BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Pembahasan
dengan teman yang lainya 2% ragu-ragu, 4% tenaga kependidikan tidak setuju anak autis disebabkan karna pernikahan dengan keluarga dekat, 4% setuju anak autis sama dengan keterbelakangan mental, 4% setuju banyak masyarakat mengatakan anak autis itu gila, 4% tidak setuju seorang anak yang berada dalam kandungan telah di pastikan autis, 4% setuju anak autis mudah menghafal kosakata.
dan interaksi sosial, namun mereka memiliki potensi yang bisa di kembangkan baik dari segi akademis maupun bakat khusus.
Potensi tersebut tentu tidak sama, peserta didik autis memiliki kemanpuan menghafal yang lebih baik dari pada peserta didik berkebutuhan khusus lainya, hal tersebut didukun oleh penjelasan (Gergiulo, 2012:328) yang mengatakan sekitar 10 persen dari penyandang autis memiliki keterampilan khusus di area tertentu misalnya menghitun matematika, prestasi dalam menghafal, kemanpuan artistik dan musik, serta membaca.
Potensi lain yang bisa dikembangkan adalah dalam bidang seni,yakni seni lukis atau seni musik, namun tidak semua peserta didik autis memiliki bakat khusus melainkan hanya beberapa saja. Sejauh ini para pendidik di sekolah SDN Bonelambere belum menemukan peserta didik autis yang memiliki bakat khusus.
Mereka juga menginterprestasikan bahwa intervensi yang di berikan tidak harus di tempatkan di kelas khusus atau di kelas reguler saja, melainkan harus di sesuaikan dengan kerasteristik peserta didik. Hal tersebut sesaui yang di ungkapkan (Koasasih 2012:52) bahwa penanganan atau intervensi yang di berikan harus sesuai dengan gejala yang nampak. Sedangkan 3% pendidik dan 4% tenaga kependidikan juga menginterprestasikan peserta didik autis memiliki hambatan dan potensinya tidak sama dengan peserta didik kelas reguler, sehingga dalam intervensinya harus di tempatkan di kelas khusus.
Berdasarkan hasil wawancara 7% pendidik dan tenaga kepndidikan mengunkapkan intervensi yang sesuai adalah di kelas khusus dan intervensi yang di berikan dengan meminimalisir hambatan melalui pembelajaran individual, begitu
pula intervensi untuk mengoptimalkan potensi juga di berikan secara individual karena tiap peserta didik memiliki potensinya masing-masing. Pemberian Intervensi harus memiliki dasar yang kuat tentang kerasteristik peserta didik autis sehingga pengetahuan tentang peserta didik autis sangat penting bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Sesuai yang dikatakan (Marthan 2007:41) mengunkapkan bahwa dalam dunia pendidikan inklusi pengetahuan dan pemahaman sangat pentiang dalam memberikan petunjuk untuk menemukan langkah-langkah yang di ambil untuk memberikan intervensi kepada peserta didik berkebutuhan khusus.
“Dapat saya simpulkan bahwa intervensi di berikan di kelas reguler agar keterampilan sosialisasi peserta didik autis dapat berkembang dan lebih bersifat ingklusi”
Konsep layanan pendidikan inklusif tidak harus memaksakan peserta didik harus belajar bersama di kelas reguler jika meman kondisi peserda didik memungkinkan untuk berada di kelas reguler maka maka anak bisa di tarik ke kelas reguler sewaktu-waktu berdasarkan peserta didik. ( Choate 2013:15) menjelaskan bahwa beberapa penyelididkan menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal performa sebagai fungsi dari setting kelas tidak mempengaruhi performa murid, melainkan strategi pembelajaran lah yang lebih berpengaruh. Layanan yang di berikan tersebut merupakan bentuk program pembelajaran keterampilan bersosialisasi dengan teman di sekolah dan bentuk sosialisasi mengenai peserta didik autis kepada peserta didik reguler.
Kurangnya pengetahuan yang dimiliki tenaga kependidikan mengenai peserta didik autis menyebabkan mereka kuran memiliki keterampilan dalam menangani peserta didik autis di luar kelas. Sesuai hasil dari penelitian yang dilakukan oleh
(Ajuwon, dkk 2012) yang hasilnya menunjukkan bahwa pengetahuan dalam mengkomodasi kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus dan pengalaman untuk bersikap positif ketika mengajar di butuhkan oleh pendidik.
