PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dalam penelitian ini penulis akan menyelidiki kesantunan berbahasa SMP Amanagappa Makassar. Rumusan masalah yang dimaksud adalah bagaimana ciri-ciri kesantunan berbahasa di lingkungan SMP Amanagappa Makassar.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Analisis: Pada percakapan (4) terlihat jelas bahwa penutur Sabir cukup untuk memaksimalkan keuntungan mitra penutur Rio. Hubungan ini menunjukkan bahwa tuturan Meg melibatkan tuturan yang memaksimalkan imbalan bagi mitra tutur dengan meningkatkan beban kerjanya. Hubungan ini menunjukkan bahwa tuturan Sabirlah yang memaksimalkan keuntungan mitra tutur dengan menambah beban kerjanya sendiri.
Begitu pula dengan sikap mitra bicara yang mengapresiasi sikap pembicara yang menyapa siswanya dengan sapaan putra. Sikap ini menunjukkan bahwa tuturan Lutfi merupakan tuturan yang memaksimalkan keuntungan bagi mitra tutur dengan menambah beban kerjanya sendiri. Begitu pula dengan sikap mitra bicara yang menghargai sikap pembicara, yang menyapa siswa dengan ramah.
Sedangkan mitra bicara adalah siswa yang dengan sengaja mendampingi temannya yang duduk di depan kelas. Sikap tersebut menunjukkan bahwa tuturan Rio merupakan tuturan yang memaksimalkan imbalan bagi mitra tutur dengan cara menambah beban kerja dan menghormati mitra tutur. Sikap ini menunjukkan bahwa pidato-pidato Lisa termasuk pidato-pidato yang memaksimalkan imbalan bagi pendengar dengan meningkatkan beban kerja dan menghormati pendengar.
Analisis: Percakapan (11) diucapkan oleh seorang siswa yang kebetulan sedang makan bakso di kantin sekolah, sedangkan lawan bicaranya adalah seorang siswa yang dengan sengaja mengatakan bahwa ia tidak menyukai bakso karena merasa jijik. Sikap penutur Lutfi sangat mengapresiasi lawan bicara yang memerintahkan penutur untuk menambahkan air pada kuah bakso. Sikap ini mengisyaratkan bahwa tuturan Lutfi adalah yang memaksimalkan keuntungan bagi lawan bicaranya dengan menambah beban kerjanya sendiri.
Sedangkan mitra bicaranya adalah siswa yang dengan sengaja meminjamkan pekerjaan rumahnya kepada temannya tanpa harus membayar makanan. Sikap tersebut menunjukkan bahwa tuturan Azril merupakan tuturan yang memaksimalkan keuntungan bagi mitra tutur dengan beban kerjanya sendiri. Tuturan sang pembicara, Mega, cukup mengapresiasi lawan bicaranya yang memuji lawan bicaranya atas tas yang dibawanya.
Sikap ini menunjukkan bahwa tuturan Mega mengandung tuturan yang memaksimalkan imbalan bagi mitra tutur sehingga menambah beban kerjanya. Sedangkan sikap mitra penutur yang tetap menghargai sikap penutur dan merendahkan diri mengatakan bahwa tasnya gratis. Sikap tersebut menunjukkan bahwa tuturan Azril termasuk tuturan yang memaksimalkan keuntungan bagi mitra tutur dengan menambah beban kerjanya, sedangkan sikap mitra tutur sombong dengan mengatakan bahwa sepatunya baru dan harganya mahal.
Sikap ini menunjukkan bahwa tuturan Lisa merupakan tuturan yang memaksimalkan keuntungan mitra tutur dengan menambah beban kerja.
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR
Kajian Pustaka
Kerangka Pikir
Fokus Penelitian
Data dan Sumber Data
Teknik Pengambilan Data
Teknik Pengumpulan Data
Teknik Analisis Data
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Maksimalisasi keuntungan bagi mitra tutur terlihat jelas pada pidato ibu yaitu Ayo makan mie. Skala pilihan atau skala opsionalitas mengacu pada seberapa banyak atau sedikit pilihan yang disampaikan pembicara kepada mitra bicara dalam aktivitas berbicara. Semakin memungkinkan penutur atau mitra tutur untuk membuat pilihan yang lebih fleksibel, maka tuturan tersebut akan semakin sopan.
Skala kewenangan atau skala wewenang mengacu pada hubungan status sosial antara penutur dan lawan bicara yang terlibat dalam pembicaraan. Lawan bicara dalam percakapan tersebut adalah seorang guru sepuh yang hendak menunaikan shalat Dhurur. Sedangkan mitra tuturnya adalah seorang guru yang pada saat itu pergi ke ruang guru dan tenaga administrasi.
