• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemahaman Materi

BAB II LANDASAN TEORITIS

B. Analisis Teori Variabel

2. Pemahaman Materi

memamfaatkan berbagai media sebagai sumber belajar seperti media online.

dalam ranah kognitif yang mengharuskan peserta didik untuk menunjukkan pemahamannya dengan mengubah atau memanipulasi informasi. Memahami tidak hanya sekadar mengingat saja, tetapi juga mensyaratkan peserta didik untuk mentransformasikan informasi ke dalam suatu bentuk yang dapat mereka pahami.29

Sependapat dengan pendapat para ahli lainnya, Sudjana mengatakan bahwa “tipe hasil belajar yang tinggi daripada pengetahuan adalah pemahaman”. Dalam taksnomi Bloom (1956) juga sependapat bahwa kesanggupan memahami setingkat lebih tinggi daripada pengetahuan, namun tidaklah berarti pengetahuan tidak perlu ditanyakan karena untuk dapat memahami harus mengenal dan mengetahui terlebih dahulu.30

Demikian juga model pemahaman konsep dari Brunner dalam Budiningsih, menjelaskan bahwa: “Pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda pula”. Menurut Brunner cara yang baik untuk belajar adalah memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (discovery learning).31

29 David A. Jacobsen, Pauleggen & Kauchak, Donald. Methods For Teaching (Metode – Metode Pengajaran Meningkatkan Belajar Siswa TK-SMA). Penerjemah: Achmad Fawaid &

Khoirul Anam.. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009). H. 94-95

30 Nana. Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2016). h. 24

31 Asri Budiningsih, Belajar dan Pembelajaran. (Jakarta: Rineka Cipta, 2005). h. 42

Peserta didik dapat dikatakan memiliki pemahaman yang baik, ketika mereka mampu menghubungkan pengetahuan yang baru dengan pengetahuan lama yang telah mereka terima. Kemampuan peserta didik menjawab test sumatif atau formatif dari guru menggunakan kata-kata sendiri adalah satu teknik untuk mengidentifikasi pemahaman peserta didik terhadap suatu materi. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Susanto, mengungkapkan “Pemahaman konsep adalah kemampuan menjelaskan suatu situasi dengan kata-kata yang berbeda dan dapat mengintreprestasikan atau menarik kesimpulan dari tabel, data, grafik dan sebagainya”.32

Dari beberapa penejelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep merupakan hasil proses pembelajaran yang ditandai kemampuan menjelaskan atau mendefinisikan suatu informasi dengan kata-kata sendiri, selain itu pemahaman konsep merupakan cara seseorang dalam menerangkan dan mngintrepretasikan suatu pengetahuan yang didapat. Pemahaman bukan hanya sekedar mengetahui, yang biasanya hanya sebatas mengingat kembali pengalaman dan memproduksi apa yang telah dipelajari.

b. Kategori Pemahaman

Dalam kegiatan pembelajaran, setiap individu memiliki tingkatan pemahaman yang berbeda-beda terhadap suatu materi. Ada yang

32 A. Susanto. Teori Belajar Pembelajaran. (Jakarta: Prenamedia Grup, 2016), h. 56.

memahami materi secara menyeluruh, ada yang memahami sebagian materi, dan ada pula yang sama sekali tidak dapat menangkap makna dari materi yang ia sedang pelajari, sehingga hanya sebatas mengetahui.

Menurut Daryanto, kemampuan pemahaman dapat dijabarkan ke dalam tiga tingkatan meliputi:33

1) Menerjemahkan (translation)

Pengertian menerjemahkan bisa diartikan sebagai pengalihan arti dari bahasa yang satu ke dalam bahasa yang lain. Dapat juga dari konsepsi abstrak menjadi suatu model simbolik untuk mempermudah orang mempelajarinya.

2) Menginterpretasi (interpretation)

Kemampuan ini lebih luas daripada menerjemahkan. Ini adalah kemampuan untuk mengenal dan memahami. Menafsirkan dapat dilakukan dengan cara menghubungkan pengetahuan yang lalu dengan pengetahuan yang diperoleh berikutnya, menghubungkan antara grafik dengan kondisi yang dijabarkan sebenarnya, serta membedakan yang pokok dan tidak pokok dalam pembahasan.

