• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen LAMPIRAN-LAMPIRAN (Halaman 72-91)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

21%

21%

4%4%

9%

6%

6%

10%

6%

13%

Managerial knowledge

Community Analysis (Engagement, Assessment, Evaluation) Public Policy and policy analysis

Resource Development and Utilization

Educational Knowledge (Traning and Development) Advocacy and Conflict Resolution

Organizational Development Communication Knowledge Research Knowledge Leadership

Pengetahuan Manajerial (Managerial Knowledge), Pengetahuan Analisis Masyarakat (Assessment, Engagement, and Evaluation), Pengetahuan Kebijakan Publik dan atau Analis Kebijakan (Public Policy and Public Analysis), Pengetahuan Pengembangan dan Manajemen Sumber daya (Resources Management and Development), Pengetahuan Advokasi dan Resolusi Konflik (Advocacy and Conflict Resolution), Pengetahuan Pengembangan Organisasi (Organizational Development), Pengetahuan Komunikasi (Communication Knowledge), Pengetahuan Riset (Research Knowledge) dan terakhir Pengetahuan Kepemimpinan (Leadership).

Berdasarkan grafik di atas, dapat diamati bahwa Pengetahuan Manajerial (Management Knowledge) dan Pengetahuan Analisis Masyarakat (assessment, engagement, and evaluation) merupakan 2 variabel yang paling sering muncul atau paling sering disebut dalam jurnal ilmiah yang memuat pengetahuan inti pengembangan masyarakat, dari 27 jurnal yang dikaji dalam penelitian demikian kedua variabel tersebut disebut sebanyak 16 kali dengan nilai 21 persen. Kemudian diikuti dengan Pengetahuan Kepemimpinan (Leadership) di bawahnya dengan sebutan sebanyak 10 kali atau dengan nilai 13 persen. Berikut adalah jabaran dari ketiga aspek pengetahuan kunci tersebut:

a. Manajerial (Management Knowledge) dan Pengetahuan Analisis Masyarakat (Assessment, Engagement, and Evaluation)

Ada hubungan erat antara frase kunci pertama: Manajerial dan kedua yaitu Pengetahuan Analisis Masyarakat. Pertama, manajemen secara etimologi berasal dari bahasa Latin, yakni Manus yang berarti tangan, dan Agere yang berarti melakukan, sehingga manajemen dapat diartikan sebagai proses menangani.59 Ricky W. Griffin dalam Sulastri, (2014:9) memberikan definisi manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengoordinasian, dan

59Zulkarnain Lubis, ”Manajemen Dakwah Pengembangan Masyarakat”, Spektra, Vol., 2, No., 1, hlm. 4

pengontrolan sumber daya untuk mencapai tujuan organisasi.60 Lebih lanjut, Adamy (2016:1), memberikan definisi manajemen ialah seni dan pengetahuan tentang proses mengatur secara efektif dan efisien pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya guna mencapai suatu tujuan tertentu (purposive goals).61

Pengetahuan-pengetahuan tentang manajemen dan analisis masyarakat memiliki keterkaitan satu sama lain.

Sebagai suatu proses, analisis masyarakat seperti melakukan intervensi sosial dengan pendekatan assessment, engagement, sampai dengan tahapan evaluasi juga tentunya memerlukan kemampuan manajerial yang baik guna menghasilkan keputusan yang tepat.

Pengetahuan seperti Manajemen dan Administrasi (Administration and Mangement) merupakan pengetahuan yang penting untuk dipahami sebagai seorang pelayan sosial masyarakat yang professional. Robert O. Zdenek, dan Dee Walsh, (2017) memaparkan bahwa, pengetahuan manajemen organisasi dan pengembangan, manajemen sumber daya, serta manajemen dan pengembangan program ialah merupakan bagian dari kompetensi inti (core competencies) pengembangan masyarakat.62

