• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei di SMK Kesehatan Yahya Bima yang memiliki jumlah siswa kelas XA dan X B sebanyak 47 siswa. Kelas X Adijadikan sebagai kelompok eksperimendan kelas X B sebagai kelompok kontrol. Sebelum melakukan proses pembelajaran, peneliti memberikan prettest kepada kedua kelas ini untuk diuji kesamaan varian, yaitu tes menulis karangan narasi untuk mengetahui kemampuan awal siswa dalam menulis karangan narasi.

Dari hasil prettest tersebut kemudian dihitung oleh peneliti. Hasilnya menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum mampu menulis karangan narasi dengan baik dan benar.Setelah pemberian prettest dilakukan, kemudian pada pertemuan pertama di kelas eksperimen, guru memberikan penjelasan tentang materi yang akan dibahas dengan menerapkan metode menulis berantai.

Berdasarkan hasil penelitian perbedaan kemampuan siswa yang mengikuti pembelajaran menulis narasi antara siswa yang mengikuti pembelajaran menggunakan metode menulis berantai dengan siswa yang mengikuti pembelajaran tanpa menggunakan metode menulis berantai di SMK Kesehatan Yahya Bima bahwa pencapaian kemampuan menulis narasi siswa kelas X setelah menggunakan metode menulis berantai menunjukkan hasil yang cukup baik. Hal ini dibuktikan dengan nilai siswa di kelas eksperimen setelah penggunaan menulis berantai mayoritas termasuk dalam kategori cukup baik, yaitu sebanyak 18 siswa, kategori baik ada 6 siswa, dan tidak ada nilai siswa yang termasuk kurang. Hal ini

berarti bahwa siswa sudah cukup memiliki keahlian dalam menuangkan ide-ide cemerlang dan mengembangkannya menjadi sebuah narasi yang baik, sehingga dengan adanya metode berantai kemapuan menulis narasi siswa mengalami peningkatan.

Metode yang digunakan dalam penenlitian ini adalah Metode estafet writingyang bertujuan untuk melatih siswa menulis karangan melalui penerapan metode yang benar. Pembelajaran menulis karangan dengan menggunakan metode estafet writing sangat memotivasi siswa dalam belajar,hal tersebut hampir berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Dengan menulis secarabergantian siswa mampu menulis kalimat-kalimat yang imajinatif sehingga mampu meningkatkan motivasi siswa dalam mengembangkan imajinatif untuk menulis karangan dan menumbuhkan keberanian siswa untuk menuangkan gagasannya dalam menulis karangan.

Kondisi Awal Kemampuan menulis Narasi

Kondisi awal kemampuan menulis narasi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilihat dengan menggunakan pretest pada kedua kelompok tersebut.Siswa diminta menulis narasi untuk melihat kemapuan awal siswa sebelum diberi perlakuan. Dari hasil skor menulis narasi tersebut bahwa rata-rata ada pretest antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang tidak jauh berbeda, yaitu 52,2 untuk kelompok eksperimen dan 55,5 untuk kelompok kontrol. Oleh karena itu, dari hasil perhitungan tersebut dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa berada pada titik tolak yang sama. Hasil penulisan narasi awal

baik pada kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa masih rendah.

Rendahnya kemampuan menulis narasi siswa pada pretest yakni kesulitan menemukan ide, masih menceritakan sehari-hari atau pengalaman pribadi yang belum dikembangkan dengan unsur kesastraan, penggunaan bahasa belum membangun suasana, mengabaikan aspek mekanik penulisan.Kondisi awal kemampuan menulis narasi siswa kelompok eksperimen dapat dikatakan masih relatif rendah.Sebagian besar siswa mengambil tema cerita tentangkegiatan sehari- hari ataupengalaman pribadi siswa,misalnya menceritakan tentang liburan, lingkungan dan sebagainya.Hal itu dapat dilihat dari tema “liburan”, kemudian menceritakan pengalamannya saat liburan baik itu bersantai di rumah, jalan bersama teman-teman maupun yang lainnya.Selain itu, siswa belum bisa menciptakan keterkaitan antara paragraf yang satu dengan paragraf selanjutnya.

