• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

pada kemampuan pemahaman konsep pecahan pada pembelajaran matematika yang menggunakan model pembelajaran terbalik dengan pembelajaran konvensional. Adapun perbedaan rata-rata (mean diference) sebesar 0.52 (76.17-75.65), dan perbedaan berkisar antara -4.58 sampai 3.54.

Berdasarkan pada nilai signifikansi pada tabel independent sample test menujukkan bahwa sig 0.000<0.050, maka berarti bahwa terdapat perbedaan pemahaman konsep pecahan antara kelas eksperimen dan kelas control, dan berdasarkan pada rata-rata posttest kelas eksperimen 76.17<rata-rata posttest kelas kontrol 75.65, dengan demikian maka hipotsis penelitian adalah menolak Ho dan meneriman H1. Sehingga berarti bahwa nilai matematika pada murid yang menggunakan model Pembelajaran Terbalik lebih tinggi dari pada pembelajaran konvensional.

Berdasarkan kategorisasi kemampuan pemahaman konsep pecahan, yaitu terdapat 5 murid berada pada kategori sangat rendah dan 10 murid berada pada kategori rendah serta 8 murid berada pada kategori sedang dan selanjutnya tidak terdapat murid berada pada kategori tinggi dan sangat tinggi, sedangkan pada posttest pada kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran terbalik dengan kategorisasi kemampuan pemahaman konsep pecahan, yaitu 20 murid berada pada kategori tinggi dengan persentase 86.9% dan 3 murid berada pada kategori sedang dengan persentase 13.1%.

Melihat pada nilai nilai persentase paling tinggi yang diperoleh pretest dan posttest yaitu 34.7% dan 86.9%, maka dapat disimpulkan bahwa gambaran kemampuan pemahaman konsep pecahan pada kelas eksperimen untuk hasil pretest berada pada kategori sedang sedangkan hasil posttest berada pada kategori tinggi.

Selanjutnya untuk menganalisis pemahaman konsep murid berdasarkan pada kemampuan mengerjakan soal-soal posttest yang diberikan pada diperoleh bahwa terdapat murid mayoritas mengerjakan soal pecahan bentuk pecahan campuran dan desimal. Hal tersebut tercermin dari hasil Belajar murid yang dimana pada soal nomor 2,3,6,10 yang merupakan soal pecahan campuran dan desimal mendapatkan skor tertinggi yakni 52,47, dan 46. Sedangkan pada bentuk soal lainnya mendapatkan skor antara 38-45.

Pemahaman konsep pecahan pada hasil Belajar posttest diperoleh bahwa soal nomor 4 yang merupakan bentuk pecahan campuran mendapatkan skor 60 tertinggi dibandingkan dengan soal yang lainnya, dimana murid menjawab secara lengkap dan benar.Sedangkan tertinggi kedua yaitu di kerjakan dengan skor 57 dan 56 merupakan pecahan campuran dan pecahan biasa.

Senada Piaget dalam Sugiyono, setiap anak menciptkan kemampuan berpikirnya menurut tahapan yang teratur. Proses berpikir anak merupakan suatu aktivitas gradual, tahap demi tahap dari fungsi intelektual, dari konkret menuju abstrak. Pada suatu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur kognitif tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung kepada pencapaian tahapan sebelumnya. Secara garis besar skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya dibagi dalam empat periode utama atau tahapan-tahapan salah satunya adalah tahap operasional formal (mulai usia 11 tahun dan seterusnya). Sejak tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak, yaitu berpikir mengenai ide, mereka sudah mampu memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah. Berdasarkan teori Piaget, tahap operasional formal (mulai usia 11 tahun dan seterusnya) merupakan tahap dimana murid sudah mampu berpikir mengenai alternatif pemecahan, jika dikaitkan dengan teori Piaget yang berarti murid Kelas V sudah mampu berpikir mengenai konsep yang akan digunakan dalam pemecahan masalah.

Berdasarkan munculnya gambaran kemampuan pemahaman konsep pecahan yang telah dijabarkan, peneliti menyimpulkan bahwa hal tersebut sejalan dengan kondisi selama proses pembelajaran berlangsung. Sebelum menerapkan model pembelajaran terbalik sebagian besar murid masih mengalami kesulitan dalam memecahkan permasalahan yang terdapat di dalam soal yang diberikan, karena kesulitannya dalam memahami konsep sehingga murid tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang terdapat dalam soal selain itu juga terdapat murid yang hanya menulis angka-angka yang ada di dalam soal tanpa mengetahui konsep yang digunakan secara tepat. Murid yang diajar menggunakan model pembelajaran terbalik cenderung lebih aktif dalam proses pembelajaran karena murid bekerja dalam kelompoknya. Murid lebih mudah memecahkan permasalahan yang terdapat dalam soal karena murid bekerjasama dalam kelompoknya, murid yang memiliki rasa malu bertanya kepada gurunya bisa bertanya kepada anggota kelompoknya.

metode yang bisa membantu murid untuk mengembangkan kemampuan pemahaman konsep pecahan terlebih bagi murid yang memiliki rasa kesulitan atau rasa malu untuk bertanya kepada gurunya apabila ada materi yang tidak dipahaminya, melalui model pembelajaran terbalik ini murid mampu mengeluarkan gagasan yang dimiliki dan disampaikan kepada anggota kelompok lainnya.

b. Deskripsi Kemampuan Pemahaman Konsep Pecahan yang diajar melalui Model Pembelajaran Konvensional

Berdasarkan hasil pretest dan posttest yang diberikan pada kelas kontrol yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional pada murid kelas V Kabupaten Barrudi peroleh nilai maksimumnya 73, nilai minimumnya sehingga rata-rata yang diperoleh pada kelas konvensional yaitu 55.9 dengan standar deviasi 8.160.

Mengarah pada kategori kemampuan pemahaman konsep pecahan, diperoleh bahwa tidak ada murid berada pada kategori sangat rendah dan 15 murid berada pada kategori sangat rendah dengan persentase 65.3% serta 6 murid berada pada kategori rendah dengan persentase 26.0% dan 2 murid pada kategori sedang dengan persetase 8.7%, selanjutnya tidak ada murid berada pada kategori tinggi maupun sangat tinggi.

Pada posttest muncul pada kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional dengan kategorisasi kemampuan pemahaman konsep pecahan, yaitu 10 murid berada pada kategori tinggi dengan persentase 43.5% dan 10 murid pada kategori sedang dengan persentase 43.5% dan 3 murid berada pada kategori sedang dengan persentase 13.0%.

Merujuk pada nilai nilai tertinggi yang diperoleh pretest dan posttest yaitu 8.7% dan 87.0%, maka dapat dikatakan bahwa gambaran pemahaman konsep pecahan pada kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional untuk hasil pretest berada pada kategori sangat rendah sedangkan hasil posttest berada pada kategori tinggi.

Selanjutnya untuk menganalisis pemahaman konsep murid berdasarkan pada kemampuan mengerjakan soal-soal posttest yang diberikan pada diperoleh bahwa terdapat murid mayoritas mengerjakan soal pecahan bentuk pecahan campuran dan decimal. Hal tersebut tercermin dari hasil Belajar murid yang dimana pada soal nomor 2,4,7, dan 9 yang merupakan soal pecahan campuran dan desimal mendapatkan skor tertinggi yakni 51, 46, dan 44. Sedangkan pada bentuk soal lainnya mendapatkan skor antara 27-38.

Pemahaman konsep pecahan pada hasil Belajar posttest diperoleh bahwa soal nomor 4 yang merupakan bentuk pecahan campuran mendapatkan skor 60 tertinggi dibandingkan dengan soal yang lainnya, dimana murid menjawab secara lengkap dan benar.

Sedangkan tertinggi kedua yaitu di kerjakandengan skor 58 dan 55 merupakan pecahan campuran dan pecahan persen.

Berdasarka gambaran tentang kemampuan pemahaman konsep pecahan yang telah dijabarkan, peneliti menyimpulkan bahwa hal tersebut sejalan dengan kondisi selama proses pembelajaran berlangsung dimana sebagian besar murid masih mengalami kesulitan

memahami masalah yang terkandung dalam memecahkan permasalahan yang terdapat di dalam soal yang diberikan, karena kesulitannya dalam memahami konsep sehingga murid tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang terdapat dalam soal selain itu juga terdapat murid yang hanya menulis angka-angka yang ada di dalam soal tanpa mengetahui konsep yang digunakan secara tepat. Murid yang diajar menggunakan model pembelajaran konvensional cenderung kurang aktif dalam proses pembelajaran karena murid bekerja secara individu. Murid masih sulit dalam memecahkan permasalahan yang terdapat dalam soal karena murid hanya bekerja secara individu karena sebagian murid memiliki rasa takut bertanya kepada gurunya bisa dan malu bertanya kepada temannya. Rasa takut yang dimiliki murid diakibatkan murid merasa pertanyaan yang diajukan tidak berbobot yang akan membuat teman yang lain tertawa akan pertanyaan yang akan diajukan, hal tersebut membuat murid kesusahan dalam menyelesaikan soal yang diberikan.

Metode ini kurang membantu murid untuk mengembangkan kemampuannya dalam memahami konsep pecahan, terutama bagi murid yang mengalami kesulitan atau malu untuk bertanya kepada guru jika ada materi yang belum dipahami.

c. Perbedaan pemahaman konsep pecahan yang diajar melalui model pembelajaran terbalik dengan pembelajaran konvensional pada murid kelas V Sekolah Dasar Gugus II Wilayah I Kecamatan Balusu Kabupaten Barru

Berdasarkan output independent sample test, diketahui nilai sig.

(2-tailed) adalah sebesar 0.000<0.005, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan rata-rata antara hasil Belajar pretest dan posttest yang berarti ada pengaruh penggunaan model Pembelajaran Terbalik terhadap pemahaman konsep murid

Setelah ditemukan pengaruh model Pembelajaran Terbalik terhadap pemahaman konsep pecahan pada Murid kelas V, untuk menjawab hipotesis kedua dalam penelitian ini maka dilakukan pengujian uji independent sampel test pada kedua kelas dan diperoleh rata-rata pemahaman konsep pada murid yakni pretest 65.13 sedangkan rata-rata posttest kelas eksperimen sebesar 76.17. jumlah murid yang digunakan dalam sampel penelitian adalah sebanyak 23 orang. Sedangkan nilai Std. Deviasi pada pre test sebesar 7.724 dan posttest sebesar 7.401 dan nilai error mean pada pre test adalah 1.610 dan post test sebesar 1.543, karena nilai rata-rata pemahaman konsep pecahan pada pretest 55.95<posttest 75.65, maka berarti secara deskriptif ada perbedaan rata-rata antara pretest dengan hasil posttest pada kelas kontrol.

Berdasarkan pada nilai signifikansi pada tabel independent sampel test meunjukkan bahwa sig 0.000<0.05, maka berarti bahwa terdaat perbedaan hasil Belajar antara kelas eksperimen dan kelas control, dan berdasarkan pada rata-rata posttest kelas eksperimen 76.17< rata-rata posttest kelas eksperimen 75.65, dengan demikian maka hipotsis penelitian adalah menolak Ho dan meneriman H1.

Sehingga berarti bahwa nilai matematika pada murid yang menggunakan model pembelajaran terbalik lebih tinggi dari pada pembelajaran konvensional.

Berdasarkan hasil uji statistik inferensial, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan pemahaman konsep pecahan pada murid yang diterapkan model pembelajaran terbalik dan murid yang diterapkan model pembelajaran konvensional di kelas V.

Senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Pisca Gita, dkk dengan judul „‟Pengaruh Model Pembelajaran terbalik Terhadap Pemahaman Konsep dan Motivasi Belajar Matematika Murid Kelas V SD”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor pemahaman konsep matematika murid yang mengikuti model pembelajaran Pembelajaran terbalik (kelompok eksperimen) sebesar 48,37,rata-rata skor pemahaman konsep matematika murid yang mengikuti model pembelajaran konvensional (kelompok kontrol) sebesar 39,37. berarti bahwa rata-rata pemahaman kosep matematika murid eksperimen

lebih tinggi dari pada rata-rata pemahaman konsep matematika murid kelompok kontrol.

Hipotesis yang dikemukakan oleh Ausubel dalam Sugiyono bahwa pembelajaran berdasarkan hafalan (rote learning) tidak banyak membantu murid di dalam memperoleh pengetahuan, pembelajaran oleh guru harus sedemikian rupa sehingga membangun pemahaman dalam struktur kognitifnya, pembelajaran haruslah bermakna (meaningful learning) bagi murid untuk menyelesaikan problem kehidupannya.4 Teori ini sesuai dengan salah satu keunggulan model pembelajaran Pembelajaran terbalik yakni model pembelajaran ini mengajak murid untuk belajar dengan mengerti sehingga murid tidak mudah mengabaikan.

Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Ausubel sangat jelas menggambarkan bahwa murid yang hanya belajar dengan menghapal materi atau rumus-rumus matematika akan mudah lupa ketimbang murid belajar dengan bermakna atau murid belajar tentang konsep – konsep ilmia.

Berdasarkan perpsepsi yang muncul dari hasil analisis bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran terbalik lebih baik dibanding model pembelajaran konvensional. Perbedaan model pembelajaran yang diterapkan di kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan hasil penelitian yakni 1) pembelajaran matematika yang diterapkan model pembelajaran terbalik dapat meningkatkan interaksi dan

komunikasi antar murid sehingga murid yang merasa malu bertanya dengan guru menjadi berani karena yang dihadapinya adalah teman sebayanya sendiri, sedangkan pembelajaran matematika yang diterapkan model pembelajaran konvensional kurang meningkatkan interaksi antar murid karena dalam proses pembelajaran ini mereka bekerja secara individu dan murid yang merasa malu bertanya kepada guru akan kesulitan dalam memecahkan masalah, 2) pembelajaran matematika yang diterapkan model pembelajaran terbalik melatih tanggung jawab setiap murid akan perannya di dalam kelompok untuk memahami materi dan menyelesaikan tugas yang diberikan, berbeda dengan pembelajaran matematika yang diterapkan model pembelajaran konvensional, murid memahami materi dan menyelesaikan tugas yang diberikan secara individu, 3) pembelajaran matematika yang diterapkan model pembelajaran terbalik diyakini dapat membuat murid lebih aktif dan memberikan banyak kesempatan kepada murid untuk berkomunikasi dalam mengungkapkan konsep yang terkandung dalam permasalahan di dalam soal dengan cara berbagi informasi dalam diskusi dalam kelompok maupun antar kelompok, serta pada pembelajaran ini peran guru sebagai fasilitator sementara murid berpikir, berbeda dengan proses pembelajaran model konvensional guru yang memiliki peran besar dibanding murid, artinya guru lebih aktif dalam proses pembelajaran dibanding murid.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, simpulan dari penelitian adalah sebagai berikut.

1. Pemahaman konsep pecahan pada kelas eksperimen untuk hasil pretest berada pada kategori „‟sedang‟‟ sedangkan hasil posttest berada pada kategori „‟tinggi‟‟ sedangkan gambaran kemampuan pemahaman konsep pecahan pada kelas kontrol untuk hasil pretest berada pada kategori „‟rendah‟‟ sedangkan hasil posttest berada pada kategori „‟tinggi‟‟.

2. Berdasarkan output independent sampel test, diketahui nilai sig. (2- tailed) adalah sebesar 0.000<0.005, maka Ho ditolak dan H1 diterima.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh penggunaan model Pembelajaran Terbalik terhadap pemahaman konsep pecahan pada murid kelas V Sekolah Dasar Gugus II Wilayah I Kecamatan Balusu Kabupaten Barru. Terdapat perbedaan pemahaman konsep pecahan pada murid yang menggunakan model pembelajaran terbalik dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, pembahasan, dan kesimpulan yang ada, maka peneliti mengajukan saran sebagai berikut.

96

1. Kepada guru di Gugus II Wilayah I Kecamatan Balusu Kabupaten Barru agar dalam pembelajaran model pembelajaran yang dapat membuat murid lebih aktif dan murid lebih tertarik dalam mengikuti proses pembelajaran.

2. Kepada penentu kebijakan dalam bidang pendidikan agar hasil penelitian ini dijadikan bahan pertimbangan dalam rangka meningkatkan mutu Pendidikan di sekolah Gugus II Wilayah I Kecamatan Balusu Kabupaten Barru.

3. Kepada peneliti lain diharapkan untuk mengekspolorasi factor factor terkait pada bahan tertentu dengan keadaan dan kondisi yang berbeda sehingga pada kahirnya akan memberikan yang jauh lebi baik, lebih kuat dan lebih berkualitas.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto,S.1986. Pengelolaan Kelas dan Murid. Jakarta : CV Rajawali.

Arends. 2011. Dalam Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif- Progresif. ... 2010. “Penerapan Model Pembelajaran Open Ended dengan Strategi.

Aziz, Rahmat. 2014. Psikologi Pendidikan: Model Pengembangan Kreativitas dalam Praktik Pembelajaran. Malang: UIN-MALIKI PRESS (Anggota IKAPI).

Brown, H. Douglas. 2000. Teaching by Principles an Interactive Approach Language Pedagogy. London: Prentice-Hall International (UK) Limited.

Cica Anwar Jurusan PLB FIP UNP, Meningkatkan kemampuan pemahaman konsep pecahan Sederhana melalui media kepingan cd (compact disk) Bagi anak kesulitan belajar http:// ejournal.

unp.ac.id /index.php/jupekhu

Dmyati dan Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran .Jakarta: PT RinekaCipta.

Effandi (2007: 86) https://rumusbilangan.com/bilangan-pecahan/. Diakses pada tanggal 24 Januari 2019.

Gulo,W. 2008. Strategi Belajar Mengajar.Jakarta : PT. Grasindo

Khabibah, S. 1999. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berdasarkan Prinsip Pengajaran Terbalik pada Pokok Bahasan Sistem Persamaan Linier di SMU. Tesis Magister Pendidikan tidak dipublikasikan. Surabaya: PPs Universitas Negeri Surabaya

Herman. 2005. Manajemen Risiko. Bumi Aksara, Jakarta.

http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujmer Pembelajaran Model Pembelajaran terbalik Bernuansa Pendidikan Karakter Untuk Meningkatkan Kemampuan Komuniasi Matematis S.Hasanah, Rochmad, I. Hidayah

Joice, B. and Weil. 1992. Models of Teaching. Boston: Allyn and Bacon Publishing Company.

Kardi, S. dan Nur, M. 2000a. Pengajaran Langsung. Surabaya: University Press UNESA.2000b. Pengantar pada Pengajaran dan Pengelolaam Kelas. Surabaya: University Press UNESA.

Kunandar.2014. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Negoro, S.T. danB.Harahap. 2011.Ensiklopedia Matematika. Jakarta:

Ghalia Indonesia

Nur, M. dan Wikandari, P.R. 2000. Pengajaran Berpusat Kepada Murid Dan Pendekatan Konstruktivis Dalam Pengajaran. Surabaya:

Universitas Negeri Surabaya.

Nur, M. 2000. Strategi-Strategi Belajar. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Nur, M., Wikandari, P.R., dan Sugiarto, B. 2000. Teori Pembelajaran Kognitif. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.

Palincsar, A.S., & Brown, A.L.(2000). Pembelajaran terbalik of comprehension-fostering and comprehension-monitoring activities.

Cognition and Instruction, 2

Pisca Gita, dkk.,” Pengaruh Model Pembelajaran terbalik Terhadap Pemahaman Konsep dan Motivasi Belajar Matematika Murid Kelas V SD”

Purwanto.2007.Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rusman, T. 2013. Model-Model Pembelajaran. Bandung: Mulis Mandiri Pers.

Rusman. (2011). Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada.

Sudirman. 2010. Cerdas Aktif Matematika (Pelajaran Matematika untuk SMP). Jakarta: Ganeca Exact.

Sudjana.(2009). Metode Statistik. Bandung: PT. Transito

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.

Bandung: Alfabeta.

Arikunto,S. (2005). Manajemen Penelitian.Jakarta: Rineka Citra.

Suprijono.(2015). Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Sriyanti dan Marlina, (2003 : 118) dari http:// swastyastu. wordpress.com /2019/01/04/strategi-pembelajaran-reciprocal-teachi

Suhartono, S. 2009. Filsafat Pendidikan.Badan Penerbit UNM

Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajardan Pembelajaran di Sekolah Dasar:.Kencana Prenada Media Group.Jakarta.

Suratno. 2008. Karakteristik Guru-Guru Biologi SMA di Jember terhadap Pemahaman Strategi Kooperatif Jigsaw, Pembelajaran terbalik dan Ketrampilan Metakognisi:. Jurnal Bioedukasi Vol VI:145-159.

Susanto. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar.Jakarta:

Kencana Prenadamedia Group

Suyatno.2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. (Sidoarjo: Masmedia Buana Pusaka)

Trianto. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivitik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Trianto.2010. Model-model Pembelajaran Inovatif .Jakarta : Prestasi Pustaka.

UU No.20/2003 tentang SISDIKNAS pasal 1 ayat 1 dan pasal 3 ayat 1 yang menyebutkan, “Pendidikan nasional.

Widiantari. 2012. Model Pembelajaran Konvensional. Bandung: Pustaka Setia.

Wiludjeng, I. 1999. Penerapan Pendekatan Pembelajaran terbalik dalam Pembelajaran Fisika SMU Pokok Bahasan Tektonik Lempeng.

Tesis Magister Pendidikan tidak dipublikasikan. Surabaya: PPs Universitas Negeri Surabaya.

Dokumen terkait