya tapi masih setan ia!

menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala - Joko Pandan! Di mana ia?

Hanya padanya seorang kukandung dosa.

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan segala menyibak, bagi derapnya kuda hitam ridla dada, bagi derunya dendam yang tiba Pada langkah pertama keduanya sama baja Pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo

Panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka

pesta bulan, sorak-sorai, anggur darah.

Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang Ia telah membunuh bapaknya.

karya WS Rendra Soal

1) Tentukan tokoh pada puisi naratif tersebut!

2) Tentukan setting/latar terjadinya peristiwa pada puisi tersebut!

3) Simpulkan tema yang terdapat pada puisi tersebut!

4) Tentukan amanat yang terdapat pada puisi tersebut!

(18)

PEDOMAN PENYEKORAN

No Rubrik penilaian Skor

1 Latar/setting

▪ Di hutan, di malam hari, dan suasananya ramai

▪ Di hutan, di malam hari

▪ Di hutan

▪ Menyimpang

25 10 5 2 Tokoh

▪ Atmo Karpo, Joko Pandan, dan warga desa

▪ Atmo Karpo dan Joko Pandan

▪ Atmo Karpo

25 10 5 3 Tema

▪ Joko Pandan membunuh Atmo Karpo yang notabene adalah ayahnya sendiri

▪ Joko Pandan membunuh perampok

▪ Joko Pandan bertarung dengan perampok

25 10 5 4 Amanat

▪ Kita harus menegakkan keadilan walaupun dengan keluarga kita sendiri

▪ Kita harus membunuh perampok

▪ kita tidak boleh merampok

25 10 5

Berdasarkan pedoman penyekoran tersebut, tentukan skor untuk siswa yang memiliki jawaban berikut.

a. Tokoh dalam puisi tersebut adalah Joko Pandan.

b. Setting yang terjadi di sebuah jalan desa.

c. Joko Pandan melawan perampok.

d. Amanat yang terkandung adalah jangan merampok.

b. Pengolahan skor menjadi nilai

Setelah skor didapatkan, perlu diolah menjadi nilai. Dengan kata lain, diperlukan konversi hasil skoring menjadi nilai akhir. Kesalahan sering terjadi pada pemberian nilai akhir, yaitu hasil skoring dianggap sebuah nilai akhir. Padahal, seharusnya hasil skoring tersebut harus dikonversi dulu menjadi nilai akhir dalam bentuk skala yang sudah ditetapkan sebelumnya dalam bentuk skala 1—4, skala 1—10, dan skala 1—100. Berikut akan dibahas cara mengonversi hasil skor menjadi nilai akhir.

Cara konversi sederhana dapat dilakukan. Cara ini sangat sederhana dan mengabaikan tingkat ketelitian dan keakuratan data. Tidak mustahil akan terjadi kesalahan interpretasi karena cara ini mengabaikan tingkat varian

(19)

kemampuan mahasiswa. Misalnya, kriteria yang digunakan dalam bentuk persentase. Nilai 10 apabila mencapai angka 100%.

Konversi dengan menggunakan mean dan standar deviasi juga dapat digunakan. Cara ini lebih akurat karena sudah mempertimbangkan tingkat variansi hasil belajar sehingga nilai akhir sangat ditentukan oleh kelompoknya. Apabila standar deviasinya kecil, interval nilainya juga kecil.

Sebaliknya, apabila standar deviasinya besar interval nilainya juga besar.

Konversi cara ini biasanya dilakukan untuk penilaian standar 10 dan standar 4 atau standar huruf. Kriteria yang digunakan untuk melakukan konversi skor mentah menjadi standar 10 sebagai berikut.

M + 2,25 (SD) = 10 M + 1,75 (SD) = 9 M + 1,25 (SD) = 8 M + 0,75 (SD) = 7 M + 0,25 (SD) = 6 M – 0,25 (SD) = 5 M – 0,75 (SD) = 4 M – 1,25 (SD) = 3 M – 1,75 (SD) = 2 M – 0,25 (SD) = 1

Catatan : M = mean atau nilai rata-rata SD = standar deviasi

Penetapan nilai akhir semester biasanya berdasarkan total nilai mandiri, terstruktur, mid semester, dan semester. Setelah diperoleh totalnya, lalu dikonversi menjadi huruf. Persoalan biasanya timbul saat menetapkan interval nilai A, B, C, dan D. Untuk menetapkan interval, seharusnya dimulai dari batas kelulusan. Misalnya, batas kelulusan adalah 60. Lebih dari atau sama dengan 60 dinyatakan lulus. Kurang dari 60 tidak lulus. Maka itu, perhitungan intervalnya adalah (a) hitung range skor tertinggi dengan skor terendah, dalam hal ini skor tertinggi (H)100 terendah (L) 60, R = H – L = 100 – 60 = 40; (b) tetapkan banyak intervalnya, misalnya yang dinyatakan lulus minimal C (nilai yang dinyatakan lulus adalah A, B, C berarti banyaknya interval adalah 3); (c) menentukan rentang interval; dan (d) membuat interval nilai.

