PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka penulis merumuskan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: Bagaimana mengembangkan pengajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) melalui pendekatan pemecahan masalah untuk meningkatkan kreativitas siswa di SD Inpres Belaka , desa Taeng.
Manfaat Penelitian
TINJAUAN TEORITIS
Kreativitas Siswa
Menurut Munandar, kreativitas adalah kemampuan seseorang dalam melahirkan sesuatu yang baru baik berupa gagasan atau karya nyata yang relatif berbeda dengan yang telah ada sebelumnya.24 Lebih lanjut Utami Munandar menegaskan bahwa kreativitas sebagai keseluruhan kepribadian merupakan hasil interaksi. dengan lingkungan. Drevdal mengartikan kreativitas sebagai kemampuan menghasilkan komposisi dan gagasan baru yang dapat berbentuk aktivitas imajinatif sintetik yang melibatkan kekuatan. Kreativitas adalah proses menantang ide-ide yang diterima dan cara melakukan sesuatu untuk menemukan solusi atau konsep baru.28 Menurut Suryosubroto, kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru, baik berupa ide atau karya nyata, berupa bakat dan sifat-sifat non-kecenderungan, pada karya baru atau kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada yang relatif berbeda dengan yang sudah ada.29.
Semakin jauh timbal balik unsur-unsur kombinasi baru, maka semakin kreatif pula proses pemecahan masalah tersebut.30 Menurut Guilford, kreativitas adalah pemikiran divergen yang menekankan pada aktivitas mencari jawaban melalui kebebasan berpikir, menyebar ke berbagai arah untuk menemukan jawaban yang berbeda. alternatif. jawaban atas suatu masalah. Dari sumber-sumber di atas dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan orisinal berdasarkan imajinasinya, atau untuk menemukan beberapa alternatif jawaban terhadap suatu permasalahan. Menurut Guilford yang dikutip Munandar, ia membagi ciri-ciri anak yang dapat menunjang kreativitas menjadi dua bagian, yaitu: 42 ciri-ciri bakat.
Ciri-ciri berupa bakat/bakat, sikap kreatif (creative sikap) seperti kefasihan, keluwesan, keluwesan atau keluwesan, dan orisinalitas dalam berpikir, ciri-ciri bakat//bakat, sikap kreatif hendaknya dikembangkan sejak dini pada masa kanak-kanak. anak mempunyai potensi kreatif yang dapat berkembang secara optimal. Hasil penelitian Silver dan Chai menunjukkan bahwa kemampuan bertanya berkorelasi positif dengan kemampuan memecahkan masalah.43 Dengan demikian, kemampuan bertanya sejalan dengan tujuan pembelajaran di sekolah sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar dan dapat meningkat. kreativitas siswa. .
Materi Pembelajaran PAI
Terjemahan: Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: "Kami telah beriman". Maka tatkala mereka kembali kepada syaitan-syaitan (pemimpin-pemimpin) mereka, mereka berkata: "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanyalah bergurau senda". (Q.S. Al-Baqarah:14). Apa yang keluar dari mulutnya tidak sama dengan isi hatinya. Sifat ketiga ini muncul sebagai kesinambungan daripada dua sifat di atas iaitu sifat sering berbohong dan mungkir janji.
Jika menerima amanat, maka itu adalah khianat, munafik adalah penyakit rohani yang sangat berbahaya dan akan membawa kerugian kepada diri sendiri dan orang lain. Orang yang mengandung, warga emas atau menyusukan anak wajib membayar fidia. a) sebagai tanda mensyukuri nikmat yang Allah berikan, puasa Ramadhan mendidik manusia untuk sentiasa mensyukuri nikmat Allah. Dengan berpuasa, kita melatih jiwa agar sentiasa mengingati nikmat yang telah diberikan.
Kami tidak akan makan dan tidak minum sebelum berbuka, walaupun tidak ada yang melihatnya. Ia mengingatkan kita tentang bagaimana rasanya menahan lapar dan dahaga untuk merasainya.
Kerangka Pikir
Untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa, guru harus memahami dan menyesuaikan tugasnya, memilih pendekatan yang sesuai dengan keadaan siswa, dan harus mengetahui permasalahan yang dihadapi siswa yang menyebabkan rendahnya kemampuan pemecahan masalah siswa. Diharapkan setelah menggunakan pendekatan problem setting, kemampuan pemecahan masalah siswa dapat meningkat dan dapat menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan nyata. Berdasarkan kajian teori di atas maka hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “Pengembangan pembelajaran agama Islam melalui pendekatan problem pose dalam meningkatkan kreativitas siswa kelas IV SD Inpres Belaka Desa Taeng dapat berkembang dan meningkat.”
METODE PENELITIAN
- Lokasi dan Subyek Penelitian
- Faktor yang Diselidiki
- Prosedur Penelitian
- Instrumen Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Indikator Keberhasilan
Perencanaan tindakan dalam pengembangan Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan rumusan masalah pada siklus I disusun sebelum tindakan dilaksanakan. Berdasarkan tabel diatas diperoleh data bahwa dari 25 siswa kelas IV SD Inpres Belaka pada siklus I siswa hadir pada saat kegiatan pembelajaran. Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I akan menjadi bahan refleksi pada siklus II.
