• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Hasil dan Pembahasan

2. Pembahasan

pada tahun berikutnya yaitu tahun 2013-2016 mengalami penurunan masing-masing menjadi 4,67% pada tahun 2013, 4,43% pada tahun 2014, 2,74% pada tahun 2015 dan 2,64% pada tahun 2016. Maka hal ini berarti terjadi penurunan setiap tahunnya terhadap perusahaan dalam menghasilkan return on assetsnya, dikarenakan kenaikan total aktiva yang cukup tinggi tidak dibarengin dengan kenaikan laba usaha yang cukup tinggi pula, kenaikan laba usaha perusahaan masih sangat kecil dibandingkan dengan kenaikan total aktiva yang beesar setiap tahunnya.

perusahaan dengan melakukan analisa terhadap selisih antara aktiva lancar dengan hutang lancar. Dari tabel IV.1 mengenai modal kerja yang dihasilkan perusahaan terdapat penurunan modal kerja dari tahun 2012 ke tahun 2013-2014, hal ini didasari dengan kenaikan hutang lancar lancar perusahaan pada tahun 2013 yaitu sebesar 19% dari tahun 2012. Dan kembali modal kerja mengalami kenaikan pada tahun 2015 dikarenakan hutang lancar perusahaan yang mengalami penurunan, hal ini tidak berlangsung lama, sebab modal kerja kembali menurun drastis, yang diakibatkan dengan kenaikan hutang lancar sebesar berkisar 112%.

Kenaikan dan penurunan modal kerja yang dimiliki perusahaan pada tahun 2013 dibandingkan dengan 2012 dikarenakan kenaikan hutang lancar pada Bank BNI KMK 2 yang pada tahun 2012 tidak terdapat hutang, namun pada tahun 2013 terdapat sebesar Rp. 2.374.000.000 dan juga kenaikan hutang pada Bank BRI sebesar Rp.

3.917.684.255 menjadi Rp. 3.984.103.312 pada tahun yang sama. Penurunan modal kerja terus turun pada tahun tahun berikutnya, dikarenakan perusahaan memiliki hutang pada Bank BRI dan BNI sebesar Rp. 6.912.000.000, akan tetapi mengalami kenaikan modal kerja yang drastis pada tahun 2015 dikarenakan hutang usaha.

Namun kembali mengalami penurunan modal kerja pada tahun 2016, penurunan ini sangat drastis semula modal kerja perusahaan sebesar Rp. 9.773.895.366 menjadi Rp.

194.942.062, hal yang mendasari penurunan ini merupakan kenaikan hutang usaha yang dilakukan oleh perusahaan terhadap Bank ataupun kreditur.

Keadaan yang dialami oleh perusahaan mengindikasikan tidak baik karena menurut Nyoman Budiasa dkk (2014) Kenaikan dalam modal kerja mungkin ditunjukkan dalam kas, efek, piutang maupun dalam persediaan atau adanya

penurunan atau berkurangnya hutang lancar, dan adanya kenaikan dalam modal kerja ini akan diinterpretasikan bergantung kepada sumber-sumber yang menyebabkan kenaikan tersebut. Sehingga dipastikan kenaikan atau penurunan modal kerja berdampak terhadap keadaan perusahaan.

Seperti yang dikemukakan oleh peneliti terdahulu, penulis dapat melakukan analisa terhadap modal kerja yang terdapat pada PT. Garuda Madju Cipta, masih sangat kecil, karena PT. Garuda Madju Cipta merupakan perusahaan besar yang memiliki tingkatt perputaran kegiatan operasional yang tinggi, sehingga modal kerja yang dimiliki perusahaan setiap tahunnya belom mampu menghasilkan profit yang cukup baik untuk menaikkan profitabilitas perusahaan. Akan tetapi beberapa indikator yang perlu diketahui mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi besar atau kecilnya modal kerja yang mungkin dibutuhkan perusahaan.

Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Riyanto (2010) yaitu, kebutuhan perusahaan akan modal tergantung pada faktor-faktor sebagi berikut :

1. Sifat atau Jenis perusahaan

Kebutuhan modal kerja tergantung pada jenis dan sifat dari usaha yang dijalankan perusahaan.

