BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Hasil penelitian menunjukkan prinsip kesantunan yang digunakan, meliputi: maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan, maksim penghargaan,
maksim kesederhanaan, maksim permufakatan, dan maksim kesimpatian. Maksim yang banyak digunakan adalah maksim penghargaan. Hal ini menunjukkan penutur dan petutur di dalam berinteraksi memperhatikan sikap menghargai dalam melakukan interaksi. Sedangkan maksim yang paling sedikit digunakan dalam tuturan pembeli dan penjual adalah maksim kedermawanan dan maksim kesederhanaan. Hasil penelitian penggunaan prinsip kesantunan pembeli dan penjual di lingkungan pasar sentral ini didukung oleh data kuantitatif.
Jenis tindak tutur yang paling banyak ditemukan dalam tuturan pembeli dan penjual di lingkungan pasar sentral adalah tindak tutur perlokusi yang digunakan agar pendengar merasa dihargai ketika berinteraksi. Hasil penelitian jenis tindak tutur pembeli dan penjual di lingkungan pasar sentral didukung oleh data kuantitatif.
Dari data tersebut di tunjukkan bahwa tuturan pembeli dan penjual telah mematuhi prinsip maksim kesantunan yang ada. Kesantunan pembeli dan penjual dalam bertutur bukan hanya sekadar mematuhi prinsip maksim kesantunan.
Kesantunan bertutur pembeli dan penjul dibangun oleh norma-norma dan budaya yang mengikat mereka dalam berbagai macam budaya. Maksim-maksim yang ada tentunya menggambarkan pola hidup masyarakat yang terimplikasi dalam tutur kata.
Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Randi Pratama (2018).
Maksim yang banyak digunakan adalah maksim pemufakatan. Hal ini menunjukkan penutur dan petutur di dalam interaksi lebih banyak memaksimalkan kecocokan tujuan atau pendapat dalam berinteraksi. Sedangkan
maksim yang paling sedikit digunakan dalam tuturan siswa SMK Negeri Tapango adalah maksim kesederhanaan.
Namun, pada penelitian yang dilakukan oleh Randi Pratama memiliki kesamaan yaitu sama-sama menganalisis kesantunan berbahasa dan menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Hal ini menandakan bahwa di dalam tuturan siswa SMK Negeri Tapango oleh Randi Pratama dan tuturan pembeli dan penjual yang dikaji oleh penulis sama-sama memaksimalkan agar pendengar mengerjakan sesuatu dengan cara memengaruhi agar menimbulkan kecocokan.
Perbandingan hasil yang kedua antara hasil yang diperoleh dan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anzhari Djumingin (2007) adalah terletak pada kesamaan maksim yang dominan dalam percakapan. Anzhari Djumingin yang mengkaji kesantunan pada Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere-Liye oleh Reni Kusmiarti dan Yeti Herawani menghasilkan hasil penelitian yang dapat disimpulkan bahwa novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere-Liye sudah memenuhi keenam maksim prinsip kesantunan berbahasa.
Prinsip kesantunan Leech (1993) dapat digunakan untuk mengkaji penggunaan bahasa dalam suatu masyarakat tertentu. Masyarakat yang dimaksud di sini adalah pembeli dan penjual yang ada di lingkungan Pasar Sentral Kota Makassar. Kesantunan seseorang dapat dinilai dengan budaya yang dijunjungnya termasuk dengan meneliti bahasa yang digunakannya pada saat bertutur karena bahasa sebagai alat identitas diri. Bahasa di setiap daerah pasti berbeda karena mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, sehingga bahasa menjadi beragam.
Tutur kata pembeli dan penjual yang mengungkapkan keinginannya dengan tidak langsung menyampaikan maksud tujuannya bertanya terlebih dahulu adalah bentuk kebijaksanaan dalam bertutur kata dan berterima kasih kepada seseorang adalah bentuk penghargaan yang dilakukan semua kalangan dan itu dilakukan karena dalam melakukan tuturan seharusnya menyelipkan sikap simpati kepada petutur sehingga timbul kecocokan pada saat berinteraksi, sikap inilah tentunya menghindarkan setiap pembeli dan penjual merasa terbebani atau ketidak enakan dalam berinteraksi atas keinginan petutur.
