• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen Posttest Kelas Eksperimen (Halaman 97-117)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Pengaruh model pembelajaran inkuri terbimbing terhadap keterampilan berpikir kritis pada siswa kelas V SD Inpres Tompo Kabupaten Barru

Berdasarkan hasil uji hipotesis diperoleh bahwa nilai koefisien regresi (β) dan nilai signifikansi (Sig.) yang diperoleh menunjukkan bahwa sig α = 0.05> 0.035, yang berarti bahwa terdapat pengaruh X (pembelajaran inquri terbimbing) terhadap Y kemampuan berfikir kritis siswa). Selanjutnya nilai probabilitas (p-value) sebesar 0,035. Karena nilai probabilitas (p-value) lebih kecil dari 0,050 artinya model regresi dalam penelitian ini dapat dikatakan bahwa X (pembelajaran inquri terbimbing) berpengaruh terhadap Y (kemampuan berfikir kritis siswa) dengan besar pengaruh variable independen yaitu X (pembelajaran inquiri terbimbing) terhadap variable dependen Y (kemampuan berfikir kritis siswa) yang dapat diterangkan oleh persamaan ini sebesar 27.5%. Sedangkan sisanya

sebesar 72.5% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model regresi.

Pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap kemampuan berfikir siswa karena pembelajaran inkuiri terbimbing menekankan kerja aktif dan proses berpikir siswa, sedangkan pembelajaran yang diterapkan pada kelas control melalui penerapan model pembelajaran konvensional dengan metode ceramah bervariasi.

Peran guru lebih dominan dibandingkan dengan kegiatan siswa sehingga cenderung membuat siswa bersikap pasif dalam proses pembelajaran.

Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa yang diperoleh pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Sejalan dengan hasil penelitian Priono (2015) menunjukkan bahwa rata-rata capaian kemampuan berpikir kritis siswa meningkat melalui penerapan inkuiri terbimbing. Hal ini dapat terjadi karena melalui pembelajaran inkuiri terbimbing, guru mengajak siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.

Siswa diajak aktif berpikir mengenali masalah, mengungkapkan gagasan–

gagasan pemecahan masalah, merancang percobaan sendiri untuk menjawab masalah yang dihadapi, melakukan percobaan untuk mencari jawaban, menganalisis dan menginterpretasi data, menemukan jawaban, serta mendiskusikan hasilnya sampai pada penyusunan kesimpulan.

Inkuiri terbimbing mampu melatihkan keterampilan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah. Proses pemecahan masalah dikaitkan dengan permasalahan sehari-

hari,sehingga siswa memiliki kesempatan untuk Belajar memecahkan masalah yang dihadapinya di kehidupan sehari-hari dan masalah yang berasal dari fenomena – fenomena nyata yang mengakibatkan siswa akan terlibat dalam perilaku berpikir.

Sejalan dengan penelitian Azizmalayeri (2012); Fuad, et al (2017);

serta Tindangen (2007) yang membuktikan bahwa pembelajaran inkuiri berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Pada prinsipnya keseluruhan proses pembelajaran inkuiri terbimbing membantu siswa menjadi mandiri, percaya diri, dan yakin terhadap kemampuan intelektualnya sendiri untuk terlibat secara aktif. Guru membimbing siswa dalam pembelajaran sehingga diharapkan mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui sintaks inkuiri terbimbing.

Sintaks inkuiri terbimbing meliputi enam tahapan yaitu menyajikan pertanyaan atau masalah, membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan percobaan, mengumpulkan dan menganalisis data serta membuat kesimpulan. Pembelajaran inkuiri terbimbing menekankan pada proses berpikir yang bersandarkan pada proses belajar dan hasil belajar serta mengembangkan seluruh potensi siswa termasuk keterampilan inkuiri. Sejalan dengan penelitian Hasruddin (2009) bahwa penerapan pembelajaran inkuiri dapat memberdayakan kemampuan berpikir siswa sehingga dapat memaksimalkan kemampuan berpikir kritis. Setiap tahapan dari sintaks inkuiri terbimbing mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.