“Sayapun berpendapat bahwa peningkatan pengetahuan juga perlu diberikan kepada pendidik amupun tenaga kependidikan, walaupun mendidik adalah tengung jawab pendidik, namun sebagai bagian dari warga sekolah, tenaga kependidikan harus juga mengetahui karasteristik, hambatan dan bagaimana penaganan mengenai peserta didik autis”
Hal tersebut bisa dilakukan dengan adanya forum pelatihan yang diadakan sekolah agar para pendidik, kepala sekolah, serta tenaga kependidikan bisa berdiskusi bersama sehingga pengetahuan mengenai peserta didik autis akan bertambah.
Peningkatan pengetahuan tersebut akan diharapkan dapat memperbaiki persepsi sesuai dengan kondisi peserta didik autis sebenarnya dan menyanmakan persepsi antara pendidik dan tenaga kependidikan. Layanan pendidikan di sekolah harus optimal untuk semua peserta didik. Layanan tersebut didasarkan aatas pengetahuan yang di miliki pendidik dan tenaga kependidikan tentang peserta didik autis, sehingga melalui persepsi yang benar akan berimplikasi pada intervensi yang di berikan pada peserta didik autis dan pada penyelenggaraan pendidikan.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan mengenai “Persepsi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Terhadap Peserta Didik Autis di SDN bonelambere Jampea”
maka penulis dapat menerik kesimpulan bahwa pengetahuan pendidik dan tenaga kependidikan masi belum sepenuhnya mengetahui tentang anak autis, sekolah sebaiknya menyediakan kesempatan bagi pendidik dan tenaga kependidikan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai karakteristik dan penanganan peserta didik autis. Dimana pendidik itu adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam satu situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan dan tenaga kependidikan adalah pelaksanakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.
Persepsi pendidik dan tenaga kependidikan terhadap peserta didik autis perlu dilakukan untuk mengidentifikasi bagaimana perbandingan persepsi pendidik dan tenaga kependidikan berdasarkan pengalamanya terhadap peserta didik autis di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian maka Hipotesis dapat di terimah, dimana hipotesisnya yaitu terdapat penyamaan persepsi pendidik dan tenaga kependidikan terhadap anak autis dengan menggunakan pola pembelajaran umum antara anak penyandan autis dengan anak yang tidak menyandan autis.
72
B. Saran
Berdasarkan temuan penelitian maka di sarangkan:
1. Bagi kepala sekolah
Sebaiknya sekolah untuk mengadakan suatu forum diskusi di sekolah mengenai peserta didik autis yang melibatkan tenaga kependidikan, misal penjaga sekolah dan penjaga perpustakaan bersama dengan guru yang di bentuk dalam tim untuk menjalankan program intervensi. Dengan demikian semua warga sekolah dapat memahami karakteristik peserta didik autis dan cara penangananya.
2. Bagi guru pendamping khusus
a. Sebaiknya guru pendampin khusus mengetahui karakteristik belajar peserta didik autis secara spesipik sehingga potensi yang dimiliki dapat di ketahui.
b. Guru pendamping khusus sebaiknya tidak hanya fokus pada pembelajaran secara akademik saja, melainkan juga fokus pada potensi non akademik yang di miliki peserta didik autis.
3. Bagi guru reguler
a. Sebagai pendidik di sekolah sebaiknya pendidik di kelas reguler juga turut aktif dalam memantau perkembangan peserta didik autis, sehingga perkembangan peserta didik autis bukan hanya tanggun jawab guru khusus melainkan tanggun jawab semua warga sekolah.
b. Guru reguler sebainya mensosialisasikan peserta didik autis kepada peserta didik reguler, agar pada saat peserta didik autis di tarik dari ruangan sumber belajar di kelas reguler, peserta didik reguler siap dengan kekurangan
temannya yang berkebutuhan khusus tersebut untuk membenarkan persepsi peserta didik reguler terhadap peserta didik autis.
4. Bagi tenaga kependidikan
Tenaga kependidikan sebaiknya juga turut memiliki peran dalam memahami peserta didik autis dan sebaiknya mengetahui karakteristik hambatan peserta didik autis dan cara menanganinya ketika pada saat tertentu misalnya pada saat trantrum.
DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Assosiation.2013.Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders: Fifth Edition DSM 5.USA:American Psychiatric Publishing.
Chaplin, J.P.(2011).Kamus lengkap psikologi. Jakarta. Rajawali pers.
