BAB IV HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Penelitian ini membahas mengenai gambaran pemaknaan sirik na pacce dalam Kisah perjalanan I Makdi Daeng Rimakka. Sirik dalam konteks appakasiri’-siri’, Siri’-siri’, appaka siri’, nipaka siri’, tutinggi siri’na, mate siri’, tea mate siri’, appaenteng siri’, nipassiriki. Pacce dalam konteks kurang pacce, lantang pacce, lompo pacce, nipapaccei, tau nia’paccena. Penelitian ini membahas pula tentang pelestarian budaya sirik na pacce sebagai media pendidikan karakter, dan nilai-nilai karakter yang terkandung dalam Kisah Perjalan I Makdi Daeng Rimakka karya Muh. Faisal.
Berdasarkan analisis di atas dapat diketahui bahwa pemaknaan terhadap budaya sirik na pacce dalam Kisah Perjalan I Makdi Daeng Rimakka dapat dikategorikan menjadi beberapa bagian yakni : Sirik meliputi appaka siri’-siri’, appaka siri’, nipaka siri’, tutingngi siri’na, mate siri’, appaenteng siri’, tea mate siri’, mate ri siri’na. Pacce meliputi kurang pacce, lantang pacce, lompo pacce, nipapaccei, tau nia’paccena.
Berikut akan dibahas gambaran sirik na pacce berdasarkan penelitian tersebut.
a. Sirik
Melalui penelitian sirik yang terdapat dalam Kisah I Makdi Daeng Rimakka diperoleh data yang meliputi appaka siri’-siri’, appaka siri’, nipaka siri’, tutingngi siri’na, mate siri’, appaenteng siri’, tea mate siri’, mate ri siri’na.
Kategori sirik dapat dikemukakan sebagai berikut.
Appaka sirik-sirik, Seseorang dapat dikatakan appakasiri’-siri’ jika ia melakukan suatu perbuatan yang memalukan. Appaka siri’-siri’ mengandung makna perbuatan yang memalukan. Orang yang melakukan perbuatan memalukan dalam kisah I Makdi Daeng Rimakka adalah Karaeng Bodo Bodowa dan teman-temannya, I Ballaco Bontotannga, I Pada di Arungkeke, I Ranggo di Tanatowa, I Cangkiyok dari Mannyumbeng, I Rambu Daeng Rimoncong, dan I Manja Daeng Mannyarang.
Perbuatan mencuri dilihat dari segi adat kebangsawanan sudah menjatuhkan derajat. Dari segi agama sudah menyalahi norma (syariat Islam). Hal ini sejalan dengan pendapat Prof. Dr. Hamka, (1977: 176) menyatakan bahwa Sirik berarti harga diri dapat dipandang dari dua segi (1) Dipandang darisegi agama Islam, Sirik atau menjaga harga diri itu sama artinya menjaga syari’at. Dikatakan demikian karena agama mengarahkan manusia mengabdi pada Tuhan dan agama pula memberikan aturan normatif yang membimbing perilaku manusia. (2) Dipandang dari segi ilmu, ahlak adalah suatu kewajiaban moral yang paling tinggi. Orang yang memiliki sirik berarti dia memiliki ahlak yang baik.
Hal ini juga seiring pula dengan pendapat Drs.Widodo Budidarmono (dalam Mannahao,2010:4) bahwa Siri’k adalah pandangan hidup yang mengandung etika perbedaan antara manusia dan binatang, dengan adanya rasa harga diri dan kehormatan yang melekat pada manusia. Falsafah Makssar mengatakan “punna niakja siriknu teako appaka sirik-siriki”.
Appaka Sirik, Seseorang dikatakan appaka sirik bilamana ia mempermalukan orang. Dalam Kisah Perjalanan I Makdik Daeng Rimakka.
perbuatan appaka sirik dilakukan oleh Karaeng Bodo Bodowa dan kawan- kawannya. Tindakannya mempermalukan orang atau tindakannya membuat Karaeng Bontotannga akan menjadi malu. Jadi appaka siri bermakna mempermalukan orang. Karaeng Bontotannga melakukan tindakan appakasirik sedangkan Karaeng Bontotannga adalah pihak nipakasirik.
Orang yang nipakasiri akan bereaksi karena menganggap terusik siriknya misalnya timbul perselisihan bahkan pembunuhan.
