• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

55

sekali dalam proses mengikuti Kegiatan Belajar Mengajar. Kedisiplinan yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler menjadi lebih baik karena dalam kegiatan ekstrakurikuler dibina kedisiplinan dan karakter lainnya.

b. Religius

Menurut Dian popi Oktari, dkk, 2019:47, Kata religius berakar dari kata religi (religion) yang artinya taat, pada agama. Religius adalah kepercayaan atau keyakinan pada sesuatu kekuatan kodrati di atas kemampuan manusia. Jadi karakter religius dalam islam adalah berperilaku dan berakhlak sesuai dengan apa yang diajarkan dalam pendidikan. Seseorang untuk dapat dikatakan religius apabila dapat menampilkan aspek-aspek ajaran agama dalam kehidupannya baik secara sengaja maupun secara tidak sengaja.

Dengan ini nilai religius yang ditanamkan kepada siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler beladiri kempo untuk menanamkan perilaku dan akhlak sesuai dengan apa yang diajarkan baik itu dalam proses belajar mengajar maupun yang diajarkan di tempat kegiatan latihan ekstrakurikulernya.

c. Sportivitas

Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru harus dapat mengajarkan berbagai keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan atau olahraga, internalisasi nilai-nilai (Sportivitas, jujur, kerjasama, dan lain-lain) dari pembiasaan pola hidup sehat. Pelaksanaannya bukan melalui pengajaran konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan unsur fisik mental, intelektual, emosional dan sosial. Aktivitas yang diberikan dalam pengajaran harus mendapatkan sentuhan didaktik-metodik, sehingga aktivitas

yang dilakukan dapat mencapai tujuan pengajaran. Melalui pendidikan jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang menyenangkan, kreatif, inovatif, terampil, meningkatkan dan pemeliharaan kesegaran jasmani serta pemahaman terhadap gerak manusia (Syamsul Arifin, 2017:21)

Sportivitas merupakan sikap adil dan jujur dalam setiap permainan atau olahraga yang ditanamkan pada diri seseorang yang cenderung memperoleh berbagai pengalaman di lapangan untuk bisa menjadikannya pelajaran dalam hidupnya. Dalam setiap tantangan yang dihadapi bisa dilihat dari perilaku yang bukan mengandalkan gejala kekerasan di lingkungan.

d. Daya Juang (Pantang Menyerah)

Kemandirian siswa dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Hasil penelitian Susanti (dalam Nur Listiawati, 2016:311-322) menyatakan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dan daya juang dengan orientasi wirausaha. Semakin tinggi dukungan sosial dan daya juang seseorang semakin tinggi orientasi wirausahanya. Semakin rendah dukungan sosial dan daya juang seseorang, semakin rendah orientasi wirausahanya. Artinya, dukungan sosial meningkatkan daya juang siswa. Didalam juang siswa terdapat aspek kemandirian, yang merupakan bekal untuk berwirausaha, yang skornya masuk dalam kategori baik namun dalam skala kelompoknya termasuk yang paling rendah. Dukungan sosial dapat berubah dukungan moril, materiil (fasilitas), dan spiritual. Fasilitas (materi) dalam hal ini bisa menjadi pendukung dan penghambat tumbuhnya daya juang. Fasilitas menjadi aktor pendukung manakala dijadikan

57

media yang menumbuhkan nilai positif pada kemandirian. Adapun fasilitas menjadi penghambat manakala dimaknai berbeda oleh individu dan menurunkan kemandiriannya (fasilitas membuat individu ini manja dan kurang berusaha).

