• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

tidak bertambah dengan sendirinya (label: filled 1, filled 2, … dan filled n). Selain itu, tidak terdapat lingkaran terbuka pada funnel plot yang menunjukkan penelitian yang hilang atau tidak dipublikasikan yang harus ditambahkan.

kooperatif. Menurut Crocceti sebagaimana yang dikutif dari (Ellis, 2010) mengatakan bahwa effect size adalah ukuran dimensi efek yang sedang diteliti yang dapat mewakili perbedaan antara dua kelompok (misalnya, kelompok intervensi dan kontrol, kelompok gender, kelompok usia, dll.) atau kekuatan hubungan antara dua variabel.48 Heri Retnawati juga menyatakan bahwa effect size adalah indeks kuantitatif yang digunakan untuk merangkum hasil meta-analisis yang mencerminkan besarnya hubungan antar variabel.49 Dengan menentukan effect size dari setiap penelitian, maka secara keseluruhan dapat ditemukan dan ditentukan bagaimana besar pengaruh suatu perlakuan. Dari 207 artikel yang dikumpulkan saat proses inklusi, terdapat 25 artikel yang memenuhi kriteria untuk dilakukan meta-analisis dan kemudian dirangkum dalam lembar pengkodean yang berisi identitas artikel dan data yang diperlukan untuk melakukan meta-analisis jenis group contrast. Berikut ini adalah interpretasi dari beberapa hasil output meta-analisis yang dilakukan dengan menggunakan aplikasi JASP 0.13.1.0

1. Interpretasi Summary Effect

Berdasarkan hasil uji heterogenitas dengan menggunakan Q-statistic diperoleh nilai dengan nilai � �� � sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil effect size dari 25 artikel yang di analisis berbeda dalam berbagai jenis populasi. Oleh karena itu, metode random-effect model lebih tepat digunakan untuk menarik kesimpulan

48 Elisabetta Crocetti, “Systematic Reviews With Meta-Analysis: Why, When, and How?”, (Research Centre Adolescent Development, Utrecht University, Utrecht, the Netherlands, 2015), hlm.7

49 Heri Retnawati, et.al , Pengantar Analisis Meta, (Yogyakarta: Parama Publishing, 2018)

dari hasil summary effect dibandingkan dengan fixed-effect model karena medel ini mengasumsikan bahwa seluruh penelitian dalam meta-analisis memberikan effect size populasi sama yakni effect size tunggal. Hasil Q- statistic tersebut juga mengindikasikan bahwa terdapat potensi untuk menyelidiki variabel moderator, yaitu faktor-faktor yang di asumsikan mempengaruhi besarnya ukuran efek di seluruh studi.

Hasil perhitungan summary effect yang di peroleh dari aplikasi JASP pada tabel menunjukkan hasil summary effect dengan menggunakan metode random-effect model diperoleh hasil sebesar 0,880 dengan interval kepercayaan (confidence interval) 95% mulai dari 0,688 sampai 1,072, hasil tersebut tidak jauh berbeda dengan hasil perhitungan secara manual dengan menggunakan persamaan 3.20 sampai 3.27 yang menunjukkan hasil M* = 0,880, interval kepercayaan pada batas bawah (LLM) sebesar 0,691 dan batas atas (ULM) sebesar 1,069 serta hasil nilai Z sebesar 9,134.

Karena interval kepercayaan (confidence interval) mengandung 1, maka terdapat bukti yang kuat adanya pengaruh positif perlakuan (treatment) berupa model pembelajaran kooperatif yang diberikan kepada siswa untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Hal ini juga diperkuat dengan hasil pengujian hipotesis null (H0 = 0) dimana kita harus menolak hipotesis tersebut dikarenakan nilai dari summary effect sebesar 8,975 dengan p-value lebih kecil dari nilai α (0,05), dalam hal ini true effect size tidak sama dengan 0 sehingga dapat disimpulkan

bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan penggunaan model pembelajaran kooperatif terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa. Hal ini terlihat dari nilai summary effect atau efek gabungan ( = 0,880) menunjukkan besaran efek (effect magnitude) yang tergolong besar ( ). Adapun kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan random-effect model ialah terdapat pengaruh positif model pembelajaran kooperatif yang signifikan sebesar 0,880 terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa.

