• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2. Pembahasan

21

Gambar 6 menunjukkan pertumbuhan panjang karapas kepiting bakau tertinggi diperoleh pada perlakuan B dan C dengan nilai rata-rata sebesar 1.25±0.5, dan perlakuan A dengan nilai rata-rata sebesar 1±0.5.

4.1.7. Kualitas Air

Tabel 6. Hasil pengukuran kualitas air selama penelitian disajikan pada tabel.

No Parameter Nilai Kualitas

Air Optimum Pustaka

1 Salinitas (ppt) 20 – 25 15-25 (Setiawan dan Triyanto 2012 2 Suhu (℃) 29 – 32 28-33 (Shelley dan Lovatelli 2011) 3 Ph 7,2 - 8,3 >5 (Shelley dan Lovatelli 2011) 4 DO (mg/L) 5,8 - 6,2 >5,0 (Oesterling 2012)

22

dan temperatur sedangkan faktor internal terkait dengan produksi hormon ekdisteroid dan MIH (moult inhibiting hormone). Ablasi tangkai mata pada kepiting dilakukan untuk merangsang proses percepatan molting dengan menghambat sistem kerja organ X pada kepiting. Menurut Chung (2005) pada kelompok krustasea decapoda seperti kepiting, molting dikontrol oleh organ X/sinus gland complex. Organ X tersebut berada pada tangkai mata dan menghasilkan hormon Moult Inhibiting Hormone (MIH).

Keberadaan hormon tersebut akan menghambat organ Y yang berada pada cephalotorax untuk memproduksi ekdison. Produksi MIH dapat dihentikan atau dihambat dengan pemberian perlakuan ablasi. Akibat perlakuan ablasi ini, maka secara langsung merangsang organ Y untuk memproduksi ekdison sehingga kepiting akan mengalami pergantian cangkang (molting). Ablasi tangkai mata bekerja secara langsung ke target organ, yaitu dengan menghilangkan tangkai mata sebagai organ penghasil hormon penghambat molting sehingga proses kerja molting menjadi cepat.

Pertumbuhan kepiting bakau yang diberi perlakuan mutilasi akan mengalami pergantian organ tubuh setelah 7 hari pasca perlakuan yang ditandai dengan tumbuhnya jari-jari kaki dan capit abnormal. Molting akan terjadi setelah organ kaki pada kepiting tumbuh sempurna, pengerasan cangkang berlangsung sekitar 6-7 hari setelah proses molting terjadi. Proses molting akan disertai dengan penambahan bobot tubuh, lebar serta panjang karapas pada kepiting. Hal ini sesuai dengan sifat dari hewan krustasea yang mengalami pertumbuhan dengan cara ganti kulit (molting), pertambahan ukuran tubuh baru akan kelihatan setelah proses molting selesai. Hal ini sesuai dengan pendapat Syaripuddin et al. (2004) dalam Husni et al. (2006) yang menyatakan bahwa secara biologis pematahan capit dan kaki jalan dapat merangsang organ tubuh kepiting untuk tumbuh kembali. Setelah capit dan kaki jalan kepiting lepas, kepiting akan terangsang untuk memperbaiki fungsi morfologi tubuhnya dengan cara melakukan pergantian kulit sehingga akan terbentuk bagian tubuh yang baru berupa kepiting yang bercangkang lunak.

Molting menjadi tahap kritis dalam kehidupan krustase. Karena sekitar 30%

kepiting mengalami kematian pada fase ini, mulai dari akibat gagal molting,

23

infeksi patogen, dan akibat kanibalisme. Proses pergantian cangkang lama ke cangkang baru menyebabkan tubuh kepiting akan menjadi lunak kondisi ini sangat rawan bagi kepiting karena nyaris tidak memiliki perlindungan apapun jika diserang musuh. Proses molting berlangsung sekitar 30 menit–1 jam. Kepiting yang baru molting akan menyerap air dan prosesnya distimulasi oleh enzim.

Pembesaran eksoskeleton baru sampai ukuran maksimal berlangsung selama 15 menit, namun pengambilan air terus berjalan sampai pengerasan eksoskeleton sempurna sekitar 5-7 hari. Kepiting akan mengalami molting 20–25 kali selama hidupnya (Gaude & Anderson, 2011). Salah satu faktor yang menyebabkan kepiting tidak molting atau proses molting menjadi lama yaitu karena adanya lumut disekitar karapas hal tersebut menyebabkan kepiting menjadi stress dan terhambat moltingnya. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sagala et al (2013) menyatakan bahwa lumut menjadi salah satu faktor pemicu terhambatnya proses molting pada kepiting bahkan dapat menyebabkan kematian.

