BAB VII Hukum Responsif dan Hukum Progresif
B. Pemahaman Hukum Progresif
SOSIOLOGI HUKUM 110
balikan aturan-aturan yang dimilikinya dan mengubah Prosedur kerja- nya. Namun sebagian institusi lain, diantaranya lembaga keagamaan dan hukum sangat tergantung pada ritual dan preseden untuk me- melihara identitas atau mempertahankan legitimasi. Bagi institusi-institusi ini, jalan menuju responsivitas sangatlah membahayakan. Perbedaan antara hukum otonom dan hukum responsif sebagian merupakan hasil dari penafsiran yang berbeda terhadap risiko tersebut. Hukum otonom menganut perspektif “resiko rendah”. Ia bersikap waspada terhadap apa saja yang dapat memicu gugatan terhadap otoritas yang sudah diterima. Dalam menemukan suatu tertib hukum yang terbuka dan purposive, pada pendukung hukum yang terbuka dan purposif, para pendukung hukum responsif lebih memiliki alternatif “risiko tinggi”.
Dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia, teori hukum responsif ini telah banyak diterapkan dalam klausul berbagai Undang-undang, bahkan hampir semua UU, khusus- nya yang berkaiatan dengan pelayanan publik memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk memberikan masukan, baik langsung atau tidak langsung dalam proses perumusan suatu UU. Hal ini diterapkan sejak era reformasi berjalan hingga kini.
kenyataan itu akan dimanipulasi sehingga cocok dengan ilmu dan teori yang ada. Sebagai contoh teori Newton yang melihat segalanya sebagai keteraturan, yang berhubungan secara mekanistik. Dengan kata lain teori Newton bersifat linear, matematis, dan deterministik. Teori Newton mengabaikan kenyataan dalam alam yang menyimpang dari teorinya.
Ia menganggap bahwa fenomena yang ada di alam ini tidak dapat di- masukkan dalam tubuh grandtehori-nya dianggap sebagai penyim- pangan yang harus diabaikan. Ketika teori Newton gagal menjelaskan fenomena tersebut, akhirnya digantikan oleh teori lain yaitu teori kuantum yang mampu menjelaskan fenomena tersebut.
Demikian juga halnya dengan hukum yang ada di Indonesia, rasanya sudah tidak mampu lagi menyelesaikan permasalahan hukum yang ada, untuk itu diperlukan sesuatu yang bisa membawa kearah yang lebih baik, sesuatu yang mempu menyelesaikan permasalahan hukum yang belum terselesaikan. Hal-hal seperi inilah yang dirasalkan Rahardjo, sebagai suatu PR dalam kehidupan berbangsa dan ber- negara. Merupakan sesuatun yang harus dipikirkan bersama oleh pakar hukum sehingga menemukan teori yang dapat diaplikasikan ke dalam masyarakat dan memberikan hasil yang baik bagi masyarakat.
Di Indonesia, muncul yang dinamakan hukum progresif yang mun- cul pada sekitar tahun 2002. Hukum progresif lahir karena selama ini ajaran ilmu hukum positif (analytical jurisprudence) yang dipraktik- kan pada realitas empirik di Indonesia tidak memuaskan. Gagasan Hukum Progresif muncul karena prihatin terhadap kualitas penegakan hukum di Indonesia terutama sejak terjadinya reformasi pada pertengah tahun 1997. Jika fungsi hukum dimaksudkan untuk turut serta memecahkan persoalan kemasyarakatan secara ideal, maka yang di- alami dan terjadi Indonesia sekarang ini adalah sangat bertolak be- lakang dengan cita-cita ideal tersebut.
Untuk mencari solusi dari kegagalan penerapan analytical juris-
SOSIOLOGI HUKUM 112
nusiaan, bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, memiliki sifat- sifat kasih sayang serta kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, asumsi dasar hukum progresif dimulai dari hakikat dasar hukum adalah untuk manusia. Hukum tidak hadir untuk dirinya – sendiri sebagaimana yang digagas oleh ilmu hukum positif–tetapi untuk manusia dalam rangka mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan manusia. Posisi yang demikian mengantarkan satu predisposisi bahwa hukum itu selalu ber- ada pada status ‘law in the making’ (hukum yang selalu berproses untuk menjadi).