2. Interpretasi Forest Plot berdasarkan Random-Effect Model

Forest plot merupakan tampilan grafis dari hasil estimasi sejumlah artikel yang digunakan dalam meta-analisis untuk memahami summary effect atau juga disebut sebagai effect size dari agregasi. Forest plot ini terdiri dari berbagai unsur diantaranya effect size dari masing-masing artikel, garis vertikal yang ditengahnya memuat persegi dengan ukuran berbeda- beda yang luasnya menyatakan besarnya pembobotan serta posisinya menyatakan letak effect size dari masing-masing studi, selanjutnya tiap- tiap garis menyatakan interval kepercayaan hasil estimasi titik dari masing-masing studi dengan menggunakan taraf signifikansi tertentu yang ditentukan oleh peneliti. Jika menggunakan taraf signifikansi 5%, maka interval kepercayaan yang disajikan adalah 95%. Selain itu, forest plot juga menyajikan summary effect atau effect size hasil agregasi yang terletak pada bagian paling bawah berbentuk wajik (diamond) yang

luasnya menyatakan jumlah luas dari total bobot tiap-tiap studi dan posisinya menyatakan besaran summary effect.

Pada Gambar 4.1, hasil summary effect ditunjukkan dengan label RE Model. Adapun nilai summary effect sebesar 0,880 dapat diartikan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif meningkat sebesar 88%.

jika summary effect tersebut bernilai 0 maka dapat diartikan tidak ada perbedaan pengaruh pada kedua kelompok dalam meningkatkan komunikasi matematis siswa, jika summary effect lebih besar dari 0 maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif berpengaruh terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa, dan jika summary effect lebih kecil dari 0 maka dapat diartikan bahwa tidak terdapat pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif dalam meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Adapun informasi lain yang dapat diperoleh dari forest plot pada Gambar 4.1 adalah mengenai konsistensi effect size dari 25 artikel tersebut dan penyebab summary effect menjadi signifikan yaitu terdapat 15 artikel penelitian yang memiliki effect size yang jatuh pada interval sehingga hasil dari summary effect signifikan dengan kategori besar.

Berdasarkan uraian hasil temuan penelitian yang diperoleh melalui analisis statistik menggunakan JASP di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan penggunaan model pembelajaran kooperatif terhadap kemampuan komunikasi matematis

siswa dengan rata-rata effect size yang dihasilkan pada kategori besar yaitu sebesar 0,88 dalam kriteria cohen’s. Hal ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif mampu meningkatkan kemampuan komunikasi matematis pada kelas eksperimen sebesar 0,88 kali lebih besar dibandingkan dengan kelas kontrol. Temuan meta-analisis terkait pembelajaran kooperatif lainnya dilakukan oleh Capar & Tarim pada penelitian meta-analisis pengaruh metode pembelajaran kooperatif terhadap prestasi dan sikap matematika diperoleh ukuran efek untuk pembelajaran kooperatif terhadap prestasi akademik ditemukan d++ = 0,59 (95% CI: 0,38 antara 0,80) termasuk dalam kategori sedang dan ukuran efek untuk pembelajaran kooperatif pada sikap terhadap matematika ditemukan d++ = 0,16 dalam kategori kecil.50 Selanjutnya pada penelitian meta-analisis hubungan model pembelajaran kooperatif dengan prestasi belajar siswa yang dilakukan oleh Dafid, et.al diperoleh hasil rata-rata effect size sebesar 0,15 pada interval 0,04 dan 0,27.51 Oleh karena itu, dengan adanya hasil effcet size dalam penelitian ini dapat diketahui bagaimana pengaruh model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan keterlibatan kelompok pembanding yaitu kelompok kontrol pada setiap sub penelitian dan kemampuan komunikasi matematis yang diperoleh merupakan efek atau akibat dari perlakuan yang diberikan

50 Gulfer Capar & Kamuran Tarim, “Efficacy of the Cooperative Learning Method on Mathematics Achievement and Attitude: A Meta-Analysis Research”, Educational Sciences:

Theory & Practice, Vol.15, Nomor 2, April 2015, hlm.553

51 Dafid Slamet Setiana, et.al., "Relationship between Cooperative Learning Method and Students Mathematics Learning Achievement : A Meta-Analysis Correlation", Al-Jabar: Jurnal Pendidikan Matematika, Vol.11, Nomor 1, 2020.

pada kelompok eksperimen. Maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif dapat dijadikan sebagai alternatif model pembelajaran yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa.

