• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Berdasarkan rumusan masalah penelitian, telah diuraikan hasil penelitian yang mencakup bentuk maksim kesantunan berbahasa Indonesia masyarakat terhadap polisi pada pemeriksaan lalulintas kepolisian wilayah Makassar dan

bentuk maksim kesantunan berbahasa Indonesia polisi terhadap masyarakat pada pemeriksaan lalulintas kepolisian wilayah Makassar.

Pada uraian hasil penelitian terdahulu, peneliti membuat tabel bentuk maksim kesantunan. Ini karena peneliti menganggap perlu untuk mengklasifikasi atau mengode tuturan-tuturan si penutur, sejalan dengan metode penelitian yang ada pada bab terdahulu yakni desain penelitian, dari tahapan-tahapan tersebut, ada metode mengode setiap tuturan penutur sehingga pada pembahasan dan analisis kedepannya tidak ada kerancuhan lagi di dalam pengklasifikasian data-data yang ada.

Berdasarkan deskripsi hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bagian terdahulu, ditemukan bahwa kesantunan berbahasa Indonesia masyarakat terhadap polisi dan polisi terhadap masyarakat dalam pemeriksaan lalulintas kepolisian wilayah Makassar dapat direpresentasikan dalam bentuk maksim kesantunan yang dikemukakan oleh Leech yaitu enam maksim kesantunan berbahasa yang dipaparkan dan diuraikan sebagai berikut.

a. Bentuk Maksim Kesantunan Berbahasa Indonesia Polisi terhadap Masyarakat pada Pemeriksaan Lalu Lintas Wilayah Makassar

1. Maksim Kebijaksanaan

Data (4) : “Harus dibawa terus itu surat-suratnya Pak, lain kali kita bawa ya Pak, jalanmaki.”, dan data (7) : “Saya kasi keringanan ya, jalanmi tapi lain kali jangan pake motor ya”. Di dalam tuturan tersebut, pemaksimalan keuntungan bagi pihak mitra tutur tampak sekali pada tuturan polisi. Data tersebut menunjukkan representasi kesantunan berbahasa Indonesia polisi terhadap masyarakat dengan

bentuk maksim kebijaksanaan. Tuturan ini digunakan polisi ketika berlangsung interaksi pada pemeriksaan di jalan raya dengan masyarakat.

Pada saat itu, masyarakat pengendara tidak membawa surat-surat kendaraannya. Kemudian polisi pada data (4dan7) merespon dengan tuturan yaitu (P) : “lain kali kita bawa ya Pak, jalanmaki.”, “Saya kasi keringanan ya, jalanmi tapi lain kali jangan pake motor ya”. Tuturan tersebut disampaikan ke masyarakat pengendara sekalipun sebenarnya masyarakat pengendara tersebut melanggar dan harusnya polisi memberikan surat Tilang, tetapi polisi tersebut memberikan kebijaksanaan dengan menyuruh masyarakat tadi untuk melanjutkan perjalanannya.

Ini sejalan dengan teori kesantunan Leech bahwa “Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin, dan buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin” (Leech diterjemahkan oleh Oka,1993:27). Maksudnya, andai saja si polisi tadi tidak membijaki masyarakat pengendara tersebut, bisa saja polisi memberikan surat tilang dan tentunya akan menimbulkan kerugian dari masyarakat pengendara tadi.

Dalam konteks ini pula, salah satu tolok ukur kesantunan berbahasa yaitu ketika tindak tutur yang disampaikan penutur dengan mitra tuturnya itu tidak mengakibatkan rasa sakit hati kepada mitra tuturnya. Polisi pada data di atas sudah merepresentasikan tindak tuturnya dengan tidak mengakibatkan rasa sakit hati kepada masyarakat pengendara dengan menyuruh untuk melanjutkan perjalannya sekalipun masyarakat pengendara tersebut melanggar.

2. Maksim Penghargaan

Di dalam maksim penghargaan dijelaskan bahwa seseorang akan dapat dianggap santun apabila dalam bertutur selalu berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain. Dengan maksim ini, diharapkan agar para peserta pertuturan tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak lain.

Peserta tutur yang sering mengejek peserta tutur lain di dalam kegiatan bertutur akan dikatakan sebagai orang yang tidak sopan. Dikatakan demikian karena tindakan mengejek merupakan tindakan tidak menghargai orang lain.

