Pendahuluan
Hukum, Masyarakat, dan Perubahan Sosial
Masyarakat dan Hukum
Hukum tidak mungkin terpisah dan otonom dari unsur-unsur lainnya. Bagaimana hukum itu dibuat dan untuk apa hukum itu pada akhirnya bergantung sepenuhnya pada kesadaran manusia.
Fungsi Hukum dalam Masyarakat
Sedangkan menurut Pound, undang-undang seharusnya berfungsi sebagai “instrumen kontrol sosial” dan “instrumen rekayasa sosial”. Kritik terhadap hukum sebagai alat rekayasa sosial Meski para eksponen yang mendukung gagasan 'hukum sebagai alat rekayasa sosial' kini dipandang sebagai peraturan yang cukup dominan dan menduduki posisi kunci dalam pembangunan hukum nasional, namun bukan berarti gagasan-gagasan mereka dan langkah-langkah operasional dapat diimplementasikan, dikembangkan dan dilaksanakan tanpa kritik.
Hukum dan Perubahan Sosial
Dengan kalimat yang lebih vulgar, Rahardjo mengungkapkan telah terjadi kemandulan di bidang hukum dan ilmu hukum di Indonesia. Dalam kerangka akademis, produksi sosiologi hukum dipahami sebagai upaya untuk memungkinkan terbentuknya teori-teori hukum yang bersifat sosiologis.
Keberadaan Hukum sebagai Sistem Nilai Sosial 35
Hukum dan Stratifikasi Sosial
Bertahannya sistem yang berlapis-lapis dalam suatu masyarakat disebabkan karena ada sesuatu yang dihargai dalam masyarakat tersebut, dan setiap masyarakat pasti mempunyai sesuatu yang dihargainya, maka sesuatu itu dapat menjadi benih yang menumbuhkan adanya sistem yang berlapis-lapis. ke dalam masyarakat. Hipotesis para sosiolog mengatakan bahwa semakin kompleks stratifikasi sosial suatu masyarakat, semakin banyak pula hukum yang ada.
Pembentukan Norma Hukum dalam Masyarakat
Hal ini sebenarnya sangat bertentangan dengan tujuan undang-undang yang tidak membedakan keadaan seperti itu. Sosiologi hukum tidak membuat penilaian, tetapi mendekati hukum dari sudut pandang yang sepenuhnya obyektif dan berupaya menjelaskan fenomena hukum yang nyata. Hal ini terlihat dari hasil karya-karya sosiologi hukum yang masih sangat sedikit.
Ada pula ciri-ciri sosiologi hukum yang bersifat empiris atau berupa gejala-gejala masyarakat yang nyata dan tidak bersifat spekulatif. Sekali lagi, sosiologi hukum tidak memberikan penilaian, melainkan mendekati hukum sebagai objektivitas belaka dan bertujuan untuk menjelaskan fenomena hukum yang nyata. Terdapat perbedaan antara sosiologi hukum yang dikenal di Eropa dengan ilmu sosiologi hukum yang dikenal di Amerika.
Hukum akan dianggap adil apabila hukum tersebut sesuai dengan hukum yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat yang bersangkutan.
Ruang Lingkup Sosiologi Hukum
Roh dan Jiwa Sosiologi Hukum
Keadilan distributif, yaitu keadilan yang mengharuskan setiap orang mendapatkan apa yang menjadi miliknya berdasarkan hak atau kuota (suum cuique tribuere). Keadilan umum adalah keadilan menurut kehendak hukum yang harus dilaksanakan demi kepentingan umum, dan keadilan khusus adalah keadilan yang berdasarkan persamaan atau proporsionalitas. Keadilan distributif (justitia distributiva) adalah keadilan yang diterapkan secara proporsional dalam bidang hukum publik pada umumnya.
Keadilan kreatif adalah keadilan yang memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk menciptakan sesuatu sesuai dengan daya kreatifnya, sedangkan keadilan protektif adalah keadilan yang memberikan perlindungan kepada setiap orang, yaitu perlindungan yang diperlukan dalam masyarakat. Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat jelas bahwa konsep keadilan yang dianut oleh bangsa Indonesia adalah keadilan menurut Pancasila karena Pancasila adalah falsafah bangsa Indonesia. Kata “adil” dalam Pancasila terkandung dalam dua sila, yaitu sila kedua “kemanusiaan yang adil dan beradab” dan sila kelima “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Keadilan dilakukan demi keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” dan pasal 5 ayat (1) Undang-undang yang sama menyatakan bahwa “Hakim dan Hakim Konstitusi wajib menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan dalam masyarakat."
Karakteristik Sosiologi Hukum
Sosiologi hukum selalu menguji keabsahan empiris suatu peraturan atau pernyataan hukum sehingga mampu memperkirakan apakah suatu undang-undang layak dan/atau tidak pantas bagi suatu masyarakat tertentu. Oleh karena itu, ilmu hukum yang diberikan pada pendidikan tinggi hukum pada saat itu pada hakikatnya adalah ilmu hukum. Dan yang terpenting, hukum yang baik harus dapat dimengerti atau dipahami oleh pihak-pihak yang diaturnya.