Daya juang merupakan kemampuan seseorang dalam melakukan berbagai aktivitas yang dapat mengatasi segala kesulitan yang dihadapi untuk mencapai tujuan dengan kemampuan seseorang yang tidak mudah menyerah, merasa puas, dan berusaha mencapai tujuan yang ingin dicapai. Dengan dorongan motivasi yang dapat membangkitkan seseorang untuk melakukan berbagai aktivitas yang dilakukannya.

e. Menghargai sesama

Setiap orang hendaknya sadar bahwa seorang harus bisa dan mau menerima orang lain apa adanya, dalam arti tidak ada diskriminasi. Setiap orang harus mampu menerima seseorang dengan tidak membedakan suku, agama, bahasa, jenis kelamin, dan bangsanya. Setiap orang patuk dan layak untuk dihargai dan dihormati. Penerimaan ini harus dilakukan dengan tulus dan penuh kesadaran. Jika seseorang mampu menerima orang lain apa adanya, orang itu pun akan diterima apa adanya. Layaknya hukum tabur tuai, apa yang ditabur seseorang, itu juga yang dituai orang tersebut (Hondi Panjaitan, 2014:89).

Menghormati dan menghargai diri sendiri merupakan salah satu sikap penting yang harus ditanamkan pada diri setiap manusia dengan sikap menghormati dan menghargai orang lain. Menghargai sesungguhnya kata yang sangat indah apabila seseorang benar-benar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti halnya menghargai orang lain berarti memperlakukan orang

lain dengan baik lewat perkataan dan perbuatan yang tidak saling mencela namun mengapresiasi seseorang dengan cara bersikap ramah, bersikap adil, menghormati pendapat orang.

f. Percaya diri

Percaya diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia bahwa tantangan hidup apapun harus dihadapi dengan berbuat sesuatu. Percaya diri itu lahir dari kesadaran bahwa jika memutuskan untuk melakukan sesuatu, sesuatu itu pula yang harus dilakukan. Percaya diri itu akan datang dari kesadaran seorang individu bahwa individu tersebut memiliki tekad untuk melakukan apapun, sampai tujuan yang diinginkan tercapai.

Siswa yang mempunyai rasa percaya diri tinggi dapat memahami kelebihan dan kelemahan yang ada pada dirinya merupakan hal yang wajar dan sebagai motivasi untuk mengembangkan kelebihan yang dimilikinya bukan dijadikan penghambat atau penghalang dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Hakim, 2005 dalam Rina Aristiani, 2016:184).

Percaya diri perlu didasari kesadaran yakni setiap kegiatan seseorang yang dilakukan dapat bernilai pada dirinya bahwa kemampuan yang dimilikinya bisa merasakan kepantasan untuk berhasil melalui keyakinannya untuk bisa menjalankan tugas dengan penilaian yang bagus.

g. Kebersihan

Menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan harus senantiasa ditanamkan mulai dari sejak dini. Terlebih lagi dalam lingkungan sekolah, pendidikan tentang kesehatan lingkungan, kebersihan diri, dan kesehatan sangat

59

perlu ditanamkan dan dipraktekkan kepada dan oleh siswa masing-masing sekolah. Sehingga akhirnya akan menjadi sebuah kebiasaan atau budaya yang akan mampu menumbuhkan kesadaran untuk berpartisipasi dan berperan serta secara aktif dalam pengelolaan kebersihan lingkungan sekitarnya dimana dia tinggal dan khususnya di sekolah. Pemberian materi yang berhubungan dengan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan terhadap siswa di sekolah diharapkan akan tumbuh kesadaran siswa terhadap tanggung jawab menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan, dan akhirnya siswa akan menjalankan dan melaksanakan hidup sehat dan bersih (Nurul Hidayati, 2018:84)

Kebersihan lingkungan merupakan kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Dengan menciptakan lingkungan yang sehat, kita tidak akan mudah terkena penyakit. Hal ini perlu adanya kesadaran pada diri seseorang untuk berpartisipasi menjaga kebersihan di sekitar lingkungannya.