2. Waktu yang diperlukan untuk memproduksi dan memperoleh barang yang akan dijual.

Ada hubungan lansung antara jumlah modal kerja dan jangka waktu yang diperlukan untuk memproduksi barang yang akan dijual pada pembeli. Makin lama waktu yang diperlukan untuk memperoleh barang dari luar negeri, jumlah modal kerja yang diperlukan makin besar.

3. Cara-cara atau syarat-syarat pembelian dan penjualan.

Kebutuhan modal kerja perusahaan dipengaruhi oleh syarat pembelian dan penjualan. Makin banyak diperoleh syarat kredit untuk membeli bahan dari pemasok maka lebih sedikit modal kerja yang ditanamkan dalam persediaan.

Sebaliknya, semakin longgar syarat kredit yang diberikan pada pembeli maka akan lebih banyak modal kerja yang ditanamkan dalam piutang.

Dari penjelasan diatas maka dapat diketahui modal kerja yang dibutuhkan setiap perusahaan didasari oleh jenis perusahaan ataupun sifat perusahaan, karena antara perusahaan dagang, manufaktur dan perusahaan jasa memiliki perbedaan dalam melakukan kegiatan operasionalnya.

3. Faktor-faktor Yang Terdapat Pada Return On Assets (ROA)

Return On Assets (ROA) merupakan salah satu indikator yang penting bagi setiap perusahaan melalui penilaian yang dilakukan atas return on assets (ROA) yang dilakukan oleh perusahaan, dapat ditarik kesimpulan bahwa saberapa efesien atau tidaknya pengelolaan yang dilakukan oleh perusahaan.

Berdasarkan tabel IV.2 dapat dilihat bahwa return on assets (ROA) perusahaan mengalami penurunan pada setiap tahunnya yaitu 2012-2016. return on assets (ROA) merupakan aspek penilaian mengenai pengelolaan aset yang dimiliki oleh perusahaan. Pada tahun 2013 return on assets (ROA) yang dimiliki perusahaan mengalami penurunan dibandingkan pada tahun 2012 yaitu dari 4,71% ke 4,67% hal ini didasari dengan penurunan laba yang tidak diikuti dengan perolehan total aktiva

yang terus naik setiap tahunnya, hal ini didasarkan pada kenaikan laba rugi tahun berjalan yang terus naik setiap tahunnya, hampir semua akun dalam perolehan perhituungan total aktiva mengalami kenaikan, akan tetapi seperti yang telah dianalisis oleh penulis yakni return on assets (ROA) perusahaan terus turun, bahkan di tahun 2016 hanya pada kisaran 2,64% saja.

Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukan oleh (Riyanto, 1995) dalam Edward Hartawan (2009) bahwa tinggi rendahnya return on assets (ROA) ditentukan oleh 2 faktor, yaitu:

1. Profit margin, yaitu perbandingan antara net operating income dengan net sales, yang dinyatakan dengan presentase.

2. Turnover of operating assets (tingkat perputaran aktiva usaha) yaitu kecepatan perputarannya operating assets dalam suatu periode tertentu.

Turnover tersebut dapat ditentukan dengan membagi antara net sales dengan operating sales.

Serta sesuai dengan aapa yang dikemukan dalam pendapat ahli bahwa secara teoritis, jika perputaran modal kerja meningkat maka profitabilitas yang diukur dengan Return On Asset juga akan meningkat. Hal ini terjadi karena apabila modal cepat berputar, maka berarti penjualan mengalami peningkatan, pemasukan perusahaan semakin banyak seperti kenaikan kas dan setara kas, keuntungan atau laba bersih yang dibandingkan dengan total aktiva mengalami kenaikan (Harahap, 2008).

