• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.3 Pembahasan

29

setelah melakukan pekerjaan dekat dengan jeda berkala lebih kecil secara statistik daripada pekerjaan dekat secara kontinu, dengan nilai p <0,05.

30

penurunan amplitudo akomodasi. Penelitian oleh Park menemukan bahwa terjadi penurunan amplitudo akomodasi setelah menatap monitor telepon seluler selama 30 menit.28

Jeda berkala pada penelitian ini dilakukan dengan menstimulasi penglihatan pada titik jauh (punctum remotum) dengan meminta subyek meihat obyek yang berjarak 20 kaki atau lebih. Iwasaki mendapati bahwa gejala asthenopia akan berkurang dan tidak terjadi penurunan fungsi akomodasi dengan melakukan stimulasi penglihatan pada titik jauh selama dua menit setelah subyek penelitian melakukan pekerjaan dekat selama 15 menit. Penelitian Omori membandingkan gejala asthenopia pengguna VDT yang melakukan jeda berkala dengan stimulasi titik jauh selama satu menit dan tanpa stimulasi. Gejala asthenopia pada kelompok yang menjalani jeda dengan stimulasi titik jauh lebih ringan daripada kelompok tanpa stimulasi. Otot siliaris akan mengalami relaksasi sehingga mata tidak mengalami akomodasi selama proses melihat jauh sehingga mengurangi gejala asthenopia.5,29

Logaraj dan Agarwal menyatakan bahwa terdapat korelasi antara gejala mata buram dengan frekuensi melakukan jeda berkala. Sedangkan penelitian oleh Bhanderi tidak menemukan hubungan antara keluhan asthenopia dengan kebiasaan untuk melakukan jeda berkala. Telah dilakukan beberapa penelitian untuk menilai pengaruh jeda berkala pada fungsi akomodasi dan gejala asthenopia setelah pekerjaan jarak dekat dengan standar jeda yang berbeda-beda. Blehm dan Abelson menganjurkan jeda berkala dilakukan dua kali dalam durasi satu jam menggunakan perangkat VDT. Penelitian lain melakukan jeda setelah durasi

31

pekerjaan dekat yang berbeda, antara lain 15 menit dan satu jam. Jeda pada penelitian ini adalah setelah melakukan pekerjaan dekat selama 20 menit.

Penelitian McLean mendapatkan nilai rerata siklus frekuensi sinyal mioelektrik yang lebih tinggi otot lurik yang bekerja dengan jeda pada 20 menit dibandingkan otot yang bekerja terus menerus selama 40 menit. Siklus frekuensi sinyal mioelektrik berhubungan dengan kelelahan otot. Siklus yang rendah akan menyebabkan keluhan nyeri pada otot yang bersangkutan.13,18,27,30,31

Anshel menyarankan untuk melakukan jeda berkala setiap 20 menit selama 20 detik. Hal yang serupa dikemukakan oleh Abelson. Namun efek jeda dengan menggunakan rule 20-20-20 pada amplitudo akomodasi belum pernah dilakukan. Penelitian ini menemukan bahwa penurunan amplitudo akomodasi tetap terjadi pada kelompok jeda berkala menggunakan rule 20-20-20. Hal ini mungkin terjadi akibat durasi jeda yang pendek. Beberapa penelitian lain melakukan melakukan jeda dengan durasi yang berbeda-beda, yaitu 1 menit, 2 menit, 5 menit, dan 15 menit. Penurunan amplitudo akomodasi pada kelompok dengan jeda berkala lebih kecil dibandingkan kelompok yang melakukan pekerjaan dekat secara kontinu. Jeda berkala dilakukan dalam waktu yang singkat sehingga tidak akan mengganggu aktivitas maupun produktivitas pengguna perangkat VDT.11–13,27,30,32,33

Keterbatasan pada penelitian ini adalah terdapat kemungkinan bias pengukuran atau observer dalam proses pengukuran amplitudo akomodasi.