Danuatmaja, Bonny.2005. Terapi Anak Autis di Rumah. Jakarta: Puspa Swara Faturochman. 2006. Pengantar Psikologi Sosial. Yogyakarta: Pustaka.
Gerungan, W.A. 2009. Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama.
Kosasih, E.(Eds). 2012. Cara Bijak Memahami Anak Berkebutuhan Khusus.Ban- dung: Yrama Widya.
Gargiulo, Richard M. 2012. Special Education in Contemporary Society 4. USA:
Sage Publication.
Choate, Joyce S. 2013. Pengajaran Inklusif Yang Sukses:Cara Handal Untuk
Mendeteksi dan Memperbaiki Kebutuhan Khusus, Edisi ke-4. Jakarta: Pearson Education.
Sobur, Alex. 2011. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.
Suharman, 2005. Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi.
Faturochman. 2006. Pengantar Psikologi Sosial. Yogyakarta: Pustaka.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendi dikan Nasional. 2003.Jakarta: Sekretariat Negara.
Undang-undang RI No.43 tahun 1999 tentang pokok-pokok kepegawaian.
Peraturan Pemerintah republic Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standa -r Nasional Pnediikan.2005. Jakarta: Sekretariat Negara.
Marthan, Lay Kekeh., dkk. 2007.Manajemen Pendiidkan Inklusi.Jakarta: Depdiknas.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 tentang Pendidikan Inklusif bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.2009. Jakarta : Sekretariat Negara.
Wahyudin, Dinn., dkk. 2009. Pengantar Pendidikan. Universitas Terbuka.
75
Wahyudi, Ari. 2005. Pengantar Metodologi Penelitian. Surabaya: Unesa University Press.
Mudjito,Harizal, dan Elfindri.2012. Pendidikan Inklusif. Jakarta: Baduose Media.
Wahyudi, Ari. 2009. Metodologi Penelitian Pendidikan Luar Biasa. Surabaya: Unesa University Press.
Yuwono,J.(2009). Memahami anak autis (kajian teoritik dan empiric).
Bandung:Alfabeta.
Amalia, Khoirotul. 2008. Persepsi Guru Reguler Terhadap Pelaksanaan Pembelajaran Siswa Berkebutuhan Khusus di SDN Inklusi Kota Surabaya.
Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya: JPLB FIP Unesa.
Agyapong, Vincent, dkk. 2008. Recognition and menegement of Asperger’s Syndrm:
percaption of Primary School Teachers, Jurnal Cambridge (Online). Vo1. 26 No. 2,(http://journals.cambridge.org. Diakses 7 januari 2016).
Ajuwon, Paul M., dkk. 2012. General Education Preservice Teachers Percepti on of Including Students With Disabilities in Their Classroom, Jurnal Pendidikan Khusus Internasional (Online), V0 l. 27 No.3, (http://www.internationaljourna lofspecialeducation.com.Dikases 7 januari 2016).
(http://www.filsafat-pendidikan-tentang-tenaga. Di akses 29 juni 2016)
(http://www.tugas-pokok-pendidik-tentang-dan-tenaga-pendidikan.Di akses 29 juni 2016)
Jurusan Teknologi Pendidikan , Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Jl. Sultan Alauddin Km. 7 Telp. 0411-86697. Makassar 90221
Bapak/Ibu yang saya hormati
Saya atas nama Rauddin mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah makassar. Dalam hal ini saya sedang mengadakan penelitian tugas akhir yang berhubungan dengan Persepsi pendidik dan tenaga kependidikan terhadap peserta didik autis. Dimana Penelitian ini hanya untuk kepentingan peneliti semata dalam menyusun skripsi.
Atas bantuan, kesediaan waktu, dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih.
WAWANCARA DENGAN KEPENDIDIKAN 1. Nama : Salahuddin, S.Pd
2. Alamat : Bonelambere 3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Agama : Islam
5. Jabatan/Pekerjaan : Kepala Sekolah Pertanyaan Wawancara :
a. Bagai mana pendapat anda tentang hambatan anak autis ?
Jawab: Hambatan anak autis dalam berkomunikasi, perilaku dan kadang mengalami kesulitan dalam membaca,menulis dan berhitung.
b. Apakah penerapan intervensi dini baik untuk peningkatan anak autis?
