• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

41

kewajibannya. Dewasa ini, semenjak pandemi telah mengubah persepsi dan dinamika hidup setiap wajib pajak. Didesak diantara dua pilihan:

(1) Memenuhi kebutuhan terlebih dahulu, dan atau

(2) Apapun yang terjadi pajak tetaplah pungutan yang patut diindahkan.

Realita hari ini yang terjadi kewajiban wajib pajak diduakan dengan alasan kebutuhan hidup merupakan kebutuhan primer yang perlu dipenuhi sedangkan pajak merupakan aturan wajib yang boleh ditunda walaupun sanksi akan menjerat. Disisi lain, ada pula pengalaman yang diperoleh dari informan kedua menganggap pajak hanya sebagai kebutuhan administrasi dan memupuk ketidaksediaan lagi untuk membayar pajak karena hanya sebatas pra syarat.

Masyarakat Minim Akan Literasi Pajak

Fenomena dari adanya pandemi telah melahirkan berbagai dinamika sosial yang terjadi sehingga kesadaran membayar pajak perlu diperhatikan. Upaya pendidikan, penyuluhan, dan sebagainya merupakan bagian dari proses membangun kesadaran dan kepatuhan wajib pajak untuk tetap memenuhi kewajibannya. Oleh karena itu fiskus memiliki peran yang besar dalam melakukan sosialisasi tentang pembayaran pajak dan mengedukasi wajib pajak agar sadar akan pentingnya membayar pajak dan memahami langkah- langkah dalam membayar pajak seperti dari pengalaman yang dapat dilihat oleh informan kedua. Karena kita dapat melihat seperti apa pernyataan dari informan yang enggan mau membayar pajak dikarenakan kelemahan dari kualitas sanksi pajak yang harus memaksa walau dibenturkan oleh keadaan yang tidak diindahkan dikarenakan pemahaman terhadap pajak yang minim.

43

Upah di Bawah UMR

Permasalahan sekarang yang dihadapi oleh wajib pajak adalah sulitnya memenuhi kewajiban membayar pajak apabila nilai yang akan dibayar masih dibawah angka penghasilan rutin (UMR). Faktor ekonomi merupakan hal yang paling fundamental saat ini, apalagi hanya untuk memenuhi kewajiban membayar pajak. Masyarakat yang tergolong ekonomi kebawah akan menemukan kesulitan untuk membayar pajak. Kebanyakan dari mereka akan memenuhi kebutuhan hidup terlebih dahulu sebelum membayar pajak apalagi dimasa pandemi seperti sekarang ini. Tingkat pendapatan seseorang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang tersebut memiliki kesadaran dan kepatuhan akan ketentuan hukum dan kewajibannya. Seperti dari beberapa hasil wawancara informan yang mengeluhkan pendapatan dibawah UMR dan didesak membayar pajak.

Kepatuhan Pelaporan Pajak: Hasil dari Sebuah Edukasi

Kontribusi pajak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tiap tahun semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa peranan pajak semakin besar dalam APBN. Oleh karena itu, Direktorat Jendral Pajak terus berupaya untuk meningkatkan penerimaan pajak. Salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah dengan pemahaman terhadap pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Seperti apa yang telah dialami oleh informan keempat pengetahuan perpajakan telah menjadi kebiasaan karena kewajiban yang patut dipenuhi. Edukasi yang baik akan membawa wajib pajak akan taat dan patuh dalam melaksanakan kewajibannya.

Sanksi Tinggal Sanksi

Salah satu faktor yang mempengaruhi wajib pajak orang pribadi dalam melaksanakan tanggungjawabnya untuk membayar pajak adalah sanksi.

Sanksi pajak sering kali dianggap beban moril tersendiri apabila ada penundaan pembayaran. Disisi lain, kewajiban membayar pajak akan tetap diindahkan apabila penghasilan yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan dan sebaliknya adanya rasa pasrah akan sanksi yang akan diterima karena ketidakmampuan untuk memenuhi kewajiban seperti dalam pernyataan informan pertama dan ketiga yang siap menerima sanksi.