h. Sopan santun

Penanaman nilai karakter sopan santun, mandiri, kerja keras, dan peduli sosial yaitu dengan melakukan pembiasaan seperti meminta siswa untuk menyelesaikan tugasnya tepat waktu, memperoleh informasi dan menyajikan layout yang tepat dan menarik. Untuk menanamkan nilai karakter disiplin, mandiri, dan kerja keras, saling membantu dan saling memberikan saran menanamkan nilai karakter peduli sosial. Untuk menerapkan nilai karakter gemar membaca tidak ada cara khusus melainkan sejalan dengan kewajiban yang harus dilaksanakan siswa, karena dengan gemar membaca maka akan semakin banyak

informasi yang diperoleh siswa sehingga, dapat menjadi sumber dalam pembuatan majalah sekolah (Lia Fitriani, 2014:98-99)

b. Cara Sosialisasi di Kalangan Anggota Beladiri Kempo

Pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler beladiri kempo di SMKN 2 Barru bertujuan untuk menerapkan sebagai penanaman nilai karakter kepada siswa guna untuk merubah perilaku tingkah laku siswa yakni perilaku siswa yang sebelumnya bertindak tidak baik kepada orang lain baik itu teman sebaya, teman sekolah, dan orang-orang sekitarnya. Sehingga dengan adanya ekstrakurikuler beladiri kempo di sekolah diterapkan, siswa yang terbilang perilaku yang tidak baik ini mengikuti kegiatan ini kemudian dibinah siswa ini sesuai aturan yang diterapkan.

Behavioral Sociology dibangun dalam rangka menerapkan prinsip-prinsip psikologi perilaku ke dalam sosiologi. Teori ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara akibat dari tingkah laku yang terjadi di dalam lingkungan aktor dengan tingkah laku dengan tingkah laku aktor. Akibat-akibat tingkah laku diperlukan sebagai variabel independen. Ini berarti bahwa teori ini berusaha menerangkan tingkah laku yang terjadi itu melalui akibat-akibat yang mengikutinya kemudian. Jadi nyata secara metafisik ia mencoba menerangkan tingkah laku yang terjadi di masa sekarang melalui kemungkinan akibatnya yang terjadi di masa yang akan datang. Yang menarik perhatian Behavioral Sociology adalah hubungan historis antara akibat tingkah laku yang terjadi dalam lingkungan aktor dengan tingkah laku yang terjadi sekarang. Akibat dari tingkah laku yang terjadi di masa lalu mempengaruhi tingkah laku yang terjadi di masa sekarang.

Dengan mengetahui apa yang diperoleh dari suatu tingkah laku nyata di masa lalu

61

akan dapat diramalkan apakah seseorang aktor akan bertingkah laku yang sama (mengulanginya) dalam situasi sekarang. Proposisi di atas sebenarnya agak membingungkan (Ritzer 2013: 73).

Dengan ini ekstrakurikuler dapat merubah perilaku pada siswa untuk mengubah tindakan-tindakan yang sebelumnya berperilaku tidak baik dan sesudah mengikuti ekstrakurikuler beladiri kempo terdapat perubahan pada siswa baik dalam perilaku, sikap, serta tindakan yang tidak baik. Sehingga ekstrakurikuler beladiri kempo sangan mendukung kepada siswa akibat setiap kegiatan latihannya mendapatkan pemahaman arti berperilaku sesama orang lain.

Dalam hal ini Tokoh utama behaviorisme adalah Skinner menjelaskan dalam karyanya tentang perilaku manusia, ia memuat tiga asumsi dasar. Pertama, perubahan perilaku manusia terjadi menurut hukum yang ia sebut behavior can be controlled. Skinner tidak mencari penyebab perilaku di dalam jiwa manusia dan menolak alasan-alasan penjelasan dengan mengendalikan keadaan pikiran (mid) atau motif-motif internal. Kedua, Skinner menekankan bahwa perilaku dan kepribadian manusia tidak dapat dijelaskan dengan mekanisme psikis seperti id dan ego. Ketiga, perilaku manusia tidak ditentukan oleh pilihan individual. Pada prinsipnya teori behaviorisme menjelaskan bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu berinteraksi dengan lingkungannya. Perubahan dalam diri individu banyak ragamnya, baik sifat maupun jenisnya. Karena itu tidak semua perubahan dalam diri individu merupakan perubahan dalam artian belajar.

