BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Penelitian tentang kesantunan tuturan pada lingkungan SMP Amanagappa Makassar menujukkan kesopanan berbahasa masih kurang diterapkan dalam percakapan siswa tersebut. Hal ini menujukkan bahwa ada berbagai macam faktor yang menyertai proses komunikasi. Di antranya adalah situasi percakapan, objek yang dibicarakan, dan individu pemakai bahasa yang terlibat, kurang mampu melihat kesesuaian dan ketepatan pemakaian kosakata dalam percakapan.
Dalam kondisis tertentu, siswa sebagai generasi pemakai bahasa Indonesia dapat melanggar beberapa maksim dalam berbahasa. Kenyataan ini menujukkan bahwa tidak selamanya maksim dalam percakapan dalam berbahasa tersebut digunakan. Pernyataan ini dapat dibuktikan melalui sajian beberapa data dalam analisis sebelumnya.
Berbicara tidak selamanya berkaitan dengan masalah yang bersifat tekstual, tetapi seringkali pula berhubungan dengan persoalan yang bersifat interpersonal.
Prinsip Kesantunan memiliki sejumlah maksim, yakni maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan dan maksim permufakatan
1. Maksim Kebijaksanaan
Maksim Kebijaksanaan mengarahkan para pemakai bahasa agar mengacu pada aturan untuk selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain dalam kegiatan percakapan. Apabila pemakai bahasa mentaati aturan prinsip kebijaksanaan, dapat dikatakan sebagai orang yang sopan atau santun dalam berbahasa. Oleh karena itu, jika orang menerapkan prinsip tersebut, maka dapat terhindar perbuatan dengki, iri hari dan sikap negative lain yang kurang sopan dalam berbahasa.
2. Maksim Kedermawanan
Prinsip kedermawanan atau maksim kemurahan hati, peserta tutur diharapkan dapat saling menghormati. Bentuk penghormatan kepada lawan tutur dapat terjadi apabila dapat mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan bagi pihak lain.
3. Maksim Penghargaan
Maksim penghargaan memiliki aturan bahwa orang akan dapat dianggap apapun apabila dalam bertutur selalu berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain. Melalui maksim ini diharapakn peserta tutur tidak saling, mengejek,mencaci saling merendahkan pihak lain.
4. Maksim Kesederhanaan
Maksim kesedehanaan menekankan pada sikap rendah hati dan tidak menyombongkan dirinya sendiri, dengan cara mengurangi pujian terhadap diri sendiri, individu dapat dikatakan sombong apabila dalam berkomunikasi, selalu
memuji dirinya sendiri. Dalam masyrakat Indonesia, kerendahan hati umumunya dijadikan parameter kesopanan dan kesantunan seseorang dalam berbahasa.
5. Maksim Permufakatan
Maksim permufakatan menyarankan agar peserta tutur dapat saling membuka kecocokan antara diri penutur dan mitra tutur, maka dapat dikatakan santun.
Tuturan objek penelitian:
1. Konteks : Percakapan di depan kelas Partisipan : Maylin (Siswa)
Ibu Herawati (Guru)
Tuturan : Maylin : “Kalau bisa ibu lihat ruangan kelas saya karena pasti sudah rapi”
Ibu Herawati : “Terima kasih nak mau disiplin bersihkan kelasmu?”
Analisis : Pada percakapan siswa tersebut diatas dapat dilihat penerapan maksim percakapan yang dilakukan oleh siswa ketika melakukan aktifitas percakapan dalam komunikasi. Dialog tersebut menunjukkan dengan jelas hubungan keterkaitan tuturan Maylin dan tuturan Ibu Herawati Penurunan Maylin telah memaksimalkan keuntungan pada lawan tutur Ibu Herawati.
Dalam kondisi tersebut, penutur Maylin adalah seorang siswa yang mempersilahkan gurunya untuk melihat hasil kerjanya setelah membersihkan ruangannya. Penutur Ibu Herawati adalah
seorang pengajar yang kebetulan lewat di depan kelas. Jika kita melihat tuturan Maylin, dapat dikatakan bahwa tuturannya termasuk salah satu sikap yang sopan dan ramah yang lazim ditemui dalam lingkungan sekolah. Tuturan siswa tersebut berusaha memaksimalkan keuntungan bagi lawan tutur yaitu gurunya sendiri. Demikian juga tuturan Ibu Herawati guru sebagai lawan tutur cukup menghargai siswanya dengan sapaan nak. Hal ini menujukkan bahwa tuturan tersebut telah menerapkan maksim kebijaksanaan.