Kushartanti (2009:257) menyatakan bahwa kesantunan merupakan sebuah istilah yang berkaitan dengan kesopanan, rasa hormat, sikap yang baik atau perilaku yang pantas. Misalnya pada data (3) P : “Matiki pajaknya ini mobilta Dek”, data (10) P : ”Coba lihat SIM dan STNKta”, dan data (8) P : “Mana SIMta Dek ?. Dengan menggunakan bentuk informal –ta dalam tuturan polisi di atas, nilai penghargaan yang diberikan polisi ke masyarakat pengendara akan bertambah.

Dalam konteks budaya Bugis Makassar, -ki, -ta, dan tabe adalah bentuk tuturan yang diasosiasikan masyarakat memiliki nilai kesantunan. Penggunaan bentuk tersebut berimplikasi terhadap penghargaan penutur kepada mitra tuturnya.

Namun, dalam bahasa Indonesia baku, penggunaan - ki, -ta, dan tabe tidak benar dalam komunikasi formal.

Pranowo (2012:4) mengungkapkan bahwa norma-norma kesantunan bervariasi antara satu budaya dengan budaya lain atau satu daerah dengan daerah lain, maka penggunaan bahasa dari daerah yang berbeda dapat memiliki ide yang berbeda berkaitan dengan hal yang dianggap santun atau tidak santun.

Polisi menyadari bahwa penggunaan klitika –mu ketika –ta diganti menjadi –mu dalam kata “mobilmu, STNKmu, SIMmu”, akan mengurangi kesantunan dalam bentuk penghargaan kepada mitra tuturnya, oleh karena itu polisi menggunakan klitika –ta untuk memberikan penghargaan kepada mitra tuturnya.

Selanjutnya sama halnya pada data (9) P : ”Selamat siang Ibu, bisaki kasi liat SIM dan STNKta?”, dan data(6) P : “Tunggumaki dulu di’, saya cek dulu.Alfin

Nur, jalanmaki”. Kalau klitika –ki berlawanan dengan klitika –ko, bentuk informal tersebut diasosiasikan maayarakat memiliki nilai kesantunan, apabila yang dipakai adalah –ki, maka dianggap santun , namun apabila yang dipakai adalah –ko, maka dianggap kurang santun dan kurang menghargai.

Kemudian pada tuturan data (5) P : “Kita urusmi dulu di bagian pelayanan Samsat di sana Pak”, ini menunjukkan representasi bentuk maksim penghargaan kesantunan berbahasa Indonesia polisi terhadap masyarakat menggunakan diksi kita. Sebagai kata sapaan, kata kita memiliki rujukan kepada penutur dan mitra tutur. Kata kita yang ditujukan kepada mitra tutur merupakan diksi pengganti kamu.

Masyarakat dan polisi menghindari menggunakan kata kamu karena pilihan kata tersebut memiliki makna yang tidak sopan atau santun. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa polisi memiliki kesadaran bahwa menyebut kamu kepada mitra tutur yang memiliki status sosial dan usia lebih tinggi merupakan bentuk ketidaksantunan berbahasa Indonesia.

Penggunaan sapaan kita oleh polisi dipengaruhi kedudukan antara penutur.

Dalam interaksi masyarakat dan polisi, kedudukan antara keduanya tidak berimbang. Sapaan kita merepresentasikan kesantunan dari perspektif jarak sosial antara polisi dan masyarakat seperti yang dijelaskan oleh Eelen (2001) bahwa kesantunan menghubungkan bahasa dengan berbagai aspek dalam struktur sosial sebagaimana halnya dengan aturan perilaku dan etika.

Kata ganti kita dalam kaidah bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai kata ganti orang pertama jamak namun, dalam konteks tuturan pada contoh di atas berfungsi sebagai kata ganti orang pertama tunggal. Penggunaan kita dalam budaya Bugis Makassar dianggap sopan walaupun penggunaan sapaan tidak baku dalam konteks bahasa Indonesia.

3. Maksim Kesimpatisan

Kurangi antipati antara diri sendiri dengan orang lain. Perbesar simpati antara diri sendiri dengan orang lain. (Leech diterjemahkan oleh Oka, 1993:27).