Jurusan Teknologi Pendidikan , Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Jl. Sultan Alauddin Km. 7 Telp. 0411-86697. Makassar 90221
Bapak/Ibu yang saya hormati
Saya atas nama Rauddin mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah makassar. Dalam hal ini saya sedang mengadakan penelitian tugas akhir yang berhubungan dengan Persepsi pendidik dan tenaga kependidikan terhadap peserta didik autis. Dimana Penelitian ini hanya untuk kepentingan peneliti semata dalam menyusun skripsi.
Atas bantuan, kesediaan waktu, dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih.
WAWANCARA DENGAN KEPENDIDIKAN 1. Nama : Salahuddin, S.Pd
2. Alamat : Bonelambere 3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Agama : Islam
5. Jabatan/Pekerjaan : Kepala Sekolah Pertanyaan Wawancara :
a. Bagai mana pendapat anda tentang hambatan anak autis ?
Jawab: Hambatan anak autis dalam berkomunikasi, perilaku dan kadang mengalami kesulitan dalam membaca,menulis dan berhitung.
b. Apakah penerapan intervensi dini baik untuk peningkatan anak autis?
Jurusan Teknologi Pendidikan , Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Jl. Sultan Alauddin Km. 7 Telp. 0411-86697. Makassar 90221
Bapak/Ibu yang saya hormati
Saya atas nama Rauddin mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah makassar. Dalam hal ini saya sedang mengadakan penelitian tugas akhir yang berhubungan dengan Persepsi pendidik dan tenaga kependidikan terhadap peserta didik autis. Dimana Penelitian ini hanya untuk kepentingan peneliti semata dalam menyusun skripsi.
Atas bantuan, kesediaan waktu, dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih.
WAWANCARA DENGAN KEPENDIDIKAN 1. Nama : Salahuddin, S.Pd
2. Alamat : Bonelambere 3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Agama : Islam
5. Jabatan/Pekerjaan : Kepala Sekolah Pertanyaan Wawancara :
a. Bagai mana pendapat anda tentang hambatan anak autis ?
Jawab: Hambatan anak autis dalam berkomunikasi, perilaku dan kadang mengalami kesulitan dalam membaca,menulis dan berhitung.
b. Apakah penerapan intervensi dini baik untuk peningkatan anak autis?
Jawab: Intervensi dini pada dasarnya adalah menelaah, mengamati perkembangan anak pada usia dini dan anak dideteksi apakah mengalami resiko kondisi perkembangan yang tidak sesuai usia atau berbagai kebutuhan khusus lainnya. Sehingga dapat memperbaiki masalah-masalah perkembangan yang ada dan mengantisipasinya. Program intervensi dini dilakukan untuk menembus tembok penghalang interaksi sosial anak dan menitikberatkan komunikasi dengan orang lain melalui cara menunjuk jari, mengguanakan gambar dan kadang bahasa isyarat serta kata-kata. Program ini terdiri dari Terapi fisik dan terapi okupasional (pengobatan dengan memberikan pekerjaan/kegiatan tertentu), Terapi wicara dan bahasa, Pendidikan masa kanak-kanak dini, Perangsangan sensorik. Program ini tentu saja baik untuk peningkatan kemampuan anak autis karena kebutuhan anak autis akan terpenuhi secara perlahan sehingga anak autis dapat bersosialisasi, mandiri, serta dapat mengembangkan bakat bidang minatnya.
c. Bagaimana proses pembelajaran yang baik untuk anak autis?
Jawab: Proses pembelajaran yang baik ialah proses yang dapat memenuhi kebutuhan siswa. Pertama-tama kurikulum harus disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan anak karena apabila kurikulumnya dan guru harus membuat PPI untuk siswa sehingga guru dapat mengetahui apa yang dibutuhkan siswa dan apa yang memang menjadi kelemahan siswa jarena apabila guru memaksakan materi yang sama untuk siswa autis maka akan terlalu berat mengikutinya maka bisa-bisa siswa menjadi benci belajar dan tidak mau sekolah lagi karena ia merasa telah tertinggal jauh dari teman-
temannya. Guru-guru yang menangani siswa autis juga harus kreatif dalam proses pembelajarannya dengan dibuatkan media sehingga baik siswa autis maupun siswa normal dapat fokus ke pelajaran supaya kegiatan belajar menjadi lebih menarik dan dapat menarik minat siswa autis untuk lebih paham akan materi dan lebih menjadi ingin tahu tentang materi tersebut.
