• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Pada bagian ini akan dibahas hasil-hasil penilaian mengenai Pengembangan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Melalui Pendekatan Problem Posing Dalam Meningkatkan Kreativitas Siswa Kelas IV SD Inpres Belaka Desa Taeng Kab. Gowa dari siklus I ke siklus II dengan menggunakan analisis kuantitatif untuk data hasil belajar siswa, dan analisis kualitatif untuk data hasil observasi.

1. Paparan Data Siklus Pertama a. Tahap Perencanaan

Perencanaan tindakan dalam pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan problem posing pada siklus I disusun sebelum tindakan dilaksanakan. Peneliti terlebih dahulu menelaah kurikulum serta mempersiapkan materi pelajaran dalam hal ini materi pelajaran Pendidikan Agama Islam, setelah itu peneliti membuat lembar observasi dan evaluasi untuk melihat secara faktual sasaran teliti. Dalam penelitian ini, observasi dilakukan untuk melihat semua aktivitas siswa saat melaksanakan pembelajaran sedangkan evaluasi digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal Pendidikan Agama khususnya pada materi mengetahui ciri-ciri orang

49

munafik. Setelah mempersiapkan lembar observasi dan evaluasi, peneliti menyusun rencana pembelajaran yang dipersiapkan untuk dilaksanakan.

Rencana pelaksanaan pembelajaran dirancang agar relevan dengan kondisi siswa. Oleh karena itu, ditentukan upaya tindakan yang memiliki tujuh unsur pembelajaran yang meliputi; (1) indikator, (2) tujuan pembelajaran, (3) materi (uraian materi), (4) strategi pembelajaran (pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran), (5) langkah-langkah pembelajaran (kegiatan awal, inti, dan akhir), (6) sumber, alat, dan media pembelajaran, (7) penilaian.

Berdasarkan indikator tersebut, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah (1) dengan menerapkan pendekatan problem posing siswa dapat meningkatkan kreativitasnya.

Strategi (pendekatan, metode, dan teknik) pembelajaran yang digunakan adalah ceramah, pendekatan problem posing, tanya jawab, dan penugasan.

Ceramah digunakan guru pada kegiatan awal untuk membuka pembelajaran, menyampaikan tujuan pembelajaran, memberi motivasi, menyampaikan informasi dan tugas-tugas, mengorganisasikan kelas menjadi kelompok-kelompok kecil, dan menutup pembelajaran. Pendekatan problem posing digunakan ketika guru melakukan pembelajaran pada kegiatan inti.

b. Tahap Pelaksanaans

Adapun pelaksanaan tindakan pada siklus I ini berlangsung selama lima kali pertemuan dengan lama waktu setiap pertemuan adalah dua jam pelajaran.

Pertemuan I sampai IV diisi dengan kegiatan belajar mengajar dengan Pendekatan 50

problem posing, sedangkan pertemuan V diisi dengan pemberian tes siklus I dengan pokok bahasan ciri- orang munafik.

Pelaksanaan merupakan langkah kedua setelah perencanaan pembelajaran. Pada tahap ini, semua komponen yang telah dipersiapkan dan direncanakan diterapkan sesuai dengan prosedur pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan apabila pelaksanaannya disesuaikan dengan prosedur yang telah dipersiapkan. Rencana pembelajaran merupakan pedoman guru dalam mengajar di kelas. Jadi, sasaran pengamatan pada tahap ini tidak terlepas dari kehadiran rencana pembelajaran dan kenyataannya dalam proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan hal tersebut kegiatan belajar-mengajar difokuskan atas tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

Kegiatan awal. Pada kegiatan awal, guru memberi salam, menyapa, dan memberi arahan kepada siswa. Pengarahan yang disampaikan berupa penjelasan tentang seluruh aktivitas yang akan dilaksanakan selama kegiatan pembelajaran Agama Islam tentang materi mengenal ciri-ciri orang munafik. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama lima belas menit.