2. Konteks : Percakapan di dalam kelas Partisipan : Lutfi (Siswa)
Pak Basir (Guru)
Tuturan : Lutfi : “Biar saja saya yang bawakan pak, kebetulan saya juga tidak bawah apa-apa.”
Pak Basir :“Kamu memang dari mana?
Analisis : Pada percakapan tersebut dituturkan oleh seorang siswa yang kebetulan jalan bersaman gurunya dalam lingkungan sekolah.
Sedangkan mitra tutur adalah seorang guru yang saat itu menuju ke ruang guru dan staf adminstrasi. Apabila diperhatiakan konteks tersebut. Tuturan Lutfi dan Pak Basir tidak bersesuaian sehingga dapat dikatakan tidak menerapkan prinsip kerelevansian. Sikap pembicara Lutfi cukup menghargai lawan tutur yang bersedia
membantu gurunya, ketika jalan bersamaan ke ruang guru. Sikap ini menandakan bahwa tuturan Lutfi termasuk tuturan yang memaksimalkan keuntungan bagi mitra tutur dengan menambah beban pekerjaan dirinya. Demikian juga, sikap mitra tutur yang menghargai sikap pembicara yang menyapa dengan nak pada siswa. Hal ini menujukkan bahwa dalam percakapan tersebut cukup menerapkan maksim kedermawanan.
3. Konteks : Percakapan di kantin Partisipan : Lisa (Siswa)
Rara (Siswa )
Tuturan : Lisa : “Kenapa kamu tidak beli jalankote’? Ambil saja sebagian punyaku.
Rara: “Besok saya akanbelikan kamu juga?”
Analisis : Pada percakapan tersebut dituturkan oleh seorang siswa yang kebetulan sedang berada di kantin sekolah. Sedangkan mitra tutur adalah seorang siswa yang kebetulan tidak punya uang untuk beli jalankote. Dari konteks tuturan tersebut, tuturan Lisa dan Rara tidak bersesuain sehingga melanggar maksim hubungan percakapan. Sikap pembicara Lisa tetap menghargai lawan tutur yang sengaja mau mentraktir temannya. Sikap ini menandakan bahwa tuturan Lisa termasuk tuturan yang memaksimalkan keuntungan bagi mitra tutur dengan menambah beban pekerjaan
dirinya serta menghargai mitra tutur. Demikian juga, sikap mita tutur yang mau menghargai sikap pembicara yang menawarkan bahwa kesempatan lain, ia akan mentraktirnya. Hal ini menujukkan bahwa dalam percakapan tersebut cukup menerapkan maksim penghargaan.
4. Konteks : Percakapan di dalam kelas Partisipan : Mega (Siswa)
Maylin (Siswa)
Tuturan : Mega :“ Cantik.. tas kamu bagus.”
Maylin :“Terima kasih, harganya murah.”
Analisis : Pada pecakapan tersebut dituturkan oleh seorang siswa yang kebetulan sedang istirahat pertama saat berada di kelas. Sebagian mitra tutur adalah seorang siswa yang kebetulan memakai tas baru. Tuturan pembicara Mega cukup menghargai lawan tutur yang memberikan pujian kepada mitra tutur menganai tas yang dipakainya. Sikap ini menandakan bahwa tuturan Mega termasuk tuturan yang memaksimalkan keuntungan bagi mitra tutur yang menambah beban pekerjaan dirinya. Sedangkan sikap mitra tutur yang tetap menghargai sikap pembicara dan merendahkan dirinya dengan mengatakan bahwa tasnya murah. Dalam masyrakat, sikap tersebut dianggap sopan karena tidak menyombongkan diri. Hal ini menujukkan bahwa dalam percakapan tersebut tuturan Mega
cukup memanfaatkan maksim penghargaan, sedangkan sikap tuturan Maylin menerapakan maksim kesederhanaan karena tidak menyombongkan dirinya.
5. Konteks : Percakapan di dalam kelas Partisipan : Hilda (Siswa)
Lisa (Siswa)
Tuturan : Hilda :“ Lewat sini saja, disitu mau disapu.”