Maksim ini diungkapkan dengan tuturan asertif dan ekspresif. Di dalam maksim kesimpatisan, diharapkan agar para peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Seperti pada data (2) P :

“Iye’, lengkapji. Pelan-pelanmaki kalau naik motorki Bu suapaya selamatki di

jalan.”, dan (9) P : ”Ini surat-suratnya lengkapji aman. Silahkan lanjutkan perjalanan hati-hati di jalan Bu”. Data di atas menunjukkan bahwa representasi bentuk maksim kesimpatisan polisi terhadap masyarakat pengendara. Polisi memberikan bahasa simpati terhadap masyarakat pengedara dengan mengatakan

pelan-pelanmaki bawa motor Ibu, supaya selamatki di jalan” dan “hati-hati di jalan Bu”. Ini sejalan dengan prinsip Leech dalam buku Rahardi (2005:60) perbesar simpati antara diri sendiri dengan orang lain. Bersikap simpati dengan mitra tutur akan dianggap sebagai orang yang santun di dalam masyarakat.

Sebaliknya, orang yang bersikap antipati terhadap orang lain, apalagi bersikap sinis terhadap pihak lain, akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu sopan santun di dalam masyarakat. Sikap antipati terhadap salah seorang peserta tutur akan dianggap tindakan tidak santun.

b. Bentuk Maksim Kesantunan Berbahasa Indonesia Masyarakat terhadap Polisi pada Pemeriksaan Lalu Lintas Wilayah Makassar

1. Maksim Kebijaksanaan

Data (1) menunjukkan representasi kesantunan berbahasa Indonesia masyarakat terhadap polisi dengan bentuk maksim kebijaksanaan. Tuturan ini digunakan masyarakat ketika berlangsung interaksi pemeriksaan di jalan raya dengan polisi. Pada saat itu, polisi meminta masyarakat pengendara menghentikan kendaraannya. Kemudian masyarakat pengendara pada data (1) merespon dengan kata-kata yang bijak dan santun yaitu (M) : “Iye Pak tidak apa-apaji”. Ini termasuk dalam maksim kebijaksanaan, karena seharusnya masyarakat pengendara tersebut bisa jalan lebih cepat, tetapi karena diberhentikan oleh polisi sehingga perjalanannya terhambat. Ini tentu merugikan masyarakat pengendara, namun direspon dengan kalimat (M) : “Iye Pak tidak apa-apaji”. Senada dengan teori kesantunan Leech bahwa “Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin, dan

buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin” (Leech diterjemahkan oleh Oka,1993:27). Tentunya ini merupakan tolok ukur bentuk maksim kebijaksanaan kesantunan berbahasa Indonesia masyarakat terhadap polisi.

2. Maksim penghargaan

Di dalam maksim penghargaan dijelaskan bahwa seseorang akan dapat dianggap santun apabila dalam bertutur selalu berusaha memberikan penghargaan kepada pihak lain. Dengan maksim ini, diharapkan agar para peserta pertuturan tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak lain.

Peserta tutur yang sering mengejek peserta tutur lain di dalam kegiatan bertutur akan dikatakan sebagai orang yang tidak sopan. Dikatakan demikian karena tindakan mengejek merupakan tindakan tidak menghargai orang lain.

Pada data (10) M : ”Iye Pak lihatmaki!”, kata “iye” adalah bentuk informal yang diasosiakan masyarakat Bugis Makassar dalam komunikasi sehari-harinya.

Iye” dianggap santun daripada “iyo”. Masyarakat memahami bahwa kesantunan berbahasa menggunakan ukuran-ukuran budaya. Bentuk bahasa informal yang digunakan masyarakat berasal dari bahasa daerah yang mengandung makna kesantunan.

Kemudian pada data yang sama di atas juga dapat dilihat penggunaan kata sapaan “Pak”, penggunaan kata sapaan dalam interaksi masyarakat pada pemeriksaan lalulintas kepolisian merepresentasikan bentuk maksim penghargaan masyarakat kepada polisi. Kalau kita tinjau dari fungsi polisi dari variabel perangkat negara, tentu erat kaitannya dengan kewibawaan dan lain sebagainya.

Secara representasi, masyarakat masih memandang perlu memberikan penghargaan kepada polisi melalui kesantunan berbahasa. Kata sapaan digunakan masyarakat untuk memberikan penghargaan kepada mitra tutur. Penggunaan sapaan pak merepresentasikan kesantunan berbahasa masyarakat dalam interaksi pemeriksaan dengan polisi. Sapaan tersebut digunakan sebagai ungkapan pengharagaan masyarakat kepada polisi.

Ungkapan yang disampaikan masyarakat pengendara tersebut sebenarnya dapat diungkapkan langsung tanpa didahului sapaan. Namun demikian, untuk menghargai polisi yang sedang berbicara, masyarakat terlebih dahulu memberikan sapaan. Sapaan pak oleh masyarakat bermakna permohonan izin untuk menyela pembicaraan dan mengajukan pertanyaan. Jika ungkapan tersebut dituturkan tanpa didahului pak, kesan tidak menghargai sangat tampak dalam tuturan.

