• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.4 Pembahasan

menanamkan modalnya terhadap suatu perusahaan akan melihat penjualan, karena berpengaruh terhadap pendapatan. Jika semakin efektif perputaran aset perusahaan maka akan semakin mampu perusahaan tersebut menghasilkan kinerja perusahaan yang lebih baik. Hal itu ditandai dengan meningkatnya laba perusahaan dan juga pada peningkatan tingkat return yang akan diperoleh oleh para investor. Dengan demikian hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya yang menyatakan rasio profitabilitas berpengaruh dominan terhadap return saham perusahaan LQ45 dalam penelitian ini terbukti kesalahannya.

turun, tapi bisa dibilang stabil dilihat dari rata-rata selama 3 tahun sebesar 200%.

Karena 200% adalah patokan CR, tapi ini tidak mutlak hanya sebagai prinsip kehati-hatian saja.

Menurut Kasmir (2016) ) rasio likuiditas atau disebut rasio modal kerja merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa likuidnya suatu perusahaan. Dengan membandingkan komponen yang ada di neraca, yaitu total aktiva lancar dengan total pasiva lancar(utang jangka pendek) Dalam penelitian ini rasio likuiditas diukur dengan Current Ratio (CR). Rasio lancar (current ratio) merupakan salah satu metode yang paling sering digunakan dalam menganalisis tingkat likuiditas suatu perusahaan. Elemen-elemen yang digunakan dalam perhitungan modal kerja dapat dinyatakan dalam rasio, yang membandingkan antara total aktiva lancar dan utang lancar. Aktiva lancar menggambarkan alat bayar dan diasumsikan semua aktiva lancar benar-benar bisa digunakan untuk membayar.

Sedangkan utang lancar menggambarkan yang harus dibayar dan diasumsikan semua utang lancar benar-benar dibayar.

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa CR memiliki pengaruh tidak signifikan negatif atau berlawan arah terhadap return saham artinya apabila CR meningkat maka return saham akan menurun, begitu sebaliknya. Tingkat likuiditas yang terlalu tinggi juga belum tentu baik, karena pada kondisi tertentu hal tersebut menunjukkan bahwa persediaan yang relatif tinggi atau adanya piutang yang besar karena sulit untuk ditagih serta banyak dana perusahaan yang menganggur, yang akhirnya dapat mengurangi keuntungan perusahaan. CR yang terlalu tinggi, bisa bermakna bahwa perusahaan terlalu banyak menyimpan aset

lancar. Padahal perlu diingat bahwa aset lancar kurang menghasilkan return yang tinggi dibandingkan dengan aset tetap. Sebaliknya CR yang terlalu rendah mencerminkan adanya resiko perusahaan tidak mampu memenuhi kewajiban yang jatuh tempo Murhadi, 2013).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan: Nathania Valentine Boentoro (2018) yang berjudul “Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, Profitabilitas, Aktivitas, dan Pasar Terhadap Return Saham Perusahaan Consumer Goods”. Menunjukkan bahwa variabel likuiditas yang diukur dengan current ratio berpengaruh tidak signifikan terhadap return saham. Berdasarkan hasil pembahasan current ratio berpengaruh tidak signifikan pada peningkatan atau penurunan return saham.

Dengan demikian hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya yang menyatakan bahwa CR secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan LQ45 dalam penelitian ini tidak terbukti kebenaranya.

4.4.2 Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Return saham

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh solvabilitas yang diukur dengan debt to equity ratio m emiliki nilai thitung sebesar -6,310 dan ttabel sebesar 2,00575 yang berarti thitung > ttabel dengan probalitas 0,000 < 0,05. Dengan demikian H1

diterima dan H0 ditolak, yang artinya terdapat pengaruh negatif atau berlawan arah yang signifikan DER secara parsial terhadap return saham.. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa H1 diterima dan H0 ditolak.

