• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan Hasil Penelitian .1. Karakteristik responden

Dalam dokumen hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil (Halaman 59-68)

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Pembahasan Hasil Penelitian .1. Karakteristik responden

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Gunung Tua Panyabungan tahun 2016 responden mayoritas berada pada rentang umur 21-35 tahun sebanyak 26(78,8%). Usia reproduksi yang sehat bagi ibu hamil adalah antara 20-35 tahun dan Umur termasuk berpengaruh dalam melakukan suatu tindakan, karena daya ingatan seseorang itu salah satunya dipengaruhi oleh umur.

Semakin tua umur seseorang fungsi organ-organ tubuhnya juga menurun termasuk daya ingat. Semakin menurun fungsi organ-organ tubuh dan ingatannya maka semakin menurun keaktifan seseorang dalam melakukan suatu tindakan (Arisman, 2010) . Menurut Departemen Kesehatan RI (2010), kelompok umur beresiko yaitu < 20 tahun atau > 35 tahun. Usia Ibu waktu melahirkan kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun telah terbukti merupakan penyebab tinggi morbiditas bahkan mortalitas ibu maupun anak.

Dari segi Pendidikan mayoritas responden tamat SMP sebanyak 15 (45,5%). Menurut Nursalam (2011) makin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi baik dari orang lain maupun dari media massa, sehingga makin banyak pula pengetahuan yang dimiliki, mereka akan berfikir maju dan sangat ingin mencoba hal-hal atau cara-cara baru. Dengan sifat yang dimiliki ini mendorong mereka keluar dari lingkungan dan masuk ke lingkungan pergaulan yang lebih luas. Pendidikan memiliki pengaruh yang sangat besar

terhadap pengetahuan seseorang, makin tinggi pendidikan seseorang, maka semakin mudah orang tersebut menerima informasi, makin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang dimiliki orang tersebut.

Pendidikan termasuk berpengaruh dalam melakukan tindakan, karena semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi pengetahuannya berarti bimbingan yang diberikan kepada ibu hamil tentang teknik mengkonsumsi tablet zat besi yang benar dapat lebih mudah dipahami (Desriyanti, 2014)

Dari segi paritas mayoritas responden multigravida sebanyak 13 (39,4%).

Paritas lebih dari 3 faktor terjadinya kekurangan Enegri kronik. Hal ini disebabkan karena terlalu sering hamil dapat menguras cadangan zat gizi tubuh ibu (Arisman, 2008).

5.1.2. Pengetahuan tentang Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi selama Kehamilan

Berdasarkan hasil penelitia yang dilakukan di Puskesmas Gunung Tua Panyabungan tahun 2016 pada 33 responden mayoritas berpengetahuan kurang sebanyak 12 (36,4%)

Pengetahuan adalah hasil ‘tahu’, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk

terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Perilaku yang didasarkan oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2007).

Menurut Soekanto (2011) bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan. Pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang terhadap individu, kelompok atau

masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa mayoritas responden tamat SMP sebanyak 15 (45,5%). Pendidikan yang relative rendah akan mempengaruhi pengetahuan responden.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh (Suharjo, 2009), latar belakang pendidikan seseorang berhubungan dengan tingkat pengetahuan, jika tingkat pengetahuan gizi ibu baik maka diharapkan status gizi ibu baik, sebab dari gangguan gizi adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kemampuan meningkat pengetahuan gizi masyarakat . kurangnya tingkat pengentahuan dan slah konsepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia. Kemiskinan dan kekurangan persediaan pangan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurng gizi atau sebab lain yang penting dari gangguan gizi adalah kekurangan pengetahuan tentang gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari hari.

5.1.3. Sikap tentang Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi selama Kehamilan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Gunung Tua Panyabungan tahun 2016 pada 33 responden sebanyak 14(42,4%) dengan sikap positif dan 19(57,6%) dengan sikap negative

Pemahaman ibu hamil yang tepat tentang nutrisi akan megarahkan ibu hamil memiliki sebuah motivasi untuk melakukan perubahan sikap Yang memberikan tujuan kearah perilaku hidup sehat. Suatu perilaku membutuhkan adanya motivasi yang cukup pada seseorang untuk melaksanakan suatu tindakan dengan berhasil, tanpa motivasi orang tidak akan dapat berbuat apa-apa karena motivasi menyebabkan seseorang bersungguh-sungguh dalam melakukan kegiatan (Deviasari, 2011)

Sikap akan mempengaruhi tindakan atau perilaku seseorang. Sikap ibu hamil yang positif maka akan memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan selama kehamilannya. Jika ibu yang sikapnya negatif, maka ibu akan memiliki kebiasaan makan yang buruk yaitu cukup dengan makan nasi saja tanpa perlu dilengkapi dengan zat-zat gizi yang dibutuhkan selama kehamilannya. Sebaiknya ibu hamil memiliki respon yang positif terhadap nutrisi selama kehamilannya agar ibu hamil dapat mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi selama kehamilannya.

