BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
memiliki nilai efektivitas yang sama sehingga tidak ada perbedaan yang signifikan.
b. RPE
Uji Post Hoc Tukey juga dilakukan untuk variabel RPE dalam mengukur tingkat kelelahan karena memiliki nilai signifikansi < 0,05.
Tabel berikut ini :
4.10 Uji Post Hoc Tukey untuk variabel tingkat kelelahan RPE
Kelompok SM CWI Kontrol
RPE SM - 0,956 0,001
CWI - - 0,000
Kontrol - - -
Hasil Uji post Hoc Tukey untuk variabel RPE menunjukkan bahwa ada perbedaan bermakna parameter RPE antara kelompok perlakuan Sport Massage, Cold Water Immersion dan Kelompok kontrol. Namun, antara kelompok Sport Massage dan Cold Water Immersion tidak ada perbedaan bermakna berdasarkan persepsi atlet terhadap tingkat kelelahan yang dirasakannya dan juga dapat terjadi karena rancangan kegiatan latihan intensitas tinggi tidak terlalu membuat para atlet merasa lelah.
Data deskriptif berikutnya merupakan data deskriptif pretest dan post-test serta selisih diantara nilai keduanya. Parameter yang digunakan adalah mean atau nilai rata-rata dan standar deviasi pada setiap variabel. Selisih denyut nadi antara kelompok sport massage, cold water immersion, dan kelompok kontrol dengan selisih paling banyak berada pada kelompok cold water immersion dengan nilai 42.90 dengan SD 5.89 dibandingan kelompok lainnya. Selisih pengukuran tingkat kelelahan FAS antara kelompok sport massage, cold water immersion, dan kelompok kontrol dengan selisih paling banyak berada pada kelompok sport massage dengan nilai 2.90 dengan SD .12 dibandingan kelompok lainnya. Selisih pengukuran tingkat kelelahan RPE antara kelompok sport massage, cold water immersion, dan kelompok kontrol dengan selisih paling banyak berada pada kelompok cold water immersion dengan nilai 3.70 dengan SD .71 dibandingan kelompok lainnya. Selisih pengukuran tingkat penurunan stres DWQ antara kelompok sport massage, cold water immersion, dan kelompok kontrol dengan selisih paling banyak berada pada kelompok cold water immersion dengan nilai 3.70 dengan SD 1.27 dibandingan kelompok lainnya. Berdasarkan data tersebut maka tingkat kelelahan dan tingkat penurunan stres dari setiap variabel mengalami selisih perubahan nilai.
Uji normalitas data pada variabel denyut nadi, FAS dan DWQ memiliki nilai signifikansi (p > 0.05) yang memiliki data dengan distribusi normal.
Normalitas data pada variabel RPE pada kelompok sport massage dan kelompok kontrol memiliki nilai signifikansi (p < 0.05) sehingga memiliki data tidak terdistribusi normal.
Pada uji homogenitas data menggunakan levene test menghasilkan data untuk variabel data RPE (p < 0.05) sehingga data tidak homogen, sedangkan data pada variabel lainnya yaitu denyut nadi, FAS, dan DWQ memiliki data yang homogen. Data yang berdistribusi normal dan data yang homogen dapat dilanjutkan dengan pengolahan data one way anova sedangkan untuk data yang tidak berdistribusi normal dapat menggunakan uji kruskall wallis.
Pada uji hipotesis dalam menjawab pertanyaan penelitian bahwa ada perbedaan efektivitas sport massage dan cold water immersion terhadap pemulihan
kelelahan pasca latihan pada atlet sprinter PPLP melalui pengujian one way anova dengan nilai signifikansi (0.001), sehingga dilakukan uji Post Hoc Tukey untuk variabel denyut nadi yang memberikan hasil bahwa ada perbedaan bermakna parameter denyut nadi antara kelompok sport massage dengan kelompok kontrol nilai signifikansi (0.005), kelompok cold water immersion dengan kelompok kontrol nilai signifikansi (0.000), namun antara kelompok sport massage dan cold water immersion (0.154) tidak ada perbedaan bermakna. Variabel RPE menggunakan uji kruskall wallis dengan nilai signifikansi (0.001), dan dilanjutkan dengan post hoc tukey yang menjelaskan ada perbedaan bermakna parameter RPE antara kelompok perlakuan Sport Massage, Cold Water Immersion dan Kelompok kontrol. Nilai signifikasi kelompok sport massage dan kelompok kontrol (0.001), kelompok cold water immersion (0.000), dan kelompok sport massage dan cold water immersion (0.956) yang berarti antara kelompok Sport Massage dan Cold Water Immersion tidak ada perbedaan bermakna berdasarkan persepsi atlet terhadap tingkat kekelahan. Pada hasil uji one way anova pada variabel tingkat penurunan stres DWQ, memberikan nilai signifikansi (0.510) yang memiliki makna tidak ada perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan.
Sejalan dengan penelitian oleh Kurniawan (2021) berpendapat sport massage dengan beberapa gerakan dapat merangsang syaraf vegetatif atau sistem saraf otonom pada keseluruhan bagian tubuh dan berpengaruh terhadap tubuh.