Nilai koefisien DER sebesar 787,650 yang berarti DER memiliki pengaruh negatif atau berlawanan arah terhadap return saham Hal ini menunjukkan bahwa

setiap kenaikan DER satu satuan maka return saham akan turun sebesar 787,650.

Dan sebaliknya, setiap penurunan DER satu satuan maka return saham akan naik sebesar 787,650 dengan asumsi bahwa variabel bebas lain dari model regresi adalah tetap.

Dari data tabel 4.2 menunjukan nilai rata-rata DER tahun 2015 sebesar 1,21 mengalami penurunan di tahun 2016 sebesar 1,01 selanjutnya survive tahun 2017 sebesar 1,01.

Menurut Kasmir (2016) rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.

Dengan kata lain, rasio solvabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar beban hutang yang harus ditanggung perusahaan dalam rangka pemenuhan aset. Dalam penelitian ini rasio solvabilitas diukur dengan Debt to Equity Ratio (DER). DER merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar dengan seluruh ekuitas. Dengan kata lain, rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang.

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa DER memiliki pengaruh negatif terhadap return saham yang artinya apabila DER meningkat maka return saham akan menurun, begitu sebaliknya. Apabila DER yang tinggi dapat menimbulkan risiko yang tinggi terhadap perusahaan. Ukuran risiko yang sering digunakan adalah risiko gagal bayar utang atau kewajiban. Jika rasio solvabilitas tinggi, berarti beban hutang perusahaan juga semakin tinggi, sehingga kemampuan perusahaan dalam membayar kembali kewajibannya jika dikaitkan dengan harta

atau asset perusahaan akan menjadi berat dan sulit. Oleh karena itu, perusahaan harus mampu menjaga agar rasio solvabilitas berada dalam batas-batas yang dapat diterima, khususnya oleh pihak pemberi dana atau investor. Proporsi utang perusahaan terhadap harta atau aset dapat mempengaruhi return saham.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh: Dani Permana Putra dkk (2016) yang berjudul “Pengaruh Likuiditas, Profitabilitas, dan solvabilitas Terhadap Return Saham Perusahaan Food and Baverages di BEI”. Menunjukkan bahwa variabel DER berpengaruh negatif terhadap return saham. Semakin tinggi rasio, semakin tinggi resiko pula resiko perusahaan tidak dapat melunasi kewajibannya menjadikan minim minat para investor.

Dengan demikian hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya yang menyatakan bahwa DER secara parsial berpengaruh signifikan terhadap return saham perusahaan LQ45 dalam penelitian ini terbukti kebenaranya

4.4.3 Pengaruh Return on asset terhadap Return saham

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh profitabilitas yang diukur dengan return on asset memiliki nilai thitung sebesar -6,756 dan ttabel sebesar 2,00575 yang berarti t hitung > t tabel dengan probabilitas 0,000 < 0,05. Dengan demikian H1

diterima dan H0 ditolak, yang artinya terdapat pengaruh negatif atau berlawan arah yang signifikan ROA secara parsial terhadap return saham. pada perusahaan Indeks LQ45. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa H1 diterima dan H0 ditolak.

Nilai koefisien profitabilitas sebesar 8.981,390 yang berarti ROA memliliki pengaruh negatif terhadap return saham. Hal ini menunjukkan bahwa

setiap kenaikan ROA satu satuan maka return saham akan turun sebesar 8.981,390.

Dan sebaliknya, setiap penurunan ROA satu satuan maka return saham akan naik sebesar 8.981,39 dengan asumsi bahwa variabel bebas lain dari model regresi adalah tetap.

Dari data tabel 4.3 menunjukan nilai rata-rata ROA tahun 2015 sebesar 0,12 selanjutnya di tahun 2016 masih bertahan sebesar 0,12, dan mengalami peningkatan tahun 2017 sebesar 0,13.

Menurut Kasmir (2016) ) rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh labal yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi.

Intinya adalah penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan.