Berikutnya, Zubaedi, (2013) merumuskan tahapan dalam memanajemen kegiatan pengembangan masyarakat sebagai berikut: 1) tahapan pemaparan masalah, yakni tahapan pengelompokan dan penentuan masalah maupun persoalan di lapangan, kemudian pengembang masyarakat/pelayanan sosial kemasyarakatan memfasilitasi masyarakat dengan memberikan pemaparan/penjelasan masalah dan memfasilitasi warga dalam mencapai mufakat melalui musyawarah dan diskusi. 2) tahapan

60Lilis Sulastri, Manajemen Sebuah Pengantar; Sejarah, Tokoh, teori, dan Praktik, Bandung: Laa Goods Publishing, hlm. 9

61Marbawi Adamy, Manajemen Sumberdaya Manusia,; Teori, Praktik, dan Penelitian, Lhokseumawe: UNIMAL PRESS, hlm. 1

62Robert O. Zdenek, dan Dee Walsh, Navigating Community Development:

Harnessing Comparative Advantages to Create Strategic Partnership, NY: Palgrave Macmillan, hlm. 15-16.

analisis permasalahan, tahapan demikian ialah tahapan pengumpulan informasi seperti jenis, ukuran, maupun ruang lingkup pelbagai permasalahan di lapangan yang kemudian informasi tersebut disebarkan dan dapat diakses oleh stakeholders (para pihak yang berkepentingan. 3) tahapan penentuan tujuan dan sasaran, tahapan ini pengembang masyarakat menyampaikan kepada stakeholders terkait dengan visi, tujuan jangka panjang, maupun pemberitahuan petunjuk- petunjuk umum mengenai aktivitas pengembangan masyarakat seperti melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat dalam proses pemberdayaan. Kemudian, penentuan sasaran ialah tahapan yang lebih spesifik, seperti sasaran jangka pendek, menengah, maupun panjang. Adapun analoginya ialah penentuan sasaran demikian ialah seperti berangkat dari suatu yang luas menuju yang lebih spesifik, dari sesuatu yang abstrak menjadi konkret.

4) tahapan perencanaan pelaksanaan kegiatan (action plans), dalam mencapai tujuan dari aktivitas pemberdayaan masyarakat, maka diperlukan perencanaan berbagai macam aksi dalam mencapai tujuan tersebut. Seperti, memerhatikan tenaga kerja, instrumen, jaringan sosial, ketersediaan dana, latar tempat, ketersediaan waktu, faktor-faktor yang menghambat, faktor- faktor pendukung, berbagai permasalahan stakeholders, tugas- tugas yang nyata dilakukan, memerhatikan pihak-pihak yang signifikan yang berpengaruh terhadap hasil, memperhatikan aktor utama baik secara individual maupun kelompok, memperhatikan kontradiksi, ketegangan, maupun dilema di lapangan antara alat dengan tujuan dan hasil yang mungkin dicapai. 5) tahapan pelaksanaan kegiatan (implementation), tahapan demikian ialah tahapan penerapan atas perencanaan yang telah dirancang sedemikian rupa. Pengembang masyarakat/pelayan sosial kemasyarakatan lainnya dituntut untuk lebih memerhatikan segala probabilitas dan konsekuensi yang muncul dalam tahapan demikian. 6) tahapan evaluasi, tahapan demikian merupakan tahapan mengevaluasi serta memonitoring segala aktivitas dari pengembangan masyarakat yang telah dilakukan, proses demikian dilaksanakan dalam

kurun waktu tertentu, harian, mingguan, atau bulanan.