Karena orientasinya lebih condong pada sosiologi hukum, Raharjo mencetuskan satu teori hukum yang dikenal dengan teori hukum prog- resif. Teori ini lahir tidak lepas dari gagasannya atau kegalauan dengan keadaan cara penyelengaraan hukum di Indonesia, dimana hampir sama sekali tidak ada terobosan yang cerdas menghadapi masa transisi Orde Baru dan yang lebih memprihatinkan lagi hukum tidak saja di- jalankan sebagi rutinnitas belaka, tetapi tetapi juga dipermainkan seperti barang dagangan bagi oknum-oknum tertentu.
Hukum progresif yang digagas Rahardjo merupakan pergulatan pemikirannya yang panjang dan galau terhadap penerapan sistem hu- kum di Indonesia yang selalu statis, koruptif, dan tidak mempunyai keberpihakan struktural terhadap hukum yang hidup di masyarakat.
Hukum di Indonesia telah kehilangan basis sosialnya, basis multikul- turalnya dan ditegakkan secara sentralistik dalam bangunan sistem hukum. Hukum kemudian dipaksakan, didesakkan dan diterapkan dengan kekerasan struktural oleh aparat penegak hukum.
Bangunan sistem hukum dan kondisi penegakan hukum yang penuh dengan problematik tersebut di Indonesia akhirnya dideklasikan pentingnya persatuan kekuatan hukum progresif untuk melawan kekuatan status quo madzhab hukum yang telah sekian lama diterapkan dalam sistem hukum di Indonesia. Menurutnya, kekalahan kekuatan madzhab hukum progresif disebabkan kekuatan hukum progresif masih tercerai-berai dan belum memiliki platform yang akan membangun
sinergi dan kekuatan. Oleh karena itu mendesak kekuatan hukum progresif untuk saling bergandeng tangan dalam ide, aksi, dukungan dan lainnya untuk memperbesar kekuatan madzhab hukum progresif.
Kekuatan hukum progresif merupakan kekuatan yang menolak dan ingin mematahkan keadaan status quo. Mempertahankan status quo berarti menerima normatifitas dan sistem yang ada tanpa ada usaha untuk melihat aneka kelemahan di dalamnya yang kemudian mendorong bertindak mengatasinya. Hampir tidak ada usaha untuk melakukan perbaikan, yang ada hanya menjalankan hukum seperti apa adanya dan secara biasa-biasa saja. Mempertahankan status quo dalam kondisi tersebut akan makin bersifat jahat sekaligus bertahan dalam situasi korup dan dekaden dalam sistem yang nyata-nyata memiliki kele- mahan. Status quo juga bertahan salah satu alasannya karena doktrin otonomi hukum, padahal dalam diri hukum sesungguhnya juga benteng perlindungan bagi orang-orang mapan sehingga pendekatan tujuan keadilan hanya bisa dicapai dengan menggunakan pendekatan sistem peraturan dan prosedur obyektif. Pandangan dan pendekatan yang dipaktekkan dalam sistem rule of law demikian tidak akan pernah mencapai keadilan sosial.
Kekuatan hukum progresifnya merupakan provokasi ilmiah atas hegemoni posistivisme dan sentralisme hukum yang kemudian ber- dampak terhadap kekerasan struktural, marjinalisasi masyarakat dan hukumnya serta menjauhkan hukum dari kehidupan sosial masyarakat yang multikultural. Kemunculan ide ini telah menciptakan polemik dan debat konfrontatif dengan paradigma hukum yang hingga saat ini masih diterapkan di Indonesia. Setidaknya, salah satu teoritikus yang di- lawannya ialah Hans Kalsen yang mengatakan bahwa norma hukum bukan semata diterapkan oleh organ atau dipatuhi oleh subyek, tetapi juga menjadi dasar pertimbangan nilai spesifik yang mengkualifikasikan satu perbuatan dinilai berdasar hukum ataukah tidak diluar hukum.