Kondisi lain yang muncul yaitu sebagian besar siswa tidak memperhatikan penggunaan diksi dan gaya bahasa yang menarik terlebih lagi kalimat tersebut berada di awal paragraf yang seharusnya tidak perlu lagi ada penjelasan utama dari karangan narasi tersebut seperti “liburan merupakan masa yang laing menyenagkan” dan “liburan sekolah memang mengasyikkan”. Selanjutnya merupakan kutipan karangan narasi siswa pada kondisi awal kemampuan menulis narasi berantai kelompok eksperimen.

Kutipan narasi siswa tersebut terlihat lebih ke penjelasan tentang arti, manfaat dari suatu liburan sekolah itu sendiri.Tema yang diambil yaitu tentang liburan sekolah.Kondisi tersebut menunjukkan bahwa siswa masih kesulitan

dalam menemukan ide cerita serta mengembangkannya menjadi sebuah narasi yang bersifat imajinatif.Oleh karena itu, mereka mengambil tema yang dekat dengan kehidupan mereka atau pengalaman yang pernah mereka alami.

Kondisi awal kelompok eksperimen tersebut dapat dikatakan masih jauh dari kriteria penulisan narasi.Hal ini didasari oleh kekurangan-kekurangan yang muncul pada hasil narasi siswa.Unsur-unsur penulisan narasi yang seharusnya ada, belum tersampaikan dengan baik.Seperti kesesuaian isi dengan judul atau tema, keruntutan cerita, dan ketepatan ejaan, belum ditemukan pada sebagian besar hasil narasi siswa pada tahap awal ini dan juga kesalahan-kesalahan dalam penulisan yang masih banyak ditemukan.

Kondisi Awal Kemampuan Menulis Narasi Siswa Kelompok Kontrol Kondisi awal kemapuan menulis narasi siswa kelompok kontrol tidak jauh berbeda dengan kelompok eksperimen, hasil narasi siswa dapat dikatakan masih sangat rendah.Sebagian besar siswa mengambil tema cerita dengan menceritakan kegiatan sehari-hari atau pengalaman pribadi dan belum dikembangkan dengan baik. Kondisi lain yang ditemukan adalah siswa yang belum bisa menyesuaikan cerita antara paragraf satu dengan paragraf selanjutnya dan belum memperhatikan unsur-unsur penulisan narasi. Pada dasarnya kekurangan-kekurangan teradapat hasil karangan narasi siswa pada kelompok kontrol ini, sama dengan yang terjadi pada kelompok eksperimen. Cerita yang ditulissiswa terkesan datar karena unsur- unsur penulisan narasi belum terlihat, seperti kesesuaian isi dengan judul atau tema, keruntutan cerita, dan ketepatan ejaan. Berikut ini merupakan kutipan hasil

tulisan siswa pada kondisi awal kemampuan menulis narasi siswa kelompok kontrol.

Kedua karangan narasi tersebut menunjukkan rendahnya kemampuan awal menulis siswa kelompok kontrol. Narasi tersebut cenderung masih terlihat masih

menceritakn pengalaman pribadi atau kehidupan sehari-hari dan belum dikembangkan dengan unsur kesastraan. Hal ini dapat dilihat dari judulnya yaitu

”Nasi goreng enak” dan kutipan berikut “selera makanku akan lumayan meninggi.

Namun kali ini jadi berbeda. Dan tumben kali ini aku makan tidak selahap biasanya.” Dari kondisi tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa masih kesulitan dalam menemukan ide cerita dan mengembangkan menjadi karangan narasi. Oleh karena itu, mereka mengambil tema yang dekat dengan kehidupan mereka.

Kondisi awal kelompok kontrol tersebut dapat dikatakan masih jauh dari kriteria penulisan narasi yang baik. Hal ini yang mendasari hasil narasi siswa pada umumnya sama dengan yang terjadi pada kelompok eksperimen. Unsur –unsur penulisan narasi yang seharusnya ada, belum tersampaikan dengan baik. Seperti kesesuaian isi dengan judul atau tema, keruntutan cerita, dan ketepatan ejaan, satu hal yang ditemukan dalam hasil narasi kelompok kontrol yaitu masih banyak ditemukan kesalahan- kesalahan atau kekurangan telitian pada tulisan dan tanda baca yang seharusnya diketahui oleh siswa kelas X SMK. Seperti yang terjadi pada kelompok eksperimen.