Keterbatasan lainnya adalah pengukuran titik dekat akomodasi dilakukan pada subjek penelitian dengan visus 1.0 secara subjektif, sehingga kondisi

32

hipermetropia laten mungkin tidak terdeteksi. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan kondisi hipermetropia laten dengan menggunakan sikloplegik saat pemilihan sampel penelitian.16,27

33 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Selisih amplitudo akomodasi setelah melakukan pekerjaan dekat dengan jeda berkala menggunakan rule 20-20-20 lebih kecil dibandingkan dengan pekerjaan dekat secara kontinu.

5.2 Saran

1. Pemeriksaan amplitudo akomodasi dilakukan secara objektif untuk mengurangi bias pengukuran.

2. Diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat berapa lama waktu jeda minimal yang diperlukan agar tidak terjadi penurunan amplitudo akomodasi yang bermakna pada individu yang melakukan pekerjaan dekat.

34

DAFTAR PUSTAKA

1. Ciuffreda K. Accommodation, the pupil, and presbyopia. In: Borish’s Clinical Refraction. 2 ed. Missouri: Butterworth-Heinemann; 2006: 93–

144.

2. Ophthalmology AA of. Clinical refraction. In: Clinical optics. San Fransisco: American Academy of Ophthalmology; 2014: 93–150.

3. Glasser A. Accommodation. In: Levin LA, editor. Adler’s physiology of the eye. 11 ed. Amsterdam: Elsevier; 2011: 40–60.

4. Akinbinu TR, Mashalla YJ. Medical Practice and Review Impact of computer technology on health : Computer Vision Syndrome ( CVS ). Acad Journals. 2014;5:20–30.

5. Iwasaki T, Tawara A, Miyake N. Reduction of asthenopia related to accommodative relaxation by means of far point stimuli. Acta Ophthalmol Scand. 2005;83(1):81–8.

6. Arif KM, Alam MJ. Computer Vision Syndrome. Faridpur Med Coll J.

2016;10(1):33–5.

7. Sheedy JE, Shaw-McMinn PG. Diagnosing and treating computer-related vision problems. Burlington: Elsevier Health Sciences; 2003: 35-43

8. Wajuihian SO. Frequency of asthenopia and its association with refractive errors. African Vis Eye Heal. 2015;74(1):1–7.

9. Bhanderi DJ, Choudhary S, Doshi VG. A community-based study of asthenopia in computer operators. Indian J Ophthalmol. 2007;56(January 2006):51–5.

10. Bali J, Neeraj N, Bali RT. Computer vision syndrome: A review. J Clin Ophthalmol Res. 2014;2(1):61.

11. Anshel JR. Visual ergonomics in the workplace. AAOHN J.

2007;55(10):414-420-422.

12. Galinsky T, Swanson N, Sauter S, Dunkin R, Hurrell J, Schleifer L.

Supplementary breaks and stretching exercises for data entry operators: A follow up field study. Am J Ind Med. 2007;50(7):519–27.

13. Abelson MB, Ousler III GW. How to fight computer vision syndrome. Rev Ophthalmol. 1999;6(7):114–6.

14. Forrester J V, Dick AD, McMenamin PG, Roberts F, Pearlman E. Anatomy of the eye and orbit. In: The eye: basic sciences in practice. 4 ed.

Edinburgh: Elsevier; 2016: 30–2.

15. Maheshwari R, Sukul R, Gupta Y, Gupta M, Phougat A, Dey M, et al.

Accommodation: Its relation to refractive errors, amblyopia and biometric parameters. Nepal J Ophthalmol. 2011;3(2):146–50.

16. Putra BK. Perbandingan amplitudo akomodasi emetropia dan miopia pada pengguna komputer dengan gejala asthenopia. Padjadjaran; 2015.

17. Amalia H, Suardana GG, Artini W. Accommodative insufficiency as cause of asthenopia in computer-using students. Universa Med. 2016;29(2):78–

83.

18. McLean L, Tingley M, Scott RN, Rickards J. Computer terminal work and the benefit of microbreaks. Appl Ergon. 2001;32(3):225–37.

35

19. Chen J, Schmid K, Brown B. The autonomic control of accommodation and implications for human myopia development: a review. Ophthalmic Physiol Opt. 2003;23:401–22.