(20)

Jika kita menginginkan nilai plus dan minus diperhitungkan, proses penetapan intervalnya adalah (a) hitung range skor tertinggi dengan skor terendah, dalam hal ini skor tertinggi (H)100 terendah (L) 60, R = H – L = 100 – 60 = 40; (b) tetapkan banyak intervalnya, misalnya yang dinyatakan lulus minimal –C, nilai yang dinyatakan lulus adalah A+, A, A–, B+, B, B–, C+, C, C–, itu berarti banyaknya interval adalah 9; (c) menentukan rentang interval; dan (d) membuat interval nilai.

Dua contoh di atas menunjukkan bahwa semakin banyak interval yang digunakan (menggunakan plus dan minus), nilai yang ditetapkan semakin halus. Sebaliknya, semakin sedikit interval yang digunakan (tidak menggunakan plus dan minus), nilai yang ditetapkan semakin kasar.

E. PENGOLAHAN DAN PENAFSIRAN HASIL ANALISIS BUTIR

Terdapat dua cara yang dapat digunakan dalam analisis butir soal, yaitu analisis soal secara kualitatif dan kuantitatif. Kedua teknik ini masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Oleh karena itu, teknik terbaik adalah menggunakan keduanya (penggabungan). Analisis butir soal dilakukan berkaitan dengan (1) menentukan soal-soal yang cacat atau tidak berfungsi baik serta (2) meningkatkan kualitas alat penilaian.

Manfaat penting dari analisis butir adalah mengetahui bagian/butir soal yang paling banyak belum dikuasai siswa, rata-rata siswa menguasai, dan butir yang telah dikuasai sebagian besar siswa. Amati hasil berikut.

JENIS ULANGAN : KLS/PROG.:

MATA PELAJARAN : TH. PEL. :

KOMPETENSI DASAR :

NO NAMA SISWA L/P NIS Skor dan Nomor Soal Skor

Total

1 2 3 4 5

1 Adi Parmana Putra Kadek L 2991 1 0 1 1 0 3

2 Agus Ariadi Kadek L 2994 1 0 1 0 0 2

3 Agus Ciptawan Putu L 3033 0 1 1 1 1 4

4 Aria Kadek L 2728 1 0 0 0 1 2

5 Ayu Ketut Reptiliana P 3003 1 0 1 1 1 4

JML BENAR 4 1 4 3 3

JML PESERTA 5 5 5 5 5

TK. KESUKARAN 0.80 0.20 0.80 0.60 0.60

KRITERIA Md Sk Md Sd Sd

(21)

Dari data tersebut, disimpulkan bahwa soal nomor 2 yang paling belum dikuasai siswa. Indikator yang diukur pada soal nomor 1 dan 3 sudah sangat dikuasai siswa. Skor tertinggi yang dicapai siswa 4 dan skor terendah yang dicapai siswa 1. Data tersebut bermanfaat bagi guru untuk mengetahui bagian materi mana yang perlu ditekankan lagi dan mana yang sudah cukup.

Analisis tingkat kesukaran soal bentuk uraian dicontohkan berikut.

NO NAMA SISWA L/P NIS Skor dan Nomor Soal Skor

Total

1 2 3 4 5

1 Adi Parmana Putra Kadek L 2991 8 4 1 8 1 22

2 Agus Ariadi Kadek L 2994 4 3 2 7 2 18

3 Agus Ciptawan Putu L 3033 6 2 1 6 2 17

4 Aria Kadek L 2728 3 3 0 4 1 11

5 Ayu Ketut Reptiliana P 3003 2 4 0 2 2 10

RERATA SKOR 4.60 3.20 0.80 5.40 1.60

SKOR MAKSIMAL 8 6 4 10 2

TK. KESUKARAN 0.58 0.53 0.20 0.54 0.80

KRITERIA Sd Sd Sk Sd Md

Dari data hasil tes uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa indikator yang diukur dengan soal nomor 3 belum dikuasai siswa. Indikator pada soal nomor 5 dikuasai siswa dengan baik.

F. ANALISIS PENENTUAN KETUNTASAN SISWA

Setelah pelaksanaan ulangan, hasil ulangan diinformasikan kepada peserta didik sebelum diadakan ulangan harian berikutnya. Peserta didik yang belum mencapai KKM harus mengikuti pembelajaran remedi. Untuk sampai pada simpulan tersebut, diperlukan langkah pengolahan hasil belajar. Salah satu teknik strategis yang cepat dan mudah diterapkan dalam menganalisis hasil belajar siswa adalah menerapkan program Microsoft Excel.

Langkah-langkah pengolahan hasil belajar dengan Excel antara lain

adalah 1) menyusun format sesuai dengan jumlah indikator dan butir soal, 2) menentukan KKM untuk masing-masing indikator dan kompetensi dasar,

3) menerapkan beberapa formula, serta 4) memasukkan hasil belajar siswa.

Analisis ini digunakan untuk mengetahui apakah seorang siswa sudah tuntas dalam kompetensi dasar tertentu. Prinsip penilaian yang berorientasi pada ketuntasan hasil mengharuskan seorang pendidik mengolah hasil belajar siswa untuk menyimpulkan tuntas tidaknya seorang siswa menguasai tujuan

(22)

pembelajaran. Siswa yang belum tuntas dilakukan remedial, sedangkan yang sudah tuntas dilakukan pengayaan.

Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada tahap analisis adalah menganalisis hasil penilaian menggunakan acuan kriteria, yaitu membandingkan hasil penilaian masing-masing peserta didik dengan standar yang telah ditetapkan. Untuk penilaian yang dilakukan oleh pendidik hasil penilaian masing-masing peserta didik dibandingkan dengan KKM. Analisis ini bermanfaat untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik serta untuk memperbaiki pembelajaran.