Perberdaan Kemampuan Menulis Narasi Kelompok Eksperimen Dan Kelompok Kontrol

Hasil pretestmenunjukkan tidak ada perbedaan tingkat kemampuan menulis narasi dengan metode berantai antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol (kedua kelompok berada pada titik tolak yang sama). Kelompok eksperimen dan kelompok kontrol masing- masing mendapat perlakuan yang sama yaitu dengan menerapkan proses pembelajaran secara konvensional dan

meminta siswa menulis narasi sesuai dengan kemampuan mereka. Hal ini bertujuan untuk melihat kemampuan dasar siswa dalam keterampilan menulis narasi.

Pretestkelompok eksperimen dan kelompok kontrol membuktikan bahwa kemampuan siswa dalam menulis narasi masih sama-sama rendah. Hal ini dapat dilihat dari tema yang diangkat masih seputar pengalaman pribadi penulis, hasil narasi siswa pada tahap pretest inimenggambarkan kemampuan dasar siswa dalam menulis narasi mereka yang masih rendah.

Kelas kontrol juga mendapat pembelajaran menulis narasi, namun dengan metode konvensiona atau tidak diberi perlakuan menggunakan metode pembelajaran tertentu. Hal ini memang sengaja dilakukan sebagai pembanding dari kelas eksperimen. Apakah ada perbedaan keterampilan menulis narasi antara kelas yang mendapatkan perlakuan dengan metode menulis berantai dan kelas yang tidak mendapatkan pembelajaran dengan metode konvensional.

Sebagai langkah akhir, dilakukan posttest pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol untuk mengetahui hasil akhir dari rangkaian pembelajaran menulis narasi yang telah dilakukan. Dengan melihat hasil posttest akan diketahui kemampuan siswa dalam menulis narasi antara kelompok eksperimen dan kelompok kontro. Postest yang diberikan pada masing-masing kelompok memiliki materi yang sama dengan pretest. Kelompok eksperimen mengalami peningkatan kemampuan menulis narasi yang cukup tinggi, sedangkan kelompok kontrol mengalami peningkatan yang lebih kecil.

Pada kelompok eksperimen, skor rata-rata pretest sebesar 52,2 dan skor postest sebesar 80,0. Pada kelompok kontrol, skor rata-rata prettest 55,5 dan skor rata-rata posttest sebesar73,5. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kelompok eksperimen mengalami peningkatan dalam menulis narasi yang lebih tinggi dari pada kelompok kontrol.

Berdasarkan hasil analisis nilai tes keterampilan menulis narasi siswa kelas X SMK Keseatan Yahya Bima semester genap tahun ajaran 2017/2018 yang telah dibagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol menunjukkan bahwa kedua kelas tersebut homogen. Setelah dilakukan pembelajaran pada kelompok eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran konvensional yang biasa guru lakukan dalam kegiatan pembelajaran terlihat bahwa hasil belajar kedua kelompok tersebut berbeda secara nyata. Selain diberi perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan tes keterampilan menulis narasi.

Pembelajaran ini dilakukan dalam 5 kali pertemuan yaitu 3 kali pertemuan untuk melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan metode estafet writing dan 2 kali pertemuan untuk melakukan pretest dan posttest.

Banyak siswa yang beranggapan bahwa pelajaran bahasa Indonesia terutama pembelajaran menulis narasi berantai seolah telah menjadi hal yang menakutkan bagi siswa. Guru berasumsi, pemahaman siswa terhadap kesesuaian isi dengan judul atau tema, keruntutan cerita, ketepatan ejaan itulah yang paling penting dicapai dalam pembelajaran menulis berantai. Berdasarkan hal tersebut, peran guru dibutuhkan untuk mengarahkan siswa sehingga pikiran, ideatau gagasan dapat disampaikan dengan baik dalam bentuk tulisan. Guru

perlumenggunakan model pembelajaran yang efektif untuk mendukung proses pembelajarannya. Adanya metode pembelajaran tersebut, diharapkan siswa lebih termotifasi untuk berkembang, lebih aktif dalam suatu kegiatan.Perlu dialakukan inofasi-inofasi pembelajaran yang mampu merangsang siswa untuk dapat mengikuti pembelajaran dengan penuh motifasi dan tingkat partisifasi yang tinggi, di samping pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki siswa.