Pelaksanaan dalam manipulasi ini dibedakan berdasrkan tempat atau bagian yang di massage. Goncangan di bagian perut hanya getaran intensitas kecil menggunakan teknik shaking. Sebagian anggota badan yang digoncangkan diharuskan berada dalam keadaan rnyaman atau rileks. Memiliki tujuan manipulasi untuk pengenduran bagian otot, peningkatan flleksibilitas jaringan, mendapatkan penenangan bagian ketegangan syaraf di daerah yang dilakukan massage sehingga ada perbedaan signifikan dari kelompok yang mendapatkan perlakuan atau manipulasi massage setelah latihan dengan itensitas tinggi.
Sama dengan halnya mendapatkan suatu perlakuan cold water immersion bahwa dijelaskan dengan melakukan perendaman air dengan suhu dingin merupakan metode perendaman dalam air dingin dengan vertical position (Tsaqif,
2018). Perendaman air dingin adalah metode pemulihan dimana sebagian tubuh direndam dalam air bersuhu dingin dengan kekonstan suhu (Akhsan, 2018). Terapi dingin dan perendaman air suhu dingin adalah penggunaan dengan air dingin untuk mengatasi gejala peradangan dan nyeri yang ditimbulkan (Rijal, 2019).
Dilaksanakan baik setelah pelatihan untuk berendam dalam air suhu dingin memecahkan asam laktat yang menumpuk pada tubuh dari aktivitas fisik yang telah dilakukan. Sehingga memiliki dampak terhadap sistem saraf otonom pusat yang dapat melakukan pemulihan secara efektif oleh sebab itu terdapat perbedaan secara signifikan antara kelompok yang melakukan perlakuan terapi dingin dan tidak.
Hal terpenting diperhatikan setelah latihan atau kompetisi adalah pemulihan. Istirahat membantu keseluruhan tubuh menyesuaikan diri saat setelah aktivitas fisik. Peningkatan waktu pemulihan sebagai sarana dalam membantu atlet menjaga kebugaran dan status performa serta dapat meningkatkan kemungkinan mereka untuk berpartisipasi dan berkompetisi. Oleh sebab itu ketiga kelompok diberikan perlakuan berbeda dengan kelompok kontrol yang menggunakan istirahat pasif, kelompok sport massage dengan treatment, dan kelompok cold water immersion dengan perendaman air dingin hal tersebut dilakukan dalam penelitian ini guna mengetahui pemulihan efektif dengan melakukan istirahat.
Pada variabel tingkat penurunan stres dengan alat ukur daily wellness questionaire tidak ada perbedaan efektifitas antara sport massage dan cold water immersion dalam penurunan tingkat stres pasca latihan atlet PPLP di antara ketiga kelompok. Alat ukur DWQ adalah alat ukur yang digunakan respons tubuh terhadap latihan fisik intens yang meliputi perubahan mood, kualitas tidur, tingkat energi, nyeri otot dan stres yang diukur dengan Daily wellness questionnaire. Salah satu yang dapat menjadi alasan mengapa tidak ada perbedaan bermakna akan tingkat stres pada sprinter dikarenakan alat ini baru digunakan satu kali pada hari yang sama, dan seharusnya digunakan satu hari setelahnya untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal terhadap komponen variabel lainnya.
Tingkat stres yang tidak ada perbedaan bermakna diantara kelompok dapat terjadi karena intensitas latihan tidak terlalu tinggi bagi mereka sehingga tingkat stres juga terpengaruh oleh hal tersebut.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Parwata (2015) pada dasarnya kelelahan adalah berkurangnya produktivitas berkurangnya kapasitas kerja dan berkurangnya daya tahan tubuh dan dijelaskan dalam keadaan lelah, maka keadaan kelelahan subjektif mendominasi. Oleh sebab itu, kemungkinan yang dapat terjadi bahwa atlet dalam mempersepsikan tingkat penurunan stres masih bersifat subjektif dalam melakukan penilaian dan latihan intensitas yang dirancang bukanlah menjadi stressor bagi mereka sebab stres tidak selalu berkonotasi negatif.
Dampak stres dapat bersifat positif dan negatif. Dalam menentukan keadaan atlet diperlukan tingkat stres olahraga tertentu dan mendapatkan performa agar mencapai sukses dalam olahraga. Di sisi lain, tingkat stres yang berlebihan dapat memengaruhi kinerja dan merusak bagian dalam tubuh. Kemampuan untuk beradaptasi dengan stres ini dapat ditingkatkan dengan mengembangkan praktik yang sistematis. Performa dan Penghindaran atau hasil dari beban berlebihan.
Tidak adanya perbedaan efektifitas terhadap penurunan tingkat stres kemungkinan dapat terjadi karena para atlet memiliki adaptasi yang baik terhadap latihan atau kegiatan yang biasa mereka lakukan.
Pendapat yang dikemukakan oleh Jarvis ( dalam Walerinczyk & Stolarski, 2021) menjelaskan bahwa salah satu tujuan dari psikologi olahraga adalah meningkatkan performa atletik, dan tidak saja mengenai performa tetapi olahraga dipandang sebagai suatu tempat atau laboratorium dalam penelitian tentang efisiensi dibawah tekanan tinggi dan emosi kuat yang menyertainya. Sehingga stres dapat terjadi dan tidak pada atlet yang ingin meningkatkan performanya dan bagaimana cara atlet mengelola tekanan tinggi dan emosi dalam berlatih intensitas tinggi.