Komunikasi matematis merupakan salah satu jenis kemampuan yang tidak kalah penting untuk dimiliki siswa dibandingkan dengan kemampuan matematis lainnya. Dengan adanya kemampuan komunikasi, siswa dapat menyampaikan bahasa atau ide matematika baik secara lisan maupun tulisan seperti menyebutkan serta menggunakan simbol maupun notasi matematika dengan tepat, dapat menyelesaikan masalah matematika yang berbentuk cerita ke dalam model matematika ataupun sebaliknya. Sehingga dapat dikatakan bahwa siswa yang memiliki kemampuan komunikasi matematis memiliki pemahaman yang baik, cenderung tidak mengalami kesulitan dalam pembelajaran matematika, serta berdampak positif terhadap hasil belajar maupun prestasi belajar siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Astuti &

Leonard yang menyatakan bahwa “terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara kemampuan komunikasi matematika dengan prestasi belajar matematika siswa.”52 senada dengan penelitian tersebut Siti Qomariyah menyatakan “Ada hubungan yang signifikan antara

52Anggraini Astuti & Leonard, “Peran Kemampuan Komunikasi Matematika Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa”, Jurnal Formatif , Vol.2, Nomor 2, 2015, hlm.109

kemampuan penalaran dan komunikasi matematis terhadap prestasi belajar matematika siswa”.53

Model pembelajaran kooperatif memiliki pengaruh terhadap kemampuan komunikasi matematis siswa karena di dalam proses pembelajarannya terdapat Interaksi kooperatif yang dapat membantu siswa menjelaskan kepada teman sebaya maupun interaksi dengan guru sehingga siswa dapat terlibat secara aktif dan efektif dalam menyampaikan gagasannya. Selain itu, untuk setiap tipe kooperatif juga memiliki karakter dan bentuk kegiatan pembelajaran tersendiri yang dapat menunjang kemampuan komunikasi matematis siswa.

Dalam penelitian ini terdapat 25 artikel yang dijadikan sebagai sumber data untuk dilakukan meta-analisis dan dari 25 artikel tersebut terdapat 15 jenis tipe kooperatif yang digunakan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Dalam hal ini, akan dijelaskan beberapa tipe kooperatif yang digunakan oleh beberapa peneliti yang berbeda namun menggunakan tipe kooperatif yang sama, yaitu Think pair Share, Numbered Head Together (NHT), Think Talk Write, dan Talking Stick.

Think pair Share menjadi salah satu tipe kooperatif yang banyak digunakan oleh peneliti untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Dalam penelitian ini, terdapat 4 artikel yang menggunakan think pair share yaitu penelitian yang dilakukan oleh

53 Siti Qomariyah, “Hubungan antara Kemampuan Penalaran dengan Komunikasi Matematis Terhadap Pretasi Belajar Matematika”, Jurnal Teori dan Aplikasi Matematika, Vol. 1 Nomor. 1, Oktober 2017, hlm.53

Rahayu & Wirevenska (2019), Amin & Musdi (2019), Nadila, et.al (2019), Marantika & Coesamin (2020). Model pembelajaran kooperatif think pair share dipandang mampu untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa karena setiap langkah-langkah pembelajarannya memungkinkan siswa dapat melatih kemampuan matematisnya, yaitu sesuai dengan namanya think (berfikir), pair (berpasangan), dan share (berbagi).

Pada proses think, guru akan mengajukan pertanyaan atau memberikan permasalahan matematis terkait dengan materi pelajaran sehingga siswa akan diberikan waktu untuk memikirkan ide-ide untuk memecahkan permasalahan tersebut. Kemudian pada tahap pair, guru akan meminta siswa berpasang-pasangan untuk mendiskusikan jawaban yang telah difikirkan melalui intersubjektif dengan pasangannya.