Dalam proses pembelajarannya Siswa autis harus dibimbing secara individual oleh guru agar siswa dapat fokus dengan apa yang dipelajarinya dan proses KBM menjadi lebih optimal.
d. Keterampilan apasaja yang harus dimiliki seorang pendidik anak autis?
Jawab: Pendidik harus memilik keterampilan khusus seperti dalam membuat program individual.
1. Nama : Andy Sri DM, S.Pd 2. Alamat : Bonelambere 3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Agama : Islam
5. Jabatan/Pekerjaan : Bendahara Pertanyaan Wawancara :
a. Bagai mana pendapat anda tentang hambatan anak autis ?
Jawab: Hambatan anak autis dalam berkomunikasi, perilaku dan kadang mengalami kesulitan dalam membaca,menulis dan berhitung.
b. Apa potensi yang dimiliki seorang anak autis?
Jawab: semua peserta didik autis memiliki potensi.
c. Apakah penerapan intervensi dini baik untuk peningkatan anak autis?
Jawab: Intervensi peserta didik autis diberikan di kelas khusus, namun jika sudah mampu bersosialisasi akan di tempatkan di kelas reguler.
d. Apa tujuan pendidikan bagi anak autis?
Jawab: Tujuan pendidikan autis adalah memberikan bekal agar setiap insan memiliki masa depan dengan kualitas hidup yang lebih baik. Seperti anak dapat mengendalikan emosinya, melakukan aktivitasnya sehari-hari secara mandiri, dapat bersosialisai dengan keluarga maupun lingkungan sekitarnya dengan baik. Dengan adanya pendidikan untuk anak autis kebutuhannya akan terpenuhi maka lebih mudah mengetahui bakat dan minatnya sehingga guru dapat mengembangkannya. Dengan dikembangkannya bakat dan minat
anak tidak mustahil bahwa anak dapat kesempatan untuk sukses seperti orang-orang yang normal lainnya.
e. Bagaimana proses pembelajaran yang baik untuk anak autis?
Jawab: Proses pembelajaran individual
f. Keterampilan apasaja yang harus dimiliki seorang pendidik anak?
Jawaban: Keterampilan.dalam membuat program individual.
1. Nama : Hairil, S.Pd 2. Alamat : Bonelambere 3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Agama : Islam
5. Jabatan/Pekerjaan : Bendahara II Pertanyaan Wawancara :
a. Bagai mana pendapat anda tentang hambatan anak autis ? Jawab: perserta didik autis hanya mengalami ganguan perilaku.
b. Apa potensi yang dimiliki seorang anak autis?
Jawab: peserta didik autis adalah potensi yang luar biasa yang harus di kembangkan misalnya dalam bidang komputer.
c. Apakah penerapan intervensi dini baik untuk peningkatan anak autis?
Jawab: Intervensi peserta didik autis diberikan di kelas khusus, namun jika sudah mampu bersosialisasi akan di tempatkan di kelas reguler.
d. Bagaimana proses pembelajaran yang baik untuk anak autis?
Jawab : Proses pembelajaran individual
e. Keterampilan apasaja yang harus dimiliki seorang pendidik anak autis?
Jawab: Pengajar yang dibutuhkan bagi anak autis adalah orang-orang yang selain memiliki kompetensi yang memadai untuk berhadapan dengan anak autis tentunya juga harus memiliki minat atau ketertarikan untuk terlibat dalam kehidupan anak autis, memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, dan kecenderungan untuk selalu belajar sesuatu yang baru karena bidang ini adalah bidang baru yang selalu berkembang. Keterampilan yang tidak kalah
pentingnya yaitu keterampilan dalam membuat program individual untuk siswa autis karena bagaimanapun juga tujuan anak autis mngenyam pendidikan adalah diharapkan anak autis dapat diketahui minat dan bakatnya serta diketahui kelemahan dan kekerangannya sehingga anak dapat ditangani sesuai dengan kebutuhannya. Jangan sampai terjadi salah salah asesmen karena jika asesmen sudah salah lalu guru sudah pasti guru salah membuat program sehingga bisa terjadi mal praktek dalam pembelajaran karena pembelajarannya tidak sesuai dengan kebutuhan anak.