Hasil penelitian ini sesuai degan teori yang dikemukakan oleh (Suharjo, 2009), pemahaman ibu hamil yang tepat tentang nutrisi akan mengarahkan ibu hamil memliki sebuah motivasi untuk melakukan perubahan sikap yang memberikan tujuan kearah perilaku hidup sehat. Untuk meningkat sikap positif, sebaiknya ibu hamil perlu mendapatkan informasi berasal dari media cetak

maupun media elektronik, bisa juga dengan mengadakan kelas ibu hamil yang membahas tentang nutrisi dalam kehamilan.

5.1.4. Status Gizi Ibu Hamil

Status Gizi adalah tanda-tanda penampilan yang diakibatkan oleh keseimbangan antara gizi disatu pihak dengan pengeluaran oleh organisme dilain pihak yang terlihat melalui variabel tertentu, variabel itu selanjutnya disebut indikator, misalnya berat badan, tinggi badan dan sebagainya (Murti, 2013).

Kehamilan adalah suatu keadaan istimewa bagi seorang wanita sebagai calon ibu, karena pada masa kehamilan akan terjadi perubahan fisik yang mempengaruhi kehidupannya. Pola makan dan gaya hidup sehat dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim ibu. Pada masa kehamilan penatalaksanaan gizi pada ibu hamil bertujuan mencapai status gizi ibu sehingga ibu menjalani kehamilan dengan aman, melahirkan bayi dengan potensi fisik dan mental (Murti, 2013)

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Puskesmas Gunung Tua Panyabungan tahun 2016 pada 33 responden sebanyak 18(54,5%) dengan status gizi tidak normal dan 15(45,5%) responden dengan status gizi normal

Menurut Supariasa (2012) penilaian status gizi pada ibu hamil dilakukan salah satunya adalah dengan carapengukuran Berat badan dengan pengukuran lingkar lengan atas menggunakan pita LILA dengan ketentuan apabila ukuran lila kurang dari 23,5 cm dapat dikatakan menderita KEK.

.

5.1.5. Hubungan antara Pengetahuan dengan Status gizi Ibu hamil

Berdasarkan hasil penelitian dari 12 responden yang berpengetahuan kurang seluruhnya dengan status gizi tidak normal sedangkan dari 10 responden dengan pengetahuan baik sebanyak 8 (24,2%) dengan status gizi normal . Hasil dari Uji statistic diperoleh nilai p = 0,000 maka dapat disimpulkan Terdapat hubungan pengetahuan ibu hamil dalam memenuhi kebutuhan nutrisi dengan status gizi di Puskesmas Gunung Tua Panyabungan tahun 2016

Salah satu factor yang mempengaruhi pengetahuan adalah pendidikan, dan berdasarkan hasil penelitian pendidikan responden mayoritas SMP sebanyak 15(45,5%) dan SD sebanyak 11(33,3%) sehingga hal tersebut mengakibatkan responden dalam menjawab pertanyaan kurang mampu menjawab dengan benar.

Kehamilan menyebabkan meningkatnya metabolisme energi, karena itu kebutuhan energi dan zat gizi lainnya meningkat selama kehamilan. Peningkatan energi dan zat gizi tersebut diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya organ kandungan, perubahan komposisi dan metabolisme tubuh ibu. Sehingga kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna (Sophia, 2010).

Gizi yang baik diperlukan seorang ibu hamil agar pertumbuhan janin tidak mengalami hambatan, dan selanjutnya akan melahirkan bayi dengan berat normal.