45 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan oleh peneliti terkait Pajak Dan Dinamika Sosial Ditengah Pusaran Pandemik: Sebuah Studi Fenomenologi, dapat disimpulkan bahwa:

1. Salah satu aspek yang mempengaruhi informan dalam memenuhi tanggung jawabnya membayar pajak adalah kesadaran perpajakan dan sanksi pajak. Disisi lain, kewajiban membayar pajak akan tetap diindahkan apabila penghasilan yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan dan sebaliknya adanya rasa pasrah akan sanksi yang akan diterima karena ketidakmampuan untuk memenuhi kewajiban dari upah dibawah UMR.

2. Realita pajak hari ini, kewajiban wajib pajak diduakan dengan alasan kebutuhan hidup merupakan kebutuhan primer yang perlu dipenuhi sedangkan pajak merupakan aturan wajib yang boleh ditunda walaupun sanksi akan menjerat. Disisi lain, ada pula pengalaman informan yang menganggap pajak hanya sebagai kebutuhan administrasi dan memupuk ketidaksediaan lagi untuk membayar pajak karena hanya sebatas pra syarat.

3. Faktor ekonomi merupakan hal yang paling fundamental saat ini, apalagi hanya untuk memenuhi kewajiban membayar pajak.

Masyarakat yang tergolong ekonomi kebawah akan menemukan kesulitan untuk membayar pajak. Kebanyakan dari mereka akan

memenuhi kebutuhan hidup terlebih dahulu sebelum membayar pajak apalagi dimasa pandemi seperti sekarang ini. Tingkat pendapatan seseorang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang tersebut memiliki kesadaran dan kepatuhan akan ketentuan hukum dan kewajibannya.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, sebagai bahan pertimbangan kedepannya agar wajib pajak lebih memahami pajak dan kesadaran membayar pajak akan tetap diindahkan walaupun kondisi yang tidak memungkinkan.

1. Upaya petugas fiskus agar dapat memberikan pendidikan, penyuluhan, dan sebagainya untuk membangun kesadaran dan kepatuhan wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya.

2. Ketidakmampuan dalam membayar pajak disebabkan karena upah dibawah UMR lantas kebutuhan pokok yang langka dan mahal, ditambah dengan pajak naik dimasa pandemi sehingga menjadi catatan bagi pemerintah untuk dapat menstabilkan semua.

3. Keringanan pembayaran pajak sekiranya perlu untuk mengurangi beban pembayaran wajib pajak.

47

DAFTAR PUSTAKA

Agung, Anak, Istri Pradnyarani Dewi, And Zaki Baridwan. 2018. 2 Dilema Etis Konsultan Pajak Dalam Tax Planning: Studi Fenomenologi.

Agung, Anak, Istri Pradnyarani, Dewi Dwika, And Tirta Mitrawan. 2020. “Studi Fenomenologi: Makna Ketidakpatuhan Wajib Pajak Importir.” License Jurnal Krisna: Kumpulan Riset Akuntansi 12 (1): Hal. 190–96.

Https://Ejournal.Warmadewa.Ac.Id/Index.Php/Krisna.

Amrul, Rusli, Sekolah Tinggi, Ilmu Ekonomi, And Amm Mataram. 2021. “Analisis Penerapan E-Filling Dimasa Pandemi Covid 19 Sebagai Upaya Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.” Viii(2).

Http://Djponline.Pajak.Go.Id.

Arifin. D. (2020) “Presiden Tetapkan Covid-19 Sebagai Bencana Nasional - Bnpb.”

(Online) Https://Bnpb.Go.Id/Berita/Presiden-Tetapkan-Covid19-Sebagai- Bencana-Nasional (Diakses pada January 29, 2022).

Beloan, Bertha, Frischa Faradillaarwinda Mongan, Ni Nyoman, And Ayu Suryandari. 2019. 9 Dari Kacamata Wajib Pajak Orang Pribadi (Studi Fenomenologi Wajib Pajak Orang Pribadi Pada KPP Pratama Makassar Utara).

Darmayasa, I Nyoman, Bagus Putra Wibawa, And Ketut Nurhayanti. 2020. “E- Filling Dan Relawan Pajak Dalam Meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi.” Jurnal Kajian Akuntansi 4(2): 208.