Tergantung pada estimasi waktu yang telah ditentukan oleh pengembangan masyarakat pada tahapan perencanaan.63

Berikutnya, pengetahuan manajemen tidak dapat dipisahkan dalam kajian keislaman. Effendy dalam Mesiono (2019:52), setidaknya ada enam karakteristik manajemen dalam Islam antara lain: 1) manajemen berdasarkan akhlak yang luhur (akhlakul karimah), 2) manajemen terbuka (open minded), yang termuat dalam QS An-Nisa [4]:58, 3) manajemen yang demokratis, yang termuat dalam QS As-Syura [42]:38, dan QS Al-Imran [3]:159, 4) manajemen berdasarkan ilmiah, dalam QS Al-Isra [17]:36 5) manajemen berdasarkan tolong menolong, dalam Al-Maidah [5]:2 , dan 6) manajemen berdasarkan perdamaian, yang dimuat dalam QS Al-Mumtahinah [60]:8.64

Dari keenam ciri manajemen dalam Islam menurut Effendy di atas, ciri yang memiliki irisan dengan konsep manajemen pengembangan masyarakat ialah: manajemen berdasarkan tolong menolong (ta’awun) dalam QS Al-Maidah [5]:2 yang memuat keharusan untuk menjalin kerja sama dalam menjalankan praktik-praktik baik (good practices), dan bekerja sama dalam mengentaskan segala keburukan/ketimpangan.

Demikian ini tentunya sejalan dengan konsep pengembangan masyarakat yaitu berperan/berpartisipasi aktif dalam kegiatan tolong menolong menuju kehidupan yang layak.65

Implikasinya pada Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) ialah Prodi PMI memerlukan pengetahuan manajemen yang berguna untuk memanajemen kebutuhan- kebutuhan individu maupun kelompok masyarakat, baik menggunakan pendekatan manajemen secara umum maupun

63Zubaedi, Pengembangan Masyarakat; Wacana dan Praktik, (Jakarta:

PRENADAMEDIA GROUP, 2013), hlm. 84-86.

64Mesiono, dan Mursal Aziz, Manajemen dalam Perspektif Ayat-ayat AL- Qur’an: Buku Kajian Berbasis Penelitian, (Medan: Perdana Publishing, 2020), hlm.51-55

65Kenny et.all, The Routledge handbook..., hlm. 25

mengintegrasikannya dengan pengetahuan-pengetahuan manajemen keIslaman.

b. Pengetahuan Kepemimpinan (Leadership)

Harris (1982) menyatakan bahwa isu-isu kepemimpinan dalam Pengembangan Masyarakat memberikan pendekatan yang berbeda terhadap model kepemimpinan. Pengembang Masyarakat/Pelajar Pengembang Masyarakat mengevaluasi model kepemimpinannya66 kemudian memutuskan metode kepemimpinan mana yang paling efektif dalam melakukan proses pengembangan masyarakat.67 Selanjutnya Harris, (1982), Cary, (1989), Lackey dan Pratuckchai, (1991), yang disintesa oleh Hains, (2020), menyatakan pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan (leadership) merupakan salah satu dari pengetahuan dan keterampilan inti dari Pengembangan Masyarakat.68 Sejumlah sistesa menerangkan bahwa, leadership dalam pengembangan masyarakat tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi satu frasa dengan communication, power, dan leadership. Hal demikian mengindikasikan bahwa, harus ada satu pemimpin, inisiator di dalam masyarakat yang memberikan pemberdayaan69 kepada masyarakat sehingga masyarakat mampu menolong diri mereka sendiri dalam menyelesaikan masalahnya. Konsep demikian, memiliki

66 Lihat, Ngalim Purwanto, (2010:48) dalam Maisaroh dan Danuri, (2020:200) tipe-tipe kepemimpinan setidaknya terbagi dalam 3 tipe yaitu: otokratis, laissez faire, dan demokratis, http://repository.upy.ac.id/2756/1/Administrasi-dan-Supervisi- Pendidikan.pdf diakses pada 24 Mei 2022, pukul 07.48.