Langkah yang ditempuh untuk penentuan ketuntasan meliputi (a) membandingkan hasil tes dengan kunci jawaban/pedoman, (b) menyekor tiap aspek, (c) menjumlahkan skor perolehan siswa, (d) menentukan nilai siswa (skor perolehan dibagi skor maksimal dikalikan seratus), dan (e) membandingkan nilai akhir dengan KKM. Penjelasan tentang KKM dipaparkan berikut. Bacalah dengan saksama.

1. Ketuntasan Belajar

Ketuntasan belajar adalah tingkat ketercapaian kompetensi setelah peserta didik mengikuti kegiatan pembelajaran yang diukur dengan menggunakan kriteria ketuntasan minimal (KKM). KKM merupakan kriteria ketuntasan minimal yang harus dicapai siswa pada setiap mata pelajaran.

2. Menyusun KKM

Panduan dalam menyusun KKM dipaparkan berikut.

a. KKM ditentukan oleh kesepakatan guru mata pelajaran berdasarkan hasil analisis SWOT tentang kondisi siswa dan kondisi daya dukung madrasah.

b. Nilai ketuntasan maksimal adalah 100.

c. KKM dapat ditentukan di bawah 75%, tetapi perlu terus dinaikkan dari waktu ke waktu.

d. Jika siswa tidak tuntas, perlu diberi layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas diberi pengayaan.

e. Kegiatan remedial adalah kegiatan pembelajaran yang diberikan untuk membantu siswa yang belum mencapai KKM yang ditetapkan.

f. Remedial dilaksanakan setiap saat, baik pada jam efektif maupun jam tidak efektif. Penilaian kegiatan remedial dapat melalui tes ataupun penugasan.

(23)

g. Nilai KKM dinyatakan dalam bilangan bulat 0—100.

h. Nilai KKM harus dicantumkan dalam laporan hasil belajar siswa (LHBS).

3. Cara Menghitung KKM

KKM merupakan target ketuntasan minimal untuk setiap aspek penilaian mata pelajaran yang telah ditetapkan oleh masing-masing madrasah. Untuk menentukan kriteria ketuntasan minimal (KKM), dihitung berdasarkan tiga komponen, yaitu kompleksitas, daya dukung, dan intake. Karena semua kompetensi dasar itu adalah esensial, pertimbangan hanya mencakup tiga komponen tersebut.

Pada tingkat kesulitan dan kerumitan setiap KD yang harus dicapai oleh siswa, terdapat tingkat kompleksitas tinggi apabila dalam pelaksanaannya menuntut (i) SDM yang kompeten dan kreatif dalam melaksanakan pembelajaran; (ii) waktu cukup lama karena perlu pengulangan; serta (iii) perlu penalaran dan kecermatan yang tinggi dari siswa. Yang dimaksud dengan kemampuan sumber daya pendukung, yaitu ketersediaan tenaga, sarana dan prasarana pendidikan yang sangat dibutuhkan, BOP, manajemen madrasah, serta kepedulian stakeholders madrasah.

KKM dapat dihitung dengan dua cara, yaitu dengan perhitungan kasar menggunakan rentang nilai 1 sampai 3 dan secara lebih halus dengan rentangan nilai dari 1 sampai 100 untuk setiap komponen yang dinilai dengan menggunakan tabel penilaian sebagai berikut.

Tabel 9.1

Indikator dan Rentang Nilai Komponen KKM

No. Komponen Kategori

penilaian Rentang kasar Rentang halus

1. Kompleksitas Tinggi

Sedang Rendah

1 2 3

54—60 65—80 81—100

2. Daya dukung Tinggi

Sedang Rendah

3 2 1

81—100 65—80 54—60 3. Tingkat kemampuan rata-

rata siswa (intake) Tinggi Sedang Rendah

3 2 1

81—100 65—80 54—60

(24)

Misalnya, dengan menggunakan nilai rentang kasar, untuk pelajaran matematika kompleksitasnya “tinggi” berarti nilainya 1, “daya dukung”

untuk melaksanakan pembelajaran matematika “tinggi”, dan intake dari nilai rata-rata siswa “sedang”. Jika KD di dalam mata pelajaran memiliki kriteria kompleksitas rendah, daya dukung tinggi, dan intake siswa sedang, nilai KKM matematika adalah (3 + 3 + 2) : 9 × 100 = 88,9. Sementara itu, apabila menggunakan nilai rentang halus untuk kompleksitas 58, daya dukung 96, dan tingkat kemampuan 76; KKM untuk mata pelajaran matematika menjadi (58 + 96 + 76) : 300 × 100 = 76,6. Apabila terdapat kesulitan dalam menentukan kriteria penilaian pada setiap komponen itu, penentuan nilai tersebut dapat didiskusikan dalam forum musyawarah guru mata pelajaran (MGMP).

4. Informasi KKM pada Dokumen KTSP

Berdasarkan pertimbangan intake, kompleksitas mapel, dan daya dukung yang dimiliki madrasah, semua mata pelajaran yang diajarkan di MTs-PSA Al-Azhariyyah ditentukan oleh KKM sesuai dengan kondisi objektif madrasah sebagaimana tertera pada Tabel 9.2. Kemudian, siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan minimal dari masing-masing mata pelajaran harus mengikuti program perbaikan (remedial) sampai mencapai ketuntasan minimal.