Tahap pertama, menyajikan masalah atau pertanyaan. Guru memperlihatkan kepada siswa fakta terkait materi yang diajarkan, kemudian melakukan tanya jawab dengan siswa melalui pertanyaan- pertanyaan yang diajukan dan terkait fakta yang ditunjukkan oleh guru.

Selanjutnya siswa mengidentifikasi masalah dengan dibimbing oleh guru.

Siswa membuat pertanyaan sebagai rumusan masalah terkait dengan materi. Siswa merumuskan tentang konsep Daur Air. Guru meminta siswa untuk merumuskan masalah terkait Daur Air berdasarkan hasil praktikum yang akan siswa lakukan dan membagi siswa dalam enam kelompok.

Siswa bekerja secara berkelompok mendiskusikan rumusan masalah yang telahdibuat masing-masing siswa kemudian menentukan topik atau judul praktikum.

Kemampuan berpikir kritis siswa dapat dilatih dan dikembangkan dengan selalu bertanya dan mempertanyakan berbagai fenomena yang sedang dipelajari. Hal tersebut dapat dikaitkan dengan penelitian Gengarelly (2009) bahwa inkuiri dapat mengajarkan siswa bagaimana mengajukan pertanyaan di kelas dan memperoleh jawaban sendiri. Inkuiri dapat mendorong kebiasaan berpikir ilmiah siswa dan siswa lebih terbuka terhadap ide-ide baru dalam kelompok atau kelas, dengan harapan agar siswa berpikir tentang proses tidak hanya hasil akhir. Tahap merumuskan masalah dapat melatihkan kemampuan berpikir kritis pada aspek interpretation, karena dalam pembelajaran guru melakukan tanya jawab dan membimbing siswa merumuskan masalah terkait fakta yang

ditunjukkan. Inkuiri dapat mendorong kebiasaan berpikir ilmiah siswa dan siswa lebih terbuka terhadap ide-ide baru dalam kelompok atau kelas, dengan harapan agar siswa berpikir tentang proses tidak hanya hasil akhir.

Tahap kedua, merumuskan hipotesis. Siswa merumuskan hipotesis yang relevan berdasarkan rumusan masalah yang telah dibuat.

Proses merumuskan hipotesis dilakukan dalam diskusi kelompok. Siswa mendiskusikan dan mengemukakan gagasan sebagai hipotesis terhadap permasalahan mengenai Daur Air berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki. Guru membimbing siswa dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan dan memprioritaskan hipotesis mana yang menjadi prioritas penyelidikan. Siswa dapat merumuskan banyak alternative hipotesis dalam menanggapi masalah dan mengecek data terhadap hipotesis untuk membuat keputusan. Hal tersebut sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif Piaget, yakni siswa SD kelas V sudah berada pada tahap formal. Hipotesis dapat dibuktikan dengan melakukan kegiatan percobaan dan analisis literature.

Tahap merumuskan hipotesis dapat melatihkan kemampuan berpikir kritis pada aspek analysis dan inference. Siswa melakukan kajian literatur dan berpikir secara logis dalam membuat hipotesis. Sebelum dijadikan hipotesis, siswa terlebih dahulu menganalisis pendapat dan alasan dari tiap anggota kelompok. Pada tahap membuat hipotesis, siswa mengidentifikasi unsur-unsur apa saja yang akan dijadikan hipotesis

melalui rumusan masalah yang telah dibuat oleh siswa dengan mempertimbangkan informasi yang relevan. Setelah menilai ide dan saran yang akandi gunakan dalam penyelesaian masalah, siswa mengembangkan rencana dengan mengumpulkan informasi untuk memperkuat hipotesis tersebut.

Tahap ketiga yaitu merancang percobaan. Sebelum melaksanakan kegiatan percobaan siswa terlebih dahulu membuat rancangan percobaan. Siswa membuat rancangan percobaan yang menghasilkan daur air melalui kegiatan diskusi dan kajian literatur, menentukan alat dan bahan yang dibutuhkan, dan menentukan langkah- langkah percobaan, kemudian menuliskannya di Lembar Kerja Siswa.