Kegiatan inti. Pada kegiatan inti, siswa diberikan buku cetak pendidikan Agama Islam untuk dibaca lalu siswa membuat soal terkait buku yang dibacanya kemudian siswa sendiri yang menjawab soal tersebut., sehingga membuka peluang kepada siswa untuk meningkatkan kreativitasnya dalam menjawab soal tersebut.

51

Kegiatan akhir. Pada kegiatan akhir, guru dan siswa mengadakan refleksi tentang proses dan hasil pembelajaran. Pada kegiatan refleksi, guru menanyakan kepada siswa tentang kendala yang dihadapi pada saat mengenaal ciri-ciri orang munafik dan memberikan solusi atau jalan keluar untuk menghadapi permasalahan tersebut.

c. Tahap Observasi dan Evaluasi

Pada tahap ini diperoleh data kuantitatif hasil tes ulangan harian siswa dan data kualitatif hasil observasi aktivitas siswa.

1. Hasil tes

Pada siklus ini dilaksanakan tes hasil belajar yang berbentuk ulangan harian.

Adapun analisis deskriptif skor perolehan siswa setelah diterapkan pendekatan pembelajaran problem posing pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1 Statistik Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus I Statistik Nilai statistik

Subjek 25

Skor ideal 100

Skor tertinggi 75

Skor terendah 50

Rentang skor 25

Skor rata-rata 61,96

Simpangan Baku 6,28

52

Pada tabel di atas menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa setelah diterapkan strategi pembelajaran pendekatan problem posing pada siklus I adalah 61,96 dari skor ideal 100, skor tertinggi 75, skor terendah 50 dan simpangan baku 6,28 dengan rentang skor 25 yang berarti hasil belajar yang dicapai siswa kelas IV SD Inpres Belaka Desa Taeng tersebar dari skor terendah 50 sampai skor ideal 100. Jika skor hasil belajar siswa tersebut dikelompokkan ke dalam empat kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase seperti disajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.2 Statistik Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siswa untuk Siklus I

No. Kategori Rentang Nilai Frekuensi Persen (%)

1 Sangat Baik 85-100 0 0

2 Baik 70-84 4 16

3 Kurang 60-69 16 64

4 Sangat Kurang 0-59 5 20

Jumlah 25 100

53

Berdasarkan tabel 3.4 hasil tes belajar siswa siklus I tampak bahwa kemampuan belajar siswa dengan Pendekatan Problem Posing kelas IV SD Inpres Belaka Desa Taeng adalah dalam kategori kurang. Adapun rincian data tersebut dijelaskan sebagai berikut. Dari jumlah keseluruhan 25 siswa, kategori sangat kurang dengan skor 0-59 masih terdapat 5 siswa atau 20%. Kategori kurang dengan skor 60-69 dicapai oleh siswa sebanyak 16 atau 64%. Kategori baik dengan skor 70-84 dicapai oleh 4 siswa atau 16%. Sedangkan, siswa yang mencapai kategori sangat baik dengan skor 85-100 belum ada.

Apabila kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal pada tes siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada tes siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Ketuntasan Belajar Siswa pada Tes Siklus I

Skor Kategori Frekuensi

Persentase (%)

0-69 Tidak Tuntas 21 84

70-100 Tuntas 4 16

Jumlah 25 100

54

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa pada tes siklus I, persentase ketuntasan siswa sebesar 16% yaitu hanya 4 dari 25 siswa yang mengikuti tes yang tuntas, sedangkan 84% lainnya termasuk dalam kategori tidak tuntas. Artinya, dari 25 siswa yang mengikuti tes siklus I, hanya 4 orang yang tuntas.

Hasil penilaian pada siklus I menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam belajar masih kurang. Hal tersebut dapat dilihat dari skor rata-rata yang diperoleh siswa yakni 61,96 dengan persentase ketuntasan hanya mencapai 16% atau dari 25 orang siswa yang mengikuti tes hanya 4 orang siswa yang tuntas. Artinya Pendekatan Problem Posing ini masih perlu ditingkatkan lagi, karena sebagian besar siswa belum terlalu menguasai cara membuat soal dan menjawab soal tersebut.

