PENDAHULUAN
Latar Belakang
Otot siliaris akan berkontraksi ketika mata melihat benda dekat sehingga menyebabkan zonula berelaksasi sehingga membuat lensa menjadi lebih bulat dan meningkatkan daya biasnya. Otot siliaris berelaksasi ketika mata melihat benda dari jarak jauh sehingga menyebabkan tegangan zonula berkurang sehingga lensa menjadi lebih datar dan daya biasnya menurun. Penyebab utama asthenopia pada pengguna VDT adalah karena kelelahan otot siliaris akibat kerja jarak dekat yang terus menerus.
Anshel menganjurkan istirahat berkala sesuai aturan 20-20-20 untuk mencegah keluhan asthenopia akibat penggunaan VDT. Otot siliaris yang istirahat secara teratur akan terhindar dari kelelahan sehingga diharapkan mampu menjaga fungsi akomodatif mata. Otot siliaris berelaksasi ketika mata melihat benda dari jarak jauh sehingga menyebabkan ketegangan pada sel kerucut berkurang sehingga lensa menjadi lebih datar dan daya biasnya menurun.
Otot siliaris dapat mengalami kelelahan setelah bekerja jarak dekat terus menerus dalam waktu yang lama sehingga menyebabkan penurunan amplitudo akomodasi. Penelitian yang menilai pengaruh kerja hati-hati dengan istirahat berkala menggunakan aturan 20-20-20 terhadap amplitudo akomodasi belum pernah dilakukan.
Rumusan Masalah
Pada penelitian ini penulis ingin mengetahui apakah perubahan amplitudo akomodasi pada individu yang melakukan pekerjaan jarak dekat dengan istirahat berkala sesuai aturan 20-20-20 lebih kecil dibandingkan pada individu yang melakukan pekerjaan jarak dekat secara terus menerus.
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
- Kegunaan Ilmiah
- Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar untuk mengedukasi pasien tentang pengaruh kerja jarak dekat dengan istirahat teratur terhadap kesehatan mata.
Kajian Pustaka
- Akomodasi
- Asthenopia
- Rule 20-20-20
Amplitudo akomodasi adalah jumlah akomodasi yang diberikan untuk memindahkan fokus dari titik jauh ke titik dekat, atau selisih daya bias mata antara kondisi istirahat dan akomodasi maksimal. Perbedaan ini terjadi akibat perubahan bentuk lensa akibat kontraksi otot siliaris dan perubahan tegangan zonula terhadap lensa. Dari tabel diatas terlihat bahwa sebelum umur 40 tahun terjadi penurunan amplitudo akomodasi sekitar 1 D setiap 4 tahun dan akan menurun lebih cepat setelah umur 40 tahun.
Penelitian Maheswari dkk dan Putra menemukan bahwa kelompok miopia memiliki nilai amplitudo akomodasi yang lebih besar dibandingkan emmetropia dan hipermetropia. Pengukuran amplitudo akomodasi berguna untuk mengetahui kekuatan lensa tambahan yang akan diberikan pada penderita presbiopia.2. Penyebab asthenopia diduga karena kelelahan otot siliaris dan ekstraokular akibat akomodasi dan vergensi dalam waktu lama saat bekerja jarak dekat.
Otot siliaris merupakan otot polos, namun kecepatan, ukuran neuron motorik, jarak otot dan neuron motorik pada otot siliaris menyerupai otot lurik. Mekanisme lain yang dapat menjelaskan disfungsi otot siliaris adalah pengaruh sistem saraf simpatis dan parasimpatis terhadap mekanisme akomodasi. Selama kerja jarak dekat, masukan parasimpatis dan penghambatan masukan simpatis diperlukan untuk mempertahankan rangsangan visual pada jarak dekat.
Setelah pekerjaan jarak dekat selesai, terjadi fenomena umpan balik simpatik yang menyebabkan efek penyesuaian akomodasi yang menyebabkan ketebalan lensa kembali ke keadaan sebelum pekerjaan jarak dekat. Setelah kerja jarak dekat yang berkepanjangan, blokade saraf simpatis akan menyebabkan aktivasi akomodasi oleh saraf parasimpatis, yang mengakibatkan ketidakmampuan serat otot siliaris untuk berelaksasi.19. Sebaliknya jika terjadi spasme pada otot siliaris maka akan mengakibatkan akomodasi yang ekstrim sehingga menimbulkan keadaan menyerupai miopia.
Kontraksi otot yang terus-menerus untuk melakukan konvergensi akan mengakibatkan kelelahan pada otot-otot ekstraokular, sehingga dapat mengakibatkan keluhan penglihatan ganda.10. Penelitian Chu menunjukkan bahwa jumlah kedipan mata saat bekerja jarak dekat turun menjadi 14 kali per menit. Penelitian Lin menunjukkan bahwa amplitudo akomodasi lebih besar pada subjek yang bekerja erat selama 20 menit dibandingkan 60 menit.