SOSIOLOGI HUKUM 114
pakan terma yang berbeda. Validitas hukum normatif dan primer ialah sesuatu yang sollen bukan sesuatu yang sein.
Pemikiran hukum perlu kembali pada filosofis dasarnya, yaitu hukum untuk manusia. Dengan filosofis tersebut, maka manusia menjadi penentu dan titik orientasi hukum. Hukum bertugas melayani manusia, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, hukum itu bukan me- rupakan institusi yang lepas dari kepentingan manusia. Mutu hukum ditentukan oleh kemampuannya untuk mengabdi pada kesejahteraan manusia. Ini menyebabkan hukum progresif menganut “ideologi”:
Hukum yang pro-keadilan dan Hukum yang Pro-rakyat.
Dalam logika itulah revitalisasi hukum dilakukan setiap kali. Bagi hukum progresif, proses perubahan tidak lagi berpusat pada peraturan, tetapi pada kreativitas pelaku hukum mengaktualisasikan hukum dalam ruang dan waktu yang tepat. Para pelaku hukum progresif dapat me- lakukan perubahan dengan melakukan pemaknaan yang kreatif ter- hadap peraturan yang ada, tanpa harus menunggu perubahanperaturan (changing the law). Peraturan buruk tidak harus menjadi penghalang bagi para pelaku hukum progresif untuk menghadikarkan keadilan untuk rakyat dan pencari keadilan, karena mereka dapat melakukan interprestasi secara baru setiap kali terhadap suatu peraturan.
Untuk itu agar hukum dirasakan manfaatnya, maka dibutuhkan jasa pelaku hukum yang kreatif menterjemahkan hukum itu untuk ke- pentingan-kepentingan sosial yang memang harus dilayaninya.
Berdasarkan teori ini keadilan tidak bisa secara langsung ditemukan lewat proses logis – formal. Keadilan justru diperoleh lewat institusi, karenanya, argument-argumen logis formal dicari sesudah keadilan ditemukan untuk membingkai secara yuridis – formal keputusan yang diyakini adil tersebut. Oleh karena itu konsep hukum progresif, hukum tidak mengabdi bagi dirinya sendiri, melainkan untuk tujuan yang ber- ada di luar dirinya.
Butiran pemikiran demikian itu akan dijumpai dalam banyak
gagasan tentang hukum yang dicetuskan oleh Rahardjo. Baginya, hukum bukanlah sekedar logika semata, lebih daripada itu hukum merupakan ilmu sebenarnya (genuine science). Selama ini ia melihat hukum sebagai objek ilmu daripada profesi, dengan selalu berusaha untuk memahami atau melihat kaitan dengan hal-hal dibelakang hukum, keinginan untuk melihat logika sosial dari hukum lebih besar daripada logika hukum atau perundang-undangan), yang seharusnya selalu di- maknai sehingga selalu up to date. Pemikiran konvensional yang se- lama ini menguasai/mendominasi karakteriktik berpikir ilmuwan hukum.
Salah satu ajaran atau pemikiran dari hukum progresif adalah hukum progresif menempatkan faktor manusia lebih penting dan berada di atas peraturan. Oleh karena itu, hukum progresif sepakat dengan ungkapan yang menyatakan “berikan saya jaksa dan hakim yang baik sehingga dengan peraturan yang burukpun saya bisa membuat putusan yang baik”. Pandangan dari hukum progresif yang menempatkan faktor manusia lebih penting dan berada di atas pe- raturan, bersesuaian dengan pandangan Roscoe Pound tentang ke- adilan yang memandang keadilan dapat dilaksanakan dengan hukum atau tanpa hukum. Keadilan tanpa hukum dilaksanakan sesuai dengan keinginan atau intuisi seseorang yang di dalam mengambil keputusan mempunyai ruang lingkup diskresi yang luas serta tidak ada keterikatan pada perangkat aturan tertentu.