Sikap lawan bicaranya tak mau bertahan setelah apa yang disodorkan dengan topik “Kemarin, dari kami untuk Alfamidi”. Hal ini menunjukkan bahwa dalam percakapan (8) hanya penutur yang menerapkan maksim kemurahan hati, sedangkan mitra tutur melanggar maksim tersebut. Dalam akun tersebut terlihat bagaimana kisah korespondensi Hilda dan Lisa, lawan main Lisa, menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui bahwa kamarnya sedang dibersihkan. Konteks ini menunjukkan bahwa pada tuturan (16) masih terdapat kecocokan, terlihat dari jawaban mitra tutur yang mengatakan bahwa alasannya tidak mengerjakan tugas.
Dalam pidato tersebut terlihat bagaimana korespondensi antara tuturan Wahyu dan Rio serta ucapan mitra tutur Rio bahwa ia benar-benar mengambil buku tersebut menunjukkan bahwa ia masih mengikuti kaidah-kaidah pembicara. Tuturan Ahsan “Aku pun menyerah” mengandung makna bahwa mitra tutur sedang menyikapi tuturan Lutfi, sehingga dapat dikatakan ada kecocokan makna dengan penuturnya. Begitu pula dengan penuturan Irfan selaku lawan bicaranya yang juga menyikapi penuturan tersebut dengan sinis.
Pembahasan
Maksim Hikmah mengarahkan pemakai bahasa agar mengacu pada kaidah-kaidah untuk selalu meminimalkan keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan manfaat bagi orang lain dalam kegiatan percakapan. Bentuk penghormatan terhadap lawan bicara dapat terjadi jika ia meminimalkan manfaat bagi dirinya sendiri dan memaksimalkan manfaat bagi pihak lain. Analisis: Dalam percakapan siswa tersebut di atas, terlihat penerapan maksim percakapan yang disadari oleh siswa selama melakukan aktivitas percakapan dalam komunikasi.
Dialog tersebut dengan jelas menunjukkan hubungan antara pidato Maylin dengan pidato Ibu Herawati. Kemunduran Maylin telah memaksimalkan keuntungan lawan Ibu Herawati. Dalam keadaan seperti ini, pembicara Maylin adalah seorang siswa yang mengajak gurunya untuk melihat hasil pekerjaannya setelah membersihkan kamarnya. Begitu pula dalam tuturan Ibu Herawati, guru sebagai lawan bicara cukup menghormati siswanya dengan mengatakan “Nak”.
Analisis: Percakapan yang diucapkan oleh seorang siswa yang sedang berjalan bersama gurunya di lingkungan sekolah. Analisis: Percakapan tersebut diucapkan oleh seorang siswa yang kebetulan berada di kantin sekolah. Begitu pula dengan sikap penutur yang ingin mengapresiasi sikap penutur yang menawarkan pilihan lain, ia akan menyikapinya.
Analisis: Percakapan tersebut diucapkan oleh seorang siswa yang kebetulan sedang istirahat pertama kali di kelas. Percakapan tersebut diceritakan oleh seorang siswa yang saat itu sedang melewati sebuah ruangan yang belum dibersihkan. Dari uraian di atas mengenai penggunaan maksim percakapan, dapat disimpulkan bahwa siswa dalam melakukan aktivitas percakapan sangat dipengaruhi oleh lawan bicaranya.
Diantaranya adalah situasi percakapan, objek yang dibicarakan, dan individu pengguna bahasa yang terlibat, yang kurang mampu melihat kesesuaian dan koherensi penggunaan kosakata dalam percakapan. Hal ini terlihat dari penerapan maksim dalam percakapan melalui prinsip kebijaksanaan, kemurahan hati, penghargaan, moderasi dan konsensus. Hal ini bertujuan untuk membantu memahami dan memahami maksim percakapan bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Selain itu, situasi percakapan, topik yang dibicarakan, individu pengguna bahasa yang terlibat, serta kesesuaian dan ketepatan penggunaan kosakata dalam percakapan juga mempengaruhi sikap dan perilaku berbahasa pembelajar.
Saran
Kajian pragmatis maksim percakapan bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari memerlukan pemahaman mendalam terhadap teori yang relevan dengan permasalahan yang diteliti. Selain itu, peneliti juga harus memperhatikan faktor kebahasaan yang menyertai percakapan agar dapat mengenali percakapan tersebut. Bagi yang berminat untuk melanjutkan penelitian ini, disarankan agar permasalahan maksim percakapan dikaji secara mendalam baik melalui referensi maupun realisasi dari contoh-contoh yang ada.
Lutfi : “Biar saya bawakan pak, kebetulan bahasanya tidak ada, saya tidak bawa itu.”