67Ian M. Harris, “An undergraduate community education curriculum for community development”, Journal of the Community Development Society, Vol. 28 No. 4, 2020, hlm. 74

68Kristina D. Hains, et.al, “Knowledge, values and skill essential for effective community development practice: A Delphi study”, Journal of Community Practice, Vol. 28, No. 4. Tahun 2020, hlm. 5

69Ife (1995) memberikan definisi pemberdayaan ialah upaya pemberian power (wewenang, kekuasaan, otonomi serta kepercayaan kepada setiap individu dalam organisasi maupun kelompok yang dirugikan (disadventaged groups and individual), serta memberikan drive (dorongan) untuk meningkatkan kreativitas mereka, agar dapat menuntaskan permasalahannya sebaik mungkin. Lihat, Jim Ife, dan Frank Tesosierro, Community Development: Alternatif Pengembangan Masyarakat di Era Globalisasi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008) Ed. ke-3, hlm. 130

integrasi dengan pendidikan liberasi (pendidikan kaum tertindas) yang dicetuskan oleh Paulo Freire yang pada esensinya ialah pendidikan pembebasan ialah proses untuk hal yang terpenting dalam sebuah kehidupan ialah terbebas dari segala sesuatu yang mengikat hakikat kemanusiaannya menuju kehidupan yang penuh akan kebebasan.70

Selanjutnya, kepemimpinan dalam Islam sudah di jelaskan secara eksplisit dalam QS Al-Baqarah Ayat 30 yang menjelaskan tentang fungsi utama manusia ialah menjadi seorang pemimpin. Dengan demikian, kepemimpinan merupakan sunnatullah yang secara turun temurun kepada setiap manusia dan berlaku secara absolut di muka bumi.

Pendapat demikian juga diperkuat oleh Hadist Rasulullah SAW, Dari Abu Sa‘id dan Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda, “Apabila ada tiga orang bepergian bersama-sama maka hendaklah mereka memilih salah seorang di antara mereka untuk menjadi pemimpin rombongan.” (HR. Abu Daud).71

Hadist demikian mengisyaratkan bahwa urgensi pemimpin dalam sebuah kelompok yang bahkan hanya terdiri dari tiga orang saja. Apalagi jika kaitannya dengan kelompok yang besar, maka akan lebih banyak lagi persoalan yang muncul sehingga peran pemimpin dalam mengorganisasikan kelompoknya menjadi krusial, dan supaya pelbagai permasalahan dapat diatasi.

Kemudian, Nawawi (1993:143) menerangkan ada enam fungsi kepemimpinan dalam masyarakat Islam antara lain:

fungsi instruktif, fungsi konsultatif, fungsi partisipasi, fungsi delegasi, fungsi pengendalian, dan fungsi keteladanan.72 Dari keenam fungsi tersebut, yang memiliki irisan dengan konsep

70Muhammad Husni, “Memahami Pemikiran Karya Paulo Freire, Pendidikan Tertindas Kebebasan dalam Berpikir:, Al-Ibrah, Vol. 5, No. 3 2020, hlm 52.

71Lihat hadith No 3, Bab Tentang Sunah Membentuk Rombongan dan Memilih Seorang di Antara Mereka Sebagai Pemimpinnya, dalam Muslich Shabir, Terjemah Riyadus Shalihin Jilid 2, (Semarang: Karya Toha Putra, 2004), hlm. 41.

72Hadari Nawawi, Kepemimpinan Menurut Islam, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1993), hlm. 143

kepemimpinan Pengembangan Masyarakat adalah fungsi partisipasi yakni menurut Nawawi, (1993:143), dalam fungsi partisipasi demikian pemimpin tidak hanya sebagai tempat bertanya dan berkonsultasi bagi kelompok yang dipimpinnya, namun juga selalu ikut serta dan berupaya untuk mengaktifkan setiap anggota kelompok agar bersama-sama menyelesaikan tugas dan atau permasalahan yang dihadapi oleh kelompoknya.

Seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW sebagai sosok pemimpin yang selalu bermusyawarah dan bekerja sama dengan umat muslimin dalam berbagai urusan. Fungsi partisipasi demikian disebutkan dalam QS Ali-Imron [3]:159.73

Dari paparan temuan di atas, implikasinya terhadap Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) ialah, pengetahuan- pengetahuan tentang kepemimpinan harus juga menjadi salah satu subjek pembelajaran. Salah satu contoh ialah mempelajari model kepemimpinan-kepemimpinan yang partisipatif, artinya pemimpin yang ideal bagi seorang pengembang masyarakat ialah pemimpin yang mampu menggerakkan masyarakat lapis bawah (buttom up approach) dan berperan sebagai enabler (pemungkin) sehingga masyarakat mampu secara bersama-sama memecahkan masalahnya sendiri sehingga dapat menjalani peran sosialnya dimasyarakat.

2. Kerangka Keilmuan (Body of Knowledge) Pengembangan Masyarakat pada Aspek Keterampilan (Skills) (A2)

Terdapat lima belas kajian ilmiah dalam artikel jurnal dan laporan-laporan yang memuat temuan bahwa ada setidaknya ada enam belas temuan keterampilan yang harus dikuasai oleh seorang pengembang masyarakat. Detail data tersebut dipresentasikan dalam doughnut chart sebagai berikut:

73Ibid., hlm. 143

16%

7%

5%

5%

1%8%

14%

3%4%

8%

4%1%1%4%

8%

8%

communication skills leadership human relation/networking social change

research engagement

analytical skill writing

facilitation conflict resolition/problem solving media and computer skills coaching/education

statistic skill needs assessment/assessment organizational skills planning and program design

Gambar 4. 2 Persentase sebaran Aspek Keterampilan Pengembang Masyarakat: Jurnal Ilmiah.

Sumber: Data diolah peneliti

Data yang disajikan dalam bentuk doughnut chart di atas menunjukkan bahwa terdapat setidaknya ada enam belas variabel kunci keterampilan yang harus dimiliki oleh pengembang masyarakat maupun calon sarjana pengembang masyarakat, antara lain; keterampilan berkomunikasi (communication skill), keterampilan kepemimpinan (leadership), kemampuan berjejaring/hubungan masyarakat (networking/human relation), kemampuan melakukan perubahan sosial (social of change agent), kemampuan riset (research skill), kemampuan engagement, kemampuan analitik, kemampuan menulis (writing skill), kemampuan fasilitasi (facilitation), kemampuan dalam memecahkan masalah (problem solving) ataupun resolusi konflik (conflict resolution), keterampilan dalam menggunakan media dan komputer, (media/computer skill), keterampilan dalam memberikan

pendidikan dan pelatihan (coaching and education), keterampilan statistika (statistic skills), keterampilan dalam mengindentifikasi permasalahan sosial (needs assessment), keterampilan berorganisasi, dan yang terakhir yaitu perencanaan dan perancangan program kerja (planning and program design).

Berdasarkan doughnut chart di atas, dapat dilihat keterampilan berkomunikasi (communication skill), dan keterampilan analitik (analitical skill) merupakan 2 variabel teratas yang paling sering disebut dari 18 jurnal yang memuat tentang keterampilan yang harus dikuasai oleh pengembang masyarakat (community developer) ataupun pelayan sosial kemasyarakatan lainnya, di mana communication skill disebut sebanyak 12 kali atau dengan nilai sebesar 16 persen, dan kemampuan analitik disebut sebanyak 10 kali atau dengan nilai sebesar 14 persen. Kemudian, di bawahnya disusul dengan empat variabel lainnya yaitu;

keterampilan riset (research skill), keterampilan berorganisasi (organizational skill), keterampilan dalam penanganan konflik dan atau pemecahan masalah (conflict resolution/problem solving) , dan keterampilan dalam perencanaan dan perancangan program kerja (planning/program design), dengan masing-masing disebut sebanyak 6 kali atau dengan nilai sebanyak 8 persen. Pada posisi ketiga, variabel yang sering disebut yakni; keterampilan kepemimpinan (leadership) disebut sebanyak 5 kali dengan nilai sebanyak 7 persen, dan satu poin di bawahnya yakni, keterampilan berjejaring dan atau hubungan manusia (human relation and networking), dan agen perubahan sosial (social chage agent) dengan disebut sebanyak 4 kali dengan nilai sebanyak 6 persen.

a. Keterampilan Komunikasi (Communication skill)

Fanslow, (1982), memaparkan dalam jurnalnya

Knowledge and skills needed by community members”.