Kerangka Pemikiran
Teknik aturan 20-20-20 disarankan bagi pengguna VDT untuk mencegah gejala asthenopia saat bekerja.
Hipotesis
Alur Kerangka Pemikiran
SUBJEK DAN METODE PENELITIAN
Subjek Penelitian
- Kriteria Inklusi
- Kriteria Eksklusi
- Sampel
- Pemilihan Sampel
- Penentuan Ukuran Sampel
Besar sampel ditentukan berdasarkan rumus penelitian analitik tidak berpasangan dengan data numerik sebagai berikut: 24. Besar sampel penelitian setiap kelompok adalah 10 orang per kelompok atau berjumlah 20 orang.
Metode Penelitian
- Rancangan Penelitian
- Identifikasi Variabel
- Variabel Bebas dan Tergantung
- Definisi Operasional
- Cara Kerja dan Teknik Pengumpulan Data
- Analisis Statistik
- Tempat dan Waktu penelitian
- Aspek Etik Penelitian
Pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan subyektif refraksi dengan mengukur ketajaman penglihatan jarak jauh dengan Snellen chart dan pemeriksaan segmen anterior mata dengan slit lamp biomikroskopik. Akomodasi titik dekat adalah jarak dimana subjek dapat membaca huruf terkecil (N5) pada target aturan akomodasi titik dekat RAF. Data yang dianalisis adalah data salah satu mata pasien dengan amplitudo akomodasi terbaik sebelum mendekati pekerjaan.25.
Subjek diminta melakukan pekerjaan jarak dekat sambil memainkan game Onet menggunakan komputer tablet (Samsung Galaxy Tab2 7.0 GT-P3100) pada jarak 30-35 cm selama dua jam. Amplitudo akomodasi dinilai kembali setelah kedua kelompok subjek melakukan kerja jarak dekat selama total 2 jam (120 menit). Data dianalisis dengan menghitung mean dan deviasi standar perubahan amplitudo akomodasi seluruh kelompok dan masing-masing kelompok.
Untuk membandingkan perbedaan perbedaan amplitudo akomodasi antar kelompok yang berdistribusi normal digunakan uji t tidak berpasangan. Data yang tidak berdistribusi normal akan dianalisis secara non parametrik dengan menggunakan uji Mann-Whitney. Penelitian dilakukan di Unit Refraktif, Low Vision dan Lensa Kontak Pusat Mata Nasional RS Mata Cicendo Bandung pada bulan Maret 2017.
Keikutsertaan subjek dalam penelitian dilakukan dengan sukarela, dengan sadar, dan sewaktu-waktu subjek penelitian berhak menghentikan keikutsertaannya dalam penelitian dengan alasan apapun tanpa adanya kewajiban apapun. Subyek akan diinstruksikan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut bagi yang mengeluhkan gangguan penglihatan atau yang tidak berkacamata, sehingga dapat mengatasi kelainan refraksi yang mungkin dideritanya. Penelitian ini kemungkinan besar akan menimbulkan ketidaknyamanan fisik yang sangat minimal pada subjek karena ia hanya menjalani pemeriksaan mata dasar tanpa pengobatan apa pun.
Pemeriksaan sampel pada penelitian akan dilakukan oleh peneliti di bawah pengawasan dokter spesialis mata.
Alur Penelitian
Penelitian perbandingan perbedaan amplitudo akomodasi antara mata yang melakukan kerja jarak dekat terus menerus dan istirahat berkala dengan menggunakan aturan 20-20-20 dilakukan pada bulan Maret 2017 di National Eye Center Rumah Sakit Mata Cicendo. Hasil penelitian akan disajikan, meliputi karakteristik subjek dan hasilnya. Analisis perbandingan perbedaan amplitudo akomodasi mata setelah bekerja jarak dekat terus menerus dan dengan istirahat berkala. Hasil uji normalitas berdasarkan umur dan perbedaan amplitudo akomodasi sebelum dan sesudah close work dapat dijelaskan pada Tabel 4.2.