Masyarakat menyadari bahwa tanpa sapaan, ia terkesan tidak santun dalam pembicaran dan hal tersebut merupakan cara berbahasa yang tidak etis dilakukan kepada polisi yang notabenenya memliki kewibawaan sebagai perangkat negara.

Dengan demikian, sapaan pak bukan hanya berfungsi sapaan, tetapi diutamakan sebagai permohonan izin, pemberian penghargaan, dan fungsi menjaga etika.

Kemudian selanjutnya pada data (2) M : “Tabe’ dengan SIM juga Pak ?”, Bentuk informal “tabe” digunakan masyarakat untuk menyampaikan permohonan izin atau menyampaikan permintaan dalam komunikasinya. Bentuk ini merepresentasikan maksim penghargaan masyarakat terhadap polisi. Berdasarkan data (2) yang telah dipaparkan, masyarakat menggunakan pilihan bentuk informal

tabe” dalam komunikasinya dengan polisi.

Bentuk informal “tabe” adalah bahasa Makassar yang umum digunakan di dalam masyarakat untuk mengajukan permohonan. Bentuk tersebut sebetulnya terjemahan dari kata permisi. Dalam komunikasi masyarakat Makassar, permisi memiliki asosiasi netral. Sebaliknya, bentuk “tabe” menunjukkan penghargaan penutur kepada mitra tuturnya. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kesadaran berbahasa santun yang dilandasi budaya dan latar belakang masyarakat dalam mengajukan permohonan. Bentuk informal “tabe” yang memiliki tingkat kesantunan lebih tinggi lebih diprioritaskan masyarakat dibandingkan dengan bentuk informal yang bersifat biasa saja. Namun, dalam komunikasi formal, bentuk tabe tidak baku dalam bahasa Indonesia.

3. Maksim Kesederhanaan

Kurangi pujian pada diri sendiri, tambahi cacian pada diri sendiri. (Leech diterjemahkan oleh Oka, 1993:27). Di dalam maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati, peserta tutur diharapkan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Orang akan dikatakan sombong dan congkak hati jika di dalam kegiatan bertutur selalu memuji dan mengunggulkan dirinya sendiri. Pelaksanaan maksim kesederhanaan atau maksim kerendahan hati dapat dilihat pada data (8) M : “Iye Pak, minta maaf mami ini Pak, kulupai di rumah kodong Pak”.

Pada saat itu polisi menjelaskan kesalahan masyarakat pengendara, kemudian direspon oleh masyarakat pengendara dengan mengakui kesalahannya dengan mencaci dirinya sendiri seperti pada data di atas “Iye Pak, minta maaf

mami ini Pak, kulupai di rumah kodong Pak”. Kata “kulupai” adalah sesuatu kelalaian, dan masyarakat pengendara tersebut mengatakan kelalaian pada dirinya, artinya masyarakat pengendara tersebut mencaci dirinya dengan kelalaiannya. Hal ini sejalan dengan maksim kesederhanaan yakni mengatakan cacian pada dirinya untuk meberikan rasa santun pada polisi.

4. Maksim Permufakatan

Maksim permufakatan seringkali disebut dengan maksim kecocokan (Wijana,1996: 59). Di dalam maksim ini, ditekankan agar para peserta tutur dapat saling membina kecocokan di dalam kegiatan bertutur. Penggunaan respon mengiyakan merepresentasikan kesantunan berbahasa masyarakat dalam interaksi pemeriksaan lalulintas kepolisian dengan polisi. Respon mengiyakan digunakan untuk mengungkapkan penerimaan atas tuturan yang diberikan polisi sebagai mitra tutur. Masyarakat menggunakan satu pilihan kata dalam respon mengiyakan yang merepresentasikan kesantunan, yakni kata informal “iye”, diksi tersebut umum digunakan oleh masyarakat Bugis Makassar dan sama artinya denga “iya” dalam bahasa Indonesia baku.

Pada data (1) M : ”Iye Pak bisaji periksamaki ”, kita bisa melihat bahasa kecocokan dari masyarakat. Diksi “iye” juga berarti diksi yang digunakan masyarakat untuk menerjemahkan rasa kecocokan pada dirinya. Penggunaan respon mengiyakan dengan pilihan kata “iye” merepresentasikan maksim permufakatan kesantunan berbahasa masyarakat dalam mengiyakan tuturan polisi

yang bermakna larangan dan perintah. Respon “iya” yang bermakna penerimaan atau persetujuaan menunjukkan bahwa masyarakat menyetujui.