Pengetahuan dan keterampilan komunikasi merupakan satu set keilmuan yang dibutuhkan oleh seorang pengembangan masyarakat, keterampilan komunikasi tersebut antara lain;

mengambangkan keterampilan komunikasi verbal dan non verbal dalam dinamika kelompok, menggunakan komunikasi kepemimpinan dalam mengelola situasi kelompok/masyarakat,

menganalisa informasi yang tersedia untuk validitas dan akurasi, dapat mendengar dan memahami pernyataan verbal maupun non verbal dari orang lain, serta dapat memahami kebutuhan masyarakat.74 Lebih lanjut, Hains, et.al, (2020) menerangkan metode-metode komunikasi seperti; oral, menulis, interpersonal, komunikasi antar budaya, dan komunikasi non verbal merupakan sektor pertama yang berpengaruh terhadap proses pengembangan masyarakat sehingga kemudian ini menjadi penting untuk dikuasai oleh pengembang masyarakat maupun pelayan sosial kemasyarakatan lainnya.

Dalam kajian keIslaman, Sulkifli dan Muhtar, (2021) memaparkan, komunikasi dikategorikan ke dalam delapan bentuk yaitu: 1) Qaul Ma’ruf, 2) Qaul Karim, 3) Qaul Maisur, 4) Qaul Layyin, 5) Qaul Sadid, 6) Qaul Balig, 7) Qaul Tsaqila, 8) dan Qaul Adzim.75 Dari kedelapan kategori demikian, dapat dipahami bahwa manusia dalam perspektif Al-Qur,an hendaklah; a) berbicara atau berkomunikasi yang mudah dicerna dan dipahami oleh semua lapisan dengan memperhatikan lawan bicara (qaul ma’ruf), menggunakan perkataan-perkataan yang mulia (qaul karim) dengan siapapun ia berbicara, menggunakan kata-kata yang lemah lembut, (qaul layyin), berkata secara benar dan tepat (qaul sadid), berkomunikasi yang memberi pengaruh, berkesan/berbekas (qaul balig) dan sebagainya.

Dalam konteks Pengembangan Masyarakat Islam, implikasinya komunikasi merupakan keterampilan yang paling dibutuhkan ialah keterampilan komunikasi. Keterampilan komunikasi demikian dalam Islam seperti halnya dakwah merupakan keterampilan yang seharusnya dimiliki oleh pengembang masyarakat, tentunya kemampuan dakwah demikian harus didukung dengan keterampilan memahami komunikan, (verbal non verbal), kemampuan memahami tulisan-tulisan (al-qur’an, hadist, dan tafsir), dan atau informasi

74Alyce M. Fanslow, “Knowledge and skill needed by community members”, Journal of the Community Development Society, Vol., 13, No., 2, 1982, hlm. 49

75Sulkifli dan Muhtar, “Komunikasi dalam Pandangan Al-Qur’an”, Jurnal PAPPASANG, Vol. 3, No. 1, Tahun, 2021, hlm. 68-78.

lainnya, sehingga informasi yang disampaikan valid dan dapat dipercaya.

b. Keterampilan analitis (Analytical Skill).