3) Mengekstrapolasi (extrapolation)

Ekstrapolasi menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi karena seseorang dituntut untuk bisa melihat sesuatu dibalik yang tertulis. Membuat ramalan tentang konsekuensi atau memperluas persepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus, ataupun masalahnya.

Tohirin mengklasifikasikan pemahaman dalam tiga tingkatan sebagai berikut:

1) Pemahaman terjemahan yakni kesanggupan memahami makna yang terkandung di dalamnya.

2) Pemahaman penafsiran, misalnya membedakan dua konsep yang berbeda.

3) Pemahaman estra polasi yakni kesanggupan melihat di balik yang tertulis, tersirat dan tersurat, meramalkan sesuatu dan memperluaskan wawasan.34

33 Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008), h. 106-107.

Sejalan dengan pendapat tersebut Sudjana juga mengelompokkan pemahaman ke dalam tiga kategori yaitu sebagai berikut:

1) Tingkat terendah

Pemahaman tingkat terendah adalah pemahaman terjemahan.

2) Tingkat kedua

Pemahaman penafsiran adalah menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang diketahui berikutnya, atau menghubungkan beberapa bagian dari grafik dengan kejadian, membedakan yang pokok dan yang bukan pokok.

3) Pemahaman tingkat ketiga

Pemahaman tingkat ketiga atau tingkat tertinggi adalah pemahaman ekstrapolasi. Dengan ekstrapolasi diharapkan seorang mampu melihat balik yang tertulis, dapat membuat ramalan tentang konsekuensi atau dapat memperluas persepsi dalam arti waktu, dimensi, kasus, ataupun masalahnya.35

Pemahaman peserta didik dimulai dari tingkat rendah yaitu peserta didik masih menterjemahkan informasi yang disampaikan, kemudian peserta didik mulai memilah-milah menafsirkan informasi yang ada dan selanjutnya di analisis pada tingkatan lebih tinggi yaitu ekstrapolasi. Banyaknya pendapat dan pengertian para ahli dapat disimpulkan bahwa pemahaman (understanding) memiliki proses pembelajaran setingkat lebih tinggi dari pengetahuan. Pemahaman memiliki arti sangat mendasar yang meletakkan bagian-bagian belajar pada proporsinya. Pemahaman tanpa hal tersebut menyebabkan skill pengetahuan dan sikap tidak akan bermakna.

c. Indikator Pemahaman

34 Tohirin, Psikologi Belajar Mengajar, (Pekanbaru: Suara, 2001), h. 88

35 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakraya, 2016), h.24

Wina Sanjaya mengatakan pemahaman memiliki ciri-ciri sebagai berikut36:

1) Pemahaman lebih tinggi tingkatnya dari pengetahuan.

2) Pemahaman bukan hanya sekedar mengingat fakta, akan tetapi berkenaan dengan menjelaskan makna atau suatu konsep.

3) Dapat mendeskripsikan, mampu menerjemahkan.

4) Mampu menafsirkan, mendeskripsikan secara variabel.

5) Pemahaman eksplorasi, mampu membuat estimasi.

Pemahaman dapat dijabarkan menjadi tiga, yaitu:

a) Menerjemahkan

Menterjemahan di sini bukan saja pengelihan bahasa yang satu ke bahasa yang lain, tetapi dapat juga dari konsepsi abstrak menjadi satu model simbolik untuk mempermudah orang mempelajarinya.

b) Menginterpretasikan/ Menafsirkan

Menginterpretasi ini lebih luas dari pada menerjemahkan.

Menginterpretasi adalah kemampuan untuk mengenal atau memahami ide-ide utama suatu komunikasi.

3) Mengekstrapolasi

Sedikit berbeda dengan menterjemahkan dan menafsirkan, ia menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi yaitu dengan ekstrapolasi diharapkan seseorang mampu melihat dibalik yang tertulis dapat membuat ramalan tentang konsentrasi atau dapat memperluas masalahnya.37

Pemahaman merupakan salah aspek kongnitif (pengetahuan).