Hal ini berkaitan dengan fungsi hukum dalam masyarakat atau efektifitas ketentuan hukum dalam pelaksanaannya.Seseorang yang mempunyai kesadaran hukum akan mempunyai penilaian terhadap hukum berkaitan dengan tujuan dan tugasnya. Hal ini bisa terjadi ketika pemerintah yang seharusnya mendukung hukum sebagai kewajibannya, justru mengkhianati hukum yang ada. Aparat penegak hukum dapat diartikan sebagai seluruh lembaga dan lembaga penegak hukum yang terlibat dalam proses penegakan hukum.
Dengan kata lain, untuk menegakkan peraturan perundang-undangan, perlu juga dilakukan pemutakhiran atau penetapan peraturan perundang-undangan yang baru. Konstruksi sistem hukum dan kondisi penegakan hukum yang sarat permasalahan di Indonesia, akhirnya mengungkap pentingnya menyatukan kekuatan-kekuatan hukum progresif untuk melawan kekuatan aliran hukum status quo yang telah lama dimanfaatkan dalam masyarakat. sistem hukum di Indonesia. Mertokusumo, Sudikno, 1988, Belajar Hukum, Yogyakarta: Liberty Muliadi, A, 2011, Peran Politik Hukum dalam Penegakan Hukum yang Adil, Jurnal Fair Law Vol.
Kegunaan dan Efektivitas Sosiologi Hukum
Pendekatan Normatif
Artinya hukum sudah menjadi aturan yang mengatur tingkah laku manusia dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga sebelumnya terdapat hipotesis bahwa hukum itu benar. Meski penelitian bertujuan untuk menggali kebenaran, namun hukum sudah merupakan seperangkat aturan tentang perilaku yang baik. Tujuannya adalah untuk melakukan tinjauan sistematis atau mengurutkan prinsip-prinsip yang diperoleh dari penelitian.
Pendekatan ideologis ini menghasilkan abstraksi-abstraksi yang kemungkinan besar menghasilkan aturan-aturan ideal yang dalam realitas kehidupan sehari-hari tidak memegang peranan penting, kecuali dalam kasus-kasus dimana terjadi pelanggaran yang sangat serius. Hal ini terlihat pada struktur kurikulum fakultas hukum yang sebagian besar ditujukan untuk mengembangkan keterampilan memahami dan menerapkan peraturan yang berlaku. Pengetahuan hukum tersebut diperlukan karena pekerja hukum dituntut untuk memiliki kemampuan dalam memberikan solusi terhadap permasalahan dengan menggunakan landasan peraturan hukum.
Pada masa itu, sebagaimana dikemukakan Kusumaat-Madja, masyarakat kolonial memerlukan tenaga ahli yang hanya mampu menjaga ketertiban hukum yang ada, sehingga sarjana hukum tidak dituntut untuk mengetahui hakikat hukum di luar pemahaman peraturan hukum. Ini.
Pendekatan Sosiologis
Sedangkan kesadaran hukum dapat tercipta jika terdapat indikator pengetahuan hukum, sikap hukum, dan perilaku hukum yang taat hukum. Jadi, kesadaran hukum adalah kesadaran atau nilai-nilai yang dianut dalam diri masyarakat tentang hukum yang ada atau tentang hukum yang diharapkan ada. Sebab pelaksanaan supremasi hukum itu sendiri hanya dapat terwujud jika hukum yang diterapkan mencerminkan nilai-nilai keadilan yang ada dalam masyarakat.
Namun terwujudnya keadilan dalam kehidupan masyarakat tidak lepas dari pemikiran hukum yang diterapkan dan lembaga-lembaga yang berwenang untuk menegakkan hukum tersebut. Dari konsep hukum yang disampaikan kedua pemikir hukum ini terlihat jelas bahwa konsep hukum responsif dikonstruksi oleh dua orang. Tanda-tanda hukum yang represif adalah adaptasi institusi hukum yang pasif dan oportunistik terhadap institusi sosial dan politik.
Kemunculan gagasan tersebut menimbulkan kontroversi dan perdebatan konfrontatif dengan paradigma hukum yang masih diterapkan di Indonesia hingga saat ini.
Penegakan dan Pelaksanaan Hukum yang Berkeadilan 87
Pelaksanaan Hukum yang Berkeadilan
Pada dasarnya suatu perkembangan terjadi di dalam tubuh hukum, sehingga menghasilkan hukum yang maju, atau seharusnya maju seperti yang saat ini dilakukan oleh berbagai negara. Faktanya, hukum modern telah meletakkan asas dan asas hukum baru serta meninggalkan asas dan asas hukum lama yang cenderung ketinggalan jaman. Namun salah satu faktor yang mengikuti perkembangan hukum di masyarakat tidak dapat diabaikan adalah kesadaran hukum masyarakat itu sendiri.