Tabel 9.2

Kriteria Ketuntasan Minimal Mata Pelajaran

No. Mata Pelajaran KKM

KELAS VII

KKM KELAS

VIII

KKM KELAS

IX 1 Pendidikan Agama

Islam

70 70 75

a. Alquran-Hadis Penguasaan konsep Membaca dan menulis Sikap beragama b. Fikih Penguasaan konsep

70 70 70

Keterampilan beribadah Sikap beragama c. Akidah Akhlak Penguasaan konsep

70 70 75

Keterampilan Sikap beragama

d. Sejarah Penguasaan konsep 70 70 75

(25)

Kebudayaan Islam

Sikap beragama e. Bahasa Arab Mendengarkan

65 70 70

Berbicara Membaca Menulis 2. Pendidikan

kewarganegaraan Penguasaan konsep 70 70 70

Praktik 3. Bahasa dan sastra

Indonesia Mendengarkan

65 70 70

Berbicara Membaca Menulis 4. Bahasa Inggris Mendengarkan

62 63 65

Berbicara Membaca Menulis 5. Matematika Bilangan

62 63 64

Aljabar Geometri dan pengukuran Peluang dan statistik 6. Pengetahuan alam

(sains) Penguasaan konsep 65 68 70

Keterampilan sains

7. Pengetahuan sosial Penguasaan konsep 65 68 70

Keterampilan sosial

8. Kesenian Apresiasi 70 70 75

Kreasi 9. Pendidikan jasmani Permainan dan

olahraga 70 73 75

Pengembangan Uji diri dan senam Pilihan

10. Keterampilan (TIK) Pengetahuan 70 70 75

Praktik 11. Mulok : bahasa

daerah Mendengarkan

65 70 70

Berbicara Membaca Menulis

Mulok : Penguasaan konsep

70 70 70

Keterampilan Sikap beragama

Pengembangan diri tidak menggunakan KKM. Amati contoh penentuan ketuntasan hasil belajar siswa berikut.

(26)

Setelah tes dilakukan, guru harus menganalisis ketuntasan belajar yang diukur dengan hasil tes yang dilakukan guru untuk masing-masing tahapan ujian yang dilakukan.

Tabel 9.3

Nama Hasil penyekoran Kategori Penentuan

ketuntasan

Asyanty 85 B (ada sedikit

kesalahan penggunaan ejaan)

Tuntas (karena di atas KKM)

Sunarti 87 A (pemilihan dan

pengembangan isi unik dan kreatif)

Tuntas (karena di atas KKM)

Arifin 65 D (pengembangan ide

terbatas, kesalahan kepaduan, kesatuan, serta penggunaan kata dan tanda baca)

remedi (karena di bawah KKM)

Demian 60 D (pengembangan ide

tidak ada, kesalahan kepaduan, kesatuan, serta penggunaan kata dan tanda baca)

Remedi

Ramly 80 B (sedikit kesalahan

kepaduan dan kesatuan ide)

Tuntas

Sidin Ali 86 B Tuntas

Rusgianto 75 B Tuntas

Tukas Imaroh 80 B Tuntas

Emi Sola 87 A Tuntas

Keterangan

1. KKM bahasa Indonesia 70.

2. Keputusan/simpulan remedi jika nilai siswa di bawah 70 dan di atas 70 dikategorikan tuntas.

Analisis ketuntasan dilakukan untuk menentukan apakah peserta didik telah berhasil menguasai suatu kompetensi mengacu pada indikator yang telah dikembangkan. Penilaian dilakukan pada waktu pembelajaran atau setelah pembelajaran berlangsung. Penilaian pencapaian sebuah indikator dapat dijaring dengan berbagai jenis penilaian. Guru mendiagnosis hasil ulangan harian peserta didik sebagai dasar untuk menentukan bentuk kegiatan remedial. Kegiatan dapat berupa tatap muka dengan guru atau diberi

(27)

kesempatan untuk belajar sendiri, kemudian dilakukan penilaian dengan cara menjawab pertanyaan, membuat rangkuman pelajaran, atau mengerjakan tugas pengumpulan data. Waktu remedial diatur berdasarkan kesepakatan antara peserta didik dan guru serta dapat dilaksanakan di luar jam efektif.

Remedial hanya diberikan untuk KD yang belum tuntas.

Kriteria ketuntasan minimal (KKM) setiap kompetensi dasar (KD) diberikan skor 0%—100%. KKM ideal pencapaian masing-masing KD adalah lebih besar atau sama dengan 75%, tetapi sekolah dapat menetapkan KKM di bawah KKM ideal dengan catatan harus ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai KKM ideal (misalnya mulai dari 50%).

Pertimbangan yang digunakan sekolah dalam menentukan KKM di sekolahnya adalah tingkat kemampuan akademis rata-rata peserta didik dan ketersediaan daya dukung guru serta sarana dan prasarana. Dalam setiap KD, pencapaian KKM merupakan syarat bagi peserta didik untuk melanjutkan mengikuti proses pembelajaran untuk KD berikutnya. Apabila perolehan nilai peserta didik pada satu KD masih di bawah KKM, peserta didik yang bersangkutan belum menuntaskan KD tersebut dan harus mengikuti remedial.