Berada di lingkungan pasar sentral merupakan satu padu yang menuntut pembeli dan penjual untuk memiliki pandangan dan tujuan yang sama yaitu menjadi seseorang yang baik dan sopan ketika melakukan interaksi. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya tuturan yang masuk dalam kategori maksim kebijaksanaan, penghargaan, maksim pemufakatan, dan maksim kesimpatian.
Pembeli dan penjual berperan sebagai pelaku budaya yang tentunya diwajibkan untuk menjunjung tinggi norma-norma budaya yang mereka anut.
Keberagaman suku yang ada di lingkungan Pasar Sentral Kota Makassar adalah salah satu kekayaan yang menunjang tumbuh baiknya maksim penghargaan dan kesimpatian yang terwujud dalam tindak tutur pembeli dan penjual.
Kepedulian pembeli dan penjual yang begitu tinggi adalah bentuk terwujudnya nilai budaya gotong-royong setiap orang di sekitarnya untuk memenuhi keperluan masing-masing. Tentunya hal ini tidak akan terwujud jika dalam hati setiap masyarakat yang ada di lingkungan pasar sentral tidak muncul rasa simpati terhadap keadaan masing-masing orang yang diwujudkan melalui
tuturan yang mematuhi maksim kesimpatian. Serta menyampaikan sesuatu dengan terang, lugas, dan santun membuat tuturan pembeli dan penjual lebih direspons.
Sehingga fungsi setiap indikator tindak tutur dan maksim kesantunan dapat terwujud dalam keharmonisan komunikasi pembeli dan penjual.
70
BAB V PENUTUP A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahsan kesantunan berbahasa Indonesia Pembeli dan Penjual di Lingkungan Pasar Sentral Kota Makassar dapat disimpulkan bahwa :
Penggunaan prinsip kesantunan dalam interaksi pembeli dan penjual menunjukkan jumlah tuturan yang ditemukan sebanyak 10 tuturan yang menggunakan prinsip kesantunan. Prinsip kesantunan yang dimaksud meliputi:
(1) maksim kebijaksanaan sebanyak 2 tuturan (2) maksim kedermawanan sebanyak 1 (3) maksim penghargaan sebanyak 4 tuturan (4) maksim kesederhanaan sebanyak 1 tuturan (5) maksim permufakatan sebanyak 2 tuturan dan (6) maksim kesimpatian sebanyak 3 tuturan. Maksim yang banyak digunakan adalah masksim kebijaksanaan, maksim penghargaan, maksim pemufakatan, dan maksim kesimpatian. Hal ini menunjukkan penutur dan lawan tutur di dalam interaksi lebih banyak memaksimalkan maksim penghargaan dalam berinteraksi dalam berpendapat sehingga menumbuhkan sikap menghargai terhadap lawan tutur dan memberikan penghargaan atas sikap yang telah diberikan. Sedangkan maksim yang paling sedikit digunakan dalam tuturan pembeli dan penjual di lingkungan pasar sentral adalah maksim kedermawanan dan maksim kesederhanaan.
Jenis tindak tutur yang ditemukan meliputi: Lokusi sebanyak 1 tuturan, Ilokusi sebanyak 2 tuturan, dan Perlokusi sebanyak 2 tuturan. Jenis tindak tutur
yang paling banyak ditemukan adalah tindak tutur Ilokusi dan Perlokusi. Hal ini sesuai dengan isi tuturan pembeli saat berinteraksi verbal dengan penjual yang cenderung lebih banyak meminta penjelasan terkait tawar-menawar maupun dalam memilih sesuatu. Komunikasi pembeli tidak hanya melibatkan sesama penjual, namun melibatkan masyarakat yang ada di lingkungan pasar sentral yang tentunya menunjang berlangsungnya tindak tutur.
B. Saran
Berdasarkan simpulan hasil penelitian penggunaan prinsip kesantunan dan jenis tindak tutur pembeli dan penjual di lingkungan Pasar Sentral Kota Makassar, maka penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut.
1. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi rujukan dalam bidang bahasa, agar dalam melakukan penelitian secara menyeluruh, dapat dirasakan oleh pembaca dan peneliti pada khususnya.
