• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembahasan

43

Berdasarkan gambar 4.10 dapat diketahui bahwa hasil uji kuat tekan beton variasi 1% pada umur 28 hari mengalami penurun dengan rata-rata 9,2 Mpa.

untuk satu cetakan silinder air = 1,09 liter, semen = 2,29 kg, agregat kasar = 5,95 kg, agregat halus 2,990 dibulatkan menjadi 3kg.

Dari perhitungan zat tambah beton mix yang digunakan adalah sebagai berikut untuk variasi 0,3% beton mix yang dibutuhkan 6,87 ml untuk satu cetak benda uji, untuk variasi 0,6% dibutuhkan 13,74 ml dan untuk variasi 1% dibutuhkan 22,90 ml.

Dengan menggunakan zat tambah terdapat hubungan antara jumlah air yang dipakai, semakin banyak air yang digunakan beton akan semakin encer dimana kekuatan beton akan menurun. Untuk Ph pada zat tambah beton mix ini 8-10. Untuk rekomendasi yang digunakan sesuai prosedur adalah 0,2%-1%.

4.2.2 Kekuatan Beton dengan Penambahan Beton Mix

Dari hasil pengujian kuat tekan beton yang telah dilakukan pada umur 28 hari didapatkan grafik hasil kuat tekan beton , dapat dlihat pada gambar 4.14 sebagai berikut.

Gambar 4. 14 Grafik Kuat Tekan Rata-Rata Umur 28 hari

Dapat dilihat pada gambar 4.14 grafik kuat tekan beton rata-rata 28 hari sehingga beton normal mempunyai kekuatan 19,3 Mpa yang mempunyai kekuatan lebih tinggi dibandingkan dengan variasi 0,3% sehingga mendapatkan hasil kekuatan tekan beton 14,2 Mpa, sedangkan variasi 0,6 % dengan nilai kekuatan tekan 13,6 Mpa dan variasi 1% dengan nilai kekuatan tekan 9,2 Mpa.

Penelitian ini tidak sesuai dengan dasar teori dan penelitian terdahulu. Dimana hasil dari penelitian pada kuat tekan beton dengan menggunakan campuran beton mix mengalami peningkatan.

45

Adapun faktor-faktor penyebab penurunan kualitas mutu beton pada penelitian ini. Hasil pengujian kuat tekan beton dengan campuran beton mix tidak sesuai dengan hasil yang direncanakan dan tidak diperkenankan untuk digunakan sebagai acuan faktor – faktor tersebut antara lain :

1. Faktor Pembuatan Benda Uji ( Kondisi Material )

Kondisi material yang akan digunakan sangat mempengaruhi kekuatan kuat tekan beton. Jika terdapat kesalahan dalam proses pembuatan benda uji seperti campuran material dalam keadaan basah hal ini dapat menghasilkan kuat tekan yang menurun.

2. Kesalahan pada penanganan bahan tambah

Bahan tambah campuran beton merupakan bahan kimia yang sifat-sifatnya bisa berubah. Karena kesalahan tempat penyimpan atau waktu penyimpanan yang terlalu lama, sehingga memungkinkan fungsi tidak terpenuhi, bahkan bisa merusak beton.

4.2.3 Jenis Pola keretakan Sampel Setelah Uji Kuat Tekan

Setelah dilakukan pengujian kuat tekan beton maka akan diketahui jenis pola keretakan pada benda uji beton setelah diberi pembebanan maksimal dengan alat Machine Compression Testing. Jenis pola retak pada sampel dengan penggunaan campuran beton mix variasi 0,3%,0,6%,1%. Dapat dilihat pada gambar 4.13

Variasi 0,3% Variasi 0,6%

Variasi 1%

Berdasarkan Sesuai SNI 1974:2011 “Metode pengujian kuat tekan beton menggunakan silinder’’ yang menjelaskan jenis pola retak terhadap beton silinder, dimana dari gambar beton diatas setelah di uji mengakami keretakan akibat pembebanan. Dari gambar diatas untuk variasi 0,3% mengalami pola keretakan kerucut dan belah , variasi 0,6% pola keretakan kehancuran geser , variasi 1% pola kehancuran kerucut dan geser

47

BAB 5 KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh penambahan campuran beton mix maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Dari hasil perhitungan yang didapatkan komposisi agregat halus berjumlah 565,62 kg, agregat kasar 1122,80 kg, air 205 liter dan semen 431,58 kg.

komposisi untuk 1 sampel berbentuk silinder membutuhkan 1,09 liter, air 2,29 kg, semen 5,95 kg, agregat kasar dan agregat halus sebesar 2,99 kg dengan jumlah keseluruhan pengujian berjumlah 48 sampel.

2. Pada umur 28 hari setelah penambahan beton mix mengalami penurunan kuat tekan beton pada variasi 0,3% sebesar 14,2 Mpa, 13,6 Mpa didapat pada variasi 0,6% dan 9,2 Mpa pada variasi 1%. Untuk hasil dari kuat tekan beton dengan zat tambah beton mix ini tidak bisa di jadikan acuan karena hasil penelitian ini tidak sesuai dengan dasar teori dan penelitian terdahulu.

3. Hasil pengujian mengalami perbedaan jenis keretakan pada beton akibat pembebanan dengan variasi 0,3% mengalami pola keretakan (kerucut dan belah)dengan kuat tekan 281,4 kN, variasi 0,6% mengalami pola keretakan (kehancuran geser) dengan kuat tekan 154,2 kN, dan variasi 1% mengalami pola keretakan (kehancuran kerucut dan geser) dengan kuat tekan 269,0 kN.