Ketidak mampuan siswa dalam membuat soal diakibatkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal, yaitu siswa belum termotivasi betul untuk mengikuti pelajaran sehingga tidak memperhatikan secara keseluruhan materi yang disampaikan oleh guru. Terpakunya pembelajaran pada penugasan secara tertulis juga mengakibatkan siswa menjadi agak bosan untuk mengikuti pelajaran, untuk itu perlu diadakan perbaikan pada siklus II dengan perlakuan yang berbeda.

2. Data aktivitas siswa pada siklus I

Data aktivitas siswa pada siklus I diperoleh melalui hasil pengamatan aktivitas dan sikap siswa selama proses pembelajaran di setiap pertemuan.

Adapun deskripsi aktivitas siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut:

55

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Aktivitas dan Sikap Siswa pada Siklus I

N o

Komponen yang diamati S I K L U S I

Pertemuan Ke-

E V A L U A S I

S I K L U S I

Rata- Rata

Persentase 1 II III IV (%)

1. Jumlah siswa yang hadir 25 24 23

25 24,25 97

2. Siswa yang memperhatikan pelajaran

4 10 23 25 43,25 62

3. Siswa yang aktif dalam proses pembelajaran

15 17 22 24 60 78

4. Siswa yang aktif bertanya 6 6 7 8 21 27

5. Siswa yang membuat soal dengan benar dan sesuai dengan hasil yang diamati

15 16 16 15 50 62

6. Siswa yang masih perlu bimbingan dalam membuat soal

12 11 13 11 38,75 47

7. Siswa yang kurang percaya diri dalam membuat soal

15 12 10 8 39 45

8. Siswa yang melakukan aktifitas yang negatif pada proses pembelajaran (mengganggu teman)

4 4 5 5 14,25 18

Berdasarkan tabel di atas, di peroleh data bahwa dari 25 siswa kelas IV SD Inpres Belaka pada siklus I, siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran

56

berlangsung sebanyak 97%, siswa yang memperhatikan pelajaran sebanyak 62%, siswa yang aktif dalam proses pembelajaran 78%, siswa yang aktif bertanya 27%, Siswa yang yang membuat soal dengan benar dan sesuai dengan hasil yang diamati sebanyak 62%, siswa yang masih perlu bimbingan dalam membuat soal sebanyak 47%, siswa yang kurang percaya diri dalam membuat soal sebanyak 45%, Siswa yang melakukan aktifitas yang negatif pada proses pembelajaran (mengganggu teman) sebanyak 18%. Hasil observasi mengenai aktivitas siswa pada siklus I ini akan menjadi bahan refleksi pada siklus II.

d. Hasil Refleksi

Pada siklus I, aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar masih kurang. Sebagian besar siswa belum terlalu menguasai membuat soal dan menjawab soal tersebut.

Ketidak mampuan siswa dalam dalam membuat soal dan menjawab soal tersebut diakibatkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal, yaitu siswa belum termotivasi betul untuk mengikuti pelajaran sehingga lebih cenderung untuk bermain-main dan tidak memperhatikan secara keseluruhan materi yang disampaikan oleh guru. Terpakunya pembelajaran pada penugasan secara tertulis juga mengakibatkan siswa menjadi agak bosan untuk mengikuti pelajaran.

Berdasarkan hal tersebut, penulis merasa perlu ada tindakan baru yang dilakukan untuk mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut. Dalam hal ini, guru dan peneliti merancang pembelajaran baru, yaitu dengan pendekatan

57

problem posing dalam meningkatkan kreativitas siswa dengan menambahkan metode baru di dalamnya.