Selanjutnya hasil diskusi intersubjektif dari masing-masing pasangan akan dibicarakan atau dibagikan dengan seluruh pasangan di dalam kelas yang dikenal dengan share. Dalam kegiatan tersebut, diharapkan terjadinya tanya jawab antar siswa yang mendorong pada proses pengkonstruksian pengetahuan secara integratif sehingga siswa dapat menemukan struktur dari pengetahuan yang dipelajari.54 Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran think pair share bertujuan agar siswa lebih berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk

54 Agus Suprijono, Cooperative LearningTeori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2014), hlm.110

menggali potensi diri siswa karena guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan motivator.55

Tipe selanjutnya adalah Numbered Head Together (NHT), dalam penelitian ini terdapat 3 artikel yang menggunakan tipe NHT untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa yaitu penelitian yang dilakukan oleh Gunur & Santi (2019), Adi et.al (2019), Mardiana &

Sundari (2019). Berdasarkan hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. Numbered Head Together (NHT) merupakan model pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa, dalam kegiatan pembelajaran numbered head together atau penomoran berpikir bersama terdapat kegiatan yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling mengkomunikasikan ide-ide dan mertimbangkan jawaban yang paling tepat terhadap masalah yang diberikan.56

Model pembelajaran ini diawali dengan kegiatan Numbering. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang dibagi berdasarkan jumlah konsep yang dipelajari. Setelah itu, guru mengajukan beberapa pertanyaan dan memberikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompok

55 Nur Rahmah Amin & Edwin Musdi, “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Peserta Didik Kelas VII SMPN 1 Canduang”. Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika, Vol.8, Nomor 3, September 2019, hlm.34

56 Mardiana & Intan Sundari, “Perbedaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Number Head Together (NHT) Dengan Think Talk Write (TTW) Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Kelas X SMK Negeri 2 Binjai Tahun Pelajaran 2018/2019, Jurnal Serunai Ilmu Pendidikan Vol.5, Nomor 1, Juli 2019, hlm.28

menemukan jawaban. Pada kesempatan ini, setiap kelompok menyatukan kepalanya ”Heads Together” berdiskusi memikirkan jawaban atas pertanyaan dari guru. Selanjutnya, guru akan memanggil siswa yang memiliki nomor yang sama dari tiap-tiap kelompok untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang telah diterimanya dari guru. Hal itu terus dilakukan hingga semua peserta didik dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapat giliran untuk memaparkan jawaban atas pertanyaan tersebut. Berdasarkan jawaban-jawaban tersebut, guru dapat mengembangkan diskusi lebih mendalam sehingga peserta didik dapat menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut sebagai pengetahuan yang utuh.57

Think Talk Write merupakan model pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 fase, yaitu think (berfikir), talk (berbicara), write (menulis).

Dalam penelitian ini terdapat 3 artikel yang menemukan bahwa model pembelajaran Think Talk Write mampu meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa, yaitu pada penelitian Tina Sri Sumartini (2019), Suci & Mirna (2019), Sri & Jazwinarti (2019). Sri Wahyuni mengatakan bahwa Think Talk Write dapat dijadikan sebagai salah satu solusi untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa, hal ini dikarenakan dalam model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write siswa diberikan kesempatan untuk memikirkan ide-idenya secara

57 Agus Suprijono, Cooperative LearningTeori dan Aplikasi PAIKEM, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2014), hlm.110

individu, menyusun ide-idenya di dalam diskusi kelompok serta menuliskan solusi atas suatu permasalahan yang diberikan. 58

Dalam fase think (berfikir), siswa akan memikirkan sejumlah masalah yang diberikan. Pada fase ini, siswa akan memahami permasahan tersebut dengan cara menghubungkan pengetahuan yang telah dipelajari sebelumnya dengan masalah yang ada kemudian membuat catatan kecil yang berisi ide atau jawaban sementara serta hal- hal yang diketahui dari masalah yang diberikan berpikir (think), peserta didiki membaca sejumlah masalah yang diberikan. Fase ini diperkirakan mampu memicu perkembangan indikator kemampuan komunikasi matematis seperti menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika, menjelaskan ide, situasi/startegi dan relasi matematika secara lisan/tulisan dengan benda nyata, gambar, grafik, dan aljabar.

Fase kedua ialah talk (berbicara), siswa akan mendiskusikan hasil atau rencana penyelesaian yang dituliskan pada fase berpikir sebelumnya dalam kelompok yang anggotanya heterogen. Pada fase ini, siswa dapat bertukar pikiran dengan siswa lainnya. Melalui kegiatan ini, diharapkan siswa dapat melatih rasa percaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara komunikatif. Selain itu, fase ini juga dapat melatih siswa dalam hal mendengarkan serta

58 Sri Wahyuni & Jazwinarti, “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Peserta Didik Kelas VIII SMP Negeri 18 Padang”, Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika , Vol. 8, Nomor 3 September 2019 , hlm.206

berdiskusi untuk memperoleh suatu solusi dari kendala yang diperoleh.