20. Costa JCL da, Martins IB de S, Nóbrega LTA, Medeiros MON, Palitot LM, Dias MBC, et al. Correlation between the use of the accommodation and symptoms of asthenopia in hyperopic patients. Rev Bras Oftalmol.

2015;74(4):225–30.

21. Chu C a, Rosenfield M, Portello JK. Blink patterns: reading from a computer screen versus hard copy. Optom Vis Sci. 2014;91(3):297–302.

22. Lin Y, Chen C, Lu S, Lin Y. Visual fatigue during VDT work : Effects of time-based and environment-based conditions. Displays. 2008;29(5):68–73.

23. Takada M, Miyao M. Effect of Accommodation Training on Visual Function of Visual Inspection Workers and Middle-Aged People. J Sports Med Doping Stud. 2012;2(3):2–5.

24. Dahlan MS. Besar sampel dalam penelitian kedokteran dan kesehatan. 4 ed.

Jakarta: Epidemiologi Indonesia; 2016: 187-193.

25. Eperjesi F, Bartlett H, Dunne MCM. Accommodative amplitude. In:

Ophthalmic Clinical Procedures: A Multimedia Guide. Edinburgh: Elsevier Health Sciences; 2007: 55–6.

26. Dahlan MS. Statistik untuk kedokteran dan kesehatan. 6 ed. Jakarta:

Epidemiologi Indonesia; 2014: 91-98.

27. Agarwal S, Goel D, Sharma A. Evaluation of the Factors which Contribute to the Ocular Complaints in Computer Users. J Clin Diagnostic Res.

2013;7(2):331–5.

28. Park M, Ahn YJ, Kim SJ, You J, Park KE, Kim SR. Changes in Accommodative Function of Young Adults in their Twenties following Smartphone Use. J Korean Ophthalmic Opt Soc. 2014;19:253–60.

29. Omori M, Watanabe T, Takai J, Takada H, Miyao M. An attempt at preventing asthenopia among VDT workers. Int J Occup Saf Ergon.

2003;9(4):453–62.

30. Logaraj M, Madhupriya V, Hegde S. Computer vision syndrome and associated factors among medical and engineering students in chennai. Ann Med Health Sci Res. 2014;4(2):179–85.

31. Blehm C, Vishnu S, Khattak A, Mitra S, Yee RW. Computer Vision Syndrome: A Review. Surv Ophthalmol. 2005;50(3):253–62.

32. Vertinsky T, Forster B. Prevalence of eye strain among radiologists:

Influence of viewing variables on symptoms. Am J Roentgenol.

2005;184(2):681–6.

33. Yan Z, Hu L, Chen H, Lu F. Computer Vision Syndrome: A widely spreading but largely unknown epidemic among computer users. Comput Human Behav. 2008;24(5):2026–42.

36

LAMPIRAN

Lampiran 1 Persetujuan Etik

37

Lampiran 2 Pernyataan persetujuan ikut serta dalam penelitian non-klinis

38

39

Lampiran 3 Output SPSS

Deskriptif statistik :

Uji normalitasdata :

Report

10,200000 9,814933 16,933333 6,140969 3,673964

10 10 10 10 10

,3583226 ,3484566 3,6099998 1,2544839 1,3215553 10,333333 9,677419 16,000000 6,260870 3,750254 9,6667 9,3750 12,0000 4,1667 1,3441 10,6667 10,3448 24,0000 8,3333 5,2083 10,133333 9,875417 11,866667 8,599296 1,276121

10 10 10 10 10

,2810913 ,2802683 1,6938524 1,3538840 1,1304163 10,333333 9,677419 12,166667 8,220721 1,498941 9,6667 9,6774 9,0000 6,9767 -,7663 10,3333 10,3448 14,3333 11,1111 2,7007 10,166667 9,845175 14,400000 7,370133 2,475042

20 20 20 20 20

,3153018 ,3093323 3,7799100 1,7899934 1,7162905 10,333333 9,677419 13,666667 7,321429 2,355991 9,6667 9,3750 9,0000 4,1667 -,7663 10,6667 10,3448 24,0000 11,1111 5,2083 Mean

