• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 66-84)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Realita Sosial Pedagang Asongan di Terminal Mallengkeri Makassar Sempitnya lapangan pekerjaan khususnya pekerjaan sektor formal maka sekarang ini banyak sekali pekerja yang berada di sektor informal salah satunya bekerja di sektor yang mereka geluti yaitu berdagang kecil-kecilan dengan lebel pedagang asongan. Pedagang asongan merupakan salah satu pedagang kecil- kecilan. Daeng JR adalah seorang yang punya keinginan untuk bekerja keras walaupun hanya dengan modal yang kecil tetapi dia berusaha untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak-anaknya sehari hari.

Untuk menghadapi kesulitan dalam mencari pekerjaan salah satu alternatif yang diambil oleh para pencari kerja adalah di sektor informal. Pekerjaan sebagai pedagang Asongan di Terminal Mallengkeri Makassar merupakan salah satu bentuk usaha di bidang informal tersebut. Pekerjaan ini menjadi alternatif pilihan bagi beberapa perempuan di Terminal Mallengkeri Makassar. Seperti halnya

pekerjaan lainnya. Pekerjaan sebagai pedagang Asongan inipun memiliki karakteristik tersendiri.

Beragam aktifitas yang dilakukan oleh para pelaku pedagang asongan tersebut dengan mudah dapat dijumpai di kawasan Terminal Mallengkeri. Ketika kita memasuki kawasan terminal, kita sudah bisa menemui pedagang asongan di hampir setiap sudut terminal. Ada yang menjajakan jualan pedagang asongan di pinggiran terminal Mallengkeri.

Sebagian besar dari pedagang asongan berjualan di sepanjang badan jalan, trotoar, pasar, stasiun, di depan perkantoran, sekolah, kampus, di keramaian dan tempat-tempat yang paling sering dilalui oleh orang banyak. Hal ini tentu saja mengganggu ketertiban umum khususnya para pengguna jalan dan penumpang umum. Bahkan ada juga yang berkeliling dari rumah ke rumah, karena di tempat itulah cara paling gampang bagi pedagang asongan untuk berjualan dan mendapatkan uang. Berikut potret pedagang asongan di Terminal Mallengkeri berdasarkan latar belakang menjadi pedagang asongan, usia dan daerah asal.

Perkembangan Makassar yang begitu pesat membuat seluruh elemen kota harus ikut dalam laju pembangunan yang semakin cepat termasuk pertumbuhan jumlah penduduk. Sebagai kota yang menjadi barometer untuk wilayah Indonesia bagian timur, menyebabkan masyarakat berbondong-bondong untuk menetap. Semakin banyaknya jumlah penduduk berpengaruh terhadap jumlah masalah sosial di masyarakat.

Berkaitan dengan kondisi kebutuhan manusia atau masyarakat dalam kehidupan sosial demi mewujudkan kesejahteraan, Midgley (dalam Isbandi 2008:46) mendefinisikan kesejahteraan sosial sebagai sebagai suatu kondisi adalah suatu keadaan atau kondisi kehidupan manusia yang tercipta ketika berbagai permasalahan sosial dapat dikelola dengan baik, ketika kebutuhan

manusia/masyarakat dapat terpenuhi dan ketika kesempatan sosial dapat dimaksimalisasikan.

Dalam memenuhi segala kebutuhannya manusia/masyarakat melakukan beragam aktifitas yang dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kemudian Sebagian dari pedagang asongan adalah orang-orang yang tidak tertampung di pasar kerja yang mensyaratkan pendidikan sebagai syarat utama. Keadaan sosial ekonomi masyarakat yang tidak memadai serta pendidikan yang terbatas, membuat masyarakat harus berfikir bagaimana mempertahankan hidup. Dengan modal yang terbatas dan keterampilan yang masih terbilang minim menjadikan banyak orang memilih profesi sebagai pedagang asongan. Pedagang asongan yang berjualan di Terminal Mallengkeri memiliki jam kerja yang bervariasi.

2. Strategi Pedagang Asongan Dalam Mempertahankan Hidupnya

Keberadaan pedagang asongan seringkali dinilai mengganggu ketertiban umum dan karenanya seringkali ada upaya untuk mengeliminasi mereka dengan berbagai cara mulai dari operasi penertiban sampai penetapan aturan yang melarang eksistensi mereka. Terlepas dari masalah ketertiban umum dan efek- efek negatif lainnya dari pedagang asongan, harus dinilai juga secara berimbang peran pedagang asongan sebagai salah satu pelaku sektor ekonomi informal di Indonesia dalam penyerapan tenaga kerja dan stimulan terhadap muncul dan berkembangnya usaha mikro di Indonesia.