Aktivitas molting akan mempengaruhi pertumbuhan karena tanpa molting pertambahan bobot, panjang, dan lebar karapas tidak akan terjadi. Berdasarkan hasil pengukuran bobot tubuh selama pemeliharaan, kepiting yang dipelihara mengalami pertambahan bobot, pertumbuhan bobot mutlak tertinggi diperoleh pada perlakuan B dengan nilai rata-rata sebesar 81.25±16.64, dan pertumbuhan bobot terendah diperoleh pada perlakuan A dengan nilai rata-rata sebesar 57.5±38.93. Proses pertambahan bobot tubuh terjadi akibat pengembangan bagian integumen pada kepiting yang tidak mengeras diiringi dengan penyerapan kadar air, mineral dan ion-ion penting sebagai akibat dari perbedaan tekanan osmotik.

Selain itu, pakan yang dimakan dapat dikonversi menjadi energi untuk molting dan tumbuh secara sempurna. Hal ini sesuai dengan pernyataan Fujaya (2004) yang menyatakan bahwa pertumbuhan jaringan atau organ, pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan, hormon, dan faktor perangsang pertumbuhan.

Effendi (1978) berpendapat bahwa pertumbuhan dapat dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam dan luar. Faktor yang berasal dari dalam diantaranya ialah keturunan, sex, umur, parasit dan penyakit, sedangkan faktor luar yang utama adalah makanan dan suhu perairan.

24

Tingkat kelulushidupan menjadi parameter penting dalam produksi biota akuakultur yang dapat menunjukkan keberhasilan produksi tersebut. Kondisi perairan sangat mempengaruhi tingkat kelulushidupan karena semakin baik perairan maka tingkat kelulushidupan juga akan semakin tinggi, perairan disekitar lokasi penelitian ini tergolong baik hal ini yang menyebabkan tingginya nilai tingkat kelulushidupan pada kepiting uji. Hal ini dikarenakan tingkatan stres yang dialami kepiting masih memenuhi tahap wajar sehingga tidak menyebabkan kematian pada kepiting. Zulkhasyni et al., (2012), menyatakan bahwa nilai efesiensi pakan menunjukkan berapa persen jumlah pakan dari total pakan yang diberikan dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh untuk pertumbuhannya.

Kandungan protein dalam pakan menjadi salah satu penyebab tingginya nilai efesiensi pemanfaatan pakan dan kualitas protein yang terdapat dalam pakan juga dipengaruhi oleh sumber asalnya serta kandungan asam aminonya. Berdasarkan hasil penelitian Hanif dan Herlina, (2021), menyatakan bahwa pemberian pakan ikan rucah yang berbeda memberikan pengaruh nyata terhadap efisiensi pemanfaatan pakan pada kepiting bakau (p<0.01). Protein yang berkualitas memiliki nilai kecernaan tinggi serta memiliki pola dan jumlah asam amino yang serupa dengan pola maupun jumlah asam amino esensial yang terdapat pada spesies kultivan yang diberi pakan (Subandiyono dan Hastuti (2010).

Steffens, 1989 dalam Juanda, 2010. Menyatakan bahwa Efesiensi pakan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya ialah kualitas pakan, jumlah pakan, spesies ikan, ukuran ikan dan kualitas air. organisme akuatik memanfaatkan protein sebagai sumber energi dan karbohidrat, peningkatan kadar protein yang tinggi dapat menekan laju pertumbuhan dan sisa energi yang digunakan untuk pertumbuhan lewat pakan akan meningkat secara proposional, sehingga energi dari pakan yang terkonsumsi akan digunakan untuk pertumbuhan ( Ricky Septian dkk, 2011).

Pertambahan panjang karapas terjadi ketika kepiting mengalami proses molting. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang karapas kepiting bakau tertinggi diperoleh pada perlakuan B dan C dengan nilai rata-rata sebesar 1.25±0.5. Holdich dan Lowery (1988) menyatakan bahwa pertumbuhan pada krustacea merupakan proses pertambahan bobot dan panjang

25

tubuh yang terjadi setelah kepiting mengalami molting atau pergantian kulit sehingga pertambahan panjang dan bobot pada kepiting tidak akan terjadi tanpa didahului proses molting. Sagala et al., (2013) menyatakan bahwa perbandingan berat bobot tubuh panjang dan lebar karapas antara kepiting bakau jantan dan kepiting bakau betina tidak berpengaruh signifikan (P>0,05). Ukuran panjang karapas pada akhir penelitian rata-rata hampir sama, hal ini terjadi diduga karena kepiting melakukan molting.