Tindakan appaka sirik juga dilakuka oleh Karaeng Bontotannga terhadap I Makdi Daeng Rimakka. Seseorang yang disuruh mempertanggungjawabkan perbuatan buruk orang lain sudah pasti akan melakukan reaksi atau tindakan sebagai pemulihan sirik akibat nipakasirik.
Tutingngi Siri’na, sebagai simbol keberanian dan harga diri. Seorang pemberani tidak akan mundur sedikitpun dan tidak akan takut terhadap apa pun yang akan dihadapinya bila mana harga dirinya terusik.
Tutinggi sirikna mampu menetukan sikap sesuai dengan kebenaran dan ketetapan hati nuraninya. Ketika I Makdi Daeng Rimakka merasa sirik na paccena diinjak-injak oleh Karaeng Bontotannga, ia bertekad berjuang
mengerahkan segala kemampuan dan kekuatan yang dimiliki. Tak peduli dengan resiko yang harus dihadapi. Hal ini sejalan dengan prinsip orang Bugis-Makassar yang mengatakan mati karena sirik adalah mate nisantangi, mate nigollai (mati bergelimang dengan santan dan gula) maksudnya mati terhormat dan akan dikenang sepanjang masa sebagai manusia yang mulia dan harum namanya. Cerita tentang I Makdi Daeng Rimakka akan selalu dikenang sebagai seorang raja yang tewas demi sirik na pacce.
Mate Sirik, dalam Kisah Perjalanan I Makdi Daeng Rimakka dialami oleh Karaeng Bontotannga. Ia akan kehilangan harga dirinya. Dapat pula dikatakan tidak ada rasa malu dalam dirinya (kehilangan muka). Karaeng Bontotangnga akan mate siri’ jika akan membatalkan pesta lantaran kerbau dan kudanya dicuri, atau ia akan sangat malu dan kehilangan harga diri jika mengadakan pesta tanpa gantala jarang sebagai menu khas orang Jeneponto. Orang yang mate sirik berusaha mengembalikan sirikna. Jika tidak, selamanya akan mate sirik. Orang yang sudah mate sirik dapat dikatakan sudah kehilangan muka.
Tea mate sirik, bilamana seseorang berusaha menjaga siri’na atau harga dirinya. Tea mate sirik adalah sikap teguh pada pendiriannya. Tea mate sirik sangat memuliakan siriknya. Sikap dan pendirian I Makdi daeng Rimakka adalah gambaran orang yang memuliakan sirikna,dan teguh pada pendirian.
Sejalan dengan prinsip orang Bugis-Makasar yang mengatakan bahwa sirikaji tojeng. Orang tea mate siri berusaha menjaga sirikna. Tea mate sirik, mengandung maksud orang itu tidak mau kehilangan harga dirinya. Ketika
orang Bugis-Makassar terusik harga dirinya maka ia akan bereaksi jika ia berada dipihak yang benar. Sebagai mahluk pribadi orang Bugis Makassar dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang kuat dalam menjaga harga dirinya. Orang I Makdi Daeng Rimakka Indonesia yang tea mate sirik (tidak mau kehilangan harga diri).
Appaenteng Sirik, dilakukan bilamana seseorang mendapat perlakuan nipakasirik , maka ia berusaha ampaentengi sirikna atau ada pihak lain ampaentengi sirikna. Jadi menegakkan harga diri (siri’) adalah reaksi dari pelanggaran terhadap harga diri adalah tindakan menuntut balas sebagai bentuk pemulihan siri’. I Makdi Daeng Rimakka, berusaha menegakkan sirikna. Ia rela mengorbankan jiwa dan raganya demi menegakkan sirik. Ini membuktikan bahwa orang Bugis-Makassar memperlihatkan bahwa jika harga dirinya terusik atau terlukai maka aka nada reaksi pemulihan sirik.