Uji normalitas dengan menggunakan uji Shapiro Wilks menunjukkan bahwa data variabel amplitudo akomodasi sebelum close work mempunyai distribusi tidak normal (p<0,05) sehingga akan dianalisis menggunakan uji non parametrik Mann Whitney. Data amplitudo akomodasi setelah melakukan pekerjaan di sekitar dan selisih amplitudo akomodasi sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan di sekitar kedua kelompok peneliti dibagi. Perbandingan perbedaan amplitudo akomodasi setelah close work pada kedua kelompok dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Hasil uji statistik dengan menggunakan uji t berpasangan menunjukkan bahwa secara statistik terdapat perbedaan amplitudo akomodasi setelah close work dan perbedaan amplitudo akomodasi pada kedua kelompok, dengan p-value < 0,05. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah perubahan amplitudo akomodasi mata yang bekerja berdekatan dengan istirahat berkala lebih kecil dibandingkan dengan mata yang bekerja berdekatan. Analisis yang dilakukan menunjukkan perbedaan hasil antara kedua kelompok, yaitu perubahan amplitudo akomodasi setelah kerja hati-hati dengan istirahat berkala menggunakan aturan 20-20-20 lebih kecil dibandingkan kerja kontinu.
Penelitian ini menemukan adanya penurunan amplitudo akomodasi pada kedua kelompok setelah penggunaan alat VDT selama 2 jam. Penelitian Park menunjukkan adanya penurunan amplitudo akomodasi setelah menatap monitor ponsel selama 30 menit.28. Penelitian ini menemukan bahwa penurunan amplitudo akomodasi terus terjadi pada kelompok jeda intermiten dengan menggunakan aturan 20-20-20.
Pengurangan amplitudo akomodasi pada kelompok dengan istirahat berkala lebih kecil dibandingkan pada kelompok yang melakukan pekerjaan jarak dekat secara terus menerus. Perbedaan amplitudo akomodasi setelah pekerjaan jarak dekat dengan istirahat sesekali menurut aturan 20-20-20 lebih kecil dibandingkan dengan pekerjaan jarak dekat terus menerus. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan berapa lama waktu istirahat terpendek yang diperlukan untuk menghindari penurunan amplitudo akomodasi yang signifikan pada individu yang melakukan pekerjaan jarak dekat.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
- Karakteristik Subjek Penelitian
- Uji Normalitas
- Perubahan Amplitudo Akomodasi
Uji Hipotesis
Pembahasan
Istirahat berkala dalam penelitian ini dilakukan dengan merangsang penglihatan pada suatu titik yang jauh (punctum remotum) dengan meminta subjek untuk melihat suatu benda yang berjarak 20 kaki atau lebih. Iwasaki menemukan bahwa gejala asthenopia akan berkurang dan tidak terjadi penurunan fungsi akomodatif dengan menstimulasi penglihatan pada titik jauh selama dua menit setelah subjek bekerja dekat selama 15 menit. Penelitian Omori membandingkan gejala asthenopia pada pengguna VDT yang mengalami jeda berkala pada rangsangan titik eksternal selama satu menit dan tanpa rangsangan.
Gejala asthenopia pada kelompok yang mendapat jeda dengan rangsangan titik jauh lebih ringan dibandingkan pada kelompok tanpa rangsangan. Otot siliaris akan berelaksasi sehingga mata tidak mengalami akomodasi pada saat proses melihat jauh sehingga akan mengurangi gejala asthenopia.5,29. Logaraj dan Agarwal menyatakan bahwa terdapat hubungan antara gejala penglihatan kabur dengan frekuensi istirahat intermiten.
Sementara penelitian Bhanderi tidak menemukan hubungan antara keluhan asthenopia dengan kebiasaan istirahat berkala. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk menilai pengaruh istirahat berkala terhadap fungsi akomodasi dan gejala asthenopia setelah bekerja jarak dekat dengan standar istirahat yang berbeda. Blehm dan Abelson merekomendasikan agar istirahat berkala dilakukan dua kali dalam satu jam dengan menggunakan perangkat VDT.
Penelitian McLean menemukan bahwa frekuensi siklus rata-rata sinyal mioelektrik lebih tinggi pada otot lurik yang bekerja sebentar-sebentar selama 20 menit dibandingkan otot yang bekerja terus menerus selama 40 menit. Beberapa penelitian lain melakukan istirahat dengan durasi yang berbeda-beda yaitu 1 menit, 2 menit, 5 menit, dan 15 menit. Pemadaman berkala dilakukan dalam jangka waktu singkat agar tidak mengganggu aktivitas atau produktivitas pengguna perangkat VDT.
Keterbatasan penelitian ini adalah adanya kemungkinan terjadinya bias pengukuran atau pengamat dalam proses pengukuran amplitudo akomodasi. Program Pendidikan Dokter Spesialis Mata, Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran-Pusat Mata Nasional, RS Mata Cicendo, Bandung. Peserta Temu Ilmiah INAPOSS 2016 Bandung, PERDAMI Jawa Barat - National Eye Center RS Mata Cicendo Bandung.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
Costa JCL da, Martins IB de S, Nóbrega LTA, Medeiros MON, Palitot LM, Dias MBC, et al. Effect of accommodation training on visual function of visual inspection workers and middle-aged people.