Pemikiran hukum progresif dalam hubungan dengan perwujudan keadilan, pernah pula dikemukakan oleh salah seorang mantan Hakim Agung, Bismar Seregar, dengan menyatakan “bila untuk menegakan keadilan saya korbankan kepastian hukum, akan saya korbankan hukum itu. Hukum hanya sarana sedangkan tujuannya adalah keadilan, mengapa tujuan dikorbankan karena sarana? Dengan demikian hakim dalam menerapkan hukum progresif untuk me- wujudkan keadilan sosial sebagai keadilan substantif Pancasila harus
SOSIOLOGI HUKUM 116
Rahardjo merupakan salah satu pemikir hukum Indonesia yang cukup produktif. Pemikirannya akan banyak dijumpai dalam berbagai bentuk, baik lisan maupun tulisan, buku teks atau tercerai berai di berbagai surat kabar dalam bentuk artikel dan makalah seminar/diskusi.
Substansinya sangat beragam bahkan sangat luas, mulai dari hal yang bersifat filosofis, sosiologis bahkan anthropologis dan religius. Ciri pemikirannya sesuai dengan perkembangan saat ini dapat dimasukan ke dalam pemikir kontemporer dalam ilmu hukum postmodernis sekaligus kritis.
Bagi Raharjo, berpikir teoretis bagi para ilmuwan hukum adalah mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu gagasan beliau lebih kepada bagaimana para ilmuwan hendaknya mengem- bangkan semangat untuk tetap menjaga cara berpikir yang demikian itu, karena melalui jalur tersebut akan membawa kita semua sampai kepada apa yang disebutnya dengan “The Formation of Theory” (mem- bangun teori). Teori menurutnya adalah, Giving name-explanation, given new meaning. Para llmuwan hukum seharusnya mencoba berpikir ke arah sana. Dan semua ilmuwan sangat terbuka/diundang untuk memasuki wilayah ini.
Hukum akan dirasakan adil apabila hukum tersebut sesuai dengan hukum yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat yang bersa- ngkutan. Hal ini dapat dikuatkan dengan hukum-hukum adat yang ada di daerah-daerah di Indonesia akan sangat dihormati/ditaati (bukan ditakuti) oleh masyarakat yang bersangkutan karena memang mas- yarakat merasa harus mentaati hukum itu, karena telah memberikan rasa adil.
Untuk memahami teori hukum progresif tidaklah semudah nama- nya, karena akan memerlukan bacaan yang lebih dalam mengenai latar belakang pemikiran munculnya teori tersebut. Bertitik tolak dari ke- nyataan yang pahit mengenai kehidupan dan peranan hukum yang ia konstatir maka muncullah keinginan untuk kembali kepada fundamental hukum di negeri ini. Bahkan beliau memikirkan tentang kemungkinan
adanya kekeliruan atau kekurang tepatan dalam mema-hami funda- mental hukum tersebut, sehingga beliau menegaskan adanya perkem- bangan hukum tidak dapat diarahkan kepada yang benar.
Menurut Raharjo karakteristik dan fungsi serta peranan hukum dalam pembangunan dibedakan dalam dua hal, yaitu:
1. Hukum selalu ditempatkan untuk mencari landasan pengesahan atas suatu tindakan yang memegang teguh ciri prosedural dari dasar hukum dan peraturan; dan
2. Hukum dalam pembangunan dipandang telah mengalami pertukaran dengan kekuatan-kekuatan di luar hukum sehingga hukum menjadi saluran untuk menjallankan keputusan politik, atau hukum dijadikan sebagai perekayasa sosial.
Pandangan teori hukum progresif menurut Raharjo merupakan suatu penjelajahan suatu gagasan yang berintikan 9 (sembilan) pokok pikiran. Adapun pokok-pokok pikiran dimaksud adalah:
1. Hukum menolak tradisi analytical jurisprudence atau rechtsdog- matiek dan berbagi faham dengan aliran seperti legal realism, freirechtslehre, sosiological jurisprudence, interressenjuris- prudenz, di Jerman, teori hukum alam, dan critical legal studies.
2. Hukum menolak bahwa ketertiban (order) hanya bekerja melalui istitusi-istitusi kenegaraan.
3. Hukum progresif ditunjukkan untuk melindungi rakyat menuju kepada ideal hukum.
4. Hukum menolak status quo serta tidak ingin menjadikan hukum se- bagai teknologi yang tidak bernurani, melainkan suatu institusi yang bermoral.