Menegakkan sirik bukan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki, tetapi kaum perempuan pun turut menegakkannya. I Mulli Daeng Massayang Isteri I Makdi Daeng Rimakka terpanggil untuk terjun ke medan perang karena ingin ampaentengi sirikna I Makdi Daeng Rimakka yang sudah tiada. I Jakkolo Daeng Manrangka adalah sosok manusia yang berusaha menegakkan sirik atau appaenteng sirik sebagai keluarga atau saudara kandung dari Mulik Daeng Massayang. Ini membuktikan bahwa jika ada seseorang yang nipakasiri dan orang tersebut tidak mampu maka keluargalah yang menegakkan sirikna. Hal ini sejalan dengan pendapat M.Natsir Zaid (2005: 45) yang mengemukakan bahwa sirik adalah persaan
malu yang dapat menimbulkan sanks dari keluarga atau famili yang dilanggar norma adatnya. Juga sejalan dengan pendapat Salambasjah (1996: 5) yang member pengertian tentang sirik yakni malu, daya pendorong untuk membinasakan siapa saja yang menyinggung rasa kehormatan seseorang atau daya pendorong untuk bekerja atau berusaha sebanyak mungkin.
Nipakasirik atau dipermalukan adalah perlakuan yang tidak layak dari sesama. Ini berhubungan harga diri dan martabat. Seseorang nipakasiri harus menegakka atau mengembalikan sirikna. Kalau tidak maka akan ia akan kehilangan martabat sebagai manusia. Hamid (2003:45) mengatakan bahwa Sirik sebagai harga diri (digniti). Nipakasiri’ adalah suatu perlakuan yang tidak layak dari sesamanya. Sehingga orang yang nipakasiri’ biasanya memiliki dorongan atau kekuatan untuk ampaentengi siri’na. Seseorang bekerja keras, berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh kehidupan yang layak. Orang yang diperlakukan tidak layak itu dapat berkata “napakasirika”.
I Makdi Daeng Rimakka telah nipakasiri, maka ia dan pihak keluarga harus mengembalikan sirik sebagai pemulihan harga diri. Seorang Manusia Makassar dinilai rendah dan dipandang sebelah mata jika tidak dapat bila ia nipakasirik dan ia tidak berusaha menegakkan siriknya. Hal ini senada dengan pendapat Anshari (2011: 56) yang mengatakan bahwa
“Siri’nipakasiri’ berfungsi sebagai serangan dan pembelaan orang Bugis dan Makassar terhadap rasa malu yang diterimanya. Bahkan untuk mempertahankan rasa malunya orang bugis Makassar lebih suka mati berperang daripada hidup dan menanggung “nipakasiri’
Hal senada juga dikemukakan oleh Shelly Errington seorang Anthropolog Amerika ia berpendapat tentang siri’ nipakasiri dan menjelaskan bahwa:
“……..Untuk orang Bugis/ Makassar, tidak ada tujuan atau alasan hidup lebih tinggi atau lebih penting daripada menjaga Siri’nya dan kalau mereka merasa tersinggung atau nipakasiri’ atau dipermalukan, mereka akan lebih senang mati dengan perkelahian untuk memulihkan Siri’nya dari pada hidup tanpa siri’,memang orang Bugis- Makassar terkenal dimana –mana di Indonesia karena dengan muda mereka suka berkelahi kalau merasa dipermalukan, yaitu kalau dipermalukan tidak sesuai dengan derajatnya.
Meninggal karena siri dikatakan “Mate’ rigollai,mate risantangi” artinya mati diberigula dan santan artinya mati secara terhormat,manis dan gurih atau mati yang indah,mati untuk sesuatu yang berguna.Sebaliknya memarahi orang lain dengan kata-kata orang bukan karena siri’,tetapi dengan alasan lain,dianggap hina. Begitu pula lebih dianggap hina kalau melakukan kekerasan terhadap orang lain hanya dengan alasan politik atau kepentingan ekonomi, atau dengan kata lain semua alasan perkelahian selain dari pada sirik dianggap semacam kotoran jiwa yang dapat menghilangkan kesaktian”.
I Makdi Daeng Rimakka telah nipakasirik, maka ia dan pihak keluarga harus mengembalikan sirik sebagai pemulihan harga diri.
Mate risirikna, bila mana seseorang mati demi sirik. Orang yang mate risirikna adalah I Makdi Daeng Ri Makka. Mate risrikna karena ia mati mempertahankan harga diri. Hal ini senada dengan pendapat yang
dikemukakan oleh Abidin (1999 : 98) bahwa Sirik adalah pandangan hidup yang bertujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan harkat, martabat dan harga diri yang mempunyai rasa malu, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Orang Bugis Makassar tidak ingin mate sirik, maka ia akan lebih memilih mate risirikna atau mati karena mempertahankan harga diri.