Adanya bentuk maksim kesantunan berbahasa Indonesia tersebut merupakan penanda kesantunan yang menunjukkan bahwa masyarakat dan polisi cukup memperhatikan kesantunan berbahasa Indonesia dalam berkomunikasi.

BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab empat, maka pada bagian ini disimpulkan bahwa :

1) Bentuk maksim kesantunan berbahasa Indonesia polisi terhadap masyarakat pada pemeriksaan lalulintas kepolisian Makassar direpresentasikan dalam maksim kebijaksanaan, maksim penghargaan, dan maksim kesimpatisan.

2) Bentuk maksim kesantunan berbahasa Indonesia masyarakat terhadap polisi pada pemeriksaan lalulintas kepolisian Makassar direpresentasikan dalam maksim kebijaksanaan, maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, dan maksim permufakatan.

Dari paparan di atas, dapat diketahui bahwa masyarakat dan polisi secara representasi mampu berbahasa santun sekalipun sebenarnya banyak variabel yang dapat mempengaruhi kadar kesantunan berbahasanya, entahkah dari strata sosial, budaya, ras, suku, dan lain sebagainya. Adanya kesadaran masyarakat dan polisi untuk berbahasa yang santun akan memungkinkan komunikasi antara keduanya berjalan dengan lancar dan baik.

66

Adanya bentuk maksim kesantunan berbahasa Indonesia tersebut merupakan penanda kesantunan yang menunjukkan bahwa masyarakat dan polisi cukup memperhatikan kesantunan berbahasa Indonesia dalam berkomunikasi.

Masyarakat dan polisi sudah mengetahui pentingnya berbahasa yang santun. Namun dari sudut pandang peneliti, selain kesantunan berbahasa masih banyak lagi yang menarik untuk kita pelajari lebih dalam terkait bahasa komunikasi yang ada di masyarakat luas dan dari sudut yang berbeda pula.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan, maka peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut.

1. Masyarakat disarankan memperbanyak penggunaan kesantunan berbahasa Indonesia yang telah ditemukan di lingkungan keluarga maupun lingkungan luar agar perilaku berbahasa santun dapat semakin terinternalisasi dalam diri masyarakat.

2. Polisi disarankan mengembangkan penggunaan kesantunan berbahasa Indonesia yang telah diketahui dan digunakan sehari-hari dalam lingkungan pekerjaan.

3. Peneliti selanjutnya disarankan mengungkap dimensi lain dari kesantunan berbahasa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin. 2012. Bahan Ajar Pragmatik. Universitas Pendidikan Ganesha.

Tidak Diterbitkan.

Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Dik, S.C. dan J.G. Kooij. 1994. Ilmu Bahasa. Jakarta : Pustaka Pelajar.

Eelen, Gino. 2001. Kritik Teori Kesantunan. Bandung : Angkasa Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik (Terjemahan Oka).

Jakarta: Universitas Indonesia.

Levinson, C. 1983. Pragmatics. Cambridge (Terjemahan) : Cambridge Univercity Press.

Markhamah. 2011. Analisis Kesalahan dan Kesantunan Berbahasa.

Surakarta : Muhammadiyah University Press.

Moleong, J Lexy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Pranowo. 2012. Berbahasa Secara Santun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Purwo, B. K. 2004. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Rahardi, R. Kunjana. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Rahim, Rahman. 2016. Meretas Bahasa Mengkaji Pragmatik. Makassar:

Unismuh Makassar.

Suparno. 1994. Linguistik Umum. Bandung: Jemmars.

Suriana. 2014. Kesantunan Berbahasa Indonesia Murid Kelas VI Sekolah Dasar Islam Athirah Bukit Baruga Makassar. Makassar: UNM.

St. Miskhlihah. 2014. Kesantunan Berbahasa. Laporan Penelitian. Jawa Timur : STAIN Jember. (online) http:www.

Journalarraniry.kesantunan_berbahasa. Diakses : 26 Juli 2018 Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Jakarta: Andi.

Yule, George. 2006. Pragmatik (Terjemahan Indah Fajar Wahyuni).

Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

LAMPIRAN SKRIPSI

2019

 DOKUMENTASI

 ADMINISTRASI

 DATA PERCAKAPAN

 CATATAN LAPANGAN

Dalam dokumen kesantunan berbahasa indonesia masyarakat (Halaman 65-78)

Dokumen terkait