Nilai ulangan harian ini tidak harus diperhitungkan dalam penentuan nilai rapor.

Hasil analisis kemudian dideskripsikan dan ditetapkan implikasi kebijakannya. Misalnya, siapa-siapa saja yang belum tuntas;

ketidaktuntasannya tersebut pada indikator berapa di KD berapa; apa bentuk program remedial yang harus diikutinya; berapa lama program itu dilaksanakan; bagaimana bentuk penilai dari hasil kegiatan remedial yang dilakukannya; dan seterusnya.

G. PENENTUAN KENAIKAN KELAS/KELULUSAN DAN KRITERIA KENAIKAN KELAS DAN KELULUSAN

Rata-rata KKM juga dijadikan bahan pertimbangan siswa untuk naik kelas. Kenaikan kelas diartikan sebagai proses pengambilan keputusan bagi peserta didik untuk naik atau tidak naik dari suatu tingkat kelas ke tingkat kelas berikutnya yang didasarkan pada perolehan kualifikasi dan kompetensi tertentu sesuai dengan jenjang yang dipersyaratkan dan melalui suatu proses penilaian atau evaluasi yang komprehensif. Penentuan kriteria kenaikan kelas diatur dengan mengikuti aturan dari pusat dan juga ditambahkan sendiri oleh madrasah.

(28)

Rambu-rambu dalam menentukan kenaikan kelas sebagai berikut.

1. Peserta didik dinyatakan tidak naik kelas dan harus mengulang apabila (a) tidak menuntaskan standar kompetensi dan kompetensi dasar lebih dari empat mata pelajaran sampai pada batas akhir tahun pelajaran serta (b) karena alasan yang kuat, misal karena gangguan kesehatan fisik, emosi, atau mental, sehingga tidak mungkin berhasil dibantu mencapai kompetensi yang ditargetkan.

2. Ketika mengulang di kelas yang sama, nilai peserta didik untuk semua indikator, kompetensi dasar, dan standar kompetensi yang ketuntasan belajar minimnya sudah dicapai minimal sama dengan yang dicapai pada tahun sebelumnya.

Kriteria umum kelulusan didasarkan pada ketentuan PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 72 ayat (1), yakni peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada pendidikan dasar dan menengah dengan aturan berikut.

1. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran.

2. Memperoleh minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok, mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, serta kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan.

3. Lulus ujian madrasah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

4. Lulus ujian nasional.

5. Ketentuan formal lain yang dikeluarkan oleh pihak terkait berkenaan dengan pelaksanaan ujian nasional akan menjadi acuan tambahan dalam menentukan kriteria kelulusan.

Berdasarkan kriteria umum tersebut, madrasah menetapkan kriteria kenaikan kelas/kelulusan dengan cara mengambil semua peraturan pusat dan menambahkan hal-hal khusus dari madrasah. Dalam Box 05 berikut, disajikan contoh peraturan kenaikan dan kelulusan pada dokumen KTSP setelah ditambahkan hal-hal khusus sesuai dengan konteks madrasah.

(29)

Tabel 9.4 Kriteria Kenaikan dan Kelulusan pada Sekolah X Kriteria Kenaikan dan Kelulusan pada Sekolah X

1. Peserta didik dinyatakan naik kelas apabila memenuhi syarat berikut.

a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran pada dua semester di kelas yang diikuti.

b. Tidak terdapat nilai di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) pada lebih dari empat mata pelajaran pada semester yang diikuti.

c. Nilai minimal rata-rata 6,00 untuk mulok kepesantrenan.

d. Tidak ada nilai kurang dari 50,00 untuk salah satu atau lebih dari aspek penilaian mata pelajaran.

e. Nilai rata-rata seluruh mata pelajaran pada semester itu lebih dari atau sama dengan 6,00.

f. Memiliki nilai kepribadian minimal cukup untuk aspek kelakuan, kerajinan, kerapian, dan kebersihan pada semester yang diikuti.

g. Memiliki nilai minimal cukup untuk aspek pengembangan diri yang diikuti.

h. Ketidakhadiran tanpa izin (alpa) maksimal 5% dari jumlah hari efektif (14 hari).

2. Peserta didik dinyatakan mengulang di jenjang kelas yang sama apabila terdapat hal berikut.

a. Memiliki nilai di bawah kriteria ketuntasan belajar minimal (KKM) pada lebih dari empat mata pelajaran.

b. Ada nilai kurang dari 50,00 untuk salah satu atau lebih dari aspek penilaian mata pelajaran.

c. Nilai rata-rata seluruh mata pelajaran pada semester itu kurang dari 6,00.

d. Kepribadian dan pengembangan diri kurang dari cukup.

e. Karena alasan yang kuat, misalnya karena gangguan kesehatan fisik, emosi, dan mental, sehingga tidak mungkin berhasil dibantu mencapai kompetensi yang ditargetkan.

f. Ketidakhadiran tanpa izin (alpa) lebih dari 5% dari jumlah hari efektif (>14).

Penetapan kenaikan kelas dihitung berdasarkan pencapaian hasil belajar semester ganjil dan genap pada satu tahun ajaran dengan ketentuan berikut.