Faktor kesadaran hukum ini memegang peranan yang sangat penting dalam pembangunan hukum, artinya semakin lemah tingkat kesadaran masyarakat maka semakin lemah pula kepatuhan hukumnya, dan sebaliknya semakin kuat kesadaran hukum maka semakin kuat pula faktor kepatuhan hukumnya. Rendahnya kesadaran hukum akan menjadi kendala dalam pelaksanaan undang-undang, baik berupa tingginya angka pelanggaran hukum maupun berupa kurangnya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan undang-undang tersebut. Melemahnya kewenangan hukum antara lain disebabkan karena hukum kurang mendapat dukungan dari norma-norma sosial non-hukum.
Hukum tidak mendapat dukungan yang memadai dari norma-norma sosial non-hukum, sehingga melemahkan sistem nilai dalam masyarakat secara umum akibat modernisasi.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan
Filsafat hukum mengenal berbagai teori hukum yang mendasari pemikiran hukum dalam kehidupan masyarakat, termasuk pemikiran hukum di Indonesia, seperti teori hukum kodrat, teori hukum positivisme dan utilitarianisme, teori hukum norma murni dan dasar, teori sosiologi perkembangan hukum dan lain-lain. Dalam mencari tatanan hukum yang terbuka dan berorientasi pada tujuan, para pendukung hukum yang terbuka dan berorientasi pada tujuan serta pendukung hukum responsif mempunyai alternatif yang mempunyai risiko lebih besar. Demikian pula hukum yang ada di Indonesia nampaknya sudah tidak mampu lagi menyelesaikan permasalahan hukum yang ada, sehingga diperlukan sesuatu yang dapat membawa ke arah yang lebih baik, sesuatu yang dapat menyelesaikan permasalahan hukum yang belum terselesaikan.
Lebih condong pada sosiologi hukum, Raharjo menciptakan teori hukum yang disebut teori hukum progresif. Hukum progresif yang digagas oleh Rahardjo merupakan suatu perjuangan pemikirannya yang panjang dan sulit terhadap penerapan sistem hukum di Indonesia yang selalu statis, korup, dan tidak memiliki keselarasan struktural dengan hukum yang ada di masyarakat. Agar dapat merasakan manfaat hukum, maka kepentingan sosial yang harus mereka layani memerlukan jasa para pelaku hukum yang kreatif dalam menafsirkan hukum.
Berlatarbelakangkan realiti pahit kehidupan dan peranan undang-undang, seperti yang diamatinya, wujud keinginan untuk kembali kepada asas undang-undang di negara ini.
Hukum Responsif dan Hukum Progresif
Perdebatan Hukum Responsif
Di antara ketiga jenis hukum tersebut, Nonet dan Selznick berpendapat bahwa hanya hukum responsif yang menjanjikan tatanan kelembagaan yang stabil dan langgeng. Hukum yang bertanggung jawab pada hakikatnya berorientasi pada hasil, pada tujuan yang ingin dicapai di luar hukum. Ciri hukum responsif adalah pencarian nilai-nilai tersirat yang tertanam dalam peraturan dan kebijakan.
Konsep hukum responsif melihat solusi atas dilema tersebut dengan mencoba memadukan keterbukaan dengan integritas. Hukum responsif membedakan dirinya dari hukum otonom dalam penekanannya pada peran tujuan dalam hukum. Jadi peraturan perundang-undangan yang dapat diterima mengasumsikan bahwa tujuan dapat dibuat cukup obyektif dan cukup otoritatif untuk mengatur tindakan regulasi yang adaptif.
Perbedaan antara hukum otonom dan hukum responsif antara lain disebabkan oleh perbedaan penafsiran atas risiko-risiko tersebut.
Pemahaman Hukum Progresif
Hukum progresif lahir karena doktrin yurisprudensi positif (analytical jurisprudence) yang dipraktikkan dalam realitas empiris Indonesia selama ini kurang memuaskan. Gagasan hukum progresif muncul dari keprihatinan terhadap kualitas penegakan hukum di Indonesia, terutama sejak reformasi berlangsung pada pertengahan tahun 1997. Menurut dia, kalahnya kekuatan-kekuatan aliran hukum progresif disebabkan karena kekuatan-kekuatan hukum progresif masih terpencar-pencar dan belum mempunyai landasan untuk membangun.
Oleh karena itu kami mendesak kekuatan hukum progresif untuk bergandengan tangan dalam ide, tindakan, dukungan dan sebagainya untuk meningkatkan kekuatan sekolah hukum progresif. Salah satu ajaran atau pemikiran hukum progresif adalah bahwa hukum progresif mengutamakan faktor manusia dan diatas peraturan. Dengan demikian, hakim dalam penerapan hukum progresif untuk mewujudkan keadilan sosial sebagaimana Pancasila haruslah keadilan substansial.
Menurut Raharjo, visi teori hukum progresif merupakan penjajakan suatu gagasan yang mempunyai sembilan (sembilan) gagasan pokok.