1. Nama : Muh Asdar 2. Alamat : Bonelambere 3. Jenis Kelamin : Laki-laki
4. Agama : Islam
5. Jabatan/Pekerjaan : Wakil kepala sekolah Pertanyaan Wawancara :
a. Bagai mana pendapat anda tentang hambatan anak autis ? Jawab: Perserta didik autis hanya mengalami ganguan perilaku b. Apa potensi yang dimiliki seorang anak autis?
Jawab: Peserta didik autis adalah potensi yang luar biasa yang harus di kembangkan misalnya dalam bidang komputer.
c. Apakah penerapan intervensi dini baik untuk peningkatan anak autis?
Jawab: Intervensi dini pada dasarnya adalah menelaah, mengamati perkembangan anak pada usia dini dan anak dideteksi apakah mengalami resiko kondisi perkembangan yang tidak sesuai usia atau berbagai kebutuhan khusus lainnya. Sehingga dapat memperbaiki masalah-masalah perkembangan yang ada dan mengantisipasinya. Program intervensi dini dilakukan untuk menembus tembok penghalang interaksi sosial anak dan menitikberatkan komunikasi dengan orang lain melalui cara menunjuk jari, mengguanakan gambar dan kadang bahasa isyarat serta kata-kata. Program ini terdiri dari Terapi fisik dan terapi okupasional (pengobatan dengan memberikan pekerjaan/kegiatan tertentu), Terapi wicara dan bahasa, Pendidikan masa kanak-kanak dini, Perangsangan sensorik. Program ini
tentu saja baik untuk peningkatan kemampuan anak autis karena kebutuhan anak autis akan terpenuhi secara perlahan sehingga anak autis dapat bersosialisasi, mandiri, serta dapat mengembangkan bakat bidang minatnya.
WAWANCARA DENGAN PENDIDIK 1. Nama : Herawati, S.Pd.i
2. Alamat : Bonelambere 3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Agama : Islam
5. Jabatan/Pekerjaan : Pendidik Pertanyaan Wawancara :
a. Bagai mana pendapat anda tentang hambatan anak autis ?
Jawab: Hambatan peserta didik autis yaitu hambatan dalam berkomunikasi, bahasa, interaksi sosial atau kontak mata yang minim dan perilaku yang terkadan terlalu aktif.
b. Apa potensi yang dimiliki seorang anak autis?
Jawab: Potensi anak didik autis terletak pada kemanpuan visualnya dan kemanpuan menghafal yang baik.
c. Apakah penerapan intervensi dini baik untuk peningkatan anak autis?
Jawab: intervensi peserta didik adalah terapi perilaku dan kombinasi kelas khusus dan kelas reguler.
d. Apa tujuan pendidikan bagi anak autis?
Jawab: memberikan bekal agar setiap insan memiliki masadepan yang lebih baik.
e. Bagaimana proses pembelajaran yang baik untuk anak autis?
Jawab: Proses pembelajaran individual.
f. Apakah harus dimiliki keterampilan seorang pendidik anak autis?
Jawab: Harus memiliki keterampilan khusus yang harus di miliki.
1. Nama : Yasal Agusti 2. Alamat : Bonelambere 3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Agama : Islam
5. Jabatan/Pekerjaan : Pendidik Pertanyaan Wawancara :
a. Bagai mana pendapat anda tentang hambatan anak autis ?
Jawab: Hambatan peserta didik autis yaitu hambatan dalam berkomunikasi, bahasa, interaksi sosial atau kontak mata yang minim dan perilaku yang terkadan terlalu aktif.
b. Menurut anda bagai mana suasana pembelajaran yang baik bagi anak autis?
Jawab:Kebutuhan setiap anak berbeda maka suasana belajar bagi anak autis yang satu dengan yang lainnya pun berbeda. Ada anak autis yang akan terganggu karena warna cat ruangannya terlalu terang, ruangannya terlalu banyak gangguan suara atau hal-hal lain yang berpotensi mengalihkan perhatian. Semua itu tergantung dari kebutuhan masing-masing individu. Jadi apabila ditanya suasana pembelajaran seperti apa yang cocok mungkin bisa dijawab suasana yang membuat anak tenang dan suasana yang lebih privat antara guru dan murid.
c. Apa potensi yang dimiliki seorang anak autis?
Jawab: Potensi anak didik autis terletak pada kemanpuan visualnya dan kemanpuan menghafal yang baik.
d. Bagaimana penerapan intervensi anak autis?
Jawab: Intervensi diberikan secara khusus untuk anak autis.
e. Apa tujuan pendidikan bagi anak autis?