Yang paling menakjubkan dari pedagang asongan adalah ketabahan dan sifat pantang menyerahnya walaupun penghasilan yang diperoleh dari hasil keuntungan penjualan mereka sehari pun tidak seberapa, hanya dapat sekedar untuk bertahan hidup. Tak peduli cuaca panas, dingin ataupun hujan, tak peduli berapa banyak kemungkinan barang yang akan berhasil dijualnya, tak peduli kalau nanti bahkan barangnya tidak akan dilirik oleh satupun pembeli, setiap ada

kendaraan umum yang baru lewat, dengan sigap dan semangat, mereka akan langsung naik dan mencoba menjual.

Snel dan Staring dalam Resmi Setia (2005;6) mengemukakan bahwa strategi bertahan hidup adalah sebagai rangkaian tindakan yang dipilih secara standar oleh individu dan rumah tangga yang miskin secara sosial ekonomi.

Melalui strategi ini, seseorang bisa berusaha untuk menambah penghasilan lewat pemanfaatan sumber-sumber lain ataupun mengurangi pengeluaran lewat pengurangan kuantitas dan kualitas barang atau jasa.

Strategi yang dilakukan oleh pedagang asongan untuk tetap menjajakan barang dagangan salah satunya adalah startegi memilih lokasi. Ada beberapa tempat di kota Makassar yang menjadi lokasi kegiatan pedagang asongan. Salah satunya adalah Terminal. Terminal merupakan lokasi yang strategis bagi pedagang asongan karena merupakan salah terminal yang besar dikota makassar.

Kondisi ini menyebabkan Terminal Mallengkeri tidak pernah sepi dari pedagang asongan dan hal inilah membuat Terminal Mallengkeri sebagai lahan yang sangat menguntungkan bagi pedagang asongan yang sedang menjajakan barang dagangan.

Menurut kajian sosiologi ekonomi bahwa dalam masyarakat terdapat proses dan pola interaksi sosial dalam hubungannya dengan ekonomi. Hubungan dilihat dari sisi saling pengaruh-mempengaruhi. Masyarakat sebagai realitas eksternal-objektif akan menuntun individu melakukan kegiatan ekonomi seperti apa yang boleh diproduksi.

Semua orang perlu mengonsumsi pangan, sandang dan papan untuk bisa bertahan hidup. Oleh sebab itu manusia perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Selanjutnya yang dimaksud dengan fenomena ekonomi adalah gejala dari cara bagaimana orang atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka

terhadap jasa dan barang langka. Cara yang dimaksud disini adalah semua aktifitas orang dan masyarakat yang berhubungan dengan produksi, distribusi dan konsumsi barang-barang langka.

Hal tersebut, sejalan dengan asumsi teori struktural fungsional melalui pendapat Ralph Dahrendorf tentang asumsi dasar yang dimiliki oleh teori struktural fungsional yang mengatakan bahwa Setiap elemen dalam struktur memiliki fungsi, yaitu memberikan sumbangan pada bertahannya dilandaskan pada struktur itu sebagai suatu sistem dan setiap struktur yang fungsional dilandaskan pada suatu konsensus nilai diantara para anggotanya.

3. Semangat Kerja Dan Sikap Terhadap Pekerjaan

Semangat kerja merupakan perpaduan antara kegiatan fisik dan psikis yang saling mendukung, yang merupakan cermin dari suatu etos kerja yang baik maupun yang buruk. Semangat kerja dari pedagang Asongan tercermin dari harapan-harapan yang mereka bangun menjadi tujuan yang harus mereka raih dalam bekerja, serta usaha yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan tersebut.

Semangat dalam bekerja dikalangan pedagang Asongan dipengaruhi oleh lingkungan tempat bekerja serta kemampuan mereka dalam menjalankan pekerjaan sebagai pedagang Asongan tersebut.