Orang Makassar memiliki watak yang pemberani, konsisten, dan teguh pada pendirian. Pandangan ini mewarnai kehidupan orang Bugis- Makassar sejak dulu. Sebagaimana yang digambarkan dalam Kisah I Makdi Daeng Rimakka yang melegenda sejak ratusan tahun yang lalu. I Makdik Daeng Rimakka menunjukkan betapa besar semangat juang yang dimiliki dalam mempertahankan sirik. I Makdi Daeng Rimakka tidak takut menuju medan pertempuran dan siap menghadapi maut. Kenyataan bahwa I Makdik tewas di tangan Ballaco Bontotannga di medan pertempuran itu, selalu akan di kenang sebagai orang yang mate risirikna (mati demi harga diri). Hamid (2003: 48) mengemukakan makna sirik sebagai “harga diri dan keteguhan hati”.
b. Pacce
Melalui penelitian pacce yang terdapat dalam Kisah I Makdi Daeng Rimakka diketahui bahwa, Pacce meliputi kurang pacce, lantang pacce,
lompo pacce, nipapaccei, tau nia’paccena. Kategori pacce dapat dikemukakan sebagai berikut.
Kurang pacce, dalam Kisah Perjalanan I Makdik Daeng Rimakka, orang yang kurang pacce adalah I Rambu Daeng Rimoncong dan I Manja Daeng Manyarrang. I Rambu dan I Manja meninggalkan I Makdi di medan pertempuran. I Rambu dan I Manja gemetar dan ketakutan melihat musuh.
Sikap saudara kandung I Makdi ini dikatakan kurang pacce. Bahkan dapat dikatakan tau tena paccena. Hal ini sangat bertentangan dengan pendapat Marzukin (1995: 39) yang mengemukakan bahwa pacce merupakan panggilan (obbi’) hati nurani guna melibatkan diri dengan sikap perbuatan kesetiakawanan (solidaritas social). Orang Makassar sering berkata punna tena paccenu ammaliko pacce. Ini menunjukka betapa pacce perlu di miliki seseorang karena orang yang tidak memiliki pacce sama saja dengan orang yang tidak berguna. Kurang pace mengandung makna kurang memiliki kepedulian terhadap penderitaan orang lain.
I Rambu Daeng Rimoncong dan I Manja Daeng Manyarrang saudara I Makdi Daeng Rimakka sendiri dikatakan orang yang kurang siri’ kurang pace. Dia dianggap orang yang tidak ada gunanya. Dianggap olok-olok ( binatang) atau bangksai hidup yang hidup, sebagaimana sebagaimana yang dikemukakan oleh Marzuki ( 1995: 37) bahwa terdapat ungkapan kalimat bijak atau petuah dari para leluhur kita yang mengatakan sirikaji nanikanaki tau (hanya sirik sehingga kita dikatakan manusianya) maksudnya, karena adanya sirik dalam diri kita maka kita dinamakna manusia. Orang yang tidak
memiliki sirik adalah bukan manusia tetapi rapang tau (boneka) atau olok- olok (binatang).
Lantang pacce, kebalikan dari kurang pacce. Sesuai dengan hasil penelitian dalam Kisah Perjalanan I Makdi Daeng Rimakka menunjukkah bahwa tau lantang paccena adalah I Mulik Daeng Massayang. Begitu mendengar kabar kematian I Makdi Daeng Rimakka I mulik Daeng Massayang tersayat hatinya, Ia mau menukar giwangnya dengan kerisnya I Rambu dan tombaknya I Manja. I Mulik minta bantuan I Jakkolo Daeng Manrangka untuk membalas kematian suaminya. I Mulik Daeng Masayang memenggal kepala I Ballaco Bontotannga dan menjinjing di tengah lapangan. I Jakkolo Daeng Manrangka bergabung dengan I Mulik Daeng Massayang berperang dengan pasukan Karaeng Bontotannga, membunuh I Ballaco Bontotannga dan membumi hanguskan kampong Bontotannga. I Makdi Daeng Rimakka bersedih atas kematian sahabatnya dalam pertempuran hingga harus kembali lagi ke medan pertempuran, dan akhirnya ia tewas di tangan I Ballaco Bontotannga.