2. Paparan Data Siklus Kedua a. Tahap Perencanaan

Perencanaan tindakan dalam pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan problem posing pada siklus II disusun sebelum tindakan dilaksanakan. Peneliti terlebih dahulu menelaah kurikulum serta mempersiapkan materi pelajaran dalam hal ini materi pelajaran ciri-ciri orang munafik, setelah itu peneliti membuat lembar observasi dan evaluasi untuk melihat secara faktual sasaran teliti. Dalam penelitian ini, observasi dilakukan untuk melihat semua aktivitas siswa saat melaksanakan pembelajaran sedangkan evaluasi digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam membuat soal- soal pendidikan Agama Islam khususnya dalam pembelajaran ciri-ciri orang munafik. Setelah mempersiapkan lembar observasi dan evaluasi, peneliti menyusun rencana pembelajaran yang dipersiapkan untuk dilaksanakan.

Rencana pelaksanaan pembelajaran dirancang agar relevan dengan kondisi siswa. Oleh karena itu, ditentukan upaya tindakan yang memiliki tujuh unsur pembelajaran yang meliputi; (1) indikator, (2) tujuan pembelajaran, (3) materi (uraian materi), (4) strategi pembelajaran (pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran), (5) langkah-langkah pembelajaran (kegiatan awal, inti, dan akhir), (6) sumber, alat, dan media pembelajaran, (7) penilaian.

58

Berdasarkan indikator tersebut, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai adalah (1) siswa dapat membuat soal berdasarkan buku cetak berdasarkan kreativitasnya, (2) dengan mengamati buku cetak, siswa dapat menentukan soal yang ingin dibuat, (3) dengan membuat soal dan menjawab soal yang di buatnya maka siswa dapat meningkatkan kreativitasnya dalam belajar.

Strategi (pendekatan, metode, dan teknik) pembelajaran yang digunakan adalah ceramah, pendekatan problem posing, tanya jawab, dan penugasan.

Ceramah digunakan guru pada kegiatan awal untuk membuka pembelajaran, menyampaikan tujuan pembelajaran, memberi motivasi, menyampaikan informasi dan tugas-tugas, mengorganisasikan kelas menjadi kelompok-kelompok kecil, dan menutup pembelajaran.

b. Tahap Pelaksanaan

Adapun pelaksanaan tindakan pada siklus II ini berlangsung selama lima kali pertemuan dengan lama waktu setiap pertemuan adalah dua jam pelajaran.

Pertemuan I sampai IV diisi dengan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan pendekatan problem posing, sedangkan pertemuan V diisi dengan pemberian tes siklus II dengan pokok bahasan ciri-ciri orang munafik.

Pelaksanaan merupakan langkah kedua setelah perencanaan pembelajaran. Pada tahap ini, semua komponen yang telah dipersiapkan dan direncanakan diterapkan sesuai dengan prosedur pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan apabila pelaksanaannya disesuaikan dengan 59

prosedur yang telah dipersiapkan. Rencana pembelajaran merupakan pedoman guru dalam mengajar di kelas. Jadi, sasaran pengamatan pada tahap ini tidak terlepas dari kehadiran rencana pembelajaran dan kenyataannya dalam proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan hal tersebut kegiatan belajar-mengajar difokuskan atas tiga kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.

Kegiatan awal. Pada kegiatan awal, guru memberi salam, menyapa, dan memberi arahan kepada siswa. Pengarahan yang disampaikan berupa penjelasan tentang seluruh aktivitas yang akan dilaksanakan selama kegiatan membagikan buku cetak dan membuat soa lalu menjawab soal yang dibuatnya. Kegiatan tersebut dilaksanakan selama lima belas menit.

Kegiatan inti. Pada kegiatan inti, siswa diberikan tugas untuk membuat soal dan menjawab soal yang dibuatnya, sehingga siswa mampu meningkatkan kreativitasnya dalam membuat soal.