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba melalui semua kemampuan dan sumber daya yang dimilikinya, yaitu berasal dari kegiatan penjualan, penggunaan aset, maupun penggunaan modal. Rasio profitabilitas dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur tingkat efektivitas kinerja manajemen. Kinerja yang baik akan ditunjukkan leat keberhasilan manajemen dalam menghasilkan laba yang maksimal bagi perusahaan. Dalam penelitian ini rasio profitabilitas diukur dengan Return On Asset (ROA). ROA merupakan rasio yang menunjukkan seberapa besar kontribusi asset dalam menciptakan laba bersih. Dengan kata lain, rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah laba bersih yang akan dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total asset. Rasio ini dihitung dengan membagi laba

bersih terhadap asset. Semakin tinggi hasil pengembalian atas asset berarti semakin tinggi pula jumlah laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam asset.

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ROA memiliki pengaruh negatif terhadap return saham yang artinya apabila ROA meningkat maka return saham akan turun, begitu sebaliknya. Tingkat ROA yang tinggi menunjukkan bahwa laba yang diperoleh oleh perusahaan juga tinggi. Tapi apabila tingkat kewajiban juga tinggi maka laba untuk pembiayaan return saham akan kecil. Maka menyebabkan minat para investor untuk menanamkan modalnya akan berkurang.

Hal ini tidak sejalan dengan penelitian terdahulu dikarenakan, penelitian terdahulu berpengaruh positif dan tidak berpengaruh. Dengan demikian hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya yang menyatakan bahwa ROA secara parsial berpengaruh signifikan terhadap return saham perusahaan LQ45 dalam penelitian ini tidak terbukti kebenaranya.

4.4.4 Pengaruh Total asset turn over terhadap Return saham

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh profitabilitas yang diukur dengan total asset turn over memiliki nilai thitung sebesar 8,583 dan ttabel sebesar 2,00575 yang berarti t hitung > t tabel dengan probabilitas 0,000 < 0,05. Dengan demikian H1 diterima dan H0 ditolak, yang artinya terdapat pengaruh positif atau searah yang signifikan TATO secara parsial terhadap return saham. pada perusahaan Indeks LQ45. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa H1 diterima dan H0 ditolak.

Nilai koefisien profitabilitas sebesar 2.562,733 yang berarti TATO memliliki pengaruh positif terhadap return saham. Hal ini menunjukkan bahwa

setiap kenaikan TATO satu satuan maka return saham akan naik sebesar 2.562,733.

Dan sebaliknya, setiap penurunan TATO satu satuan maka return saham akan naik sebesar 2.562,733 dengan asumsi bahwa variabel bebas lain dari model regresi adalah tetap.

Dari data tabel 4.4 menunjukan nilai rata-rata TATO tahun 2015 sebesar 0,74 mengalami penurunan di tahun 2016 sebesar 0,70, dan masih survive tahun 2017 sebesar 0,70.

Menurut Kasmir (2016) rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur efektivitas perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimilikinya. Atau dapat pula dikatakan rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi (efektivitas) pemanfaatan sumber daya perusahaan.Rasio aktivitas juga digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Dari hasil pengukuran dengan rasio aktivitas akan terlihat apakah perusahaan lebih efisien dan efektif dalam mengelola aset yang dimulikinya atau justru sebaliknya.Dalam penelitian ini rasio aktivitas diukur dengan Total Asset Turn Over (TATO). TATO merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua aktiva yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah aktiva.

Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa TATO memiliki pengaruh positif terhadap return saham yang artinya apabila TATO meningkat maka return saham akan naik, begitu sebaliknya. Tingkat TATO yang tinggi menunjukkan semakin efisien penggunaan aktiva suatu perusahaan. Apabila tingkat pengembalian yang diperoleh semakin tinggi, maka akan semakin tinggi pula

kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan modal yang dimiliki guna memperoleh laba. Tentunya akan menarik minat para investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan karena mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut mempunyai kinerja yang baik dan akibatnya return saham pun akan ikut tinggi dan memberikan informasi dalam melakukan investasi yang aman terutama pada saham yang bersifat defensif.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh, Nathania Valentine Boentoro (2018) yang berjudul “Analisis Pengaruh Rasio Likuiditas, Leverage, Profitabilitas, Aktivitas, dan Pasar Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Consumer Goods”. Dengan demikian hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya yang menyatakan bahwa TATO secara parsial berpengaruh signifikan terhadap return saham perusahaan LQ45 dalam penelitian ini terbukti kebenaranya.

4.4.5 Pengaruh Current Ratio, Debt to Equity Rasio, Return on Asset, dan Total Asset Turn Over terhadap Return saham

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan uji F diperoleh hasil bahwa variabel current ratio, debt to equity ratio, return on asset, dan total asset turn over secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap return saham pada perusahaan Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia dengan hasil Fhitung bernilai sebesar 22,053 dan Ftabel 2,55 yang berarti Fhitung > Ftabel dengan taraf signifikan 0,000 < 0,05.

Dengan demikian dapat disimpulkan H2 diterima dan H0 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen yaitu current ratio, debt to equity ratio, return on asset, dan total asset turn over berpengaruh positif atau searah yang signifikan secara simultan (bersama-sama) terhadap return saham pada perusahaan

Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia. Setiap kenaikan variabel bebas akan diikuti oleh kenaikan variabel terikat.

Berdasarkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,629 atau sama dengan 62% menunjukkan bahwa pengaruh variabel independen yang terdiri dari likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas terhadap return saham perusahaan baik secara simultan. Sedangkan sisanya sebesar 38% dipengaruhi oleh variabel-variabel lain diluar penelitian. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nathania Valentine Boentoro (2018) yang berjudul “Analisis pengaruh rasio likuiditas, leverage, profitabilitas, aktivitas, dan pasar terhadap return saham perusahaan consumer goods”, Dani Permana Putra dkk (2016) yang berjudul

“Pengaruh likuiditas, profitabilitas, dan solvabilitas terhadap return saham perusahaan food and baverages”. Dan Farda Eka Septiana (2016) yang berjudul

“Pengaruh rasio keuangan terhadap return saham pada perusahaan manufaktur sektor food and baverages”.

Dengan demikian hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya yang menyatakan bahwa current rasio, debt to equity ratio, return on asset, dan total asset turn over secara simultan (bersama-sama) berpengaruh signifikan terhadap return saham perusahaan LQ45 dalam penelitian ini terbukti kebenaranya.

4.4.6 Variabel Aktivitas Berpengaruh Dominan Terhadap Return Saham

Berdasarkan hasil pembuktian dominan pada tabel 4.9 menyatakan bahwa variabel aktivitas memiliki nilai koefisien beta sebesar 1,808. Hal ini menunjukkan variabel aktivitas memiliki nilai koefisien beta tertinggi yang artinya bahwa

variabel aktivitas merupakan variabel yang dominan berpengaruh terhadap return saham perusahaan Indeks LQ45 Bursa Efek Indonesia.

Rasio aktivitas merupakan rasio yang memiliki pengaruh cukup penting dalam penentuan return saham, dimana tidak sedikit dari investor ketika akan menanamkan modalnya terhadap suatu perusahaan akan melihat penjualan, karena berpengaruh terhadap pendapatan. Jika semakin efektif perputaran aset perusahaan maka akan semakin mampu perusahaan tersebut menghasilkan kinerja perusahaan yang lebih baik. Hal itu ditandai dengan meningkatnya laba perusahaan dan juga pada peningkatan tingkat return yang akan diperoleh oleh para investor.

Dengan demikian hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya yang menyatakan rasio profitabilitas berpengaruh dominan terhadap return saham perusahaan LQ45 dalam penelitian ini tidak terbukti kebenaranya.

112

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait