• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

Dalam rangka memperbaiki sistem di sektor pelayanan seperti yang di gambarkan di atas collaborative governance di sektor pelayanan, pemerintah indonesia mulai pada tahun 2017 telah melakukan torbosan perbaikan pelayanan yang diberi nama mall pelayanan publik yang di ataur dalam Kementrerian Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi (KEMENPAN-RB) No.23 Tahun 2017 Tentang Penyelaggaraan Mall Pelayanan Publik.

MPP diselenggarakan oleh organisasi perangkat daerah yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang penanaman modal dan pelayanan terpadu satu pintu. Dalam hal ini oleh DPMPTSP. DPMPTSP Wajib mengikutsertakan pelayanan Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah lainnya, serta pelayanan Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah/swasta, Berdasarkan Kesepakatan yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman (MoU). Nota Kesepahaman sebagaimana dimaksud

ditindaklanjuti dengan Perjanjian Kerja Sama para pihak dalam rangka penggunaan dan pemanfaatan sumber daya, termasuk penggunaan ruangan dalam gedung dan sarana prasarana/ fasilitas.

Mall Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Barru ini dibentuk dengan beberapa tahapan yakni diawali dengan Koordinasi Pelayanan, baik instansi pusat maupun daerah, BUMN/BUMD dan swasta yang akan di integrasikan.

Kemudian ditahap kedua dilakukan pengaturan kelembagaan, mekanisme kerja antar instansi dan bisnis proses MPP. Pada tahap ketiga dilakukan penyiapan sarana dan prasarana MPP, dan tahap keempat dilakukan penataan SDM seperti analisis kebutuhan personil dan pengembangan SDM. Tahap akhir yakni sosialisasi dan publikasi sekaligus launching dan dibuatkan Peraturan Bupati Barru No 32 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Mal Pelayanan Publik di Kabupaten Barru.

Untuk melihat Collaborative Governance mall pelayanan publik di KabupatenBarru maka peneliti mengangakat beberapa indikator Menurut pendapat Morse & Stephens (2012), Collaborative Governance: terdiri dari Assessment, Initiation, Deliberation, dan Implementation.

1. Assessment (Penilaian).

Assessment adalah penilaian terhadap kondisi awal yang sangat mempengaruhi keberhasilan dalam kemitraan kolaborasi antar stakeholder.

Assessment dalam collaboraive governance melibatkan penilaian, berkaitan dengan kondisi awal yang sangat mempengaruhi kemungkinan keberhasilaan kemitraan dan penilaian apakah kolaborasi perlu dan mungkin dilakukan pada

tujuan untuk memecahkan permasalahan yang sama atau visi dan misi bersama (Morse dan Stephen, 2012).

Kondisi awal dalam suatu kolaborasi dipengaruhi oleh beberapa fenomena, yaitu para stakeholders memiliki kepentingan dan visi bersama yang ingin dicapai, sejarah kerjasama dimasa lalu, saling menghormati kerjasama yang terjalin, kepercayaan masing-masing stakeholders, ketidakseimbangan kekuatan, sumber daya, dan pengetahuan sebgaimana tujuan kehadiran Mall Pelayanan Publik adalah memberi kemudahan, kecepatan, keterjangkauan kemanan dan kenyamanan kepada masyarakat dalam mendapatkan pelayanan.

Selain itu untuk meningkatkan daya saing global dalam memberikan kemudahan berusaha di Kabupaten Barru.

Melibatkan stakeholder dalam Mall Pelayanan Publik (MPP) di Kabupaten Barru terdapat 24 instansi dan 108 produk layanan ada pada MPP Kabupaten Barru yang berkolaborasi dengan DPMPTSP & Tenaga Kerja Barru dalam satu gedung untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat dengan prinsip Keterpaduan, Akuntabilitas, Berdayaguna, Aksebilitas, Koordinasi dan Kenyamanan dalam pelayanan.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan bahwa Kesamaan visi dan misi antara DPMPTSP & Tenaga Kerja dan instansi lainnya Kabupaten Barru sejalan dengan paradigma pelayanan publik terkini yang bukan hanya sekedar memberikan pelyanan yang cepat tetapi pelayanan yang sudah membangun kepercayaan diantara mereka, pada kenyataanya walaupun visi dan misi yang tertulis memiliki bahasa yang berbeda akan tetapi memilik kesamaan yang

sama yaitu memberikan pelayanan publik yang mudah dan terjangkau.

DPMPTSP & Tenaga Kerja Kabupaten Barru yang berada dalam level koordinasi dipercaya untuk memfasilitasi instansi lainnya bergabung dalam MPP untuk menyalurkan program-program yang mereka bawa untuk membantu jalannya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (MENPAN-RB) Nomor 23 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Mall Pelayanan Publik sebagai terobosan dan inovasi untuk mewujudkan pelayanan yang prima.

2. Initiation (Inisiasi)

Initiation, merupakan dimana setelah jelas bahwa diperlukanya kolaborasi dalam Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Barru, maka tahap ini akan dilaksankan dengan melibatkan peran sponsor atau mungkin akan menjadi sumber daya itu sendiri serta mengumpulkan para pemangku kepentingan untuk mengembangkan kelompok kerja tahap initiation menekan

soft skill” untuk mengadakan, membangun hubungan dan membangun sebuah tim dalam melaksanakan kolaborasi.

Collaborative governance merupakan sebuah proses keputusan kebijakan publik yang melibatkan aktor-aktor yang secara konstruktif berasal dan berbagai level, baik dalam tataran pemerintahan dan atau instansi publik, maupun instansi swasta dan masyarakat sipil, dalam rangka mencapai tujuan publik yang tidak dapat dicapai jika dilaksanakan oleh satu pihak saja (Astari, Mahsyar, & Parawangi, 2019).

Sumber daya manusia dalam penyelenggaraan MPP adalah seluruh personil DPMPTSP dan perwakilan para pihak yang bergabung dalam MPP.

Perwakilan para pihak sebagaimana dimaksud adalah petugas layanan yang ditempatkan untuk bertugas di MPP berdasarkan penetapan/penugasan dari masing-masing Pimpinan para pihak yang bergabung dalam MPP sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Proses inisiasi ini melibatkan para pemangku kepentingan untuk mengembangkan kelompok kerja dan melibatkan sumber daya manusia serta sumber dana (Morse dan Stephen, 2012). Sebagaimana hasil penelitian seluruh aparatur DPMPTSP Kabupaten Barru merupakan penyelenggara utama pelayanan di Mall Pelayanan Publik dan personil insttitusi yang terlibat dalam MPP proses ini memliki masing-masing front office untuk mendukung program kolaborasi ini. Sedangkan sumber dana yang digunkan dalam penyelenggaraan Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Barru seperti biaya operasional, pemeliharaan Gedung, listrik, air, jaringan internet dan telepon yang digunakan untuk penyelenggaraan MPP dibebankan pada APBD pada DPMPTSP sedangkan pembiayaan yang terkait dengan pelaksanaan fungsi pelayanan menjadi tanggung jawab masing-masing instansi yang tergabung dalam MPP yang dibebankan kepada APBD.

3. Deliberation (Musyawarah).

Dalam hal ini yang dimaksud dengan deliberation adalah adanya atura- aturan dasar, batasan-batasan bekerjasama siapa yang terlibat dan siapa yng tidak boleh terlibat (boundry and exclusivity) adanya aturan yang jelas dan

telah disepakati bersama (rules) dalam menentukan suatu kesepakatan dalam proses musyawarah.

Setelah memulai proses dengan kelompok kerja dan mendapatkan komitmen untuk bekerja sama, tahap deliberation pun dilaksanakan. Tahap Deliberation (Pertimbangan) merupakan “suatu proses musyawarah untuk menentukan suatu kesepakatan dalam proses kolaborasi yang dilakukan oleh para stakeholder dalam mendapatkan komitmen untuk bekerja sama” (Morse dan Stephen, 2012).

DPMPTSP Kabupaten Barru telah menjalankan tugas mengkoordinir seluruh Instansi dan pihak swasta di Kabupaten Barru yang bergerak dalam bidang pelayanan publik. DPMPTSP Kabupaten Barru telah dipercaya dalam menjalankan program-program MPP bersama instansi lainnya. DPMPTSP Wajib menyampaikan, mengkomunikasikan, dan menerima keikutsertaan pelayanan Kementerian/ Lembaga/ Pemerintah Daerah lainnya, serta pelayanan Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah/swasta.

Pelaksanaan Musyawarah yang diselenggarakan di DPMPTSP Kabupaten Barru, membahas mengenai kesepakatan kolaborasi dalam menentukan dalam menentukan suatu kesepakatan terhadap pelaksanaan pelayanan publik. Pelaksanaan musyawarah ini menghadirkan seluruh pemangku kepentingan stakeholder dalam pelaksanaan pelayanan publik.

Berdasarkan penjelasan di atas bahwa upaya dalam penyelenggaraan Mall Pelayanan Publik harus dengan adanya musyarah atau para stakeholder yang ikut dalam kolaborasi agar mendapatkan komitmen untuk bekerjasama

bergabung dalam MPP yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman dan/atau Perjanjian Kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan masing-masing penyelenggara pemberi layanan dalam Mall Pelayanan Publik.

4. Implementation (Implementasi).

Implementasi collaboraitve governance di Mal Pelayanan Publik Kabupaten Barru, dalam pelaksanaan collaboraitve governance yang diberikan oleh Mall Pelayanan publik ini apakah sudah memberikan pelayanan yang di harapkan oleh masyarakat dalam hal collaboraitve governance, Berdasarkan Hasil Observasi peneliti di lapangan melihat bahwa Mal pelayanan Publik ini telah memberikan solusi kepada masyarakat dengan adanya mal pelayanan ini lebih memudahkan masyarakat dalam mengurusi berbagai pelayanan di beberapa instansi yang ada.

Implementation adalah pelaksanaan atau suatu tindakan pelaksaaan sebuah rencana yang sudah disusun secara matang dan terperindi.

Implementasi biasanya dilakukan setelah perencanaan sudah dinaggap matang.

“setelah mitra memutuskan hasil dan strategi, proses kolaboratif bergerak ke tahap implementasi” (Morse dan Stephen, 2012).

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat kita ketahui terkait dengan kolaborasi dalam pengurusan pelayanan di Mal Pelayanan Publik Kabupaten Barru ini dinilai memberikan dampak positif kepada masyarakat karena lebih mempermudah masyarakat baik dalam pengurusan perizinan dan non perizinan di Kabupaten Barru karena beberapa pelayanan yang sangat penting tergabung dalam satu tempat yaitu Mall Paelayanan Publik.

65

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai Collaborative Governance melalui Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Barru dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Assessment Collaborative Governance melalui Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Barru sudah bertujuan kearah yang sama yaitu DPMPTSP Kabupaten Barru yang berada dalam level koordinasi dipercaya untuk memfasilitasi instansi lainnya bergabung dalam MPP untuk menyalurkan program-program yang mereka bawa untuk membantu jalannya Peraturan (MENPAN-RB) Nomor 23 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Mall Pelayanan Publik sebagai terobosan dan inovasi untuk mewujudkan pelayanan yang prima.

2. Initiation Collaborative Governance melalui Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Barru bahawa sumber daya penyelenggara utama adalah DPMPTSP Kabupaten Barru, sedangkan sumber dana yang digunkan dalam penyelenggaraan Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Barru dibebankan pada Aanggaran Pendapatan Belanja Daerah.

3. Deliberation Collaborative Governance melalui Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Barru sudah berjalan dengan baik terdapat komitmen untuk bekerjasama bergabung dalam MPP yang dituangkan dalam Nota

Kesepahaman dan/atau Perjanjian Kerjasama antara Pemerintah Daerah dengan masing-masing penyelenggara pemberi layanan dalam Mall Pelayanan Publik.

4. Implementation Collaborative Governance melalui Mall Pelayanan Publik di Kabupaten Barru secara umum sudah berjalan dengan baik karena mempermudah masyarakat baik dalam pengurusan perizinan dan non perizinan di Kabupaten Barru karena beberapa pelayanan yang sangat penting tergabung dalam satu tempat yaitu Mall Paelayanan Publik.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut :

1. Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu pintu hendaknya memberikan atau menciptakan Website Khusus Mall Pelayanan Publik yang mencakup masalah perisisnan, pelayanan, dan pengaduan agar masyarakat tidak simpang siur dalam memperoleh informasi sehingga pelayanan yang di berikan lebih tambah baik.

2. Disarankan untuk setiap Tenant Pelayanan yang ada di Mal Pelayanan Publik Kabupaten Barru untuk menambah Kuota layanan, disesuaikan dengan jumlah pemohon agar masyarakat tidak perlu mengantri panjang sebelum MPP dibuka dan menyediakan tempat duduk yang cukup memadai.

67

Agranoff, R., & Mcguire, M. (2003). Collaborative Public Management: New Strategies For Local Governments. Georgetown University Press.

Agustinus, S. (2018). Kebijakan Publik Dan Pemerintahan Kolaboratif Isu-Isu Kontemporer. Gava Media.

Ansell, C., & Gash, A. (2008). Collaborative Governance In Theory And Practice.

Journal Of Public Administration Research And Theory, 18(4), 543-571.

Astari, M. M., Mahsyar, A., & Parawangi, A. (2019). Kolaborasi Antarorganisasi Pemerintah Dalam Penertiban Moda Transportasi Di Kota Makassar (Studi Kasus Kendaraan Becak Motor). JPPM: Journal of Public Policy and Management, 1(1), 1-8.

Darullah & Irawan, S. (2022, Februari 22). MPP Masiga Barru Mendapat Kunjungan Dari DPMPTSP Kolaka Utara. Tribun-Timur.Com. Diambil Dari Https://Makassar.Tribunnews.com

Dewi, N. L. Y. (2019). Dinamika Collaborative Governance Dalam Studi Kebijakan Publik. Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial, 3(2), 200–210.

Donahue, J. D., & Zeckhauser, R. J. (2011). Collaborative Governance. Princeton University Press.

Emerson, K., Nabatchi, T., & Balogh, S. (2012). An Integrative Framework For Collaborative Governance. Journal Of Public Administration Research And Theory, 22(1), 1–29. Diambil Dari Https://Doi.Org/10.1093/Jopart/Mur011 Harakan, A., & Ferawaty, F. (2020). Collaborative Governance Dalam

Menjalankan Sistem Keamanan Berbasis Closed Circuit Television (CCTV) Di Kota Makassar. Gorontalo Journal Of Public Administration Studies, 3(1), 38–53.

Hayat, H. (2017). Peneguhan Reformasi Birokrasi Melalui Penilaian Kinerja Pelayanan Publik. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 20(2), 175-188.

Jung, Y. D., Mazmanian, D., & Tang, S. Y. (2009). Collaborative Governance In The United States And Korea: Cases In Negotiated Policymaking And Service Delivery. International Review Of Public Administration, 13(1), 1–

11.

Juniarso, R., & Achmad, S. S. (2009). Hukum Administrasi Negara Dan Kebijakan Pelayanan Publik. Bandung: Nuansa.

Kooiman, J. (2007). Governing As Governance. Public Administration, 85(1), 227-253.

Mahsyar, A. (2015). Public Private Partnership: Kolaborasi Pemerintah dan Swasta Dalam Pengelolaan Aset Publik di Kota Makassar. Jurnal Administrasi Publik, 12(1).

Marlina, S. E., Fadli, Y., & Ginanjar, A. (2020). Model Kolaborasi Pembangunan Kawasan Perkotaan: Implementasi Cap Dalam Penataan Kampung Akuarium Di Dki Jakarta. Prosiding Simposium Nasional “Tantangan Penyelenggaraan Pemerintahan Di Era Revolusi Indusri 4. 0,” 169-196.

Morse, R. S., & Stephens, J. B. (2012). Teaching Collaborative Governance:

Phases, Competencies, And Case-Based Learning. Journal Of Public Affairs Education, 18(3), 565-583.

Mukoram, Z., & Laksana, M. W. (2016). Membangun Kinerja Pelayanan Publik:

Menuju Clean Government And Good Governance. Bandung: Pustaka Setia.

Ratminto, A., & Winarsih, S. (2006). Manajemen Pelayanan Publik. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Ristiani, I. Y. (2020). Manajemen Pelayanan Publik Pada Malll Pelayanan Publik Di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat. Coopetition, 11(2), 325691.

Sedarmayanti. (2004). Good Governance (Kepemerintahan Yang Baik). Bandung:

CV. Mandar Maju.

Seigler, D. (2011). Renewing Democracy By Engaging Citizens In Shared Governance. Public Administration Review, 6(71), 968-970.

Simanjuntak, C. Y. (2021). Peran DPM-PTSP Dalam Kerja Sama Pada Mall Pelayanan Publik (Studi Pada Mall Pelayanan Publik Kota Bekasi) (Universitas Brawijaya). Diambil Dari Http://Repository.Ub.Ac.Id/185261/

Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R & D.

Bandung: Alfabeta.

Syafiie, I. K. (2011). Pengantar Ilmu Pemerintahan. Bandung: PT. Refika Aditama.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik

Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (MENPAN-RB) Nomor 23 Tahun 2017 Tentang Penyelenggaraan Mall Pelayanan Publik.

LAMPIRAN

1. Dokumentasi

Dokumentasi dengan Pengelola Mall Pelayanan Publik Masiga Kab. Barru

Dokumentasi dengan Staf Front Office DPMPTSP&TK Kab. Barru

2. Surat Izin Penelitian

3. Bebas Plagiat

Dokumen terkait