N

Std. Deviation Median Minimum Maximum Mean N

Std. Deviation Median Minimum Maximum Mean N

Std. Deviation Median Minimum Maximum cara_pekerjaan

Kontinu

Jeda

Total

rata_rata_

NPA_sebl AA_sebl

rata_rata_

NPA_ses AA_ses beda_AA

Tests of Normality

,245 10 ,090 ,892 10 ,177

,362 10 ,001 ,717 10 ,001

,253 10 ,068 ,886 10 ,154

,360 10 ,001 ,716 10 ,001

,171 10 ,200* ,948 10 ,648

,153 10 ,200* ,945 10 ,613

,158 10 ,200* ,972 10 ,912

,208 10 ,200* ,885 10 ,149

,194 10 ,200* ,909 10 ,275

,224 10 ,168 ,911 10 ,288

cara_pekerjaan Kontinu Jeda Kontinu Jeda Kontinu Jeda Kontinu Jeda Kontinu Jeda rata_rata_NPA_sebl

AA_sebl

rata_rata_NPA_ses

AA_ses

beda_AA

Statistic df Sig. Statistic df Sig.

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk

This is a lower bound of the true significance.

*.

Lilliefors Significance Correction a.

40

NPar Tests

Mann-Whitney Test

T-Test

Ranks

10 11,10 111,00

10 9,90 99,00

20

10 9,90 99,00

10 11,10 111,00

20 cara_pekerjaan

Kontinu Jeda Total Kontinu Jeda Total rata_rata_NPA_sebl

AA_sebl

N Mean Rank Sum of Ranks

Test Statisticsb

44,000 44,000 99,000 99,000 -,489 -,489

,625 ,625

,684a ,684a Mann-Whitney U

Wilcoxon W Z

Asymp. Sig. (2-tailed) Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

rata_rata_

NPA_sebl AA_sebl

Not corrected for ties.

a.

Grouping Variable: cara_pekerjaan b.

Group Statistics

10 16,933333 3,6099998 1,1415822 10 11,866667 1,6938524 ,5356431 10 6,140969 1,2544839 ,3967026 10 8,599296 1,3538840 ,4281357 10 3,673964 1,3215553 ,4179125 10 1,276121 1,1304163 ,3574690 cara_pekerjaan

Kontinu Jeda Kontinu Jeda Kontinu Jeda rata_rata_NPA_ses AA_ses

beda_AA

N Mean Std. Deviation

Std. Error Mean

41

Independent Samples Test

5,791 ,027 4,018 18 ,001 5,0666667 1,2610010 2,4174019 7,7159314

4,018 12,780 ,002 5,0666667 1,2610010 2,3376575 7,7956759

,000 ,992 -4,212 18 ,001 -2,4583273 ,5836721 -3,68458 -1,23208

-4,212 17,896 ,001 -2,4583273 ,5836721 -3,68509 -1,23157

1,119 ,304 4,360 18 ,000 2,3978434 ,5499408 1,2424606 3,5532262

4,360 17,578 ,000 2,3978434 ,5499408 1,2404686 3,5552182 Equal variances

assumed Equal variances not assumed Equal variances assumed Equal variances not assumed Equal variances assumed Equal variances not assumed rata_rata_NPA_ses

AA_ses

beda_AA

F Sig.

Levene's Test for Equality of Variances

t df Sig. (2-tailed)

Mean Difference

Std. Error

Difference Lower Upper 95% Confidence

Interval of the Difference t-test for Equality of Means

42

Lampiran 4 Data hasil penelitian

No

Jenis Kelamin

1. Laki- laki, 2.

Peremp uan

Umur (tahun)

1.

OD , 2.