Setiap tahap dalam rancangan percobaan didiskusikan dan dibimbing oleh guru. Kegiatan diskusi kelompok akan terjadi interaksi antar anggota kelompok seperti saling bertukar pendapat, berbagi pengetahuan dan mengemukakan gagasan untuk menyelesaikan masalah. Hal ini sejalan dengan teori belajar Piaget (Trianto, 2011) bahwa proses aktif dalam belajar akan membuat siswa membangun system makna dan pemahaman mengenai fakta melalui pengalaman-pengalaman dan interaksi mereka baik dengan sumber-sumber maupun dengan rekan-rekan belajarnya.

Rancangan percobaan dibuat untuk membuktikan hipotesis dan mendapatkan jawaban untuk pemecahan masalah melalui kegiatan percobaan.

Tahap merancang percobaan dapat melatihkan kemampuan berpikir kritis pada aspek analysis dan explanation. Pada tahap merancang pecobaaan, siswa menganalisis dan mengenali gagasan dan alasan yang disampaikan oleh tiap anggota kelompok. Anggota kelompok akan menjelaskan gagasan atau ide yang mereka miliki kepada anggota lainnya tentang rancangan percobaan, menentukan alat dan bahan, dan menentukan langkah-langkah percobaan. Siswa memberikan pendapat dengan didukung dengan bukti yang kuat misalnya dari literatur, mendeskripsikan metode dan kriteria yang digunakan untuk mencapai hasil dalam pemecahan masalah.

Tahap keempat, siswa melakukan percobaan (kegiatan eksperimen) untuk membuktikan hipotesis dan memperoleh informasi.

Kegiatan percobaan dilakukan untuk memecahkan masalah dan membuktikan hipotesis, selanjutnya siswa mampu membangun dan menemukan konsep pengetahuan sendiri. Siswa membuktikan dampak pencemaran terhadap makhluk hidup melalui kegiatan percobaan yang telah dirancang. Pada proses kegiatan percobaan, siswa melakukan pengamatan dan memperoleh data hasil pengamatan. Kegiatan eksperimen melibatkan siswa secara aktif. Keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran menjadikan belajar bermakna. Proses belajar bermakna terjadi jika siswa mampu mengasimilasi pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Sejalan dengan teori belajar menurut Ausubel (Dahar, 2006) bahwa informasi yang dipelajari secara

bermakna lebih lama diingat dari pada informasi yang dipelajari secara hafalan. Inkuiri terbimbing menjadikan pembelajaran bermakna dengan pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan sendiri dengan mengaitkan konsep yang relevan pada struktur kognitif yang sudah dimiliki siswa.

Tahap melakukan pecobaan dapat memberikan kesempatan bag isiswa untuk berlatih dan mengembangkan keterampilan analysis. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hackling (2005) bahwa praktik penyelidikan lapangan atau melakukan percobaan memberikan siswa kesempatan untuk berlatih dan mengembangkan keterampilan menginvestigasi serta mendapatkan pengalamannya tentang fenomena alam sebagai dasar untuk belajar konseptual. Melalui kegiatan percobaan siswa belajar secara mandiri untuk menemukan suatu konsep. Pada kegiatan melakukan percobaan siswa memperoleh data hasil percobaan. Ada kemungkinan perbedaan data hasil percobaan dengan teori, sehingga siswa harus menganalisisnya. Kegiatan pembelajaran dengan disertai kegiatan percobaan apabila dilakukan secara terus-menerus dapat mengarah pada inkuiri terbimbing. Sejalan dengan penelitian Perez & Furman (2016) bahwa kegiatan eksperimen secara bertahap dapat mengarah pada level inkuiri terbimbing bahkan inkuiri terbuka. Kegiatan percobaan dapatm embantu siswa lebih mudah untuk memahami materi dan mendapatkan pengalaman nyata dengan ikut berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran dan dapat melatih keterampilan investigasi dan analisis.