Bekerja sebagai suatu kewajiban bagi mereka, dan semata-mata masih hanya untuk mencari makan atau nafkah. Tanpa bekerja otomatis pemasukan tidak ada dan berarti kebutuhan hidup keluarga tidak akan tercukupi. Seperti pada pedagang Asongan yang berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencari nafkah sangatlah memberikan sikap semangat kerja yang tinggi. Etika atau semangat kerja pada pedagang Asongan akan nampak apabila mereka sudah dihadapkan pada kebutuhan-kebutuhan sosial, kebutuhan rumah tangga, kebutuhan anak, atau dengan pekerjaannya. Untuk mengatasi berbagai kebutuhan tersebut, usaha yang

dilakukan oleh pedagang Asongan adalahikhtiar”,yaitu berusaha dengan segala upaya untuk dapat menghadapi kesulitan dalam berdagang Asongan untuk memanifestasikan segala usaha tersebut dengan tindakan mereka untuk tetap berdagang meskipun kondisi yang dihadapi tidak memungkinkan seperti hujan, atau hasil yang diperoleh sedikit, tetapi mereka tidak merasa putus asa dan tetap terus bekerja.

Dengan demikian meskipun dalam menjalani hidup atau bekerja mereka dihadapkan pada kesulitan dan masalah, tetapi wajib untuk berusaha dan terus aktif. Dengan bekerja itulah seluruh kebutuhan yang diinginkan akan terpenuhi.

Lingkungan kerja yang berupa aktivitas-aktivitas yang terjadi di Terminal Mallengkeri Makassar yaitu yang terjadi di tempat berdagang Asongan menjadi faktor yang mendorong semangat kerja bagi para pedagang Asongan. Situasi yang ramai karena dekat dengan pusat-pusat keramaian seperti kampus dan toko-toko besar membawa pengaruh terhadap tingkat keramaian di lokasi tempat berdagang.

Hal itu juga membawa pengaruh terhadap semangat kerja bagi para pedagang Asongan.

56 PENUTUP A. Simpulan

Pedagang asongan sebagai salah satu sektor informal berfungsi sebagai sektor alternative bagi para migran cukup memberikan sumbangan bagi pembangunan perkotaan. Selain membuka kesempatan kerja, kegiatan tersebut juga dapat meningkatkan pendapatan bagi masyarakat kota.

1. Pelaku sektor informal di terminal menjalakan rutinitasnya dengan berbagai profesi disebabkan karena adanya keterbatasan dalam aspek ekonomi keluarga sebagai faktor utama yang mendorong mereka memilih sektor informal menjadi lahan basah peruntungan ekonomi bagi mereka untuk bisa memenuhi kebutuhannya, dan bertahan hidup. Selain itu faktor lain yang menyebabkan seseorang menjadi pedagang asongan adalah faktor usia kerja, tidak adanya pendidikan yang lebih memadai dan tidak adanya pekerjaan lain.

2. Untuk menjaga kelangsungan usaha para pelaku sektor informal ada berbagai cara yang ditempuhnya. Modal usaha menjadi salah satu faktor penentu kelangsungan usaha pedagang asongan, strategi lokasi, pendapatan/keuntungan, kiat berjualan, waktu berjualan dan semangat pantang menyerah.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan yang telah diuraikan diatas maka dapat dikemukakan saran bahwa:

1. Sebaiknya kepada pihak Terminal agar memperlakukan pedagang asongan sebagai objek sekaligus subjek pembangunan, karena mereka adalah manusia yang mempunyai harkat dan martabat serta nilai tertentu, agar tidak sewenag- wenang dalam membinanya sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang yang pada akhirnya menjadi kegiatan ekonomi formal.

2. Bagi masyarakat yang bekerja di sektor formal seharusnya memberikan pengarahan dan pembinaan kepada para pedagang asongan agar tidak mengganggu tata tertib Terminal. Dengan banyaknya pedagang asongan yang tersebar disetiap sudut terminal, jika tidak ditertibkan dengan baik maka otomatis dapat mengganggu kenyamanan para pengguna terminal yang lain.

58

Alisjahbana. 2005. Sisi Gelap Perkembangan Kota. Yogyakarta : Laksbang PRESSindo.

Damsar. 2009. Pengantar Sosiologi Ekonomi. Jakarta : Kencana Prenata Media Group.

Faisal, Sanafiah, 2003. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Indrawati, Surachmi, 2009. Perempuan Di Sektor Informal. Universitas Sawerigading Makassar.

Isbandi R. Adi, 2008. Intervensi Komunita; Pengembangan Masyarakat Sebagai Upaya Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta : Rajawali.

Lawang, Robert M.Z. 1985. Pengantar Sosiologi. Jakarta : Karunika.

Manning, Chris dan Tadjuddin Noer Effendi. 1991. Urbanisasi, Pengangguran, dan Sektor Informal di Kota. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Maslow, Abraham. 2006. On Dominace, Self Aktualization Ann Kaplan : Mourice Besset.

Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2008. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : PT Kencana.