Keterampilan analitis merupakan variabel kedua yang paling sering disebut di bawah keterampilan komunikasi. Hal demikian mengidentifikasikan bahwa berpikir kritis serta kemampuan dalam menelaah suatu permasalahan sosial seperti melakukan profiling atau social-mapping menjadi penting untuk dipahami dan dikuasai oleh pengembang masyarakat, calon sarjana pengembangan masyarakat, dan atau pelayan sosial kemasyarakatan lainnya. Soeharto, (2012) mengemukakan bahwa dalam melakukan pemetaan sosial (social-mapping) diperlukan pemahaman mengenai kerangka konseptualisasi masyarakat yang demikian membantu dalam melakukan komparasi satu wilayah dengan wilayah lainnya.76

Jhonson, (1996), dikutip oleh Hardina, (2002:2) mengemukakan, keterampilan analitis (analytical skill) dapat dikembangkan melalui setting praktis penugasan lapangan maupun di dalam kelas.77 Lebih lanjut, Hardina, (2002:2) telah mensintesa dari Austin, (1986); Fisher, (1995); Halseth, (1993);

Karger & Reitmeir, (1983); Rivera & Erlich, 1998) merumuskan sejumlah keterampilan analitis yang pelajar/Pengembang Masyarakat harus pelajari, antara lain; perumusan penganggaran biaya (budgeting), proposal pendanaan (grant writing), mengumpulkan dan mengolah informasi, penelitian legislatif, analisis kebutuhan (assessment needs), riset berbasis masyarakat (PAR), Analisis politik/kebijakan (political analysis/policy analysis), analisis indikator sosial dan prediksi populasi (population forecasting and social indicator analysis), analisis kekuatan (power analysis), perencanaan dan pengembangan

76Edi Suharto, “Metode dan Teknik Pemetaan Sosial, Makalah, 2012”.

http://www.policy.hu/suharto/modul_a/makindo_18.htm , Diakses pada 9 Mei 2022 pukul 00.11 WITA.

77Donna Hadina, Analytical Skills for Community Development Oganization Practice, NY: Columbia Univesity Press, 2002, hlm. 2

program, manajemen sumber daya (resources development).78 Kemampuan berpikir kritis dan pemahaman yang baik tentang masalah sosial tentunya mempengaruhi pengambilan suatu keputusan dalam proses pertolongan pada masyarakat.

Aktivitas analisis masyarakat, jika dikaitkan dengan kajian keislaman maka, tema demikian memiliki irisan dengan upaya-upaya untuk meningkatkan Ukhuwah Islamiyah, yaitu: 1) Ta’aruf (saling mengenal), proses-proses perkenalan demikian meliputi; penampilan fisik (jasadiyyah), pengenalan pola piki/pemikiran,(fikriyyah), dan mengenal kejiwaan (nafsiyyah).

Penekanan pada upaya demikian ialah memahami karakteristik dari individu maupun kelompok menjadi penting dalam proses Ukhuwah Islamiyah. 2) Tafahum (saling memahami), artinya seseorang dituntut untuk saling memahami kelebihan, dan kekurangan, kekuatan maupun kelemahan masing-masing supaya dapat meminimalisir kesalahpahaman antara satu sama lain. 3) A-Ta’awun (saling tolong-menolong) yang demikian berarti yang kuat menolong yang lemah, yang memiliki kelebihan menolong yang kekurangan. 4) Takaful (saling menanggung/saling memberi jaminan), konsep takaful ini merupakan konsep yang memberi rasa aman terhadap sesama, artinya memungkinkan seseorang untuk menghadapi kehidupan yang layak karena sesama saudara muslim tentu akan saling membantu jika saudaranya mengalami musibah.79

Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menjelaskan pentingnya umat Islam membina Ukhuwah Islamiyah, seperti firman Allah SWT dalam QS-Al-Maidah [5]:2, QS At-Taubah [9]:71, QS Al- Anfal [8]:72, QS Al-‘Ashr [103]: 1-3, QS Al-Hasyr [59]:10, dan QS Ali-Imron [3]:103.80

Kemudian, kaitannya dengan aktivitas analisis Pengembangan Masyarakat ialah kemampuan dalam

78Ibid, hlm 2

79Marhaban, “Membina Ukhuwah Islamiyah Berdasarkan Petunjuk Al- Qur’an”, Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Qur’an dan Tafsir, Vol. 2, No. 2, tahun 2019, hlm. 356

80Ibid., hlm. 345-349.

menganalisis karakteristik individu maupun kelompok, memahami kebutuhan-kebutuhan, merupakan kemampuan yang paling dasar yang harus dimiliki, demikian supaya proses-proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara efektif.