Tahap keempat, siswa melakukan percobaan (kegiatan eksperimen) untuk membuktikan hipotesis dan memperoleh informasi.

Kegiatan percobaan dilakukan untuk memecahkan masalah dan membuktikan hipotesis, selanjutnya siswa mampu membangun dan menemukan konsep pengetahuan sendiri. Siswa membuktikan dampak pencemaran terhadap makhluk hidup melalui kegiatan percobaan yang telah dirancang. Pada proses kegiatan percobaan, siswa melakukan pengamatan dan memperoleh data hasil pengamatan. Kegiatan eksperimen melibatkan siswa secara aktif. Keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan pembelajaran menjadikan belajar bermakna. Proses belajar bermakna terjadi jika siswa mampu mengasimilasi pengetahuan yang telah dimilikinya dengan pengetahuan baru. Sejalan dengan teori belajar menurut Ausubel (Dahar, 2006) bahwa informasi yang dipelajari secara bermakna lebih lama diingat dari pada informasi yang dipelajari secara hafalan. Inkuiri terbimbing menjadikan pembelajaran bermakna dengan pengetahuan yang diperoleh melalui penemuan sendiri dengan mengaitkan konsep yang relevan pada struktur kognitif yang sudah dimiliki siswa.

Tahap melakukan pecobaan dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk berlatih dan mengembangkan keterampilan analysis. Hal ini sesuai dengan pernyataan Hackling (2005) bahwa praktik penyelidikan lapangan atau melakukan percobaan memberikan siswa kesempatan untuk berlatih dan mengembangkan keterampilan menginvestigasi serta

mendapatkan pengalaman nyata tentang fenomena alam sebagai dasar untuk belajar konseptual. Melalui kegiatan percobaan siswa belajar secara mandiri untuk menemukan suatu konsep. Pada kegiatan melakukan percobaan siswa memperoleh data hasil percobaan. Ada kemungkinan perbedaan data hasil percobaan dengan teori, sehingga siswa harus menganalisisnya. Kegiatan pembelajaran dengan disertai kegiatan percobaan apabila dilakukan secara terus-menerus dapat mengarah pada inkuiri terbimbing. Sejalan dengan penelitian Perez & Furman (2016) bahwa kegiatan eksperimen secara bertahap dapat mengarah pada level inkuiri terbimbing bahkan inkuiri terbuka. Kegiatan percobaan dapat membantu siswa lebih mudah untuk memahami materi dan mendapatkan pengalaman nyata dengan ikut berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran dan dapat melatih keterampilan investigasi dan analisis.

Tahap mengumpulkan dan menganalisis data dapat melatihkan kemampuan berpikir kritis siswa pada aspek analysis, evaluation, dan explanation. Tahapan alisis dimulai dengan memeriksa data, gagasan- gagasan, mengidentifikasi pendapat serta alasan yang mendukung.

Kegiatan menganalisis data dapat dilakukan dengan membangun dan menggunakan ide-ide yang dimiliki siswa.

Siswa membandingkan data yang diperoleh denganteori. Siswa dapat mengintegrasikan pengetahuan yang telah dipelajari untuk memecahkan masalah. Siswa memberikan pendapat dengan penjelasan yang mendukung dalam menyelesaikan masalah dengan menyebutkan

bukti yang mengarahkan kelompok untuk menerima atau menolak gagasan untuk pemecahan masalah dari anggota kelompok. Pada tahap menganalisis data tentu banyak pendapat yang berbeda dari tiap siswa.

Diskusi kelompok dilakukan untuk menentukan pendapat yang dianggap paling tepat sebagai hasil analisis data dengan pertimbangan mengevaluasi berbagai data yang diperoleh, menentukan kredibilitas suatu sumber informasi dan menilai kualitas berbagai pendapat yang telah disampaikan dengan mempertimbangkan kelebihan secara logis dari argument berdasarkan letak hipotesis dan relevan.

Tahap keenam, siswa membuat kesimpulan dari hasil percobaan dan analisis data sesuai dengan hasil pembuktian hipotesis. Siswa menganalisis kesesuaian kesimpulan hasil pengamatan dengan tujuan dan hipotesis yang telah dirumuskan dengan dibimbing oleh guru.

Kesimpulan dibuat dengan mengidentifikasi unsur-unsur yang diperlukan untuk membuat kesimpulan yang beralasan dengan memperhatikan data dan informasi relevan yang diperoleh. Kemudian siswa menuliskan kesimpulan pada LKS. Siswa membuat kesimpulan sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan oleh tiap kelompok, sehingga tiap kelompok mungkin memiliki kesimpulan yang berbeda - beda. Siswa mempresentasikan kesimpulan hasil kerja kelompok, sedangkan kelompok lain dapat menyampaikan pendapat atau pertanyaan. Namun setelah presentasi selesai, siswa mengajukan pertanyaan atau menyampaikan pendapat hanya pada saat presentasi tiga kelompok awal.

Setelah semua presentasi kelompok selesai, guru mengajak siswa menyimpulkan materi mengenai Daur Air dan contoh. Adanya keterbatasan waktu sehingga guru memberikan tugas tambahan untuk menguatkan materi.

Tahap membuat kesimpulan melatihkan kemampuan berpikir kritis siswa pada aspek inference dan self regulation. Pada saat membuat kesimpulan siswa berada pada proses berpikir, siswa mengaplikasikan keterampilan serta menggunakan pengetahuan yang dimiliki dalam menganalisis dan mengevaluasi kemampuan diri dalam mengambil kesimpulan baik dengan bentuk pertanyaan, konfirmasi, validasi atau koreksi. Kegiatan yang dilakukan dengan melihat kembali semua dimensi berpikir kritis dan memeriksanya lagi. Siswa dapat menguji dan memperbaiki kesimpulan yang sudah digambarkan, meninjau dan merumuskan kembali salah satu dari penjelasan yang telah dikemukakan serta dapat menguji dan membenarkan kemampuan untuk menguji dan memperbaiki diri sendiri. Siswa membuat kesimpulan dengan mengidentifikasi unsur-unsur yang diperlukan untuk membuat kesimpulan yang beralasan dengan memperhatikan data dan informasi relevan.

Kesimpulan dari hasil percobaan dan analisis data sesuai dengan hasil pembuktian hipotesis disesuaikan dengan tujuan

Menurut Robbert Ennis (2011: 1) Berpikir kritis adalah kemampuan berpikir reflektif yang berfokus pada pola pengambilan keputusan tentang apa yang harus diyakini dan harus dilakukan. Hasil uji

kesetaraan pre-test kemampuan berpikir kritis siswa kelompok eksperimen dan kelompok control menunjukkan rata-rata yang relative sama kemampuan berpikir kritis kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Hal tersebut ditunjukkan dari nilai rata-rata pre-test kelompok eksperimen sebesar 55.67 dengan kategori cukup dan rata-rata kelompok control sebesar 56.33 dengan kategori cukup. Rata-rata/ mean hamper sama dan kategori sama antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Peneliti mengambil kesimpulan bahwa kemampuan yang dimiliki siswa kelompok eksperimen dengan kelompok control sebelum mendapatkan perlakuan (treatment) adalah relative sama.

2. Perbedaan Kemampuan Berpikir Kritis pada Post-test Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol siswa kelas V SD Inpres Tompo Kabupaten Barru

Hasil analisis data dengan uji keseimbangan pada pre-test dan post-test kemampuan berpikir kritis pada kelompok eksperimen dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing menunjukkan adanya perbedaan kemampuan berpikir kritis antara hasil pre-test dan post-test dengan menggunakan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing.

Hal tersebut ditunjukkan dari nilai rata-rata dan kategori post-test lebih besar dari pre-test yaitu 79.83 lebih besar dari 55.67 dengan selisih 24.16.

Peneliti mengambil kesimpulan terdapat pengaruh strategi pembelajaran inkuiri terbimbing pada mata pelajaran IPA terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SD Inpres Tompo Kabupaten Barru.