Pada fase ini, diperkirakan mampu untuk memicu perkembangan indikator kemampuan komunikasi matematis berupa; (1) menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa matematika, (2) menyusun pertanyaan matematika yang relevan dengan situasi masalah, (4) memberikan alasan atau bukti terhadap kebenaran suatu pernyataan. Adapun Fase terakhir ialah write (menulis). Dalam fase ini, siswa menuliskan hasil diskusi yang mereka lakukan pada fase talk. Kegiatan ini dilakukan secara individu dengan menuliskan hasil diskusi menggunakan kalimat yang mudah dipahami oleh mereka sendiri. Kegiatan menulis kesimpulan ini dapat memicu perkembangan indikator kemampuan komunikasi matematis yaitu menarik krsimpulan dari pernyataan matematika.59

Pada umumnya model pembelajaran kooperatif berlangsung secara luring dimana terdapat pertemuan fisik secara langsung antara guru dan siswa. Akan tetapi, mewabahnya virus Covid 19 yang melanda dunia tak terkecuali negara indonesia beberapa tahun ini mengakibatkan adanya pembatasan kegiatan serta penutupan beberapa fasilitas umum termasuk fasilitas pendidikan sebagai upaya pemutusan rantai penyebaran virus covid-19 sehingga Pembelajaran yang selama ini dilakukan secara langsung face to face antara guru dan siswa di ubah menjadi pembelajaran daring dengan memanfaatkaan media sosial seperti

59 Suci Juandika & Mirna, “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif TipeThink Talk WriteTerhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Peserta Didik Kelas VIIISMPN 3Pariaman”, Jurnal Edukasi dan Penelitian Matematika , Vol. 8, Nomor 3, September 2019 , hlm.10

whatsapp serta platform lainnya untuk menujang pembelajaran secara daring. Selain itu, beberapa sekolah di indonesia juga menerapkan pembelajaran kooperatif dengan cara membagi siswa dalam satu kelas tersebut menjadi beberapa kelompok yang nantinya memiliki jadwal untuk berkunjung ke rumah guru yang bersangkutan atau guru tersebut yang mengunjungi muridnya.

Adapun data-data artikel pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam studi meta-analisis ini berlangsung secara luring. Akan tetapi terdapat juga beberapa penelitian yang menerapkan beberapa tipe model pembelajaran kooperatif secara daring seperti penelitian yang dilakukan oleh Taqiya, et.al (2021) menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yang dilakukan melalui whatsapp group dapat meningkatkan aktivitas belajar peserta didik kelas 1 SDN Pandean Lamper 02 Semarang. Hasil penelitian Astuti, et.al (2021) juga menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pemahaman konsep siswa setelah dilakukan pembelajaran kooperatif daring tipe GI berbantuan Microsoft Teams. Selain itu, Gayatri, et.al (2020) juga menyatakan bahwa kemampuan komunikasi matematis siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran ETH secara daring (Platform Google Classroom, whatsapp atau line) lebih tinggi daripada kemampuan komunikasi matematis siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional. Terdapat juga beberapa penelitian untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematis siswa secara daring.

Namun belum banyak penelitian yang mengkombinasikan tipe pembelajaran kooperatif dengan pembelajaran daring untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa. oleh karena itu, model pembelajaran kooperatif dapat dilakukan secara daring dengan menggunakan beberapa tipe kooperatif yang dapat dikombinasikan dengan platform online yang tersedia.

3. Publication Bias

Publication bias merupakan salah satu tahap penting dalam meta- analisis, karena hal ini dapat menjadi ancaman bagi kesimpulan yang diperoleh dari hasil tinjauan sistematis dengan meta-analisis. Menurut E.