1. Jika capaian hasil belajar pada semester ganjil dan genap nilai suatu pelajaran tuntas, untuk mata pelajaran tersebut dinyatakan tuntas.

2. Jika capaian hasil belajar pada semester ganjil dan genap nilai suatu pelajaran tidak tuntas, untuk mata pelajaran tersebut dinyatakan tidak tuntas.

(30)

3. Jika capaian hasil belajar mata pelajaran pada salah satu dari semester ganjil dan genap tidak tuntas, ketuntasan mata pelajaran tersebut harus dilakukan penghitungan pada mata pelajaran sebagai berikut.

a. Hitunglah nilai rata-rata capaian hasil belajar semester ganjil dan genap pada mata pelajaran tersebut.

b. Hitunglah rata-rata KKM semester genap dan ganjil mata pelajaran tersebut.

c. Jika nilai rata-rata capaian semester genap dan ganjil mata pelajaran tersebut sama atau lebih besar dari rata-rata KKM, pelajaran tersebut dinyatakan tuntas. Sebaliknya, apabila di bawahnya, dinyatakan tidak tuntas seperti di bawah ini.

Tabel 9.5

Contoh Perhitungan yang Menunjukkan Tidak Tuntas

Semester KKM Nilai capaian hasil belajar

Ganjil 70 65

Genap 70 70

Rata-rata 70 67,5

Tabel 9.6

Contoh Perhitungan yang Menunjukkan Tuntas Semester KKM Nilai capaian hasil belajar

Ganjil 70 65

Genap 70 85

Rata-Rata 70 75

Sesuai dengan ketentuan PP 19/2005 Pasal 72 ayat (1), peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan pada satuan pendidikan dasar dan menengah setelah

1. menyelesaikan seluruh program pembelajaran;

2. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok, mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, serta kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan;

3. lulus ujian/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi;

(31)

Formula Predikat kelulusan

A B C

NK 3

= + +

Dengan keterangan sbb :

▪ NK = Nilai rata-rata kelulusan

▪ A = Rata-rata nilai rapor semester 1 sampai IV

▪ B =Rata-rata nilai ujian tingkat Madrasah

▪ C = Rata rata nilai ujian nasional

▪ Predikat kelulusan berdasarkan kategori sebagai berikut.

▪ NK Lebih besar atau sama dengan 8,5 : Sangat baik

▪ NK Lebih besar atau sama dengan 7,5 dan kurang dari 8,5 : Baik

▪ NK Kurang dari 7,5 : Cukup Contoh :

▪ A = 8

▪ B = 8

▪ C = 7, maka 8 8 7

NK 7,33

3 + +

= =

4. lulus ujian nasional;

5. memenuhi standar kelulusan UN yang berlaku pada tahun pelajaran berjalan.

a) memiliki nilai rata-rata minimal 5,00 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan dengan tidak ada nilai di bawah 4,25;

b) memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran dengan nilai dua mata pelajaran lain minimal 6,00;

c) predikat kelulusan dihitung dengan menggunakan formula berikut.

Contoh Formula untuk Menetapkan Predikat Kelulusan (Tahun 2008) Penentuan kelulusan tahun-tahun berikutnya mengikuti ketentuan pemerintah yang berlaku pada tahun tersebut. Berikut pengolahan untuk penentuan kenaikan kelas/kelulusan.

Ulhar + UTS + UAS + Tugas Nilai rapor

= 4

(32)

1) Jelaskan langkah yang harus ditempuh untuk menentukan ketuntasan hasil belajar siswa!

2) Bacalah hasil berikut dan tentukan ketuntasan tiap-tiap siswa jika KKM 80!

Nama Hasil Penyekoran Kategori Penentuan

Ketuntasan

Asyanty 85 C (kesalahan

penggunaan ejaan)

Tuntas (karena di atas KKM)

Sunarti 87 C (ada kesalahan

pengembangan isi)

Tuntas (karena di atas KKM)

Arifin 65 D (pengembangan ide

terbatas, kesalahan kepaduan, kesatuan, serta penggunaan kata dan tanda baca)

Remedi ( karena di bawah KKM)

Demian 60 D (pengembangan ide

tidak ada, kesalahan kepaduan, kesatuan, serta penggunaan kata dan tanda baca)

Remedi

Ramly 80 B (sedikit kesalahan

kepaduan dan kesatuan ide)

tuntas

Sidin Ali 70 Kesalahan kepaduan

dan kesatuan ide

Tidak tuntas

Rusgianto 75 Kesalahan kepaduan

dan kesatuan ide

Tidak tuntas

Tukas Imaroh 80 C Tuntas

Emi Sola 87 C Tuntas

Keterangan

KKM bahasa Indonesia 80 LAT IH A N

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas, kerjakanlah latihan berikut!

(33)

Petunjuk Jawaban Latihan

Untuk mengukur keberhasilan Anda dalam menjawab soal pelatihan di atas, coba Anda cocokkan dengan rambu-rambu jawaban berikut ini.

1) Prosedur yang harus ditempuh untuk menentukan ketuntasan hasil penilaian yang berupa tes objektif sebagai berikut.

a. Melakukan penyekoran tiap butir berdasarkan kunci jawaban.

b. Menentukan skor perolehan siswa.

c. Menentukan nilai siswa dengan cara membagi skor perolehan dengan skor maksimal dan dikalikan 100.

d. Membandingkan nilai siswa dengan KKM.

e. Menyimpulkan siswa yang tuntas dan tidak tuntas.