Pembelajaran menulis karangan narasi dengan menggunakan metode menulis berantai merupakan salah satu proses kegiatan terarah untuk menuangkan ide atau gagasan ke dalam bentuk narasi yang memiliki ciri-ciri tertentu dengan menggunakan teknik pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Pada kelompok kontrol dengan menggunakan metode konvensional.Peran guru lebih aktif dari pada siswa dikarenakan guru lebih banyak menyampaikan materi sehingga guru menjadi pusat dalam pembelajaran. Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran menjadi kurang efektif karena metode pembelajaran iniberpusat kepada guru. Guru memberikan penjelasan tentang materi, mengelola dan mempersiapkan bahan ajar kemudian menyampaikan pada siswa. Siswa berperan pasif tanpa banyak melakukan kegiatan.Penggunaan metode konvensional lebih monoton dibandingkan dengan menggunakan metode estafet writing. Hal ini mengakibatkan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki siswa akan terbatas pada apa yang diberikan oleh guru.

Berdasarkan dari hasil penelitian dan pengolahan data dapat diketahui bahwa hasil tes keterampilan menulis narasi siswa kelompok eksperimen lebih

baik dibandingkan kelompok kontrol. Adanya perbedaan hasil belajar antara kelompok eksperimen diterapkan metode estafet writing, sedangkan dikelompok kontrol hanya diterapkan metode konvensional. Terbukti dalam hasil pengolahan data pada nilai posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang sudah dianalisis menunjukkan hasil yang signifikan yaitu 0,050> 0,05. Berarti perlakuan yang diterapkan pada kelompok eksperimen yaitu penggunaan metode etsafet writinghampir berpengaruh terhadap keterampilan menulis.

Hal ini juga ditunjukkan dalam nilai rata-rata pretest kelompok eksperimen 52,2, setelah diberi perlakuan dengan menggunakan metode estafet writing nilai rata-rata posttest kelompok eksperimen mengalami peningkatan menjadi 80,8.

Sedangkan hasil nilai rata-rata pretest kelompok kontrol 55,5 dan setelah diberi perlakuan dengan metode konvensional hasil nilai rat-rata posttest kelompok kontrol menjadi 73,5. Dari hasil perhitungan nilai rata-rata kelas eksperimen mengalami peningkatan 20 %, sedangkan kelas kontrol mengalami peningkatan 10 %.

Ihda Puthri Wilda dengan judul “Pengaruh Penerapan Metode Menulis Berantai terhadap Keterampilan Menulis Karangan Narasi di Kelas IV SD Islam Annajah, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan”. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka peneliti ini dapatdisimpulkan bahwa:

penggunaan metode menulis berantai berpengaruh terhadap keterampilan menulis karangan narasi siswa kelas IV. Hal ini dibuktikan dalam nilai rata-rata posttest kelompok eksperimen sebesar 74,9 dan nilai rata-rata posttest kelompok kontrol sebesar 67,8.

Dari penelitian diatasdapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan terlebih dahulu dan yang dilakukan sekarang sama-sama menggunakan metode Menulis Berantai terhadap Keterampilan menulis Karangan Narasi yang membedakan penelitian dulu menggunakan pada tingkat SD, sedangkan yang digunakan peneliti sekarang pada tingkat SMA.

Afni Aisyah Sihaloho dengan judul “PengaruhMetode Pembelajaran Menulis Berantai Terhadap Kemampuan Menulis Cerpen Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Sidamanik Tahun Pembelajaran 2012/2013. Dengan artinya penggunaan metodepembelajaranmenulis berantai berpengaruh lebih baik dalam meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa. M. Yunus (2008) menyatakan bahwa “Menulis merupakan suatu aktivitas menuangkan pikiran sistematis ke dalam bentuk tulisan atau kegiatan memikirkan, menggali dan mengembangkan suatu ide sambil menuliskannya”

Dari penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki persamaan sama-sama memiliki aspek menulis secara berantai.Sedangkan yang membedakan peneliti sekarang menggunakan metode menulis berantai terhadap keterampilan menulis karangan narasi, sedangkan peneliti sebelumnya menggunakan metode pembelajaran menulis berantai terhadap kemampuan menulis cerpen.