Hal ini diperkuat oleh Kindsvatter, William dan Ishler (dalam Jamil Suprihatiningrum, 2013: 163) menyatakan bahwa inkuiri adalah sebuah pendekatan, yang mana guru melibatkan kemampuan berpikir kritis siswa untuk menganalisis dan memecahkan persoalan secara sistematik melalui identifikasi persoalan, membuat hipotesis, mengumpulkan data, menganalisis data dan mengambil kesimpulan. Melalui langkah-langkah tersebut siswa dapat menemukan suatu prinsip, hokum ataupun teori.

Peran guru sangat penting dalam menunjang keterlaksanaan proses pembelajaran. Guru membimbing siswa dan mengevaluasi hasil kegiatan siswa agar proses pembelajaran tetap mengarah pada konsep yang harus dikuasai oleh siswa. Hal ini didukung penelitian Brown et al (2006) dan Howard & Miskowski (2005) menyimpulkan bahwa inkuiri terbimbing dapat meningkatkan pemahaman siswa dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Siswa mampu mengkonstruksi konsep pengetahuannya tanpa melibatkan guru secara langsung melalui sintaks inkuiri terbimbing. Guru member kesempatan siswa untuk menemukan dan menerapkan ide-ide dan strategi mereka sendiri untuk belajar sebagai proses pembentukan pengetahuan.

Pembentukan pengetahuan harus dilakukan oleh siswa sebagai suatu objek yang belajar dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran untuk menemukan sendiri konsep dari materi yang diajarkan. Pembelajaran inkuiri terbimbing member kesempatan siswa berdiskusi dengan teman

dan guru, merancang dan membuat percobaan sendiri, mengkomunikasikan ide-ide dengan kelompok sehingga siswa lebih aktif.

Hasil analisis data dengan uji keseimbangan pada pre-test dan post-test kemampuan berpikir kritis pada kelompok control dengan menggunakan strategi pembelajaran konvensional (ceramah, tanya jawab, penugasan) menunjukkan adanya perbedaan kemampuan berpikir kritis antara hasil pre-test dan post-test dengan menggunakan strategi pembelajaran konvensional (ceramah, tanyajawab, penugasan). Hal tersebut ditunjukkan dari nilai rata-rata dan kategori post-test lebih besar dari pre-test yaitu 73.00 lebih besar dari 56.33 dengan selisih 16.67.

Peneliti mengambil kesimpulan terdapat pengaruh strategi pembelajaran ekspositori (ceramah, tanyajawab, penugasan) pada matapelajaran IPA terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SD Inpres Tompo Kabupaten Barru.

Hasil analisis data dengan uji keseimbangan pada post-test kemampuan berpikir kritis pada kelompok eksperimen dan kelompok control menunjukkan adanya perbedaan hasil post-test kemampuan berpikir kritis antara menggunakan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dengan menggunakan strategi pembelajaran ekspositori (ceramah, tanyajawab, penugasan). Hal tersebut ditunjukkan dari nilai rata-rata dan kategori post-test kelompok eksperimen lebih besar dari post-test kelompok control yaitu 79.33 lebih besar dari 73.00. Peneliti mengambil kesimpulan bahwa strategi pembelajaran inkuiri terbimbing lebih efektif

disbanding strategi pembelajaran konvensional (ceramah, tanyajawab, penugasan).

Hal tersebut diperkuat dengan adanya asumsi-asumsi yang mendasari strategi pembelajaran inkuiri, seperti yang dikemukakan oleh Oemar Hamalik (2013: 220) yaitu kemampuan berpikirkritis dan berpikir induktif berhubungan dengan pengumpulan data dan hipotesis yang terdapat dalam sintaks pembelajaran inkuiri; siswa mendapat keuntungan dengan strategi pembelajaran inkuiri dapat berkomunikasi, bertanggung jawab, dan bersama-sama mencari pengetahuan dengan teman kelompoknya; kegiatan pembelajaran dengan semangat menemukan jawaban menambah motivasi siswa.