Penelitian terhadap aspek pengetahuan dapat dilakukan melalui tes lisan dan tes tulisan. Teknik penilaian aspet pemahaman caranya dengan mengajukan pernyataan yang benar dan keliru, dan urutan, dengan

36 Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran Teori dan Praktek Pengembangan KTSP, (Jakarta: Kencana, 2008), h. 45

37 Ibid, h. 107

pertanyaan berbentuk essay (open ended), yang menghendaki uraian rumusan dengan kata-kata dan contoh-contoh.38

Peserta didik dikatakan dapat memahami suatu materi jika memenuhi beberapa indikator yang diinginkan. Menurut W.S Winkel berdasarkan Taksonomi Kognitif indikator pemahaman yang dikehendaki berdasarkan kategori proses kognitif 39, disajikan pada pada tabel 1.1.

Tabel 1.1 Indikator Pemahaman Konsep No Kategori Proses

Kognitif Contoh

1 Menafsirkan Peserta didik mampu mengartikan suatu konsep berdasarkan kategori tertentu.

2 Memberikan Contoh

Peserta didik mampu memberikan contoh berdasarkan kategori atau konsep tertentu.

3 Mengklasifikasikan

Peserta didik mampu mengamati dan menggambarkan berbagai bentuk sesuai dengan kategori atau konsep tertentu.

4 Menyimpulkan

Peserta didik mampu memberikan suatu pernyataan yang menyatakan informasi yang disampaikan secara umum.

5 Menduga

Peserta didik mampu meramalkan mengenai konsekuensi ataupun memperluas persepsi baik dari segi waktu ataupun masalahnya.

6 Membandingkan

Peserta didik mampu untuk membandingkan persamaan atau perbedaan antara dua atau lebih objek.

7 Menjelaskan

Peserta didik mampu menjelaskan dengan menghubungkan sebab akibat antar bagian suatu sistem berdasarkan kategori atau konsep tertentu.

38 Oemar Hamalik, Psikologi Belajar Mengajar, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2012), h.

209

39 W.S. Winkel, Psikologi Pengajaran, (Yogyakarta: Media Abadi, 2017), h. 117

d. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pemahaman Materi

Yamin menjelaskan bahwa pemahaman berhuhungan dengan kompetensi untuk menjelaskan pengetahuan yang telah diketahui dengan kata-kata sendiri. Dalam hal ini diharapkan peserta didik dapat menterjemahkan atau menyebut kembali yang telah didengar dengan kata-kata sendiri. Indikator atau kata kerja operasional dalam pemahaman antara lain adalah membedakan, menjelaskan, menyimpulkan, merangkum, dan memperkirakan.40

Memahami sesuatu dengan baik sesuai dengan kata kerja operasional tidak dapat terjadi secara langsung secara tiba-tiba, tetapi juga melalui proses dan tahapan pemahaman baik secara fisik maupun psikologis. Sardiman mengemukakan ada delapan faktor psikologis yang mendukung proses pemahaman peserta didik dalam belajar dan tidak dapat dipisahkan dalam proses pemahaman yaitu : a) Perhatian, b) Pengamatan, c) Tanggapan, d) Fantasi, e) Ingatan, f) Berfikir, g) Bakat dan h) Motif.41 Melalui perhatian dan pengamatan, peserta didik dapat menanggapi informasi yang disampaikan, kemudian membayangkan sesuatu dalam fantasi masing-masing sehingga melekat pada ingatan memory peserta didik. Ketika diberikan masalah atau kasus baru, peserta didik dapat memikirkannya kembali melalui pemahaman yang telah tersimpan dalam pikiran. Pemahaman peserta

40 Martinis Yamin. Kiat Membelajarkan Peserta didik. (Jakarta: Gaung Persada Press. 2017), h. 6-7

41 Sardiman. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar..., h. 45-46

didik juga dapat dipengaruhi oleh bakat yang telah dimiliki serta moivasi dalam dirinya untuk mempelajari sesuatu.

Dokumen terkait