Peserta yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler beladiri kempo yakni ada kemauan pada dirinya untuk merubah perilaku yang tidak baiknya ke perilaku yang membuat dirinya mengarah ke perubahan yang lebih baik. Dengan proses pembelajaran nilai karakter pada siswa melalui setiap latihannya.

2. Faktor pendukung dan penghambat proses sosialisasi nilai-nilai sosial di kalangan anggota beladiri kempo DI SMKN 2 Barru

a. Faktor pendukung proses sosialisasi nilai-nilai sosial kepada peserta

Ekstrakuler beladiri kempo di sekolah ini memiliki dampak pada siswa dalam kegiatan ini Perilaku siswa dapat membimbing siswa dengan memiliki perubahan pada dirinya setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti disiplin, sikap taat terhadap keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, kehidupan berbangsa/Negara, dan kehidupan sehari-hari. Dengan ekstrakurikuler beladiri kempo ini orang tua siswa dan guru sangat mendukung dengan adanya perubahan siswa dalam mengikuti ekstrakurikuler.

b. Faktor penghambat proses sosialisasi nilai-nilai sosial kepada peserta

Dalam setiap kegiatan tidak dapat dipungkiri bahwa adanya penghambat bagi pelatih dengan peserta karena terkadang pelatih mau mengajar tetapi siswa yang mengikuti kegiatan latihan ekstrakurikuler tidak hadir. Faktor terjadinya kegiatan ini terkadang terhambat diakibatkan siswa terpengaruh dari peserta lain yang terhalang tidak bisa mengikuti latihan pada saat itu dikarenakan adanya kegiatan lain. Peserta ini tidak dapat mengikuti kegiatan latihan bila jumlah kelompoknya berkurang karena latihan yang diikuti tidak seru bila tidak lengkap dalam satu kelompok.

63

Permana (2015) mengkaji tentang Perbedaan nilai-nilai sosial pada peserta didik yang mengikuti ekstrakurikuler olahraga dengan peserta didik yang mengikuti ekstrakurikuler ekstrakurikuler non olahraga di SMA Negeri 3 Yogyakarta. Penelitian ini lebih fokus pada perbedaan nilai-nilai sosial yang mengikuti dan tidak mengikuti ekstrakurikuler olahraga. Hasil penelitian ini memperlihatkan akan adanya ketidaksamaan antara nilai-nilai sosial peserta didik yang ikut dalam ekstrakurikuler olahraga serta peserta didik yang ikut ekstrakurikuler non olahraga.

Oktaviani, dkk (2015) mengkaji tentang penanaman nilai-nilai pendidikan karakter dalam kegiatan ekstrakurikuler palang merah remaja (PMR) pada siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2015-2016. Dari hasil penelitian ini memperlihatkan mengenai langkah yang dilakukan oleh PMR SMP Negeri 1 Surakarta dalam menanamkan nilai-nilai karakter terhadap siswa yaitu melalui beberapa cara yakni (1) Pembina lebih dulu mempraktekkan tentang nilai karakter yang ingin ditanamkan kepada siswa (2) membiasakan melalui kegiatan sehari-sehari (3) melibatkan siswa secara langsung mengenai kegiatan yang dilakukan di lapangan. Adapun nilai karakter yang berusaha ditanamkan kepada siswa yang ada dalam kegiatan ekstrakurikuler PMR yaitu tanggung jawab, religius, peduli lingkungan, toleransi, peduli sosial, serta kemandirian dan disiplin.

Adapun hambatan yang dialami dalam menanamkan nilai-nilai karakter melalui kegiatan ekstrakurikuler PMR yaitu siswa mudah merasa bosan ketika dalam memberikan materi maka dari itu cara mengatasinya yakni memperbanyak kegiatan di lapangan.