DDTC. 2020. “Peran Pajak Sebagai Penyelamat Dampak Covid-19.” (Online) Https://News.Ddtc.Co.Id/Peran-Pajak-Sebagai-Penyelamat-Dampak-Covid- 19-24258 (January 29, 2022).

Dwijayanti, W.Y., Hamidah. 2018. “Niat Dan Perilaku wajib Pajak Orang Pribadi Mengikuti Programtax Amnesty (Studi Fenomenologi).”

Handriman Jamain, Tries. 2019. 2 Analisis Kesadaran Wajib Pajak Dalam Transaksi E-Commerce (Studi Kasus Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) Yang Merupakan Pelaku E-Commerce Di Kota DKI Jakarta.

Https://Databoks.Katadata.Co.Id.

Hasbiansyah, O. 2005. “Pendekatan Fenomenologi-Pengantar Praktik Penelitian Dalam Ilmu Sosial Dan Komunikasi.” Sk No.56/D.

Kirowati, I, Maulud, W.N. 2019. “Fenomenologi Penyampaian Surat

Pemberitahuan Wajib Pajak Orang Pribadi Menurut Peraturan Perpajakan.”

Jurnal Ilmu Ekonomi, Manajemen, Dan Akuntansi; Issn: 2302 - 4747.

Http://Ekomaks.Unmermadiun.Ac.Id/Index.Php/Ekomaks.

Kurniasari, I. 2018. “Pemahaman Pegawai Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Terhadap Perilaku Wajib Pajak: Sebuah Studi Fenomenologi.” Vol.6 No.2.

Https://Jimfeb.Ub.Ac.Id/Index.Php/Jimfeb/Article/View/4963.

Maithy, Sifera Patricia, Sutrisno Sutrisno, And Bambang Hariadi. 2019. “Studi Keperilakuan Wajib Pajak Orang Pribadi Usahawan Terhadap Kepatuhan Perpajakan.” Jurnal Akuntansi Dan Pajak 19(2): 108.

Rada, 2022. “Dinamika Sosial” https://dosenpintar.com/dinamika- sosial/#Pengertian_Dinamika_sosial. (Diakses pada 28 April 2022)

Rahmah, S. Kom., M.Si., Mulia. 2020. “Analisis Pengaruh Kesadaran, Kualitas Pelayanan Pajak Dan Sanksi Pajak Terhadap Tigkat Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Depok Sawangan.” Jurnal Akuntansi Dan Bisnis Krisnadwipayana 7(3).

Rasulong, I., Lisdayanti. 2018. “Peranan Aspek Moralitas, Kepatuhan, Dan Pemahaman Wajib Pajak Pribadi Dalam Pelaporan Pajak Penghasilan.” Vol.1 No.2.Https://Journal.Unismuh.Ac.Id/Index.Php/JrpAmnesty/Article/View/291 8.

Siswanti, Tutik. 2019. “Mengukur Pengaruh Kesadaran Dan Penerapan E-Filling Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Penghasilan Karyawan Lepas.” Jurnal Bisnis Dan Akuntansi Unsurya 4(2): 80.

Srimindari, Dan Et Al. 2017. Xxi Jurnal Akuntansi Kepatuhan Wajib Pajak Memediasi Determinan Penerimaan Pajak Penghasilan.Volume XXI, No. 02 Susanto, H. 2012. “Membangun Kesadaran Dan Kepedulian Sukarela Wajib Pajak.” (Online) Https://Www.Pajak.Go.Id/Id/Artikel/Membangun-Kesadaran- Dan-Kepedulian-Sukarela-Wajib-Pajak: Diakses Pada 29 Januari 2022.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. 2007. Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. 2008. Jakarta: Direktorat Jenderal Pajak.