Kegiatan diskusi kelompok akan terjadi interaksi antar anggota kelompok dengan saling bertukar pendapat, berbagi pengetahuan dan memberikan gagasan untuk menyelesaikan masalah dan pengambilan keputusan. Pada kegiatan diskusi guru mengarahkan dan membimbing siswa dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. Hal tersebut sesuai dengan Teori belajar Vygotsky yaitu adanya proses scaffolding. Menurut Munandar (2009) sumbang saran atau brainstorming yang terjadi dalam sebuah kelompok, pencetusan banyak gagasan oleh kelompok dan kerangka pemikiran yang diberikan guru dapat meningkatkan aspek kemampuan berpikir kritis siswa. Adanya perbedaan gagasan yang disampaikan oleh tiap anggota dalam kelompok dapat terjadi karena setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda

terhadap penyelesaian masalah. Siswa dapat mengintegrasikan pengetahuan yang telah dipelajari untuk melakukan tugas-tugas dan memecahkan masalah dengan bimbingan guru sehingga siswa dapat mengkonstruksi pengetahuan.

Hal senada disampaikan oleh pendapat Roestiyah (2001: 76) yang menyatakan bahwa inkuiri terbimbing merupakan salah satu strategi pembelajaran yang menekankan pengalaman langsung kepada siswanya untuk mencari konsep pengetahuannya. Hasil penelitian menunjukkan siswa belajar melalui pengalamannya sendiri. Pembelajaran dengan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing membuat siswa menjadi lebih aktif dan siswa terlibat langsung dalam memperoleh pengetahuan sehingga kemampuan berpikir kritis siswa lebih tinggi dengan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing dari pada pembelajaran dengan strategi pembelajaran ekspositori (ceramah, tanyajawab, penugasan).

Pembelajaran pada kelas control melalui penerapan model pembelajaran konvensional dengan metode ceramah bervariasi. Peran guru lebih dominan dari pada kegiatan siswa sehingga cenderung membuat siswa bersikap pasif dalam pembelajaran dan proses penyerapan informasi kurang efektif. Penguasaan konsep pada kelas control diperoleh melalui penjelasan guru sebagai sumber informasi. Saat guru menyampaikan materi, siswa kurang merespon pertanyaan yang diajukan guru. Kegiatan pembelajaran berupa diskusi kelas dan presentasi yang diharapkan mampu meningkatkan keaktifan siswa. Kegiatan diskusi

dilakukan untuk menjawab Lembar Kerja Siswa yang disediakan guru.

Kemampuan berpikir yang dilatihkan pada kelas control tergolong ke tingkatan pemahaman dan menganalisis. Siswa pada kelas control kurang memberdayakan kemampuan berpikirnya. Pembelajaran konvensional kurang memfasilitasi siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Sedangkan pembelajaran inkuiri terbimbing dapat mengkondisikan siswa untuk berpikir kritis, dari observasi yang siswa lakukan dapat memunculkan suatu kesimpulan sehingga siswa dapat menemukan konsep sendiri secara ilmiah. Konsep tersebut yang akan menjadi pengetahuan kognitif siswa. Kemampuan berpikir kritis dapat melatihkan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik siswa. Sejalan dengan penelitian Ajwar (2015) bahwa berpikir kritis siswa dapat mempengaruhi hasilbelajar siswa. Siswa yang berpikir kritis akan tampak pada saat menganalisis permasalahan untuk menentukan solusi permasalahan serta menentukan keterkaitan dengan konsep materi Biologi. Berpikir kritis memacu struktur kognitif setiap siswa untuk menangkap ide-ide, konsep-konsep dan mengorganisasikan pengetahuan yang dimiliki untuk mengasah perkembangan kecakapan dan kesiapan berpikir siswa.

Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan diatas, disimpulkan bahwa strategi pembelajaran inkuiri terbimbing pada pembelajaran IPA berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SD Inpres Tompo Kabupaten Barru, strategi pembelajaran konvensional (ceramah, tanyajawab dan penugasan) pada pembelajaran

Dalam dokumen Posttest Kelas Eksperimen (Halaman 97-117)

Dokumen terkait