5.2 Saran

Adapun saran yang dapat diberikan pada penelitian ini yaitu :

1. Untuk penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk campuran beton mix hanyak 0,2-1% tidak lebih dari itu.

2. Saat pengujian material agar lebih di perhatikan kembali. Karena apa bila pada saat pencucian kadar lumpur tidak bersih akan mempengaruhi nilai kuat tekan.

3. Pada saat perawatan beton agar lebih di perhatikan kembali. Dikarenakan tujuan dari perawatan benda uji ini agar beton tetap basah. Agar terhindar dari penguapan air dalam beton sehingga menyebabkan dehidrasi pada beton atau kehilangan air yang menyebabkan terjadinya kurang ikatan pada beton pada saat proses perawatan.

4. Sebelum dilakukan pengujian kuat tekan beton sebaiknya dilakukan pengeringan pada H-4 pada saat umur beton yang akan diuji. Tujuannya adalah agar pada saat pengujian kuat tekan beton tidak basah dan bener-bener dalam keadaan kering luar dan dalam sehingga memaksimalkan hasil pengujian kuat tekan.

49

DAFTAR PUSTAKA

03-1974-1990, S. Metode Pengujian Kuat Tekan Beton. Penerbit Badan Standar Nasional.

Ancok, Djamaludin. (2015). Psikologi Kepemimpinan & Inovasi. Jakarta : Erlangga

Anonim (2011), SNI 1974-2011 Cara Uji Kuat Tekan Beton dengan Benda Uji Silinder yang Dicetak, Badan Standarisasi Nasional.

Anonim. Diktat Praktikum., 2019, Pedoman Praktikum Teknologi Bahan dan Beton, Fakultas Teknik Universitas Islam Riau, Pekanbaru.

Anonim., 1991. SNI T-15-1990-03. Tata Cara Rencana Pembuatan Campuran Beton Normal, Departemen Pekerjaan Umum, Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan, Bandung.

Antoni dan Nugraha, P, 2007. Teknologi Beton, C.V Andi Offset, Yogyakarta.

Antoni dan Paul Nugraha., 2007. Teknologi Beton. C.V Andi Offset, Yogyakarta.

ASTM C-150, Standard Specification for Porland Cemen, ASTM International.

Badan Standar Nasional. (1991). SNI 03-2945-1991. Spesifikasi Bahan Tambah Untuk Beton, Jakarta: Departemen Pekerjaan Umum.

Badan Standar Nasional. 2004. SNI-15-2049-2004. Tentang Semen Portland.

Badan Standardisasi Nasional (2000). SNI 03-2834-2000 Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Badan Standarisasi Nasional, 2002. SNI 03-6820-2002, Spesifikasi agregat halus untuk pekerjaan adukan dan plesteran dengan bahan dasar semen.

Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

Badan Standarisasi Nasional, 2013. “Persyaratan beton struktural untuk bangunan Gedung, SNI 2847:2013”. Jakarta: BSN.

Badan Standarisasi Nasional. (1989): SK SNI S-04-1989-F . Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A (Bahan bangunan bukan logam). Bandung.

Badan Standarisasi Nasional. 2002. Standar Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung (SNI 03-2847-2002). Jakarta, Indonesia.

Badan Standart Nasional 2008. SNI 1970:2008 Cara Uji Berat Jenis dan Penyerapan Air Aregat Halus. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

BSN, 2008. Cara Uji Slump Beton, SNI 1972:2008, Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.Departemen Pekerjaan Umum, 1971. Peraturan Beton Bertulang

Indonesia 1971 (PBI 1971)., Bandung : Yayasan Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan.

Korua, Anggi Marina., Servie O. Dapas., Banu Dwi Handono. (2019). Kinerja High Strength Self Compacting Concrete Dengan Penambahan Admixture Beton mix Terhadap Kuat Tekan Belah. Jurnal Sipil Statik.

Mesakh, Sadrak (2022). Pengaruh Penambahan Ekstrak Limbah Sayuran dan Zat Aditif Betonmix Terhadap Kuat Tekan Beton Pulih Mandiri.

Mulyono, T ., 2004., Teknologi Beton, Andi, Yogyakarta.

Nauly, Sondy Putra., Chrisna Djaya Mungok., Cek Putra Handalan. (2016). Studi Eksperimental Pengaruh Penambahan Admixture Betonmix Dengan Menggunakan Semen PPC Terhadap Kuat Tekan Beton. Jurnal Teknik Sipil TanjungPura Pontianak.

Nawy, Edward G,. (1998), Beton Bertulang Suatu Pendekatan Dasar. Cetakan kedua, Bandung: PT. Refika Aditama.

Sugiyanto, dkk. 2017. Bahan Bangunan . Fakultas Teknik, Universitas Lampung.

Bandar Lampung

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta, CV.

Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta, CV.

Tjokromodimuljo, K., 1996, Teknologi Beton, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Weking, Fransiskus J (2019). Pengaruh Variasi Semen Terhadap Kuat Tekan Beton Dengan Zat Tambah Beton mix .

LAMPIRAN

a. Zat Tambah Beton Mix

b. Alat Concrete Mixer

c. Cetakan Silinder

d. Alat Compression Testing Machine

e. Pengujian Kadar Air

f. Pengujian Berat Jenis

Uji Berat Jenis

g. Cetakan Kerucut Abrams

h. Lembar Surat Penggunaan Laboratorium

i. Lembar Konsultasi

Dokumen terkait