Sebelum memasuki tahap pembuatan soal siswa terlebih dahulu diberikan buku cetak untuk membuat soal dan menjawab soal tersebut, setelah itu siswa diberikan kesempatan untuk membuat soal dan menjawab soal hasil temuannya dalam berfikir. Guru selaku pendidik memandu dan membantu siswa yang mengalami kesulitan membuat soal dan menjawab soal yang dibuatnya.

Setelah tugas membuat soal dan menjawab soal selesai, guru menerapkan metode kunjung karya, yakni memberikan kesempatan kepada siswa atau peserta didik untuk saling melihat hasil karyanya masing-masing. Siswa berjalan mengamati

60

hasil karya temannya (siswa yang berkunjung bertanya, memberikan komentar dan saran, sementara pihak yang dikunjungi menjawab, menanggapi komentar dan saran secara produktif). Tujuan diterapkannya metode kunjung karya ini, agar siswa mampu mengetahui kekurangan dan kelebihan dalam membuat soal masing-masing.

Tahap terakhir dari kegiatan inti adalah tahap penyajian. Tahap penyajian ini berupa pembacaan soal di depan kelas. Sebelum memulai kegiatan pembacaan soal, diberikan kesempatan kepada yang lain untuk membaca dan memahami soal yang telah mereka buat. Sebagai pemodelan dalam membuat soal, salah seorang siswa diminta untuk membacakan soal yang dibuatnya di depan kelas. pada saat pembacaan soal berlangsung, siswa lain disarankan untuk mengamati dan memberikan tanggapan terhadap soal yang dibuat siswa. Guru memberikan komentar dan penilaian cara membuat soal dan menjawab soal yang dibuatnya. Dengan pemodelan dan pengarahan yang diberikan, masing-masing siswa berlatih membuat soal yang telah ditulisnya. Pengaturan giliran untuk naik didepan kelas untuk pembacaan soal yang dibuastnya dan ditawarkan kepada siswa. Berdasarkan kesepakatan, diatur giliran secara acak dengan menyebutkan nomor absensi siswa. Setiap siswa yang selesai membacakan soal yang dubuatnya, guru memberikan penguatan. Sementara itu, siswa yang lain memberikan tepuk tangan.

Kegiatan akhir. Pada kegiatan akhir, guru dan siswa mengadakan refleksi tentang proses dan hasil pembelajaran. Pada kegiatan refleksi, guru menanyakan kepada siswa tentang kendala yang dihadapi pada saat soal dan memberikan

61

solusi atau jalan keluar untuk menghadapi permasalahan tersebut.

c. Tahap Observasi dan Evaluasi

Pada tahap ini diperoleh data kuantitatif hasil tes ulangan harian siswa dan data kualitatif hasil observasi aktivitas siswa.

1. Hasil tes

Pada siklus ini dilaksanakan tes hasil belajar yang berbentuk ulangan harian.

Adapun analisis deskriptif skor perolehan siswa setelah diterapkan melalui pendekatan problem posing selama siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.5 Statistik Skor Hasil Belajar Siswa pada Siklus II Statistik Nilai statistik

Subjek 25

Skor ideal 100

Skor tertinggi 95

Skor terendah 60

Rentang skor 35

Skor rata-rata 99,28

Simpangan Baku 9,98

62

Pada tabel di atas menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa setelah diterapkan pendekatan problem posing pada siklus II adalah 99,28% dari skor ideal 100, skor tertinggi 95, dan skor terendah adalah 60 dengan rentang skor 35 yang berarti hasil belajar siswa yang dicapai siswa kelas IV SD Inpres Belaka Desa Taeng tersebar dari skor terendah 60 sampai skor ideal 100. Jika skor hasil belajar siswa tersebut dikelompokkan ke dalam empat kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase seperti disajikan pada tabel berikut:

[

Tabel 4.6 Statistik Frekuensi dan Persentase Skor Hasil Belajar Siswa untuk Siklus II

No. Kategori Rentang Nilai Frekuensi Persen (%)