49

L A M P

I

R

A

N

LAMPIRAN 1

PEDOMAN WAWANCARA

Wawancara Oleh Informan

No Pertanyaan Coding

1 Apakah Bapak/Ibu tahu pajak, sejak kapan? i1,i2.i3,i4,i5 2 Selama ini Bapak/Ibu bayar Pajak? i1,i2.i3,i4,i5 3 Apakah Bapak/Ibu mengerti bayar pajak? i1,i2.i3,i4,i5 4 Apakah Bapak/Ibu tahu sanksi atau denda saat

melaporkan, apakah memberatkan?

i1,i2.i3,i4,i5 5 Menurut Bapak/Ibu apakah pajak memberatkan? i1,i2.i3,i4,i5 6 Menurut Bapak/Ibu seberapa besar kontribusi

pemerintah untuk kesejahteraan dari pajak?

i1,i2.i3,i4,i5 7 Permasalahan apa yang dihadapi saat mengurus

pajak?

i1,i2.i3,i4,i5 8 Apabila penghasilan yang diperoleh diatas rata-rata

apakah masih bersedia bayar pajak?

i1,i2,i3,

9 Sejak kapan toko bapak berdiri? i5

10 Bagaimana selama ini, apakah tidak ada petugas fiskus yang memberikan sosialisasi pajak?

i2 11 Bagaimana perhitungan pajak yang dikenakan dari

penghasilan pribadi dengan kegiatan praktik pribadi?

i4 12 Ada berapa karyawan yang dipekerjakan dalam usaha

Bapak?

i5

51

Transkip Wawancara

No Coding Transkip

1 i1 Dulu waktu saya masih kerja di perusahaan, “itu dibayar”

langsung dipotong toh dan aktif bayar pajak. Tapi sekarang saya kerja di grab pajak langsung dipotong oleh aplikasi.

i2 Tidak pernahka membayar pajak, karna penghasilanku dibawah penghasilan kena pajakji

i3 Pajak sejak dulu ada dan bahkan sebelum saya bekerja.

Untuk pajak penghasilan, belumpa bayar pajak saya karna masih dibawah UMR. Bayar pajak itu kalau melebihi UMR, sesuai UMR.

i4 Saya PNS Tahun 2004 itu, kami memang sudah dijelaskan pajak penghasilan. Jadi sejak saat itu saya tahu tentang pajak.

i5 Lamami kita tau pajak.

2 i1 Pajak apa dulu? kan banyak pajak. Kalau pajak penghasilan sekarang tidak mi. Tapi, pajak langsung dipotong aplikasi itupun kalau capai targetji. Jadi itukan ada targetnya, kalau capai target langsung dipotong. Biasanya sampai

penghasilan Rp 3.000.000.

i2 Kalau pajak penghasilan tidak.

i3 Tidak, kalau pajak penghasilan.

i4 Iya, bayar.

i5 Iye, biasanya istriku yang bayarkan. Dia kerja di bank satu kali setor di bank toh.

3 i1 Tidak, bagaimana caranya? tidak pernahma bayar pajak, administrasi saja karna penghasilan tidak menentu dan dibawah kena pajak jadi dia laporannya (tidak dikenakan pajak). Jadi ada kategorinya, sekian yang dikenakan pajak.

i2 Tidak

i3 Mengertilah! tapi belumpa bayar pajak penghasilan saya, karna dibawah UMR.

i4 Iya mengerti

i5 Pemahamannya? saya tidak mengertimi, bayar pajak biasanya istriku yang bayarkan, haha… dia yang aturkan pembayarannya apa.

4 i1 Apa sanksinya? tidak kutau. Paling sekarang dipotong administrasimi, kan sudah tidak bekerja.

i2 Tidak, tapi sepertinya akan memberatlkan karna penghasilan kadang tidak menentu.

i3 Tidak, denda terlambat kalau bayar, memberatkan ia

karena terlihat sekali perbandingannya sebelum dan setelah ini corona.

i4 Mengerti, tidak pernah telat membayar karna memang kalau pas waktunya dipotong sendiri dan memang harus dibayar.

i5 Kalau pengecer belum, masih… saya satu bulannya masih rendah, tokoku ji keliatan lebarki, haha… tapi saya tidak jual besi, spandek, tegel, seng, barang-barang yang lancar punya itu, yang belum saya jual, apa adanya. Bersyukurma ini tokoku, umurku sudah 70 tahun dinikmati mami hari tua apa adanya saja, haha.