Dengan kondisi kesehatan yang baik, system reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa pra hamil maupun saat hamil, ibu akan melahirkan bayi lebih besar dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang sebaliknya. Ibu dengan kondisi kurang gizi kronis pada masa hamil sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang rendah dan kematian yang

tinggi, terlebih lagi bila ibu menderita anemia (Lubis, Z. 2008). Pemenuhan kebutuhan nutrisi pada ibu hamil berkaitan erat dengan tinggi rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi. Tingkat pengetahuan gizi pada ibu adalah kemampuan seorang ibu dalam memahami konsep dan prinsip serta informasi yang berhubungan dengan gizi. Tingkat pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh pengalaman, faktor pendidikan, lingkungan, sosial, sarana dan prasarana maupun derajat penyuluhan yang diperoleh yang nantinya setelah tahu menjadi mau untuk melakukan sesuatu hal yaitu berupa perilaku, dalam hal ini perilaku hidup sehat (Kismoyo, 2005).

Faktor pola konsumsi juga dapat mempengaruhi status kesehatan ibu, dimana pola konsumsi terutama pada ibu hamil yang kurang baik dapat menimbulkan suatu gangguan kesehatan atau penyakit pada ibu hamil tersebut.

Penyakit infeksi dapat menjadi penyebab awal terjadinya kurang gizi sebagai akibat menurunya nafsu makan, adanya gangguan penyerapan dalam saluran pencernaan atau peningkatan kebutuhan zat gizi oleh adanya penyakit (Almatsier, 2010).

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Rika (2008), bahwa prevalensi ibu hamil dengan kondisi kekurangan gizi 73,40%. Ibu hamil dengan pengetahuan kurang baik mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami anemia dibanding ibu hamil dengan pengetahuan baik (OR=4,76; 95% CI=1,99- 11,42). Pernyataan tersebut sama dengan penelitian Setya (2011) salah satu faktor penyebab terjadinya status gizi tak normal pada ibu hamil adalah kurangnya pengetahuan tentang pentingnya mengkonsumsi makanan bergizi yang dapat memenuhi kebutuhan ibu dan bayinya selama kehamilan.

Kemudian penelitian Herlina (2013) di wilayah kerja kota Bogor menunjukkan ada hubungan signifikan antara pengetahuan dengan status gizi ibu hamil . Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hasil analisis statistik terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan kejadian anemia ibu hamil dengan 0R=4,386 (95% Cl OR= 1,475: 13,045 ) artinya bahwa pada populasi estimasi risiko terjadinya anemia pada ibu hamil pengetahuan rendah adalah 4,386 kali dibanding ibu hamil yang pengetahuan tinggi

5.1.6. Hubungan antara Sikap dengan Status gizi Ibu hamil

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di puskesmas Gunung Tua Panyabungan Tahun 2016 diperoleh hasil bahwa dari dari 25 responden yang bersikap positif sebanyak 42,4% dengan status gizi normal dan 33,3% tidak normal sedangkan dari 8 responden dengan sikap negative sebanyak 3.0% dengan status gizi normal dan 21,2% dengan status gizi tidak normal. Hasil dari Uji statistic diperoleh nilai p = 0,046 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara ibu hamil dalam memenuhi kebutuhan nutrisi dengan status gizi di Puskesmas Gunung Tua Panyabungan tahun 2016

Dari hasil penelitian menunjukan bahwa responden dengan sikap positif mayoritas dengan status gizi normal (48,5%).Menurut Lawrence Greenfaktor perilaku sendiri ditentukan oleh salah satunya yaitu faktor predisposisi (predisposing faktors) atau faktor-faktor yang mempermudah terjadinya perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan, kepercayaan, nilai-nilai dan tradisi.

Lebih khusus Green menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang salah satunya adalah sikap dari orang tersebut. Pada hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan mayoritas cukup 18 (54,5%) namun memiliki sikap mayoritas positif 75,8%. Dengan

sikap positif tersebut akan menghasilkan reaksi dalam bentuk tindakan yang baik pula hal itu dapat dilihat dari status gizi ibu hamil mayoritas normal sebanyak 66,7 %

Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku.

Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka . sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo, 2010).

Penelitian serupa oleh Swastika (2010) yang dilakukan di Puskesmas Bahu Kota Manado dari hasil uji statistikSpearman’srhodiperoleh nilai p=0,003 kurang dari0,05, dan hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara sikap dengan status gizi selama kehamilan di Puskesmas Bahu Kota Manado. Sikap merupakan cara seseorang melihat sesuatu secara mental dari dalam diri dan mengarah pada perilaku yang ditujukan pada orang lain, ide, objek, maupun kelompok tertentu (Azwar, 2007).

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil (Halaman 59-68)

Dokumen terkait