1 Sangat Baik 85-100 19 76

2 Baik 70-84 4 16

3 Kurang 60-69 2 8

4 Sangat Kurang 0-59 0 0

Jumlah 25 100

Berdasarkan tabel 3.9 hasil tes keterampilan menulis puisi siswa pada siklus II tampak bahwa kemampuan belajar siswa kelas VI SD Inpres Belaka Desa Taeng telah mengalami peningkatan yaitu dalam kategori sangat baik. Adapun rincian

63

data tersebut dijelaskan sebagai berikut. Dari jumlah keseluruhan 25 siswa, sudah tidak ada seorang siswapun yang termasuk dalam kategori sangat kurang dengan skor 0-59. Kategori kurang dengan skor 60-69 dicapai oleh siswa sebanyak 2 siswa atau 8%. Kategori baik dengan skor 70-84 dicapai oleh 4 siswa atau 16%, sedangkan siswa yang mencapai kategori sangat baik atau dengan skor 85-100 dicapai oleh 19 siswa atau 76%.

Apabila kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal pada tes siklus II dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada tes siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Ketuntasan Belajar Siswa pada Tes Siklus II

Skor Kategori Frekuensi

Persentase (%)

0-69 Tidak Tuntas 2 8

70-100 Tuntas 23 92

Jumlah 25 100

Dari tabel di atas menunjukkan bahwa pada tes siklus II, persentase ketuntasan siswa sebesar 92% yaitu 23 dari 25 siswa yang mengikuti tes sudah tuntas,

64

sedangkan 8% lainnya termasuk dalam kategori tidak tuntas. Artinya, dari 25 siswa yang mengikuti tes siklus II, sebagian besar sudah masuk kategori tuntas.

Berdasarkan hasil tes yang telah dilaksanakan pada siklus II menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam dalam belajar sudah meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari skor rata-rata yang diperoleh siswa yakni 99,28% dengan persentase ketuntasan 92% atau dari 25 orang siswa yang mengikuti tes 23 orang siswa sudah tuntas, dibandingkan dengan hasil tes siklus I yang hanya memperoleh skor rata-rata 61,96 dengan persentase ketuntasan hanya mencapai 16% atau dari 25 orang siswa yang mengikuti tes hanya 4 orang siswa yang tuntas. Artinya siswa yang mampu membuat soal dan menjawab soal tersebut meningkat dengan menggunakan pendekatan problem posing.

2. Data aktivitas siswa pada siklus II

Data aktivitas siswa pada siklus II diperoleh melalui hasil pengamatan aktivitas dan sikap siswa selama proses pembelajaran di setiap pertemuan.

Adapun deskripsi aktivitas siswa pada siklus II dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Aktivitas dan Sikap Siswa pada Siklus II

N o

Komponen yang diamati S I K

Pertemuan Ke-

E V A

Rata- Rata

Persentase 1 II III IV (%)

1. Jumlah siswa yang hadir 25 23 25 25 24,5 98

2. Siswa yang memperhatikan pelajaran

20 23 25 25 23,25 93

65

3. Siswa yang aktif dalam proses pembelajaran

L U S I

19 22 25 25 L U A S I

S I K L U S I

22,75 91

4. Siswa yang aktif bertanya 8 10 15 20 13,25 53 5. Siswa yang membuat soal

dengan benar sesuai dengan hasil yang diamati

16 19 20 23

19 78

6. Siswa yang masih perlu bimbingan dalam membuat soal

12 11 11 10 11 36,66

7. Siswa yang kurang percaya diri dalam membuat soal

12 12 11 10 11,25 37,5

8. Siswa yang melakukan aktifitas yang negatif pada proses pembelajaran (mengganggu teman)

2 1 1 - 1 3,33

Berdasarkan tabel di atas, di peroleh data bahwa dari 25 siswa kelas IV SD Inpres Belaka Desa Taeng pada siklus II, siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung sebanyak 98%, siswa yang memperhatikan pelajaran sebanyak 93%, siswa yang aktif dalam proses pembelajaran 91%, siswa yang aktif bertanya 53%, siswa yang membuat soal dengan benar sesuai dengan hasil yang diamati 78%, siswa yang masih perlu bimbingan dalam membuat soal sebanyak 36,66%, siswa yang kurang percaya diri dalam membuat soal sebanyak 37,5%, Siswa yang melakukan aktifitas yang negatif pada proses pembelajaran (mengganggu teman) sebanyak 3,33%.