2. Penelitian lebih lanjut terkait kesantunan berbahasa Indonesia masih perlu dikembangkan karena masih banyak yang belum terungkap melalui penelitian ini.
3. Penggunaan prinsip kesantunan dalam tuturan pembeli dan penjual merupakan bentuk yang telah disusun sedemikian rupa dan mengalami pengeditan agar dapat diterima oleh pembaca. Maka sangat baik apabila peneliti selanjutnya juga meneliti penyimpangan kesantunan.
4. Kepada para pembaca, penelitian singkat ini semoga dapat dijadikan bahan referensi tentang kesantunan dan sekaligus memberikan wawasan tentang fenomena bahasa dalam lingkungan masyarakat.
72
5. DAFTAR PUSTAKA
6. Chaer, Abdul. 2010. Kesantuanan Berbahasa. Jakarta : Rineka Cipta.
7. Chaer, Abdul dan Leoni Agustina. 2004. Sosiolinguistik Perkenalan Awal.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
8. Cummings, Louise. 2007. Pragmatik Sebuah Perspektif Multidisipliner.
(Penerjemah, Eti Setiawati). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
9. Darma, Aliah Yoce. 2009. Analisis Wacana Kritis. Bandung: CV. Yama Widya.
10. Djajasudarma, T. Fatimah. 2010. Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur. Bandung: PT. Refika Aditama.
11. Djumingin, Anzharia. 2007. Analisis Kesantunan Berbahasa Guru dan Siswa pada Kegiatan Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas VIII SMP Negeri 12 Makassar. Skripsi. FBS:UNM.
12. Emzir. 2010. Analisis Data. Jakarta: Rajawali Press.
13. Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.
14. Kusmiarti, Reni dan Yeti Herawani. 2016. Analisis Penggunaan Kesantunan Berbahasa pada Novel Ayahku (bukan) Pembohong Karya Tere-Liye. Bengkulu.
15. Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-Prinsip Pragmatik. (Penerjemah, MDD Oka). Jakarta: Universitas Indonesia.
16. Mulyana. 2005. Kajian Wacana: Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip- prinsip Analisis Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.
17. Nababan, P.W.J. 1997. Ilmu Pragmatik (Teori dan Penerapannya).
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
18. Nadar, F. X. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta:
Graha Ilmu.
19. Nurjamily, Wa Ode. 2015. Kesantunan Berbahasa Indonesia dalam Lingkungan Keluarga “Kajian Sosiopragmatik”. Jurnal Humanika. Vol. 3 No. 15.
20. Pranowo. 2009. Berbahasa secara Umum. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
21. Pratama, Randi. 2018. Telaah Kesantunan Berbahasa Indonesia Siswa Kelas XI SMK Negeri Tapango Kabupaten Polewali Mandar. Skripsi.
FKIP:Unismuh: Makassar.
22. Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.
23. Rani, Abdul. dkk. 2006. Analisis Wacana: Sebuah Kajian Bahasa dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.
24. Rusminto, Nurlaksana Eko. 2015. Analisis Wacana: Kajian Teoretis dan Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
25. Searle, Jhon R. 1983. Speech Acts: An Essay in the Philosophy of Language. New York. Cambridge University Press.
26. Sibarani, Robert. 2004. Kesantunan Berbahasa. Antropolinguistik. Medan:
Poda.
27. Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
28. Tarigan, Henry Guntur. 2008. Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung:
Angkasa.
29. Wijana, I Dewa Putu.1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi Ofsset.
30. Wilson dan Sperber. 1991 . Inference and Implicatur, dalam S.Davis (ed).
Pragmatics: A Reader, New York: Oxford University Press
31. Zuriah, Nuzul. 2009, Metodologi Penelitian Sosial Pendidikan Teori- Aplikasi, Jakarta: PT Bumi Aksara.
32.
L A M
P
I
R
A
N
Foto ini diambil pada tanggal 5 juli di lingkungan Pasar Sentral Kota Makassar pada saat mengambil data rekaman.
Foto ini diambil pada tanggal 9 juli di lingkungan Pasar Sentral Kota Makassar pada saat sedang merekam percakapan antara pembeli dan penjual
Foto ini diambil ketika pembeli melakukan transaksi dan melakukan proses tawar-menawar