2) Penentuan ketuntasan dilakukan dengan membandingkan nilai yang diperoleh siswa dengan KKM.

KKM bahasa Indonesia yang ditetapkan 80. Keputusan/simpulan remedi jika nilai siswa di bawah 80 dan jika skor sama atau di atas 80 dikategorikan tuntas.

Jawaban dirangkum pada tabel berikut.

Pada standar penilaian, tugas menganalisis dan penafsiran hasil penilaian dipaparkan pada tabel berikut.

Jenis-jenis Penilaian dan Tanggung Jawab Penilai Jenis

penilaian

Pengumpul/

penganalisis analisis libat

Ruang lingkup materi Pendidik Ulangan harian

(penilaian proses akhir KD)

Pendidik KD

Pendidik (koordinasi satuan pendidikan)

Ulangan tengah semester (penilaian akhir beberapa KD atau akhir sebuah SK)

Pendidik

(internal/pengendalian mutu)

Beberapa KD atau SK

Ulangan akhir semester ganjil (komprehensif, seluruh

kompetensi dalam satu semester)

Pendidik

Dapat berupa beberapa KD atau SK

(34)

Penilai Jenis penilaian

Pengumpul/

penganalisis analisis libat

Ruang lingkup materi Ulangan kenaikan

kelas/akhir semester genap

Pendidik SKL yang dipelajari pada tahun yang bersangkutan Satuan

pendidikan

- Ujian sekolah

- Penilaian akhir akhlak dan kepribadian

- Sekolah.

(internal/pengendalian mutu)

- Rapat dewan pendidik

- Mata pelajaran kelompok iptek yang tidak diujikan dalam UN

Aspek kognitif agama dan akhlak mulia serta kewarganegaraan dan kepribadian

- Aspek afektif agama dan akhlak mulia serta kewarganegaraan dan kepribadian

Pemerintah Ujian nasional

(UN) Pemerintah Seluruh SKL ujian nasional

Prinsip pengolahan hasil ada dua, yaitu menggunakan berbagai sumber bukti belajar dan menggunakan keterbukaan. Pengolahan hasil penilaian bisa menggunakan pendekatan acuan patokan atau pendekatan acuan norma. Pendekatan PAP memiliki beberapa kelebihan yang meliputi (1) hasil PAP merupakan umpan balik yang dapat digunakan guru sebagai introspeksi tentang program pembelajaran yang telah dilaksanakan, (2) hasil PAP dapat membantu guru dalam pengambilan keputusan tentang perlu atau tidaknya penyajian ulang topik/materi tertentu, serta (3) hasil PAP dapat pula membantu guru merancang pelaksanaan program remedi. Pendekatan acuan norma PAN (norm referenced evaluation) dikenal pula dengan sebutan “standar relatif” atau norma kelompok. Pendekatan ini menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan membandingkannya dengan hasil tes siswa lain dalam kelompoknya. Alat pembanding itu ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh siswa dalam satu kelompok. Ini berarti standar kelulusan baru dapat ditentukan setelah diperoleh skor siswa. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa standar yang dibuat untuk kelompok tertentu tidak dapat digunakan untuk kelompok lainnya. Begitu pula dengan standar yang digunakan untuk hasil tes sebelumnya tidak dapat digunakan untuk

RA NG KUM AN

(35)

hasil tes sekarang atau yang akan datang. Jadi, setiap kali kita memperoleh data hasil tes, kita dituntut untuk membuat norma baru.

Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, pendekatan pengolahan hasil yang digunakan adalah penilaian yang mengacu pada kriteria atau patokan. Dalam hal ini, prestasi peserta didik ditentukan oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan suatu kompetensi.

Meskipun demikian, kadang-kadang dapat digunakan penilaian acuan norma untuk maksud khusus tertentu sesuai dengan kegunaannya, seperti untuk memilih peserta didik masuk rombongan belajar yang mana, untuk mengelompokkan peserta didik dalam kegiatan belajar, dan untuk menyeleksi peserta didik yang mewakili sekolah dalam lomba antarsekolah.

Prosedur yang harus ditempuh untuk menentukan ketuntasan kompetensi dasar adalah (a) melakukan penyekoran berdasarkan kunci jawaban/rambu penyekoran ataupun rubrik, (b) menentukan skor perolehan siswa, (c) menentukan nilai siswa dengan cara membagi skor perolehan dengan skor maksimal dan dikalikan 100%, (d) membandingkan nilai siswa dengan KKM (kriteria ketuntasan minimal), serta (e) menyimpulkan siswa yang tuntas dan tidak tuntas.

Dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, pendekatan penilaian yang digunakan adalah penilaian yang mengacu pada kriteria atau patokan. Dalam hal ini, prestasi peserta didik ditentukan oleh kriteria yang telah ditetapkan untuk penguasaan suatu kompetensi.

Meskipun demikian, kadang-kadang dapat digunakan penilaian acuan norma untuk maksud tertentu sesuai dengan kegunaannya, seperti untuk memilih peserta didik masuk rombongan belajar yang mana, untuk mengelompokkan peserta didik dalam kegiatan belajar, dan untuk menyeleksi peserta didik yang mewakili sekolah dalam lomba antarsekolah.

1) Prinsip pengolahan hasil penilaian adalah menggunakan ....