Perencanaan tindakan dalam pengembangan pembelajaran pendidikan agama Islam melalui pendekatan pemecahan masalah pada siklus II disusun sebelum tindakan dilaksanakan. Guru sebagai tutor membimbing dan membantu siswa yang mengalami kesulitan menulis soal dan menjawab soal yang dibuatnya. Tabel diatas menunjukkan bahwa rata-rata skor hasil belajar siswa setelah diterapkan pendekatan pemecahan masalah pada siklus II sebesar 99,28% dari skor ideal 100, skor tertinggi 95 dan skor terendah 60 dengan rentang skor 35 , yang berarti hasil belajar siswa baik. yang dicapai siswa kelas IV SD Inpres Belaka Desa Taeng berkisar dari nilai terendah 60 hingga nilai ideal 100.
Berdasarkan tabel 3.9 hasil tes keterampilan menulis puisi siswa pada siklus II terlihat bahwa kemampuan belajar siswa kelas VI SD Inpres Desa Belaka Taeng mengalami peningkatan yaitu pada kategori sangat baik. Berdasarkan hasil tes yang dilakukan pada siklus II menunjukkan bahwa kemampuan belajar siswa mengalami peningkatan. Artinya kemampuan siswa dalam membuat pertanyaan dan menjawab pertanyaan tersebut meningkat dengan menggunakan pendekatan pernyataan masalah.
Data aktivitas siswa pada siklus II diperoleh melalui observasi aktivitas dan sikap siswa selama proses pembelajaran pada setiap pertemuan. Hal ini terlihat dari tingginya antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran, dalam membuat soal dan menjawab soal yang dibuatnya, sesuai dengan hasil observasi. Pada siklus II hampir seluruh siswa aktif dalam proses pembelajaran, meskipun masih ada beberapa siswa yang masih mengalami kesulitan dalam membuat soal dan menjawab soal yang dibuatnya.
Oleh karena itu, rata-rata nilai siswa pada saat mengajukan pertanyaan adalah II. siklus tersebut melebihi standar KKM yaitu dengan skor rata-rata 99,28 dengan ketuntasan 92%. Rata-rata nilai tes pada Siklus I mencapai 61,96% dengan ketuntasan 16%, sedangkan rata-rata pada Siklus II adalah siklus mendapat skor 99,28 dengan penyelesaian 92%. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan siswa kelas IV SD Inpres Desa Belaka Taeng dalam menghasilkan pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang dihasilkan dapat ditingkatkan dengan pendekatan problem pose dalam meningkatkan kreativitas siswa.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
Artinya Pendekatan Pemecahan Masalah masih perlu ditingkatkan, karena sebagian besar siswa belum benar-benar menguasai cara membuat soal dan menjawab soal tersebut. Data aktivitas siswa pada siklus I diperoleh melalui observasi aktivitas dan sikap siswa selama proses pembelajaran pada setiap pertemuan. Tabel di atas menunjukkan bahwa pada tes siklus II persentase ketuntasan siswa sebesar 92% yaitu 23 dari 25 siswa yang mengikuti tes telah tuntas.
Hal ini dikarenakan pembelajaran pada siklus II lebih baik dibandingkan siklus I sehingga materi yang diajarkan lebih baik terserap. Kemampuan membangkitkan tanya jawab yang dibuat siswa kelas IV SD Inpres Belaka Desa Taeng setelah dilakukan penelitian dengan menggunakan Problem Posing mengalami peningkatan.
PENUTUP
Saran
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru diharapkan menggunakan pendekatan problem pose sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kreativitas siswa khususnya dalam mengajukan pertanyaan. Karena kegiatan ini sangat bermanfaat bagi guru dan siswa, maka kegiatan ini dapat dilakukan secara terus menerus pada saat pembelajaran pendidikan agama Islam atau mata pelajaran lainnya. Ellerton, Jinfa Cai, Pengajuan Masalah Matematika dari Penelitian hingga Praktek yang Efektif New York: Spinger Science Business Media, 2015.
Waluyo Era Budi, “Penerapan Pendekatan Problem Posing untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif di Sekolah Dasar”, JPGSD, Vol. Penulis masuk Sekolah Dasar pada tahun 2002 di SD Inpres Belaka Kabupaten Gowa dan lulus pada tahun 2008, lulus dari SMA Gunung Sari Makassar pada tahun 2011 dan lulus dari SMK YAPIP Makassar pada tahun 2014. Pada tahun 2016, penulis melanjutkan pendidikan pada Program Studi Strata Satu (S1) Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar sampai sekarang.
Kompetensi Inti : 3.5 Memahami isi hadis tentang ciri-ciri orang munafik yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Abu Hurairah. Dengan menggunakan pendekatan problem setting, siswa diharapkan mampu: Menjelaskan pengertian orang munafik dan menyebutkan ciri-ciri orang munafik. Sumber Belajar: Buku Siswa Kelas IV Pendidikan Agama Islam, Pusat Kurikulum dan Pembukuan Jakarta, Kementerian Pendidikan Nasional, 2011.
Guru dan siswa menyimpulkan hasil belajar dan memberikan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Disajikan dengan buku pendidikan agama Islam cetakan, siswa dapat membuat dan kemudian menjawab pertanyaan tentang ciri-ciri orang munafik. Bacalah buku cetak tentang ciri-ciri orang munafik, lalu tulislah tiga soal dan jawaban di buku tugas kalian masing-masing.