4. Kaitan Modal Kerja Dengan Return On Assets (ROA)

Modal kerja dan return on assets (ROA) merupakan faktor-faktor yang menjadi salah satu penilaian terhadap perusahaan, sehingga pihak internal maupun eksternal mampu menganalisa tentang keadaan perusahaan seperti apa, hal ini bertujuan untuk

memajukan perusahaan. Dari analisis yang dilakukan dapat kita lihat kaitan antara modal kerja dengan return on assets (ROA), berikut ditampilkan dalam bentuk tabel.

Tabel IV.3

Modal Kerja dan Return on Assets (ROA)

Tahun Modal Kerja (Rp) ROA

2012 4.661.772.012 4.71%

2013 3.719.703.976 4,67%

2014 2.767.664.158 4,43%

2015 9.773.895.366 2,74%

2016 194.942.062 2,64%

Sumber data : Laporan Keuangan PT. Garuda madju Cipta

Dari tabel IV.3 diatas dapat dilihat bahwa perolehan modal kerja yang tinggi belum tentu nilai return on assets (ROA) yang dihasilkan juga tinggi, karena dapat kita lihat pada tahun 2012 nilai modal kerja sebesar Rp. 4.661.772.012, yang memperolehan return on assets (ROA) sebesar 4,71%, sedangkan tahun 2013 dan 2014, modal kerja mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang masing-masing nilainya Rp. 3.719.703.976 dan Rp. 2.767.664.158 yang diikuti oleh penurunan return on assets (ROA) perusahaan sebesar 4,67% dan 4,43%. Namun pada tahun 2015 modal kerja mengalami kenaikan menjadi Rp. 9.773.895.366 yang tidak diikuti dengan kenaikan return on assets (ROA) karena justru mengalami penurunan yang cukup banyak pada angka 2,74%, hal ini terjadi dikarenakan total aktiva yang turut mengalami kenaikan, dan modal kerja kembali turun drastis pada tahun 2016 hanya Rp. 194.942.062 begitu juga dengan return on assets (ROA) yang

mengalami penurunan yaitu 2,64%, keadaan diatas memiliki beberapa faktor yang mempengaruhinya, hal ini sesuai dengan Jumingan (2011) bahwa modal kerja setiap perusahaan itu berbeda, modal kerja yang dibutuhkan perusahaan jasa realtif rendah karena investasi dalam persediaan dan piutang pencairannya menjadikan relatif cepat.

Permasalahan-permasalahan yang dihadapi perusahaan banyak dikemukakan oleh beberapa ahli, diantaranya menurut Bambang Riyanto dan S. Munawir (2002:87) dalam saparuddin (2013) dalam bukunya “Analisa Laporan Keuangan” yang berpendapat adanya nilai return on assets (ROA) yang menurun dapat dihubungkan dengan modal kerja, maka akan menunjukkan suatu kemungkinan-kemungkinan sebagai berikut :

1. Adanya over investment dalam aktiva yang digunakan untuk operasi dalam hubungannya dengan volume penjualan.

2. Merupakan cermin rendahnya volume penjualan dibandingkan dengn ongkos- ongkos yang diperlukan.

3. Adanya efisiensi baik dalam produksi, pembelian maupun pemasaran.

4. Adanya kegiatan ekonomi yang menurun.

Penilaian perusahaan bermacam-macam, tergantung laba dan aktiva mana yang akan dibandingkan. Apakah yang dibandingkn itu laba yang berasal dari operasi perusahaan atau laba bersih sesudah pajak (Net Operating Income) dibandingkan dengan seluruh aktiva (total assets) yang digunakan ataukah membandingkan laba bersih sesudah pajak dengan modal bekerja didalam perusahan (Operating Capital).