A. tes subjektif dan objektif B. lembar pengamatan dan jurnal C. berbagai sumber dan transparan

D. alat penilaian guru dan penilaian standar TES F ORM AT IF 1

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

(36)

2) Simpulan pengolahan hasil analisis butir bagi perbaikan pembelajaran adalah ....

A. mengetahui daya beda yang dapat membedakan siswa yang pandai dan kurang pandai

B. mengetahui tingkat kesulitan suatu soal yang akan diberikan kepada siswa

C. menentukan soal yang dibuang dan digunakan

D. menentukan bagian yang paling belum dikuasai sebagian besar siswa

3) Manfaat analisis butir bagi siswa adalah ....

A. perbaikan pembelajaran B. mengetahui kualitas soal C. mengetahui daya beda soal

D. mengetahui soal yang direvisi dan yang tidak

4) Berikut ini prosedur yang harus ditempuh untuk menentukan ketuntasan hasil penilaian yang berupa tes objektif, kecuali ....

A. melakukan penyekoran tiap butir berdasarkan kunci jawaban B. menentukan rambu-rambu jawaban secara perinci (bobot tiap

rambu-rambu jawaban)

C. menentukan nilai siswa dengan cara membagi skor perolehan dengan skor maksimal dan dikalikan 100

D. membandingkan nilai siswa dengan KKM 5) Berikut ini prinsip pengolahan hasil, kecuali ....

A. pengolahan produk tidak hanya secara kuantitatif, tetapi juga secara kualitatif

B. pengolahan hasil tes esai menggunakan pedoman yang memiliki interrater tinggi

C. pengolahan hasil tes objektif didahului dengan pencocokan kunci D. pengolahan hasil unjuk kerja didahului dengan pencocokan kunci

6) Langkah awal pengolahan untuk menentukan ketuntasan siswa pada alat penilaian unjuk kerja adalah ....

A. mencocokkan dengan kunci

B. menyekor per butir berdasarkan deskripsi skor pada rubrik C. menjumlahkan skor total

D. membandingkan dengan KKM

(37)

7) Analisis hasil penilaian oleh satuan pendidikan berupa kegiatan berikut, kecuali ....

A. menentukan nilai akhir untuk setiap mata pelajaran yang diperoleh dari akumulasi nilai ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan penugasan

B. menentukan nilai akhir akhlak dan kepribadian peserta didik C. menetapkan dapat tidaknya peserta didik naik kelas berdasarkan

kriteria kenaikan kelas yang telah ditetapkan

D. menentukan tuntas tidaknya siswa pada kompetensi dasar tertentu

8) Pendekatan acuan patokan (PAP) memiliki beberapa kelebihan, kecuali ....

A. hasil PAP merupakan umpan balik yang dapat digunakan perbaikan program

B. hasil PAP dapat membantu guru dalam pengambilan keputusan tentang pengulangan topik

C. hasil PAP dapat pula membantu guru merancang pelaksanaan program remedi

D. hasil PAP bisa menyesuaikan dengan kelompok siswa yang dinilai sehingga fleksibel

9) PAN (norm referenced evaluation) dikenal pula dengan sebutan memiliki kelemahan, yaitu ....

A. tidak dapat digunakan untuk kelompok yang berjumlah besar B. standar yang dibuat untuk kelompok tertentu tidak dapat digunakan

untuk kelompok lainnya

C. standar yang digunakan untuk hasil tes sebelumnya tidak dapat digunakan untuk hasil tes sekarang

D. kelompok tertentu, kebetulan siswanya pintar-pintar, standar kelulusannya akan tinggi

10) Hasil penilaian proses guru diserahkan kepada ....

A. guru mata pelajaran B. waka kurikulum C. satuan pendidikan D. guru PKn

(38)

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.

Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali 80 - 89% = baik 70 - 79% = cukup < 70% = kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan Kegiatan Belajar 2. Bagus! Jika masih di bawah 80%, Anda harus mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama bagian yang belum dikuasai.

Tingkat penguasaan = Jumlah Jawaban yang Benar 100%

Jumlah Soal

Referensi

Dokumen terkait

Adapun bagian yang tidak kalah penting adalah bagian penilaian hasil studi siswa, karena kegiatan ini merupakan masalah pokok yang dihadapi para pendidik setiap hari dalam

Laporan minimal memuat rekapitulasi hasil penilaian Makalah Kepemimpinan secara individual yang menggambarkan pemikiran calon tentang kepemimpinan efektif 4M, penilaian diri

PBM, Materi, Penilaian Kelas Proses Belajar Mengajar • Standar Kompetensi Lulusan.. •

Pengolahan data akademik sangat penting bagi sekolah karena dapat mempengaruhi proses pembelajaran. Hal ini perlu diperhatikan oleh pengelola TK AL-Hidayah Lolu

Dalam pembelajaran, guru dan siswa masing- masing mempunyai peranan yang penting dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran, dimana siswa dalam proses pembelajaran

Dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, lazimnya guru mengadakan penilaian awal untuk mengetahui kemampuan peserta didik

Dasar proses pengolahan hasil perkebunan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengolah bahan baku menjadi produk olahan

Penilaian hasil belajar merupakan kegiatan penting dalam pendidikan untuk mengetahui kemajuan belajar siswa dan mengevaluasi proses belajar