5. Hukum adalah suatu institusi yang bertujuan mengantarkan manusia kepada kehidupan yang adil, sejahtera, serta membuat manusia bahagia.
6. Hukum progresif adalah, hukum yang pro rakyat, dan hukum yang
SOSIOLOGI HUKUM 118
7. Asumsi dasar hukum progresif adalah bahwa, hukum adalah untuk manusia, bukan sebaliknya. Berkaitan dengan hal tersebut, maka hukum tidak ada untuk dirinya sendiri, melainkan untuk sesuatu yang lebih luas dan lebih besar. Maka setiap kali ada masalah dalam dan dengan hukum, hukumlah yang ditinjau dan diperbaiki, bukan manusia yang dipaksakan untuk dimasukkan kedalam sistem hukum.
8. Hukum bukan merupakan suatu institusi yang absolut dan final me- lainkan sangat bergantung pada bagaimana manusia melihat dan menggunakannya. Manusialah yang merupakan penentu.
9. Hukum selalu berada dalam proses untuk terus menjadi (law as a process, law in the making).
Hampir setiap hari kita menyaksikan baik melalui media koran maupun media elektronik tentang pelanggaran terhadap hukum dan Hak Asasi Manusia terus terjadi di berbagai negara di dunia dan khusus- nya di Indonesia, bahkan sudah menjadi berita dan tontonan yang ditunggu-tunggu. Walaupun berbagai peraturan perundang-undangan, etika (profesi) dan konversi internasional telah diterbitkan.
Sudah selayaknya di Indonesia terjadi reformasi di bidang hukum, bukan hanya hukumnya saja akan tetapi sistem hukum yang selama ini berpatokan kepada erofa kontinental sudah urgen dipertanyakan lagi, apakah masih perlu dipertahankan, ataukah sudah perlu perombakan secara besar-besaran, mengingat banyaknya hukum yang ada di Indonesia yang tidak berdasarkan pada jiwa bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Aburaera, Sukarno, dkk, 2013. Filsafat Hukum: Teori dan Praktek, Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Ali, Achmad, 2008. Menguak Realitas Hukum, Rampai Kolom &
Artikel Pilihan Dalam Bidang Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Media Group
—————, 2009. Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence). Jakarta: Kencana.
—————, 2001.Keterpurukan Hukum di Indonesia, Jakarta:
Ghalia Indonesia
—————, 2002. Menguak Tabir Hukum (Suatu Kajian Filosofisdan Sosiologis), Jakarta: PT. Toko Gunung Agung Ali, Zainuddin, 2012. Sosiologi Hukum. Jakarta: Sinar Grafika.
Anwar, Yesmil Adang, 2008.Pengantar Sosilogi Hukum, Jakarta:
PT. Grasindo
Apeldorn, Van, 1986. Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: PT. Pradnya Paramita
Atmasasmita, Romli 2012, Tiga Paradigma Hukum dalam
SOSIOLOGI HUKUM 120
Chairuddin, O.K., 1991. Sosiologi Hukum. Jakarta: Sinar Grafika Darmodihardjo, Dardji & Sidharta, 1995. Pokok-Pokok Filsafat
Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Erwin, Muhamad, 2011. Filsafat Hukum, Refleksi Kritis terhadap Hukum, Jakarta: PT. Radja Grafindo Persada
Fajlurrahman Jurdi, 2007. Komisi Yudisial: Dari Lelegitimasi hingga Revitalisasi Moral Hakim, Yogyakarta: Kreasi Wacana Friedman, W, 1993. Teori dan Filsafat Hukum, Telaah Atas Teori-
Teori Hukum, Jakarta: PT. Rajagrafindo
Fuady, Munir, 2011. Teori-Teori dalam Sosiologi Hukum. Jakarta:
Kencana.
—————, 2012. Teori-Teori Besar (Grand Theory) dalam Hukum, Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Hendrojono, 2005. Sosiologi Hukum: Pengaruh Perubahan Masyarakat dan Hukum. Surabaya: Srikandi
Johnson, Alvin S. 2004.Sosiologi Hukum. Jakarta: Rineka Cipta.