Penelitian diatas lebih fokus pada sikap sosial siswa yang mengikuti ekstrakurikuler dan yang tidak mengikuti ekstrakurikuler serta bagaimana cara menanamkan sikap karakter kepada siswa serta kendala yang dihadapi dalam menanamkan nilai karakter tersebut. Sementara penelitian yang dilakukan oleh penulis sama-sama mengkaji mengenai nilai-nilai sosial namun kebaruan dari penelitian ini yaitu lebih mendalami tentang sosialisasi terhadap nilai-nilai sosial serta faktor pendukung dan penghambat yang dialami dalam proses sosialisasi di kalangan anggota beladiri kempo di SMK Negeri 2 Barru.

65 BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil Penelitian

1. Proses sosialisasi nilai-nilai sosial di kalangan anggota beladiri kempo SMKN 2 Barru

Minat siswa dalam sosialisasi beladiri kempo ini sangat inisiatif untuk mengikuti ekstrakurikuler agar dirinya memiliki perubahan dalam sikap karakter dirinya. Dalam menerapkan nilai-nilai sosial di kalangan anggota beladiri kempo, sebelumnya pihak sekolah menyampaikan kegiatan ekstrakurikuler beladiri kempo terhadap peserta didik yang mempunyai bakat dan minat untuk mengikuti ekstrakurikuler beladiri kempo. Dengan itu pihak sekolah menanamkan nilai karakter di kegiatan ekstrakurikuler Olahraga Beladiri Shorinji Kempo melalui memberikan kontribusi kepada siswa yang menjadi pribadi yang lebih Disiplin, religius, sportivitas, daya juang (pantang menyerah), menghargai sesama, percaya diri, sopan santun. Nilai sosial adalah kualitas perilaku, pikiran, dan karakter yang dianggap masyarakat baik dan benar, hasilnya diinginkan, dan patut ditiru oleh orang lain.

2. Faktor pendukung dan penghambat proses sosialisasi nilai-nilai sosial di kalangan anggota beladiri kempo DI SMKN 2 Barru

Dukungan orang tua terhadap anaknya dalam mengikuti ekstrakurikuler beladiri kempo sangatlah penting, karena setiap kegiatan siswa perlu adanya izin dari orang tua lebih dulu. Ekstrakurikuler beladiri kempo di sekolah ini memiliki dampak pada siswa dalam kegiatan ini perilaku siswa dapat membimbing siswa

dengan memiliki perubahan pada dirinya setelah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti disiplin, sikap taat terhadap keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, kehidupan berbangsa/Negara, dan kehidupan sehari-hari.

Kegiatan latihan ekstrakurikuler beladiri kempo terhambat dikarenakan adanya pengaruh yang didapatkan dari teman sebaya serta adanya covid-19 sehingga peserta tidak dapat mengikuti latihannya, walaupun ada kegiatan latihan gabungan dojo barru tidak dipungkiri bahwa peserta dapat mengikuti setiap latihannya karena adanya covid-19 ini.

B. Saran Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian mengenai sosialisasi nilai-nilai sosial di kalangan anggota beladiri kempo siswa pada program ekstrakurikuler olahraga beladiri Shorinji kempo di SMKN 2 Barru, ada beberapa saran dari peneliti yang mungkin bermanfaat sebagai informasi atau bahan pertimbangan untuk kedepannya, antara lain:

1. Untuk kepala UPT SMKN 2 Barru

a. Kepala UPT SMKN 2 Barru senantiasa meningkatkan karakter nilai-nilai sosial

b. Kepala UPT SMKN 2 Barru senantiasa meningkatkan kualitas program ekstrakurikuler yang ada di UPT SMKN 2 Barru

2. Untuk pelatih Olahraga beladiri Shorinji Kempo di UPT SMKN 2 Barru Diharapkan pelatih ekstrakurikuler beladiri kempo lebih sering melakukan pengontrolan terhadap peserta didik, serta lebih banyak memberi motivasi dan teladan yang baik kepada peserta