Implikasinya pada Prodi PMI ialah, analisis permasalahan sosial merupakan salah satu keterampilan yang harus dibekali pada setiap mahasiswa PMI. Penempatan pada setting lapangan pada praktik-praktik analisis masalah sosial dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam memahami dinamika sosial, sehingga ke depannya mahasiswa siap untuk ditempatkan sebagai problem solver dalam masyarakat.

3. Kerangka Keilmuan (Body of Knowledge) Pengembangan Masyarakat pada Aspek Etika/Nilai (Ethics/Values) (A3)

Pada aspek etika kerja/nilai dari Pengembangan Masyarakat, terdapat 13 kajian jurnal ilmiah yang memuat etika/nilai dari Pengembangan Masyarakat. Sebaran data hasil kalkulasi Microsoft Excel yang kemudian divisualisasikan dengan doughnut chart dapat dilihat di bawah ini.

Gambar 4. 3 Persentase sebaran Etika/Nilai Pengembangan Masyarakat: Jurnal Ilmiah, Buku

Sumber: Data diolah peneliti

28%

23%

26%

10%

4%

9%

Self-Determination Participation Social Inclusion Professionalism Sustainability Empowerment

Dapat dilihat pada doughnut chart di atas, ada tujuh belas variabel yang menjadi dasar praktik pengembangan masyarakat, di antaranya: Hak Memutuskan Nasib Diri (Self-Determination), Partisipasi Masyarakat (Participatory), Inklusi Sosial (Social Inclusion), Profesionalitas (Professionalism), Keberlanjutan, (Sustainability), dan Pemberdayaan (Empowerment).

Selanjutnya, berdasarkan keterangan visual doughnut chart di atas, variabel yang paling sering disebut yaitu, hak memutuskan nasib sendiri (self-determination) dengan penyebutan sebanyak 12 kali atau dengan nilai sebesar 28 persen. Kemudian, pada posisi kedua ditempati oleh, inklusi sosial (social inclusion) dengan penyebutan sebanyak 11 kali atau dengan nilai 26 persen, dan posisi tiga teratas ditempati oleh, Partisipasi Masyarakat (participation) dengan penyebutan sebanyak 10 kali atau dengan nilai sebesar 23 persen.

a. Hak Memutuskan Nasib Sendiri (self-determination)

Pada tahun 1966 sampai dengan 1990an, Self- Determination dalam sejarahnya ialah merupakan bagian dari gerakan revolusi Amerika dan Francis atas tindakan pemerintah yang merampas hak-hak rakyat (peoples). Masyarakat tidak lagi dapat menerima tindakan penguasa atas perampasan hak-hak seperti; penentuan nasib, hak politik, budaya, sosial, dan status ekonomi yang dilegitimasi oleh pemerintah tanpa adanya konsultasi kepada pihak-pihak masyarakat (peoples).81 Selanjutnya, Thomas Jefferson, (1977) dikutip dalam Raic, (2002:173) dalam tulisannya secara eksplisit memaparkan bahwa self-determination merupakan hak alamiah atau sebuah hukum natural yang mana setiap manusia diciptakan setara.

Manusia dan Haknya meliputi hak hidup, kebebasan, dan pencarian atas kebahagiaan merupakan kodrat penciptaan manusia oleh Tuhan Sang Maha Pencipta. Masyarakat (peoples) mempunyai hak untuk membentuk pemerintahan baru untuk mencapai rasa aman, dan keselamatan, serta kebahagiaan masa

81David Raic, Statehood and Law of Self-Determination, Netherlands: Kluwer Law Internasional, 2002, hlm. 173.

Dalam dokumen LAMPIRAN-LAMPIRAN (Halaman 72-91)

Dokumen terkait