Kesedihan, airmata dan kerelaan berkorban dari ketiga tokoh dalam Kisah I Makdi Daeng Rimakka ini, menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang lantang pacce. Mereka memiliki solidaritas yang tinggi. Ia mau menanggung beban penderitaan orang lain. Hal ini sesuai dengan pepatah yang mengatakan “ringan sama dijinjing , berat sama dipikul” artinya bahwa di dalam kita menjalani hidup ini kita perlu kerjasama dan saling tolong
menolong, memiliki solidaritas yang tinggi serta mau ikut serta untuk turut merasakan dan menanggung beban penderitaan orang lain.
Nipappaccei, bilamana seseorang mendapat bantuan ketika dalam kesusahan dan penderitaan.Berdasarkan hasil penelitian dalam Kisah Perjalanan I Makdi Daeng Rimakka tersebut, I Mulik Daeng Massayang mendapat bantuan dari Jakkolo Daeng Manrangka ketika melawan pasukan Karaeng Bontotannga. Sikap I Jakkolo Daeng Manrangka mengandung makna ada rasa kepedulian kepada orang yang sangat membutuhkan. I Mulli Daeng Massayang Nipapaccei ri Jakkolo Daeng Manrangka. Mulik Daeng Massayang menerima bantuan dari Jakkolo Daeng Marangka. Hal ini sejalan dengan pendapat Anshari (2011:56) yang mengemukakan bahwa pacce sebagai penggambaran unsur solidaritas dalam kebersamaan dan unsur perikemanusiaan dalam diri manusia Bugis-Makassar.
Tau nia paccena, bermakna ada kepedulian dan rasa iba kepada orang lain. Contohnya dalam kisah ini, Jakkolo Daeng Marangka iba kepada Mulli Daeng Massayang yang sedang mendapatkan musibah. Dari perasaan iba itu yang mendorong I Jakkolo Daeng Manrangka turut dalam peperangan membantu I Mulik Daeng Massayang.
Dari pemaknaan konsep budaya pace di atas dapat diketahui bahwa pace berarti rasa iba, belas kasih, kerelaan berkorban, kesetiakawanan sosial, dan pengungkapan empati solidaritas terhadap pederitaan sesama.
Pacce berfungsi pemersatu, pemuliaan (sipakatau), memotivasi, penggalang solidaritas sosial dalam menegakkan siri orang lain (di luar individu).
Penyerangan siri’ yang diderita orang lain dipandang sebagai penyerangan terhadap harkat siri’nya sendiri.
Dari analisis diatas, dapatlah disimpulkan bahwa siri’ bermakna malu harga diri dan ketuguhan hati sedangkan pacce dipahami dalam dua kategori, yang pertama sebagai upaya pemulihan dan penegakan terhadap harga diri. Yang kedua sebagai rasa iba, belas kasihan, dan solidaritas terhadap penderitaan, kesulitan, serta kesusahan yang dialami orang lain.
Bagi orang Makassar khususnya Jeneponto sebagai latar kisah ini, pace merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan dari siri’. Pacce inheren dalam sirik, sehingga dalam bahasa Makassar terdapat suatu ungkapan yang berbunyi “sirik na pace”. Jika sirik belum kunjung ditegakkan serta dipulihkan, maka setidaknya masih terdapat pace yang mendorong mereka dalam upaya menegakkan serta memulihkan harkat siri’ bersama.
b. Pelestarian Budaya Siri na Pacce Melaui Pendidikan Karakter.
Bagi penduduk asli Sulawesi Selatan sirik na pacce sudah tidak asing lagi, karena sirik na pace adalah budaya peninggalan dari para leluhur kita.
Namun dewasa ini sirik na pace sudah mengalami bias atau sudah terjadi degradasi karena semakin kurangnya pengetahuan dan dangkalnya penghayatan terhadap budaya sirik na pace ini bagi generasi muda. Padahal sirik na pace di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yaitu malu, harga diri dan keteguhan hati, sehingga sangat relevan dengan pembangunan bangsa kita dewasa ini. Oleh karena itu perlu adanya upaya pelestarian budaya sirik
na pace ini melalui pendidikan karakter yang pada akhinya dapat memperkuat dan membangun karakter bangsa kita sendiri. Sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Sistim Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003 pasal 1 butir 1, pendidikan adalah: “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”. Hal ini sejalan pula dengan pendapat Yaumi, (2014: 9) yang mengemukakan bahwa pendidikan karakter adalah mengajar peserta didik tentang nilai nilai dasar kemanusiaan termasuk kejujuran, kebaikan, kemurahan hati, keberanian, kebebasan, kesetaraan, dan penghargaan kepada orang lain. Tujuannya adalah untuk mendidik anak-anak menjadi bertanggung jawab secara moral dan warga Negara yang disiplin
Adapun proses upaya pelestarian budaya sirik na pace dapat dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat. Ketiga komponen ini merupakan ruang lingkup dan sasaran dari pendidikan bagi anak sebagai generasi penerus bangsa.