67

3. Bagi Kenshi Kempo UPT SMKN 2 Barru

a. Para Kenshi diharapkan lebih bersemangat, bersungguh-sungguh dan tekun dalam mengikuti kegiatan latihannya serta mentaati setiap aturan yang berlaku

b. Para kenshi diharapkan memiliki cita-cita mengikuti jejak para sensei (pelatihnya), dan mengajarkan shorinji ke masyarakat banyak

c. Para kenshi diharapkan berusaha meraih prestasi sebaik-baiknya

68

DAFTAR PUSTAKA

Aghisna Megarani. (2017). Tingkat Kemampuan Motorik dan Perseptual Motorik Siswa Peserta Ekstrakurikuler Shorinji Kempo Di Sekolah Dasar Kanisius Bonoharjo Kulonprogo Tahun Ajaran 2016/2017 Skripsi. Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Yogyakarta.

Ahmad Risdi. (2019). Nilai-Nilai Sosial Tinjau Dari Sebuah Novel. Lampung.

CV.IQRO

Ambo Upe, S. Sos., M. Si. (2010). Tradisi Aliran Dalam Sosiologi Dari Filosofi Positivistik ke Post Positivistik. Jakarta: RajaGrafindo Persada`

Ariny, S. (2015). Strategi Komunikasi Penanggulangan AIDS (KPA) Dalam Melakukan Sosialisasi HIV/AIDS Di Kota Samarinda. Ejournal Ilmu Komunikasi Volume 3. No. 1

Dian Popi Oktari, Aceng Kosasih. (2019). Pendidikan Karakter Religius dan Mandiri di Pesantren. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. Volume 28, Nomor 1, juni 2019

Fenny Fitriani. (2018). Analisis FISIK Kecepatan Reaksi Tungkai dan Power Tungkai Terhadap Tendangan Mawashi Geri Skripsi. FKIP.

UNIVERSITAS LAMPUNG.

Firdaus, Ikramina. L. H. (2013). Pengenalan Seni Beladiri Pada Anak-anak dan Remaja Desa untuk Menambah Aktivitas Positif Pada Masyarakat. Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan, Volume. 2, No. 2

Hondi Panjaitan. (2014). Pentingnya Menghargai Orang Lain. Jurnal Humaniora Vol. 5 No. 1 April 2014

Ihsan Pamungkas. 2019. Beladiri Shorinji Kempo Sebagai Sarana Pendidikan Akhlak di PUSDIKLAT Shorinji Kempo Kragilan, Mojosongo, Boyolali Tahun 2019. Skripsi. Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Surakarta

John W. Creswel. (2016). Research Design Pendekatan Metode Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran. Edisi Keempat. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Jurnal Riset Akuntansi _Volume VIII/ No. 2/

Lia Fitriani. (2014). Pendidikan Karakter Kegiatan Ekstrakurikuler Di SMA Negeri 8 Yogyakarta. Skripsi. FIP. Jurusan Filsafat dan Sosiologi Pendidikan. Universitas Negeri Yogyakarta

Mardotillah Mila, Zein Mochammad Dian. 2017. Silat: Identitas Budaya, Pendidikan, Seni Beladiri, dan Pemeliharaan Kesehatan. Jurnal Antropologi: Isu-isu Sosial Budaya. Desember 2016 Vol.18 (2): 121-13

69

Monitasaroh Rizki Ayu. 2015. Nilai-nilai Pendidikan Islam Dalam Olahraga Beladiri Shorinji Kempo Dojo IAIN Puwokerto. Skripsi. FTIK IAIN PURWEKORTO

Muhammad Rifqi Munaya. (2019). Dampak Kebijakan Keolahragaan Pemerintah Daerah Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tahun 2017-2018.

SKRIPSI. FIK. Universitas Negeri Yogyakarta.