Kualitas air suatu perairan sangat mempengaruhi kehidupan serta molting pada kepiting bakau, dalam penelitian ini beberapa faktor kualitas air yang telah dilakuan pengukuran diantaranya ialah suhu, salinitas, pH, dan oksigen terlarut(DO). Laju pertumbuhan serta molting pada kepiting bakau sangat bergantung dengan kualitas perairan yang berada disekitar lokasi penelitian. Suhu perairan menjadi faktor pembatas pada organisme akuatik yang sifatnya poikilotermik. Suhu perairan berpengaruh terhadap aktivitas metabolisme hewan yang berada di perairan dikarenanya, suhu juga mempengaruhi pertumbuhan hingga nafsu makan kepiting. Peningkatan suhu perairan hingga mencapai batas optimum akan memberikan pertumbuhan yang baik untuk organisme perairan, namun apabila peningkatan suhu melebihi batas optimum hal ini akan berdampak pada penurunan aktivitas metabolik, sedangkan penurunan suhu akan berdampak pada pertumbuhan dikarenakan aktivitas nafsu makan berkurang (Jobling, 2003).

Kisaran suhu yang terukur selama penelitian yaitu 29-32℃ hal ini membuktikan bahwa suhu perairan dilokasi penelitian masih berada pada kriteria baik untuk pemeliharaan kepiting bakau. Hal ini sejalan dengan pernyataan (Fujaya, et al., 2012). Bahwa kisaran suhu optimum untuk pertumbuhan kepiting bakau berada pada kisaran 25-35 ℃.

Parameter kualitas air selanjutnya ialah pH atau derajat keasaman.

Penurunan pH pada suatu perairan dapat terjadi akibat pasokan pakan buatan serta populasi plankton (Rollo et al., 2006). Nilai pH yang diukur selama penelitian yaitu berada pada kisaran rata-rata 7.2 – 8.3 kisaran pH tersebut berada pada kisaran optimal dan relatif stabil dalam menunjang pertubuhan kepiting. Kisaran pH optimal untuk budidaya kepiting cangkang lunak berkisar antara 6,8-8,2 (Fujaya et al., 2012).

26

Salinitas berkaitan erat dengan tingkat kadar garam atau tingkat keasinan perairan yang menjadi salah satu parameter lingkungan yang akan sangat mempengaruhi pertumbuhan kepiting dan kelangsungan hidup kepiting bakau, salinitas perairan harus dipertahankan pada batas kebutuhan optimal kepiting, karena hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan serta laju molting, apabila terjadi penurunan salinitas hal ini akan berdampak pada lambatnya pertumbuhan dan molting hingga dapat mengakibatkan kematian organisme (Karim, 2008). Salinitas perairan yang diukur selama penelitian berada pada kisaran 20-25 ppt. Menurut Gaude & Anderson (2011), salinitas perairan yang cocok untuk pemeliharaan kepiting lunak adalah salinitas yang berada pada kisaran 5-30 ppt. Sejalan dengan pendapat Fujaya et al. (2012), yang menyatakan bahwa konsentrasi salinitas yang baik untuk pemeliharaan kepiting bakau berkisar antara 15-30 ppt.

Oksigen terlarut juga menentukan pertumbuhan dan kelangsungan hidup kepiting bakau. Tingkat kelarutan oksigen dalam perairan bergantung pada peningkatan suhu dan salinitas, karena oksigen terlarut sangat berkaitan erat dengan 2 kualitas air tersebut. Oksigen terlarut dalam penelitian berkisar 5,8-6,2 ppm. Oksigen terlarut pada perairan tergolong baik untuk media pemeliharaan kepiting bakau dilokasi penelitian, hal ini sesuai dengan pernyataan Oesterling (2012), bahwa konsentrasi oksigen yang bagus untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup pada budidaya kepiting cangkang lunak yaitu harus berada pada kisaran >5,0 ppm , apabila kadar oksigen <5,0 ppm hal ini akan mempengaruhi efektivitas budidaya kepiting. Oksigen terlarut yang berada < 3,0 ppm akan menghambat molting pada kepiting sehingga menjadi lebih lama, dan oksigen < 2,0 ppm menyebapkan kepiting tidak akan melakukan molting.

Dokumen terkait