Keluarga adalah lingkungan yang paling dekat dengan anak. Di sinilah pertama kalinya anak memperoleh internalisasi nilai, toladan, prinsip dan moral. Oleh karena itu orang tua dan keluarga memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter anak. Posisi keluarga sangat strategis dan menetukan pembentukan karakter sebuah generasi, karena sebuah generasi yang baik pada umumnya lahir dari keluarga yang baik. Sebaliknya, dari
keluarga yang rusak tidak banyak diharapkan munculnya generasi yang memiliki watak dan kepribadian yang baik. Pelestarian budaya siri’ na pace dalam lingkungan keluarga dapat dilkukan dengan memberi pemahaman dan ketoladanan.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal juga berperan penting dalam pembentukan karakter bagi anak didik. Terkait dengan pelestarian budaya sirik na pace maka sekolah adalah wadahnya dan guru dalam mengimplementasikan pendidikan karakter dan upaya pelestarian sirik na pace memegang peranan penting karena guru adalah orang tua peserta didik di sekolah dan teladan yang baik bagi siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Yaumi, (2014: 10) yang mengatakan bahwa guru dalam proses mengimplementasikan pendidikan karakter memegang peranan yang sangat penting, karena guru adalah orang tua peserta didik di lingkungan sekolah.
Selain itu adalah organisme yang sedang berproses yang sedang memerlukan bimbingan dan bantuan dari guru yang dapat dijadikan contoh dan toladan hidup. Oleh karena itu upaya pelestarian budaya siri’ na pace dapat dilakukan di sekolah dengan melalui keteladanan, penanaman konsep dan pemahaman tentang siri’ na pace, dan materi siri’ na pace dibahas dalam kurikulum muatan lokal.
Selain pendidikan formal yaitu sekolah, maka masyarakatpun turut berperan dalam pembentukan karakter dan pelestarian budaya sirik na pace.
Mengingat bahwa dalam tata pergaulan pada masyarakat akibat adanya modernisasi terjadi adanya pergeseran nilai. Sebagian masyarakat tidak lagi memahami makna siri’ na pace. Banyak diantara mereka yang tidak punya
rasa malu, tidak punya harga diri, dan kepribadian yang baik. Korupsi dan penyakit masyarakat adalah bukti terkikisnya siri’ na pace. Tingkah pola masyarakatpun menjadi cerminan bagi generasi muda. Hendaknya pemahaman tentang siri’ na pace yang diperoleh di lingkungan keluarga dan sekolah dapat diimplementasikan atau diterapkan dimasyarakat.
c. Nilai- nilai Karakter Sirik na Pacce dalam Kisah Perjalanan I Makdi Daeng Rimakka
Nilai-nilai siri’ na pace merupakan payung dari segala aspek kehidupan orang Bugis-Makassar. Oleh sebab itu, istilah siri’ na pace mewarnai segala aspek tingkah laku orang Makssar baik dalam bertutur, bertindak, dan bertingkah laku. Jadi sangatlah tepat jika budaya siri’ na pace sebagai media pendidikan karakter. Memperhatikan hasil analisis diatas, dapat diketahui bahwasanya kandungan nilai budaya sirik na pacce dalam Kisah Perjalanan I Makdi daeng Rimakka adalah nilai malu, nilai harga diri (martabat), dan nilai kepribadian.
Nilai sirik yang berarti malu jika dikaitkan dengan pendidikan karakter sebagai implementasi dalam kehidupan nyata adalah sirik-sirik. Sirik-sirik berkait erat dengan perasaan malu. Dalam sistem nilai budaya, sirik-sirik mengandung ungkapan psikis yang dilandasi perasaan malu yang dalam, guna berbuat sesuatu yang tercela serta dilarang oleh kaidah adat. Nilai malu dalam sirik-sirik terutama berfungsi sebagai upaya pengekangan seseorang atau sensor terhadap perbuatan yang dipandang melanggar