Kamil, Ahmad, 2012, Filsafat Kebebasan Hakim, Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Mahfud MD, Moh, 2001. Politik Hukum di Indonesia, Jakarta: LP3ES Malsem, Van. Ilmu Pengetahuan dan Tanggung Jawab Kita. 1992.
Jakarta: Gramedia.
Mertokusumo, Sudikno, 1988, Mengenal Hukum, Yogyakarta: Liberty Muliadi, A, 2011, Peran Politik Hukum Dalam Penegakan Hukum Yang Berkeadilan, Jurnal Hukum Adil Vol. 2, No. 2: Jakarta Podgorechi, Adam dan Chirsthoper J Whelan, 1987. Sosiological
Approaches to Law, Jakarta: Bina Aksara
Purbacaraka, Purnadi, 1988. Disiplin Hukum adalah Disiplin Sosial, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Rahardjo, Satjipto, 2006. Ilmu Hukum. Bandung: PT Citra Aditya
———————, 2007. Biarkan Hukum Mengalir, Jakarta:
Kompas Media Nusantara
———————, 2010. Sosiologi Hukum: Esai-esai Terpilih , Yogyakarta: Genta Publishing
Saifullah, 2007. Refleksi Sosiologi Hukum. Bandung: Refika Aditama Sholehudin, Umar, 2011. Hukum dan Keadilan Masyarakat
Persepektif Sosiologi Hukum. Malang: Setara Press
Soekanto, Soerjono, 1976. Kegunaan Sosiologi Hukum Bagi Kalangan Hukum. Bandung: Alumni.
———————, 1984. Antropologi Hukum: Materi Pengantar Ilmu Hukum Adat. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
———————, 1991. Pokok-pokok Sosiologi Hukum. Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada
———————, 1992. Memperkenalkan Sosiologi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
———————, 1983. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
———————, 2004. Sosiologi, Suatu Pengantar, Jakarta:
RajaGrafindo Persada
———————, 2014.Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. Jakarta:
Rajawali Pers
Sudarsono, 1991. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Rineka Cipta Sudjito, 2012. Hukum dalam Pelangi Kehidupan, Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada University Press
Taneko, Soleman B., 1993. Pokok-pokok Studi Hukum dalam Masyarakat. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Tanya, Bernard L, 2006. Hukum dalam Ruang Sosial. Surabaya:
SOSIOLOGI HUKUM 122
Usman, Sabian,, 2009. Dasar-Dasar Sosiologi Hukum, Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Warassih, Esmi Pranata Hukum: Sebuah Telaah Sosiologis.
Semarang: Suryandaru Utama, 2005
Wasis S.P, Pengantar Ilmu Hukum, UMM Pres, Malang, 2002
BIODATA PENULIS
Dr. Mohd, Yusuf Daeng, SH., MH., Ph.D,
lahir di Benteng, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau , 15 Juni 1963. Memperoleh gelar Sarjana (S1) pada Fakultas Hukum Jurusan Pidana Universitas Lancang Kuning (1998) dan Master (S2) pada Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta spesialis Hukum Bisnis. Berhasil meraih gelar Doktor (S3) dari Universitas Trisakti Jakarta dan Ph.D dari Universiti Teknikal Malaysia (UTeM) Melaka.
Selain berprofesi sebagai Advokat dan Law Consultan terkemuka di Riau, dosen tetap Fakultal Hukum Universitas Lancang Kuning ini, juga banyak terlibat dalam kegiatan sosial-politik dan kemasyarakatan.
Di kampus ia pernah menjabat sebagai Direktur LBH dan Kepala Laboratorium Hukum (2000-2004), Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan (2000-2004), dan Pembantu Rektor IV bidang Kerjasama dan Promosi (2004-2008). Di bidang kemasyarakatan pernah dipercaya sebagai Tim Pembina Penanggulangan Narkoba BNP Provinsi Riau, Sekjen Forum Silaturrahmi Kantibmas (FSK) Provinsi