Kyndt et,al. sebagaimana yang dikutip dari Rothstein, et al. menyatakan bahwa publikasi bias adalah istilah yang digunakan untuk setiap penelitian yang muncul dalam literatur yang diterbitkan secara sistematis tidak mewakili populasi penelitian yang telah selesai yakni kasus di mana jurnal hanya menerbitkan artikel yang hasilnya terletak pada arah yang seharusnya atau signifikan secara statistik. Akibatnya, terdapat kemungkinan ukuran efek terlalu tinggi.60 Ahn & Kang juga mengatakan bahwa publikasi bias mengacu pada distorsi hasil meta-analisis yang muncul karena kemungkinan publikasi studi yang signifikan secara statistik lebih tinggi daripada studi yang tidak signifikan.61

60 Eva Kyndt et.al, "A Meta-Analysis of the Effects of Face-to-Face Cooperative Learning. Do Recent Studies Falsify or Verify Earlier Findings?", Educational Research Review, Februari, 2013, hlm.9

61 EunJin Ahn & Huyn Kang, "Introduction to Systematic Review and Meta-Analysis:

A Health Care Perspective", Korean Journal of Anesthesiology, Vol.7, Nomor 2, 2018, hlm.109

Oleh karena itu, langkah ini penting di lakukan untuk menilai apakah dampak publikasi bias tersebut masuk kategori minimal (yaitu, studi yang belum dimasukkan tidak akan mengubah hasil meta-analisis), sedang (yaitu, studi yang belum dimasukkan akan mengubah hasil dengan cara yang tidak substansial; misalnya, pengobatan masih efektif tetapi pada tingkat yang lebih rendah), atau besar (yaitu, penelitian yang belum dimasukkan akan mengubah hasil secara substansial; misalnya, pengobatan terbukti efektif, pada kenyataannya tidak efektif).62

Terdapat beberapa alasan yang diduga menyebabkan terjadinya bias, yaitu kurangnya motivasi peneliti untuk mensubmit hasil penelitiannya yang menerima hipotesis null (tidak adanya efek yang signifikan) atau negatif (efeknya signifikan namun arahnya berlawanan dengan konstruksi teori pada umumnya atau yang diharapkan) untuk dipublikasikan. Selanjutnya ialah proses selektif dari pihak jurnal yakni editors atau reviewer yang cenderung menolak atau kemungkinannya kecil untuk menerima hasil penelitian semacam itu atau lebih mengutamakan hasil-hasil penelitian yang signifikan secara positif.63 Adapun menurut Arindam Basu, publikasi bias disebabkan oleh beberapa hal, yaitu; 1) Preferensi editor jurnal untuk memilih studi yang memiliki temuan studi yang menarik; 2) Mereka yang mendanai studi cenderung mendukung studi yang besar dan memiliki temuan positif; 3) Penyidik

62 Elisabetta Crocetti, "Systematic Reviews With Meta-Analysis: Why, When, and How?", Emerging Adulthood, November, 2015, hlm.10

63 Heri Retnawati, et.al., Pengantar Analisis Meta, (Yogyakarta: Parama Publishing, 2018, hlm.167

cenderung tidak mempublikasikan studi yang lebih kecil dengan temuan yang ambigu atau tidak menarik; 4) Studi yang lebih kecil tertunda dalam penerbitannya dan oleh karena itu tidak ditangkap pada saat pencarian artikel.64

Adapun metode yang digunakan untuk menyelidiki, mengevalusi menangani adanya publikasi bias pada hasil meta-analisis dalam penelitian ini ialah funnel plot, rank correlation dan regression method, fail-safe N, trim and fiil.

a. Funnel Plot

Funnel plot adalah alat visual yang digunakan untuk investigasi publikasi bias dalam meta-analisis berupa plot sebaran dari efek perlakuan yang diperkirakan dari studi individu terhadap ukuran- ukuran studi. Pada gambar 4.2, sumbu X menunjukkan kisaran besarnya effect size sedangkan sumbu Y menunjukkan nilai standar error dan garis tengah menunjukkan besarnya summary effect.

Berdasarkan hasil plot tersebut, titik-titik yang tersebar di bagian atas grafik menunjukkan penelitian-penelitian dengan ukuran sampel yang lebih besar sedangkan titik yang tersebar pada bagian bawah grafik menunjukkan penelitian dengan ukuran sampel yang lebih kecil karena penelitian dengan ukuran sampel yang lebih kecil memiliki standard error yang lebih besar dalam effect size.

64 Arindam Basu, "How to Conduct Meta-Analysis: A Basic Tutorial", May 2017, hlm.7

Dokumen terkait