Siti Syarhariah (2008) dengan judul “ Menulis Berantai (estafet writing) sebagai Metode Inovatif dalam Pembelajar Menulis Cerpen di SMA Cendana Pekanbaru”. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian praeksperimental dengan jenis penelitian one-shot case study.Pada desain ini, subjek penelitian

diteliti pada satu waktu tertentu setelah pemberian beberapa perlakuan yang dianggap menyebabkan perubahan klausa. Adapun subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XII IPA 1, XII IPA 2, dan XII IPA 3 tahun ajaran 2007-2008 dengan jumlah peserta 195 orang.

Dari penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini memiliki persamaan karena keduanya memiliki aspek menulis dan yang membedakan peneliti sekarang menggunakan metode menulis berantai terhadap keterampilan menulis karangan narasi, sedangkan peneliti sebelumnya menggunakan menulis berantai (estafet writing) sebagai metode inovatif dalam pembelajar menulis cerpen.

Jadi dapat disimpulkan bahwa penggunaan metodeestafet writing yang dilakukan pada kelas eksperimen hampir berpengaruh terhadap keterampilan menulis narasi kelas X SMK Kesehatan Yahya Bima tahun ajaran 2017/2018.

59 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dari pembahasan disimpulkan bahwa metode estafet writing tidak berpengaruh terhadap peningkatan keterampilan menulis narasi siswa kelas X SMKKesehatan Yahya Bima Kecamatan Woha Kabupaten Bima tahun ajaran 2017/2018.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, saran dalam penelitian ini adalah:

1. Guru hendaknya menggunakan metode estafet writing sebagai salah satumetode alternatif dalam pembelajaran menulis narasi, karena metodeestafet writinghampir berpengaruh positif dalam meningkatkan keterampilanmenulis narasi siswa.

2. Pada penelitian selanjutnya dapat menggunakan lembar observasi danangket, untuk mengetahui ketercapaian proses pembelajaran dan persepsisiswa terhadap metode eksperimen.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2011. PenelitianPendidikan. Bandung: PT RemajaRosdaKarya Arikunto, Suharsimi. 1996. ProsedurPenelitian(SuatuPendekatanPraktik).

Jakarta: PT RinekaCipta.

Depdiknas.2001.Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta:

BalaiPustaka

Depdiknas. 2006. Kurikulum 2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaan. Jakarta:

Depdiknas.

Emzir.2012. Metodologi Penelitian Pendidikan Kuantitatif dan Kualikatif.Jakata:

PT. Raja GafindoPersada.

Kusumaningsih,Dewi,dkk.2013.Terampil Bebahasa Indonesia.Yogyakarta:

PenebitAndi.

Mardiansyah, Much.2014. Pembelajaan Menulis Pantun dengan Menggunakan Teknik Estafet Writing (Online (http://digilib.unpas.ac.id, diakses 07 januari 2018)

Margono, S. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: RinekaCipta Sumardi,Muljanto.1996. Berbagai Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa dan

Sastra.DalamPurwo, dkk (Ed). Jakarta PustakaSinarHarapan Syathariah, Sitti. 2011. Estafet Writing. Yogyakarta: Leutikaprio.

Tarigan, Henry, Guntur. 2013. MenulisSebagaiSuatuKeterampilanBerbahasa.

Bandung: PenerbitAngkasa.

Tim Penyusun FKIP Unismuh Makassar.2017.PedomanPenulisan proposal.

Makassar: Panrita Press.

Wilda, Putri. 2014.

PengaruhPenerapanMetodemenulisBerantaiterhadapKeterampilanMenuli sKaranganNarasi di Kelas IV SD Islam Annajah, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan.Skripsitidakditerbitkan. Jakarta: Universitas Islam NegeriSyarifHidayatullah.http://digilib.uin.ac.id.

Y.Budinuryanta,dkk.2008.Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Jakarta:

Universitas Terbuka

Yunus, M. dkk. 2008. Menulis I. Jakarta: Universitas Terbuka

Dalam dokumen pengaruh metode estafet writing terhadap (Halaman 52-65)

Dokumen terkait