5 i1 Tergantung penghasilanji toh karna kan “ada kategorinya”

penghasilan sekian, yang saya tau! sekian penghasilan yang dikenakan.

i2 Memberatkan, karna kalau lagi tidak ada tidak dibayarmi dan dapat lagi denda.

i3 Memberatkan, apalagi sekarang naik pajak pasti tambah memberatkan.

i4 Kalau pajak penghasilan untuk golongan-golongan tertentu itu tidak menjadi beban tapi kalau penghasilan rendah bisa saja sulit. Saya tidak terlalu perhatikan, saya tidak

perhatikan naik atau tidaknya. Tapi sepertinya tidak naik karena tidak ada angsuran yang berarti, yang bikin kaget setiap orang.

i5 Kalau dibilang memberatkan, tidak juga. Memang kita harus karena itukan pemerintah juga butuh uang untuk

pemakaian.

6 i1 Sekarang kan, sudah dinikmatimi toh! semua kan, jalanan, apa segala, infrastruktur dari pajak semua. Jadi kegiatannya pemerintah untuk fasilitas pajak bagus sebenarnya, karena maksudnya kita tong yang kembali kekita nikmati

(masyarakat). Cuman orang-orang tertentu korupsi yang memanfaatkan dan sampai ke negara.

i2 Dinikmati seperti pembangunan dan jalanan.

i3 Kurang, kalau saat ini kurang fasilitasnya kayak jalan, itu banyak jalan lobang sana lobang sini, lampu jalan juga kurang, BBM juga naik. Sangat meresahkan masyarakat, tidak ada beres. Lihatmi sekarang semuanya naik baru langka, terus BPJS ketenagakerjaan yang harusnya untuk hari tua, gaji sendiri yang kita tabung tidak bisa langsung diambil ketika kita pas keluar dari tempat kerja, nanti hari tua diambil.

i4 Dirasakan dari pihak ASKES (Asuransi Kesehatan) salah satunya itu berasal dari anggaran pajak. Jadi pasti pasien yang menggunakan itu akan merasakan bagaimana manfaat pajak tersebut.

i5 Kalau diliat sekarang dengan dulu lumayan besarmi perkembangannya pembangunan.

7 i1 Naik 1% sekarang toh, apalagi pajak barang dan

kendaraan. Tergantung lagi dari kondisi keuangan, kalau pas ada dibayarki, kalau belumpi ada yah maumi diapa?

karna kan adaji sanksinya toh, maksudnya kalau dia

menunggu juga tidak adaji masalah karena adaji sanksinya.

i2 Terlalu ribet

53

i3 Tidak ada uang, gaji tidak sesuai UMR, jadi bayar pajak kalau ada yang mau dipake bayar. Tidak pernah dilupa bayar pajak, tapi kan gaji sedikit jadi tidak dibayarmi.

i4 Tidak ada, karena pajak langsung dipotong dari penghasilan.

i5 Tidak adaji, karena istikuji yang langsung bayarkan di Bank toh, tapi memang situasi sekarang susah juga.

8 i1 Mau tidak mau pasti dibayar, penghasilan sudah melebihi.

i2 Tidak, karna ituji terlalu ribet lagi diurus. Itu saja suamina temanku bayar pajak karna mau na lampirkan potongan pajak untuk berkasnya. Jadi kalau memang tidak adaji mau di urus tidak akan dibayar.

i3 Mau, karna memang masalahnya tidak cukup gaji.

9 i5 Sudah ada 17 tahun

10 i2 Tidak ada, mungkin adaji datang ke catering, tapi tidak pernahka dapat.

11 i4 Kalau pajak penghasilan itukan langsung dipotong dari penghasilan. Kalau dari kegiatan praktik itu dihitung dengan persentase yang didapatkan, dihitung berapa yang didapat baru dipotong dan beda pajak yang dikenakan.

12 i5 Sementara ndk ada, situasinya sekarang.

LAMPIRAN 2

DOKUMENTASI PENELITIAN

Doc. 6 April 2022

Doc. 5 April 2022

Doc.

1 April 2022

55

Doc. 3 April 2022

Doc. 24 April 2022

LAMPIRAN 3

SURAT IZIN PENELITIAN

57

59

LAMPIRAN 4

HASIL TURNITIN

61

63

65

LAMPIRAN 5

REVISI SEMINAR HASIL

67

69

Dokumen terkait