Lisa :“ Oh ia,saya tidak tahu.”
Analisis : Pada tuturan diatas terlihat dengan jelas bagaimana penutur memperlihatkan penerapan maksim permufakatan. Pada percakapan tersebut dituturkan oleh seorang siswa yang saat itu melewati ruangan yang belum dibersihkan. Dalam tuturan tersebut terlihat bagaimana kesesuaian antara tuturan Hilda dan Lisa, lawan dari mitra tutur Lisa mengisyratkan bahwa ia tidak tahu ruangan itu dibersihkan. Konteks tersebut memperlihatkan bahwa dalam tuturan tersebut tetap terlihat adanya kecocokan. Hal tersebut terlihat dari jawaban mitra tutur yang mau mengikuti saran penutur. Maksudnya, penutur menyarankan supaya jangan melewati jalan itu karena belum dibersihkan. Hal ini menujukkkan bahwa percakapan ini tidak melanggar prinsip permufakatan. Dengan demikian kedua penutur tersebut cukup menerapkan maksim permufakatan.
Dari uraian diatas mengenai penerapan maksim percakapan dapat diambil simpulan bahwa siswa dalam melakukan aktivitas percakapan sangat dipengaruhi oleh lawan tutur. Maksudnya, lawan tutur dalam percakapan, turut menentukan tingkat kesopanan dalam bertutur. Dari data 46 kalimat yang terangkum dalam 23 dialog cukup membuktikan bahwa secara umum siswa dapat memahami etika percakapan. Meskipun demikian, siswa juga melakukan pelanggaran maksim percakapan.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan
Dari uraian tentang kesantunan berbahasa di lingkungan sekolah SMP Amanagappa Makassar, dapat diambil suatu simpulan sebagai berikut:
Unsur kesopanan berbahasa masih kurang diterapkan dalam percakapan siswa tersebut. Hal ini menandakan bahwa ada berbagai macam faktor yang menyertai proses komunikasi. Diantaranya adalah situasi percakapan, objek yang dibicarakan dan indivudu pemakai bahasa yang terlibat, kurang mampu melihat kesesuaian dan ketetapan pemakaian kosakata dalam percakapan. Hal ini terlihat dari penerapan maksim dalam percakapan melalui prinsip kebijaksanaan,kederamawanan, penghargaan, kesederhanaan, dan pemufakatan.
Penerapan maksim percakapan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kegoisan yang tinggi. Selain itu situasi percakapan, objek yang dibicarakan, dan individu pemakai bahasa yang terlibat kesesuaian dan ketepatan pemakaian kosakata dalam percakapan turut memengaruhi sikap dan perilaku berbahasa siswa
B. Saran
Dengan selesainya penelitian tentang kesantunan berbahasa di lingkungan sekolah SMP Amanagappa Makassar, penulis ingin memberikan saran-saran sebagai berikut:
1. Kajian pragmatik mengenai maksim percakapan dalam bahasa Indonesia pada percakapan sehari, diperlukan suatu pemahaman yang mendalam tentang teori yang relevan dengan masalah yang akan dikaji. Selain itu faktor-faktor berbahasa yang turut menyertai percakapan juga perlu mendapat perhatian dari peneliti, untuk mengidentifikasi percakapan.
2. Bagi yang berminat untuk melanjutkan penelitian ini, agar mempelajari masalah maksim percakapan secara mendalam, baik melalui referensi maupun realisasi contoh-contoh yang ada. Hal ini bertujuan untuk membantu memahami dan mengerti tentang maksim percakapan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari- hari.
58
Alwasilah, Chaedar.2011.Lingustik Suatu Pengantar. Bandung: Angkasa Bandung.
Amir, Yusuf, .2012. Penggunaan danPenyimpanganKesantunan Berbahasa di Angkutan Umum. (Skripsi) Makassar :Unismuh.
Arikunto, Suharsimi.1992. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.
Aslinda, dan Syafyahya, Leni . 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika Aditama.
Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: Rineka Cipta.
Cummings, Luise. 2007. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Depdikbud.2012. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi IV. Jakarta :PT.
Gramedia Pustaka Utama.
FKIP Unismuh Makassar. 2012. Pedoman Penulisan Skripsi. Makassar: FKIP Unismuh Makassar.