66

d. Hasil Refleksi

Pada siklus II, aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sudah menunjukkan kemajuan dibandingkan siklus I. Hal ini terlihat dari antusias siswa yang tinggi dalam mengikuti pelajaran,membuat soal dan menjawab soal yang dibuatnya, sesuai dengan hasil yang diamati. Pada siklus II, hampir semua siswa aktif dalam proses pembelajaran, meskipun masih ada beberapa siswa yang masih kesulitan untuk membuat soal dan menjawab soal yang dibuatnya.

Nilai hasil belajar siswa setelah pemberian tes pada siklus II sudah menunjukkan peningkatan. Hal ini terlihat dari nilai rata-rata yang diperoleh jauh lebih tinggi dibandingkan siklus I. Demikian pula dengan persentase ketuntasan yang meningkat hampir dua kali lipat. Hal ini dikarenakan pembelajaran pada siklus II lebih baik daripada siklus I sehingga materi yang diajarkan lebih terserap. Selain itu, siswa juga lebih antusias dan termotivasi mengikuti pelajaran khususnya dalam pembelajaran pendidikan Agama Islam dengan adanya pendekatan problem posing dalam meningkatkan kreativitas siswa.

Seperti yang telah kita ketahui bahwa Pendidikan agama islam adalah salah satu mata pelajaran yang diarahkan untuk menyiapkan peserta didik mengenal, memahami, menghayati dan mengamalkan hukum islam yang kemudian menjadi dasar kehidupan manusia melalui kegiatan, pengajaran, pengamalan dan pembiasaan.

Salah satu pokok pada mata pelajaran pendidikan agama islam adalah siswa mampu memahami, mengetahui dan mengamalkan setiap apa yang di sampaikan

67

oleh guru pendidikan agama islam itu sendiri, dengan begitu guru harus memberikan metode kepada siswa agar siswa mampu memahami setiap apa yang di sampaikan, Dengan model pembelajaran problem posing salah satu alternatif model pembelajaran dengan karakteristik pembelajaran yang menuntut keaktifan peserta didik melalui kegiatan elaborasi yang melatih peserta didik dalam mengindentifikasi setiap unsur-unsur yang terkait dengan materi. Dengan pendekatan problem posing peserta didik diminta mengajukan sebuah soal yang mungkin berbentuk peryataan yang diajukan oleh guru, dengan pendekatan problem posing siswa dapat berfikir kritis karna siswa mampu mencari masalah lalu memecahkannya sendiri, dengan problem posing siswa dapat mengajukan sebuah masalah terhadap pembelajaran pendidikan agama islam itu sendiri.

Pada tabel 4.1 dan tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa skor rata-rata yang diperoleh siswa pada tes siklus I adalah 61,96 dengan ketuntasan 16%, ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam memuat soal masih kurang dan perlu untuk ditingkatkan. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar siswa belum terlalu memahami cara membuat soal karna metode sebelumya tdk terlalu efektif.

Ketidak mampuan siswa dalam membuat soal dan mejawab soal yang dibuatnya diakibatkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal, yaitu siswa belum termotivasi betul untuk mengikuti pelajaran sehingga tidak memperhatikan secara keseluruhan materi yang disampaikan oleh guru. Terpakunya pembelajaran pada penugasan secara tertulis juga mengakibatkan siswa menjadi agak bosan untuk mengikuti pelajaran. Karena nilai rata-rata yang dicapai oleh siswa pada 68

Dokumen terkait