Roberto, Irvan 2008, Strategi Kelangsungan Hidup Anak-Anak Pedagang Asongan di Terminal Palopo, Skripsi Strata Satu Jurusan Sosiologi Unhas, Makassar.

Rustanto, Bambang. 2007. Peningkatan Kesejahteraan Komunitas Terpencil.

Jakarta.

Sajogyo, Pudjiwati. 1983. Peranan Wanita Dalam Perkembangan masyarakat Desa. Jakarta : Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, Rajawali.

Sethuraman, S.V. 1985. Sektor Informal di Negara Berkembang. Gramedia Jakarta.

Smelser, J. 1987. Sosiologi Ekonomi : Bahana Aksa.

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D . Bandung : Alfabeta.

Suharto, Edi. 2008. Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik. Jakarta : Alfabeta.

Sumanto, Kamto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta : Lembaga Penerbitan Universitas Indonesia.

Suyanto, Bagong. 2010. Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Miskin.

Jakarta : Universitas Erlangga.

Yunus , Auliya Insani. Potret Kehidupan Sosial Ekonomi Pedagang Kaki Lima di Kota Makassar ( Kasus Penjual Pisang Epe’ di Pantai Losari). Skripsi Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin, Makassar 2011.

https://maps.google.com. (diunduh 29 Januari 2015).

NO NAMA USIA PEKRJAAN ALAMAT PENDIDIKAN FORMAL

1. Bapak AD 43 Pedagang Asongan Jl. Mallengkeri SD

2. Bapak AT 50 Pedagang Asongan Jl.Dg. Tata SD

3. Daeng RU 33 Pedagang Asongan Jl.St. Alauddin SD

4. Daeng JR 45 Pedagang Asongan Gowa SD

5. Daeng SL 30 Pedagang Asongan Gowa SD

6. SI 19 Pedagang Asongan Jl. Mallengkeri SMP

7. IN 23 Pedagang Asongan Jl. Mallengkeri SMA

8. WD 21 Pedagang Asongan Jl. Mallengkeri SD

9. AN 25 Pedagang Asongan Jl. Mallengkeri SD

10. PI 22 Pedagang Asongan Jl. Mallengkeri SD

Terminal Malengkeri 26/12/2014.

Terminal Mallengkeri berlokasi dijalan mallengkeri dan jalan sultan alauddin kota makassar berfungsi sebagai terminal tipe B. Dan sebagai titik simpul pergantian transportasi angkutan umum bagi mobilitas masyarakat dikawasan selatan kota makassar.

Sebagai salah satu terminal bertipe B di Makassar, sehingga menjadikan terminal Mallengkeri tidak luput dari incaran para pelaku sektor informal untuk menjalankan aktifitasnya. Berbagai aktivitas di sektor informal menjadikan Teminal Mallengkeri sebagai lahan basah bagi pedagang asongan untuk menggantungkan hidupnya.

Mewawancarai Daeng JR, 24/12/2014.

Mewawancarai Bapak RU, 26/12/2014

Mewawancarai AN, 24/12/2014

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

Jl. Sultan Alauddin Tlp : (0411) 860132 Makassar 90221

GUIDELINE INTERVIEW

Jenis Kelamin :

Umur :

Agama :

Suku :

Pekerjaan :

1. Menurut bapak/ibu (i) bagai mana dampak yang dirasakan dengan banyaknya pelaku bisnis di sektor informal?

Jawab:

2. Menurut pendapat bapak/ibu (i) apakah dengan kurangnya lahan ada dampak yang di timbulkan ?

Jawab:

3. Menurut bapak/ibu (i) apakah Ada program pemerintah daerah untuk pelaku bisnis di sektor informal, termasuk pedagang asongan?

Jawab:

4. Menurut bapak/ibu (i) apakah keberadaan pedagang asongan dapat mengganggu ketertiban umum?

Jawab:

Jawab:

6. Apakah ibu/bapak (i) saat berjualan di bantu oleh keluarga atau teman anda?

Jawab:

7. Menurut ibu/bapak (i) berapa pendapatan yang didapat pada saat menjadi pedagang asongan di terminal mallengkeri ?

Jawab:

8. Apakah ibu/bapak (i) dengan pekerjaan ini sudah bisa memenuhi kebutuhan keluarga sepetri menyekolahkan anak anda?

Jawab:

9. Apakah ibu/bapak (i) barang dagangan yang di jual usaha/milik sendiri?

Jawab:

10. Menurut bapak/ibu (i) apakah anda setiap hari berjualan disini Jawab:

Dalam dokumen TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 66-84)

Dokumen terkait