OS

RM

NPA sebelum kerja dekat NPA setelah kerja dekat 2 jam

Δ AA OD NPA

1 NPA

2 NPA

3 Rata-

rata NPA

AA NPA 1

NPA 2

NPA 3

Rata- rata NPA

AA

1 2 21 1 C-0.50 X71 11 10 10 10,33 9,68 20 20 20 20,00 5,00 4,68

2 2 22 2 S -0.50 11 10 11 10,67 9,38 24 24 24 24,00 4,17 5,21

3 1 20 1 S-0.50 10 9 11 10,00 10,00 19 20 19 19,33 5,17 4,83

4 1 21 2 S-0.50 10 10 9 9,67 10,34 19 19 19 19,00 5,26 5,08

5 2 20 1 S- C-0.25 X176 11 10 10 10,33 9,68 14 14 14 14,00 7,14 2,53

6 2 20 2 S- C-0.25 X5 10 9 10 9,67 10,34 17 16 17 16,67 6,00 4,34

7 2 21 1

S-0.25 C-0.25

X110 10 10 11 10,33 9,68 12 12 12 12,00 8,33 1,34

8 2 22 2 S-0.50 11 11 10 10,67 9,38 15 15 15 15,00 6,67 2,71

9 2 21 1 S-0.25 9 11 10 10,00 10,00 14 14 14 14,00 7,14 2,86

10 2 22 2

S-0.25 C-0.25

X180 11 10 10 10,33 9,68 15 16 15 15,33 6,52 3,16

11 2 21 1 S-0.50 10 11 9 10,00 10,00 13 14 11 12,67 7,89 2,11

12 1 20 1

S-0.25 C-0.50

X165 11 9 10 10,00 10,00 12 11 12 11,67 8,57 1,43

13 1 20 2 C-0.25 X16 10 11 10 10,33 9,68 14 14 15 14,33 6,98 2,70

14 2 20 1 S-0.25 10 11 10 10,33 9,68 13 14 12 13,00 7,69 1,99

15 2 20 2 S-0.50 10 10 11 10,33 9,68 13 13 14 13,33 7,50 2,18

16 2 21 1

S-0.25 C-0.50

X180 10 9 10 9,67 10,34 9 9 9 9,00

11,1 1 -0,77

17 2 21 2

S-0.25 C-0.25

X180 10 9 10 9,67 10,34 9 10 9 9,33

10,7 1 -0,37

18 2 21 1 S-0.50 10 11 10 10,33 9,68 12 13 12 12,33 8,11 1,57

19 2 21 1 C-0.25 X 128 10 10 11 10,33 9,68 12 11 10 11,00 9,09 0,59

20 2 22 2 C-0.25 X7 10 11 10 10,33 9,68 13 12 11 12,00 8,33 1,34

43

Lampiran 5 Daftar riwayat hidup

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Rahmat Fitra

Tempat Tanggal Lahir : Dumai, 06 Agustus 1983

Alamat : Jl. Soekarno Hatta, Gg. Nusa Indah no. 9. Kelurahan Labuh Baru Timur, Kecamatan Payung Sekaki, Kotamadya Pekanbaru, 28292

Nama Orang Tua : Aswarman, ST Zurniati

Pendidikan Formal

1. SD 1 YPP 7, Dumai (1989-1995) 2. SLTP YKPP, Dumai (1995-1998) 3. SMUN 1, Dumai (1998-2001)

4. Program Studi Sarjana Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung (2001-2005)

5. Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung (2005-2007)

6. Program Pendidikan Dokter Spesialis, Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung (2013 - 2017)

Pengalaman Kerja

1. Editor, EGC Medical Publisher, Jakarta (Januari-Maret 2008)

2. Dokter PTT Puskesmas Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara (April 2008-Maret 2010)

3. Dokter Umum Eka Hospital Pekanbaru (September 2010-September 2015) Penelitian

Perubahan visus pada pasien Diabetes Mellitus dengan edema makula yang mendapat injeksi anti VEGF intravitreus

44

Presentasi Ilmiah

 Poster Management of Aqueous Misdirection in Pseudophakic Patient with Primary Angle Closure Glaucoma, Bandung (2015)

Seminar/Kongres/Pertemuan Ilmiah Nasional dan/atau Internasional yang Pernah Diikuti

2016 Peserta INAPOSS Scientific Meeting Bandung, PERDAMI Jawa Barat - Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo, Bandung.

2015 Peserta Annual Scientific Meeting Bandung, 2015. PERDAMI - Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo, Bandung.

2015 Peserta Glaukoma National Meeting, 2015. PERDAMI Jawa Timur, Malang.

2014 Peserta Annual Scientific Meeting Bandung, Life Without Darkness, 2014. PERDAMI Jawa Barat - Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo, Bandung.

Dokumen terkait