Muhamadi Insan Sani, Hasanah Aan. 2019. Penguatan Pendidikan Karakter Peduli Sesama Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Relawan. Jurnal Pendidikan Agama Islam, Vol XVI, No. 1,

Nahar Novi Irwan. (2016). Penerapan Teori Belajar Behavioristik Dalam Proses Pembelajaran. Nusantara (Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial ) Volume 1 Desember 2016. ISSN 2541-657X

Nurul Hidayati. (2018). Persepsi Siswa Terhadap Kebersihan Lingkungan Di SDN 51 Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Prodi PGSD. FKIP Unsyiah Volume 1 Nomor 1,

Nur Listiawati. (2016). Persepsi Siswa Terhadap Daya Juang Mereka Serta Polah Asuh Orang Tua Dan Guru Di SD Berakreditasi A dan C Di Kabupaten Bantul dan Bone Bolango. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Volume 1, Nomor 3, Desember 2016

Nursalam, Suardi. (2016). Sosiologi Pengantar Masyarakat Indonesia.

Yogyakarta: Writing Revolution.

Oktaviani Vina, Subagya Slamet, Sukarno. M. H. 2015. Penanaman Nilai-nilai Pendidikan Karakter Dalam Kegiatan Ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Surakarta Tahun Pelajaran 2015-2016. FKIP. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Permana Benny Criya. 2015. Perbedaan Nila-nilai Sosial Pada Peserta Didik Yang Mengikuti Ekstrakurikuler Olahraga Dengan Peserta Didik Yang Mengikuti Ekstrakurikuler Non Olahraga di SMA Negeri 3 Yogyakarta.

Fakultas Ilmu Keolahragaan. Universitas Negeri Yogyakarta

Rahman Galing Faizar. 2014. Pendidikan Nilai Kepedulian Sosial Pada Siswa Kelas Tinggi di Sekolah Dasar Negeri Muarareja 2 Kota Tegal Tahun Ajaran 2013/2014. Fakultas Ilmu Pendidikan. Guru Sekolah Dasar.

Universitas Negeri Yogyakarta

Rina Aristiani. (2016). Meningkatkan Percaya Diri Siswa Melalui Layanan Informasi Berbantuan Audio Visual. Jurnal Konseling Gusjigang Vol. 2 No. 2 (Juli-Desember 2016)

Ritzer George. (2013). Sosiologi Ilmu Pengantar Berparadigma Ganda. Jakarta:

PT Raja Grafindo Persada.

Sani. I. M, Aan. H. (2019). Penguatan Pendidikan Karakter Peduli Sesama Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Relawan. Jurnal Pendidikan Agama Islam, Volume. XVI. No. 1

Sjarkawi. (2006). Pembentukan Kepribadian Anak Peran Moral, Intelektual, Emosional, dan Sosial Sebagai Wujud Integritas Membangun Jati Diri.

Jakarta: Bumi Aksara.

Sukarni. (2015). Tapak Suci dan Karakter Siswa (Studi Pada Siswa SMA Negeri 1 Malangke Kabupaten Luwu Utara). Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar.

Syamsul Arifin. (2017). Internalisasi Nilai Sportivitas Melalui pembelajaran Pendidikan Jasmani di Sekolah Dasar. Jurnal Sosioreligi Volume 15 Nomor 2, September 2017

Tabi’in. (2017). Menumbuhkan Sikap Peduli Pada Anak Melalui Interaksi Kegiatan Sosial. Jurnal IJTIMAIYA _Volume.1 No.1

Yuni M, S. (2014). Pembinaan Toleransi dan Peduli Sosial Dalam Upaya Memantapkan Watak Kewarganegaraan (LIVIC Disposition) Siswa. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, Volume 23, No. 1

Zuhrotunnisa Ulfa. 2013. Internalisasi Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Ekstrakurikuler Tapak Suci Putera Muhammadiyah (Studi Kasus di SMP Muhammadiyah Pakem, Slame, Yogyakarta). Skripsi. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sumber Lainnya:

Anonim, 2015. UKM Kempo Unesa: Surabaya.

https://kempounesa.wordpress.com/, diakses 11 November 2020.

Anonim, 2014. SMK Negeri 2 Barru: Barru. http://www.smkn2barru.sch.id/, diakses 13 November 2020.

Data Referensi Pendidikan. https://referensi.data.kemdikbud.go.id/, diakses 14 November 2020.

Dokumen terkait