Modal yang ditanamkan diperusahaan lain atau modal yang ditanamkan dalam effect

(kecuali perusahaan kredit), serta laba yang diperoleh dari usaha-usaha diluar perusahaan yang tidak diperhitungkan dalam return on assets (ROA) ini.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Setelah menganalisis laporan keuangan, maka pada bab ini penulis akan mengemukakan kesimpulan yang diambil berdasarkan teori-teori yang telah

dikemukakan pada bab-bab sebelumnya. Sehingga penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Menurunnya modal kerja yang dialami dikarenakan menurunnya kas dan setara kas yang dialami oleh perusahaan begitu juga dengan piutang usaha yang turut mengalami penurunan yang diikuti dengan panjar atau perkiraan sementara perusahaan yang mengalami penurunan terus setiap tahunnya, akun yang mempengaruhi perolehan modal kerja mengalami penurunan seperti persediaan barang akan tetapi tidak dengan kewajiban yang dimiliki perusahaan, penurunan kisaran 20-25%, masih sama faktor yang menyebabkan penurunannya. Pada tahun berikutnya yaitu penurunan modal kerja semakin drastis penurunannya.

2. Return on assets (ROA) yang dimiliki perusahaan mengalami penurunan hal ini didasari dengan penurunan laba yang tidak diikuti dengan perolehan total aktiva yang terus naik setiap tahunnya, hal ini didasarkan pada kenaikan laba rugi tahun berjalan yang terus naik setiap tahunnya.

3. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis modal kerja yang terdapat pada PT. Garuda Madju Cipta belum mampu meningkatkan return on assets (ROA) yang terdapat pada perusahaan.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, adapun saran yang mungkin penulis dapat berikan untuk membuat perusahaan agar lebih baik lagi adalah sebagai berikut :

1. Sebaiknya perusahaan lebih efisien dalam menggunakan modal kerja yang dimiliki PT. Garuda Madju Cipta, dengan cara melakukan pembatasan piutang sehingga dapat memberikan kontribusi yang baik pula bagi keberlangsungan kegiatan operasional perusahaan.

2. Sebaiknya PT. Garuda Madju Cipta melakukan peninjauan kembali atas laba yang dihasilkan, sehingga mampu menaikkan ataupun meningkatkan return on assets (ROA) pada perusahaan.

3. Sebaiknya untuk menjaga ketersediaan dana perusahaan diperlukan dana cadangan sehingga kegiatan operasional perusahaan tak terganggu.

DAFTAR PUSTAKA

Ade Prasetya, Setiawan (2013). Analisis Perputaran Modal Kerja terhadap Profitabilitas pada CV. Maros Jaya di Penajam Paser Utara. Jurnal.

Agus, Suratinoyo (2016). Analisa Laporan Sumber-Sumber Dan Penggunaan Modal Kerja Dalam Meningkatkan Profitabilitas Perusahaan Pada Pt. Fast Food. Tbk. Jurnal Volume 16 No. 03 Tahun 2016

Alfarizi Cahya, Utama (2014). Pengaruh Current Ratio, Debt Equity Ratio, Debt Asset Ratio, Dan Perputaran Modal Kerja Terhadap Return On Asset Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2010 – 2012. Skripsi, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang

Bintang Dwi, Ramadhan (2010). Pengaruh Modal Kerja terhadap Rentabilitas Perusahaan pada PT. POS Indonesia (Persero) Bandung. Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.

Djarwanto, (2007). Pokok-pokok Analisa Lapporan Keuangan. Edisi Kedua.

Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta

Edward, Hartawan (2009). Penganruh Modal Kerja terhadap Rentabilitas Ekonomi pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.

Eka, Sulastri (2009). Analisis Pengaruh Profit Margin dan Perputaran Aktiva Usaha terhadap Rentabilitas Ekonomi. Skripsi, Fakultas Eknomi dan Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Syaif Hidayatullah Jakarta.

Elok Dwi, Vidiyastutik (2013). Analisis Efisiensi Pengendalian Biaya dan Tingkat Perputaran Modal Kerja serta Pengaruhnya terhadap Rentabilitas Ekonomi pada Pusat Koperasi Pegawai Republik Indonesia (PKPRI) Kabupaten/Kota Probolinggo. Jurnal

Hin, L Thian (2008). Panduan Berinvestasi Saham. Edisi Terkini. PT. Elex Media Koputindo. Jakarta

Muhammad, Fauzan (2015). Pengaruh Pengelolaan Modal Kerja (Siklus Konversi Kas) Terhadap Profitabilitas Perusahaan (ROA). Skripsi, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang

Dokumen terkait