Kridalaksana, Harimurti. 1983. Kamus Linguistik. Jakarta: PTGramedia.
Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia.
Nazir, Moh. 1985.Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesis.
Rahardi, Kunjana. 2005. PRAGMATIK, Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia.
Jakarta : Erlangga.
Rahim, Abd. Rahman dan Paelori, Thamrin.2013.Seluk Beluk Bahasa Dan Sastra Indonesia. Surakarta: Romiz Aisy.
Tarigan, Djago. 1989. Proses Belajar Mengajar Pragmatik. Bandung: Angkasa Bandung.
Tarigan, Hendry Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.
Sudaryanto, 1988.Metode Penelitian Linguistik, Yogyakarta: Malang YA3 FBS IKIP Malang.
Sumarsono dan Partana, Paina. 2004. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Yule, George. 1996. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka.
Dialog 1
Maylin :“Kalau bisa bu’ lihat ki ruangan kelas ku’ pasti suka karena rapimi.
Ibu Herawati : “Terima kasih nak maudisiplin bersihkan kelasmu?”
Dialog 2
Hasni : “Ibuuuu di sini mo simpan motorta, karna deras sekali hujannga”
Ibu Nurhuda : “Oh iya, nak. Geserki dulu padeng ?”
Dialog 3
Fira : “Ibuuu mauki kah minum teh, ada ji air panasku.”
Ibu Nurhuda : Iya nak, terima kasih.
Dialog 4
Sabir : “ Maukoo teh gelas, ambil mko.”
Rio : “ Cukup ji uang mu nah ?”
Dialog 5
Mega : “Jangan mko teman biar mi saya yang bersihkan kelasta”
Hilda : “saya mo ambil sapu saja di’ itu mo bedeng saya kerja”
Dialog 6
Sabir : “Tunggui ma’ Pak, saya pa yang ambilakan ki air di belakang untuk wudhu
Pak Basir :Oh iya nak, jangan terlalu lama pedeng “ Dialog 7
Lutfi : “Biar mi saya bawakanki Pak, kebetulan tidak ada tonji saya bawa apa-apa ini.”
Pak Basir : Dari manako memang itu kah?
Dialog 9
Rio : “Ada mi kau buku IPA nu ?
Maylin : “Iya ada mi sudah juga ma beli kemarin.”
Dialog 10
Lisa :“ Kenapako tidak beli jalankote ? Ambil mi sebagian punyaku.”
Rara : “Besok pi na ku belikan tongki?”
Dialog 11
Lutfi : “Tambah ko airnya.. enak bodoh.”
Sabir : “Jangan mi.. sakit mi perutku.
Dialog 12
Azril : “Pinjamka PR-ta.. ini. Ambil mi punyaku ini. Saya bayarkanko makanan mu sebentar.”
Lisa : “Masih ada jiy uangku cess.”
Dialog 13
Mega : “ Cantik… bagusnya tawwa tas ta.”
Maylin : “ Terima kasih sayang, murahji harganya.”
Dialog 14
Azril :Tawwa pakai sepatu baru ki. Saya ia anu tuami.”
Wahyu :” Ini dari Surabaya.. lumayan cess harganya.”
Dialog 15
Hilda : “Disiniki lewat , mau ki disapu disitu.”
Lisa : “Oh iyaa, saya nda tau..”
Dialog 16
Sabir : “Kenapa tugasnya tidak dikerjakan?
Azril : “Badanku sakit semua, tidak bisa ka bangun.”
Dialog 18
Wahyu : “Kenapa nu bilang betulan sama bu guru.”
Rio : “Kah Memang dia ambil buku itu.”
Dialog 19
Azril : “Tidak bawa ka’ buku peta saya.
Sabir : “Kubawa ji IPS-ku ini lihat mi.”
Dialog 20
Lutfi :“Saya tidak mau lagi bolos, malla maka na marai mama’ku..”
Ahsan : “Saya juga kapo ka bela”
Dialog 21
Rara :”Pinjamkah dulu penitimu…”
Fira :” Tidak mau ja de, ini punyaku.”
Dialog 22
Ahsan :” Kamu sekke sekali ko agang.”
Irfan :” Suka-suka saya, beli tongko deeh.”
Dialog 23
Maylin :” Ambilkan ka dulu sapu di situ.”
Yuli :” Ambil sendiriko.. emangnya, gue pembantu mu.”